KH MA Sahal Mahfudh 70 Tahun (1)

Senin 17 Desember 2007, Dr KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh berusia 70 tahun. Ulang tahunnya ditandai peluncuran dua buku sekaligus ”Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh” dan ”Pandu Ulama Ayomi Umat”. Bagaimana kisah perjalanan hidupnya? Berikut ini laporannya dalam dua seri

”DUA buku yang terbit sekarang ini isinya kok ngalem-ngalem (menyanjung-nyanjung) saya semua. Terlalu banyak memuja-muja malah nanti bisa jadi kultus individu. Belum tentu isinya benar dan pas dengan diri saya. Masih banyak yang bisa dikiritisi tentang diri saya. Supaya bebas bicara dan mengkritik tidak sungkan-sungkan saya minta izin meninggalkan ruangan ini,” kata Kiai Sahal.

Sesaat kemudian ia meninggalkan aula yang terletak di lantai dua Kompleks Pondok Pesantren Maslakul Huda (PPMH) Kajen, Margoyoso, Pati. Sekitar seratusan tamu undangan menyaksikan ulang tahunnya.

”Saya belum pernah mengadakan acara seperti ini. Biasanya slametan biasa keluarga, baca manaqib, tahlilan dan selesai. Tetapi saya bahagia,” tuturnya.

Kesederhanaan

Menginjak usia yang makin berumur, kiprah sosial seorang ulama kharismatik asal Pati, Jawa Tengah KH MA Sahal Mahfudh semakin bersinar. Bukan untuk sebuah popularitas, namun lebih pada kontribusi memberdayakan masyarakat.

Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda Desa Kajen, Margoyoso, Pati ini sepertinya tak ingin diam melihat kondisi sosial yang berkembang. Dia justru berperan menorehkan sesuatu yang istimewa dalam menjalankan fungsinya sebagai ulama sekaligus pemimpin.

Beberapa pandangan tersebut muncul dari sejumlah tokoh dalam Bedah Buku dan Tasyakuran Ulang Tahun KH MA Sahal Mahfudh ke-70 di Aula Ponpes Maslakul Huda, Senin (17/12).

Salah seorang rekannya di MUI Drs HM Ichwan Sam mengakui kesederhanaan hidup dan tanggung jawab dalam mengemban amanah yang tercermin dalam diri Kiai Sahal patut diteladani.

Hubungan horisontalnya kepada masyarakat, kata Sekretaris Umum MUI itu, juga dapat terjaga dengan baik. “Banyak pengakuan dari kalangan desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, hingga internasional tentang beliau.”

Sungguh layak ketika MUI berupaya mangayubagya sebagai ungkapan rasa bangga dalam peringatan ulang tahun ke-70 Kiai Sahal dengan memfasilitasi acara tersebut. “Kami semua mendoakan beliau diberikan umur panjang,” ujarnya.

Sebagai tanda penghormatan dan upaya dokumentasi perjalanan Kiai Sahal selama ini, MUI juga meluncurkan buku berjudul “Pandu Ulama Ayomi Umat, Kiprah Sosial 70 Tahun Kiai Sahal”. Buku tersebut memuat pendapat para pengurus MUI, tokoh ormas Islam, politisi, akademisi, budayawan, dan majelis agama-agama tentang kiprah Kiai Sahal.

Tak tanggung-tanggung, selain pengantar dari ketua tim penyusun Drs H M Ichwan Sam, sejumlah pejabat negara seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Agama Maftuh Basyuni, Mendagri Mardiyanto, dan Menneg Koperasi dan UKM Drs H Suryadharma Ali MSi turut menyumbangkan pandangannya.

“Pak Jusuf Kalla tidak bisa rawuh dan menitipkan salam ulang tahun kepada Kiai Sahal. Begitu pula dengan Pak Maftuh Basyuni menyampaikan salam tawaduk,” kata Ichwan saat memberikan sambutan mewakili MUI.

Selepas sambutan-sambutan, Kiai Sahal didampingi istri dan putranya Hj Nafisah Sahal dan H Abdul Goffar Rozin MEd memotong tumpeng.

Sebagian besar tamunya berasal dari unsur PBNU, MUI Pusat dan MUI Jateng serta para pengasuh pondok pesantren di lingkungan Kajen. Hadir Ketua DPD Partai Golkar H Bambang Sadono dan Rektor Universitas Wahid Hasyim Dr H Noor Achmad MA.

Kiai Kampung

Meski masuk kepala tujuh, Kiai Sahal masih tampak enerjik. Minimal setiap bulan sekali bolak-balik Jakarta-Kajen, karena tanggungjawabnya sebagai Ketua Umum MUI Pusat dan Rois Aam PBNU.

Belum lagi kalau ada acara kenegaraan dan undangan seminar, bisa beberapa kali dalam sebulan Jakarta-Pati.

Sekretaris Umum MUI Pusat Ichwan Syam menggambarkan betapa sulitnya kalau Mbah Sahal harus setiap hari ngantor di MUI dan PBNU di Jakarta. ”Dari rumah di Kajen, Margoyoso Pati, harus menempuh perjalanan sekitar 3,5 jam ke Semarang. Dari Bandara Ahmad Yani satu jam ke Cengkareng Jakarta. Nanti dari Cengkareng ke Kantor MUI dan PBNU berapa jam lagi, ditambah kemacetan,” katanya.

Istrinya, Hj Nafisah Sahal pun demikian. ”Abah itu asal sehat gak pernah absen rapat dan acara-acara di MUI dan PBNU,” tutur anggota DPD RI asal Jateng itu.

KH Mustofa Bisri tidak heran dengan berbagai gelar yang disandang Kiai Sahal. ”Sekarang ini Kiai Sahal sudah dikenal dengan berbagai sebutan dan predikat,” tulisnya di buku ”Pandu Ulama Ayomi Umat”.

Gus Mus menyebut mulai dari sebutan sebagai Kiai LSM, Kiai Fiqih Sosial, Kiai Intelektual (apalagi sudah mendapat gelar Doktor HC dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), hingga sebutan sebagai Kiai Pembaharu (pemahaman) fiqh.

Kekaguman kepada Kiai Sahal juga diungkapkan Wapres Jusuf Kalla. ”Awalnya saya mengira beliau ini adalah kiai kampung karena dalam berbagai kesempatan beliau sering pakai sarung dan berpeci. Tetapi ternyata memiliki pandangan dan pengetahuan yang sangat luas. Bahkan beliau tidak hanya fasih berbicara tentang agama, tetapi juga sangat menguasai masalah-masalah yang berhubungan dengan pertanian,” paparnya dalam tulisan berjudul ”Ulama Sederhana dan Selalu Berkarya”.(Agus Fathudin Yusuf, M Noor Efendi-77)

Selasa, 18 Desember 2007 Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

About these ads

1 Response so far »

  1. 1

    suryadi said,

    Assalamulaikum warahmatullah,
    Menawi dilebetaken gambaripun KH Sahal Mahfudh toh langkung sae Pak.

    Matur Nuwun
    Suryadi


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 82 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: