Archive for April, 2007

MUKJIZAT RASUL SAW

MUKJIZAT RASUL SAW
Update : 06 / Maret / 2005
Edisi 10 Th. 1-2004M/1425H

Allah Swt telah mengaruniakan pada Nabi Muhammad Saw berupa ayat suci Al-Qur’an sebagai mu’jizat dan merupakan bukti dari kebenaran diutusnya Rasulullah Saw sehinggga para manusia dapat mempercayainya. Al-Qur‘an diturunkan oleh Allah Swt sebagai pelajaran dan pedoman bagi manusia yang meyaqininya, di dalamnya terdapat kabar orang-orang terdahulu, dan umat yang akan datang, dan juga terdapat uraian tentang hal-hal yang ghoib seperti surga, neraka dan beberapa mahluk lain seperti Malaikat, jin, syetan dan lainnya. Allah Swt berfirman yang artinya, “Katakanlah, jika dikumpulkan jin dan manusia, untuk mendatangkan sesuatu yang sama dengan Al Qur’an, maka mereka tiada bisa menyamainya walaupun sebagian saling melengkapi yang lainnya.” Al-Qur’an adalah mu’jizat yang paling utama, tetapi masih banyak sekali mu’jizat yang lain untuk menunjukkan bahwa Rasulullah Saw adalah manusia yang istimewa, di antaranya adalah do’a beliau sangatlah mustajab. Dikisahkan dalam Shoheh Bukhori Muslim, “Suatu ketika Rasulullah Saw berada di atas mimbar Jum’at, ketika itu berdiri seorang ‘Arobiy dan ia berkata, ‘Yaa Rosulallah, telah rusak harta benda dan banyak umat yang kelaparan, maka minta tolonglah pada Allah yaa Rasulullah.’ Lalu Nabi Muhammad Saw mengangkat kedua tangannya keatas berdo’a memohon pada Allah ta’ala, seketika itu datanglah gumpalan awan yang tebal dan tak lama hujanpun turun dengan lebatnya.” Dalam riwayat lain dikisahkan, “Suatu ketika Rasulullah Saw hendak melakukan sholat berjama’ah bersama para sahabat, namun ketika itu tidak ditemukan air untuk berwudlu. Ketika itu seorang sahabat datang dengan membawa mangkuk berisi air untuk wudlu Rasulullah Saw. Setelah Rasululah Saw selesai berwudlu, beliau mengangkat mangkuk tersebut dan seketika itu keluarlah sumber air dari sela sela jari beliau, lalu para sahabat bergantian berwudlu dengan air yang keluar dari sela-sela jari Nabi Muhammad Saw. Dan menurut riwayat jumlah sahabat yang ikut wudlu waktu itu berjumlah 300 orang. Ali bin Abi Tholib kwj bercerita, “Suatu ketika aku berjalan bersama Rasulullah Saw keluar kota Makkah dan di tengah perjalanan kami melewati gunung dan suatu keajaiban gunung tersebut mengucapkan salam pada Rasulullah Saw, ‘Assalamu’alaika Yaa Rosulallah.’ Setelah itu kami bertemu dengan seorang ‘Arobiy dan ia berkata, ‘Yaa Rosulallah, kami mempunyai beberapa unta yang merepotkan dan mengancam kami di kandangnya.’ Lalu kami bersama Rasulullah Saw pergi menemui unta tersebut, beliau berkata, ‘Wahai unta, kemarilah!’ Lalu unta tersebut berjalan mendekati beliau sambil menunduk dan aku berkata, ‘Yaa Rosulallah, sepertinya unta tersebut mengetahui bahwa paduka adalah seorang Nabi.’ Beliau menjawab, ‘Ya.’

[ Atas ] [ Kembali ]

Silakan mengutip dengan mencantumkan nama almihrab.com

Iklan

Comments (2) »

Keistimewaan Rasulullah S.A.W.

Keistimewaan Rasulullah S.A.W.
Update : 13 / Oktober / 2005
Edisi 16 Th. 2-2005M/1426H

(Disarikan Dari Kitab Unmudzul Labib Fi Hosoisil Habib Susunan Imam jalaludin Assuyuthi)
Pasal I menerangkan kekususan kepribadian Rasulullah Saw di dunia.
Rasulullah Saw adalah manusia pertama yang dijadikan Nabi sewaktu Adam as masih berada diantara air dan tanah. Rasulullah Saw adalah makhluk yang pertama kali menjawab pertanyaan Allah, “Bukankah Aku (Allah) ini Tuhanmu ? Nabi menjawab” Ya Engkau (Allah) Tuhanku. Allah menciptakan Adam as dan semua makhluk karena Nabi Muhammad Saw. Nama Muhammad Saw ditulis di Arsy, dan para malaikat selalu menyebutnya. Nama Muhammad Saw juga selalu dikumandangkan dalam adzan dan juga sudah tertulis di dalam kitab para Nabi terdahulu. Sewaktu Nabi lahir, setan dihalangi untuk menerobos kelangit. Rasulullah Saw mempunyai 1000 nama, dan diberi nama dari nama-nama Allah. Misalnya Rouf dan Rohim sebagaimana disebut dalam Al-Quran sebagai seorang Rasul yang RoufurRohim (akhir surat AT-Taubat). Malaikat selalu memuji dan memayunginya selama dalam perjalanan. Nabi Saw diberi keindahan rupa yang sempurna sedangkan Nabi Yusuf hanya setengahnya. Nabi diperlihatkan wujud Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya. Para dukun ramal (juru bedek) pada saat Nabi lahir terhalang mendengarkan kabar dari langit dan langit terjaga dari pendengaran jin dan setan. Di hidupkan kembali kedua orang tua Nabi sehingga iman kepadanya. Nabi di Isro’ Mi’rojkan hingga menerobos langit ketujuh sehingga beliau ada di Arsy tinggal dua lengan tangan atau lebih dekat lagi. Beliau Nabi menginjakkan kakinya pada tempat yang tak pernah diinjak oleh para Nabi yang lain. Para Nabi yang sudah wafat dihidupkan kembali untuk sholat jamaah bersama dengan beliau Saw, begitu juga para malaikat. Nabi dilihatkan surga dan neraka dan dilihatkan tanda-tanda kebesaran Allah dan melihat Allah dua kali. Dalam perang Uhud, para malaikat ikut berperang bersamanya. Mukjizat Nabi berupa Al-Kitab (Al-Quran) padahal beliau tidak bisa membaca dan menulis. Kitab Al Qur’an diturunkan dengan cara bertahap (munajjaman) Al-Kitab diturunkan dengan tujuh huruf (tuju bacaan) satu huruf bila dibaca akan dibalas dengan sepuluh kebaikan dan mukjizat ini akan kekal sampai hari kiamat, sedangkan mukjizat para Nabi yang lain putus dengan wafatnya Nabi tersebut. Rasulullah Saw diberi kelebihan yang tidak diberikan kepada Nabi yang lain, misalnya: bisa membelah rembulan, batu-batuan membacakan salam kepadanya dan kurma selalu merunduk serta keluarnya air yang deras dari sela-sela jari Nabi. Nabi Musa diberi mukjizat oleh Allah berupa perilaku, Nabi Isa di beri mukjizat dengan sifat, sedangkan Nabi Muhammad di beri mukjizat kedua-duanya. Tetumbuhan menyaksikan kenabiannya dan menerima dakwahnya. Dan Nabi sebagai akhir para Nabi, tiada Nabi sesudahnya. Syariatnya (tuntunan) akan kekal sampai hari kiamat, tidak akan diganti. Beliau Rasulullah Saw di utus sebagai Rahmat bagi segenap makhluk, mulai dari manusia, jin, binatang, tanaman dan benda-benda mati seperti bebatuan. Beliau Saw adalah rahmat bagi alam semesta. Nama beliau Saw selalu mendampingi nama Allah Swt. Dalam Al-Quran, Allah tidak memanggilnya dengan nama Muhammad ,melainkan disebut dengan, wahai Nabi atau wahai Rosul. Haram bagi umatnya memanggil baginda Nabi Muhammad Saw hanya dengan nama Muhammad. Beliau dikuatkan dengan empat pendamping; malaikat Jibril, malaikat Mikail, Abu Bakar dan Umar. Istri-istri Nabi selalu membantu beliau, istri-istri Nabi merupakan istri yang paling utama di dunia dan haram menikahinya setelah wafatnya Nabi. Haram membuat nama kinayah dengan kinayah Nabi. Keistimewaan Nabi disebut oleh Allah dengan sebutan Abdullah, sedangkan Allah tidak pernah menyebut Abdullah pada seseorang selain beliau. Tidak ditemukan di dalam Al-Quran atau lainnya bacaan shalawat dari Allah untuk selain beliau Nabi Muhammad Saw.

Pasal II Keistimewaan syariat Nabi Muhammad Saw dan umatnya.
Ghonimah (hasil peperangan) di halalkan bagi Nabi Muhammad Saw sedangkan Nabi sebelumnya di haramkan. Setiap tanah yang suci bisa dijadikannya sebagi tempat sujud (Masjid), sedangkan umat sebelumnya bila sujud (shalat) hanya di tempat-tempat peribadatannya saja. Debu boleh buat bersuci (tayamum) untuk umat Rasulullah Saw sedangkan para Nabi sebelum beliau Saw boleh bertayamum tetapi umatnya tidak diperbolehkan. Umat Muhammad Saw mengerjakan shalat lima waktu dan dijadikan shalat itu sebagai kafarat (melebur dosa-dosa kecil) sedangkan umat sebelumnya hanya mengerjakan beberapa sholat saja seperti dzuhur atau ashar saja, bahkan tidak ada satupun yang menjalani shalat isya. Umat beliau Saw dihormati dengan ucapan salam dari malaikat dan semua penghuni surga. Hari jum’at dijadikan sebagai hari raya (besar) bagi Nabi Saw dan umatnya, sekaligus pada hari itu setiap do’a akan dikabulkan oleh Allah Swt. Bau tak sedap , yang keluar dari mulut orang yang berpuasa(dari ummat Nabi Muhammad SAW) lebih harum daripada harumnya minyak misik bagi Allah ,dan malaikat memohonkan ampun untuk mereka yang puasa. Allah akan melebur dosa selama dua tahun bagi umat beliau Saw yang berpuasa pada hari Arofah (9 dzulhijjah) karena itu sunah dari Rasulullah Saw sedangkan Allah melebur dosa bagi yang berpuasa pada hari Asyuro (10 Muharram) hanya satu tahun karena puasa hari itu sebagai sunah Nabi Musa as. Umat Rasulullah Saw adalah sebaik-baiknya umat yang dikasih dua nama yang di ambil dari nama Allah Al Muslimin dan Al Mukminun dan agamanya diberi nama agama Islam. Sifat Al Muslimin dan Al Mukminun tidak diberikan kepada umat sebelum Nabi. Diterangkan dalam hadits ada dua bangkai dan ada dua darah yang dihalalkan untuk umat Muhammad Saw; bangkainya ikan dan bangkai belalang, darah yang halal adalah hati dan limpa yang di perbolehkan untuk umatnya. Diperbolehkan mempunyai empat istri dengan syarat yang ada dalam Al Qur’an dan boleh mencerai sampai tiga kali. Diriwayatkan bahwa Nabi Adam berkata : “Umat Nabi Muhammad Saw diberi kemuliaan oleh Allah empat kemulyaan dan aku (Adam) tidak diberi sama sekali. Yang pertama Allah menerima taubatku di Mekkah sedangkan umat Muhammad Saw bertaubat boleh disegala tempat, diambilnya pakaianku sewaktu aku berdosa, umat Muhammad Saw sewaktu berdosa tidak di ambil pakaiannya, aku dipisahkan dengan istriku (Hawa) dan dikeluarkan dari surga. Umat Bani Israil bila berbuat salah mereka di haramkan makan-makanan yang bagus di tulis kesalahannya itu di muka pintu rumahnya. Allah Ta’ala membangkitkan setiap seratus tahun kepada seseorang yang memperbaharui hal-hal agama sampai seratus tahun akhir dari masa Nabi Isa Al Masih. Diantara umat Nabi ada yang disebut dengan nama Aqthob Autad Nujaba dan diantara umat Nabi ada yang menjadi imam sholat dengan Nabi Isa a.s. Pangkat para ulama umat Nabi Muhammad Saw seperti pangkatnya para Nabi Bani Israil. Malaikat di langit mendengarkan seruan mereka, dan para ulama mereka itu adalah orang yang selalu memuja Allah pada setiap saat selalu mengagungkan nama Allah (membaca takbir), sewaktu naik gunung selalu membaca tasbih, sewaktu turun gunung mereka berkata “aku mengerjakan sesuatu atas kehendak Allah bila mereka marah cepat-cepat membaca tahlil, bila mereka berselisih selalu membaca tasbih, dan bila mereka ingin mengerjakan sesuatu selalu shalat istihoroh, dan bila naik kendaraan selalu memuji Allah, bertahmid. Umat Nabi Muhammad Saw di panggil dengan sebutan” Hai orang-orang yang beriman, sedangkan umat sebelumnya di panggil dengan nama” Hai orang-orang miskin, sangat jauh perbedaan nama ini. Nama Ahlul qiblah hanya digunakan untuk umat Nabi Muhammad Saw.

Pasal III Keistimewaan Beliau Nabi Muhammad Saw di alam akhirat.
Nabi Muhammad Saw adalah mahkluk yang pertama kali bangkit dari bumi dan selamat dari kekalutan hari kiamat. Beliau di iring ke mahsyar bersama tujuh puluh ribu malaikat dan naik buroq di mauqif (tempat orang yang menunggu sya’faat). Beliau Saw dipanggil namanya dan diberi pakaian paling indah dari surga. Beliau berdiri disebelah kanan Arsy dan ditempatkan ditempat yang terpuji. Ditangannya ada bendera kenabian dan para Nabi yang lain bernaung di bawah bendera tersebut. Di Mahsyar Nabi Muhammad Saw dijadikan oleh Allah sebagai imamnya para Nabi , dan Nabi yang pertama kali sujud dihadapan Allah dan yang pertama kali mengangkat kepalanya dari sujud. Pertama kali yang memandang Dzat Allah,dan yang pertama kali memberi syafaat dan diterima syafaatnya. Nabi Saw diberi oleh Allah syafaat yang bisa membuat umatnya masuk surga tanpa hisab, dan diberi syafa’at untuk orang yang mestinya masuk neraka, tidak jadi masuk neraka, juga diberi syafaat untuk anak-anaknya orang musyrikin, supaya tidak disiksa. Begitu juga baginda Nabi Muhammad Saw mohon kepada Allah untuk tidak dimasukkan satu pun dari keluarganya di neraka dan Allah mengabulkannya. Besok hari kiamat semua umatnya di nasafkan oleh baginda Nabi Muhammad Saw. Dan para penghuni surga tidak membaca kecuali membaca Al-Quran tidak berbicara kecuali pakai bahasa Al-Quran (Arab). Diterangkan dalam hadits” Aku (Nabi) pertama kali orang yang membuka pintu surga lalu berdirilah penjaga surga (Malaikat Ridwan) siapa kamu? Aku jawab” Aku adalah Muhammad, lalu penjaga itu berkata” aku (penjaga) berdiri dan aku bukakan untukmu wahai Nabi. Aku tak pernah berdiri kepada seorang pun sebelum engkau dan aku tidak akan berdiri kepada seseorang setelah engkau. Untuk lebih Jelasnya baca kitab (Unmudzul Labib Fi Hosoisil Habib) Karangan Imam jalaludin Assuyuthi

[ Atas ] [ Kembali ]

Silakan mengutip dengan mencantumkan nama

Comments (3) »

Perjalanan Rasulullah SAW

Perjalanan Rasulullah SAW
Update : 06 / Maret / 2005
Edisi 10 Th. 1-2004M/1425H

Dalam tradisi keluarga terhormat bangsa Arab masa itu, bayi tidak disusui sendiri oleh Sang Ibu. Ia diserahkan pada orang lain yang menjadi Ibu susu. Demikian pula Muhammad, beberapa hari ia disusui oleh Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah seorang budak milik paman beliau, Abu Lahab, yang juga tengah menyusui Hamzah paman lainnya yang seusia dengan Muhammad. Kemudian Muhammad diserahkan pada Halimah, perempuan miskin dari Bani Saad yang mencari pekerjaan sebagai Ibu susu. Semula Halimah menolak untuk menyusui Muhammad. Ia menginginkan bayi yang bukan seorang yatim, dan dari keluarga yang sanggup membayar lebih mahal. Karena tak ada bayi lain yang bisa disusui, Halimah pun membawa Muhammad ke kampungnya. Suasana perkampungan Bani Saad disebut lebih baik bagi pertumbuhan anak dibanding ‘kota’ Makkah. Udara di sana disebut lebih bersih, bahasa Arabnya pun lebih asli. Disamping itu kaum wanita bani Sa’ad tekenal baik budi bahasa dan tutur katanya. Di masa bersama Halimah itulah tersiar kisah mengenai Muhammad kecil. Menurut kisah itu, Halimah menjumpai Muhammad dalam keadaan pucat. Disebutkan bahwa Muhammad baru didatangi dua orang yang diyakini banyak kalangan sebagai malaikat. Orang tersebut kemudian membelah dada Muhammad. Banyak orang percaya, itu adalah proses malaikat “mencuci hati Muhammad” sehingga bersih Pada usia lima tahun, Muhammad dikembalikan ke Makkah. Konon Halimah khawatir atas keselamatan Muhammad. Dalam perjalanan ke Makkah, Muhammad sempat terpisah dari Halimah dan tersesat sebelum ditemukan secara tak sengaja oleh orang yang kemudian mengantarkan ke rumah Abdul Muthalib. Saat Muhammad berusia enam tahun, Aminah sang ibu membawanya ke Madinah menengok keluarga dan makam Abdullah, sang ayah. Mereka ditemani budak Abdullah, Ummu Aiman, menempuh jarak sekitar 600 km bersama kafilah dagang yang menuju Syam. Saat pulang, setiba di Abwa 37 km dari Madinah, Aminah jatuh sakit dan meninggal. Muhammad pun yatim piatu. Ia dipelihara Abdul Muthalib. Namun, sang kakek juga meninggal saat Muhammad berusia 8 tahun. Sebelum Abdul Muthalib meninggal, beliau sempat mengumpulkan putra-putranya untuk membagi tugas mengurus kepentingan penduduk Makkah dan kaum pendatang yang berziarah ke keto suci itu. Abdul Muthalib merasa prihatin memikirkan cucu kesayanganya, Muhammad yang hidup sebatang kara. Beberapa saat beliau berfkir siapakah diantara putra-putranya yang hendak diberi kepercayaan penuh untuk mengasuh Muhammad. Akhirnya ia mengabil keputusan memilih Abu Thalib. Abu Thalib bukanlah putra sulung atau yang terkaya diantara putra-putranya. Abdul Mutalib memilih Abu Thalib karena ia lebih dihormati dan lebih dimuliakan oleh orang-orang Quraisy. Muhammad kecil lalu tinggal di rumah Abu Thalib, anak bungsu Abdul Muthalib yang hidup miskin. Kehidupan sehari-hari Muhammad adalah menggembala kambing. Pekerjaan mengembala kambing dirasakan oleh Muhammad sebagai pekerjaan yang santai serta dapat mendatangkan ketentraman jiwa. Sambil mengembala kambing beliu dapat leluasa menikmati pemndangan indah gurun sahara, dan secara langsung dapat menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah Swt melalui jagat raya ciptaan-Nya. Lebih penting lagi karena pekerjaan menggembala kambing memberi pendidikan dan latihan jiwa kepada beliau seperti, sabar, tabah, kasih sayang dan menjaga serta menolong mahkluk yang lemah. Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah menjelaskan, “Setiap nabi pernah mengembala kambing”. Seorang sahabat bertanya,”Apakah anda demikian juga ya Rasulullah ?” Beliau menjwab.”Ya, aku juga.” Pada usia 12 tahun, Muhammad diajak pamannya berdagang ke Syam. Terkisahkan, dalam perjalanan itu Abu Thalib bertemu pendeta Nasrani bernama Buhaira di Bushra. Sang pendeta memberi tahu bahwa Muhammad kelak akan menjadi seorang Nabi besar. Maka, ia menyarankan Abu Thalib segera membawa pulang Muhammad agar tidak celaka olah ulah orang-orang yang tak suka. Perjalanan ke negeri asing untuk berbisnis pada usia semuda itu tentu memberi kesan kuat pada Muhammad. Berkat ketulusan dan kelurusan hatinya, Muhammad remaja mendapat sebutan Al-Amin, “yang dapat dipercaya”, dari orang-orang Makkah. Dikalangan kaumnya Muhammad terkenal sebagai orang yang banyak berbuat kebajikan, berbudi luhur, berakhlak mulia, manis budi bahasanya, jujur dan menjauhkan diri dari segala macam perbuatan tercela atau tidak senonoh. Allah Swt melindungi dan menjaga kesuian beliau sebagai manusia yang akan memikul tugas suci dan besar di Dunia. Sedangkan ketajaman intelektual serta nuraninya terasah melalui hobinya mendengarkan para penyair. Pada bulan-bulan suci, di beberapa tempat di dekat Makkah, selalu muncul pasar. Terutama di Ukaz yang berada di antara Thaif dan Nakhla, serta di Majanna dan Dzul-Majaz. Di hari pasar, para penyair membacakan sajak-sajaknya. Sebagian penyair itu beragama Nasrani dan Yahudi. Mereka umumnya mengkritik bangsa Arab yang menyembah berhala. Peristiwa tersebut menambah sikap kritis Muhammad atas perilaku masyarakatnya. Persoalan pasar di Ukaz itu menyeret Muhammad pada realita manusia, perang. Berawal dari pelanggaran kesepakatan sistem dagang yang dilakukan Barradz bin Qais dari kabilah Kinana yang memicu pelanggaran serupa ‘Urwa bin ‘Uthba dari kabilah Hawazin. Barradz lalu membunuh ‘Urwa di bulan suci yang diharamkan terjadi pertumpahan darah. Kabilah Hawazin lalu mengangkat senjata terhadap kabilah Kinana. Karena kekerabatan, kaum Quraish seperti Muhammad membela kabilah Kinana. Selama empat tahun, pertempuran berlangsung pada hari-hari tertentu setiap tahun. Itu terjadi saat Muhammad berusia sekitar 16 hingga 20 tahun. Disebutkan pula, di pertempuran itu Muhammad hanya bertugas mengumpulkan anak panah lawan. Ada juga yang menyebut dia pernah memanah lawan. Perang Fijar itu pun berakhir dengan kesepakatan damai. Satu peristiwa penting yang jarang dikisahkan adalah bergabungnya Muhammad pada Gerakan Hilfil Fudzul. Sebuah gerakan untuk memberantas kesewenangan di masyarakat dan melindungi yang teraniaya. Peristiwa itu terpicu oleh perampasan barang milik pedagang asing yang tiba di Makkah oleh Wail bin Ash. Zubair bin Abdul Muthalib mengajak keluarga Hasyim, Zuhra dan Taym untuk menegakkan kembali kehormatan kota Makkah. Mereka berikrar di rumah Abdullah bin Jud’an untuk membentuk gerakan tersebut. Pada usia 20an tahun, Muhammad aktif dalam Hilfil Fudzul itu. Ia ikut menyelamatkan gadis dari Bani Khais’am yang diculik Nabih bin Hajaj dan kawan-kawan. Kematangan Muhammad semakin tumbuh seiring dengan meningkatnya usia. Saat Muhammad berusia 25 tahun, Abu Thalib melihat peluang usaha bagi keponakannya. Ia tahu pengusaha terkaya di Makkah saat itu, Khadijah, tengah mencari manajer bagi tim ekspedisi bisnisnya ke Syam. Khadijah menawarkan gaji berupa dua ekor unta muda bagi manajer itu. Atas sepersetujuan Muhammad, Abu Thalib menemui Khadijah meminta pekerjaan tersebut buat keponakannya itu serta minta gaji dinaikkan menjadi empat ekor unta. Khadijah setuju. Untuk pertama kalinya Muhammad memimpin kafilah, atau misi dagang, menyusuri jalur perdagangan utama Yaman – Syam melalui Madyan, Wadil Qura dan banyak tempat lain yang pernah ditempuhnya saat kecil. Di kafilah itu Muhammad dibantu oleh perempuan budak Khadijah, Maisarah. Bisnis tersebut sukses besar. Dikabarkan tim dagang Muhammad meraup keuntungan yang belum pernah mampu diraih misi-misi dagang sebelumnya. Dalam perjalanannya tersebut, ia juga banyak berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain. Termasuk para pendeta Yahudi maupun Nasrani yang terus mengajarkan ke-Esaan Allah. Muhammad juga semakin memahami konstalasi politik global, termasuk menyangkut dominasi Romawi serta perlawanan Persia.

[ Atas ] [ Kembali ]

Silakan mengutip dengan mencantumkan nama almihrab.com

Comments (2) »

DETIK-DETIK KELAHIRAN RASULULLAH S.A.W.

DETIK-DETIK KELAHIRAN RASULULLAH S.A.W.
Update : 06 / Oktober / 2005
Edisi 15 Th. 2-2005M/1426H

Dalam tidurnya disuatu malam, Abdul Muthalib bermimpi matahari telah terbit, lalu ia terjaga dari tidurnya, dan mendapati dirinya di pertengahan malam, keheningan yang luar biasa menyelimuti gurun yang terbentang. Ia menuju pintu rumah, lalu menyaksikan bintang-bintang bersinar di langit, dan dunia tampak di selimuti gelapnya malam. Ia kemudian menutup pintu rumah dan kembali tidur. Dalam tidurnya itupun, ia bermimpi untuk kedua kalinya. Segala sesuatunya tampak jelas kali ini, sesungguhnya sesuatu yang besar memerintahkannya untuk melaksanakan perintah yang sangat penting, “Galilah zamzam”. Abdul Muthalib bertanya tanya : “Apakah itu zamzam? “Kemudian untuk kedua kalinya perintah itu mengatakan bahwa ia diperintahkan untuk menggali zamzam. Abdul Muthalib bangkit dari peraduannya, lalu ia membuka pintu rumah dan pergi ke gurun yang luas. Apakah arti zamzam ? Tiba-tiba pikirannya dipenuhi dengan cahaya yang datang dari jauh, bahwa pasti zamzam adalah sebuah sumur, tetapi apa nilai dari sumur zamzam itu, Bukankah di sana terdapat banyak sumur yang yang lain. Abdul Muthalib duduk di tengah gurun pasir pada pertengahan malam, ia merenungkan cerita kuno yang mengatakan tentang sumur yang memancarkan air, akibat dari pukulan kaki Nabi Ismail as. Matahari terbit di atas gurun jazirah Arab, Abdul Muthalib keluar menemui orang-orang, dan menceritakan kepada mereka bahwa ia akan menggali zamzam, untuk menunjuk tempat tersebut ia diberitahu oleh suara yang ada dalam mimpinya. Orang-orang Quraisy menolaknya, karena tempat yang diisyaratkan oleh Abdul Muthalib terletak diantara dua berhala yang biasa disembah oleh masyarakat setempat, yaitu berhala Ash dan Nailah. Abdul Muthalib merasa bahwa usahanya sia-sia untuk meyakinkan kaumnya agar mengizinkannya untuk menggali sumur. Mereka mengetahui bahwa Abdul Muthalib tidak mempunyai apa-apa, selain hanya seorang anak laki-laki. Pada saat itu di kawasan Arab dipenuhi dengan kabilah-kabilah yang terjalin suatu ikatan kesukuan yang kuat dan usaha untuk melindungi keluarga yang sangat menonjol. Akhirnya Abdul Muthalib pergi dalam keadaan sedih, lalu ia berdiri di hadapan Ka’bah dan mengungkapkan suatu nazar kepada Allah Swt. Ia berkata: “Jika aku dikaruniai sepuluh anak laki-laki, dan setelah mereka dewasa dan mampu melindungiku saat aku menggali zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka’bah sebagai bentuk korban”. Pintu langit terbuka untuk doanya Abdul Muthalib. Belum genap satu tahun, istrinya melahirkan anaknya yang kedua dan setiap tahun ia melahirkan anak laki-laki sampai pada tahun yang kesembilan, sehingga Abdul Muthalib mempunyai sepuluh anak laki-laki. Kemudian berlalulah zaman dan anak-anak Abdul Muthalib menjadi besar. Abdul Muthalib akhirnya menjadi seorang yang memiliki kemampuan, dan ia berusaha melakukan rencananya yang diisyaratkan dalam mimpi itu, sambil bersiap-siap untuk mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaan dari nazarnya. Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya, lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil yaitu Abdullah. Ketika nama anak itu keluar dalam undian, maka orang orang yang ada disekitarnya berusaha memberontak, mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan Abdullah disembelih. Abdullah saat itu terkenal sebagai seorang yang bersih, ia telah menarik simpati masyarakat di sekitarnya. Ia tidak pernah menyakiti seorangpun. Senyuman khas Abdullah terkenal sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan jazirah Arab. Muatan ruhaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia menyerupai sebuah kebun di tengah gurun yang keras, oleh karena itu semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata, “Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami daripada ia harus disembelih, dan menjadikan anak-anak kami sebagai tebusan baginya. Kami tidak akan menemukan seorangpun yang lebih baik dari dia. Pertimbangkanlah kembali masalah itu, dan biarkan kami bertanya kepada Kahin ( Peramal-dukun). Abdul Muthalib tidak mampu menghadapi tekanan ini, lalu ia mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian mereka mendatangi seorang Kahin. “Berapa taruhan yang kalian miliki? Bertanya Kahin, Mereka menjawab: “Sepuluh ekor unta.”. “Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah, jika undian datang padanya maka tambahlah sepuluh ekor unta lagi, lalu ulangilah terus undian tersebut, hingga tidak keluar lagi nama Abdullah”, perintah Kahin kepada mereka. Kemudian dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan atas sepuluh ekor unta yang besar. Undian itu pun mengeluarkan terus nama Abdullah, hingga Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, tetapi nama Abdullah keluar lagi, sehingga mereka menambah sepuluh ekor unta, sampai jumlah unta itu mencapai seratus ekor. Setelah itu, keluarlah nama unta tersebut. Maka saat itu, masyarakat demikian gembira, sampai berlinangan air mata, karena melihat Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus ekor unta di sisi Ka’bah, sebagai ganti dari Abdullah. Setelah itu, Abdul Muthalib berniat menikahkan Abdullah dengan gadis terbaik dijazirah Arab. Pada suatu hari Abdul Mutholib keluar dengan Abdullah ke rumah Wahab, di sana ia meminang untuk anaknya Aminah binti Wahab. Kemudian Aminah binti Wahab menikah dengan Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang pemuda yang paling mulia dan paling dicintai oleh orang-orang Quraisy. Dinyalakanlah api-api di gunung-gunung, agar para musafir dan para tamu mengetahui tempat diadakannya acara pernikahan antara Abdullah dan Aminah. Abdullah tinggal bersama istrinya dua bulan, hingga suatu hari ada kabar bahwa kafilah akan berangkat, lalu Abdullah pun mengikuti kafilah tersebut dan melakukan perjalanan dagang menuju Syam. Wajah Abdullah tampak berseri, ia mengucapkan selamat tinggal kepada Aminah. Setelah itu bayang-bayang wajahnya tersembunyi bersama kafilah dan mereka pun hilang. Aminah tidak mengetahui bahwa itu adalah kesempatan terakhirnya melihat suami tercinta, setelah dua bulan dari perkawinannya. Abdullah mengunjungi paman-pamannya dari kabilah bani Najar di Madinah, dan di sana ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, Abdullah, seorang pemuda yang sangat disayangi masyarakat dan keluarga karena kesholehannya meninggal dunia. Saat itu Abdullah berusia dua puluh lima tahun. Kabar kematiannya tiba-tiba tersebar dan sangat memilukan hati orang-orang yang mendengarnya, dan sampailah kabar tersebut kepada istrinya. Aminah menangis tersedu-sedu dan ia sempat menyampaikan pertanyaan pada dirinya dan tidak mengetahui jawabannya, mengapa Allah Swt menebusnya dengan seratus unta jika kemudian Dia menetapkan kematian baginya. Tidak lama kemudian, bergeraklah dirahimnya janin dengan gerakan yang amat lembut, ia mulai mengetahui bahwa ia sedang hamil. Aminah menangis dua kali, pertama ia menangis untuk dirinya sendiri dan kali ini ia menangis untuk anak yang ditinggal mati ayahnya sebelum ia sempat dilahirkan. Aminah tidak pernah membayangkan bahwa janin yang dikandungnya akan menjadi anak yatim. Inilah anak kecil yang sebelum dilahirkan telah menelan kesedihan yang berat. Dan berlalulah hari demi hari, tangisan penderitaan dan mata air Aminah telah mengering, namun kesedihannya menyerupai sebuah pohon yang tumbuh bersama kehausan. Tetapi kesedihannya itu mulai berkurang, ketika janin yang ada dalam kandungannya tidaklah memberatkan. Sementara itu pada saat mendekati hari kelahiran janin yang mulia ini, pasukan Abrahah mulai mendekati Mekah. Hal ini dikarenakan saat Abrahah membangun gereja dengan bangunan yang menakjubkan dengan niat agar orang-orang Arab berpaling dari Baitul Haram di Mekah. Ia melihat orang-orang Yaman begitu tertarik dengan gereja tersebut, tetapi ketika ia melihat orang Arab tidak tertarik terhadap gereja yang dibangunnya, maka ia berkeinginan untuk menghancurkan Ka’bah, sehingga mereka tidak lagi menuju ke Ka’bah, melainkan ke gerejanya. Akhirnya ia menyiapkan pasukan yang besar dengan persenjataan yang lengkap. Pasukan Abrahah terdiri dari kelompok gajah yang besar yang digunakannya untuk menghancurkan Ka’bah. Orang-orang Arab pun mendengar rencana tersebut. Memang orang-orang Arab saat itu terkenal sebagai penyembah berhala, meskipun demikian mereka sangat hormat terhadap Ka’bah, karena mereka meyakini bahwa mereka adalah anak-anak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pemelihara Ka’bah. Kedatangan pasukan tiba-tiba dihadang oleh seorang lelaki Yaman yang bernama Dunaher. Ia mengajak kaumnya dan dari orang-orang Arab untuk memerangi Abrahah, tetapi pasukan yang sedikit itu dapat dengan mudah dipatahkan oleh pasukan kafir yang besar itu. Kemudian Dunaher pun kalah dan menjadi tawanan Abrahah. Pasukan Abrahah tersebut juga sempat ditentang oleh Nufail bin Hubaid al-Aslami, namun Abrahah pun dapat mengalahkan mereka dan berhasil menawan Nufail. Ketika Abrahah berada di antara Taif dan Mekah, di sana ia merampas banyak harta dari kaum Quraisy, dan di antara yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim. Saat itu Abdul Muthalib adalah salah seorang pembesar Quraisy. Kedatangan utusan Abrahah di Mekah telah menimbulkan gejolak pada kabilah-kabilah. Akhirnya kaum Quraisy bergerak, begitu juga kaum Khananah. Tetapi mereka mengetahui bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan Abrahah, sehingga mereka membiarkannya, lalu tersebarlah di jazirah Arab berita tentang datangnya pasukan yang kuat. Dalam surat yang dibawa oleh utusannya itu, Abrahah menyampaikan bahwa ia tidak datang untuk memerangi mereka, namun ia datang hanya untuk menghancurkan Ka’bah, jika mereka tidak menentangnya, maka darah mereka tidak akan ditumpahkan. Lalu utusan itu menemui Abdul Muthalib, ia menceritakan tentang keinginan Abrahah. Abdul Muthalib berkata: “Kami tidak ingin memeranginya karena kami tidak memiliki kekuatan. Ka’bah adalah rumah Allah Swt yang mulia dan suci. Jika Ia mencegahnya maka itu adalah rumah-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya”. Kemudian utusan itu pergi bersama Abdul Muthalib menuju Abrahah. Abdul Muthalib memiliki kewibawaan dan kehormatan yang mengagumkan. Ketika Abrahah melihatnya, ia memberikan penghormatan dengan memuliakan dan mendudukannya di atas sebuah permadani di sisinya. Kemudian ia berkata kepada penerjemahnya: “Katakan padanya apa kebutuhannya?” Abdul Muthalib berkata: “Kebutuhanku adalah agar Abrahah mengembalikan dua ratus ekor unta yang diambilnya dariku”. Ketika Abdul Muthalib mengatakan demikian, wajah Abrahah berubah, lalu ia berkata kepada penerjemahnya: “katakan padanya sungguh aku merasa kagum ketika melihatnya, kemudian aku merasakan kehati-hatian saat berbicara dengannya, terus apakah dia (Abdul Mutholib) berbicara denganku tentang dua ratus ekor unta yang telah aku ambil, lalu dia (Abdul Mutholib) membiarkan rumah yang merupakan simbol agamanya yang akan kuhancurkan dan dia tidak mempermasalahkannya sama sekali”. Abdul Muthalib menjawab: “Aku adalah pemilik unta, sedangkan pemilik rumah itu adalah Tuhan yang akan melindunginya”. Abrahah berkata : “Dia tidak akan mampu melindunginya dariku”. Abdul Muthalib menjawab: “Lihat saja nanti”. Selesailah dialog antara Abdul Muthalib dan Abrahah. Abrahah pun mengembalikan unta yang telah dirampasnya. Abdul Muthalib pergi menemui orang-orang Quraisy dan menceritakan apa yang dialaminya, dan ia memerintahkan mereka untuk meninggalkan Mekah dan berlindung dibalik gua dan gunung, termasuk Aminah binti Wahab. Akhirnya kota Mekah dikosongkan oleh pemiliknya, kemudian Malaikat turun di bumi jazirah Arab. Abdul Muthalib berdiri dan memegangi pintu Ka’bah dan berdiri bersama dengan sekelompok orang Quraisy. Abdul Mutholib berdoa dan meminta perlindungan-Nya. Para malaikat memerintahkan pasukan gajah agar tidak melangkahkan kakinya sehingga gajah itu tetap di tempatnya. Abrahah bertanya : “Mengapa pasukan tidak bergerak?” Kemudian dikatakan kepadanya bahwa gajah-gajah menolak untuk bergerak. Abrahah mengangkat cemetinya. Dengan muka emosi, ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gajah-gajahnya. Abrahah mengangkat pandangannya ke arah langit. Mula-mula ia mengira bahwa ia melihat sekawanan awan yang hitam. Kemudian ia mengamati awan tersebut, yang ternyata bukan awan biasa, melainkan sekelompok burung yang menutupi cahaya matahari yang menyerupai awan tebal. Mereka adalah burung Ababil yang berjumlah banyak. Pasukan gajah berteriak ketakutan. Abrahah berteriak di tengah-tengah pasukannya agar pasukan gajah diusahakan untuk maju secara paksa. Pada saat itu terbukalah salah satu jendela dari jendela al-jahim, dan burung-burung itu menghujani pasukan dengan batu dari Siffil, yaitu batu yang sama yang pernah dihujankan kepada kaum Nabi Luth. Para tentara Abrahah kembali dalam keadaan binasa di mana daging-daging dan tubuh mereka berceceran dijalan. Abrahahpun mendapatkan luka dan terbelah dadanya hingga mati. Kemudian jasad para pasukannya tersebar dan berceceran di bumi, seperti tanaman yang dimakan oleh binatang. Setelah mendekati setengah abad, turunlah satu surah di Mekah yang menceritakan tentang peristiwa itu :
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kakbah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan “ada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun yang dimakan (ulat”). (QS. al-Fiil: 1-5)
Pasukan gajah yang ingin memporak-porandakan Mekah dikalahkan. Kemudian mereka dihancurkan dan Allah pemilik Kakbah melindungi rumah suci-Nya. Allah Swt sebagai Pelindung Ka’bah memeliharanya, karena adanya hikmah yang tinggi; Allah Swt melindungi Ka’bah agar tempat itu menjadi tempat yang damai bagi manusia dan supaya tempat itu menjadi pusat dari akidah yang baru dan menjadi tanah bebas yang aman dan makmur. Di tengah-tengah kegembiraan Mekah karena keselamatan penghuninya dan selamatnya Ka’bah, Aminah binti Wahab bermimpi : di suatu malam ia menyaksikan dirinya berdiri sendirian di tengah-tengah gurun, dan telah keluar dari dirinya suatu cahaya besar yang menyinari timur dan barat dan terbentang hingga langit. Aminah tiba-tiba terbangun dari tidurnya namun ia tidak mengetahui tafsir dari mimpinya. Berlalulah hari demi hari dari tahun gajah. Dan pada waktu sahur pada malam senin hari kedua belas bulan Rabiul Awal, Aminah melahirkan seorang anak lelaki, putra dari Abdillah bin Abdul Muthalib, seorang cucu dari Ismail bin Ibrahim AS. Sebelum ia dilahirkan, dunia mati karena kehausan akan cinta, rahmat, dan keadilan. Ketika jantung dunia telah terkena kekeringan maka memancarlah dari timur mata air keimanan yang jernih yang menjadi puas dengannya separo dunia. Dan mukjizat besar terjadi ketika mata air ini mengeluarkan air yang jernih dari jantung gurun yang paling tandus di dunia, yaitu gurun jazirah Arab. Anak kecil inilah yang kemudian bertanggungjawab untuk memberikan minum kepada dunia yang haus akan cinta dan keadilan. Anak ini merupakan manusia pilihan terbaik dari keluarga Bani Hasyim dan merupakan yang termuda dari keluarga ayah bundanya. Sebagaimana diketahui, Bani Hasyim adalah silsilah keturunan Adnan, bapak semua orang Arab yang berasal dari keturunan Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim as. Al-Baihaqiy mengetengahkan sebuah riwayat berasal dari Fatimah AtsTsaqafiyyah yang menyaksikan sendiri detik-detik kelahiran Muhammad Saw. Ia mengatakan: “Aku hadir dan menyaksikan sendiri kelahiran Muhammad Saw. Ketika itu ,aku melihat cahaya terang menyinari seisi rumah tempat beliau dilahirkan. Selain itu aku pun melihat beberapa buah bintang bersinar turun mendekat hingga aku merasa seolah-olah bintang-bintang itu hendak menjatuhi diriku. Pada malam kelahiran bayi tersebut, tampak berbagai tanda-tanda luar biasa. Bumi goncang dilanda gempa hingga berhala-hala yang terpancang di sekitar Kakbah jatuh bergelimpangan. Beberapa buah gereja dan biara runtuh serta balairung istana Kisra di Persia retak dan roboh, disusul oleh padamnya api sesembahan orang Majusi di Persia. Dengan padamnya api sesembahan itu, mereka cemas dan khawatir, semuanya menduga bahwa ini adalah tanda yang menunjukkan telah terjadinya peristiwa besar di dunia. Peristiwa itu tidak lain, adalah kelahiran Muhammad Saw, Di Mekah Al Musyarofah. Beberapa saat setelah beliau Saw lahir, bundanya segera mengutus seseorang menemui Abdul Muththalib, untuk menyampaikan berita gembira tentang kelahiran cucu yang telah lama dinantikan. Abdul Muththalib cepat-cepat datang dan menimang-nimang cucunya dengan bangga dan bahagia. Pada saat itulah ia memperoleh ilham dari Allah Swt supaya menamainya “Muhammad”, sebagaimana yang terdapat di dalam Taurat dan Injil. Pada masa itu tidak ada orang Arab yang bernama Muhammad selain tiga orang. Nama tersebut diberikan oleh ayah ayah mereka berdasarkan pendengaran mereka bahwa beberapa orang ahli nujum mencanangkan akan datangnya seorang Nabi di Hijaz bernama Muhammad. Kemudian mereka bernazar bila mendapat anak lelaki akan dinamai “Muhammad”. Tiga orang yang masing-masing bernama “Muhammad” itu ialah, Muhammad bin Sufyan At-Taimiy, Muhammad bin Bilal-Ausiy dan Muhammad bin Hamran al-Jahfiy. (RDK Dari berbagai sumber)

[ Atas ] [ Kembali ]

Silakan mengutip dengan mencantumkan nama almihrab.com

Comments (1) »

Wahai Idolaku Muhammad SAW, Bagian IV

Kontributor: Munzir Almusawa
Wednesday, 26 July 2006

Wahai Idolaku Muhammad SAW, Bagian IV

Siang dan malam seluruh Ummat ini ruku dan sujud, bermilyar wajah menyungkur sujud kehadirat Nya hingga akhir zaman, mereka mensucikan Nama Nya yang Maha Tunggal, merekalah yang selalu dalam naungan Rahmat dan keridhoan Nya, Sebagaimana sabda beliau saw : ?Kujadikan kesenanganku adalah shalat?. Shalat merupakan Ibadah yang paling dicintai oleh beliau saw, dan ?Shalat adalah Cahaya?, demikian sabda beliau saw pula mengenalkan Indahnya shalat, suatu ibadah yang diawali dengan Takbiratul Ihram yang membuka gerbang penghadapan dengan Rabbul ?alamin, lalu lantunan kalimat-kalimat surat Alfatihah yang bila dibaca dengan khusyu maka setiap kalimat itu dijawab oleh Raja Alam Semesta, lalu lantunan kalimatullah itu menerangi seluruh alam sanubarinya, meruntuhkan dosa-dosanya, lalu ia ruku?, bertasbih kepada Nya, bertakbir, bertahmid, lalu bersujud dibawah Naungan Kelembutan dan Kasih Sayang Nya, alangkah indahnya ibadah yang satu ini, suatu ibadah yang terangkai dari hampir seluruh bentuk Ibadah, Wudhu, Niat Mulia, Doa, Alqur?an, Takbir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Istighfar, Ruku?, Sujud, khusyu, Tuma?ninah?.., itulah shalat.., Ibadah yang paling sempurna.

Demikianlah ummat ini melakukannya siang dan malam untuk sumpah baktinya kepada Allah Pencipta Alam Semesta, Namun dalam Ibadah yang Multi Sempurna ini?, tak luput?., tak luput?, tak luput?., tak seorangpun melakukan shalat terkecuali diwajibkan Nya bersalam pada Muhammad saw?
diwajibkan Nya bersalam pada Muhammad saw?
diwajibkan Nya bersalam pada Muhammad saw?
diwajibkan Nya bersalam pada Muhammad saw?
dan diwajibkan Nya bershalawat pada Muhammad saw? ?Salam Sejahtera atasmu wahai Nabi dan Rahmat Allah dan keberkahan Nya?.?, kalimat ini merupakan kalimat yang diwajibkan Allah yang harus ada dalam Ibadah termulia ini.. Masih kah kita mengingkari kemuliaan Sang Nabi saw?,

Diriwayatkan bahwa Abu Sa?id bin Ma?la ra sedang shalat dan ia mendengar panggilan Rasul saw memanggilnya, maka Abu Sa?id meneruskan shalatnya lalu mendatangi Rasul saw dan berkata : Aku tadi sedang shalat Wahai Rasulullah.., maka Rasul saw bersabda : ?Apa yang menghalangimu dari mendatangi panggilanku?, bukankah Allah telah berfirman ?WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DATANGILAH PANGGILAN ALLAH DAN RASUL NYA BILA IA MEMANGGIL KALIAN?.(Al Anfal 24). (Shahih Bukhari hadits no.4204, 4370, 4426, 4720). Dan bahwa mendatangi panggilan Rasul saw ketika sedang shalat tak membatalkan shalat, dan mendatangi panggilan beliau lebih mesti didahulukan dari meneruskan shalat, karena panggilan beliau adalah Panggilan Allah swt, perintah beliau saw adalah perintah Allah swt, dan ucapan beliau saw adalah wahyu Allah swt…

Masih kah kita mengingkari kemuliaan Sang Nabi saw?, Diriwayatkan pula disaat perang Hunain selesai, Rasul saw memberi pada Sofwan 100 ekor unta, lalu 100 ekor lagi dan 100 ekor lagi, berkata Sofwan : ?Sungguh Ia (Rasul saw) adalah orang yang paling kubenci, namun ia tak henti hentinya memberiku sampai ia menjadi orang yang paling kucintai? (Shahih Muslim hadits no.2313). Alangkah penyantunnya Nabi kita ini, bukanlah kecintaan Sofwan karena pmberian harta, namun kebenciannya luntur menghadapi manusia mulia yang memberinya dan saat ia tak berterimakasih justru ia ditambah lagi.. dan lagi?, tidak pernah kita temukan seorang dermawan dimuka Bumi yang setelah ia memberi dan yang diberi tak berterimakasih malah ia menambahnya lagi dan lagi, dan sesekali bukanlah barang yang murah, karena harga seekor Unta hampir menyamai 40 ekor kambing, dan beliau memberikannya 100 ekor onta, (kalau seekor kambing seharga 500 ribu maka 100 ekor unta adalah 500.000 X 40 X 100 = 200 juta rupiah) dan Sofwan tak berterimakasih dan tetap membencinya, beliau menambahnya lagi 100 ekor unta, lalu menambah lagi 100 ekor unta, lunturlah Sofwan.. ia lebur.. tak ada lagi yang lebih dicintainya selain Muhammad saw..

Jadilah beliau saw ini idola para sahabat, dan dalam riwayat lain, Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469). Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw, Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini? (Shahih Bukhari hadits no.480). Alangkah besar penghormatan para sahabat pada tempat tempat yg disentuh Tubuh Rasulullah saw, Bahkan gunung Uhud mencintai beliau saw dan dicintai oleh beliau saw sebagaimana sabdanya saw : ?Gunung Uhud ini mencintai kita dan kita mencintainya? (Shahih Bukhari hadits no.3854).

Betapa Indahnya Alam semesta ini semua beridolakan Muhammaa saw, mencintai Muhammad saw, Memuliakan Muhammad saw, tak lain karena Allah telah mengumumkannya, sebagaimana Sabda beliau saw : ?Bila Allah mencintai seorang Hamba maka Allah berkata kepada Jibril as : WAHAI JIBRIL, AKU MENCINTAI FULAN MAKA CINTAILAH IA?, maka berkatalah Jibril as menyeru kepada Alam Semesta : ?Wahai Penduduk Langit, Sungguh Allah telah mencintai Fulan, maka cintailah ia, maka diberikanlah padanya Kasih sayang dimuka Bumi, maka ia dicintai dibelahan Bumi? (Shahih Bukhari hadits no.3037, 5693, 7047). Dan kita memahami bahwa Pengumuman itu terus berkumandang mengumumkan orang-orang yang dicintai Allah, dan tentunya pengumuman itu bergema terluhur dan terdahsyat saat mengumumkan Nama Muhammad saw?.!, Maka Beliau saw dicintai Gunung, dicintai batang korma, hewan, manusia, jin, malaikat, dan orang-orang mukmin.. Beruntunglah Jiwa orang orang yg mencintai Muhammad saw.

?SUNGGUH ALLAH DAN PARA MALAIKAT MELIMPAHKAN SHALAWAT ATAS NABI (saw) WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, BERSHALAWATLAH KALIAN KEPADANYA DAN BERSALAM LAH DENGAN SEMULIA MULIA SALAM? (QS Al Ahzab-56)

Comments (1) »

Wahai Idolaku Muhammad SAW, Bagian III

Kontributor: Munzir Almusawa
Monday, 03 July 2006

Wahai Idolaku Muhammad SAW, Bagian III
Penjelasan Bolehnya Membawakan Syair Pujian pada Nabi SAW di Masjid &
Kemuliaan Makam Rasulullah SAW

Maha Suci Allah, Yang Membentangkan Kerajaan Alam Semesta dengan Cahaya Kemegahan Nya, maka tegaklah Angkasa Raya Langit dan Bumi sebagai Lambang Kesempurnaan Nya Yang Maha Tunggal dalam Pengaturan, Maha Tunggal dalam Keabadian Maha Tunggal dalam Kesempurnaan, Maka Gemuruhlah Kerajaan Alam Semesta sepanjang masa bertasbih Kehadirat Nya, Menggema Angkasa Raya Mensucikan Nama Nya Yang Maha Luhur dari zaman ke zaman, Dicipta Nya keturunan Adam untuk mencapai kehidupan yang Abadi, maka akan musnahlah kerajaan Alam semesta menemui kefanaan, lebur dibawah Kehendak Nya Yang Maha Menentukan, dan tersisalah Benua Kemewahan nan Abadi dan Benua Kehinaan.

Dibangkitkan Nya Pemimpin dari para Duta Nya dimuka Bumi, Sayyidina Muhammad saw, sebaik-baik makhluk dan dipenuhi Nya dengan akhlak yang sempurna, satu-satunya makhluk yang menjadi pemimpin bagi pembawa Cahaya Keridhoan Nya yang Abadi, Maha Suci Allah swt yang menjadikan kecintaan pada Sang Nabi saw merupakan kesempurnaan Iman kepada Nya, sebagaimana sabda beliau saw : ?Tiada Sempurna Iman Kalian, sebelum aku lebih dicintainya dari anak-anaknya, ayahnya dan seluruh manusia? (Shahih Muslim).

Betapa besar kecintaan para sahabat Radhiyallahu?anhum kepada Nabi saw, sebagaimana makna cinta, berarti selalu rindu pada yang dicintainya, selalu ingin bersama kekasihnya, selalu tak ingin berpisah dengan kekasihnya, mencintai segala miliknya, bahkan apa-apa yang disentuh oleh Rasul saw menjadi mulia dimata mereka, sebagaimana riwayat Sa?ib ra, : “aku diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw” (Shahih Muslim hadits no.2345). Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata : ?Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya? (Shahih Bukhari hadits no.168), Diriwayatkan pula bahwa Abu Talhah adalah yang pertama kali mengambil rambut Rasul saw saat beliau saw bercukur (Shahih Bukhari hadits no.169)

Tentunya seorang yang dicintai akan selalu dipuji, tentunya seorang pecinta akan selalu memuji kekasihnya, dan pujian bagi sang nabi saw boleh dimana saja, tidak terkecuali di masjid, karena kecintaan pada Utusan Allah adalah kecintaan kepada Allah, dan beliau saw sendiri yang bersabda bahwa cintailah aku karena cinta kalian kepada Allah, dan dalam hadits beliau bersabda : ?tiada sempurna iman kalian sebelum aku lebih dicintainya dari anak-anaknya, dari ayahnya dan dari seluruh manusia? (Shahih Muslim hadits no.44). bahkan Imam Muslim mengatakan bahwa ?Secara Mutlak seseorang itu tidak disebut beriman kalau ia tak mencintai Nabi saw? (Shahih Muslim Juz 1 hal 67).

Hassan bin Tsabit ra selalu memuji Rasul saw didalam masjid Nabawiy, maka ketika ia sedang asyik bernasyid (nasyid, syair, qasidah, sama saja dalam bahasa arab yaitu puji-pujian pada Allah dan Rasul saw), ia sedang melantunkan syair puji-pujian pada Rasul saw, tiba-tiba Umar ra mendelikkan matanya kepada Hassan, maka berkatalah Hassan bin tsabit ra : ?Aku sudah memuji beliau (saw) ditempat ini (masjid) dan saat itu ada yang lebih mulia dari engkau (Rasul saw melihatnya dan tidak melarang)?, lalu berkata pula Hassan kepada Abu hurairah ra yang juga ada bersama mereka : ?Demi Allah bukankah Rasul saw telah berdoa untukku : WAHAI ALLAH BANTULAH IA (hassan ketika membaca syair dihadapan Rasul saw) DENGAN JIBRIL???. Maka Abu Hurairah berkata : ?Betul?, maka Umar ra pun tak lagi berani mengganggunya. (Shahih Bukhari hadits no.3040). riwayat yang sama pada Shahih Muslim hadits no.2485.

Maka jelaslah sudah bahwa Rasul saw tidak melarang puji-pujian atas Allah dan Rasul Nya di masjid, bahkan diriwayatkan bahwa Rasul saw menaruh sebuah Mimbar khusus untuk Hassan bin Tsabit ra di Masjid, untuk ia membaca Syair memuji Allah dan Rasul saw (Mustadrak Alaa Shahihain hadits no.6058, 6059), dan ketika ada orang yg tak menyukai Hassan, maka marahlah Ummulmukminin Aisyah ra, seraya berkata : ?Jangan kalian menghina Hassan, karena ia selalu memuji Rasulullah saw? (Mustadrak Alaa Shahihain hadits no.6063), berkata Imam Hakim bahwa ucapan ini shahih memenuhi syarat Shahih Bukhari dan Muslim.

Fahamlah kita bahwa Puji-Pujian pada Rasul saw, yang diantaranya Qasidah, Maulid dll merupakan hal yang dimuliakan oleh Rasul saw, bahkan Sayyidatuna Aisyah ra marah ketika ada orang yang menghina orang yang memuji Rasul saw, maka ketika di akhir zaman ini muncul kelompok yang mengharamkan puji-pujian pada Rasul saw dan nasyid/qasidah di masjid, ini menunjukkan kesempitan pemahaman mereka dalam Syariah Islamiyyah, memang betul ada hadits Rasul saw yang melarang membaca syair-syair di masjid, namun itu adalah syair-syair keduniawian yang membuat ummat lupa kepada Allah swt, bukanlah syair pujian atas Allah dan Rasul saw yang memberi semangat kepada ummat untuk semakin taat kepada Allah swt.

Comments (1) »

Wahai Idolaku Muhammad SAW, Bagian II

Kontributor: Munzir Almusawa
Friday, 05 May 2006

Wahai Idolaku Muhammad SAW, Bagian II
Dilengkapi Penjelasan Mengenai Tabarruk dan Istighatsah

Dalam artikel ini Insya Allah saya akan terus meluncurkan riwayat-riwayat mengenai Sang Nabi saw, untuk menambah pengetahuan para pengunjung website ini dan menambah kecintaan kita kepada beliau saw, Perlu kita fahami bahwa wajah Sang Idola saw adalah wajah yang dipenuhi cahaya kelembutan dan kasih sayang, karena beliau adalah pembawa Rahmat bagi sekalian alam, maka wajah beliau penuh kasih sayang, demikian pula ucapan beliau saw, perangai, tingkah laku, dan bahkan bimbingan beliau saw pun penuh dengan kasih sayang Allah swt.

Dilengkapi penjelasan mengenai Tabarruk dan Istighatsah
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa : “Rasulullah saw bila selesai shalat subuh, datanglah beberapa Khadim (ajudan/pembantu) Madinah dengan Bejana-bejana mereka yang berisi air, maka setiap kali datang kepada Rasul saw setiap bejana itu, maka Rasul saw menenggelamkan tangannya pada bejana tersebut, dan sering pula hal itu terjadi di musim dingin, maka Rasul saw tetap memasukkan jarinya pada bejana-bejana itu” (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2324).

Dari Anas ra : “Kulihat Rasulullah saw dan pencukur rambut sedang mencukur rambut beliau saw, dan para sahabat mengelilingi beliau saw, maka tak ada rambut yang terjatuh terkecuali sudah didahului tangan mereka untuk mengambilnya” (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2325).

Dari Anas ra : “Ummu sulaim ra mengambil keringat Rasul saw yang mengalir dengan handuk kulit dan memerasnya hingga mengalir disebuah mangkuk ketika beliau saw sedang tidur, maka Rasul saw terbangun dan berkata : “apa yang kau perbuat wahai Ummu Sulaim?”, maka Ummu Sulaim menjawab : “Kami ingin mengambil berkah untuk anak-anak kami Wahai Rasulullah..”, maka Rasul saw menjawab : “kau sudah mendapatkannya”. (Shahih Muslim Bab : “Wanginya keringat Nabi saw dan Tabarruk dengannya”, hadits no.2331 dan 2332).

Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw, mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).

Mengenai Tabarruk ini, sudah jelas dan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Rasul saw tak pernah melarangnya, apalagi mengatakan musyrik kepada yang melakukannya, bahkan para sahabat Radhiyallahu’anhum bertabarruk (mengambil berkah) dari Rasul saw, mengambil berkah ini pada dasarnya bukan menyembah, sebagaimana dituduhkan sebagian saudara kita muslimin, tapi merupakan Luapan kecintaan semata terhadap Rasul saw dan itu semua merupakan hal yang lumrah, sebagaimana kita membedakan air zam-zam dengan air lainnya, mengapa?, bukankah itu sama saja dengan Tabarruk dengan air yang muncul di perut bumi?, air zam-zam itu muncul dari sejak Bunda Nabiyallah Ismail as dikunjungi Jibril as.

Riwayat-riwayat diatas adalah dalil jelas bahwa Tabarruk tidak dilarang oleh Rasul saw bahkan sunnah.., bila ada sekelompok orang yang mengatakan Tabarruk itu hanya pada Rasul saw maka bagaimana Rasul saw mengusap Hajarul aswad..?, bagaimana dengan air zam-zam yang diperebutkan muslimin dan dianggap berkhasiat ini dan itu, Demi Allah belum pernah teriwayatkan para sahabat berebutan air zam-zam, mereka memang minum air zam-zam, tapi mereka berebutan air wudhu bekas Rasul saw.., dan rambut beliau saw, bahkan keringat beliau saw.., inilah luapan Mahabbah, pantas dan wajar saja bila seorang kekasih menyimpan baju kekasihnya misalnya, baju usang tak berarti itu sangat berarti bagi sang kekasih, maka istilah “dikeramatkan” dan lain sebagainya itu pada hakikatnya adalah luapan Mahabbah pada orang-orang shalih dan mulia, sebagaimana para sahabat bertabarruk dengan Rasul saw karena luapan Mahabbah (kecintaan) mereka pada Nabi saw, bukan karena ia Muhammad bin Abdillah, tapi karena beliau adalah Utusan Allah yang mengenalkan mereka kepada Hidayah dan kemuliaan, demikian pula hingga kini orang-orang muslim bertabarruk karena luapan cinta mereka pada gurunya yang bernama Kyai fulan misalnya, atau habib fulan, atau orang shalih misalnya, semata mata bukan memuliakan diri si Kyai atau habib atau guru atau si shalih, tapi semua itu disebabkan ia adalah orang yang membimbing mereka pada Keridhoan Allah, atau karena mereka orang yang shalih dan banyak ibadah kepada Allah, kalau mereka tak shalih (fasiq) niscaya tak akan ada yang mau bertabarruk padanya, maka puncak asal muasal Tabarruk adalah Kemuliaan Allah yang telah memilih hamba Nya fulan menjadi Guru atau Kyai atau Orang shalih, karena ini semua dengan Izin Allah, sebagaimana firman Nya : “Sungguh Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki Nya”, dan ayat Lain : “Tidaklah kalian memiliki keinginan (utk beristiqomah) kecuali telah dikehendaki Allah Rabbul ‘Alamien”. (QS Al Kuwwirat).

Nah.. dari Kehendak Allah yang menentukan hamba ini dimuliakan maka kita memuliakannya sebagaimana Allah memuliakannya, demikian para sahabat terhadap Rasul saw, ah.. ternyata para sahabat benar-benar asyik dengan idolanya, Idola termulia dari semua Idola sepanjang masa usia Bumi.., kita tercengang-cengang dengan betapa besarnya luapan cinta para sahabat pada Sang Nabi saw, dan ternyata Rasul saw pun memberi kesempatan pada para pecintanya untuk bertabarruk dengan air wudhu beliau saw, dengan keringat beliau saw, dan lainnya sesekali bukan karena beliau saw menghendakinya, namun dari keluasan hati beliau saw yang memahami luapan cinta para sahabat beliau saw, bila hal ini mungkar maka pastilah beliau melarangnya, dan bila hal ini dikhususkan pada Rasul saw maka beliau saw akan menjelaskannya bahwa ini hanya kekhususan bagi beliau saw sebagai Rasul saw dan tak boleh diikuti oleh selain beliau saw.

Mengenai Istighatsah, yaitu memanggil manusia untuk minta pertolongan, maka hal ini telah diceritakan oleh beliau saw bahwa kelak semua manusia ber Istighatsah kepada Adam as, lalu kepada Musa, lalu kepada Muhammad saw.., demikian dijelaskan dalam Shahih Bukhari hadits no.1405, mengenai pendapat yang mengatakan bahwa Istighatsah harus kepada orang yang dihadapannya maka pendapat ini tidak beralasan, karena perbedaan jarak tak bisa menghalangi kemuliaan seseorang di sisi Allah swt, saya bisa saja meminta pertolongan pada teman saya diluar negeri, atau minta bantuan pada seorang berkuasa di negeri seberang yang tak saya kenali misalnya, lewat email atau surat atau lainnya, ini sudah terjadi di masa kini, yaitu hubungan antar negara, maka mustahilkah Allah menghubungkan hamba Nya yang masih hidup dengan yang sudah wafat?, bukankah diwajibkan bagi kita menyolati mayyit dan mendoakannya dengan Doa “Wahai Allah ampunilah dia, maafkanlah dia, muliakanlah kewafatannya, luaskanlah kuburnya, dst didalam shalat janazah?, bukankah hadits shahih muslim dan Bukhari menjelaskan bahwa orang mati tersiksa di alam kubur karena jeritan orang yang menangisinya?, bukankah ini menunjukkan ada hubungan antara yang hidup dan yang mati?, bukankah Rasul saw mengatakan bahwa diperbolehkannya mengirim amal untuk orang yang sudah wafat? (saebagaimana diriwayatkan dalam shahih Muslim), bukankah Allah mengajari kita doa “Wahai Allah Ampunilah kami dan orang orang yang telah mendahului kami dalam beriman..?”.

Yang jelas, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Istighatsah diatas, bahwa aku dan kalian dan seluruh manusia kelak di hari kiamat akan melakukan Istighatsah.., yaitu kepada Adam as dan akhirnya kepada Muhammad saw, mau tak mau, rela tak rela, apakah menganggapnya syirik atau lainnya, namun Sayyidina Muhammad saw menjelaskan bahwa aku dan kalian dan seluruh ummatnya kelak akan ber Istighatsah kepada beliau saw.

Alangkah Indahnya sang Nabi mulia ini, dan selama kita mengakui bahwa para sahabat adalah orang-orang yang menjadi panutan kita, maka lihatlah kecintaan sahabat radhiyallahu’anhum pada beliau saw, bahkan ketika beliau wafat.., apa yang diperbuat oleh Khalifah kita Sayyidina Abubakar Asshiddiq ra?, beliau menyingkap kain penutup wajah Rasulullah saw lalu memeluk Jenazah beliau saw dan menciuminya seraya menangis dan berkata lirih : “Demi ayahku, Engkau dan Ibuku, tak akan terjadi dua kali kematian atasmu.. (maksudnya engkau tak akan merasakan sakitnya kematian lagi setelah ini). Demikian diriwayatkan didalam Shahih Bukhari (hadits no.4187).

Mengapa Abubakar Ashiddiq ra bersumpah dengan ayah ibunya dan Rasul saw?, dan berkata kata kepada Jenazah yang sudah wafat?, mengapa pula ia menangis dan menciumi jenazah itu?, mengapa menciumi jenazah orang yang sudah wafat sambil menangis?, adakah kita menemukan jawaban lain selain luapan kecintaannya pada Muhammad Rasulullah saw?, alangkah cintanya Abubakar Asshiddiq ra kepada Rasul saw, bahkan setelah wafat pun Abubakar Asshiddiq masih menciumi jenazah beliau saw, Alangkah cintanya Umar bin Khattab kepada Rasul saw hingga ia awalnya tak mau menerima kejadian wafatnya Rasul saw..?, tak percaya, dan mengingkari wafatnya Rasul saw?, mengapa?, bodohkah ia?, adakah jawaban lain selain besarnya kecintaan Umar bin Khattab ra pada Nabi saw?,

Wahai Allah Yang Maha Memenuhi sanubari para sahabat Nabi dengan kecintaan dan Asyik rindu pada Nabi Mu Muhammad saw.. Jadikan sanubari kami diterangi pula kecintaan pada Nabi Mu Muhammad saw, dan jadikanlah sanubari kami beridolakan Nabi Muhammad saw.. amiin..

Comments (1) »