Manakib
Bagaimana hukumnya orang membaca manakib, barzanji atau sejarah orang-orang alim nan sholih pada zaman dahulu.. apakah itu diperbolehkan oleh syariat (ada dalam alquran, hadits, atau kitab-kitab klasik)..
Jawab:
Sebelum saya jawab pertanyaan anda, saya tampilkan dulu sebuah maqalah yang masih diperselisihkan akan ke-haditsan-nya, yaitu:
عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ
Dengan menyebut orang-orang shalih, rahmat akan diperoleh
Hadist ini, sebagaima dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, tidak memiliki asal (la ashla lahu). Kesimpulan Ibnu Hajar ini disampaikan oleh al-Sakhawi dalam Maqasid al-Hasanah hal. 298, dan Isma’il al-‘Ajluni dalam Kasyf al-Khafa’ juz 2/70. Hal senada juga disampaikan oleh pengarang kitab al-Jidd al-Hatsits fi Bayani ma laisa bi Hadits hal 149. Lebih lanjut, al ‘Ajluni mengutip pernyataan al-‘Iraqi dalam al-Mughni-nya, bahwa makalah ini sebetulnya adalah perkataan Sufyan bin ‘Uyainah.
Akan tetapi Ibnu al-Shalah melontarkan pandangan berbeda. Dalam ‘Ulum al-Hadits beliau mengatakan bahwa hadits ini masih dimungkinkan memiliki asal (sanad) yang menjadi sandarannya. Dalam kitab tersebut beliau menyampaikan sebuah riwayat dari Ibnu Umar Isma’il bin Najid. Beliau bertanya terhadap Abu Ja’far Ahmad bin Hamdan (dimana keduanya termasuk orang yang shalih) “apakah yang menjadi pendorong (niat) Anda untuk menulis hadist? beliau berkata:
اَلَسْتُمْ تَرَوْنَ/تَرْوُوْنَ أنَّ عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ ؟
“Apakah kamu tidak meyakini (meriwayatkan?) bahwa ketika orang-orang shalih disebut maka rahmat akan turun?” Kemudian Isma’il berkata, “Ya”. Lalu Abu Ja’far berkata: “Kalau begitu Rasulullah adalah pangkal dari semua orang-orang shalih.
Dari riwayat ini Ibnu Shalah mencantumkan dua kemungkinan, yaitu apabila lafadz ”تروون” menggunakan wawu dua yang berarti sebagai fiil mudhari’ (kata kerja) dari masdar (kata dasar) ‘riwayah’, maka secara global hadits diatas ada dasarnya. Namun apabila menggunakan wawu satu ”ترون” yang berarti “meyakinkan atau menyangka”, maka riwayat ini tidak menunjukkan bahwa hadits di atas memiliki dasar.
Dari maqalah (atau hadits, menurut sebagian ulama) ini, sepantasnya bagi setiap kaum muslimin untuk selalu membaca manaqib/biografi para alim ulama dan auliya agar timbul rasa cinta dan ingin meniru tindak lakunya, dari itu akan turun rahmat kepanya, sebagaimana di jelaskan dalam kitab Jala’ al- Afham fi Aqdah al-Awam.
Dijawab oleh: Ahmad Qusyairi Ismail, Kepala Kuliyah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri
6 Tanggapan sejauh ini »
RSS Komentar · URI Lacak Balik
Makhfud berkata,
Agustus 15, 2007 @ 8:22 am
Hadis yang sering saya dengar sebelum memulai majlis tahlil Aurad Muhammadiyah. Terimakasihatas penjelasannya mengenai hadis ini.
ALI berkata,
Juni 2, 2008 @ 7:49 am
sebenarnya sangat bagus sekali supaya kita dapat meneladani sikap dan bijak mereka…..
Khoirul anisa berkata,
Juli 1, 2008 @ 8:23 pm
tidak ada yg jelek untuk mengetahui atau membaca sejarah orang alim tapi alangka baiknya jangan sampai terjerumus ke kufuran,kufur dan tidaknya seseorang itupun urusan hambah dan kholiq,bukan hambah dan hamba,tapi banyak umat islam yg banyak mengejar ikan asin tapi membiarkan ikan gurami lepas dg begitu saja bahkan kadang2 mereka tidak mau,contohnya membaca manakib di wajibkan karena banyak umat yg yg berlebih lebihan bahkan ada yg meyakinkan bisa naik haji,,,,anehnya itu sering di fatwahkan para sesepuh umat,akan tetapi di jaman ini Alqur’an yang tidak di ragukan lagi sebagai kitabbullah tidak perna di istiqomahkan bahkan kadang2 baca saja tidak bisa,,,
Subbhanallah,,,pelajarilah Alqur’an serta kandungan nya yg tiada bandingan nya di muka bumi ini.
teguh berkata,
Januari 21, 2009 @ 12:44 am
Manakah yang lebih utama membaca shalawat untuk Muhammad rasulullah atau untuk orang orang alim, manakah keutamaan akhlak yang mulia dibandingkan rasulullah, siapakah yang pantas dijadikan suri tauladan dalam kehidupan ini.
Sebaiknya mengambil dari sumber dan contoh utama, selain itu hanyalah recommended practice.
Jangan sampai kita lebih mengutamakan orang-orang alim dari pada sumber utamanya Muhammada Rasulullah, sehingga ketika berdoa setelah bershalawat ke pada Rasulullah maka tidak afdhol bila tidak bersholawat kepada orang-orang alim terdahulu, cobalah kita renungkan.
Bukannya ini berarti ” tiada arti ” doa tersebut walaupun sudah bershalawat ke rasulullah dan keluarganya tanpa mengucap shalawat ke orang-orang alim terdahulu, sehingga keutamaan rasulullah menjadi berkurang secara makna.
Sehingga kita sama saja tidak menakui kerasulan beliau.
Na’uzubillah
ivan sugiharto berkata,
Maret 26, 2009 @ 3:08 pm
assalamualaikum.wr.wb
maaf\,saya ingin bertanya.bila dalam tubuh ikita,hati itu diibaratkan sebagai hajar aswad, maka air zamzam itu diibaratkan sebagai apa?maaf terima kasih atas tanggapannya.wassalamualaikum.wr.wb
mansyuruddin berkata,
Agustus 30, 2009 @ 7:14 pm
Bagaimana pandangan ahlussunnah ttng syi’ah yg skrg ini sdng merajalela,krn ajaran mereka lebih bnyak menanamkn ke
kedengkian di antara umat islam, cara bribadahnya pun berbeda dngn AHLUSSUNAH, waktu sholat yg lima wkt mereka rubah menjadi tiga wkt,dan msh bnyak lg aqidah yg jauh bersbrangn dng umat islam pada Umumnya. mhn penjelesan.