Archive for Agustus, 2007

Al Tibyan

Karya: Al-Faqir Muhammad Hasyim Asy’ari

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan silaturrahim sebagai ibadah yang paling utama dan memutusnya sebagai perbuatan dosa yang paling tercela. Tentang hal diatas, telah banyak ayat-ayat Al-Qur an maupun hadits nabi yang menjelaskannya.

Afdlalu al-shalawat wa atammu al-taslim semoga teruntukkan pada Nabi Muhammad Saw., Sang Pembawa Syari’at dan keluarga serta sahabatnya yang (layak) menjadi pemimpin dan yang seperti gunung (ilmunya).

Adapun dalil-dalil ayat (yang menerangkan kedudukan silaturrahim) adalah :

“Wattaquu allaha alladzii tasaaluuna bihii wa al-arhaami, inna allaha kaana ‘alaikum raqiibaa”(Al-Nisaa :1)

“Dan bertakwalah kepada Allah SWT yang dengan (mempergunakan) nama-Nya, kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah SWT selalu menjaga dan Mengawasi kamu”. (Al-Nisaa: 1)

Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah SWT seperti : Asaluka billah, artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah SWT.

Kalau saja engkau tahu bahwa Allah SWT adalah Dzat yang mengawasi seluruh amalmu, merawat dan membalas amalmu, maka (niscaya) engkau kembali kepada jalan-Nya dan mengikuti segala perintah-Nya. Dan engkau akan berada pada ketakutan yang amat sangat dari siksa-Nya serta takut atas hijab dari-Nya. Dan engkau akan selalu menjaga dan mempertahankan silaturrahim serta takut untuk memutusnya.

Dan Allah SWT berfirman :

“Fahal ‘asaitum in tawallaytum an tufsiduu fi al-ardli wa tuqaththi’uu arhaamakum, ulaaika alladzziina la’anahum allahu faashammahum wa a’maa abshaarahum, afalaa yatadabbauuna al-quraana am ‘alaa quluubi aqfaaluhaa” (Muhammad; 22-24).

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di muka bumi danmemutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila’nak Allah dan dituliskan-nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad; 22-24).

”Wa alladziina yanqudluuna ‘ahda allahi min ba’di miitsaqihii wa yaqtha’uuna maa amara allahu bihii an yuushala wa yufsiduuna fi al-ardli, ullaika lahum al-la’natu walahum suu u al-daari”(Al-Ra’du: 13-25).

“Orang-orang yang merusak janji Allah SWT setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah SWT perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang Itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat yang buruk (Jahannam)”. (QS. Al-Ra’du; 25)

Dan barangsiapa mempunyai kesadaran dan pemahaman (tentang pentingnya silaturrahim) dengan memahami ketiga ayat diatas, maka niscaya dia akan meralat (menarik) kembali dari memutus silaturrahim.

Dan kalau saja engkau membuka mata hatimu dan membersihkannya dari kotoran dan kekurangan, maka engkau akan sadar dan faham atas (tiga) ayat tadi yang menganjurkan engkau untuk selalu mencurahkan kemampuan dan kesempatan agar senantiasa melestarikan silaturrahim.

Allah SWT berfirman :

“Wa maa yudlillu bihii illa al-fasiqiina, alladziina yanqudluuna ‘ahda allahi min ba’di miitsaqihii wa yaqtha’uuna maa amara allahu bihii an yushala wa yufsiduuna fi al-ardli, ullaaika hum al-khaasiruuna” (Al-Baqarah;26-27).
“Dan tidak ada yang disesatkan Allah SWT kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah SWT sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah SWT (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka Itulah orang-orang yang rugi”. (QS.Al-Baqarah; 26-27).

Dari Muhammad Al-Baqir, sesungguhnya bapaknya, Ali Zaenal Abidin berkata :

“Laa tushaahib qaathi’a rahimihi, li annii wajadtuhuu mal’uunan fii kitaabi allahi fii tsalaatsati mawaa’dli’a”

“Jangan kau bergaul dengan orang yang memutus silaturrahim, karena aku temukan namanya didalam Al-Kitab dilaknati dalam tiga tempat”.

Yaitu pada surat Al-Qital, dimana laknat didalam surat tersebut sangat jelas. Dan yang kedua surat Ar-Ra’du dimana laknat didalam surat ini menunjukkan keumuman. Karena Allah SWT memerintahkan dalam surat tersebut untuk menyambung tali silaturrahim. Dan surat Al-Baqarah, dimana laknat dalam surat Al-Baqarah dengan cara istilzam (ketetapan akibat yang ditimbulkan dari dalil).

Adapun dalil-dalil hadits adalah :

“Inna allaha ta’aalaa khalaqa al-khalqa hatta idzaa faragha minhum qaamat al-rahimu, fa qaalat haadzaa maqaamu al-‘idzi bika min al-qathii’ati? Qaala; na’am, amma tardliina an ashila man washilaka wa aqtha’a man qatha’aka, qaalat; balaa, qaala; fadzaalika laka”

“Sesungguhnya ketika Allah SWT selesai menciptakan makhluq, maka sifat Rahim berdiri dan berkata, “Apakah ini tempatnya orang yang minta perlindungan dari memutus tali silaturrahim?” Lantas Allah SWT menjawab “Ya”. Apakah kamu rela jika aku menyambung (tali silaturrahim) dengan orang yang menyambung tali silaturrahim dengan kamu, dan memutus orang yang memutusmu. Maka sifat Rahim pun menjawab, “Benar wahai Tuhan”. Kemudian Allah SWT berkata “Itu (tempat) adalah untukmu”.dan hadits,

“Maa min dzanbin ajdaru min an yaj’ala allahu li shaahibihii al-‘uqubata fi al-dunyaa ma’a maa yudakhkhiru lahuu fi al-akhirati min al-baghyi, wa qathiiatu al-rahimi, wa al-khiyaanati, wa al-kadzibi, wa an aj’ala al-thaa’ata tsawaaban li shilati al-rahimi, wa inna ahla al-baiti layakuunuuna fahratan fatamannau amwaalahum wayuktsiru ‘adadahum idza tawaashaluu, maa min ahli baitin yatawaashaluuna fayahtaajuuna, wa inna a’maala banii adama ta’arradla kulla khamiisa wa lailata jum’atin, falaa yuqbalu minha ‘amalu qaathi’I rahimin”.

“Tidak ada dosa yang lebih patut bagi Allah SWT untuk mempercepat siksa didunia atas pelakunya dan siksa diakhirat daripada baghyi (durhaka), memutus tali silaturrahim, khianat dan berbohong. Sesungguhnya ibadah yang paling cepat mendatangkan pahala adalah silaturrahim. Sungguh (umpama) seluruh keluarga itu buruk perangainya, maka hartanya akan bertambah banyak jika mereka saling menyambung tali silaturrahim. Dan tidaklah keluarga yang saling menyambung silaturrahim, maka mereka akan saling membutuhkan (satu sama lain). Dan sesungguhnya setiap amal (ibadah) akan dihadapkan (kepada Allah SWT) setiap hari Kamis dan malam Jum’at, kecuali amal orang yang memutus tali silaturrahim, maka amalnya tidak diterima”.

dan hadits, “Tsalatsatun laa yadkhula al-jannata, mudamminu al-khamri, wa qaathi’u al-rahimi, wa mushaddiqu bi alsihri”

“Ada tiga orang yang tidak (bisa) masuk surga, yaitu orang yang terus menerus minum khamar,orang yang memutus tali silaturrahim dan orang yang percaya dan melakukan pembenaran terhadap sihir”

dan hadits: “Al-rahimu mu’allaqun bi al-‘arsyi, taquulu; man washalanii washalahu allahu, wa man qatha’ani qatha’ahu allahu”.

“Sifat Rahim posisinya tergantung di (bawah) ‘Arsy seraya berkata,“ barangsiapa menyambungku, maka akan disambung oleh Allah SWT. dan barangsiapa memutusku, maka akan diputus oleh Allah SWT”.

Sabda Rasulullah dalam hadis qudsinya :

“Anaa allahu, wa anaa al-rahmaanu, khalaqtu al-rahima wa syaqaqtu lahaa isman min ismii, fa man washalaha washaltuhuu, wa man qatha’ahaa qatha’tuhuu”.

“Aku (adalah) Allah SWT, dan aku adalah Dzat yang mempunyai sifat kasih sayang. Aku jadikan (sifat) kasih sayang dan Aku memberinya nama dengan nama-Ku. Maka barangsiapa menyambungnya, maka Aku akan menyambung orang itu. Dan barangsiapa memutusnya, maka Aku akan memutus orang itu”.

Rasulullah bersabda,

“Arbaa al-ribaa al-istithaalatu fi ‘ardli al-muslimi bi ghairi haqqin, wa inna haadzihii al-rahima lasyajnatun min al-rahmaani, ya’nii qaraabatan musytabikatan ka isytibaaka al-‘uruuqa, taquulu; yaa rabbi innii qatah’atu, innii uusiu ilayya yaa rabbi, innii dhalamtu yaa rabbi, fayujiibuha; alaa tardliina an ashila man washalaka aqtha’a man qatha’aka”.

“Sesungguhnya riba yang paling parah adalah merusak harga diri seorang muslim tanpa haq. Dan sesungguhnya rahim adalah bagian dari sifat Rahman. Maksudnya, kekerabatan yang terjalin itu laksana terjalinnya satu otot dengan yang lainnya. Kemudian rahim berkata (kepada Allah SWT), “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah diputus, diolok-olok dan dianiaya”. Kemudian Allah SWT berkata, “Apakah kau tidak rela (jika) Aku menyambung pada orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?”.

Rasulullah bersabda :

“Inna min arbaa al-ribaa al-istithaalatu fi ‘ardli al-muslimi bighairi haqqin, wa inna haadzihii al-rahima syajnatun min al-rahmaani ‘azza wa jalla, fa man qatha’ahaa harrama allahu ‘alaihi al-jannata”.

“Sesungguhnya diantara riba yang paling parah adalah merusak harga diri seorang muslim dengan cara yang tidak benar. Dan sesungguhnya Sifat Rahim adalah bagian dari sifat Rahman. Barang siapa memutusnya, maka Allah SWT mengharamkannya masuk sorga”.

Berkata Ibnu Umar :

“Al-thaabi’u mu’allaqun bi qaaimati al-‘arsyi, fa idzaa isytakat al-rahimu, wa ‘amila bi al-‘aashii, wa ijtara a ‘alaa allahi, ba’atsa allahu al-thaabi’a fa yuthba’u ‘alaa qalbihii fa laa ya’qilu ba’da dzaalika syay’an”.

“Stempel (tutup) selalu menggantung pada tiang-tiang Arsy. Apabila Sifat Rahim telah mengadu (kepada Allah SWT) dan maksiat telah dilakukan serta (aturan) Allah SWT diterjang, maka stempel (tutup) itu akan diletakkan pada hatinya, sehingga dia tidak akan bisa lagi berpikir sehat”

Diceritakan oleh seorang lelaki dari qabilah Khots’am, ia berkata, “Pada suatu hari aku mendatangi Rasulullah SAW yang ketika itu beliau berada ditengah-tengah sahabatnya, lantas aku bertanya, “Apakah kau yang mengaku menjadi utusan Allah SWT? Rasulullah menjawab, “Betul”. Lantas aku bertanya lagi, “Manakah amal yang paling dicintai Allah SWT?” Rasulullah menjawab. “Iman kepada Allah SWT.” Lalu apalagi? Rasulullah menjawab, “Silaturrahim”, Lantas apalagi? Rasulullah menjawab, “Amar ma’ruf Nahi Munkar”.

Aku bertanya lagi, “Apa amal yang paling dimurkai Allah SWT?” Rasulullah menjawab, “Menyekutukan Allah SWT” Lantas apalagi? “Memutus silaturrahim”. Lantas apalagi? Rasulullah menjawab, “Memerintahkan kemunkaran dan melarang kebaikan”.

Dari Abi Ayyub, sesungguhnya ada seorang A’raby mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau berpergian. Sambil memegangi kendali unta Rasulullah SAW, dia bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, ceritakan kepadaku tentang amal yang (bisa) mendekatkan aku ke sorga dan menjauhkan aku dari neraka!”. Lantas Rasulullah berhenti dan memandang kepada beberapa sahabatnya seraya bersabda, “Sungguh orang itu telah diberi taufiq atau diberi petunjuk seraya bertanya balik, “Apa yang kau katakan?” Dan A’raby pun mengulangi perkataannya. Kemudian Rasulullah menjawab. “Sembahlah Allah SWT, jangan kau sekutukan Dia, dirikalah shalat, tunaikan zakat, sambunglah tali silaturrahim dan (sekarang) lepaskan untaku. Dan ketika A’raby tersebut berpaling, maka Rasulullah bersabda lagi, “Jika kau berpegang teguh pada apa yang aku perintahkan, maka kau akan masuk sorga”.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Sesungguhnya Allah SWT akan senantiasa memakmurkan perkampungan sebuah kaum dan melipat gandakan penghasilan mereka dan Allah SWT tidak pernah memandang mereka dengan pandangan kebencian mulai mereka diciptakan. Lantas Rasululah ditanya, “Apa sebabnya Yaa Rasulullah?”, Rasulullah menjawab, “Sebab mereka rajin menyambung tali silaturrahi diantara mereka”.

Peringatan !

Yang dimaksud dengan sillaturrahim yang wajib disambung adalah seseorang yang ada hubungan mahram. Yang dimaksud hubungan mahram adalah, andai kata ada dua orang yang satu lelaki dan yang lain perempuan, maka mereka berdua tidak boleh menikah, seperti (hubungan) bapak, ibu, saudara lelaki, saudara perempuan, kakek, nenek walaupun seatasnya, paman dan bibi. Adapun anak mereka, maka menyambung silaturrahim dengannya tidaklah wajib, seperti halnya diperbolehkan terjadi pernikahan diantara mereka.

Dari A’isyah RA, Rasulullah bersabda, “Sungguh, barangsiapa diberi kelembutan oleh Allah SWT, maka sesungguhnya dia diberi kebaikan dunia dan akhirat. Menyambung tali silaturrahim, keharmonisan bertetangga dan budi pekerti yang baik, bisa memakmurkan negara dan menambah (memanjangkan) umur”.

Dari Durrah Binti Abi Lahab, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, Yaa Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?” Rasulullah SAW menjawab, “Adalah yang paling bertaqwa terhadap Tuhannya, yang paling suka menyambung tali silaturrahim, yang paling sering memerintah kepada kebaikan dan melarang dari kemunkaran”.

Dari Anas ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, jangan kalian saling memutus, saling tidak bertegur sapa, saling membenci dan saling iri dengki. Jadilah dirimu, wahai hamba-hamba Allah SWT sebuah persaudaraan”.

Tidak boleh bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya diatas tiga hari. Ketika mereka berdua bertemu, yang satu memalingkan mukanya sementara yang lain melakukan hal yang sama. Orang yang lebih baik dari keduanya adalah orang yang (ketika bertemu) mengawali dengan mengucapkan salam. Dia akan lebih dahulu masuk sorga. Imam Malik berkata, “Aku mengartikan Al-Tadaabur adalah dengan memalingkan wajah ketika bertemu”.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah bersabda, tidak boleh bagi seorang muslim mendiamkan saudara (sesama muslim) diatas tiga hari. Dan barangsiapa mendiamkan saudaranya diatas tiga hari, kemudian meninggal dunia, maka ia masuk neraka”.

Dalam riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya diatas tiga hari. Lantas apabila telah lewat tiga hari, maka sebaiknya bagi muslim mengucapkan (mengirimkan) salam kepada saudaranya. Dan apabila saudaranya menjawab salam, maka mereka berdua telah bersatu dalam pahala. Apabila tidak menjawab, maka dia kembali dengan membawa dosa, sementara sang muslim telah keluar dari tuntutan hujrah (mendiamkan saudara)”.

Peringatan !
Yang dimaksud dengan hujrah adalah mendiamkan saudaranya diatas tiga hari tanpa ada tujuan syar’i. Dan yang dimaksud dengan Al-Tadaabur adalah berpaling dari saudaranya, yaitu ketika bertemu saudara sesama muslim dia memalingkan wajahnya kearah lain.

Yang dimaksud dengan Al-Tasyahun adalah kecenderungan hati untuk berbuat sesuatu yang bisa menyebabkan perpecahan atau sakit hati. Dan itu semua masuk dalam kategori memutus tali persaudaraan. (Menurut Syaikh Ibnu Hajar dalam kitab Al- Zawajir)

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh hajru (mendiamkan saudara) diatas tiga hari. Apabila mereka berdua bertemu dan salah satunya mengucapkan salam, maka mereka berdua telah bersatu dalam pahala. Kemudian apabila tidak menjawab, maka yang mengucapkan salam telah bebas dari dosa, sementara yang lain tetap kembali dengan membawa dosa”. Dan Rasulullah berkata pula, “Jika mereka berdua meninggal dalam keadaan saling bermusuhan, maka mereka berdua tidak akan bisa berkumpul didalam sorga”.

Dari Abdullah Bin Mas’ud, ia berkata, “Tidaklah dua orang muslim itu saling bermusuhan kecuali salah satunya telah keluar dari agama Islam, sehingga salah satunya kembali kepada Islam (baca; membatalkan hajru dengan salam). Yang demikian itu tiada lain caranya hanya dengan mengucapkan salam”.

Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya dua orang yang muslim itu melakukan hajru, maka niscaya salah satunya ada yang keluar dari Islam, yakni yang melakukan kedzaliman”.

Faedah
Ibnu Hajar dalam kitab Al-Zawajir berkata, “Mendiamkan orang muslim diatas tiga hari adalah dosa besar. Karena dalam hal itu terdapat upaya pemutusan hubungan persaudaraan, menyakitkan hati dan kerusakan. Kecuali dalam beberapa hal yang diperbolehkan melakukan hajru. Artinya, selama hajru itu bertujuan pada kebaikan agama orang yang mendiamkan atau orang yang didiamkan, maka boleh. Jika tidak bertujuan kepada kebaikan agama, maka tidak boleh.

Dan menurutku (KH. M. Hasyim Asy’ari) apa yang pernah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa, perseteruan yang terjadi diantara kita pada saat sekarang ini itu tidak bertujuani kepada kebaikan agama dan dunia. Bahkan bisa jadi, hal itu terjadi karena sudah rusaknya agama dan dunia dari tatanan yang mapan. Dan perseteruan itu adalah dosa besar, karena didalamnya terdapat upaya pembusukan agama dan dunia, saling iri dan benci.

Catatan
Menurut pengarang kitab Al-Uddah, bahwa sesungguhnya berseteru diatas tiga hari itu termasuk dosa kecil. Namun jika dilakukan dengan terus menerus, maka akan setara dengan dosa besar. Ukuran terus-menerus adalah dosa kecil itu dlakukan berulang ulang. Karena tidak ada perhatian dari mereka terhadap dosa kecil seperti halnya perhatian mereka terhadap dosa besar. Dengan demikian maka kesaksian dan periwayatannya tertolak. Begitu juga dihukumi dosa besar ketika dosa-dosa kecil yang berbeda ukuran dan jenisnya berkumpul jadi satu. (Al- Qawa’id al-Ahkam)

Dengan keterangan diatas, maka sesungguhnya perseteruan adalah dosa besar, dimana orang yang melakukannya akan menjadi fasiq, walaupun perseteruan itu tidak terus-menerus. Keadilan dan hak perwaliannnya akan rontok, kesaksian dan periwayatannya ditolak. Maka berpikirlah dengan sadar. Ini penting sekali! Karena hal ini sering dilupakan oleh para tokoh, apalagi masyarakat umum.

Dari A’masy, ia berkata, “Sesungguhnya Ibnu Mas’ud dalam salah satu pengajiannya berkata, “Aku bersumpah dengan nama Allah SWT (agar bebas dari akibat yang ditinggalkan) oleh si pemutus persaudaraan ketika dia beranjak meninggalkan aku. Sesungguhnya aku mau berdoa kepada Allah SWT dan pintu-pintu langit akan selalu tertutup bagi orang yang memutus persaudaraan”.

Diriwayatkan dari Abdullah Bin Abi Aufa, ia berkata, “Ketika aku duduk bersanding dengan Rasulullah SAW beliau bersabda, “Pada hari ini, jangan ada orang yang memutus persaudaraan untuk duduk bersanding denganku”. Kemudian ada seorang pemuda yang meninggalkan lokasi dan langsung mendatangi bibinya yang sebelumnya terjadi permusuhan seraya minta maaf. dan akhirnya keduanya saling bermaafan. Kemudian pemuda tadi kembali ke lokasi pengajian. Lantas Rasululah bersabda, “Sesungguhnya rahmat Allah SWT tidak akan turun pada kaum yang didalamnya terdapat pemutus persaudaraan”.

Nuktah
Yang dimaksud dengan memutus persaudaraan yang diharamkan adalah memutus tali hubungan persaudaraan yang telah dibina sebelumnya. Baik itu berupa harta, berkirim surat atau anjang sana. Pemutusan persaudaraan tanpa ada tujuan syar’i adalah dosa besar hukumnya. Karena hal itu bisa menggelisahkan hati, sakit hati dan bisa menyebabkan kebencian.

Maka berpikirlah engkau. Semoga engkau diberi taufiq oleh Allah SWT untuk selalu taat kepada-Nya dan kepada rasul-Nya. Sesungguhnya akibat dari memutus persaudaraan itu akan berimbas pada pelakunya, teman sejawatnya dan masyarakatnya. Sehingga mereka tidak mendapatkan siraman rahmat dari Allah SWT.

Kalau saja akibat dari pemutusan persaudaraan itu bisa berimbas pada masyarakat yang bersanding dengan pelaku, maka bisa anda bayangkan bagaimana akibat itu akan mengenai pelaku. Maka sadarlah dengan sesadar sadarnya, bahwa urusan memutus pertalian sangat besar resikonya.

Maka aku memohon kepada Allah SWT agar senantiasa menolong engkau untuk menyambung hubungan silaturrahim, walaupun dalam hati kecilmu kurang berkenan dengan itu semua. Sesungguhnya Allah SWT maha kuasa atas segala sesuatu dan sangat patut untuk mengabulkan doa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Tiga (macam) orang yang shalatnya tidak diangkat, walau hanya sepanjang jari diatas kepala yaitu : seseorang yang menjadi imam dari masyarakat sementara masyarakat itu membencinya. Wanita yang semalaman mendapat murka dari suaminya dan dua orang muslim yang saling memutus persaudaraan”.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Setiap hari Senin dan Kamis pintu-pintu surga terbuka dan semua hamba yang tidak menyekutukan Allah SWT mendapat ampunan, kecuali lelaki yang menjalin permusuhan dengan saudaranya”. Maka dikatakan (oleh Allah SWT kepada malaikat), “Wahai malaikatku, tundalah (ampunanku) untuk mereka sehingga mereka berdua berdamai”.

Abu Dawud berkata, “Jikalau alasan hujrah itu karena Allah SWT, maka hujrah tidak apa-apa (tidak dosa), karena sesungguhnya Rasulullah pernah mendiamkan sebagian istrinya selama empat puluh hari dan Ibnu Umar pun pernah mendiamkan putranya sampai dia meninggal dunia”.

Namun aku (KH. M. Hasyim Asy’ari) berpendapat, “Hujrah yang punya tujuan karena Allah SWT untuk ukuran Rasulullah SAW dan Ibnu Umar masih bisa diterima akal. Namun untuk ukuran kita, maka itu perlu dipikir dan diangan angan dengan mendalam”.

Sungguh, saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa ada seseorang yang berilmu, sangat giat dalam beribadah. Shalat dimalam hari, puasa disiang hari. Dia tidak pernah berbicara kecuali secukupnya. Dia haji berkali-kali sampai akhirnya dia mendapat gelar Maha Guru pada Thariqat An- Naqsyabandiyyah. Dan pada hari-hari tertentu dia uzlah (menyendiri) dirumahnya dari pergaulan manusia. Dia tidak keluar rumah kecuali hanya untuk shalat jama’ah dan memimpin dzikir.

Pada suatu hari dia keluar rumah untuk shalat Jum’at. Ketika sampai dimasjid dia marah-marah kepada orang-orang yang berada dimasjid dan berbicara kepada mereka dengan kata-kata yang kotor kemudian dia pun pulang lagi kerumah. Dan kadang-kadang pada hari yang lain dia disowani oleh pejabat negara untuk meminta barokah doa dari dia agar kehidupannya nyaman dan mapan. Dan sang pejabat seringkali memberinya uang yang banyak, sang kyai pun menerimanya dan menyambutnya dengan ramah dan santun.

Setelah beberapa hari, aku mendatangi rumahnya dan aku lama sekali menunggu sambil berdiri didepan pintu seraya aku panggil berkali-kali. Tapi dia tidak mau datang menghampiriku. Akhirnya istrinya datang menghampiriku dibalik pintu dan dia berkata, “Sesungguhnya saudaramu tidak mau beranjak keluar dari tempat ibadahnya untuk menemui siapapun”. Kemudian aku berkata, “Sampaikan dan katakan pada suamimu bahwa saudaramu Hasyim Asy’ari ingin bertemu. Maka keluarlah, jika tidak, maka aku akan masuk dan mengeluarkannya secara paksa. Kemudian istrinya memberitahu kepadanya tentang kedatanganku dan diapun akhirnya keluar menemuiku. Lalu aku bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku, telah sampai kabar kepadaku bahwa kau telah berbuat begini dan begitu. Lantas apa yang mendorongmu untuk berbuat seperti ini dan itu?”. Kemudian dia menjawab, “Aku telah melihat manusia tidak berupa bentuk aslinya. Aku melihat mereka seakan akan mereka berwujud kera”. Aku menjawabnya, “Jangan-jangan setan telah mengelabuhi pandanganmu dan menggoda hatimu. Dia (setan) berkata kepadamu, tetaplah kamu senantiasa dirumah dan jangan keluar rumah biar masyarakat menyangka kamu bagian dari wali-wali Allah SWT yang akhirnya mereka berbondong bondong datang untuk sowan kepadamu dan meminta berkah darimu dan mereka memberimu hadiah yang banyak. Maka sadarlah wahai saudaraku”, Bukankah Rasululah SAW, bersabda kepada Sayyidina Abdullah Bin Amr, “Dan sesungguhnya tamumu atas kamu ada hak”. Seraya Rasulullah bersabda dalam haditsnya, ”Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka sebaiknya dia memuliakan tamunya”.

Kemudian selang beberapa hari, kyai yang bergelar Syaikh Thariqah An-Naqsyabandiyyah itu datang kerumahku dan dia berkata kepadaku, “Engkau benar wahai saudaraku, sekarang telah aku tinggalkan uzlahku (menyendiriku) dan aku (berjanji) akan menjalankan seperti apa yang telah dijalankan oleh kebanyakan manusia”. Akhir sang kyai tadi hidup bermasyarakat sampai dia wafat. Allahumma ighfir lahu.

Sungguh merupakan hal yang maklum kalau terjadi perbedaan pendapat didalam masalah-masalah yang bukan prinsip diantara sahabatku. Mereka adalah ummat pilihan. Salah satu dari mereka tidak mungkin mencela atau memusuhi yang lain, atau menyandarkan sahabat yang lain pada kesalahan dan kesembronoan.

Begitu juga dimaklumi, perbedaan pendapat tentang masalah-masalah far’iyyah yang sangat banyak sekali antara Abu Hanifah dan Imam Malik RA. Masalah-masalah yang diperdebatkan antara keduanya hampir mencapai bilangan empat belas ribu masalah seputar bab ibadah dan muamalah.

Dan perbedaan itu juga terjadi antara Imam Ahmad Bin Hanbal dan gurunya, Imam Syafi’i. Dan salah satu dari mereka tidak ada yang memusuhi, mencaci maupun dengki terhadap yang lain. Juga tidak pernah terjadi diantara mereka saling mengklaim bahwa dirinya yang paling benar dan yang lain salah. Tapi mereka senantiasa saling asih dan menghormati serta mengutamakan (pendapat) temannya serta saling mendoakan satu dengan yang lain.

Diceritakan bahwa, Imam Syafi’i berziarah kemakam Abu Hanifah. Dia bermalam selama tujuh hari sambil membaca Al Qur an dan ketika khatam, pahala bacaannya dihadiahkan kepada Imam Abu Hanifah. Dan Imam Syafi’i tidak melakukan qunut subuh selama dia bermalam diqubah (area pemakaman) Abu Hanifah.

Dan ketika pulang dari qubah Abu Hanifah, Imam Syafi’I ditegur oleh salah satu muridnya, “Kenapa tuan tidak membaca qunut subuh selama tuan berada diqubah Abu Hanifah?”. Imam Syafi’i menjawab, “Karena Imam Abu Hanifah tidak menghukumi sunah tentang membaca qunut, sehingga aku tidak qunut karena menjaga tata krama dengan beliau”.

Begitu juga terjadi perbedaan pendapat antara Imam Rafi’i dan Imam Nawawi, Imam Ahmad Ibnu Hajar dan Imam Ramli serta pengikut-pengikutnya. Dan mereka tidak saling bermusuhan, saling mencaci dan saling mengklaim bahwa dirinya yang paling benar. Bahkan mereka saling asih, bersaudara dan mengutamakan yang lainnya.

Kalau engkau tahu dan faham keterangan diatas, maka engkau akan sadar dan faham bahwa, perbedaan masalah-masalah far’iyyah yang mengarah pada permusuhan dan memutus tali persaudaran adalah jeratan dan tipu daya setan, sombong-sombongan dan lebih pada mengikuti hawa nafsu.

Bukankah Alah SWT telah berfirman,

“Walaa tattabi’ al-hawaa, fayudlillaka ‘an sabiili allahi (Shad; 26)

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah SWT”. (QS. Shad; 26)

Dan Rasulullah bersabda :

“Maa dzi baani jaai’aani arsalaa fii ghanamin bi afsada lahaa min hirshi al-mar i ‘alaa al-maali wa al-syarafi li diinihii”

“Dua serigala kelaparan yang dilepas ditengah-tengah sekelompok kambing, tidaklah lebih membahayakan dari pada orang yang rakus terhadap harta dan gila kedudukan didalam agama”.

Dalam riwayat Jabir, Rasulullah bersabda,

“Maa dzi baani dlaariyaani ya tiyaani fi ghanamin ghaabin ri’aauhaa bi afsada min hubb al-syarafi wa al-maali lidiini al-mu mini”.

“Dua serigala buas yang mendatangi sekelompok kambing yang ditinggal penggembalanya tidaklah lebih membahayakan dari pada manusia yang gila harta dan kemuliaan dalam agama”.

Penyair berkata,

“Idzaa anta taaba’ta al-hawaa qaadaka al-hawaa * Ilaa kullu maa fiihi ‘alaika maqaalun”

“Apabila engkau mengikuti hawa nafsu * Maka dia akan menuntunmu kepada hal yang engkau akan menjadi gunjingan”

Maka kami berharap dari teman-teman seagama dan ulama yang bertaqwa untuk selalu mengikuti sahabat dan para Imam serta ulama salaf yang shaleh.

Dan ini adalah akhir dari kitab At-Tibyan. Semoga Allah SWT memberi taufiq kepada kita untuk melakukan hal-hal yang mendapat ridla-Nya. Dan semoga Allah SWT mengampuni setiap kata-kata yang pedas yang keluar dari mulut kita. Dan dengan keagungan-Nya semoga kita dilindungi oleh-Nya dimana saja kita berada. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pemurah, Mulia dan Kasih sayang. Shalawat salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Muhammad SAW, keluarga dan sahabatnya.

Kitab ini aku rampungkan pada hari Senin bulan Syawwal tahun 1360 H. dirumahku Tebuireng Jombang. Semoga Allah SWT melindunginya dari kejelekan dan kerusakan.

*Diterjemah dari kitab Al-Tibyan karya Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Tebuireng..’

http://tebuireng.net

Leave a comment »

Bagaimana Meraih Kebahagiaan

Muladi Mughni, Lc.

Berikut ini akan saya sampaikan beberapa hal yang dianjurkan oleh Islam agar kita bisa meraih kebahagiaan.

I. Tingkatkan kadar Iman dan amal sholeh.
Bagaimana Iman dapat menuntun kita untuk meraih kebahagiaan, hal ini dapat dijabarkan dengan beberapa hal.

Pertama: Bahwa orang yang berimanan akan dianugerhakan Tuhan ketabahan dan kekuatan hati dalam menghadapi setiap kemungkinan- kemungkinan yang bakal terjadi dalam setiap sisi hidupnya, segala hal yang menimpanya baik itu berupa kerugian atau keuntungan tidak akan pernah menggoyahkan keteguhan imannya kepada Allah swt, sebagai Zat yang menentukan garis hidup manusia baik di dunia dan akherat. Dengan mengetahui akan hal ini maka jiwanya akan selalu merasa tentram dan tenang. Ia tidak pernah tamak kepada dunia disamping itu pula ia tidak akan terlalu menyesal ketika apa yang telah ia hasilkan tiba-tiba hilang darinya.

Kedua: bahwa dengan iman dapat menjadikan manusia sebagai sosok insan yang memiliki visi dalam hidup, di mana visi ini selalu akan diperjuangkannya dengan segenap usaha dan kerja keras sebagai rasa kepeduliannya terhadap kemaslahatan semua orang yang ada disekitarnya.
Maka secara tidak langsung bertolak dari rasa iman ini pula, sesungguhnya rasa sentimen individualisme manusia akan terkikis, mengingat ternyata betapa besar tanggungjawab seorang mukmin tadi terhadap bukan hanya dirinya melainkan juga terhadap masyarakat dan lingkungannya.

II. Tingkatkan kwalitas ahlak dan etika bergaul
Adapun cara meraih kebahagiaan yang kedua selain iman adalah: Selalu berusaha untuk memperbaiki kwalitas ahlak dan etika bergaul. Sebab satu hal yang harus diingat, bahwa sesungguhnya manusia adalah mahluk yang paling tidak bisa hidup menyendiri atau terisolasi dari kehidupan sosial. Manusia mutlak membutuhkan satu sama lainnya untuk survive. Dan dalam hukum interaksi sosial, manusia yang paling bisa survive dan meraih kebahagiaan sesungguhnya adalah manusia yang mampu menempatkan dirinya secara bijak dan proporsional sesuai dengan tuntunan etika serta ahlak yang baik. Satu ayat al-quran kita petik untuk ýmenegaskan betapa beretika yang baik dan sopan adalah sangat penting supaya orang lain yang ýada disekitar kita tidak menjauh bahkan lari dari kita, yaitu firman Allah SWT:
ý”Seandainya kau berlaku kasar dan berhati keras sesungguhnya manusia akan menjauhi kamu, maka berlemah lembutlah dan mohonlah ampunan bagi mereka dan sertakanlah mereka bermusyawarah dalam setiap urusan”ý

III. Memperhatikan kesehatan
Cara ketiga meraih kebahagiaan adalah; senantiasa memperhatikan kesehatan. Kesehatan disini mencakup empat hal, pertama, kesehatan raga (fisik), kedua, kesehatan jiwa, ketiga; kesehatan akal, dan keempat: kesehatan ruhani.

Pertama, bagaimana menjaga kesehatan raga atau fisik, yaitu dengan memberikan hak bagi tubuh kita untuk mendapatkan perawatan dan kebugaran. maka merawat tubuh hakekatnya adalah perintah agama kita. Dengan itu, olah raga bisa menjadi ibadah jika kita lakukan dengan
niat mensyukuri nikmat penciptaan tubuh yang sempurna dan agar dengan oleh raga itu kita lebih energik dan produktif bekerja. Maka tidak berlebihan jika nilai ibadah sesungguhnya tidak hanya ditemukan di masjid tetapi juga dilapangan, semuanya tergantung niat.

Adapun yang kedua bagaimana menjaga kesehatan Jiwa, yaitu dengan cara melatih diri kita untuk meninggalkan sifat-sifat yang tercela, seperti, hasud, dengki, iri, mengumpat, mencela orang lain, menganggap rendah orang,bersedekah namun sering menyebut-nyebut amal sedekahnya dan lain-lain. Semakin banyak sifat-sifat tersebut bersemi dalam diri sesorang, betapapun bugar dan sehat badannya, sesungguhnya ia tengah terjangkit penyakit jiwa yang sangat akut.

Adapun yang ketiga bagaimana menjaga kesehatan akal,caranya; yaitu dengan menjauhkan segala hal yang dapat melumpuhkan fungsi otak dan akal kita. Sebab dengan akal suatu perintah dan larangan agama dapat diketahui. Oleh karena besarnya fungsi akal tersebut,maka menjaga akal adalah perintah agama pula. Dari sini dapat kita ketahui, kenapa minuman keras dilarang, sebab selain memang karena ia diharamkan secara tegas, di samping itu, minuman keras atau khamer dapat menghilangkan fungsi akal. Jika menjaga kesehatan akal adalah sebuah perintah agama, maka membuat fungsi akal menjadi rusak dan tidak berfungsi adalah sebuah pelanggaran agama dan dosa besar.

Adapun yang keempat adalah kesehatan ruhani. Bagaimana cara menjaganya, yaitu kita diperintahkan untuk selalu mengisi batin dan ruhani kita dengan tanda-tanda keagungan Allah swt, dengan selalu istiqomah menjalankan setiap perintah-perintah- Nya dan mengekang hawa
nafsu semampu kita. Mendirikan sholat adalah contoh bagaimana kita tengah memberikan kesehatan terhadap ruhani kita, sebab sholat adalah sebuah simbol ketaatan kita kepada sang Khaliq. Selain itu juga puasa adalah satu cara bagaimana kita dapat mengekang hawa nafsu kita. Maka saudara-saudara sekalian, kalau kita selalu berusaha untuk istiqomah menjalankan setiap ajaran agama kita dan mengarahkan hawa nafsu kita secara baik, maka sesungguhnya kita telah berusaha menjadikan ruhani sehat.

Demikianlah pengertian 4 kesehatan di atas, yaitu saya ualangi. 1. Kesehatan raga, 2. kesehatan jiwa, 3. kesehatan akal, dan ke-4. kesehatan ruhani.

VI. Mampu memanage waktu dengan baik.
Adapun cara meraih kebahagiaan yang keempat, yaitu,mampu memanage waktu dengan baik. Saudara-saudara sekalian, setiap orang diberi waktu yang sama, mulai dari hitungan tahun, bulan, minggu, hari bahkan detik. Akan tetapi produktifitas yang dihasilkan orang berbeda-beda. Disatu sisi ada orang yang dalam waktu 4 tahun telah meraih posisi jabatan yang sangat gemilang, namun ada juga orang lain yang dalam waktu yang sama masih belum mendapatkan apa-apa. Rahasianya adalah sejauhmana orang tersebut memanfaatkan waktu dan memberdayaakannya secara optimal. Di samping itu pula dalam agama kita, selain keterampilan memanage waktu, ada yang di sebut dengan waktu yang “berkah” . Contohnya adalah, orang yang sudah tutup usia di waktu muda, tetapi jumlah karyanya melebihi jumlah usianya dan masih terus dikenang oleh banyak orang, kemudian orang yang menempuh perjalanan jauh, namun ia merasa sampai ke tempat tujuan lebih cepat dari yang ia perkirakan, termasuk mahasiswa yang tengah menulis karya ilmiah seperti thesis, ia mampu merampungkan tepat waktu bahkan lebih cepat dari yang semestinya. Inilah yang disebut dengan waktu yang “berkah”.

V.Memperoleh materi atau harta yang sesuai dengan kebutuhannya
Kemudian cara meraih kebahagiaan yang terakhir (kelima) adalah, dengan cara memperoleh materi atau harta yang sesuai kebutuhannya. Suatu hal yang perlu diingat adalah, tolak ukur kebahagiaan yang hakiki bukan terketak pada banyak dan sedikitnya materi yang kita peroleh,
melainkan seberapa besar materi yang kita dapatkan tadi dapat menambah ketentraman batin kita. Kanjeng Nabi pernah bersabda ” Harta yang sedikit tetapi dapat menjadikan pemiliknya tentram dan bersyukur; lebih baik, ketimbang harta yang berlimpah akan tetapi hanya membuat pemiliknya gelisah dan terlena.” Atas dasar ini pula lah, banyak para penguasa yang sholeh ketika ia diberikan dua tawaran antara diberikan ilmu atau harta. mereka lebih memilih mendapatkan ilmu daripada harta. Di antaranya adalah khalifah Ali RA, ia pernah berkata; “Aku lebih memilih ilmu daripada harta, karena ilmu akan menjagaku, tetapi kalau harta aku yang bakal menjaganya.”

Namun hendaknya jangan kita fahami bahwa Islam tidak mementingkan harta. Atau seolah-olah harta tidak memiliki nilai sedikitpun dalam Islam. Sesungguhnya menjadi hartawan atau jutawan juga cita-cita Islam, akan tetapi bagaimana menjadi hartawan dan jutawan namun juga sekaligus menjadi dermawan serta memiliki visi kemanusiaan. kira-kira demikianlah prototipe muslim yang ideal. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW: “harta yang baik adalah yang berada di tangan orang baik.”

Demikian bagaimana kiat-kiat meraih kebahagiaan. Yaitu Ada 5 kiat ; 1. Tingkatkan kadar Iman dan amal sholeh.2. Tingkatkan kwalitas ahlak dan etika bergaul. 3. Perhatikan kesehatan, 4. Manage waktu dengan baik, dan 5. Peroleh materi sesuai dengan kebutuhan. Mudah-mudahan khutbah singkat ini ada manfaatnya. Amin.

Leave a comment »

Pesona Kelembutan Islam

Oleh: Ustadz Hakamsyah Lc.

Di antara akhlak Nabi Saw. yang paling menonjol, beliau adalah pribadi yang lemah-lembut. Kesaksian semua orang yang pernah semasa dengan beliau, menggambarkan bahwa beliau tidak pernah berkata kasar, tidak pernah mengumpat, dan tidak pernah berlaku bengis. Bahkan, beliau Saw. tidak pernah marah, kecuali terhadap perbuatan yang melanggar kehormatan agama. Dalam ungkapan yang singkat, Dr. Yusuf al-Qardhawi mengatakan, “Barangsiapa membaca sunnah Rasul Saw., baik dalam perkataan maupun perbuatan, maka akan menemukan pancaran kelemahlembutan dalam berdakwah dan interaksi sehari-hari. “

Ada beberapa hikmah yang bisa kita peroleh dari perangai lemah-lembut, seperti telah dicontohkan oleh Nabi Saw. Yaitu di antaranya:

Pertama, kelemahlembutan bisa membuat kita menjadi pribadi yang indah. Secara garis besar, Allah Swt. mengkaruniakan dua keindahan kepada manusia: keindahan fisik, dan keindahan kepribadian. Manusia pada umumnya mudah terpukau oleh keindahan fisik. Namun, keindahan fisik ini akan segera kehilangan kesan bila tingkah-laku dan kata-katanya kasar. Di sinilah, kelemahlembutan menjadi kunci untuk mewujudkan pribadi yang indah. Nabi Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah memberi (keutamaan) kepada kelemahlembutan, yang tidak diberikanNya kepada kekerasan, dan tidak juga diberikanNya kepada (sifat-sifat) yang lain.” (HR. Muslim dari `Aisyah ra.)

Dalam kesempatan lain, Nabi Saw. bersabda:
“Sesungguhnya kelemahlembutan tidak melekat pada sebuah pribadi kecuali sebagai perhiasan, dan tidak terlepas darinya kecuali sebagai keaiban.” (HR. Muslim)

Kedua, kelemahlembutan bisa membentuk orang-orang dan lingkungan di sekitar kita. Banyak Sahabat radhiyalLahu ta’âlâ `anhum yang memperoleh hidayah (masuk Islam) setelah menyaksikan pribadi Nabi Saw. yang lemah-lembut. Salah satunya: Tsumâmah bin Atsâl ra. Suatu hari, Tsumâmah yang masih musyrik tertangkap dalam sebuah peperangan melawan kaum Muslimin. Ketika Nabi Saw. menjenguk para tawanan, beliau sempat bertanya kepada Tsumâmah, “Apa yang ingin kau katakana, wahai Tsumâmah?”
Tsumâmah menjawab, “Jika kau hendak membunuhku, hai Muhammad, sesungguhnya kau membunuh seseorang yang memiliki pengaruh kuat. Jika mau berbuat baik kepadaku, maka kau berbuat baik kepada orang yang tahu berterima kasih. Dan jika kau ingin harta tebusan, sebutkan saja berapa pun jumlahnya, pasti akan aku bayar.”
Namun Nabi Saw. tidak memerintahkan untuk membunuh Tsumâmah, atau meminta tebusan darinya. Beliau Saw. malah mengingatkan para Sahabat ra. agar merawat Tsumâmah dan tawanan lainnya dengan baik. Demikianlah, sampai tiga kali kesempatan Nabi Saw. menanyakan hal yang sama kepada Tsumâmah, ia terus menantang untuk dibunuh saja atau membayar tebusan dalam jumlah yang besar.

Setelah para tawanan tersebut dirawat hingga pulih kondisi mereka, alih-alih mereka dibunuh atau dimintai uang tebusan; Nabi Saw. dengan senyum mengembang malah membebaskan mereka tanpa syarat dan menyuruh mereka untuk kembali kepada keluarga masing. Tsumâmah pun beranjak meninggalkan Nabi Saw dan para Sahabat ra. Namun tak lama berselang, ia kembali menghadap Nabi Saw., mengikrarkan keislamannya. Lalu ia berkata, “Sungguh, wahai Rasulullah, sebelum ini tiada orang yang paling saya benci di dunia selain anda. Tapi sekarang anda menjadi orang yang paling saya cintai di dunia ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, kelemahlembutan adalah pelindung hati dari noda dan penyakit kalbu. Yang perlu disadari, ketika kita berkata kasar dan mengumpat, sebenarnya kita tidak sedang merugikan orang lain. Tapi, terlebih lagi, kita sedang menodai hati kita sendiri, mengotorinya dengan kekasaran, serta membuatnya menjadi keras.

Suatu kali, Nabi Saw. tengah dudukbersama Aisyah ra. Lalu melintaslah sekelompok orang Yahudi di hadapan beliau. Tiba-tiba mereka menyapa Nabi Saw. dengan memelesetkan ungkapan “Assalâmu’alaikum” menjadi “Assâmu `alaika”—kebinasaan atasmu, hai Muhammad. Mendengar serapah orang-orang Yahudi itu, Aisyah ra. naik pitam dan balik memaki mereka. Namun Nabi Saw. segera menenangkan Aisyah ra. dan memintanya agar tidak mengotori mulut dan hatinya dengan kekasaran dan kebencian. Lalu beliau memberikan alasan: “Sesungguhnya Allah Swt. lembut, dan menyukai kelemahlembutan dalam segala hal.” (HR. al-Bukhari)

Lemah-lembut dalam tutur kata, lemah-lembut dalam canda, serta lemah-lembut dalam tingkah-laku ternyata merupakan salah satu keteladanan yang paling menonjol dalam diri Rasulullah Saw. Dan saat ini, dalam keseharian kita, baik dalam lingkup kehidupan sosial yang paling kecil hingga yang paling besar; betapa kita menghajatkan keteladanan ini demi terus menjaga keseimbangan sosial yang kita miliki. Toh Allah Swt. telah berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu; yaitu bagi orang-orang yang mengharap (keridhaan) Allah…” (Al-Ahzâb; 21)

Kelemahlembutan bukan indikasi ketidakberdayaan, tetapi merupakan tanda kemampuan untuk mengendalikan diri. Sebaliknya, kekasaran bukan tanda kekuasaan, namun tanda kerapuhan emosional dan kelemahan kepribadian.
Pada titik singgung ini, Nabi Saw. bersabda: “Apabila Allah Swt. menyukai seorang hamba, maka Ia akan mengkaruniainya kelemahlembutan. Dan barangsiapa dari keluargaku yang mengharamkan/ menjauhi kelemahlembutan, maka sesungguhnya dia telah menjauhi kebaikan.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Pesantren Virtual – “Pondok Pesantren era Digital”

Leave a comment »

Al-Mawaidz (beberapa nasehat)

Oleh : AL FAQIR MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

Bismillahi al rahman al rahim

(Surat ini) dari makhluk yang paling melarat, bahkan pada hakikatnya dari orang yang tidak punya sesuatu apapun, Muhammad Hasyim Asy’ari semoga Allah SWT. mengampuni keturunannya dan seluruh umat muslim. Kepada teman-teman yang mulia penduduk tanah Jawa dan sekitarnya, baik ulama maupun masyarakat umum.

Assalamu ‘alaikum wa rahmatu Allahi wa barakatuh Benar-benar telah sampai kepadaku (sebuah kabar) bahwa api fitnah dan pertikaian telah terjadi diantara kalian semua. Maka aku merenung sejenak apa kira-kira sebabnya. Kemudian aku berkesimpulan bahwa sebab itu semua adalah karena masyarakat zaman sekarang telah banyak yang mengganti dan merubah kitab Allah SWT dan sunah Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10 yang artinya:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu”. (QS. 49 : 10).
Sementara masyarakat sekarang menjadikan orang mukmin sebagai musuh dan tidak ada upaya untuk mendamaikan diantara mereka, bahkan ada kecenderungan untuk merusaknya. Rasulullah SAW bersabda :”Jangan kalian saling menebar iri dengki, jangan kalian saling membenci dan jangan saling bermusuhan. Jadilah kalian bersaudara wahai hamba-hamba Allah SWT”.
Sementara masyarakat zaman sekarang saling iri dengki, saling membenci, saling bersaing (dalam urusan dunia) dan mereka akhirnya mereka jadi musuh. Wahai para ulama yang fanatik terhadap sebagian madzhab dan pendapat. Tinggalkanlah fanatik kalian dalam urusan-urusan far’iyyah (tidak fundamental) yang di dalamnya ulama (masih) menawarkan dua pendapat, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa “Setiap mujtahid (niscaya) benar”. Serta pendapat yang mengatakan “Mujtahid yang benar (pasti hanya) satu, namun (mujtahid) yang salah tetap mendapat pahala”.

Tinggalkanlah fanatik (kalian) dan tinggalkanlah jurang yang akan merusak kalian. Lakukanlah pembelaan terhadap agama Islam, berjuanglah kalian untuk menangkis orang-orang yang mencoba melukai Al Qur’an dan sifat-sifat Allah SWT. Berjuanglah kalian untuk menolak orang-orang yang berilmu sesat dan akidah yang merusak. Jihad untuk menolak mereka adalah wajib. Dan sibukkanlah dirimu untuk senantiasa berjihad melawan mereka.
Wahai manusia! Diantara kalian ada orang-orang kafir yang memenuhi negeri ini, maka siapa lagi yang yang bisa diharapkan bangkit untuk mengawasi mereka dan serius untuk menunjukkannya kejalan yang benar?
Wahai para ulama, untuk urusan seperti ini (baca; membela Al-Qur an dan menolak orang yang menodai agama), maka bersungguh-sungguhlah kalian dan silahkan kalian berfanatik. Adapun fanatik kalian untuk urusan-urusan agama yang bersifat fari’yyah dan mengarahkan manusia kemadzhab tertentu atau pendapat tertentu, maka itu adalah suatu hal yang tidak akan diterima Allah SWT dan tidak senangi oleh Rasulullah SAW.

Yang membuat kalian semua bertindak seperti itu tiada lain kecuali hanya kefanatikan kalian (terhadap madzhab tertentu), bersaing dalam bermadzhab dan saling hasud. Sungguh, kalau saja Imam Syafi’I, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Hajar dan Imam Ramly masih hidup (ditengah tengah kita), maka pasti mereka akan sangat ingkar dan tidak sepakat atas (perbuatan) kalian dan tidak mau bertanggung jawab atas apa yang kalian perbuat.
Kalian mengingkari sesuatu yang masih dikhilafi para ulama, sementara kalian melihat banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, meninggalkan shalat yang hukumannya menurut Imam Syafi’i, Malik dan Ahmad adalah potong leher. Dan kalian tidak mengingkarinya sedikitpun. Bahkan ada diantara kalian yang telah melihat banyak melihat tetangganya tidak ada yang melaksanakan shalat, tapi diam seribu bahasa.

Lantas bagaimana kalian mengingkari sebuah urusan far’iyyah yang terjadi perbedaan pendapat diantara ulama? Sementara pada saat yang sama kalian tidak (pernah) mengingkari sesuatu yang (nyata-nyata) diharamkan agama seperti zina, riba, minum khamar dll.
Sama sekali tidak pernah terbersit dalam benak kalian untuk terpanggil (mengurusi) hal-hal yang diharamkan Allah SWT. Kalian hanya terpanggil oleh rasa fanatisme kalian kepada Imam Syafi’I dan Imam Ibnu Hajar. Yang hal itu akan menyebabkan tercerai-berainya persatuan kalian, terputusnya hubungan keluarga kalian, terkalahkannya kalian oleh orang yang bodoh-bodoh, jatuhnya wibawa kalian di mata masyarakat umum dan harga diri kalian akan jadi bahan omongan orang-orang yang tolol dan akhirnya kalian akan (membalas) merusak mereka sebab gunjingan mereka seputar kalian. (Itu semua terjadi) Karena daging kalian telah teracuni dan kalian telah merusak diri kalian dengan dosa- dosa besar yang kalian perbuat. Wahai para ulama! Apabila kalian melihat orang yang mengamalkan pendapat dari para imam ahli madzhab yang memang boleh untuk diikuti, walaupun pendapat itu tidak unggul, apabila kalian tidak sepakat dengan mereka, maka jangan kalian menghukuminya dengan keras, tapi tunjukanlah mereka dengan lembut. Dan apabila mereka tidak mau mengikuti anjuran kalian, maka jangan sekali-sekali kalian menjadikan mereka sebagai musuh. Perumpamaan orang-orang yang melakukan hal diatas adalah seperti orang yang membangun gedung tapi merobohkan tatanan kota.

Jangan kalian jadikan keengganan mereka untuk mengikuti kalian, sebagai alasan untuk perpecahan, pertikaian dan permusuhan. Sesungguhnya perpecahan, pertikaian dan permusuhan adalah kejahatan yang mewabah dan dosa besar yang bisa merobohkan tatanan kemasyarakatan dan bisa menutup pintu kebaikan.
Untuk itu, Allah SWT melarang hamba-Nya yang mukmin dari pertentangan dan Allah SWT mengingatkan mereka bahwa akibatnya sangat buruk serta ujung-ujungnya sangat menyakitkan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 46 yang artinya:”Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu”. (QS. 8 : 46)

Wahai orang-orang muslim! Sesungguhnya didalam tragedi yang terjadi dihari-hari ini, ada ibrah (hikmah) yang banyak serta nasehat yang sangat layak diambil oleh orang yang cerdas dari hanya mendengarkan mauidzohnya para penceramah dan nasehatnya pada mursyid. Ingatlah! Bahwa kejadian di atas adalah merupakan kejadian yang setiap saat akan selalu menghampiri kita. Maka apakah bagi kita bisa mengambil ibrah dan hikmah? Dan apakah kita sadar dari lelap dan lupa kita? Dan kita mesti sadar, kebahagiaan kita itu tergantung dari sifat tolong menolong kita, persatuan kita, kejernihan hati kita dan keikhlasan sebagian dari kita kepada yang lain. Ataukah kita tetap berteduh dibawah perpecahan, pertikaian, saling menghina, hasud dan kesesatan? Sementara agama kita satu, yaitu Islam dan madzhab kita satu, yaitu Imam Syafi’i dan daerah kita juga satu yaitu Jawa. Dan kita semua adalah pengikut Ahlu Al Sunah Wa Al Jama’ah.

Maka demi Allah SWT, sesungguhnya perpecahan, pertikaian, saling menghina dan fanatik madzhab adalah musibah yang nyata dan kerugian yang besar. Wahai orang-orang Islam! Taqwalah kepada Allah SWT dan kembalilah kalian semua kepada kitab Tuhan kalian. Dan amalkan sunah nabi kalian serta ikutilah jejak para pendahulu kalian yang shaleh-shaleh. Maka kalian akan berbahagia dan beruntung seperti mereka.
Taqwalah kepada Allah SWT dan damaikanlah orang-orang yang berseteru diantara kalian. Saling tolong menolonglah kalian atas kebaikan dan taqwa. Jangan saling tolong menolong atas dosa dan aniaya, maka Allah SWT akan melindungi kalian dengan rahmat-Nya dan akan menebarkan kebaikan-Nya. Jangan seperti orang yang berkata “Aku mendengarkan” padahal mereka tidak mendengarkan.

Wassalamu fi al mabda’ wa al khitam.

*(Diterjemah dari kitab Al-Mawaidz karya Hadratusyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Tebuireng)

http://tebuireng.net

Leave a comment »

Rezeki Halal Sumber Kebahagiaan

oleh: Ustadz Ulin Niam Masruri

Allah telah memerintahkan kepada kita agar selalu mencari rizki dari sumber yang halal. Dan perintah ini banyak terkandung dalam ayat alquran, diantaranya dalam surah Annahl ayat 114
Yang artinya: “ Maka makanlah lagi baik dari rezki yang telah diberikan oleh Allah kepadamu, dan syukuriklah ni’mat Allah jika kamu benar-benar menyembah-NYA.”
Demikian juga Islam yang kita anut telah menganjurkan agar kita berusaha dengan tekun dan memberikan yang terbaik. Sebagai umat yang menjadi panutan sudah sewajarnya kita menunjukkan bahwa setiap usaha kita adalah yang terbaik yang akan ýmembuahkan hasil yang baik juga.

Cara memperoleh rezki yang halal.
Untuk memperoleh rezki yang halal kita perlu melakukan 3 perkara:

Perencanaan.

Dengan melakukan perencanaan yang matang terhadap masalah sumber keuangan dalam kehidupan kita sehari-hari, maka kita akan terhindar untuk melakukan pengumpulan uang dengan jalan yang tidak di ridloi oleh Allah.

Berusaha.

Dengan perencanaan yang matang tadi, terus kita praktekkan dalam bentuk usaha yang benar-benar untuk mencari rezki yang halal. Ketika niat kita sudah kuat dan bulat, maka seberat apapun tantangan dalam hidup akan dapat teratasi.

Doa.

Dalam waktu yang bersamaan kita juga harus selau ingat kepada Allah dengan memperbanyak doa agar dipermudah dan ýdiberkati usaha kita.

Dampak rezki yang halal

Maka dari itu kita perlu bermuhasabah mengenai usaha dan pekerjaan kita sekarang ini. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita sudah memastikan bahwa sumber mata pencaharian kita adalah yang halal?.Sangat penting bagi kita semua untuk menjaga agar tidak ada sesuatu barang yang haram masuk kedalam tubuh kita.

Membentuk keluarga yang bahagia

Andaikata sesuatu yang kita makan berasal dari rezki yang halal maka dalam kehidupan akan terasa tenang. Berbeda dengan orang yang memakan dari rezki yang haram dalam sehari-harinya, keluarga akan berantakan walaupun kaya dalam materi. Maka jangan menyalahkan kepada anak-anaknya, ketika nantinya menjadi anak yang susah diatur dan durhaka kepada kedua orang tua. Karena memang sumbernya berasal dari sesuatu yang tidak diridloi oleh Allah.
Banyak kasus kalau kita melihat fenomena dalam kehidupan dimasyarakat, anak berani kepada orang tua. Itu tidak lain adalah dampak daripada rezki haram yang mereka makan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah telah bersabda: “ Tiada mendatangkan faedah bagi daging yang tumbuh dari sumber yang haram, melainkan nerakalah tempat yang sewajarnya bagi daging itu.” (HR Imam Turmudzi)

Hidup lebih terarah.

Dengan rezki yang halal akan menjadikan kehidupan kita semakin nikmat dan terarah. Menerima apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita tanpa harus terus melihat keatas dalam masalah harta. Ketika hati kita selalu berpikir masalah kekayaan, maka yang terpikir adalah bagaimana memperoleh sesuatu yang belum ada pada diri kita, tanpa melihat kenikmatan yang telah kita terima.

Rezki haram pangkal kehancuran

Kalau kita mau menengok kondisi dimasyarakat sekarang ini, betapa banyak orang yang tidak lagi memiliki rasa malu dalam mencari sesuap nasi sehingga mendorong terjadinya praktek suap, tidak amanah terhadap pekerjaan sehingga dampaknya adalah keinginan manusia cepat kaya dan menganggap harta kekayaan sebagai sesuatu yang paling penting dalam kehidupan. Maka tidak berlebihan kalau kita sering mendengar banyak ungkapan dalam kehidupan sehari-hari, mencari rezki yang haram saja susah apalagi mendapat rezki yang halal atau kita akan senantiasa miskin jika tidak mencar rezki tambahan dari sumber yang haram.

Rasulullah menjelaskan hal ini dalam sebuah hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah “ Bakal datang kepada manusia suatu masa orang tidak lagi peduli terhadap apa yang diambilnya, apakah itu halal atau haram.”
Demikian juga dari Ibnu Umar berkata: “ Barang siapa yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham, satu dirham diantaranya uang yang haram, maka Allah tidak akan menerima sholatnya selama pakaian itu masih dipakainya. Kemudian Ibnu Umar memasukkan jarinya kedalam dua telinganya, lalu berkata: “ biarkanlah telinga ini tuli kalau tidak mau mendengarkan
perkataan dari Rasulullah ini.” ( HR Imam Bukhori)

Anggapan yang demikian adalah tidak benar sama sekali. Sebab Allah telah menjamin rezki kita dan memberikan rezki kita sesuai dengan kadar yang telah ditentukan Allah yang kita tidak tahu berapakah kadar tersebut. Oleh karena itu kita perlu terus berusaha, bekerja dan mencari rezki yang halal. kita tidak boleh tergantung pada nasib atau mengeluh nasib, karena itu tidak membawa faedah.

Sebelum kita akhiri marilah kita menengok sebentar tentang kisah seorang sahabat yang dapat kita jadikan sebagai suri tauladan dalam masalah kehati-hatiannya dalam makanan yang haram. Beliau adalah Abu Bakar, seoramg Kholifah pertama setelah wafatnya Rasulullah. Dalam suatu hari beliau makan sesuatu, lalu hambanya memberitahu bahwa makanan yang barusan dimakan tadi adalah hasil dari pekerjaannya sebagai tukang tilik sebelum dia masuk Islam. Mendengar hal tersebut beliau lantas mengeluarkan makanan tersebut dan memuntahkan semua yang ada dalam perutnya. Lalu hambanya menegur: “Mengapa engkau wahai baginda mengeluarkan makanan yang sudah engkau makan?. Maka beliau menjawab: “ Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa badan yang tumbuh subur dengan makanan yang haram pasti akan merasakan api neraka. Oleh karena itu aku memaksa makanaan itu keluar, takut kalau-kalau ia menyuburkanku.

Semoga dengan niat untuk mencari rezki yang halal serta berusaha, rezki yang kita terima diberkati oleh Allah. Rezki yang penuh berkah akan menjadikan kita bukan saja umat yang dijadikan suri tauladan akan tetapi umat yang memberikan sumbangan kepada bangsa, agama dan negara. Wallohu A’lam Bisshowab

Comments (1) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 81 pengikut lainnya.