Pendapat Para Imam dan Muhaddits Tentang Perayaan Maulid
Thursday, 08 March 2007
1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “Kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG-ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)
2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300, dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman-teman dan saudara-saudara, menjamu dengan makanan-makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. Bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.
3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.
4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.
5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dengan ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab.
6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.
7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”
8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.
9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.
10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dihyah alkalbi dengan karangan maulidnya yg bernama “Attanwir fi maulid basyir an nadzir”.
11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dengan maulidnya “urfu at ta’rif bi maulid assyarif”
12. Imam al Hafidh Ibn Katsir yang karangan kitab maulidnya dikenal dengan nama : “maulid ibn katsir”
13. Imam Al Hafidh Al ‘Iraqy dengan maulidnya “maurid al hana fi maulid assana”
14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.
15. Imam assyakhawiy dengan maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi
16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dengan maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah
17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yang terkenal dengan ibn diba’ dengan maulidnya addiba’i
18. Imam ibn hajar al haitsami dengan maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid sayid waladu adam
19. Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dengan nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar
20. Al Allamah Ali Al Qari’ dengan maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi
21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji dengan maulidnya yang terkenal maulid barzanji
23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dengan maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad
Namun memang setiap kebaikan dan kebangkitan semangat muslimin mestilah ada yg menentangnya, dan hal yg lebih menyakitkan adalah justru penentangan itu bukan dari kalangan kuffar, tapi dari kalangan muslimin sendiri, mereka tak suka Nabi saw dicintai dan dimuliakan, padahal para sahabat radhiyallahu’anhum sangat memuliakan Nabi saw, Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yg sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yg sakit (shahih Muslim hadits no.2069).
seorang sahabat meminta Rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang itu dan bertanya : “dimana tempat yg kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul saw hingga dijadikan musholla (Shahih Bukhari hadits no.1130). Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yg merobek perutnya dengan luka yg sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra), “Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra”, maka ketika Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan disamping makam Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.1328). Dihadapan Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai arti yg sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi saw, bahkan ia berkata : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”.
Dan masih banyak riwayat shahih lainnya tentang takdhim dan pengagungan sahabat pada Rasulullah saw, namun justru hal itu ditentang oleh kelompok baru di akhir zaman ini, mereka menganggap hal hal semacam itu adalah kultus, ini hanya sebab kedangkalan pemahaman syariah mereka, dan kebutaan atas ilmu kemurnian tauhid. Maka marilah kita sambut kedatangan Bulan Kebangkitan Cinta Muslimin pada Nabi saw ini dengan semangat juang untuk turut berperan serta dalam Panji Dakwah, jadikan medan ini benar benar sebagai ajang perjuangan kita untuk menerangi wilayah kita, masyarakat kita, masjid kita, musholla kita, rumah rumah kita, dengan cahaya Kebangkitan Sunnah, Cahaya Semangat Hijrah, kemuliaan kelahiran Nabi saw yg mengawali seluruh kemuliaan islam, dan wafatnya Nabi saw yg mengawali semangat pertama setelah wafatnya beliau saw.
Saudara saudarku, kelompok anti maulid semakin gencar berusaha menghalangi tegaknya panji dakwah, maka kalian jangan mundur dan berdiam diri, bela Nabimu saw, bela idolamu saw, tunjukkan akidah sucimu dan semangat juangmu, bukan hanya mereka yg memiliki semangat juang dan mengotori masji masjid ahlussunnah dengan pencacian dg memfitnah kita adalah kaum musyrik karena mengkultuskan Nabi,
Saudaraku bangkitlah, karena bila kau berdiam diri maka kau turut bertanggung jawab pula atas kesesatan mereka, padahal mereka saudara saudara kita, mereka teman kita, mereka keluarga kita, maka bangkitlah untuk memperbaiki keadaan mereka, bukan dengan pedang dan pertikaian, sungguh kekerasan hanya akan membuka fitnah lebih besar, namun dg semangat dan gigih untuk menegakkan kebenaran, mengobati fitnah yg merasuki muslimin muslimat..
Nah saudara saudaraku, para pembela Rasulullah saw.. jadikan 12 Rabiul awwal adalah sumpah setiamu pada Nabimu Muhammad saw, Sumpah Cintamu pada Rasulullah saw, dan Sumpah Pembelaanmu pada Habibullah Muhammad saw.
16 Tanggapan sejauh ini »
RSS Komentar · URI Lacak Balik
edis berkata,
Juni 12, 2007 @ 2:25 pm
terima kasih banyak, tulisan ini sangat bermanfaat bagi saya, karna menambah ilmu dan pengetahuan saya tentang maulid.
suirno hady berkata,
Desember 17, 2011 @ 5:08 pm
apa mas? menambah kesesatan,menambah kegiatan kali
ridho berkata,
Juli 3, 2007 @ 3:06 pm
pas banget,soalnya ana lg nyari bahan tentang maulid buat majalah yg ada di yaman
Sulaiman Basyaiban berkata,
November 28, 2007 @ 7:01 am
Ajib sekali karena di lingkungan ane ada beberapa orang yang anti terhadap maulid meski pada dasarnya terkadang dia memperingati kelahiran anak-anaknya.(maulid)
khirosah berkata,
Juni 24, 2008 @ 4:09 pm
saya sudah ngeprint dan saya taruh di masjid setelah beberapa hari lenyap
luthfi berkata,
Juli 11, 2008 @ 9:03 am
shallu ‘alan nabi…
tulisan ini ajib banget….ane cuma usul,gimana kalo tulisan ini dijadikan semacam pelindung atau back up lah kala bulan maulid datang,biasanya bulan maulid wahabi yang haus darah mulai mengeluarkan taringnya mulai mengeluarkan suara tentang kemusyrikan kepada orang-orang yang mengamalkan maulid…
syukran katsiran….
farid berkata,
Juli 23, 2008 @ 12:40 pm
wah seneng sekali mampir kesini, blognya ahlusunnahwaljamaah, wahabi juga belajar menjadi ahlusunnah, jadi jangan gontok2an, yang rukun gitu loh sesama ahlusunnahwaljamaah, diskusi ya diskusi gak pake antem2an
KOMPORMLEDUK berkata,
Agustus 1, 2008 @ 3:18 am
Assalamualikum War. Wab..
Pencerahan hati dan dimantapkan hati kita apa bila kecintaan kita terhadap Kanjeng Rasulullah melalui MAULID dan Bersholawat adalah karena kita mengharapkan syafa’atnya Rasulullah di hari akhirat tidak terbesit yang macem2. yang bicara bid’ah untuk maulid seakan orang tersebut pernah hidup di jaman Rasulullah dan dia ternyata lebih bangga dan cinta dengan golongan nya, partainya gurunya dengan adanya harlah partainya, golonganya entah apalah namanya yang sebenarnya tidak ada manfa’atnya sama sekali buat akhidah dan keimanan kita.
syukron katsira.
mukiwan berkata,
November 19, 2008 @ 9:53 am
Mudah2an dengan maulid dengan hati ikhlas ini Allah SWT mematahkan seluruh kekuatan kaum wahabi. Allahumma amin.
Washallallahu ‘alaa sayyidinaa Muhammad.
Arief berkata,
Agustus 6, 2009 @ 9:50 am
Alhamdulilah.
Marilah kita perjuangkan islam dgn benar. Maulid nabi adalah sesuatu yg berguna untk mengangkat citra islam yg telah di serang oleh kaum yg mengangap dirinya plg benar. Allahu akbar….
Izzul islam wal muslimin
Referensi Biografi Anak Cucu Nabi SAW « UMMATI PRESS berkata,
Februari 13, 2010 @ 6:50 am
[...] Pendapat Para Imam dan Muhaddits Tentang Perayaan Maulid [...]
Abu Muhammad berkata,
Juni 21, 2010 @ 2:15 am
Kalau saya sih ambil jalan aman. Jika ada hadist sahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah ada merayakan maulid nabi, maka saya akan rayakan. Atau jika di antara 4 khalifah rasyidin ada yang merayakan maulid nabi, maka saya juga akan ikut.
Tapi jika di antara Beliau yang jadi panutan tersebut tidak merayakan maulid, maka saya juga tidak akan merayakan.
Perayaan ulang tahun saya atau keluarga??? Itu sih harus dihindari sejauh mungkin.
Semaksimal mungkin, kita harus punya dalil (Quran dan hadits shahih) dalam setiap amalan kita. Ini adalah jalur aman.
aik berkata,
November 22, 2011 @ 1:44 am
nukilan dari para imam ahlusunnah tidak lengkap dn tidak di jelaskan di kitab apa, juz brp dan hal brp. smoga penulisnya mau bersikap ilmiyah,.
karena agama islam adalah agama yang ilmiyah, cukuplah Al Quran dan As Sunnah As Shahihah
rahimakumullah berkata,
November 26, 2011 @ 6:37 pm
apakah pendapat itu yang kalian jadikan hudjah/dhalil ?
benar perkataan akhi yang di atas ana.
tolong cantumkan juga sumbernya dari mana, benar benar shahih apa tidak.
bukankah ahlus sunnah wal jama’ah adalah para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari para ulama Ahli Ijtihad dan Ahli Hadits yang berjalan di atas Al-Qur’an dan Sunnah dan siapa saja yang mengikuti mereka dalam hal tersebut sampai hari kiamat.
kok ini syari’at di tambah tambahin, udah bukan ahlus sunnah wal jamaa’ah lagi kalau gitu namanya.
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitaabullaah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat .” (HR. Muslim no.867)
udah jelas perkataan/pendapat ahli hadits tidak bisa di jadikan hudjah.
Allahu a’lam.
Jazakumullahu khairan.
suirno hady berkata,
Desember 17, 2011 @ 5:02 pm
bagaimana pak habib caranya memperingati maulid nabi yang sesuai dengan hadist atau para sahabatnya apa saja yang harus dibaca yang sesuai sunnah nabi karna ditempat kami kalomemperingati maulid dengan membaca sholawat sambil diiringi musik mirib diRM bagaimana kalo ngak pakai musik apa pahalanya berkurang,kita sebagai pencinta rosul harus sesuai dengan petunjuk beliau bukan begitu pak habib?wahaby sesat itu jangan dihiraukan kita saja yang ahli sunnah yng paling cinta rosul,yg mengidolakan rosul orag wahaby ngak suka m elihara jengot,ngak mau pakaian diatas mata kaki,mana bukti cinta nabimu wahay wahaby kau masuk masjid sambil merokok,kau ngak mau pakai siwak malah api yg kau sedot,mana sunnahmu yang kau banggakan itu kau tidak mau pakaian tsaub malah jins yang kau pakai ayo pemudah aswaja semua semangat bergoyang menyambut mauld bersamaRM kita cium tangan pak habib biarkita dapat barakahnya,,,,jangan lupa salam tempelnya buat perjuangan islam ok
suirno hady berkata,
Desember 17, 2011 @ 5:24 pm
pak habib saya sebagai penganut imam safi’i bagaimana imam safi’i cara yang paling sunnah memperingati maulid biar afdool maulid kita sama ana mohon tuliskan sama riwayatnya hadist buat panduan yang lain.