Perjalanan Rasulullah SAW

Perjalanan Rasulullah SAW
Update : 06 / Maret / 2005
Edisi 10 Th. 1-2004M/1425H

Dalam tradisi keluarga terhormat bangsa Arab masa itu, bayi tidak disusui sendiri oleh Sang Ibu. Ia diserahkan pada orang lain yang menjadi Ibu susu. Demikian pula Muhammad, beberapa hari ia disusui oleh Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah seorang budak milik paman beliau, Abu Lahab, yang juga tengah menyusui Hamzah paman lainnya yang seusia dengan Muhammad. Kemudian Muhammad diserahkan pada Halimah, perempuan miskin dari Bani Saad yang mencari pekerjaan sebagai Ibu susu. Semula Halimah menolak untuk menyusui Muhammad. Ia menginginkan bayi yang bukan seorang yatim, dan dari keluarga yang sanggup membayar lebih mahal. Karena tak ada bayi lain yang bisa disusui, Halimah pun membawa Muhammad ke kampungnya. Suasana perkampungan Bani Saad disebut lebih baik bagi pertumbuhan anak dibanding ‘kota’ Makkah. Udara di sana disebut lebih bersih, bahasa Arabnya pun lebih asli. Disamping itu kaum wanita bani Sa’ad tekenal baik budi bahasa dan tutur katanya. Di masa bersama Halimah itulah tersiar kisah mengenai Muhammad kecil. Menurut kisah itu, Halimah menjumpai Muhammad dalam keadaan pucat. Disebutkan bahwa Muhammad baru didatangi dua orang yang diyakini banyak kalangan sebagai malaikat. Orang tersebut kemudian membelah dada Muhammad. Banyak orang percaya, itu adalah proses malaikat “mencuci hati Muhammad” sehingga bersih Pada usia lima tahun, Muhammad dikembalikan ke Makkah. Konon Halimah khawatir atas keselamatan Muhammad. Dalam perjalanan ke Makkah, Muhammad sempat terpisah dari Halimah dan tersesat sebelum ditemukan secara tak sengaja oleh orang yang kemudian mengantarkan ke rumah Abdul Muthalib. Saat Muhammad berusia enam tahun, Aminah sang ibu membawanya ke Madinah menengok keluarga dan makam Abdullah, sang ayah. Mereka ditemani budak Abdullah, Ummu Aiman, menempuh jarak sekitar 600 km bersama kafilah dagang yang menuju Syam. Saat pulang, setiba di Abwa 37 km dari Madinah, Aminah jatuh sakit dan meninggal. Muhammad pun yatim piatu. Ia dipelihara Abdul Muthalib. Namun, sang kakek juga meninggal saat Muhammad berusia 8 tahun. Sebelum Abdul Muthalib meninggal, beliau sempat mengumpulkan putra-putranya untuk membagi tugas mengurus kepentingan penduduk Makkah dan kaum pendatang yang berziarah ke keto suci itu. Abdul Muthalib merasa prihatin memikirkan cucu kesayanganya, Muhammad yang hidup sebatang kara. Beberapa saat beliau berfkir siapakah diantara putra-putranya yang hendak diberi kepercayaan penuh untuk mengasuh Muhammad. Akhirnya ia mengabil keputusan memilih Abu Thalib. Abu Thalib bukanlah putra sulung atau yang terkaya diantara putra-putranya. Abdul Mutalib memilih Abu Thalib karena ia lebih dihormati dan lebih dimuliakan oleh orang-orang Quraisy. Muhammad kecil lalu tinggal di rumah Abu Thalib, anak bungsu Abdul Muthalib yang hidup miskin. Kehidupan sehari-hari Muhammad adalah menggembala kambing. Pekerjaan mengembala kambing dirasakan oleh Muhammad sebagai pekerjaan yang santai serta dapat mendatangkan ketentraman jiwa. Sambil mengembala kambing beliu dapat leluasa menikmati pemndangan indah gurun sahara, dan secara langsung dapat menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah Swt melalui jagat raya ciptaan-Nya. Lebih penting lagi karena pekerjaan menggembala kambing memberi pendidikan dan latihan jiwa kepada beliau seperti, sabar, tabah, kasih sayang dan menjaga serta menolong mahkluk yang lemah. Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah menjelaskan, “Setiap nabi pernah mengembala kambing”. Seorang sahabat bertanya,”Apakah anda demikian juga ya Rasulullah ?” Beliau menjwab.”Ya, aku juga.” Pada usia 12 tahun, Muhammad diajak pamannya berdagang ke Syam. Terkisahkan, dalam perjalanan itu Abu Thalib bertemu pendeta Nasrani bernama Buhaira di Bushra. Sang pendeta memberi tahu bahwa Muhammad kelak akan menjadi seorang Nabi besar. Maka, ia menyarankan Abu Thalib segera membawa pulang Muhammad agar tidak celaka olah ulah orang-orang yang tak suka. Perjalanan ke negeri asing untuk berbisnis pada usia semuda itu tentu memberi kesan kuat pada Muhammad. Berkat ketulusan dan kelurusan hatinya, Muhammad remaja mendapat sebutan Al-Amin, “yang dapat dipercaya”, dari orang-orang Makkah. Dikalangan kaumnya Muhammad terkenal sebagai orang yang banyak berbuat kebajikan, berbudi luhur, berakhlak mulia, manis budi bahasanya, jujur dan menjauhkan diri dari segala macam perbuatan tercela atau tidak senonoh. Allah Swt melindungi dan menjaga kesuian beliau sebagai manusia yang akan memikul tugas suci dan besar di Dunia. Sedangkan ketajaman intelektual serta nuraninya terasah melalui hobinya mendengarkan para penyair. Pada bulan-bulan suci, di beberapa tempat di dekat Makkah, selalu muncul pasar. Terutama di Ukaz yang berada di antara Thaif dan Nakhla, serta di Majanna dan Dzul-Majaz. Di hari pasar, para penyair membacakan sajak-sajaknya. Sebagian penyair itu beragama Nasrani dan Yahudi. Mereka umumnya mengkritik bangsa Arab yang menyembah berhala. Peristiwa tersebut menambah sikap kritis Muhammad atas perilaku masyarakatnya. Persoalan pasar di Ukaz itu menyeret Muhammad pada realita manusia, perang. Berawal dari pelanggaran kesepakatan sistem dagang yang dilakukan Barradz bin Qais dari kabilah Kinana yang memicu pelanggaran serupa ‘Urwa bin ‘Uthba dari kabilah Hawazin. Barradz lalu membunuh ‘Urwa di bulan suci yang diharamkan terjadi pertumpahan darah. Kabilah Hawazin lalu mengangkat senjata terhadap kabilah Kinana. Karena kekerabatan, kaum Quraish seperti Muhammad membela kabilah Kinana. Selama empat tahun, pertempuran berlangsung pada hari-hari tertentu setiap tahun. Itu terjadi saat Muhammad berusia sekitar 16 hingga 20 tahun. Disebutkan pula, di pertempuran itu Muhammad hanya bertugas mengumpulkan anak panah lawan. Ada juga yang menyebut dia pernah memanah lawan. Perang Fijar itu pun berakhir dengan kesepakatan damai. Satu peristiwa penting yang jarang dikisahkan adalah bergabungnya Muhammad pada Gerakan Hilfil Fudzul. Sebuah gerakan untuk memberantas kesewenangan di masyarakat dan melindungi yang teraniaya. Peristiwa itu terpicu oleh perampasan barang milik pedagang asing yang tiba di Makkah oleh Wail bin Ash. Zubair bin Abdul Muthalib mengajak keluarga Hasyim, Zuhra dan Taym untuk menegakkan kembali kehormatan kota Makkah. Mereka berikrar di rumah Abdullah bin Jud’an untuk membentuk gerakan tersebut. Pada usia 20an tahun, Muhammad aktif dalam Hilfil Fudzul itu. Ia ikut menyelamatkan gadis dari Bani Khais’am yang diculik Nabih bin Hajaj dan kawan-kawan. Kematangan Muhammad semakin tumbuh seiring dengan meningkatnya usia. Saat Muhammad berusia 25 tahun, Abu Thalib melihat peluang usaha bagi keponakannya. Ia tahu pengusaha terkaya di Makkah saat itu, Khadijah, tengah mencari manajer bagi tim ekspedisi bisnisnya ke Syam. Khadijah menawarkan gaji berupa dua ekor unta muda bagi manajer itu. Atas sepersetujuan Muhammad, Abu Thalib menemui Khadijah meminta pekerjaan tersebut buat keponakannya itu serta minta gaji dinaikkan menjadi empat ekor unta. Khadijah setuju. Untuk pertama kalinya Muhammad memimpin kafilah, atau misi dagang, menyusuri jalur perdagangan utama Yaman – Syam melalui Madyan, Wadil Qura dan banyak tempat lain yang pernah ditempuhnya saat kecil. Di kafilah itu Muhammad dibantu oleh perempuan budak Khadijah, Maisarah. Bisnis tersebut sukses besar. Dikabarkan tim dagang Muhammad meraup keuntungan yang belum pernah mampu diraih misi-misi dagang sebelumnya. Dalam perjalanannya tersebut, ia juga banyak berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain. Termasuk para pendeta Yahudi maupun Nasrani yang terus mengajarkan ke-Esaan Allah. Muhammad juga semakin memahami konstalasi politik global, termasuk menyangkut dominasi Romawi serta perlawanan Persia.

[ Atas ] [ Kembali ]

Silakan mengutip dengan mencantumkan nama almihrab.com

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    anas said,

    Assalamu’alaikum
    Salam kenal blognya bagus banget.
    Semuanay tentang nabi, punyaku baru satu, disini jadi tambah kuat imannya nih.
    Walassalamu’alaikum.

  2. 2

    hasbiyallah said,

    asslm wrwb…Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”.
    (Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”)
    hati2 ya akhi…dalam berdalih..


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: