Bid’ah

Hb Munzir bin Fuad Almusawa
by: Hb Munzir bin Fuad Almusawa

Re:Mohon Penjelasan – 2006/09/06 19:51 Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
Limpahan kemuliaan Nya semoga selalu tercurah menghiasi hari hari anda

Bid?ah adalah hal yg diada adakan setelah wafatnya Rasul saw, Bid?ah terbagi dua, Bid?ah hasanah dan Bid?ah Munkarah. Hadits yg sering mereka sebut itu, adalah ucapan Rasul saw untuk Bid?ah Munkarah (seperti shalat dg bahasa Indonesia dll).

Bid?ah hasanah adalah hal yg diada adakan setelah wafatnya Rasul saw dengan tanpa melanggar syariah, dan dengan tujuan maslahat Muslimin dengan landasan Hadits Rasul saw : ?Barangsiapa yg membuat ajaran kebaikan (pahala) dalam islam (tidak melanggar syariah), maka baginya pahalanya, dan barangsiapa yg membuat ajaran buruk (dosa) maka baginya dosanya dan dosa mereka yg mengikutinya” (Shahih Muslim Hadits No.1017).

Orang yg menafikan Bid?ah hasanah, maka ia menafikan dan membid?ahkan Kitab Al Qur?an, karena tak ada perintah Rasul saw untuk membukukannya dalam satu kitab, dan itu adalah Ijma? shahabiy radhiyallahu?anhum hingga disebut Mushaf Utsmaniy.

Demikian pula Kitab Bukhari, Muslim, dan seluruh kitab hadits., karena pengumpulan hadits Rasul saw dalam satu kitab merupakan Bid?ah hasanah yg tak pernah diperintahkan oleh Rasul saw.

Demikian pula ilmu Nahwu, sharaf, Musthalahulhadits, dan lainnya hingga kita memahami derajat hadits, inipun semua Bid?ah hasanah.

Demikian pula shalat Tarawih berjamaah, demikian pula ucapan Radhiyallahu atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasul saw, tidak pula oleh sahabat, walau itu disebut dalam alqur’an bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat, atau Rasul memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu utk sahabatnya, namun karena kecintaan Tabi?in pada sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid?ah hasanah dengan dalil hadits diatas.

Lalu muncul kini pula Al Qur?an yg di kasetkan, di CD kan, di program di Handphone, diterjemahkan, apa ini semua?, ini semua Bid?ah..!, namun Bid?ah hasanah, maka semakin mudah pula bagi kita untuk mempelajari Al Qur?an, untuk selalu membaca Al Qur?an, untuk menghafal Al Qur?an..dan tidak ada yg memungkirinya termasuk mereka sekte wahabi.

coba kalau Al Qur?an belum dibukukan oleh sahabat?, masih bertebaran di tembok tembok, di kulit onta, di hafalan dan sebagian ditulis.., maka akan muncul beribu ribu alqur?an di zaman ini, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, masing masing dg riwayat sendiri dan hancurlah Al Qur?an.. namun dengan adanya Bid?ah hasanah inilah kita masih mengenal Al Qur?an dengan utuh.
Demikian pula berkat Bid?ah hasanah ini pula kita masih bisa mengenal Hadits.

Dan bahwa menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas di Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa seorang wanita bersedekah untuk Ibunya, dan adapula riwayat lain yg juga dalam Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa seorang sahabat menghajikan Ibunya yg telah wafat, dan Rasul saw pun menghadiahkan Sembelihan beliau saw saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, ?Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad? (Shahih Muslim hadits no.1967)

dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur Ulama seluruh madzhab, dan tak ada yg memungkirinya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Syafii, bila si pembaca tak mengucapkan bahwa : ?Kuhadiahkan?, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..?, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi?iy mengatakan pahalanya tak sampai. Maka tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya.

Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa? min ?amalilghair (mendapat pahala atau manfaat dari amal selainnya).

Mengenai ayat : “DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dg ayat (DAN ORAN ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN),

dan pula hadits yg mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka putuslah amalnya terkecuali 3, shadaqah Jariyah, Ilmu yg bermanfaat, dan anaknya yg berdoa untuknya, maka orang orang lain yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasul saw menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit,

dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur’an untuk mendoakan orang yg telah wafat : “WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA2 KAMI DAN BAGI SAUDARA SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN”, (QS Al Hasyr-10)

Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir..
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur?an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah,

ini sama saja dengan merangkum Al Qur?an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yg awam. Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur?an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab,

bila mereka melarang dan membid?ahkannya maka mana dalilnya?, munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur?an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ngada dari kesempitan pemahamannya.

Mengenai 100 hari, 1000 hari atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid?ah hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan Iblis dan pengikutnya?, siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?

mengenai Nisfu Sya’ban
Diriwayatkan bahwa Allah mengampuni seluruh dosa hamba hamba Nya di malam Nisfu Sya?ban selain orang yg menyekutukan Allah, dan orang yg iri dengki (Shahih Ibn Hibban hadits no.1980, 5665), maka di malam pengampunan ini baiknya kita banyak berdoa, boleh berdoa dengan doa malam nisfu sya?ban sebagaimana telah dilakukan oleh ulama ulama kita.

dan siapapula yg mengingkari orang bermunajat kepada Allah di malam Nisfu sya’ban?, bermunajat kepada Allah boleh boleh saja dilakukan di malam nisfu sya’ban atau setiap malam sekalipun, kita bisa menerka dengan iman suci kita, bagaimana sih ajaran yg melarang orang berdoa?, hanya Iblis yg alergi melihat orang berdoa, dan tak ada larangan dari Rasul saw untuk berdoa di malam Nisfu sya’ban, apalagi malam itu adalah malam pengampunan

Wallahu a?lam

Re:arwahan – 2007/01/03 02:40
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
Cahaya keluhuran semoga selalu menerangi hari hari anda,

Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma?ul husna, shalawat dan lain-lain.
Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. Lalu bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk mendoakan dan memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia ? Dan apakah hal itu bermanfaat atau tersampaikan bagi si mayyit ?

Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa ?seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw?, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa ?seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat?, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, ?Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad? (Shahih Muslim hadits no.1967).

dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yg memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi?i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : ?Kuhadiahkan?, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..?, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi?iy mengatakan pahalanya tak sampai.

Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa? min ?amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat : “DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dg ayat ?DAN ORAN ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN?,

Mengenai hadits yg mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yg bermanfaat, dan anaknya yg berdoa untuknya, maka orang orang lain yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur’an untuk mendoakan orang yg telah wafat : “WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN”, (QS Al Hasyr-10).

Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur?an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur?an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yg awam.
Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur?an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab,
bila mereka melarangnya maka mana dalilnya ?,

munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil ?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur?an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ngada dari kesempitan pemahamannya.

Mengenai 100 hari, 1000 hari atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid?ah hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah ?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan Iblis dan pengikutnya ?, siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah ?, muslimkah ?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin.

Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh dan para Imam imam mengirim hadiah pd Rasul saw :
? Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : ?aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw?.
? Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : ?aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yg pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 170 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur?an untuk Rasulullah saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw, ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia memiliki 70 ribu masalah yg dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313H.
? Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur?an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).

Wallahu a?lam

sumber dari http://www.majelisrasulullah.org

4 Tanggapan so far »

  1. 1

    nasrullah said,

    Allhamdulilah..kata-kata yang yang sangat jelas dan terang dari tuan..
    semoga ianya dapat memberi kefahaman dan pengetahuan…

  2. 2

    Dani said,

    Ahlul bid’ah dan ahlussunah akan terlihat pada raut wajah dan pada saat kematiannya,
    ahlul bid’ah mukanya pada ga bercahaya, alias kusam alias buluk : contohnya pengikut2 MR dan NUMUS,dan matinya mukanya pada gosong dan mengerikan, sekalipun itu kiyainya
    Ahlussunah mukanya pada bersih2 walaupun orangnya hitam2, berseri2, apalagi ustadznya : contohnya orang2 Wahaby, salafy, PKS dll, mungkin karena dzikir2 dan sholawat2 mereka yg ga dipamerkan, dzikir,sholawat dan bacaan Al Quran mereka saya yakin pasti lebih banyak dari pada ahlul Bid’ah dan para pengikutnya.
    Wallohu A’lam

  3. 3

    Ana said,

    Anda Habib tp tak paham dg Agama Islam yg Murni,.
    yang tak boleh bercampur dgn apapun sekalipun itu ADAT atau TRADISI. Habib apa itu?
    nama blognya ja Ahlussunnah,. tp Isinya penuh dg Bidah dan Omongan tanpa dasar.. sekalipun ada dasarnya,. itu tak ada penjelasan syarahnya…. itu artinya anda SESAT…. lihat nanti saja di Akhirat,. apakah blog anda ini mencerminkan ahlussunnah atau ahlul BIDAH?????

  4. 4

    say no to bid'ah said,

    Sidang Para Wali Tentang ADAT ORANG JAWA Suatu ketika, Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat orang Jawa seperti selamatan, bersaji, dll tidak langsung ditentang, karena orang Jawa akan lari bila ditentang secara keras. Adat istiadat itu diusulkan agar diberi warna atau unsur Islam. Sunan Ampel bertanya atas usulan Sunan Kalijaga itu. “Apakah adat istiadat lama itu nantinya tidak mengkhawatirkan bila dianggap ajaran Islam? Padahal itu tidak ada pada ajaran Islam. apakah hal ini tidak akan menjadikan bid’ah ?” Pertanyaan Sunan Ampel itu dijawab oleh Sunan Kudus. “Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, sebab ajaran agama Budha itu ada persamaannya dengan ajaran Islam, yaitu orang kaya harus menolong kepada fakir miskin. Adapun mengenai kekhawatiran Kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada orang Islam yang akan menyempurnakannya”. Pendukung Sunan Kalijaga ada lima orang, sedang pendukung Sunan Ampel hanya dua orang yaitu Sunan Giri dan Sunan Drajad, maka usulan Sunan Kalijaga yang diterima. Pada suatu ketika, para Wali berkumpul setelah empat puluh hari meninggalnya Sunan Ampel. Sunan Kalijaga tiba-tiba membakar kemenyan. Para Wali yang lain merasa kurang suka karena membakar kemenyan adalah adat kebiasaan orang Jawa yang tidak Islam. Sunan Kudus berkata, “Membakar kemenyan ini biasanya dilakukan orang Jawa untuk memanggil arwah orang mati. Ini tidak ada dalam ajaran Islam”. Sunan Kalijaga berkata, “Kita ini hendak mengajak orang Jawa masuk Islam, hendaklah kita dapat mengadakan pendekatan pada mereka. Kita membakar kemenyan bukan untuk arwah orang mati, melainkan sekedar mengharumkan ruangan, karena orang Jawa itu kebanyakan hanya mengenal kemenyan, bukan wangi-wangian lainnya. Bukakah wangi-wangian itu disukai Nabi ?” “Tapi tidak harus kemenyan,” sahut Sunan Kudus. “Adakah di dalam hadits disebutkan larangan membakar kemenyan sebagai pengharum ruangan?” tukas Sunan Kalijaga. Wali lainnya hanya bisa diam saja. “Sunan Kalijaga memang suka yang aneh-aneh, ujar Sunan Kudus. “Tapi janganlah Sunan Kalijaga merendahkan martabat seorang Wali dengan memakai pakaian seperti itu”. Sunan Kalijaga memang lebih sering memakai pakaian seperti rakyat biasa. Celana pajang warna hitam atau biru dan baju dengan warna serupa, ikat kepalanya hanya berupa udeng atau dester. “Di hadapan Allah tidak ada yang istimewa. Hanya kadar Taqwa yang jadi ukuran derajad. Bukan pakaian, lagipula ajaran Islamm hanya menyebutkan kewajiban setiap umatnya untuk menutup aurat. Tidak disebutkan harus memakai jubah atau sarung. Justru dengan pakaian seperti ini saya dapat bergaul akrab dengan rakyat jelata dan dengan mudah saya dapat memberikan ajaran Islam kepada mereka”. Kembali para Wali membenarkan pendapat Sunan Kalijaga. Usulan Sunan Kalijaga tentang gending dan wayang kulit akhirnya juga disetujui para Wali sebagai media dakwah. Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2203100-sidang-para-wali-tentang-adat/#ixzz1pwgoAYYD TOLAK BID”AH Jika kita memperhatikan kenyataan kaum muslimin saat ini, terutama dalam masalah ibadah mereka, maka kita akan merasa terharu, dimana banyak sekali diantara mereka yang melakukan sesuatu dari ibadah apa yang tidak ada dasarnya, baik dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maupun dalam amalan-amalan salaful ummah. Apa yang mereka kerjakan kebanyakan hanyalah dilandasi oleh perasaan, akal dan keinginan pribadi (hawa nafsu) mereka atau karena hanya bertaklid buta mengikuti adat kebiasaan (apa yang telah dirintis oleh orang-orang tua mereka). Karena itulah sehingga jika mereka ditanya tentang apa yang mereka lakukan itu, niscaya mereka akan menjawab: “Rasanya enak kalau kita melakukan yang seperti ini”. Atau “Menurut saya ini adalah sesuatu yang baik”, atau “Beginilah yang dilakukan orang-orang tua kita, apakah anda mau merubah apa yang telah dirintis dengan susah payah oleh orang-orang tua kita dahulu?”. Padahal mereka tidak menyadari bahwa jawaban-jawaban yang mereka sebutkan itu semua tidak ada bedanya dengan jawaban-jawaban orang-orang jahiliyyah dahulu ketika mereka ditanya, yang mana hal semacam itu telah dibantah oleh Alloh –subhanahu wa ta’ala- melalui lisan Rosululloh Muhammad –shallallohu ‘alaihi wa sallam- dengan ayat-ayatNya: وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَوَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Qur’an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (QS. Al Mu’minun: 71) Dalam ayat yang lain Alloh berfirman : وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (QS. Luqman: 21) Dalam ayat yang lain: أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. Asy Syuura: 21) Dalam kondisi mereka yang demikian maka merekapun kebanyakan terperangkap dalam jebakan fanatisme golongan yang membuat mereka merasa bahwa golongannyalah yang paling benar dan tidak mau menerima pendapat orang lain sekalipun apa yang dibawa oleha orang lain itu terdapat dalil-dalil yang akurat dan hujjah yang kuat baik itu dari Al Qur’an, As Sunnah maupun dari pemahaman salaful ummah ini (shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in), serta ulama-ulama setelah mereka sampai saat ini yang mengikuti manhaj mereka dengan baik. Karena itulah jika didatangkan kepada mereka apa-apa yang bertentangan dengan yang ada pada pemahaman golongan mereka, maka dengan serta merta mereka akan mengatakan: “Oh karena dia itu bermadzhab Syafi’i, oh karena dia itu bermadzhab Malikiy, oh karena dia itu aliran anu, oh karena dia itu orang NU, oh karena dia itu orang Muhammadiyyah, oh karena dia itu beraliran Wahhabiy”, dan perkataan-perkataan lainnya yang senada dengan itu. Mereka tidak menyadari bahwa sikap mereka tersebut dikecam oleh Alloh –subhanahu wa ta’ala-, bahkan diancam dengan siksaan pedih di hari kiamat nanti. Alloh –subhanahu wa ta’ala- berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِوَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُواْ مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأَسْبَابُإِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُواْ مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأَسْبَابُ وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُواْ لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّؤُواْ مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُواْ لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّؤُواْ مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. (QS. Al Baqarah: 165-167) Bahkan lebih dari itu Alloh –subhanahu wa ta’ala- katakan ketika menceritakan akibat bagi orang-orang kafir di hari kiamat yang disebabkan karena mereka hanya menuruti pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar mereka serta tidak mengindahkan Alloh dan RosulNya: إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيراً إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيراً خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً لَّا يَجِدُونَ وَلِيّاً وَلَا نَصِيراًخَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً لَّا يَجِدُونَ وَلِيّاً وَلَا نَصِيراً يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْناً كَبِيراً رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْناً كَبِيراً Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata.:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (QS. Al Ahzab: 64-68) Itulah ayat-ayat yang menjelaskan bagaimana akibatnya orang-orang yang hanya mau fanatik terhadap golongan mereka saja, serta tidak mau merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana yang difahami oleh salaful ummah ini ( Shahabat, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in), serta ulama-ulama setelah mereka sampai saat ini yang mengikuti manhaj mereka dengan baik. Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang senada dengan itu. Semua yang kami kemukakan di atas kebanyakan disebabkan oleh karena kebanyakan diantara kaum muslimin masih berkeyakinan akan adanya suatu istilah dalam agama yang dikenal dengan nama “Bid’ah hasanah”. Oleh karena itu penerjemah sangat tertarik untuk menerjemahkan buku ini, yang didalamnya, dibahas secara tuntas mengenai bid’ah hasanah, ada atau tidaknya, apakah boleh diterima atau tidak, serta bantahan terhadap syubhat-syubhat yang berhubungan dengannya yang selalu dijadikan sebagai hujjah oleh kaum muslimin, baik itu dikalangan masyarakat awam, orang terpelajar, maupun dikalangan para ulama. Semoga buku terjemahan ini dapat bermanfaat bagi diri saya dan bagi kaum muslimin terutama bagi saudara-saudariku yang masih kesulitan atau bagi yang tidak mampu sama sekali untuk mempelajari masalah ini dari kitab aslinya. Dan semoga buku ini dapat menjadi amal jariyah setelah penulis dan penerjemah kembali kehadirat Alloh –subhanahu wa ta’ala-. Tak lupa kepada semua pihak yang telah membantu penerjemah dalam menyelesaikan terjemahan ini. Terutama kepada ustadzku yang أحبه فى الله Al Ustadz Muahmmad Yusran Anshar, Lc. yang telah meluangkan waktunya untuk mengedit naskah terjemahan ini, dan sebagai orang yang pertama kalinya memperkenalkan kepada penerjemah bagaimana sebenarnya hakekat bid’ah tersebut saya ucapkan jazakumullohu khairan, wal hamdulillahi rabbil ‘alamiin. Makassar, Penerjemah Abu Hafsh Muhammad Tasyrif Asbi Al Ambony, S.Ag. TANDA-TANDA / CIRI-CIRI AHLI BID’AH DAN PARA PEMBELANYA Ahlul bid’ah dan Para pembelanya memiliki tanda-tanda atau ciri-ciri yang nampak, sehingga mereka mudah dikenal. Allah dan Rasul-Nya telah mengabarkan tentang sebagian tanda-tanda mereka untuk dijadikan peringatan bagi umat dari bahaya mereka dan larangan mengambil jalan hidup mereka. Para Salaf pun telah menerangkan masalah ini. Termasuk tanda-tanda atau ciri mereka adalah: 1. BERPECAH-BELAH Maksudnya, mereka berpecah belah menjadi bergolong-golongan, berpartai-partai (hizbiy), bermadzhab-madzhab, sehingga yang menjadi dasar dan sumber rujukan agama bagi mereka adalah golongannya, bukan Al Qur’an dan Sunnah, serta mereka bangga dan fanatik terhadap apa yang ada pada golongannya itu. Sesungguhnya Allah taala telah mengabarkan tentang mereka dalam al-Qur’an. Ia berfirman: وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Janganlah kalian menjadi orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan. Dan mereka mendapatkan adzab yang besar”. [QS. Ali Imran: 105] dan Ia berfirman; إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ”Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka (terpecah-belah menjadi beberapa golongan) tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka”. [QS. Al An’am: 159] Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat ini, ”Ayat ini secara umum menerangkan orang yang memecah-belah agama Allah dan mereka berselisih. Sesungguhnya Allah mengutus nabi-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar memenangkannya atas semua agama. Syariatnya adalah satu yang tidak ada perselisihan dan perpecahan padanya. Barang siapa yang berselish padanya maka merekalah golongan yang memecah belah agama seperti halnya pengikut hawa nafsu dan orang-orang sesat. Sesungguhnya Allah taala berlepas diri dari apa yang mereka lakukan”. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa; “Syiar ahli bid’ah adalah perpecahan, Oleh karena itu al-Firqatun Najiah disfati dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan mereka adalah jumhur dan kelompok terbesar umat ini. Adapun kelompok lainnya maka mereka adalah orang-orang yang nyleneh, berpecah belah, bidah dan pengikut hawa nafsu. Bahkan terkadang di antara firqah-firqah itu amat sedikit dan syiar firqah-firqah ini ialah menyelisihi al-Qur’an, as-Sunnah serta ijma”. [majmu’ alfatawa (3 / 345 – 346)]. 2. MENGIKUTI HAWA NAFSU Inilah sifat mereka yang paling nampak. Allah taala berkata mensifati mereka; أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ “Maka kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan (Allah) matikan pendengaran dan hatinya, dan menjadikan atas pandangannya penutup, maka siapa lagi yang akan memberikan petunjuk setelah Allah (membuatnya demikian), apakah mereka tidak ingat”. [QS. Al Jatsiah: 23]. Ibnu Katsir berkata, ” Yakni ia berjalan dengan hawa nafsunya. Apa yang dilihat baik oleh hawa nafsunya maka ia lakukan dan apa yang dilihatnya jelek maka ia tinggalkan. Inilah manhaj Mutazilah dalam menganggap baik dan jelak denga logika mereka”. Nabi telah mengabarkan bahwa hawa nafsu tidak akan terlepas dari ahli bidah dalam hadits perpecahan di mana beliau bersabda; ”Sesungguhnya ahli kitab terpecah dalam agama mereka menjadi tujuh dua puluh millah dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menadi tujuh puluh tiga millah -yakni hawa nafsu- semuanya di neraka kecuali satu millah yaitu al-Jamaah. Sesunguhnya akan muncul pada umatku beberapa kaum hawa nafsu mengalir pada mereka sabagaimana mengalirnya penyakit anjing dalam tubuh mangsanya. Tidak tersiksa darinya satu urat dan persendian pun kecuali diamasukinya”. [HR. Ahmad (4 / 102), Abu Dawud (4597), Ad Darimi (2 / 314), Al Marwazi dalam As Sunnah (hal.15), Ibnu Abi Ashim (65), dan di shahihkan oleh Al Albani dalam Dzhilalul Jannah (hal. 33).] 3. MENGIKUTI AYAT-AYAT YANG SAMAR (MUTASYABIHAT) Sifat mereka ini telah Allah kabarkan dalam firman-Nya, فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ”…Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang samar untuk menimbukan fitanh dan untuk mencari-cari takwilnya”. Bukhari (4547) meriwayatkan hadits dari Aisyah beliau berkata;”Rasulullah membaca ayat ini, ”Dialah yang menurunkan al-quran kepada kamu di antara isinya ada aya-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pkok isi ajaran al-Quran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya …sampai ayat … orang-orang yang berakal”. Ia berkata,” Rasulullah, bersabda; Bila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutashyabihat maka merekalah yang Allah namakan sebagai orang-orang yang harus dijauhi”. Dari Amiril Mukminin Umar bin Al-Khathab beliau berkata; ”Akan datang manusia mendebat kalian dengan ayat-ayat mutaysabihat maka balaslah mereka dengan sunah-sunnah karena Ahlus Sunnah lebih mengetahui akan kitabullah”. [AR. Ad Darimiy dalam Sunannya (119), Al Ajurriy dalam Asy Syari’ah (hal.52), Al Lalaka’iy dalam Syarh ushul i’tiqod (1 / 123)], 4. MEMPERTENTANGKAN SUNNAH DENGAN AL-QURAN Termasuk tanda ahli bidah adalah mempertentangkan al-Quran dengan sunnah dan merasa cukup mengambil al-quran dalam pelaksanaan hukum-hukum syara’. sebagaimana yang diberitakan Nabi: “Seorang laki-laki hampir bersandar di atas ranjangnya dibacakan haditsku lalu mengatakan; Antara kami dan kalian adalah kitabullah. Perkara halal yang kita temukan padanya maka kita halalkan dan perkara haram yang kita temukan padanya maka kita haramkan. Ketahuilah apa-apa yang Rasulullah haramkam adalah sama dengan apa yang Allah haramkan”. [HR. Ahmad (4 / 132), Abu Dawud (), Ibnu Majah (12), dan di shahihkan oleh Al Albaniy dalam shahih Ibnu Majah (12)]. Al-Imam Al-Barbahari mengatakan : ”Bila kamu melihat seorang mencela hadits atau menolak atsar /hadits atau menginginkan selain hadits, maka curigailah keislamnnya dan jangan ragu-ragu bahwa dia adalah ahli bidah (pengikut hawa nafsu)” [Syarhus Sunnah] Beliau berkata -lagi- : ”Bila kamu mendengar seorang dibacakan hadits di hadapannya tetapi ia tidak menginginkannya dan ia hanya mengingnkan al-Quran maka janganlah kamu ragu bahwa dia seorang yang telah dikuasai oleh kezindikan. Berdirilah dari sisinya dan tinggalkanlah ia!” Mempertentangkan sunnah dengan al-Quran dan menolaknya bila belum ditemukan pada al-Quran apa-apa yang menguatkan sunnah, termasuk tanda ahli bidah yang paling nyata. Nabi telah mengabarkannya sebelum terjadi dan benarlah beliau. Sekarang apa yang beliau kabarkan telah terjadi. Sungguh kita mendengar dan membaca peristiwa semisal itu dari sebagian ahli bidah pada jaman dulu. Hingga kita melihat salah satu dari ahli bidah dan orang sesat jaman sekarang menghujat kitab shahih Bukhari yang telah disepakati oleh umat ini keshahihannya. Ia yakin bahwa padanya terdapat seratus dua puluh hadits yang tidak shahih yang ia sebut sebagai hadits Israiliat. Ia menghilangkannya dan mempertentangkannya dengan al-Quran kemudian ia bantah dan ingkari. Maka tampillah seorang tokoh ulama sekarang menentang, meruntuhkan sybuhatnya (kerancuannya), menolak kebatilannya, menampakkan penyimpangan dan kepalsuannya dengan karyanya untuk membantahnya dan orang yang menempuh jalanya, ahli bidah. Semoga Allah membalas amalnya dengan sebaik-baik pembalasan. 5. MEMBENCI HADITS AHLI HADITS Termasuk tanda ahli bidah adalah membenci dan mencela ahli hadits dan atsar. Dari Ahamad bin Sinan al-Qaththan katanya: “Dan tidaklah ada di dunia ini seorang mubtadi pun kecuali membenci ahli hadits”. [Aqidatus Salaf wa Ashhabul Hadits, oleh Isma’il Ash Shabuniy] Abu Hatim ar-Razi berkata, ”Tanda ahli bidah adalah mencela ahli hadits dan tanda orang zindik adalah menamakan Ahlus Sunnah bengis. Dengan sebutan itu mereka menghendaki hilangnya hadits”. [Syarh Ushulu wa i’tiqod, oleh Al Lalika’iy]. Al Imam Abu Utsman Isma’il Ash Shabuniy dalam kitab “Aqidatus Salaf wa Ashabul Hadits” menyebutkan; – وسمعت الحاكم يقول سمعت أبا الحسين محمد بن أحمد الحنظلي ببغداد يقول ، سمعت [أبا إسماعيل] محمد بن إسماعيل الترمذي يقول : كنت أنا وأحمد بن الحسن الترمذي عند إمام الدين أبي عبد الله أحمد بن حنبل ؛ فقال له أحمد بن الحسن : يا أبا عبد الله ذكروا لابن أبي قتيلة بمكة أصحاب الحديث فقال : أصحاب الحديث قوم سوء فقام أحمد بن حنبل وهو ينفض ثوبه ويقول : زنديق ! زنديق ! [زنديق] : حتى دخل البيت . 164 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) mendengar Al-Haakim berkata : Aku mendengar Abu Al-Husain Muhammad bin Ahmad Al-Handhaliy berkata di Baghdaad : Aku mendengar [Abu Isma’il] Muhammad bin Isma’il At-Tirmidziy berkata : “Aku dan Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidziy pernah berada di sisi Imaamuddiin Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal. Maka Ahmad bin Al-Hasan berkata kepadanya : ‘Wahai Abu ‘Abdillah, orang-orang pernah menyebut Ahli Hadits di hadapan Ibnu Abi Qutailah. Maka ia (Ibnu Abi Qutailah) berkata : ‘Para Ahli Hadits (Ashhaabul-Hadiits) adalah satu kaun yang jelek (rusak)’. Maka Ahmad bin Hanbal berdiri sambil mengibaskan pakaiannya seraya berkata : ‘Zindiq, zindiq, [zindiq] !’, hingga ia masuk rumah”. ١٦٥ – وسمعت الحاكم أبا عبد الله يقول ، سمعت أبا نصر أحمد بن سهل الفقيه ببخارى يقول ، سمعت أبا نصر بن سلام الفقيه يقول:(ليس شيء أثقل على أهل الإلحاد ، ولا أبغض إليهم من سماع الحديث وروايته بإسناده ). 165 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) mendengar Al-Haakim Abu ‘Abdillah berkata : Aku mendengar Abu Nashr Ahmad bin Sahl, seorang faqih negeri Bukhara, berkata : Aku mendengar Abu Nashr bin Salaam Al-Faqiih berkata : “Tidak ada satu hal yang lebih berat dan dibenci oleh Ahlul-Ilhaad (pengingkar/atheis/Ahli Bid’ah) daripada mendengarkan hadits dan meriwayatkan dengan sanadnya”. ١٦٦ – وسمعت الحاكم يقول : سمعت الشيخ أبا بكر أحمد بن إسحاق بن أيوب الفقيه – وهو يناظر رجلاً – فقال الشيخ أبو بكر : حدثنا فلان ، فقال له الرجل : دعنا من حدثنا إلى متى حدثنا ؟ فقال الشيخ له : قم يا كافر ، فلا يحل لك أن تدخل داري بعد هذا أبداً. ثم التفت إلينا وقال : ما قلت [قط] لأحد قط ما تدخل داري إلا هذا. 166 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) mendengar Al-Haakim berkata : Aku mendengar Asy-Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ishaaq bin Ayyuub Al-Faqiih – saat itu ia tengah berdebat dengan seorang laki-laki – . Maka berkatalah Asy-Syaikh Abu Bakr : “Haddatsanaa Fulaan (Telah menceritakan kepada kami Fulan)”. Laki-laki tersebut berkata kepadanya : “Tinggalkan kami dari perkataan haddatsanaa. Sampai kapan kita menyebut haddatsanaa ?”. Syaikh Abu Bakr berkata : “Berdirilah wahai kafir ! Tidak halal bagimu untuk memasuki rumahku setelah ini untuk selamanya”. Kemudian ia (Asy-Syaikh Abu Bakr) menoleh kepada kami dan berkata : “Aku tidak pernah berkata pada seorang pun untuk tidak masuk ke rumahku kecuali pada orang ini”. 6. MEMBERIKAN JULUKAN ATAU GELAR KEPADA AHLUS SUNNAH, DENGAN TUJUAN MERENDAHKAN MEREKA. Termasuk tanda mereka adalah menggelari Ahlus Sunnah (yang bertolak belakang dengan sifat mereka) dengan tujuan merendahkan mereka. Abu Hatim ar-Razi berkata: ”Tanda Jahmiah adalah menamakan Ahlus Sunnah musyabbihah (menyerupakan Allah dengan mahluk). Ciri-ciri Qadariah adalah menamakan Ahlus Sunnah mujabbirah (mahluk tidak mempunyai kehendak.) Ciri-ciri Murjiaah adalah menamakan Ahlus Sunnah menyimpang dan mengurangi. Ciri-ciri Rafidhah adalah menamakan Ahlus Sunnah nashibah (mencela Ali). Ahlus Sunnah tidak digabungkan kecuali kepada satu nama dan mustahil nama-nama ini mengumpulkan mereka. [Syarh ushul wa i’tiqod] Al-Barbahari berkata, ”Dan orang yang tertutup (kejelekannya) adalah yang jelas ia tertutup (kejelekannya) dan orang yang terbuka kejelekannya adalah orang yang jelas aibnya. Bila kamu mendengar seorang mengatakan fulan Nashibi, ketahuilah bahwa ia adalah Rafidly. Bila kamu mendengar seorang mengatakan fulan musyabbihah atau fulan menyerupakan Allah dengan makhluk, ketahuilah bahwa ia adalah Jahmy. Bila kamu mendengar seorang berkata tentang tauhid dan mengatakan,”Terangkan padaku tauhid!”, ketahuilah bahwa ia adalah Kharijy dan Mutazily. Atau mengatakan, fulan Mujabbirah atau mengatakan, dengan ijbar atau berkata dengan adil ketahuilah bahwa ia adalah Qadari karena nam-nama ini bidah yang dibuat-buat oleh ahli bidah”. [Syarhus Sunnah] Syaikh Ismail as-Shabuni mengatakan, ”Ciri-ciri ahli bidah amat jelas dan terang Sedang tanda-tanda mereka yang paling jelas adalah sangat keras memusuhi para pemilkul hadits, dan menghinakan mereka dan mengelari mereka kaku,bodoh,dhahiri,(tekstual) musyabbihah(golongan yang menyerupakan Allah dengan mahluk). Semua itu didasari keyakinan mereka bahwa hadits-hadts itu masih berupa benda mentah (bukan ilmu). Dan yang dinamakna ilmu adalah ilham yang dijejalkan setan kepada mereka, hasil dari olah akal mereka yang rusak, intuisi hati nurani mereka yang gelap…. [Aqidatus Salaf wa Ashhabul Hadits]. Beliau juga berkata : “Aku memandang para Ahli Bid’ah dalam penamaan ini yang kemudian mereka gelarkan dengannya kepada Ahlus-Sunnah – [namun dengan karunia dan keutamaan Allah, tidak sedikitpun yang pantas disandarkan kepada mereka] adalah mengikuti jalan kaum musyrikin [semoga Allah melaknat mereka] terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membagi-bagi perkataan di dalamnya. Sebagian mereka menamakan beliau dengan tukang sihir, sebagian lagi dengan dukun, sebagian lagi dengan tukang syair, sebagian lagi dengan orang gila, sebagian lagi dengan orang yang terfitnah, sebagian lagi dengan pembual, orang yang mengada-ada, lagi pendusta. Padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dan jauh dari segala aib tersebut. Beliau hanyalah seorang Rasul dan Nabi yang terpilih. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman : انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا ‘Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu)’ (QS. Al-Furqaan : 9)”. 7. TIDAK BERPEGANG DENGAN MADZHAB SALAF (PARA SHAHABAT) Syaikhul Islam berkata, ”Kelompok-kelompok bidah yang terkenal di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang tidak menganut madzhab salaf antara lain kelompok: Rafidhah, sampai orang awam tidak mengetahui syiar-syiar bidah kecuali rafdl(menolak kepemimpinan khulafaur rasyidin selain Ali). Dan sunni menurut istilah orang awam adalah orang yang bukan rafidhi ….Sehinga diketahui syiar ahli bidah menolak madzhab Salaf. Oleh karena itu dalam risalah yang ditujukan kepada Abdus bin Malik, Imam Ahamad berkata; ”Asas sunnah menurut kami adalah berpegang dengan apa yang dijalani sahabat Muhammad…”. [Majmu’ fatawa (4 / 155)]. 8. MEMVONIS KAFIR ORANG YANG MENYELISIHI MEREKA TANPA DALIL YANG JELAS ATAU SALAH DALAM PENGAMBILAN DALIL Dalam banyak tempat Syaikhul Islam menyebutkan tentang bantahan terhadap orang yang menvonis orang yang masih belum jelas kekafirannya,”Pendapat ini tidak diketahui dari seorang sahabat, tabiin, yang mengikuti mereka dengan baik dan tidak pula dari salah satu imam tetapi ini termasuk salah satu pokok dari pokok-pokok ahli bidah yang membuat bidah dan menvonis kafir orang yang menyelisihi mereka semisal Khawarij, Mutazilah dan Jahmiah”. [Minhajus Sunnah (5 / 239 – 240)]. Beliau berkata, ”Khawarij,Mutazilah, dan Rafidhah, menvonis kafir Ahlus Sunnah wal Jamaah. Golongan yang belum mereka vonis kafir maka mereka vonis fasik. Demikian juga mayoritas ahlul ahwa menvonis bidah dan kafir golongan yang menyelisihi mereka berdasarkan logika semata. Akan tetapi Ahlus Sunnah adalah golongan yang mengikuti kebenaran dari rab mereka yang dibawa oleh rasul-Nya,tidak menvonis kafir golongan yang menyelisihi mereka. Mereka golongan yang paling tahu tentang kebenaran dan kondisi manusia”. Syaikh Abdul Lathif bin Abdur Rahman Alu Syaikh ditanya tentang orang yang menvonis kafir sebagian golongan yang menyelisihinya. Beliau menjawab,”Jawabannya, Saya tidak mengetahui sandaran ucapan itu. Berani menvonis kafir golongan lain yang menampakkan keislaman tanpa dasar syari dan keterangan yang akurat menyeilisihi manhaj para pakar ilmu agama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Jalan ini adalah jalannya ahlul bidah dan orang-orang sesat”. [Majmu’atur Rasa’il, wal Masa’il An Najdiyyah (3 / 20)]. Allahu ‘alam. Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.. dan kita dapat mewaspadai BID’AH dan AHLINYA.. disarikan dari kitab: 1. “Mauqif Ahlu Sunnah Wal Jama’ah min Ahlil Bida\'”, oleh; Syaikh DR. Ibrahim Ar Ruhailiy. 2. “Aqidatus Salaf Wa Ashabul Hadits” oleh; Al Imam Abu Utsman Isma’il Ash Shabuniy 3. “Syarhus Sunnah” oleh; Al Imam Al Barbahariy. Oleh Akhukum Fillah, Al Faqiir ilaa maghfiroti Rabbihi ABU JARIR AL ANDUNISI Pengertian Taqlid Menurut bahasa, taqlid -bentuk masdar dari kata qallada berarti kalung yang dipakai/dikalungkan ke leher orang lain, atau seperti binatang yang akan dijadikan dam, dimana lehernya diberi kalung sebagai tanda, atau seperti kambing yang lehernya telah diikat dengan tali atau tambang yang dapat ditarik ke mana saja, tanpa disadari oleh kambing yang bersangkutan. Analisa bahasa ini menunjukkan kepada kita seolah-olah seseorang yang telah bertaqlid kepada seorang mujtahid/imam telah memberi identitas diri dengan sebuah kalung di lehernya dan ia telah mengikat dirinya dengan pendapat mujtahid/imam tersebut. Sedangkan taqlid menurut istilah ada beberapa rumusan, antara lain: • Taqlid ialah beramal berdasarkan pendapat orang lain yang pendapatnya itu tidak merupakan salah satu dalil yang dibenarkan, dan ini dilakukan tanpa berdasarkan dalil. Demikian menurut al-Kamal ibn al-hammam dalam at-Tahrir. • Menerima pendapat orang lain dalam kondisi anda tidak mengetahui dari mana orang itu berpendapat. Demikian menurut al-Qaffal. • Beramal berdasarkan pendapat orang lain tanpa berdasarkan dalil. Demukian menurut al-Syaukany dalam Irsyad al-Fukhul. Hukum Taqlid 1. Taqlid yang haram Ulama sepakat haram melakukan taqlid ini. Taqlid ini ada tiga macam : • Taqlid semata-mata mengikuti adat kebiasaan atau pendapat nenek moyang atau orang dahulu kala yang bertentangan dengan al Qur`an Hadits. • Taqlid kepada orang atau sesuatu yang tidak diketahui kemampuan dan keahliannya, seperti orang yang menyembah berhala, tetapi ia tidak mengetahui kemampuan, keahlian, atau kekuatan berhala tersebut. • Taqlid kepada perkataan atau pendapat seseorang, sedangkan yang bertaqlid mengetahui bahwa perkataan atau pendapat itu salah. 2. Taqlid yang dibolehkan Dibolehkan bertaqlid kepada seorang mujtahid atau beberapa orang mujtahid dalam hal yang belum ia ketahui hukum Allah dan RasulNya yang berhubungan dengan persoalan atau peristiwa, dengan syarat yang bersangkutan harus selalu berusaha menyelidiki kebenaran masalah yang diikuti itu.Jadi sifatnya sementara. Misalnya taqlid sebagian mujtahid kepada mujtahid lain, karena tidak ditemukan dalil yang kuat untuk pemecahan suatu persoalan. Termasuk taqlidnya orang awam kepada ulama. Ulama muta akhirin dalam kaitan bertaqlid kepada imam, membagi kelompok masyarakat kedalam dua golongan: • Golongan awan atau orang yang berpendidikan wajib bertaqlid kepada salah satu pendapat dari keempat madzhab. • Golongan yang memenuhi syarat-syarat berijtihad, sehingga tidak dibenarkan bertaqlid kepada ulama-ulama. Golongan awam harus mengikuti pendapat seseorang tanpa mengetahui sama sekali dasar pendapat itu (taqlid dalam pengertian bahasa). 3. Taqlid yang diwajibkan Wajib bertaqlid kepada orang yang perkataannya dijadikan sebagai dasar hujjah, yaitu perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW. Pendapat Imam Madzhab tentang Taqlid • Imam Abu Hanifah (80-150 H) Beliau merupakan cikal bakal ulama fiqh. Beliau mengharamkan orang mengikuti fatwa jika orang itu tidak mengetahui dalil dari fatwa itu. • Imam Malik bin Anas (93-179 H) Beliau melarang seseorang bertaqlid kepada seseorang walaupun orang itu adalah orang terpandang atau mempunyai kelebihan. Setiap perkataan atau pendapat yang sampai kepada kita harus diteliti lebih dahulu sebelum diamalkan. • Imam asy Syafi`i (150-204 H) Beliau murid Imam Malik. Beliau mengatakan bahwa “ beliau akan meninggalkan pendapatnya pada setiap saat ia mengetahui bahwa pendapatnya itu tidak sesuai dengan hadits Nabi SAW. • Imam Hambali (164-241 H) Beliau melarang bertaqlid kepada imam manapun, dan menyuruh orang agar mengikuti semua yang berasal dari Nabi SAW dan para sahabatnya. Sedang yang berasal dari tabi`in dan orang-orang sesudahnya agar diselidiki lebih dahulu. Mana yang benar diikuti dan mana yang salah ditinggalkan. Penerapan Taqlid Taqlid dilakukan umat Islam apabila tidak jelas nash yang sebenarnya, mengikuti tindak tanduk mujtahid/imam tanpa mengetahui nash yang sebenarnya. MENGENAL BID’AH Mirip Syari’at Tetapi Sesat Pengertian bid’ah secara bahasa berarti sesuatu yang baru atau membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Dalam tinjauan bahasa memang mobil itu bid’ah, microphone itu bid’ah, computer itu bid’ah, hanphone juga bid’ah. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud oleh Nabi. Bid’ah yang dimaksud Nabi adalah bid’ah dalam tinjauan syar’i. Adapun bid’ah dalam tinjaun syar’i, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Asy-Syatibi dalam kitab Al-I’tisham Bid’ah adalah suatu cara beragama yang mirip dengan syari’at yang dengan melakukannya seseorang bermaksud melakukan ibadah kepada Allah Bid’ah Adalah Musibah Berkembangnya bid’ah-bid’ah adalah musibah. Bahkan tak ada yang lebih menyesakkan dada para ulama melebihi kesedihan mereka ketika melihat munculnya bid’ah. Ibnul Mubarak berkata: “kita mengadu kepada Allah akan perkara besar yang menimpa umat ini, yakni wafatnya para ulama’ dan orang-orang yang berpegang kepada sunnah, serta bermunculannya bid’ah-bid’ah.” Abu Idris Al-Khaulani berkata: “Sungguh melihat api yang tak biasa kupadamkan lebih baik bagiku daripada melihat bid’ah yang tak mampu aku padamkan.” Bid’ah menjadikan pelakunya semakin jauh kepada Allah. Hasan Al-Bashri mengungkapkan, “Bagi para pelaku bid’ah, bertambahnya kesungguhan ibadah (yang dilandasi bid’ah), hanya akan menambah jauhnya kepada Allah.” Mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap bid’ah ini, mendekati wafatnya Nabi memberikan beberapa wasiat, diantaranya, ”Jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud) Seperti berkumpul pada hari ke-7, ke-40 atau ke-100 hari orang yang meninggal dunia. Karena tidak ada dalil ke-sunnahannya, tidak ada pula ulama terdahulu yang menganjurkannya. Bahkan para sahabat menganggapnya sebagai nihayah (meratapi mayit). Jarir bin Abdillah al-Bajali berkata, “Kami (para sahabat) menganggap bahwa kumpul-kumpul di tempat keluarga mayit dan membuat makanan (jamuan) setelah dikuburkannya mayit termasuk nahiyah (meratapi mayit).” (HR. Ibnu Majah no. 1601, disahihkan oleh Al-Albani dalam Talkhish Ahkam Al-Jana’iz, hal. 73) Menyoal Bid’ah Hasanah Sebagian orang berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah sai’ah (bid’ah buruk dan bid’ah baik). Padahal Nabi tidak pernah memperkenalkan kepada umatnya tentan pembagian bid’ah ini. Dengan tegas Rasulullah bersabda وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “…..karena sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud) KHURAFAT MENURUT ISLAM: PENGARUH DAN KESANNYA KEPADA AQIDAH UMAT ISLAM PENDAHULUAN Sebelum kedatangan Islam, penduduk di Nusantara mempunyai pegangan dan keyakinan tentang adanya kuasa ghaib yang mereka tidak nampak tapi dapat mereka rasai kesannya. DINAMISME Kepercayaan adanya tenaga yang tak berperibadi dalam diri manusia, haiwan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda dan kata-kata. Tenaga yang tak berperibadi ‘MANA’ Prestasi yang luar biasa yang dipunyai pemiliknya, Kulit Limau Besar, Daun Silat, Inggu, Besi Berani, Keris dll. ANAMISME Kepercayaan adanya jiwa dan ruh yang dapat mempengaruhi alam manusia 1. Ruh atau anasir halus yang?mempunyai kekuatan dan kehendak . 2. Kesenangan ruh perlu dijaga dan dipelihara. 3. Ruh org mati,gunung,sungai,batu dll. HINDU Kepercayaan kepada dewa-dewa 1. Dewa lebih berkuasa, lebih tinggi & mulia. 2. Penyembahan dewa lebih umum 3. Mempunyai pekerjaan-pekerjaan tertentu DEFINISI KHURAFAT Kamus Bahasa Arab: (al-Mujam al-Wasit) Cerita-cerita yang mempesonakan yang dicampuradukkan dengan perkara dusta (al-Marbawi) Cerita karut (karut marut) Kamus Dewan: KHURAFAT Kepercayaan karut yang diada-adakan berpandukan kepada perbuatan-perbuatan dan kejadian-kejadian alam yang berlaku. Kesimpulannya KHURAFAT Semua cerita sama ada rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantang larang, adat istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam Khurafat adalah bidah akidah Apa saja kepercayaan kepada sesuatu perkara yang menyalahi ajaran Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. CIRI-CIRI KHURAFAT 1. Tidak didasarkan pada nas-nas syarak (al-Quran atau hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. 2. Cerita-cerita rekaan, dongeng, khayalan atau karut. 3. Bersumberkan kepada kepercayaan-kepercayaan lama dan bercanggah dengan Islam. 4. Menggunakan objek-objek tertentu seperti kubur, pokok dan sebagainya. 5. Mempunyai unsur-unsur negatif dari segi akidah dan syariah. 6. Berbentuk pemujaan dan permohonan kepada makhluk halus BENTUK-BENTUK KHURAFAT Kepercayaan kepada keramat seperti kubur, pokok kayu, telaga, batu, bukit, tongkat dan sebagainya. KERAMAT 1. Perkara yang luar biasa. 2. Anugerah Allah kepada hambanya yang salih. 3. Terjadi daripada orang salih. 4. Bukan dari benda-benda seperti tembikar, kubur, pokok dll. 5. Bukan dari orang fasik. 6. Kepercayaan kepada sial majal seperti adat mandi safar, adat mandi membuang sial dan sebagainya. 7. Kepercayaan kepada kekuasaan jin dan memohon pertolongan darinya seperti adat memuja kampung, adat merenjis tepung tawar adat pantai dan sebagainya TIDAK ADA SANGKAAN SIAL DLM ISLAM Sabda Rasulullah s.a.w yg bermaksud: Tidak ada burung, tidak ada penyakit menular dan tidak ada sial. Anggapan sial itu adalah syirik. (ini diucapkan oleh Nabi sebanyak 3 kali) JIN 1. Makhluk alam ghaib yang berakal, berkehendak, sedar dan ada kewajipan. 2. Ia berjasad halus dan hidup bersama-sama manusia di dunia ini. 3. Jin dicipta lebih dahulu daripada manusia. 4. Ia dicipta daripada api. Firman Allah dlm Al-Hijr 15: 26-27 yang bermaksud Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia daripada tanah liat yg kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami menciptakan jin, sebelum itu, dari. api yg sangat panas. Firman Allah: Maksudnya Dan sesungguhnya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa orang di antara jin, maka jin-jin itu menambah dosa dan kesalahan bagi mereka. (Al-Jin 72: 6) Kepercayaan kepada bertambah dan berkurangnya rezeki seperti adat memuja semangat padi yang dilakukan oleh petani-petani seperti bersemah (memuja semangat padi) dan membuang ancak di sungai dan laut dan bermain pantai. Rezeki Pemberian Allah Firman-Nya Yg Bermaksud: Kamilah Yg Memberi Rezeki (Hud : 6) Hendaklah Berusaha Banyak / Sedikit Ketentuan Allah Kepercayaan kepada petanda-petanda, pantang larang dan mimpi. Contohnya seperti tidak boleh keluar ketika gagak berbunyi, takut mendapat sial atau bala dan sebagainya. Sabda rasululullah s.a.w yang bermaksud: mimpi ada tiga jenis: mimpi yg datang dari allah, mimpi kesedihan yang datang dari syaitan dan mimpi yg datang dari kesan bisikan hati seseorang di waktu sedar, lalu dilihatnya dlm mimpi. Memuja objek-objek tertentu, pohon, roh nenek moyang, kubur-kubur yang dianggap wali dan sebagainya. Percaya kepada ramalan-ramalan bintang, angka-angka atau rajah-rajah tertentu. Sabda Rasulullah s.a.w Janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Sangat murka Allah terhadap orang-orang yang membuat makam-makam para nabi sebagai tempat ibadat. HUKUM BERAMAL DENGAN KHURAFAT Segala amalan dan kepercayaan yang tidak berdasarkan kepada sumber-sumber yang asal seperti al-Qur’an, al-Hadis, Ijma’ dan Qiyas adalah ditolak oleh Islam. Sabda Rasulullah Maksudnya: Barangsiapa mengada-adakan di dalam agama kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka yang dikerjakannya itu adalah tertolak. Percaya kepada benda-benda yang dijadikan keramat seperti pokok, kubur, telaga dan sebagainya, serta memuja, memohon pertolongan dan melepaskan nazar pada benda-benda berkenaan dan percaya ianya mempunyai kuasa selain dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah membawa kepada syirik dan bertentangan dengan kepercayaan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan janganlah menyembah atau memuja yang lain dari Allah, yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepadamu dan juga tidak dapat memberi mudharat kepadamu. Sekiranya engkau mengerjakan yang demikian maka jadilah engkau orang-orang yang berlaku zalim (terhadap diri sendiri dengan perbuatan syirik itu) Bukan dari golongan kami sesiapa yang merasa sial atau meminta diramalkan kesialannya atau merenung nasib atau minta ditenungkan atau mensihirkan atau meminta disihirkan. Sabda Rasulullah Sesungguhnya jampi mentera, tangkal dan guna-guna itu syirik. Sesiapa yang memakai tangkal, maka ia telah melakukan kesyirikan. KESAN KHUFARAT TERHADAP UMAT ISLAM 1. MERUSAKKAN AKIDAH 2. MENAMBAHKAN AMALAN BID’AH 3. HILANG KEPERCAYAAN KEPADA QADA DAN QADAR 4. HILANG SIKAP BERUSAHA 5. MUDAH BERPUTUS ASA TIDAK BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH Bahaya yang paling besar akan dihadapi umat Islam jika mempercayai khurafat dan beramal dengannya ialah terjerumus ke lembah kesyirikan. SYIRIK MENYEKUTUKAN ALLAH DENGAN SESUATU SYIRIK 1. Perkara Yang Diharamkan 2. Pelakunya Tidak Akan Diampunkan 3. Segala Amalannya Dibatalkan. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. BAGIAN SYIRIK SYIRIK JALI (syirik yang nyata) mempercayai adanya sesuatu yang setara dan? setanding dengan Allah Ta’ala, kepadanya dipohon doa, kepadanya diadakan upacara penyembahan, dan ditakuti bala bencana daripadanya. SYIRIK KHAFI (syirik yang tersembunyi). Sesuatu kepercayaan, perkataan atau perbuatan yang menggambarkan wujud kekuasaan atau sebagainya selain Allah Ta’ala. SENARAI AMALAN SYIRIK YANG TERSEMBUNYI 1. Mempercayai sesuatu yang menjadi sebab baik atau buruk. 2. Menaruh perasaan takut dan gerun kepada kekuatan sesuatu selain daripada Allah. 3. Menumpukan harapan kepada sesuatu yang lain daripada Allah. 4. Melakukan pemujaan 5. Bersumpah dengan sebarang sebutan yang lain daripada Allah. 6. Mengatakan: “Kalau tidak kerana pertolongan Allah dan pertolongan si polan dan si polan, tentulah tidak akan berjaya 7. Melakukan sesuatu ibadat atau daya usaha pengorbanan atau perjuangan bukan kerana perintah Allah semata-mata tetapi juga untuk kepentingan yang lain. SYIRIK BAHAYA DAN KESANNYA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA 1. Rosak Akidah 2. Penghinaan Terhadap Kemanusiaan 3. Sarang Tahyul 4. Kezaliman Terhadap Kebenaran Dan Diri Sendiri 5. Sumber Ketakutan Firman Allah Barangsiapa Mengharap Perjumpaan Dengan Tuhannya, Maka Hendaklah Ia Mengerjakan Amal Salih, Dan Janganlah Ia Mempersekutukan Seorang Pun Dalam Beribadat Kepada Tuhannya. (Al-Kahfi:10) BID’AH DAN KHURAFAT DI INDONESIA Diantara bid’ah dan khurafat yang terjadi di Indonesia adalah sebagai berikutSebagian orang menganggap bahwa upacara adat lah yang bisa menjaga keamanan dan kesejahteraan mereka. Meninggalkannya berarti, siap menuai petaka. Jika ditanya mengapa adat atau ritual itu diberlakukan, biasanya jawabannya setandar. Kadang dalam rangka tasyakuran atau tolak balak. Tapi kenapa cara seperti itu yang dipilih bukan cara yang ditunjukkan oleh islam? Jawabannya hampir bisa dipastikan, “adatnya sejak dulu ya seperti ini!” persis dengan kaum musyrik tempo dulu. Allah berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. (QS. Al-Baqarah 170) Cegah Bencana Dengan Ritual Tolak Balak Ritual yang dimaksud adalah sesaji untuk taqarrub kepada jin yang mereka anggap berkuasa di tempat itu. Seakan jin-jin itu mampu mengendalikan alam, mampu mendatangkan banjir, mampu menjadikan gempa bumi dan tanah longsor. Ini adalah keyakinan syirik paling berat yang bahkan tidak dilakukan oleh orang-orang musyrik. Orang-orang musyrik dahulu menyekutukan Allah dalam beribadah, tapi mereka tetap meyakini, bahwa yang mengendalikan semua urusan adalah Allah. Firman Allah Qs. Yunus 31 Hilangkan Mimpi Buruk Dengan Membalik Bantal Mereka meyakini dengan membalik bantalnya, maka arah mimpi menjadi berubah atau ‘epesode’nya berganti. Ada pula yang berkeyakinan, dengan membalik bantal, maka apa yang dialami dalam mimpi tidak menjelma di alam nyata. Bagaimana islam menjelaskan kejadian seperti ini, lalu bagaimana solusinya? Nabi telah menjelaskan bahwa mimpi baik itu adalah dari Allah, sedang mimpi buruk itu dari setan. Rasulullah bersabda, “Mimpi baik itu dari Allah, sedang mimpi buruk itu dari setan. Jika salah satu di antara kalian bermimpi yang tidak disukai, maka hendaknya menghembuskan (dengan sedikit ludah) kekiri tiga kali, lalu membaca ta’awudz kepada Allah dari keburukannya, niscaya mimpi buruk itu tidak akan memadharatkannya.” (HR. Muslim) Menanam Kepala Kerbau Mereka meyakini bahwa tradisi menanam kepala kerbau seolah suatu keharusan yang mengiringi momen-momen penting. Seperti peletakan batu pertama suatu bangunan, pembangunan jembatan, ritual sedekah bumi maupun tradisi larung untuk sedekah laut, kepala kerbau hampir menjadi inti dari sesaji. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Dan Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) untuk selain Allah.” (HR. Muslim) Sial Karena Terkena Hukum Karma Dalam bahasa sansekerta, karma berarti perbuatan. Dalam arti umum, meliputi semua kehendak (baik dan buruk, lahir dan batin, pikiran, kata-kata atau tindakan). Karma dikenal juga dengan hukum sebab-akibat. Mereka yang percaya karma yakin bahwa di masa yang akan datang orang akan memperoleh konsekuensi dari apa yang telah diperbuat di masa lalu. Sepintas ajaran ini mirip dengan Islam, yang mengenal istilah ‘al-jaza’ min jinsil amal’, bahwa hasil itu sepadan dengan usaha yang dilakukan. Padahal ada perbedaan menyolok antara karma dan kaidah islam tersebut. Karma adalah bagian dari kepercayaan Hindu-Budha. Karma tidak terpisahkan dengan ajaran reinkarnasi, yang menyatakan bahwa setelah seseorang meninggal akan kembali ke bumi dalam tubuh yang berbeda. Jadi, mereka meyakini hidup berulang kali di dunia, mesklipun dengan wujud yang berbeda. Tentang nasib, tergantung karma yang diperbuatnya dikehidupan sebelumnya. Dalam Islam misibah yang menimpa, memang kadang bisa diartikan dengan balasan, tapi kadang pula berarti pembersih dosa dan terkadang berarti ujian. Orang yang terlanjur berbuat dosapun tidak menutup kemungkinan untuk bertaubat, sehingga efek dosa bisa tercegah, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam Musibah Karena Mendahului Kakaknya Menikah Mereka meyakini bahwa hal ini akan menjadikan kakaknya tidak laku, dan sang adik juga akan menerima akibatnya karena lancang melangkahi kakaknya menikah. Sebagian yang merasa terpaksa ‘melanggar’ adat itu mengharuskan sang adik untuk mengadakan ritual plangkahan. Adapun islam mengajarkan untuk menyegerakan jika dirasa sudah mampu. Tidak menjadi soal apakah ketika menikah kakaknya telah menikah atau belum. Selamatan Tujuh Bulan Dalam Kandungan Orang jawa menyebutnya dengan mitoni. Menurut para pelakunya, ritual ini merupakan bentuk syukur kepada sang Pencipta yang telah menyelamatkan ibu dan calon bayi hingga berumur tujuh bulan. Harinya pun dipilih hari ‘baik’ bukan sembarang hari. Bentuk ritualnya bermacam-macam, dari ritual siraman, calon ibu berganti pakaian dengan 7 motif, lalu para tamu diminta untuk memilih motif mana yang paling cocok. Tujuan untuk bersyukur tidaklah menjadikan ritual itu layak diikuti. Karena tujuan yang benar harus ditempuh dengan cara yang benar pula. Lalu bagaimana cara mensyukuri yang benar? Tak ada ritual khusus, waktu khusus atau tempat khusus. Hendaknya memperbanyak tahmid dalam segala kondisi, dan jika suatu kali mendapatkan suatu perkara yang tidak disukai hendaknya membaca Alhamdulillah ‘ala kulli haal, segala puji bagi Allah dalam segala keadaan. Kokok Ayam Ditengah Malam, Isyarat Wanita Hamil Di Luar Nikah Kepercayaan seperti ini biasanya terjadi karena hasil utak-atik orang terhadap perkara yang dianggap ganjil. Misalnya secara kebetulan ada kejadian yang berbarengan. Keyakinan seperti ini tidaklah dibenarkan karena tidak berlandaskan dalil. Sesaji Untuk Bersyukur Diantaranya adalah sesaji sebagian para nelayan untuk “Dewi Roro Kidul”, penguasa pantai selatan dan juga sesajinya para petani untuk “Dewi Sri”, yang diyakini telah menguningkan padi mereka. Sesajian ini adalah termasuk dari kesyirikan. Nyadran Dan Padusan-Jawa/Balimau-Minang Di Penghujung Sya’ba n Yadran – Jawa Balimau atau Padusan Sebagian warga di Magelang misalnya, mereka melakukan ritual sadranan di puncak Gunung Tidar. Konon di sana terdapat petilasan Syekh Subakir. Selain nyadran ada juga ritual yang di sebut dengan “padusan” / mandi sebelum memasuki bulan ramadhan. Di Sumatra Barat hal ini dikenal dengan Balimau, Padahal ritual ini tidak pernah diajarkan Islam. Sial Karena Kejatuhan Cicak Mereka meyakini, ketika kejatuhan cicak, maka bertanda mereka akan mendapatkan musibah. Sebagai penangkal mereka segera memburu cicak tersebut dan menyobek mulutnya, supaya musibah tidak jadi menimpanya. Hal ini disebut juga dengan tathayur yang dilarang dalam Islam. Nabi bersabda barang siapa mengurungkan keperluannya karena thiyarah, maka dia telah berbuat kesyirikan,” lalu para sahabat bertanya. “lalu apa tebusannya wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “hendaknya engkau membaca, “Ya Allah, tiada nasib baik kecuali nasib baik (dari)Mu, tiada thiyarah kecuali thiyarah-Mu dan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Ahmad) Bintang Beralih Tanda Kematian Keyakinan seperti ini telah ada sejak zaman jahiliyah terdahulu. Ketika Nabi bersama para sahabatnya sedang duduk-duduk, tiba-tiba terlihata di langit ada bintang beralih, maka beliau bersabda, “Apa yang kalian katakana di masa jahiliyah dahulu ketika melihat yang demikian?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, dahulu kami mengatakan bahwa pada pada malam itu telah lahir seorang pria agung dan telah wafat laki-laki yang agung pula.” Sebagai koreksi dari keyakinan jahiliyah tersebut, Nabi bersabda, “Bintang itu dilempar bukan karena seseorang yang mati ataupun lahir, akan tetapi Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala ketika memutuskan perkara maka bertasbihlah para malaikat penyangga Arsy, kemudian bertasbihlah para penduduk langit di bawah mereka, hingga suara tasbih tersebut sampai penduduk langit dunia ini. Kemudian para malaikat yang berada di bawah penyangga Arsy bertanya kepada para penyangga Arsy, “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Lalu merekapun mengabarkan tentang apa yang telah Dia firmankan. Maka sebagian penduduk langit mengabarkan kepada sebagian yang lain sehingga kabar tersebut sampai ke langit dunia, ketika itu jin mencuri dengar tentangnya untuk dibisikkan kepada walinya (dukun), lalu dia dilempar dengan bintang tersebut. Maka jika mereka (berhasil mendengar) kemudian mengabarkan sesuai yang didengar maka beritanya benar, akan tetapi mereka suka membuat-buat dan menambahnya.” (HR.Muslim) Tukar Cincin Pernikahan Upacara tukar cincin menjadi tradisi wajib bagi banyak kalangan, termasuk kaum muslimin. cinci pernikahan pun sebagai barang bertuah yang memiliki arti sakral. Berbagai mitos tentang cincin inipun berkambang di masyarakat. Konon, cincin pernikahan itu bisa menjadi sebab kelanggengan bahtera rumah tangga. Bila ini yang diyakini maka mereka telah terjebak kepada ksyirikan karena menganggap cincin bisa mendatangkan manfaat ataupun madharat. Tukar cincin meskipun telah berkembang di kalangan kaum muslimin, bukanlah berasal dari aturan islam atau teladan Nabi. Bahkan merupakan ritual yang memiliki nilai religius dikalangan umat Nasrani. Maka melakukannya berarti menyerupai mereka, padahal Nabi bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud. “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” Sakit-Sakitan Karena Tak Kuat Menyandang Nama Sebagian orang Jawa meyakini, tidak semua nama baik itu cocok untuk disematkan setiap anak. Ketika mereka melihat anaknya sakit-sakitan berkepanjangan, segera mungkin mereka mengubah nama anaknya. Karena mereka meyakini tidak adanya kecocokan nama anaknya dengan aura pemiliknya. Di dalam Islam, tidak dipungkiri bahwa nama memiliki pengaruh bagi pemiliknya. Seringkali ada kesesuaian antara nama dan yang diberi nama. Tetapi pengaruh tersebut lebih kepada makna yang dikandung didalmnya. Islam melarang nama-nama yang berkonotasi buruk. Tabur Bunga Di Atas Pusara Sebagian orang islam melakukan hal ini dengan berkeyakinan supaya penghuni kubur diringankan siksaanya. Beralasan dengan perbuatan Rasulullah ketika melewati dua kuburan yang sedang disiksa, kemudian beliau megambi pelapah kurma dan membelahnya menjadi dua bagian dan menancapkan kepada masing-masing kuburan. Para sahabat bertanya wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan itu?” beliau bersabda, “Agar keduanya diringankan siksanya selagi pelapah kurma itu masih basah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika dengan landasan hadits itu seseorang menaburkan bunga di atas kuburan, berarti dia telah berprasangka buruk kepada mayat. Seakan dia memvonis bahwa si penghuni kubur tengah menghadapi siksa. Sedangkan Nabi melakukan hal demikian atas dasar pengetahuan beliau bahwa kedua penghuni kubur telah disiksa. Reinkarnasi Reinkarnasi adalah keyakinan tentang regulasi ruh, yakni ruh orang yang telah mati akan menitis kepada makhluk lain. Bisa berwujud manusia, bisa pula hewan maupun batu. Ajaran ini dikenal dalam agama Hindu. Dalam agama Budha dikenal dengan istilah tumimbal lahir (rebirth). Dalam dunia kejawen juga banyak beredar dongeng tentang reinkarnasi dengan sebutan ‘titisan’. Tentu karena masih mewarisi budaya Hindu. Kembali Suci Setelah Idul Suci Definisi ‘kembali suci’ hanya masyhur di kalangan masyarakat Indonesia. Kitab-kitab para ulama’ tak ada yang menampilkan definisi idul fithri sebagai hari kembali suci. Kesalahan terjadi karena kata fithri dianggap sama dengan fithrah, padahal berbeda. Setidaknya hal ini dapat dilihat dalam kamus Arab-Indonesia Al-Munawwir halaman 1142, disebutkan bahwa makna al-fithru adalah berbuka sedangkan al-fithrah adalah bermakna sifat pembawaan (yang ada sejak lahir), fithrah. Berarti makna makna idul fithri adalah kembali berbuka setelah satu bulan shaum, dan bukan kembali suci. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, “Adapun hari fithri adalah fithr (berbuka)mu dari shaum dan ied bagi kaum muslimin.” (HR. Tirmidzi) Jin Bertengger Di Gambar Bernyawa Lukisan Nyi Roro Kidul Tentang jin yang bertengger di gambar bernyawa, sejauh penulis (Abu Umar Abdillah) ketahui tidak ada dalil yang menyebutkannya. Konon, keterangan itu didapatkan dari pengakuan jin yang diinterogasi orang yang meruqya. Jika demikian, hal ini tidak boleh kita jadikan sebagai landasan keyakinan. Disamping kemungkinan (bahkan besar kemungkinan) jin berdusta, ini juga bersifat kasuistik. Karena keimanan terhadap yang ghaib tidak boleh didasarkan kecuali dari sumber wahyu, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perihal gambar bernyawa memang seharusnya kita bersihkan dari dinding rumah kita. Karena dalam riwayat Imam Bukhari, Rasulaullah bersabda, “Malaikat tidak memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar bernyawa.” Negeri Seribu Hantu Setan memahami betul tipologi manusia dengan berbagai macam corak adat dan budayanya. Mungkin, membanjir dengan seribu hantu atau jin yang suka nongol adalah cara yang tepat untuk menggiring manusia Indonesia menuju jurang kesyirikan, sesuai dengan tipologi masyarakat Indonesia yang lekat dengan keyakinan animism dan dinamisme. Menghadirkan Arwah Ghaib Klaim semacam ini sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di abad ke-7 Hijriyah telah banyak membuka kedok para penipu yang mengaku bisa menghadirkan arwah orang yang sudah mati. Termasuk dalam hal ini adalah fenomena jaelangkung. Sebenarnya yang hadir disitu bukanlah arwah orang yang sudah mati. Karena mereka yang berada di alam barzah sudah mempunyai kesibukan tersendiri. Bersenang-senang dengan nikmat Allah atau menghadapi siksa Allah. QS. Az-Zumar 42 Hewan-Hewan Keramat Sebut saja kerbau bule yang digelari Kyai Slamet di Solo, setiap malam satu Suro (Muharram) ribuan orang datang untuk menyaksikan kirab sakral sang ‘kyai’ yang mengitari alun-alun keraton. Ada lagi hewan bulus (kura-kura) di Klaten, dipercaya bisa mendatangkan kekayaan.Mitos hewan keramat ini dikembangkan dengan mengisahkan kejadian-kejadian yang dikaitkan dengan perlakuan terhadap hewan tersebut. Kerbau Bule adalah sebutan untuk kerbau berwarna albino koleksi Kraton Surakarta Hadiningrat. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai hewan keramat, sehingga memperlakukan kerbau-kerbau itu melebihi manusia. Pada malam 1 Syura (1 Suro) dalam penanggalan Islam, kerbau dan sejumlah pusaka koleksi kerajaan diarak mengelilingi kompleks kraton. Sebagian masyarakat, bahkan rela berebut kotoran (tinja) yang dibuang soleh sang kerbau karena dianggap bertuah. Kotoran itu, konon, bisa dijadikan obat bagi penderita sakit, bahkan dianggap bisa mendatangkah berkah penglarisan bagi para pedagang tradisional. Karena dikeramatkan pula, kerajaan mengangkat abdi dalem yang khusus menangani si kerbau. Tentu, menjadi pawang kerbau keramat juga menimbulkan kebanggan tersendiri bagi abdi dalem. Tak aneh, seorang abdi dalem rela menciumi si kerbau. Qulhu Sungsang Sebagai Mantera Kesaktian Yaitu membalik susunan surat Al-Ikhlas dan dibalik cara membacanya. Para pemburu kesaktian banyak yang meyakini keampuhan qulhu sungsang. Ada yang menggunakannya sebagai mantera untuk pukulan jarak jauh, untuk pelet dan untuk mengusir jin. Ini semua hanya bualan semata dan tidak dibenarkan, karena telah memainkan ayat Allah yaitu dengan membolak-baliknya. Khadam Asma’ul Husna Ada yang menyebarkan khurafat, bahwa setiap Asma’ul Husna mempunyai khadam malaikat yang siap melaksanakan maksud dari arti Asma yang dibaca. Keyakinan ini tidak bersumber melainkan rekayasa belaka. 40 Hari Menjadi Orang Sakti Masa 40 hari terkesan memiliki makna khusus bagi orang-orang tertentu. Setidaknya bagi orang yang ingin menjadi orang super, dengan bersemedi selama 40 hari. Alasan ini tidaklah sesuai dengan syari’at. Debus Dianggap Karamah Seperti atraksi makan api, mengiris lidah dengan pisau dan atraksi-atraksi semisalnya. Mereka menganggap hal-hal ini sebagai

Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: