Lebih Jauh Mengenal Ahlus Sunah Wal Jama’ah

Bismillahirrohmanirrohim, puji dan syukur senantiasa terhaturkan kehadirat Allah SWT, yang tak henti­ hentinya melimpahkan anugerah­Nya kepada kita sekalian baik yang bersifat dzahir maupun bathin. Adapun sebesar-besar nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita adalah nikmat Islam dan Iman, berkata Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad r.a.

Kita berada dalam kesenangan dan ketenangan

Dalam kebahagiaan dan ketentraman

Nikmat Islam, nikmat yang paling besar

Telah menetap dalam hati kita

Semoga Allah senantiasa menjaga nikmat yang agung itu dalam diri kita. Sholawat serta Salam semoga tetap tercurahkan keharibaan junjungan Nabi Besar Muhammad s.a.w. beserta keluarga, sahabat dan para pengikut­nya.

Para pembaca yang budiman, Seyogyanya sebagai seorang mukmin yang menginginkan kebaikan dan keselamatan dunia dan akherat, kita selalu menjaga dengan baik sesuatu yang paling berharga dalam diri kita,yaitu Iman dari berbagai hal yang dapat merusak dan melemahkannya.

Atas dasar itulah kami Pemuda Nabawiy melalui rubrik ruang tauhid kali ini, ingin mengetengahkan kehadapan para pembaca berbagai hal yang berkaitan dengan pemahaman tentang aqidah AHLUS SUNNAH WALJAMAAH dan berbagai penyimpangan aqidah yang terjadi ditengah-tengah umat ini, dengan harapan kita akan dapat memperkokoh aqidah AHLUS SUNNAH WALJAMAAH serta menghindarkan diri dari segala bentuk ajaran yang menyesatkan. Berkata para ulama : “Barang siapa yang tidak mengetahui suatu keburukan, maka dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalamnya”.

Sebelum kami membahas lebih lanjut tentang tema diatas, terlebih dahulu akan kami sampaikan sebuah hadits Nabi s.a.w., Beliau bersabda “Orang Yahudi terpecah menjadi 71 golongan dan orang Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, adapun umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. (HR: Bukhori – Muslim – Abu Daud -Turmudzi-Nasai’ dan IbnuMajah)

Dalam riwayat lain ditambahkan “kesemuanya berada dalam neraka kecuali golongan yang tetap berpegang teguh pada ajaran-ku dan ajaran para sahabat-ku”

72 golongan yang dinyatakan oleh Nabi s.a.w. berada dalam neraka adalah kelompok-kelompok sesat, namun jumlah mereka belum seberapa jika dibandingkan dengan satu golongan yang selamat yang disebut dengan Assawadul A’dhom (kelompok mayoritas).

Berikut ini akan kami sampaikan kepada para pembaca tentang macam ­macam dari kelompok tersebut. Mengutip dari apa yang disampaikan oleh Al-Allamah Al-Habib Ali bin Abubakar Assegaf Al-Alawy dalam kitabnya Ma’arijul Hidayah, yang juga dikutip dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin.

“Berhati-hatilah engkau wahai saudaraku dari segala bentuk bid’ah dan orang-orangnya, dan jauhilah olehmu untuk berkumpul dengan mereka. Ketahuilah bahwa sumber­sumber bid’ah dalam masalah aqidah sebagaimana dituturkan oleh para ulama kembali kepada 7 kelompok

· Al-Mu’tazilah, yang berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri, mereka juga menafikan ru’yah (melihat Allah) bagi orang-orang mukmin dan mewajibkan kepada Allah untuk memberi pahala bagi yang beribadah serta dosa bagi yang bermaksiat. Karena jika tidak, mereka akan menyatakan bahwa Allah tidak adil atau dzolim. Mereka ada 20 golongan.

· Ar-Rowafid, yang mengkultuskan Imam Ali bin Abi Thalib k.w. dan membenci bahkan mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi s.a.w. Mereka ada 22 golongan.

· Al-Khowarij, kelompok yang antipati kepada Imam Ali k.w., bahkan mengkafirkan beliau, juga mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar. Mereka terpecahmenjadi20golongan.

· Al-Murji’ah, yang berpendapat bahwa kemaksiatan tidak mempengaruhi iman dan ketaatan, tak dapat bermanfaat dengan kekufuran. Mereka ada 5 golongan.

· An-Nijjariah, mereka sepakat dengan ahlus sunnah dalam hal bahwa Allah yang menciptakan perbuatan manusia. Disisi lain mereka setuju dengan muktazilah dalam menafikkan sifat-sifat Allah yang azali, dan menyatakan bahwa Al-quran itu sesuatu yang hadist (bukan qodim), dengan kata lain Al-quran adalah makhluk bukan kalamullah. Mereka ada 3 golongan.

· Al-Jabariyah, yang menyatakan bahwa setiap hamba tidak boleh / tidak perlu untuk berikhtiar. Mereka hanya satu golongan.

· Al-Musyabbihah, yang menyamakan Allah dengan makhluk dalam hal memiliki anggota badan, dan bertempat disuatu tempat. Mereka juga disebut ahlul khulul, dan hanya satu kelompok.

Dengan demikian jumlah mereka ada 72 golongan, adapun kelompok yang ke 73 adalah AHLUS SUNNAH WALJAMAAH yang berisikan ajaran-ajaran dzahir yang menjadi syari’at bagi umat, dan ajaran-ajaran yang bersifat bathin yang disebut dengan tharigoh yang diperuntukkan bagi kalangan tertentu (khowass), dan memiliki qulasoh yang dikhususkan bagi suatu haqiqoh yang menjadi tangga kenaikan derajad bagi kalangan yang tertinggi (akhossul khossoh).

Syariat menjadi bagian bagi aggota badan kita untuk berkhidmat kepada Allah SWT, adapun tharigoh akan menjadi bagian bagi hati yang berisikan ilmu, makrifah, dan hikmah. Sedangkan haqiqoh adalah bagian bagi arwah untuk mendapatkan musyahadah dan ru’yah (menyaksikan keagungan Allah).

Kini kami akan mencoba untuk menjelaskan lebih lanj ut tentang latar belakang lahirnya AHLUS SUNNAH WALJAMAAH .

Para pembaca yang budiman, sesungguhnya kaum muslimin pada masa hidup Nabi Muhammad s.a.w. Adalah umat yang satu (umatun wahidah), mereka tak pernah berselisih baik dalam akidah maupun amaliyah yang dzohir dengan perselisian yang menyebabkan perpecahan dan pertikaian (tahazzub & taassub). Kalaupun ada perbedaan hanyalah sebatas masalah-masalah furu’iyah (non aqidah), dan itu dikarenakan terjadi perbedaan antara satu orang dengan yang lain dalam memahami sabda-sabda Nabi s.a.w. Inilah yang disebut dengan ikhtilafat­ijtihadiah.

Adapun sepeninggal Nabi s.a.w., maka Sayyidina Abubakar r.a. menjadi khalifah, sekalipun dimasa kekhalifaan beliau sempat terjadi perselisisn-perselisihan kecil tentang beberapa hal. Namun itu semua tiada berarti, karena kepemimpinan Abubakar r.a. mampu meredam perselisian yang terjadi.

Demikian juga ketika jabatan khalifah berada pada tangan Sayyidina Umar bin Khattob r.a.

Dan pada saat Sayyidina Ustman bin Afan r.a. tampil sebagai khalifah, perselisihan diantara sahabat mulai muncul kepermukaan. Sudah barang tentu orang-orang yang membenci Ustman bin Affan r.a. selalu berusaha untuk melengserkan beliau dari jabatannya dengan melemparkan tuduhan-tuduhan jahat. Sehingga pada puncaknya Sayyidina Ustman r.a. wafat karena dibunuh sebagaimana pembunuhan yang menimpa Sayyidina Umar bin Khattob r.a.

Barulah setelah itu Imam Ali bin Abi Thalib k.w. di Baiat sebagai khalifah ke empat. Namun naiknya Imam Ali k.w. kekursi khilafah diganjal oleh Muawiyah dan kelompoknya. Ketika itu Muawiyah r.a. didaulat oleh kelompoknya untuk menjadi khalifah keempat, dan bagi mereka pembunuhan terhadap Sayyidina Ustman r:a. harus diusut dengan tuntas sebelum pengangkatan khalifah. Namun tampaknya sosok Imam Ali bin Abi Thalib lah yang lebih mendapat dukungan mayoritas untuk menjadi khalifah .Bagi Imam Ali k.w. dan para pendukungnya, dalam masalah pengangkatan khalifah dan pembentukan sebuah pemerintahan harus didahulukan sebelum mengusut pembunuhan Sayyidina Ustman r.a., hal ini guna menghindari kevakuman.

Rupanya perselisihan kedua pihak ini dimanfaatkan oleh para provokator yang ingin memancing di airkeruh, hinggaterjadilahbentrokan fisik antara kedua kelompok yang disebut dengan peperangan siffin.

Adapun Muawiyah dan kelompoknya dianggap sebagai kelompok bughot (kelompok yang menentang pemerintaan yang sah) pada saat pasukan Muawiyah terdesak mereka mengangkat Al­Qur’an dengan tombak sebagai tanda menyerah.

Ketika itu Imam Ali k.w. segera menghentikan peperangan. Akan tetapi sebagian dari pengikut beliau ingin agar perang diteruskan sampai darah penghabisan. Karena adanya dua pendapat inilah beliau k.w. memutuskan untuk melibatkan dua orang dari masing-masing kelompok yang dianggap layak menjadi penengah, yaitu : Abu Musa Al­Asy’ari (dari kelompok Imam All k.w.) dan Amr bin Ash (dari kelompok Muawiyah). Pada akhirnya perdamaianlah yang menjadi keputusan final.

Sebagian orang yang tadinya menginginkan agar perang diteruskan merasa aspirasinya tidak tertampung, lalu mereka membelot dari Imam Ali k.w.dengan membentuk kelompok sendiri, dan mereka menamakan diri sebagai kelompok khowarij yang dikenal sebagai kelompok yang antipati terhadap Iman Ali bin Abi Thalib k.w. Mereka tidak segan-segan menghujat, bahkan mengkafirkan Iman Ali k.w. serta pengikutnya. Dalam situasi inilah muncul si raja provokator yang bernama Abdullah bin Saba’. Tanpa henti-hentinya ia memprovokasi dan menghasut para pengikut Imam Ali k.w. agar melakukan pembelaan sebagai reaksi atas kelompok Khowarij. Rupanya usaha dari Abdullah bin Saba’ ini membawa hasil hingga akhirnya ia dan para pengikutnya yang mengaku sebagai pembela Iman Ali k.w. membentuk kelompok sendiri yang menamakan diri sebagai kelompok Saba’iyyah. Mereka bukannya membela Imam Ali k.w. dalam artian yang positif, akan tetapi mereka justru melakukan penyimpangan aqidah dengan menuhankan Iman Ali k.w.

Kelompok inilah yang menjadi cikal bakal munculnya kelompok Rowafid.

Imam Ali k.w. pun tidak tinggal diam, beliau lalu memerangi kelompok tersebut hingga Ibnu Saba’ diasingkan oleh beliau ke sebuah tempat. Sepeninggal Imam Ali k.w., kelompok ini berkembang dan terpecah menjadi beberapa kelompok, diantaranya adalah Zaidiyah, Imamiyah, Kaisaniyah, dan Ghulah, hingga menjadi 22 golongan. Mereka saling mengkafirkan antara yang satu dengan lainnya.

Demikian pula yang terjadi dengan kelompok Khawarij. Mereka terpecah menjadi 20 sempalan.

Hal ini terus berlangsung sampai munculnya kelompok Qadariyah pada zaman Muta’akhirin dari sahabat. Kelompok mereka ini telah dinyatakan oleh Nabi s.a.w. sebelumnya sebagai Majusi umat ini. Para sahabat yang ada pada saat itu, seperti Ibnu Umar, Jabir Al-Anshari, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Anas bin Malik Radhiallahu’anhum. Mereka mewasiatkan pada para penerusnya agar tidak memberi salam kepada kelompok Qadariyah, juga melarang mensholati jenazah mereka, serta mengunjungi orang yang sakit dari mereka.

Pada zaman para tabi’in tepatnya pada masa Imam Hasan Al-Basri r.a., muncullah orang yang bernama Wasil bin Atho’ dan Amr bin Ubeid bin Babin yang membawa khilaf dalam masalah takdir. Diantara pendapat mereka adalah bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri, juga menyatakan orang yang fasiq (melakukan dosa besar), mereka dinyatakan bukan sebagai mukmin bukan pula sebagai orang kafir. Ini yang disebut dengan manzilah bainal manzilatain . Mereka berdua diusir oleh Imam Hasan Al-Basri r.a. dari majlisnya, lalu membentuk kelompok Mu’tazilah (Ahlul adlwattauhid).

Maka sejak itu lahirlah nama Ahlus Sunnah Wal Jamaah untuk membedakan dari kelompok­kelompok yang lain, dan sebagai satu­satunya kelompok yang tetap berpegang teguh padaAssunnah,juga mengikuti serta melestarikan ajaran para salaf (sahabat). Baik dalam aqidah maupun amaliyah. Sebagai kelompok mayoritas Ahlus SunnahWaljama’ah memiliki ciri tersendiri dalam ajaranya yang jauh dari kedengkian dan kesesatan.

Sebagai Alfirqotun-najiyah, banyak sekali tokoh-tokoh yang membina lahirnya Ahli Sunnah Waljamaah, diantaranya adalah para Ashabul Madzahib, seperti : Iman Syafi’i, Iman Malik, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Abu Hanifah.

Ahlus Sunnah Waljamaah berada dalam satu naungan aqidah, sedang dalam segi syari’ah (masalah ­masalah furu’iah) sekalipun ada perbedaan disana-sini, hanyalah sebatas perbedaan ijtihad sesuai dengan madzhab yang diikuti dari empat macam madzhab tersebut diatas. Dengan tetap berpegang pada sumber-sumber hukum Islam (Al­Quran, Assunnah, Ijma’, Qiyas para Mujtahidin) bukan perbedaan yang menimbulkan perpecahan, apalagi sampai mengkafirkan dan menganggap sesat golongan yang berbeda, seperti yang terjadi pada kelompok-kelompok selain Ahlus Sunnah Walj amaah.

Dari sekian banyak tokoh-tokoh Ahlus Sunnah Waljamaah ada yang menyibukkan dirinya dalam urusan Fiqhiyah, dan mereka disebut para Fuqoha seperti empat iman diatas, sekalipun mereka orang-orang yang memiliki andil yang cukup besar dalam masalah-masalah aqidah dan tasawuf, akan tetapi tuntutan zaman pada saat itu membuat mereka memberikan perhatian yang besar terhadap urusan-urusan syar’i.

Adapun diantara mereka yang lebih menitik beratkan pada masalah­masalah aqidah disebut sebagai mutakalimin (ahlul kalam). Adapula yang lebih berkompeten dalam masalah-masalah bathiniyah / pembenahan hati, dan mereka itulah yang disebut Sufi (ahli tasawuf), ada juga yang disebut Ahlul Hadits dan Ahlul Tafsir (Muhaditsin dan Mufassirin).

Mereka semua adalah aset terbesar bagi umat ini dan bagi Ahlus Sunnah Walj ama’ ah khususnya. Mereka telah berjasa dalam memperkaya khasanah keilmuan bagi agama ini, mereka juga telah mengabdikan diri dalam meluruskan penyimpangan­penyimpangan yang terjadi ditengah­tengah umat ini, hingga keberadaan mereka telah meminimalisir perpecahan umat.

Kebesaran Ahlus Sunnah Waljama’ah semakin kokoh dengan munculnya dua orang tokoh, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansyur Al-Maturidi. Kedua tokoh inilah yang telah berjasa dalam menetapkan pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah.

Pengikut Al-Asy’ari adalah para penganut madzhab Sayafii, sedangkan pengikut Al-Maturidi adalah para penganut madzhab Abu Hanifah, tidak ada perbedaan yang berarti diantara mereka.

Bagi kita umat Islam Indonesia mayoritas adalah para penganut madzhab Syafii dalam syari’ah dan Asy’ari dalam aqidah. Demikian juga dengan mayoritas para Habaib (Alawiyyin) yang ada di Hadramaut. Sebagian dari mereka ada yang datang ke Indonesia guna berda’wah dengan menanamkan pokok-pokok ajaran dari kedua Imam tersebut. Dapat kita lihat dari berbagai kitab hasil karya mereka yang telah memperkenalkan kepada kita madzhab Syafii dalam Fiqh dan Asy’ari dalam tauhid.

Dengan menyesal kami belum dapat menguraikannya pada edisi kali ini, dan Insya Allah Pemuda Nabawiy akan mengulasnya pada edisi mendatang, sebagai upaya menjaga aqidah kita dari hal-hal yang menyesatkan. Semoga Allah senantiasa menjaga diri dan keluarga kita dari para-para Ahlul Bid’ah Waddolalah.

(Ust. Abubakar Hasan Ass.)-Pemuda Nabawiy Vol.1, No.5, September 2002 / Rajab 1423 H.

8 Tanggapan so far »

  1. 1

    Mochammad Baagil said,

    Assalamualaikum wr.wb

    Semoga Allah Melindungi kaum muslimin dari perpecahan dan adu domba.

    Afwan, saya membaca sejarah tentang tumbuhnya kaum khawarij. Namun, ada beberapa poin yang ingin saya tanyakan.

    1. Apakah Imam Ali benar mengajak berunding Amr bin Ash? sepanjang pemahaman saya, Imam Ali justru meminta untuk melanjutkan peperangan dan sekolompok pengikut Imam Ali (yang nantinya menjadi kelompok Khawarij) meminta Imam Ali untuk menghentikan peperangan karena Amr bin Ash mengangkat Al Qur’an untuk Tahkim. Dia (Amr bin Ash) adalah org pertama yang menggunakan Al Quran (Kitab) untuk menyerang Al Qur’an yang berjalan (Imam Ali).

    2. Apakah benar Abu Musa Al Asyari pilihan Imam Ali? Sepanjang pengetahuan saya, Abu Musa Al Asyari bukan orang pilihan Imam Ali, Imam Ali memlih Malik Asytar (komandan perangnya) yang hampir menang, jika saja Amr bin ash tidak memperdaya Muslimin dengan mengangkat Al Qur’an untuk tahkim. Namun mereka menolak. Imam Memilih Ibnu Abbas, namun mereka juga menolak, dan mereka memilih orang yang terlihat seperti alim, yaitu Abu Musa Al Asyari, yang akhirnya tertipu sendiri oleh bujukan Amr bin Ash untuk mencopot Imam Ali.

    3. Darimana anda nyatakan Imamiyah/ zaidiyah yang lain2 adalah pecahan dari kelompok ghulat yang menuhankan Imam Ali? Jelas mereka yang menuhankan Imam Ali adalah orang2 yang syirik dan berdosa besar. Termasuk mereka yang menganggap Imam Ali lebih mulia dari RAsulullah saw, mereka jelas tidak waras.

    4. Imam Besar madzhab Ahlu sunnah yang mulia adalah diantaranya Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal, mereka berguru dengan Imam Ja’far Shadiq (Imam ke-6 madzhab Syiah itsna Asyariyah). apakah anda menganggap mereka berguru kepada orang yang sesat?

    Saudara-saudara saya yang mulia, Ahlusunnah wal jamaah, saya yakin ini adalah diskusi Ilmiah dan tidak untuk ditujukan kepada kaum awam. Pemahaman dan tingkat emosional setiap orang berbeda. Saya sangat berharap kita tidak memberikan wacana2 kita kepada semua orang tanpa pandang bulu. Ditengah usaha kita semua merajut ukhuwah Islamiyah, ditengah usaha2 si setan besar (Amerika) dan Israel (Al mautu lil Israil!) kita harus mampu memilah kata2 yang tepat untuk disampaikan di forum yang tepat. Sunnah dan Syiah tidak memiliki cara pandang yang sama. Dikalangan syiah ada yang keterlaluan dalam penilainnya dan cara bicaranya thdp orang yang berada diluar madzhabnya dan demikian juga dikalangan ahlusunnah. Tidak mungkin kita menilai syiah hanya karena sebagian orang syiah bersikap dan tidak mungkin orang2 syiah menilai kalangan ahlusunnah hanya karena sikap dari segilintir orang ahlusunnah yang mencemarkan dan mengatasnamakan ahlusunnah yang mulia dan tercinta. Bukankah Jika Allah mau kita dijadikan ummat yang satu? tapi Allah hendak menguji kita siapa diantara kita yang paling bertakwa kepada Allah…

    Wallahu a’lam bishowab.

    Mochammad Baagil

    P.S:
    (Bib Jamal, gmn kabar antum? kher? ana Mochammad bin Usman Abdullah Baagil – Kudus)

  2. 2

    dollah athos said,

    Ahli sunnah bukan sekedar ungkapan . tapi yang terpenting menurut alfaqir siapakah yang bisa di katakan ahlu sunnah waljamaah. semua orang dapat mengaku ahlu sunnah hanya dengan berpuasa senin kamis. siapakah ahlusunnah siapakah waljamaah?

  3. 3

    dollah athos said,

    Ahli sunnah bukan sekedar ungkapan . tapi yang terpenting menurut alfaqir siapakah yang bisa di katakan ahlu sunnah waljamaah. semua orang dapat mengaku ahlu sunnah hanya dengan berpuasa senin kamis. siapakah ahlusunnah siapakah waljamaah?

    alfaqir ahad min talaamiz habib abdurrahman asegaf
    bukit duri almarhum almagfurlah

  4. 4

    Ahlusunnah Waljamaah… sebuah nama yang syarat dengan tanggungjawab.

  5. 5

    Mochammad Baagil said,

    Menurut saya, Ahlu sunnah ya yang mengamalkan Sunnah Rasulullah saww. Adapaun Kriteria Sunnah itu berbeda2 setiap madzhab seharusnya ada titik temu nya. Misalkan, Rasulullah berakhlak thdp sesama muslim (bahkan thdp orang2 ahlulkitab) jadi kita, paling tidak, berakhlak sesama saudara2 kita sesama muslim. Kalo yang dicari perbedaan pandangan tentang apakah ini sunnah Rasulullah atau tdk, apakah itu sunnah Rasulullah atau tidak ya yang ada akhlaq kita yang hilang. Walhasil inginnya mengikuti sunnah Rasulullah tapi malah Sunnah Rasulullah dalam hal akhlak tidak diikuti. Saya setuju2 saja pembahasan dan dialog antar madzhab, tapi bukan untuk mencari perbedaan, tapi mencari titik temu. Yang saya lihat, Khususnya di Indonesia, Yang sunni dan Syi’i masing2 punya garis keras dan yang menonjol yang garis kerasnya ini. Ironisnya pertentangan yang ada malah antar habaib. Keif!!!Cuma masalah beda tradisi, beda bacaan, beda gerakan bisa saling mengkafirkan.. Yang syi’i tidak usah merasa menjadi Ayatullah, yang sunni ngga usah merasa menjadi marja’ul a’la..
    Antum bisa liat bagaimana Hizbullah yang Syi’i bisa bahu membahu dengan Hamas yang Sunni dan saling menghancurkan thdp musuh yang sama (Israel), bahkan mereka saling memuji. Afwan, kebanyakan di Indonesia itu ‘Ndeso’ dalam bermadzhab. Sudah merasa paling pinter kalau udah bisa “menang” debat. Nah, kalo seperti ini terus, kapan ada ulama, yang habaib, yang mimpin ummat rasulullah yang kebingungan cari pemimpin yang layak diikuti? Yang bisa pegang kendali teknologi? Yang bisa nguasai Hukum? Yang bisa jadi Dokter ahli bedah orang dan ahli bedah Qur’an sekaligus? Yang bisa menghubungkan Kalimat2 Allah swt dengan antariksa. Tanpa menyebutkan kelompok lain, memang kayaknya Sunnah dan Syiah itu selalu di incar untuk dipertentangkan, oleh kelompok2 eksklusifis, yang merasa paling sholeh paling bener Islamnya, paling bener marja’nya, paling bener madzhabnya… paling bener…

    Wallahu a’lam bishowab.

  6. 6

    sulthon said,

    wAH ceritanya banyak yang salah, masak nggak tau sejarah tahkiem. ingat lhoo jangan nyela dan nuduh Amru bin Al Ash menipu dan memperdaya Ali dan tentaranya. kok bisa Ali bin Abi tholib kholifah yang mulia dapat diperdaya Amrum bin Al Ash. masak bisa begitu??? mbok jaga-jaga tangannya jangan nulis tanpa penelitian yang benar atas kisahnya.
    jangan mencela sahabat Nabi Yaah! nanti dimurkai ALlah.

  7. 7

    Mochammad Baagil said,

    Afwan,
    Jika antum baca ulang tulisan saya diatas jelas saya tidak nyatakan Imam Ali yang diperdaya tapi sekolompok muslimin yang terperdaya oleh Tahkim yang diajukan oleh Amr Ibn Ash
    Yang di tipu itu kelompok yang nantinya disebut sebagai khawarij..
    Mungkin antum bisa baca tulisan saya yang beberapa waktu saya tulis untuk di baca oleh sahabat2 saya:

    Di suatu tempat, di Shiffin dua kelompok pasukan berhadap-hadapan. Kelompok yang satu adalah kelompok yang terdiri dari Muawiyyah, Amr Ibn ‘Ash dan kelompok ini melawan kelompok yang dipimpin oleh ‘Ali Bin Abi Thalib. Ali memerangi kelompok ini karena mereka memberontak atas pencopotan Muawiyyah dari gubernur Syams oleh Ali.
    Ketika suasana kemenangan sudah berada dipihak Ali, tiba-tiba Muawiyyah mengajak Ali untuk berunding (tahkim) yaitu arbitrasi antara wakil Ali dan wakil Muawiyyah. Dan kaum Khawarij yang awalnya pendukung Ali mendesak ‘Ali untuk menerima tawaran Muawiyyah. Padahal Malik Al-Asytar – panglima perang Ali – tinggal selangkah lagi menuju kemenangan dan Muawiyyah terancam mati. Tetapi ketika itu Amr ibn ‘Ash menancapkan Al Qur’an pada ujung tombak. Dan, Amr Ibn Ash adalah orang yang pertama dalam Islam yang mengangkat Al Qur’an untuk memerangi Al Qur’an.
    Tiba-tiba sekelompok pengikut Imam Ali (yang nantinya menjadi kaum Khawarij) yang pada awalnya berada di pihak Imam ‘Ali berteriak “Kami tidak akan menghunus pedang untuk melawan kitab Allah, kami tidak akan membunuh Al Qur’an yang suci”. Lalu ‘Ali berteriak, “Al Qur’an apa yang kalian anggap suci? Al-Qur’an yang ada diatas benderanya Amr Ibn ‘Ash itu hanyalah kertas dan tinta, kertas dan tinta tidak memiliki kesucian, Al-Quran adalah seruan dan penjelasan, kapanpun kalian mengamalkan Al-Qur’an , maka itulah Al-Qur’an. Al-Qur’an ada ketika risalah, penjelasan, seruan dan pengamalannya ada. Al-Qur’an adalah kalam Allah dan bukan kertas dan tinta ini. Berpalinglah dari itu, sesungguhnya itu adalah tipu daya dan muslihat licik.” Beliau mengulangi seruannya beberapa kali, tetapi tidak ada telinga yang mendengar. Lalu kaum khawarij berkata, “Siapa yang berani berkata seperti itu kepada Al-Qur’an?” lalu pedang-pedang pun berbalik ke arah ‘Ali dan mereka berseru, “Kami tidak akan melepaskan pedang dari sarungnya untuk melawan Al-Quran, kami tidak akan memerangi Al-Qur’an.” Ali berkata, “Aku memahami Al-Qur’an lebih baik dari kalian, aku adalah guru dari orang yang paling pandai diantara kalian, aku adalah seorang pemimpin resmi dan seorang washi Nabi saww. Nabi telah menjelaskan pemahamanku terhadap Al-Quran, kepemimpinanku, pemberian wasiatnya (saw) kepadaku, dan beliau telah memberikan segalanya kepadaku, para sahabat nabi bahkan musuh-musuh ku mengetahui dan mengakui bahwa aku adalah orang yang paling mengetahui tentang kitab Allah, dan kalian menghadapiku dengan pendapat kalian, dan kalian berpura-pura suci, kalian menyerangku, menghinaku, dan memintaku melanggar aturan Al-Qur’an demi sebuah arbitrasi. Apakah itu mungkin?”. Mereka berkata, “Panggilah Malik al Asytar, kalau tidak kami akan membunuhmu dengan pedang ini yang kau minta untuk dihunuskan kepada kitab Allah”.
    Ali terpaksa meminta Malik untuk kembali dan propaganda yang dilancarkan oleh Amr Ibn ‘Ash berhasil, dan inilah propaganda pertama dalam Islam yang menggunakan Al-Qur’an untuk menyerang Al-Qur’an, dan korbannya adalah Imam ‘Ali bin Abi thalib. Mereka tetap dalam pendiriannya untuk melaksanakan arbitrasi, dan arbitrasi pada prinsipnya adalah sesuatu yang dibolehkan dalam Islam.
    Kaum Khawarij berkata kepada Imam ‘Ali, “Jika engkau tak menyetujui arbitrasi kami akan membunuhmu sekarang”. Lalu ‘Ali berkata, “Baiklah kalau begitu, aku akan menunjuk Malik al Asytar sebagai wakil dariku karena dia adalah orang yang tak mengenal kompromi atau Ibn Abbas karena dia adalah dari kami dan kami tenang bersamanya”.
    Pihak Muawiyyah berkata, “Tidak, yang pertama adalah seorang pemimpin perangmu dan yang kedua adalah seorang dari keluargamu”. “Lalu, siapa yang kalian inginkan?” kata Ali.
    “Abu Musa (yang kami pilih), kami tidak akan rela orang selain dia”. “Kamu tidak akan menerima orang yang selainnya?” kata Ali. “Ya” jawab kaum Khawarij. Lalu Ali berkata, “Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan”. Abu Musa adalah seorang tua yang berjanggut putih yang nampak seperti orang yang suci.
    Sedikit kebelakang, Abu Musa hanyalah seorang yang pernah melarang kaum muslimin untuk berperang bersama Imam Ali untuk melawan Muawiyyah, ketika ia menjadi gubernur dalam pemerintahan Ali. Lalu Ali mengutus Hasan dan Ammar Ibn Yasir untuk menanyakan apa sebab pelarangan itu, padahal ia adalah seorang yang ditunjuk oleh Imam Ali?. Abu Musa berkata, “Rasulullah pernah berkata kepadaku, Akan terjadi ikhtilaf dan perpecahan setelahku. Apabila itu terjadi, maka selamatkanlah dirimu sendiri dan jangan masuk dalam fitnah itu. Pilihlah keselamatan dijalan ketakwaan. Ini adalah fitnah dan ikhtilaf, aku tidak tahu apakah kebenaran itu bersama Ali atau Muawiyyah? Oleh karena itu aku mengambl sikap netral”.
    Ammar Ibn Yasir berkata kepadanya, “Wahai musuh dirinya sendiri, wasiat apa ini yang tidak pernah didengar oleh seorangpun? Apakah Nabi saw membisikkan hadits ini kepada dirimu saja? Ini yang pertama dan kedua bagaimana engkau harus bersikap netral? Apa yang engkau maksud dengan bersikap netral itu? Hendaknya engkau mencari kebenaran karena engkau adalah seorang muslim. Dan seorang muslim harus melawan kebathilan serta berdiri kepada pihak yang benar. Kau tidak punyak hak untuk bersikap netral, tapi engkau harus mencari kebenaran dan menganalisanya. Mengapa harus bersikap netral ketika kebenaran dan kebathilan bertempur? Kita harus menganalisa dan menjauhkan segala sikap santai dan berleha-leha dengan mengatasnamakan orang-orang suci? Engkau tidak boleh lari dari tanggung jawab”.
    Dan inilah Abu Musa yang dipilih oleh pihak Muawiyyah sebagai wakil dari Ali.
    Mereka menunda arbitrasi dengan mengulur-ulur waktu, ternyata angin sejarah sedang berpihak kepada Muawiyyah, selang beberapa waktu Amr Ibn ‘Ash akhirnya berhasil menipu Abu Musa. Ia berkata, “Wahai Abu Musa, aku tahu engkau telah jenuh dengan pertikaian antara Ali dan Muawiyyah, bukankah begitu? Mengapa engkau tidak berusaha untuk menyelamatkan muslimin dari perpecahan dan pertikaian ini?”. “Lalu apa yang harus aku perbuat?” jaawab Abu Musa.
    Amr Ibn ‘Ash berkata, “kita harus melakukan sesuatu yang dapat memelihara persatuan antar muslimin. Aku akan melepaskan Muawiyyah dari kepemimpinan dan engkau melepaskan Ali dari kepemimpinan. Kita biarkan kaum muslimin memilih seorang pemimpin selain mereka, maka dengan itu kita telah menyelesaikan pertikaian ini dan menyelamatkan muslimin dari perang dan membunuh saudaranya sendiri”. Abu Musa berkata, “Benar-benar aku setuju dengan usulmu itu, lalu apa yang harus kita perbuat sekarang?”
    Amr berkata, “kita sebagai orang yang mewakili Ali dan Muawiyyah, jika kita melepas mereka berdua di depan umat muslimin dari jabatan kepemimpinan, maka mereka terpaksa harus memilih pemimpin selain mereka berdua, lalu dengan begitu mereka akan memilih pemimpin yang tidak suka dengan perselisihan dan tidak melakukan sesuatu selain kebaikan, maka dengan itu persatuan akan terealisasi dan umat Islam akan hidup dengan damai.” Akhirnya dipilihlah Abdullah Ibn Umar. Lalu mereka berdua keluar. Abu Musa meminta Amr untuk maju dan mencopot Muawiyyah, tapi Amr menolak dan berkata, “Bagaimana aku dapat mendahuluimu? Itu sangat kurang ajar sekali, majulah engkau lebih dulu, karena engkau adalah orang yang terpandang dan sangat dihormati.”
    Abu Musa menerimanya. Sedikit pujian bagi orang seperti ini, sudah cukup memberikan motivasi untuk memberikan segalanya. Lalu ia berkata, “Wahai kaum Muslimin, kami telah bersepakat untuk mengakhiri fitnah ini dan menyelamatkan muslimin dari pertikaian antara Ali dan Muawiyyah, juga untuk memadamkan api peperangan yang sudah terjadi sejak lama. Wahai muslimin, satukan kalimat kalian untuk memilih orang ketiga sebagai pemimpin kalian, dan saya akan mencopot Ali dari tampuk kekuasaan seperti akau melepas…(Abu Musa mengucapkan Hal ini sambil melepaskan cincinnya dari jari tangannya)….cincin ini dari jariku. Wassalam.” Kemudian ia turun.
    Amr Ibn ‘Ash naik dan berkata, “Wahai manusia, kalian telah mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Musa dan sudah mengetahui pendapatnya.” Kemudian ia memuji Abu Musa dengan pujian-pujian kosong. “Tapi aku menjadikan Muawiyyah sebagai pemimpin seperti aku meletakkan cincin ini di jariku, aku akan menetapkannya sebagai khalifah.” Kemudian ia berteriak, “Shalawat kepada nabi!!.” Dan arbitrasi pun selesai dengan kemenangan pada pihak Muawiyyah.
    Pada saat itu kaum Khawarij merasa tertipu – sekarang mereka baru mengerti. Mereka menjadi emosi dan menyerang Abu Musa dan Abu Musa lari tunggang langgang hingga ke Mekkah.
    Tetapi Aneh, Kaum Khawarij tidak mengakui kesalahannya bahkan mereka berkata kepada Imam Ali, “Kita telah melakukan kesalahan dan telah melanggar kita Allah dan sunnah rasul-Nya, mengapa engkau menuruti kami dan rela dengan usul kami dan engkau telah melakukan dosa besar, kami akan bertobat atas dosa kami, dan hendaknya engkau juga bertobat atas dosa yang telah kau perbuat.” Lalu kaum Khawarij keluar dari barisan Ali dengan berdalih “Bertobatlah atas dosa yang telah kita lakukan.” Sejak itu mereka menjadi para ‘penyamun’ yang menumpahkan darah banyak orang karena kefanatikannya, sampai-sampai bunuh diri bagi mereka lebih mudah dibanding minum air, mereka mulai membuat kerusuhan dan mengacaukan suasana dan mereka tidak henti-henti nya menyakiti Imam Ali.
    Pernah suatu ketika, mereka masuk ke masjid membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang janji yang akan diperoleh oleh orang-orang musyrik, mereka membacanya sambil menyodorkannya kepada Imam Ali. Ali sabar dan shalat bersama kaum muslimin lainnya. Mereka selalu mengganggu Ali dan membuat keonaran, sampai-sampai ketika mereka mengeraskan bacaan Al-Qur’an dengan tujuan mengganggu, Ali pun terdiam untuk menghormati Al-Qur’an. Apabila mereka berhenti membaca, Ali melanjutkan shalatnya, kemudian mereka kembali membaca ayat yang lain dan Ali terdiam lagi dan begitu seterusnya. Ali tetap berlaku seperti itu sampai mereka sendiri yang mengumumkan perang kepadanya di suatu tempat yang disebut Nahrawan.
    Suatu malam di Nahrawan, sebelum perang dimulai, seorang Khawarij lewat didepan sebuah tenda sambil membaca Al-Qur’an dengan air mata yang berlinangan. Lalu seorang dari pengikut Ali yang mendengar suara itu bersimpati padanya seraya berkata, “Alangkah berimannya orang ini. Bergembiralah ia yang telah mendapatkan anugerah kecintaan kepada Allah.” Imam Ali berkata, “Engkau akan melihatnya besok, dan kau akan mengetahui kadar tahajjud dan keimanannya.”
    Keesokan harinya Imam Ali memberikan bendera keamanan kepada Abu Ayyub Al-Anshari dan ia menyeru, “Barangsiapa yang bernaung dibawah bendera ini, maka mereka akan mendapat keamanan” (At-Thabari 3/121). Beliau masih saja menasehati mereka hingga akhirnya 8000 pasukan Khawarij mundur dari 12000 ribu jumlah mereka.dan yang tersisa 4000 orang, dan disinilah pedang berbicara karena ada diantara mereka yang menjadi pengkhianat dan akan membahayakan masyarakat. Jika mereka masih ada niscaya umat akan tertipu dengan kesucian mereka yang menyimpang dan ibadah mereka yang kosong. Lalu Imam Ali berhasil menghancurkan dan membubarkan mereka. Dan sekembalinya dari peperangan keesokan harinya, beliau melewati mayat orang yang semalam membaca Al-Qur’an sambil menangis itu. Beliau berkata kepada sahabatnya yang semalam bersamanya, “Ini adalah mayat orang yang engkau dengar membaca Al-Qur’an sambil menangis semalam, dan esok (pada hari kiamat) keadaanya akan lebih buruk dari sekarang.”
    Lalu Imam juga berkata,”Mereka orang-orang Khawarij belum habis, tetapi mereka masih bersembunyi di sulbi ayah-ayah mereka”
    Dan kita melihat disetiap zaman, bahkan di jaman kita sekarang kita saksikan orang-orang Khawarij yang dengan gaya kesuciannya secara mudah mengkafirkan sesama muslim yang berbeda pendapatnya dengan mereka. Bahkan saya sendiri yang mengalami ini. Saya harus berhadapan dengan saudara-saudara saya sesama muslim yang melaknat orang-orang yang mengikuti madzhab yang diajarkan Imam Ali. Menuduh mereka memiliki Al-Qur’an yang berbeda, menuduh mereka menuhankan Ali dan menganggap mereka haram jadah.
    Prinsip mereka sederhana, yaitu “Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah.” Padahal mereka hanya ingin memaksakan pemahaman Al-Qur’an menurut mereka, jadi jika tidak sesuai dengan pemahaman Al-Qur’an menurut mereka berarti kafir. Mereka juga sangat kuat memegang kalimat Al-Qur’an “La hukma illa lillah”, tidak ada hukum kecuali Allah. Dan mereka memegang ini benar-benar secara buta, mereka hanya memegang makna lahir kalam Allah yang mulia ini. Kalam Allah yang agung ini di gunakan untuk menyerang sesama muslim. Tak heran saya jika mereka bisa membius umat Islam untuk mengagumi tokoh-tokoh kejam sekalipun asalkan menggunakan simbol-simbol Islam. Kita jangan langsung menuduh orang lain Khawarij, perhatikan diri kita, jangan-jangan kita sendiri Khawarij yang dulu bersembunyi di sulbi-sulbi ayah kita!

    Baca juga sejarah Abu Musa Al Asyari..
    Sekali lagi, tentu saja sejarah memiliki banyak versi.. dan tentu saja harus di uji kebenarannya. Jka untuk membuka Kenyataan sejarah dilarang, jelas Al Qur’an membuka sejarah hitam kaum2 sebelum Rasulullah saw. Mengapa? aAgar kita belajar dari sejarah itu. Bukan menutupinya. Saya setuju untuk tidak mencela sahabat2 Rasulullah saw. Hal ini lebih menghasilkan diskusi yang produktif dan tidak emosional semata.
    Wallahu A’lam bishowab..

    Mochammad Baagil

  8. 8

    Mochammad Ba'agil said,

    Sulthon Berkata,

    wAH ceritanya banyak yang salah, masak nggak tau sejarah tahkiem. ingat lhoo jangan nyela dan nuduh Amru bin Al Ash menipu dan memperdaya Ali dan tentaranya. kok bisa Ali bin Abi tholib kholifah yang mulia dapat diperdaya Amrum bin Al Ash. masak bisa begitu??? mbok jaga-jaga tangannya jangan nulis tanpa penelitian yang benar atas kisahnya.
    jangan mencela sahabat Nabi Yaah! nanti dimurkai ALlah.

    Mochammad Baagil Berkata,

    Ana Juga tidak percaya, keliatanyya susah diterima secara akal.
    Sebenarnya saya juga mau tanya beberapa hal yang masih tidak masuk akal bagi saya. Tapi saya tidak punya ilmunya, tidak punya buku referensinya, dan tidak punya kemampuan untuk memahaminya. Saya ingin sekali tanya kepada para habaib, cuma saya ragu dan khawatir saya salah.
    Bib, Yabna Rasulillah, Yabna Fathimatu Zahra, Yabna Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib, Yabna Al Husayn…
    Saya mau tanya, saya pernah dengar beberapa riwayat hadits dari kitab Rujukan Ahlusunnah dan Syiah, yaitu Bukhari dan Muslim dan yang lainya. Tapi ada beberapa hadits yang membuat saya bingung bib. Saya Mohon penjelasan dari habaib dari kalangan Ahlusunnah karena saya juga ingin berjalan menuju kebenaran, tanpa memperselisihkan apakah kebenaran itu datang dari timur, barat, utara atau selatan.
    Berikut ini beberapa hadits yang membuat saya ragu apakah ini shohih atau dhoif. Seperti Sulthon diatas, saya juga ingin bilang: Jangan kan sayyidina Ali kena tipu, Rasulullah kena sihir saja pernah. Berikut ini beberapa hal yang ingin saya tanya:

    1. Allah SWT memiliki Jemari (Shohih Bukhari, Tafsir Surat Az Zumar; Shohih Muslim dalam Kitabus Syifat)

    2. Allah SWT memiliki telapak kaki yang diletakkan di tepi Jahannam shg Jahannam berkata ” Sudah…Sudah Cukup) – Shohih Bukhari

    3. Allah berada di awang2, diatasnya udara dan dibawahnya udara (Sunan Ibn Madjah Al Muqaddimah hadits ke 182)

    4. Allah turun ke langit dunia (Shohih Bukhari dalam Kitabut Tahajjud)

    5. Allah akan datang pada hari kiamat menemui kaum mukminin tetapi mereka tidak mengakuinya maka Allah singkapkan betis Nya dan akhirnya mereka bersujud kpd Nya (Shohih Muslim Kitabul Iman)

    6. Nabi Pernah menghidangkan daging hewan yang tidak disembilih dengan nama Allah SWT kepada tamunya yang masih kafir yaitu Zaid bin Amr bin Naufal, tapi tamunya menolaknya dan berkata “Aku tidak pernah makan hewan kurban yang tidak disembelih dengn nama Allah”. (Sohih Bukhari)

    7. Nabi pernah melupakan ayat2 Al Qur’an dan sahabatnya yang mengingatkannya (Shohih Bukhari bab Qoulullah)

    8. Rasulullah pernah mencaci maki mukmin yang tidak bersalah yang tidak layak dicaci maki dan dilaknat (Shohih Bukhari Kitabu Da’wah)

    9. Rasulullah pernah terkena sihir seorang Yahudi shg rasulullah merasa pernah melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya (Sohih Bukhari Kitabul adab)

    10. Nabi Sholat ashar dan melakukannya 2 rakaat shg beliau ditegur oleh Zulyadain (Bukhari & Muslim)

    11. Rasulullah pernah ditegur oleh Sayyidina Umar ibn Khattab karena belum shalat Ashar padahal Sayyidina Umar sudah melakukannya shg Rasulullah shalat Ashar sesudah masuk waktu maghrib (Shohih Bukhari dalam Kitabul Mawaqi’)

    Bib, saya ingin tau apakah memang benar tercantum begitu? seandainya iya apakah makna nya juga sama dengan makna harfiahnya?

    Jazakumullah khairan katsira, yabna Rasulillah..

    Mochammad Baagil


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: