DETIK-DETIK KELAHIRAN RASULULLAH S.A.W.

DETIK-DETIK KELAHIRAN RASULULLAH S.A.W.
Update : 06 / Oktober / 2005
Edisi 15 Th. 2-2005M/1426H

Dalam tidurnya disuatu malam, Abdul Muthalib bermimpi matahari telah terbit, lalu ia terjaga dari tidurnya, dan mendapati dirinya di pertengahan malam, keheningan yang luar biasa menyelimuti gurun yang terbentang. Ia menuju pintu rumah, lalu menyaksikan bintang-bintang bersinar di langit, dan dunia tampak di selimuti gelapnya malam. Ia kemudian menutup pintu rumah dan kembali tidur. Dalam tidurnya itupun, ia bermimpi untuk kedua kalinya. Segala sesuatunya tampak jelas kali ini, sesungguhnya sesuatu yang besar memerintahkannya untuk melaksanakan perintah yang sangat penting, “Galilah zamzam”. Abdul Muthalib bertanya tanya : “Apakah itu zamzam? “Kemudian untuk kedua kalinya perintah itu mengatakan bahwa ia diperintahkan untuk menggali zamzam. Abdul Muthalib bangkit dari peraduannya, lalu ia membuka pintu rumah dan pergi ke gurun yang luas. Apakah arti zamzam ? Tiba-tiba pikirannya dipenuhi dengan cahaya yang datang dari jauh, bahwa pasti zamzam adalah sebuah sumur, tetapi apa nilai dari sumur zamzam itu, Bukankah di sana terdapat banyak sumur yang yang lain. Abdul Muthalib duduk di tengah gurun pasir pada pertengahan malam, ia merenungkan cerita kuno yang mengatakan tentang sumur yang memancarkan air, akibat dari pukulan kaki Nabi Ismail as. Matahari terbit di atas gurun jazirah Arab, Abdul Muthalib keluar menemui orang-orang, dan menceritakan kepada mereka bahwa ia akan menggali zamzam, untuk menunjuk tempat tersebut ia diberitahu oleh suara yang ada dalam mimpinya. Orang-orang Quraisy menolaknya, karena tempat yang diisyaratkan oleh Abdul Muthalib terletak diantara dua berhala yang biasa disembah oleh masyarakat setempat, yaitu berhala Ash dan Nailah. Abdul Muthalib merasa bahwa usahanya sia-sia untuk meyakinkan kaumnya agar mengizinkannya untuk menggali sumur. Mereka mengetahui bahwa Abdul Muthalib tidak mempunyai apa-apa, selain hanya seorang anak laki-laki. Pada saat itu di kawasan Arab dipenuhi dengan kabilah-kabilah yang terjalin suatu ikatan kesukuan yang kuat dan usaha untuk melindungi keluarga yang sangat menonjol. Akhirnya Abdul Muthalib pergi dalam keadaan sedih, lalu ia berdiri di hadapan Ka’bah dan mengungkapkan suatu nazar kepada Allah Swt. Ia berkata: “Jika aku dikaruniai sepuluh anak laki-laki, dan setelah mereka dewasa dan mampu melindungiku saat aku menggali zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka’bah sebagai bentuk korban”. Pintu langit terbuka untuk doanya Abdul Muthalib. Belum genap satu tahun, istrinya melahirkan anaknya yang kedua dan setiap tahun ia melahirkan anak laki-laki sampai pada tahun yang kesembilan, sehingga Abdul Muthalib mempunyai sepuluh anak laki-laki. Kemudian berlalulah zaman dan anak-anak Abdul Muthalib menjadi besar. Abdul Muthalib akhirnya menjadi seorang yang memiliki kemampuan, dan ia berusaha melakukan rencananya yang diisyaratkan dalam mimpi itu, sambil bersiap-siap untuk mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaan dari nazarnya. Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya, lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil yaitu Abdullah. Ketika nama anak itu keluar dalam undian, maka orang orang yang ada disekitarnya berusaha memberontak, mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan Abdullah disembelih. Abdullah saat itu terkenal sebagai seorang yang bersih, ia telah menarik simpati masyarakat di sekitarnya. Ia tidak pernah menyakiti seorangpun. Senyuman khas Abdullah terkenal sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan jazirah Arab. Muatan ruhaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia menyerupai sebuah kebun di tengah gurun yang keras, oleh karena itu semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata, “Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami daripada ia harus disembelih, dan menjadikan anak-anak kami sebagai tebusan baginya. Kami tidak akan menemukan seorangpun yang lebih baik dari dia. Pertimbangkanlah kembali masalah itu, dan biarkan kami bertanya kepada Kahin ( Peramal-dukun). Abdul Muthalib tidak mampu menghadapi tekanan ini, lalu ia mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian mereka mendatangi seorang Kahin. “Berapa taruhan yang kalian miliki? Bertanya Kahin, Mereka menjawab: “Sepuluh ekor unta.”. “Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah, jika undian datang padanya maka tambahlah sepuluh ekor unta lagi, lalu ulangilah terus undian tersebut, hingga tidak keluar lagi nama Abdullah”, perintah Kahin kepada mereka. Kemudian dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan atas sepuluh ekor unta yang besar. Undian itu pun mengeluarkan terus nama Abdullah, hingga Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, tetapi nama Abdullah keluar lagi, sehingga mereka menambah sepuluh ekor unta, sampai jumlah unta itu mencapai seratus ekor. Setelah itu, keluarlah nama unta tersebut. Maka saat itu, masyarakat demikian gembira, sampai berlinangan air mata, karena melihat Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus ekor unta di sisi Ka’bah, sebagai ganti dari Abdullah. Setelah itu, Abdul Muthalib berniat menikahkan Abdullah dengan gadis terbaik dijazirah Arab. Pada suatu hari Abdul Mutholib keluar dengan Abdullah ke rumah Wahab, di sana ia meminang untuk anaknya Aminah binti Wahab. Kemudian Aminah binti Wahab menikah dengan Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang pemuda yang paling mulia dan paling dicintai oleh orang-orang Quraisy. Dinyalakanlah api-api di gunung-gunung, agar para musafir dan para tamu mengetahui tempat diadakannya acara pernikahan antara Abdullah dan Aminah. Abdullah tinggal bersama istrinya dua bulan, hingga suatu hari ada kabar bahwa kafilah akan berangkat, lalu Abdullah pun mengikuti kafilah tersebut dan melakukan perjalanan dagang menuju Syam. Wajah Abdullah tampak berseri, ia mengucapkan selamat tinggal kepada Aminah. Setelah itu bayang-bayang wajahnya tersembunyi bersama kafilah dan mereka pun hilang. Aminah tidak mengetahui bahwa itu adalah kesempatan terakhirnya melihat suami tercinta, setelah dua bulan dari perkawinannya. Abdullah mengunjungi paman-pamannya dari kabilah bani Najar di Madinah, dan di sana ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, Abdullah, seorang pemuda yang sangat disayangi masyarakat dan keluarga karena kesholehannya meninggal dunia. Saat itu Abdullah berusia dua puluh lima tahun. Kabar kematiannya tiba-tiba tersebar dan sangat memilukan hati orang-orang yang mendengarnya, dan sampailah kabar tersebut kepada istrinya. Aminah menangis tersedu-sedu dan ia sempat menyampaikan pertanyaan pada dirinya dan tidak mengetahui jawabannya, mengapa Allah Swt menebusnya dengan seratus unta jika kemudian Dia menetapkan kematian baginya. Tidak lama kemudian, bergeraklah dirahimnya janin dengan gerakan yang amat lembut, ia mulai mengetahui bahwa ia sedang hamil. Aminah menangis dua kali, pertama ia menangis untuk dirinya sendiri dan kali ini ia menangis untuk anak yang ditinggal mati ayahnya sebelum ia sempat dilahirkan. Aminah tidak pernah membayangkan bahwa janin yang dikandungnya akan menjadi anak yatim. Inilah anak kecil yang sebelum dilahirkan telah menelan kesedihan yang berat. Dan berlalulah hari demi hari, tangisan penderitaan dan mata air Aminah telah mengering, namun kesedihannya menyerupai sebuah pohon yang tumbuh bersama kehausan. Tetapi kesedihannya itu mulai berkurang, ketika janin yang ada dalam kandungannya tidaklah memberatkan. Sementara itu pada saat mendekati hari kelahiran janin yang mulia ini, pasukan Abrahah mulai mendekati Mekah. Hal ini dikarenakan saat Abrahah membangun gereja dengan bangunan yang menakjubkan dengan niat agar orang-orang Arab berpaling dari Baitul Haram di Mekah. Ia melihat orang-orang Yaman begitu tertarik dengan gereja tersebut, tetapi ketika ia melihat orang Arab tidak tertarik terhadap gereja yang dibangunnya, maka ia berkeinginan untuk menghancurkan Ka’bah, sehingga mereka tidak lagi menuju ke Ka’bah, melainkan ke gerejanya. Akhirnya ia menyiapkan pasukan yang besar dengan persenjataan yang lengkap. Pasukan Abrahah terdiri dari kelompok gajah yang besar yang digunakannya untuk menghancurkan Ka’bah. Orang-orang Arab pun mendengar rencana tersebut. Memang orang-orang Arab saat itu terkenal sebagai penyembah berhala, meskipun demikian mereka sangat hormat terhadap Ka’bah, karena mereka meyakini bahwa mereka adalah anak-anak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pemelihara Ka’bah. Kedatangan pasukan tiba-tiba dihadang oleh seorang lelaki Yaman yang bernama Dunaher. Ia mengajak kaumnya dan dari orang-orang Arab untuk memerangi Abrahah, tetapi pasukan yang sedikit itu dapat dengan mudah dipatahkan oleh pasukan kafir yang besar itu. Kemudian Dunaher pun kalah dan menjadi tawanan Abrahah. Pasukan Abrahah tersebut juga sempat ditentang oleh Nufail bin Hubaid al-Aslami, namun Abrahah pun dapat mengalahkan mereka dan berhasil menawan Nufail. Ketika Abrahah berada di antara Taif dan Mekah, di sana ia merampas banyak harta dari kaum Quraisy, dan di antara yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim. Saat itu Abdul Muthalib adalah salah seorang pembesar Quraisy. Kedatangan utusan Abrahah di Mekah telah menimbulkan gejolak pada kabilah-kabilah. Akhirnya kaum Quraisy bergerak, begitu juga kaum Khananah. Tetapi mereka mengetahui bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan Abrahah, sehingga mereka membiarkannya, lalu tersebarlah di jazirah Arab berita tentang datangnya pasukan yang kuat. Dalam surat yang dibawa oleh utusannya itu, Abrahah menyampaikan bahwa ia tidak datang untuk memerangi mereka, namun ia datang hanya untuk menghancurkan Ka’bah, jika mereka tidak menentangnya, maka darah mereka tidak akan ditumpahkan. Lalu utusan itu menemui Abdul Muthalib, ia menceritakan tentang keinginan Abrahah. Abdul Muthalib berkata: “Kami tidak ingin memeranginya karena kami tidak memiliki kekuatan. Ka’bah adalah rumah Allah Swt yang mulia dan suci. Jika Ia mencegahnya maka itu adalah rumah-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya”. Kemudian utusan itu pergi bersama Abdul Muthalib menuju Abrahah. Abdul Muthalib memiliki kewibawaan dan kehormatan yang mengagumkan. Ketika Abrahah melihatnya, ia memberikan penghormatan dengan memuliakan dan mendudukannya di atas sebuah permadani di sisinya. Kemudian ia berkata kepada penerjemahnya: “Katakan padanya apa kebutuhannya?” Abdul Muthalib berkata: “Kebutuhanku adalah agar Abrahah mengembalikan dua ratus ekor unta yang diambilnya dariku”. Ketika Abdul Muthalib mengatakan demikian, wajah Abrahah berubah, lalu ia berkata kepada penerjemahnya: “katakan padanya sungguh aku merasa kagum ketika melihatnya, kemudian aku merasakan kehati-hatian saat berbicara dengannya, terus apakah dia (Abdul Mutholib) berbicara denganku tentang dua ratus ekor unta yang telah aku ambil, lalu dia (Abdul Mutholib) membiarkan rumah yang merupakan simbol agamanya yang akan kuhancurkan dan dia tidak mempermasalahkannya sama sekali”. Abdul Muthalib menjawab: “Aku adalah pemilik unta, sedangkan pemilik rumah itu adalah Tuhan yang akan melindunginya”. Abrahah berkata : “Dia tidak akan mampu melindunginya dariku”. Abdul Muthalib menjawab: “Lihat saja nanti”. Selesailah dialog antara Abdul Muthalib dan Abrahah. Abrahah pun mengembalikan unta yang telah dirampasnya. Abdul Muthalib pergi menemui orang-orang Quraisy dan menceritakan apa yang dialaminya, dan ia memerintahkan mereka untuk meninggalkan Mekah dan berlindung dibalik gua dan gunung, termasuk Aminah binti Wahab. Akhirnya kota Mekah dikosongkan oleh pemiliknya, kemudian Malaikat turun di bumi jazirah Arab. Abdul Muthalib berdiri dan memegangi pintu Ka’bah dan berdiri bersama dengan sekelompok orang Quraisy. Abdul Mutholib berdoa dan meminta perlindungan-Nya. Para malaikat memerintahkan pasukan gajah agar tidak melangkahkan kakinya sehingga gajah itu tetap di tempatnya. Abrahah bertanya : “Mengapa pasukan tidak bergerak?” Kemudian dikatakan kepadanya bahwa gajah-gajah menolak untuk bergerak. Abrahah mengangkat cemetinya. Dengan muka emosi, ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gajah-gajahnya. Abrahah mengangkat pandangannya ke arah langit. Mula-mula ia mengira bahwa ia melihat sekawanan awan yang hitam. Kemudian ia mengamati awan tersebut, yang ternyata bukan awan biasa, melainkan sekelompok burung yang menutupi cahaya matahari yang menyerupai awan tebal. Mereka adalah burung Ababil yang berjumlah banyak. Pasukan gajah berteriak ketakutan. Abrahah berteriak di tengah-tengah pasukannya agar pasukan gajah diusahakan untuk maju secara paksa. Pada saat itu terbukalah salah satu jendela dari jendela al-jahim, dan burung-burung itu menghujani pasukan dengan batu dari Siffil, yaitu batu yang sama yang pernah dihujankan kepada kaum Nabi Luth. Para tentara Abrahah kembali dalam keadaan binasa di mana daging-daging dan tubuh mereka berceceran dijalan. Abrahahpun mendapatkan luka dan terbelah dadanya hingga mati. Kemudian jasad para pasukannya tersebar dan berceceran di bumi, seperti tanaman yang dimakan oleh binatang. Setelah mendekati setengah abad, turunlah satu surah di Mekah yang menceritakan tentang peristiwa itu :
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kakbah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan “ada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun yang dimakan (ulat”). (QS. al-Fiil: 1-5)
Pasukan gajah yang ingin memporak-porandakan Mekah dikalahkan. Kemudian mereka dihancurkan dan Allah pemilik Kakbah melindungi rumah suci-Nya. Allah Swt sebagai Pelindung Ka’bah memeliharanya, karena adanya hikmah yang tinggi; Allah Swt melindungi Ka’bah agar tempat itu menjadi tempat yang damai bagi manusia dan supaya tempat itu menjadi pusat dari akidah yang baru dan menjadi tanah bebas yang aman dan makmur. Di tengah-tengah kegembiraan Mekah karena keselamatan penghuninya dan selamatnya Ka’bah, Aminah binti Wahab bermimpi : di suatu malam ia menyaksikan dirinya berdiri sendirian di tengah-tengah gurun, dan telah keluar dari dirinya suatu cahaya besar yang menyinari timur dan barat dan terbentang hingga langit. Aminah tiba-tiba terbangun dari tidurnya namun ia tidak mengetahui tafsir dari mimpinya. Berlalulah hari demi hari dari tahun gajah. Dan pada waktu sahur pada malam senin hari kedua belas bulan Rabiul Awal, Aminah melahirkan seorang anak lelaki, putra dari Abdillah bin Abdul Muthalib, seorang cucu dari Ismail bin Ibrahim AS. Sebelum ia dilahirkan, dunia mati karena kehausan akan cinta, rahmat, dan keadilan. Ketika jantung dunia telah terkena kekeringan maka memancarlah dari timur mata air keimanan yang jernih yang menjadi puas dengannya separo dunia. Dan mukjizat besar terjadi ketika mata air ini mengeluarkan air yang jernih dari jantung gurun yang paling tandus di dunia, yaitu gurun jazirah Arab. Anak kecil inilah yang kemudian bertanggungjawab untuk memberikan minum kepada dunia yang haus akan cinta dan keadilan. Anak ini merupakan manusia pilihan terbaik dari keluarga Bani Hasyim dan merupakan yang termuda dari keluarga ayah bundanya. Sebagaimana diketahui, Bani Hasyim adalah silsilah keturunan Adnan, bapak semua orang Arab yang berasal dari keturunan Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim as. Al-Baihaqiy mengetengahkan sebuah riwayat berasal dari Fatimah AtsTsaqafiyyah yang menyaksikan sendiri detik-detik kelahiran Muhammad Saw. Ia mengatakan: “Aku hadir dan menyaksikan sendiri kelahiran Muhammad Saw. Ketika itu ,aku melihat cahaya terang menyinari seisi rumah tempat beliau dilahirkan. Selain itu aku pun melihat beberapa buah bintang bersinar turun mendekat hingga aku merasa seolah-olah bintang-bintang itu hendak menjatuhi diriku. Pada malam kelahiran bayi tersebut, tampak berbagai tanda-tanda luar biasa. Bumi goncang dilanda gempa hingga berhala-hala yang terpancang di sekitar Kakbah jatuh bergelimpangan. Beberapa buah gereja dan biara runtuh serta balairung istana Kisra di Persia retak dan roboh, disusul oleh padamnya api sesembahan orang Majusi di Persia. Dengan padamnya api sesembahan itu, mereka cemas dan khawatir, semuanya menduga bahwa ini adalah tanda yang menunjukkan telah terjadinya peristiwa besar di dunia. Peristiwa itu tidak lain, adalah kelahiran Muhammad Saw, Di Mekah Al Musyarofah. Beberapa saat setelah beliau Saw lahir, bundanya segera mengutus seseorang menemui Abdul Muththalib, untuk menyampaikan berita gembira tentang kelahiran cucu yang telah lama dinantikan. Abdul Muththalib cepat-cepat datang dan menimang-nimang cucunya dengan bangga dan bahagia. Pada saat itulah ia memperoleh ilham dari Allah Swt supaya menamainya “Muhammad”, sebagaimana yang terdapat di dalam Taurat dan Injil. Pada masa itu tidak ada orang Arab yang bernama Muhammad selain tiga orang. Nama tersebut diberikan oleh ayah ayah mereka berdasarkan pendengaran mereka bahwa beberapa orang ahli nujum mencanangkan akan datangnya seorang Nabi di Hijaz bernama Muhammad. Kemudian mereka bernazar bila mendapat anak lelaki akan dinamai “Muhammad”. Tiga orang yang masing-masing bernama “Muhammad” itu ialah, Muhammad bin Sufyan At-Taimiy, Muhammad bin Bilal-Ausiy dan Muhammad bin Hamran al-Jahfiy. (RDK Dari berbagai sumber)

[ Atas ] [ Kembali ]

Silakan mengutip dengan mencantumkan nama almihrab.com

About these ads

1 Response so far »

  1. 1

    aspu'i said,

    ALLAHU AKBAR
    ALLAHU AKBAR
    ALLAHU AKBAR
    ya Allah sgala puji bagi-MU dan rsa sykr kpda-Mu yg tlah mngts mnsia yg sngt mlia


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 81 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: