Bid’ah

Friday, 01 June 2007

I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam.

Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa-apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan…dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah).

Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.

II. Siapakah yg pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yg baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya.

Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan-akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati-hatilah dengan hal-hal yg baru, sungguh semua yg Bid’ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).

Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik-baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).

Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?

III. Bid’ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasul saw.

Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.

Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah. Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.

Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yg berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).

Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.

Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.

Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg jernih menerima hal-hal baru yg baik adalah hati yg sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah swt, Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yg maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.

Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin.

IV. Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk-buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal-hal yg tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat-buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram. Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

4. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah
Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil-menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam?

Walillahittaufiq

Telah beredar buku saya mengenai Bid’ah, tawassul, istighatsah, maulid, ziarah kubur, tabarruk dll, buku itu saya beri judul “Kenalilah Akidahmu”. Dapat dipesan di sekertariat kami.(Majelis Rasulullah SAW, Jl Tebet Dalam No.2A RT.009/01 Kel. Tebet Barat Kecamatan Tebet Jakarta Selatan 12180)

40 Tanggapan so far »

  1. 1

    zawiya said,

    Subhanallah … semoga kaum muslimin di luar sana yang senang men-cap bid’ah dengan sewenang-wenang kepada saudara muslim lainnya mendapatkan hidayah Allah SWT. Amin.

    Ustadz, salam kenal dan sayang dari kami …
    http://www.zawiya-balikpapan.org

    • 2

      arpin said,

      termasuk saudara yang masih mengamalkan bid’ah bisa mengambil hidayah yang telah datang dari Allah melalui Rasulnya,..

  2. 3

    faris Al-Habsyi said,

    Subhanallah… benar bid’ah itu dekat dengan sesat, tapi bid’ah yang mana dulu. seandainya semua bid’ah itu sesat maka saya bertanya kepada orang yang menertawakan kegiatan umat Muhammad SAW yang melaksanakan Maulid. Ziarah dan Tahlilan. kali ini saya tidak menggunakan Dalil apapun, ana akan menggunakan akal sehat dan pikiran yang waras diantaranya :

    1. hampir semua umat manusia zaman sekarang melaksanakan peringatan hari ulang tahun, pertanyaan ana, tinggi mana ulang tahun manusia atau apapun dengan Ulang tahun Rasulullah SAW.

    2. Apakah hati kita sudah menjadi batu (tidak berperasaan) sehingga tidak mau menjiarahi ataupun mendoakan keluarga kita, teman, atau siapapun yang kita kenal dan kita kagumi ?

    3. apabila semua bid’ah sesat, ya sudah kita naik haji jalan kaki saja atau naik onta (kalau punya) kaerna jaman Rasulullah tidak ada pesawat terbang dan kendaraan lain.

    Tidak ada ajaran Islam yang tidak masuk akal. kecuali kita adalah orang yang tidak waras.

    • 4

      wahab said,

      saya ingin menanggapi mas faris tanpa dalil dan menggunakan logika serta akal sehat :

      1. ulang tahun mengikuti tradisi orang2 jahiliyah,kristen & yahudi. tidak ada dalam sejarah ISLAM, Rasulullah dan sahabat serta imam yang empat merayakan ulang tahun mereka.. bila ada pasti sudah tercatat dalam hadits Rasulullah.. tradisi manusia sekarang dalam merayakan ulang tahun mengambil contoh dari yang telah disebutkan diatas..
      2.Ziarah kubur adlah untuk mengingat kematian. Rasulullah tidak melarang ziarah.. yang dilarang adalah penyimpangan2 dalam ziarah seperti : ngalap berkah, minta jodoh, pasang sesaji, minta diampuni dosanya melalui perantara ahli kubur dst..
      Hati kita justru telah membatu seperti kuburan2 indah yang dibangun dari batu2. Do’a bisa kita lakukan 1x24jam tanpa harus ke kuburan..
      3. yang berkata semua bid’ah adalah sesat bukanlah sembarang orang.. dialah Rasulullah yang mengatakannya.. silahkan anda mendebat langsung Rasulullah. kalo sekarang tidak mungkin, nanti anda debat Rasulullah di padang mashyar..
      jalan kaki, naik kendaraan, pakai onta, pakai sendal, naik motor, naik pesawat, hanyalah prasarana.. bukan bagian dari ilmu agama.

      Seluruh ajaran agama Islam masuk akal, kecuali untuk orang2 yang berusaha memaksakan kehendak dan nafsunya..

  3. 6

    era_muslim said,

    sekarang banyak aliran paham2 yang sempit..sehingga semua yg tidak ada d jaman Nabi semua bid`ah..kalau begitu ndak usah idup aja d jaman sekarang solanya semuanya baru n g ada d jaman Nabi..:P~

  4. 9

    KUNTO WILOPO said,

    Ane rasa orang – orang yang selalu menggaung gaungkan masalah bid’ah ditengah – tengah praktek amaliah umat yang sudah mendarah daging itu pekerjaan yang konyol dan tidak mendalam dalam memahami nash – nash syar’i. Ada motifasi ingin memecah belah umat, provokasi dan pelunturan pemahaman. Panjang umum buat habib Mundzir, Ane ada digaris depan kalo ada yang musuhin Antum. Tegak paham Ahlusunnah…!!!

    • 10

      wahab said,

      sampaikan kebenaran walaupun pahit.. kata2 memecah belah umat, provokasi hanya perasaan orang2 yang takut di tinggal jamaahnya..

  5. 12

    Saya orang bodo bertanya pada muslim.or.id/soaljawab tentang dalilnya dauroh 3 hari sampai 6 hari dan apakah para Sahabat r.a. mengadakan Kajian Ilmiah tidak di jawab malah di hapus juga situs milik Tuan juga di hapus

  6. 13

    Muslim.or.id said,

    Buat Pak Kulo Tiyang Bodo: Komentar Bapak di muslim.or.id tidak kami hapus. Hanya kemaren belum sempat kami approve, karena sistem komentar di muslim.or.id adalah dalam bentuk moderasi, jadi jika ada komentar masuk akan disimpan dulu di database, dan akan ditampilkan jika sudah dimoderasi oleh admin. Begitu Pak, jazakumullah khaira…

  7. 14

    abuabdillahibnusani said,

    Ana berterimaTerima kasih atas niat baik antum..Ana setuju dengan dalil-dalil yang antum cantumkan di atas. Akan tetapi antum menggunakan pemahaman yang salah dalam memahami hadits-hadits di tersebut, cobalah antum perhatikan kembali penyebab turunnya hadits-hadits tersebut dan bagaimana maksud dari hadits-hadits tersebut dengan merujuk pemahaman para ulama. Berikut ana cantumkan penjelasan beberapa ulama mengenai hadits-hadits tersebut dan yang berkaitan dengan bid’ah yang dimaksud. Mudah-mudahan dengan membacanya akan membukakan pintu hati antum untuk memahami akan maksud dari hadits-hadits tersebut.

    http://www.almanhaj.or.id/content/1003/slash/0

    http://www.almanhaj.or.id/content/982/slash/0

    http://www.almanhaj.or.id/content/439/slash/0

  8. 15

    hani.s said,

    Insya Allah..
    Ini bisa menambah ilmu kami yang masih bodoh & dalam taraf belajar ini
    Semoga Allah dapat lebih memahamkan kami dengan ilmu agamaNya hingga tidak ada lagi kaum muslim yang saling menjatuhkan karena dapat menghilangkan keberkahan wahyu
    Wahai saudaraku…
    perbanyaklah ilmu agama dengan meningkatkan korban dengan harta & diri dimulai dari yang terendah yaitu harta ,waktu, kemudian perasaan seperti yang telah di contohkan nabi & 100.000 orang para sahabat yg 90% nya syahid di luar tanah arab, sehingga sampailah pada zaman wali Allah di tanah jawa ini yang apabila bukan karena Allah menggerakkan hati mereka niscaya kita masih menjadi orang Jahiliyah..
    Semoga Allah membalas usaha kita dengan pengampunanNya di akherat.
    Sungguh!! masuk surganya umat ini bukan lantaran ibadahnya tapi semata2 kasih sayang Allah saja dan ingatlah :
    Allah memerintahkan Musa utk menegur Fir’aun dgn lemah lembut sedangkan Musa tentu lebih alim drpd kita & Firaun(laknatullah)tentu lebih jahat dapd kita…tetapi mengapa masih bnyk sdr2 muslim yang saling menghinakan ? Apakah mrk tidak takut menggunakan ‘hak’ Allah yaitu Sombong & takabur?
    Mudah2an kita diberi kepahaman yg lebih tentang AgamaNya

  9. 16

    kepada mas abuabdillahibnusani hargailah dan hormati pendapat Habib Munzir bin Fuad dan jangan di paksa pendapat golongan anda

  10. 17

    Cah Angon said,

    Boeat yang ngaku-ngaku bahwa tidak ada yang benar selain dari pada golongannya sendiri, ketahuilah sesungguhnya orang itu dalah gol yang keluar dari Ahlusunnah wal jamaah!!!(sebagaimana gol orang-orang yang keluar dari barisannya Ali r.a) Wallahualambisawab)

    Cendol-cendol…cendol….cendol (berarti tukang cendol}
    Roti-roti……roti…..roti………….. (berarti tukang roti)
    Sunnah…sunnah…..sunnah……..( berarti tukang sunnah)
    Bid’ah…bid’ah……bid’ah ………….(berarti tukang……he.3x)

    Dari hamba yang distempel sebagai dholallahu

    • 18

      wahab said,

      apakah golongan anda juga tidak merasa lebih benar dari golongan lain? jika tidak merasa lebih benar berarti anda di golongan yang salah..

  11. 19

    mohammad aminnoer said,

    alhamdulillah,,
    mudah2an allah mempertemukan qita,,

    ane senengg ma karya2 antum,,

    yaa allah,,
    berikanlah hidayahmu
    kepada orang2
    yang masih senang dengan teorii2
    bid’ah,,

    adabul ihsan aja lum lulus dah pakee kitab yang tebelll2
    duhh baca kitab wadt menghujaatttt,,,
    ya ampunnnn pak bid’ahh…

    mungkinn dia salah ngajii tuh,,

    ngajinya bukann ma zuriatt rasull cii,,

  12. 20

    azhari said,

    menurut saya artikel ini ilmiah karena menggunakan hujjah yang kuat. ada shahih bukhori, muslim, pendapat sahabat, ulama yang mashur. jadi apa yang perlu dipertentangkan? saya justru heran dengan orang yang memaksakan pendapat semua hal baru itu sesat…. kok sempit sekali ya pola pikirnya…

  13. 21

    Hamba allah said,

    Alhmdulillah,thanks tas info.a

  14. 22

    Bang ACIN said,

    Alhamdulilah ada situs ini
    kalo orang2 yang seneng maulid,tahlil,dzikir dibilang bid’ah… tapi kalo kawin mut’ah sampai 100x , perayaan hari jadi kerajaan di sono tuh di arab mewah sampai pake tari2an, kalo berlibur sampai ke eropa dan amrik buang2 duit , merongrong dan memberontak pada khalifah terakhir dan membunuh sesama muslim di karbalah,, itu SUNNNAH di bilang?????? astagfirullah…..

    • 23

      wahab said,

      kawin mut’ah : syiah, bukan salafy..
      punya bukti yang valid mengenai apa yang ada tuduhkan? jika tidak, maka anda telah memakan daging saudara anda sendiri..(GHIBAH), dan termasuk orang yang bangkrut kelak diakhirat.. kalo hanya katanya situs itu atau blog itu.. hati2.. antek YAHUDI dan musuh2 ISLAM bertebaran di dunia maya ini..
      mengenai pemberontak, pernah dengar khawarij???

      yang menyimpang dari kaidah sunnah tidak termasuk AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH.. siapapun makhluknya..

  15. 24

    Fulan said,

    “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”
    (Shahih Muslim hadits no.1017)

    Benert tuh Beib terjemahannya?

  16. 26

    abudarda said,

    org2 jumud(sempit),org sok plg sunnah,semboyan nya “kembali kpd Alqur’an dan Sunnah”…?! gx tw nya hnya sklmpk org2 BODOH yg mnjd budak yahudi untk pecah belah umat islam…. wahai yg sok2 ngaku salafy,tp bkn pengikut para salaf….. sadar lh.. kmbli ke jln yg bnr… kmbli kpd ajaran para ulama, pewaris para nabi.. ulama Ahlussunnah wal jamaah… smga Allah swt,memberi hidayah kpd kt umat slrh alam.. Amiiin…

    • 27

      wahab said,

      yang anda tuduh BODOH itu siapa? ulama2 salaf?
      hati2 dgn AHLULBIDAH WAL JAMAAH yang tersamar..
      bagi salafi sejati tetap menghormati keturunan nabi yang berilmu dan tetap memegang teguh Sunnah.. walaupun sebenarnya lebih tepat keturunan dari Ali RA. karena garis keturunan di turunkan dari ayah, bukan ibu..

  17. 28

    mortiis06 said,

    bagi orang2 yg zalim, tahulah kelak ke tempat mana mereka akan dikembalikan….

  18. 29

    Habil Faisol said,

    siapa yg berani bilang membaca Al-Qur’an (dg benar tentunya) itu salah…? tp bagaimana jika ia membacanya supaya dianggap “WAH!” oleh org lain…? membaca sholawat, siapa yg brani bilang salah…? bagaimana jika itu dibaca berbarengan dengan perayaan yg temanya makanan, misal maulid…? terlepas siapa yg memulai kebiasaan perayaan ulang taun, jika yg dirayakan adalah Rosululloh, apakah Alloh akn marah…? siapa bilang orang mati itu mati… itu cuma jasad yg membumi, lantas mendatangi pusaranya dengan berdzikir ke Alloh serta meminta ampunan utk sang ahlikubur wa lil muslimiina wal muslimat, ga boleh…?

    meski telah melakukan hal yg benar, bukan berarti kita berani bilang kita BENAR (Absolut).. wong yg bikin aturan itu benar atau salah bukan kita kok… kita cuma disuruh melakukan, perkara selanjutnya benar atau salah ya terserah yg nyuruh… maka lebih arif merasa TIDAK YANG PALING BENAR… lain halnya dengan merasa TIDAK BENAR atau merasa BENAR (mutlak)…

    apakah ber-siwak itu ilmu agama…? apakah ber-odol itu bid’ah….? keseluruhan kehidupan itu ilmu… dan agama memberitahu itu semua dan mengaturnya….

    apakah Sir Tim Berners Lee (yg jelas2 kafir) itu melakukan hal yg salah ketika menemukan WWW (World Wide Web) sehingga kita bisa berdebat di blog ini yg sampai2 ada yg merasa paling benar….?

  19. 30

    sabur said,

    Alhamdulillah sering jumpa Kaum Salafi jualan segala macam seperti baju koko,kopiah,sarung,sandal,macam2 kue,sayuran,baju impor,buka toko besi dan peralatan bangunan ternyata pembelinya para ahli bid’ah

  20. 31

    arpin said,

    assalamualaikum Wr.Wb
    agama islam adalah agama wahyu, bukan agama akal.. jadi mohon untuk mengambil hukum dalam urusan agama khususnya yang berkaitan dengan hal ubudiyah jangan memakai ro’yu,… gunakan ro’yu kita sebagai sarana untuk untuk memahami dan berfikir tentang wahyu,.. jangan dijadikan pokok dalam berdalil.

    karena pada dasarnya islam dibangun dengan dalil baik, buruk ,halal, haram semua telah dijelaskan oleh nabi melalui qur’an dan sunnah dan qudwahnya,… makanya walhasil aga ini telah sempurna dan tidak ada cela sedikitpun yang tidak disampaikan oleh beliau,
    cobalah bagi saudaraku yang masih belum memahahi hakekat bid’ah coba untuk istigfar, tarik dan mulai dari pemahaman dasar,….hindarkan dari merasa paling baik dan benar ta’ssub,..

    wallohu ‘alm semoga kita bisa mengambil hidayah Allah.

  21. 32

    amiq said,

    agama islam adalah agama wahyu yang masuk akal, halal dan haram bayyinun alqur’an dan hadist penjelasnya dan akal yang tahu pnjelasannya, agama islam bukanlah agama yang menolak akal sehingga menjadi tidak sempurna karenanya, apakah menjadi tidak sempurna Islam apabila warnanya bukan warna arab, apakah Islam menjadi bukan Islam apabila wajahnya bukan wajah arab, marilah kita fahami segala sesuatu hanya dilihat zahirnya saja, cobalah fahami juga esensi, dalil adalah pengantar menuju kebenaran, apabila kita telah tahu dengan kebenaran masihkah kita butuh pengantar untuk mencapai kebenaran?? Allahu A’lam, jadi jangan anggap orang yang beda pemahaman adalah orang yang tidak punya dalil, Hidayah adalah kepunyaan Allah kita tidak bisa mengambil namun kita berharap untuk diberi..Amin

  22. 33

    ta'sammuh said,

    Assalammualaikum wahai pencinta habaib.buat Wahab dan yang benci/koreksi kepada para habaib,silahkan lihat asbabunnuzul Surat Al – Ahzab :33,Bahwa yang mengangkat Sayyidina Ali.Ra menjadi Ahlul bait adalah Allah.Swt,jadi yg di tuduhkan Wahab sebenarnya sama dengan hinaan kaum Kafir Quraisy kepada Rasulullah,Saw bahwa keturunannya terputus disebabkan tidak memiliki anak laki2,Nauzubillah,hati-hati ahmad.dkk kalau berkata.buat yang koreksi kepada pencinta mahzab arba’in,sebelum koreksi silahkan koreksi fahammu dulu sudah benarkah wahabi/salafi(salah pilih)/ahlussunah(padahal ahlul bid’ah yg baru ada tahun 1250 H)?SILAHKAN KUNJUNGI SALAFYTOBAT@WORDPRESS.COM

  23. 34

    ade lesta said,

    saya sdh bnyk mndngr n mmbca tntng org2 mngtkn maulid nabi n jiarah adlh bid’ah,bhkn lbh keji mrk mnvonis bhw org2 yg mrykn maulid nabi siap2 saja msk keneraka.
    ya allah,mrk tdk mmhami hal ini,sndainy islam tanpa maulid,saya ykin islam takan knl nabiny sndr,tnpa majlis2 rasulullah saw org2 nasrani akan mdh mnysup n mmerangi islam dgn licikny.
    saya pribadi sngnt cnta perayaan maulid nabi,trslah brkmbang hngga akhr jaman,mdh2n d beri ptnjk kpd org2 yg mngtkn maulid itu bid’ah dgn tudingan yg keji.

  24. 35

    Ferry said,

    marilah qta sudahi saja perdebatan ini… Sesama muslim qta bersaudara… Semoga qta semua termasuk orang – orang yang beruntung

  25. 36

    HAMBA ALLAH SWT said,

    ASSWRWB, UNTUK SEMUA DLM FORUM INI UNTUK SALING ISHTIGFAR, KESOMBONGAN, KEANGKUHAN, MERASA DIRINYA BENAR ITU HARUS BERHATI2,, ALLAH SWT TIDAK MENYUKAI PADA ORG2 YANG SOMBONG AKAN ILMU2NYA,,,

    AGAR ANTUM2 TAU, DI INDONESIA INI BAHKAN DISELURUH PENJURU DUNIA MASIH BANYAK KAUM2 MUSLIMIN YANG JAUH DARI KAIDAH2 AGAMA,, YANG MASIH BELUM MENGENAL ALLAH SWT,,,

    JAMAAH TABLIGH YANG DENGAN IKHLASH MENYIARKAN TENTANG TAUHID MENGENAL ALLAH SWT, (LAILAHA ILLALLAH), KEPADA SAUDARA2 MUSLIM SAMPAI KEPELOSOK2 HUTAN GUNUNG DESA DAERAH KECAMATAN DLL DAN TANPA PAMRIH UNTUK MENDAKWAHKAN SYIAR AGAMA ALLAH SWT,,TERNYATA BANYAK KAUM MUSLIMIN YANG DI DATANGI TELAH JAUH DARI AKIDAH ISLAM,,

    BUKTI NYATA DARI KESEMUANYA ITU, TELAH DI DATANGKAN JT UNTUK BERDAKWAH KEPADA TUNA RUNGU (ORG BISU, TDK BISA MENDENGAR DAN BERBICARA) TERNYATA BANYAK MEREKA YANG BELUM MENGENAL ALLAH SWT,,, SAMPAI2 MEREKA BILANG ALLAH SWT LEBIH DRI 1, DAN NABI MUHAMMAD SAW PUN BYK YANG TIDAK MENGETAHUINYA,,MAKA JAMAAH TABLIGHLAH YANG DENGAN IKHLASH UNTUK MELUANGKAN WAKTU UNTUK MENGAJARKAN TENTANG AKIDAH DAN MENYAMPAIKAN BAHWA ALLAH SWT HANYALAH 1, YAITU ALLAH SWT PENCIPTA ALAM SEMESTA DAN NABI MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH SWT,, DAN SEKARANG PERGERAKAN2 UNTUK BERDAKWAH UNTUK PARA TUNA NETRA PUN DILAKUKAN OLEH ORG2 TUNA NETRA SENDIRI, DAN SDH BANYAK DENGAN DAKWAH MEREKA SUDAH MENDAPATKAN MANFAAT DAN HIDAYAH DARI ALLAH SWT,,,,

    APAKAH NABI MUHAMMAD DAN PARA SAHABAT2NYA DULU BERDAKWAH DIRUMAHNYA?

    JIKA NABI MUHAMMAD SAW DAN PARA SAHABAT2NYA BERDAKWAH DIRUMAH APAKAH ISLAM AKAN TERSEBAR KE SELURUH DUNIA??

    JADI KITA RENUNGKAN SENDIRI SIAPA YANG MASA HIDUPNYA BERMANFAAT BUAT ORG LAIN?
    – APAKAH ORG2 YANG SERING MENGKRITIK BID’AH?
    – ATAU ORG2 YANG TANPA PAMRIH DENGAN UANG SENDIRI MENYIARKAN AGAMA ALLAH SWT DENGAN IKHLASH TANPA MENGHARAPKAN IMBALAN?

    WALLAHU A’LAM

  26. 37

    dial al atthas said,

    Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
    Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari hadits no.4813).
    maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

    maulid adalah tanda kebahagian kita akan lahirnya beliau rasullulah SAW sebagai rahmatin lil alamin,berisi kisah perjalanan rasullulah saw beserta kalimat-kalimat yang memuliakan allah dan rasulnya..
    jika sedari dulu maulid tidak ada,mungkin para generasi sekarang sedikit yang mencintai dan meneladani beliau ..

    wahai saudaraku,janganlah serta merta membenci sesuatu yang engkau sendiri belum faham makna dan isinya..

    wallahu a’lam..

  27. 38

    sobirin said,

    bagi saya tulisan ini sungguh bermanfaat krn mencerahkan, menjelaskan, dan mengingatkan

  28. 39

    zaki said,

    Bagi saya, orang2 yg slalu mengaku dirinya paling benar dan mengaku yg paling sesuai dg alquran dan assunnah/hadist, seandainya alquran dan alhadist tsb tdk dibukukan oleh para shohabat dan ulama2 ahli hadist lalu mereka itu mau merujuk pd alquran atau hadist yg mana ? Wong dibukukan saja sudah begini adanya suka menyalahkan dan menuduh orang lain bidah, syirik khurafat dll padahal itu semua berkat jasa/ ijtihad beliau2 yg mulia tsb diatas yg pd masa rasulullah tdk ada. Sepertinya mereka ini tdk mengakui kredibilitas keilmuan para sohabat nabi saw (khulafaurrosyidin) dan para ulama yg ahli hadist, tetapi mereka lebih menjungjung tinggi imam mereka yg sepertinya tdk mau terikat dg imam2 madzhab yg ada dan ulama2 ahli hadist yg sudah masyhur, mereka ingin tampil beda dg apa yg sudah ada lebih dulu yg sudah disekati oleh para ulama tsb karena beliau2 ini tentunya lebih paham hukum islam dari pd kita yg sok pintar dan sok2 yg lain. Oleh karena itu bagi saudara2 yg selalu dituduh ahli bidah apapun alasannya karena mengerjakan amaliyah2 spt tahlilan, maulidan, ziyarah kubur dll teruskan dan jangan didengarkan ocehan mereka kalau perlu digiatkan dan disemarakkan lagi karena kalian semua sudah mempunyai dasar/dalil2 yg kuat spt yg sudah disampaikan oleh ulama2 kita, yg penting kita tdk menghukumi amaliyah tsb wajib hukumnya. Dan bagi mereka yg selalu mem bid’ah kan orang /kelompok lain teruskan !!! karena itu sudah menjadi pekerjaannya dan tdk ada yg lain selain pekerjaan itu2 saja, dan biarkan mereka yg selalu dituduh ahli bidah itu berjalan dg keyakinannya. Yang penting kalian dan kelompoknya paling benar dan masuk surga sendirian. Ada yg lebih penting lagi kita sbg bangsa indonesia bersatulah dan jangan terpecah belah apapun suku dan agama kita karena musuh selalu mengintai kelengahan kita, merdeka !

  29. 40

    yazid said,

    Imam Asy Syafi’i berkata,
    إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي
    “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.”[1]
    Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu?”, maka gemetar dan beranglah Imam Syafi’i. Beliau berkata kepadanya,
    أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ وَقُلْتُ بِغَيْرِهِ
    “Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain…!?”[2]
    Imam Syafi’i juga berkata,
    إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ
    “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.”[3]
    كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ
    “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.”[4]
    كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي
    “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.”[5]
    إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ
    “Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.”[6]
    أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ
    “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.”[7]
    Perkataan Imam Syafi’i di atas memiliki dasar dari dalil-dalil berikut ini di mana kita diperintahkan mengikuti Al Qur’an dan hadits dibanding perkataan lainnya. Allah Ta’ala berfirman,
    وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
    “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya” (QS. Az Zumar: 55). Sebaik-baik yang diturunkan kepada kita adalah Al Qur’an dan As Sunnah adalah penjelas dari Al Qur’an.
    الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
    “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Az Zumar: 18). Kita sepakati bersama bahwa Al Qur’an dan As Sunnah adalah sebaik-baik perkataan dibanding perkataan si fulan.
    وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
    “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7).
    Dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati para sahabat radhiyallahu ‘anhum,
    فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
    “Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.”[8]
    Semoga kata-kata Imam Syafi’i di atas menjadi teladan bagi kita dalam berilmu dan beramal. Tidak membuat kita jadi fanatik dan taklid buta pada suatu madzhab. Boleh saja kita menjadikan madhzab Syafi’i sebagai jalan mudah dalam memahami hukum Islam. Namun ingat, ketika pendapat madzhab bertentangan dengan dalil, maka dahulukanlah dalil. Jadi kita tidak diajarkan cuma sekedar fanatik.
    Wallahu waliyyut taufiq.


Comment RSS · TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: