Kisah Guruku, Habib Lutfi dan Seorang Ahmadiyyah yang Kembali Bersyahadat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hamba-hamba Allah sekaligus pecinta Rasulullah yang saya muliakan. Sebelum saya mulai cerita. Saya tegaskan sebelumnya bahwa ini adalah sebuah kisah nyata yang dialami oleh guru di rumah saya di kepu kemayoran. Guru saya bernama Ust. Hadi Balahmar (untuk kemudian saya singkat Ust. Hadi atau Ka hadi yang merupakan panggilan akrabnya) beliau seorang keturunan arab Yaman namun bukan ahlul bait. saya sangat mencintai beliau yang sangat sabar dalam mengajar. Demikian juga teman-teman saya. Di daerah saya pun beliau menjadi panutan bagi muslimin kemayoran. Dan sangat dihormati pula oleh masyarakat non muslim. Guru-guru beliau yang tidak asing dikalangan warga Jakarta khususnya kemayoran diantaranya KH. Maulana Kamal yusuf (paseban), Habib segaf bin Syekh Abu bakar (cakung) juga almarhum KH.M Syafi’i Hadzami (dari KH. M Syafi’i Hadzami beliau diamanatkan untuk menempati sebuah tanah waqaf yang khusus digunakan untuk ta’lim dan oleh Ust. Hadi maka Dibangunlah sebuah Madrasah bernama Madrasah diniyyah Alma’muriyah Al’asyirotussyafi’iyyah yang selain merupakan cabang Al’asyirotussyafi’iyyah juga sebagai tanda kecintaan beliau kepada sang guru KH. M. Syafi’i Hadzami) menurut saya tak heran jika guru saya Ust. Hadi memiliki akhlaq yang luhur mengingat guru-guru beliau pun memiliki akhlaq Rasulullah SAW pula.

Maka dimulailah kisah ini. Berawal dari waktu dzuhur ketika Ust. Hadi menyelesaikan shalat Dzuhur di sebuah masjid beliau melihat seorang yang mengambil air wudlu di tempat yang salah. Maka Ust Hadi pun menegur dengan lembut “maaf pak kalau mengambil air wudlu dibelakang. Disana ada tempat khusus untuk mengambil air wudlu sedangkan disini untuk menyiram tanaman dan yang lain” tegasnya. Orang itupun menuruti namun dengan gelagat yang sedikit mencurigakan seperti orang yang sedang ketakutan. Namun Ust Hadi berusaha berprasangka baik kepada orang itu kemudian beliau pulang kerumahnya.

Dilain pihak terlihat seorang pria yang sedang sibuk menanyakan tempat tinggal seorang pria arab yang baru saja meninggalkan masjid (maksudnya Ust Hadi). Pria tersebut tak lain adalah seorang yang tadi ditegur oleh Ust hadi untuk mengambil air wudlu ditempat yang seharusnya. Tanpa begitu kesulitan seorang warga yang sudah mengerti siapa yang dimaksud oleh pria tersebut kemudian menunjukkan dan mengatarkan pria tersebut kerumah Ust. Hadi.

Sesampainya disana seorang yang mengantarkan tersebut memanggil Ust Hadi dari luar pagar rumahnya. “Assalamu’alaikum Ka Hadi”(Ust hadi biasa juga dipanggil dengan Ka Hadi) “Wa’alaikum Salam” jawab Ust hadi. “ini ada orang katanya mau ketemu Ka Hadi” tegas orang yang mengantarkannya. “oh silahkan, ada pelu apa?” tanya Ust Hadi. Tiba-tiba seorang yang ingin bertemu dengan Ust Hadi tersebut mengatakan hal yang diluar dugaan “Tolong jangan pukul saya, maafkan saya, jangan pukul saya!” mendengar kata-kata yang aneh tersebut Ust Hadi menjawab “siapa yang mau pukul ente emangnya ente salah apa? Ane tanya ada perlu apa ko ane pukul? Maksud ente apa mau kesini?” jawabnya dengan nada yang sabar penuh kearifan. Orang itupun mengajukan maksud kedatangannya “saya mau masuk Islam pak Ustadz” katanya. Bertambah heranlah Ust Hadi karena sebelumnya beliau melihat orang itu mengambil air wudlu dan shalat di masjid. Ust hadi pun berbalik bertanya pada orang itu “bukannya ente tadi shalat?” orang itu menjawab “Ya tapi selama ini saya dari golongan Islam Ahmadiyyah”. Ustad Hadi pun berucap beristighfar.
Setelah mengerti apa maksud kedatangan orang tersebut yang pada akhirnya diketahui bernama Muhammad Sholeh. Ustad Hadi pun memanggil tetangga yang juga merupakan muridnya untuk dijadikan sebagai saksi persaksian dua kalimat Syahadat Muhammad Sholeh. Namun sebelum mengucap dua kalimat syahadat orang yang bernama sholeh itu berkata “Maaf Ustad. Saya tidak memiliki uang untuk masuk Islam, tolong jangan mahal-mahal ya!” dengan terheran-heran Ustad Hadi menjelaskan dengan penuh kesabaran dan kearifannya. Beliau menjelaskan kepada Muhammad Sholeh bahwa Islam yang sebenarnya yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan Bukan Mirza Ghulam Ahmad yang sesat itu tidak memungut biaya sepersen pun kepada orang yang hendak masuk Islam karena Allah SWT tidak membebani dan menghalangi dalam bentuk apapun kepada hamba yang telah diberi hidayah kepadaNya.

Sampailah pada persaksian persyahadatan Muhammad sholeh yang disaksikan oleh beberapa tetangga yang juga merupakan murid Ustad Hadi. Ketika hendak dituntun untuk mengucap dua kalimat syahadat. Muhammad sholeh dengan yakin mengucapkan dengan kalimat “Asyhadu anlaa ilaaha illallahu Wa asyhadu anna Muhammad mirza ghulam ahmad nabiyyallahu” maka tersentak kagetlah Ustad hadi beserta para saksi mendengar kalimat Syahadatain yang salah karena dalam lafaz tersebut. kalimat itu dibarengi dengan kalimat nama mirza ghulam ahmad yang notabene adalah nabi palsu yang sesat dan menyesatkan. Ustad hadi berkata “tolong ulang Syahadatain ente karena Syahadatain itu salah dan tolong buang nama Mirza Ghulam Ahmad itu karena dia itu bukan seorang nabi dan ganti kata nabiyallah itu dengan Rasulullah” tegasnya. Maka dengan penuh kesabaran Ustad Hadi menuntunnya untuk mengucap dua kalimat Syahadat yang sesungguhnya. walaupun sempat berkali-kali Muhamma Sholeh sempat mengulang kata Mirza. Namun dengan segera dibenarkan oleh ustad hadi sehingga sampailah dia kepada kalimat yang sebenarnya mengucapkan “Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”.

Setelah selesai mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pertanda bahwa ia telah masuk islam yang sebenarnya. Muhammad Sholeh mulai menceritakan kehidupan pribadinya selama ia masih berada dalam lingkungan Ahmadiyyah. Dari sinilah terbongkar berbagai penyimpangan-penyimpangan yang sangat jelas menyesatkan. Ia memang berasal dari keluarga yang menganut kepercayaan Ahmadiyyah tulen. Dia juga sudah memiliki seorang isteri dan anak. Dilingkungan Ahmadiyyah, Muhammad Sholeh dapat dikatakan seorang ustad karena dia mampu menarik seseorang sehingga ia mau masuk dalam ajaran Ahmadiyyah. Dikatakannya bahwa seseorang yang dapat merangkul atau mengajak seseorang sampai dia mau masuk ajaran Ahmadiyyah maka tingkatan/levelnya semakin tinggi dan dapat dikatakan sebagai seorang guru. dan seorang guru tersebut yang telah dapat merekrut orang orang yang baru masuk ajarannya, maka isteri-isterinya atau anak-anaknya boleh disetubuhi oleh orang yang merekrut tersebut. Na’udzubillah…, ketika ditanya oleh Ust Hadi “ente kan tahu kalau secara logika saja hal itu sangat tercela, tapi kenapa ente ikut saja dengan ajaran itu tanpa berfikir lagi..” dijawabnya “memang sudah ajarannya dari sana seperti itu dan saya tidak berani membantahnya” Ustad Hadi pun beristighfar dan menjelaskan bahwa itu adalah perbuatan yang Haram dan Islam sangat memuliakan wanita hingga menyentuh yang bukan muhrim saja dilarang demi kehormatannya.

Disamping itu Muhammad Sholeh juga mengatakan bahwa ia juga telah menunaikan Ibadah haji. Namun hajinya itu bukan dilakukan di Makkah Almukarromah melainkan di Pakistan ditempat makam Mirza Ghulam Ahmad sang nabi palsu. Dikatakan seseorang yang mengelilingi kuburannya Mirza Laknatullah itu pada waktu haji (waktu haji versi Ahmadiyyah) maka dapat dikatakan bahwa seorang itu mendapat predikat haji. Ketika Ustad hadi bertanya mengapa ia mau saja mengikuti hal itu karena pada umumnya ummat muslim melakukan haji di Makkah Almukarromah bukan di Pakistan. Orang itu pun menjawab seperti jawaban yang sama karena sudah dari sana ajarannya seperti itu dan tida berani membantahnya. Ustad Hadi pun segera meluruskan pemahamannya itu.
Muhammad Sholeh sang mantan pengikut Ahmadiyyah itu mengatakan lagi. Bahwa Ahmadiyyah juga memiliki kitab suci yang bertuliskan arab namun kitab itu bukan bernamakan kitab Al-Qur’an melainkan kitab Al-Muzakaroh yang katanya sebagian besar adalah wahyu yang didapat oleh Mirza sang nabi palsu. Ia pun menceritakan kepada Ustad Hadi bahwa semakin lama ia semakin menyadari bahwa ia sepertinya telah terjerumus kedalam ajaran yang menyesatkan. Kemudian barulah ia berusaha mencari sebuah kebenaran.

Secercah Hidayah dari Allah itu akhirnya datang juga. Bermula dari sebuah gerbong kereta api pada suatu hari ketika ia hendak pergi ke suatu tempat. Dikereta api tersebut ia bertemu seseorang yang dianggapnya mampu menanyakan berbagai hal yang selama ini menjadi tanda tanya besar dalam dirinya. Orang tersebut bernama Ustad Lutfi yang sebenarnya adalah Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan. Seorang Ulama besar Pekalongan yang terkenal dengan tarekatnya itu. Seperti kita ketahui Habib Lutfi juga menjadi pengasuh rubrik tanya jawab masalah spiritual di majalah Alkisah. Namun Muhammad Sholeh belum menyadari bahwa yang berhadapan dengannya ialah Habib Lutfi bin Yahya seorang ulama besar. Ustad Hadipun belum menyadari bahwa yang dimaksud oleh Muhammad Sholeh itu adalah Habib Lutfi bin Yahya. Karena yang Muhammad sholeh katakan bahwa orang itu bernama Ustad Lutfi dan beliau memiliki pesantren di pekalongan. Hanya itu.Dari Habib Lutfi itulah ia mendapatkan berbagai wawasan mengenai islam yang sesungguhnya. Dan ia menyadari bahwa ia telah terjerumus dalam kesesatan. Dan oleh Habib Lutfi, Muhammad Sholeh diperintahkan agar segera mencari seorang yang tepat untuk kembali mengucapkan Syahadatain. Selain itu Habib Lutfi memberikan alamat rumah kepadanya. Maka sampailah ia kepada Ustad Hadi dan mengucap dua kalimat syahadat seperti yang diceritakan

“Setelah ini ente mau kemana?” tanya Ustad Hadi. “saya sekarang mau mencoba ke rumah Ustad Lutfi dipekalongan, memang sangar berat meninggalkan anak isteri, namun keinginan saya untuk bertemu kembali dengan Ust Lutfi lebih kuat” jawabnya. Setelah itu Muhammad Sholeh segera pamit dari rumahnya. Waktu pun berlalu hingga sampailah pada waktu Hari raya Iedul Fitri 1427 H. ketika Ustad Hadi sedang merayakan hari kemenangan itu bersama keluarganya. Tiba-tiba datang seorang pemuda berumur tiga puluhan mengucapkan salam didepan rumahnya. Setelah menjawab salam Ust Hadi segera menghampiri datangnya suara panggilan tersebut. Setelah dilihatnya ternyata orang itu adalah Muhammad Sholeh. Maka segeranya dengan senang hati ia dipersilahkan masuk.

Setelah dipersilahkan masuk dengan jamuan yang disediakan. Ustad hadi menanyakan kabar Muhammad Sholeh sekarang dan maksud kedatangannya. Muhammad Sholeh bercerita bahwa Alhamdulillah ia baik-baik saja dan sekarang ini ternyata ia tinggal di pekalongan tepatnya dipesantren yang dipimpin oleh Habib Lutfi. Dan selama ini ia baik-baik saja tinggal disana. Ia juga memuji keilmuan gurunya serta keluhuran budi pekerti Habib Lutfi serta beberapa hal yang terjadi pada diri Habib Lutfi berkenaan dengan ilmunya yang tinggi yang belum berani saya sampaikan disini. maksud kedatangan Muhammad Sholeh ialah hanya menyampaikan amanat dari gurunya Habib Lutfi untuk menyampaikan salam kepada guru saya Ustad Hadi. Ustad Hadi pun mengucapkan Wa’alaikumussalam untuk Habib Lutfi kepadanya. Bukan hanya itu ternyata Muhammad Sholeh juga mengatakan bahwa Habib Lutfi ingin sekali bertemu berkunjung kerumah Ustad Hadi . Mendengar keinginan gurunya itu, Ustad Hadi pun termenung sejenak dan dengan berat hati menolak permintaanya itu. Karena menurut pikirannya ia merasa tidak pantas dikunjungi oleh seorang Ulama terlebih dari kota yang jauh apalagi memiliki pesantren. Maka dijawabnya oleh Ustad Hadi agar beliau saja yang pergi bersilaturahmi dengan Habib Lutfi di pekalongan bersama beberapa muridnya. Insya Allah

Perlu anda ketahui bahwa sebenarnya guru saya Ustad Hadi belum mengenal Habib Lutfi bin Yahya. Bahkan ia tidak tahu kalau ada seorang Habib yang bernama Habib Lutfi. Karena pada waktu itu ketika Ustad Hadi bercerita kepada pada waktu pengajian rutin mengenai kedatangan seorang mantan Ahmadiyyah yakni Muhammad Sholeh. Serta keinginan kedatangan Habib Lutfi kerumahnya, ia bersikap seperti biasa dan memang ia sudah menolak dengan alasan kurang adab dan meminta agar dia saja yang berkunjung ke pesantren Habib Lutfi. Namun ada seorang muridnya yang tampaknya menyadari bahwa yang dimaksud Habib Lutfi dari pekalongan ialah Habib Lutfi bin Yahya. Maka ia pun segera mengambil majalah Alkisah. Yang terdapat fotonya di rubrik tanya jawab spiritual.

Setelah ditunjukkannya foto Habib Lutfi dimajalah Alkisah. Guru saya Ustad Hadi tersentak kaget. Ia tidak mengira bahwa yang dimaksud Habib Lutfi ternyata adalah Ulama besar jauh dari perkiraannya. Bahkan selain ulama besar juga termasyhur di nusantara melalui tarekatnya. Salah seorang murid beliau mengatakan bahwa Habib Lutfi juga seorang Ahlul kasyaf sehingga terdengar seletukan “wah.. kalau Habib Lutfi datang kesini kita bisa diterawang nih!, Ka Hadi sich enak orang baik nah…. kita-kita ini banyak dosanya..gimana mau ketemu beliau” kata murid Ustad Hadi bercanda. Seorang murid yang lain menambahkan “Habib Lutfi itu murid-muridnya banyak loh Ka Hadi. kalau beliau ke jakarta pasti banyak yang ngikutin, apalagi kalau ke Madrasah ini, bakal rame nich gang dua (maksudnya rumah Ustad Hadi).” seorang teman yang lain menambahkan “Ka Hadi bakal terkenal nich”. Suasana pengajian pun menjadi ramai penuh canda. Namun di dalam hati mereka sebagai murid Ustad Hadi ada perasaan bangga karena mendapat pengalaman yang sangat berharga. Selain mengembalikan hamba Allah yang tersesat kejalan yang benar, beliau juga dikenal oleh ulama yang terkenal yang beliau sendiri belum mengenalnya. Bagi saya pribadi itu adalah salah satu keistimewaan dan hasil keikhlasan beliau dalam berdakwah.

Ditengah-tengah pembicaraan muridnya, Ustad Hadi pun berkata “tenang.. saya kan sudah bilang sama Muhammad Sholeh agar biar saya saja yang berkunjung. ya dengan teman-teman deh” (Ustad Hadi sering menyebut murid-muridnya dengan kata “teman”). “tapi sebelum itu ente musti tobat dulu yang bener biar gak diterawang sama Habib Lutfi” kata beliau lagi sambil bercanda. Maka mereka pun segera berniat melakukan perjalanan ke pekalongan untuk bersilaturahmi dengan Habib Lutfi dan murid-murid beliau khususnya Muhammad Sholeh walaupun tidak dijadwalkan kapan tepatnya. Karena beliau sendiri Insya Allah dalam waktu dekat ini akan menunaikan ibadah haji. Dan perlu anda ketahui pula bahwa Ustad Hadi dapat menunaikan ibadah haji tersebut karena diajak dan didaftarkan oleh muridnya yang terbilang kaya. Bagi saya ini juga adalah buah dari keikhlasan beliau dalam berdakwah sehingga mendapat kenikmatan panggilan dari Allah untuk menunaikan ibadah haji tanpa diduga-duganya.

Itulah cerita yang dapat saya sampaikan. Sungguh cerita ini adalah cerita nyata tanpa dibuat-buat. Semoga dari cerita ini dapat kita ambil hikmah yang terkandung didalamnya. Dan doakanlah guru saya Ustad Hadi Balahmar agar Allah memudahkan urusannya khususnya dalam perjalanannya menuju tanah suci semoga mendapatkan haji mabrur dan pulang tanpa kekurangan apapun. Semoga Allah juga memanjangkan umur kepada Habib Lutfi bin Yahya semoga Allah memuliakan umurnya dalam kebaikan juga kepada Muhammad Sholeh semoga beliau dimatikan dalam ditetapkan iman dan taqwanya serta mati dalam keadaan Husnul Khotimah.
Ilaaa Hadrotinnabi AL-FATIHAH…..

Regards,

Dailami Firdaus
(pippo_ami@…)
Kemayoran

1 Response so far »

  1. 1

    indra said,

    yang tahu seseorang itu wali atau bukan, ya hanya wali yg tahu (Org awam gak akan tahu/membedakan seseorang yg telah mencapai drajat wali)


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: