Kiai Diminta Kembali ke Tugas Utama

PEKALONGAN- Selama ini banyak kiai dan ulama yang terjun ke dunia politik. Namun demikian, mereka harus bisa menjalankan tugas utamanya sebagai pencerah umat.

”Kiai dan ulama agar kembali ke tugas utamanya, sehingga lebih memperhatikan dan meningkatkan kepeduliannya terhadap umat,” ungkap Menteri Agama H Maftuch Basyuni pada acara Silaturahmi Ulama Pesantren dan Kiai Thoriqoh Se-Indonesia, di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mubarok Pekalongan, kemarin.

Menurut dia, kiai dan ulama tidak semuanya harus berpolitik. Mereka disarankan kembali ke pondok pesantren dan memberikan pengajaran terhadap para santri. Seandainya terfokus pada dunia politik, dikhawatirkan lupa dengan tugasnya.

”Jangan sampai pondok pesantren milik kiai atau ulama kosong blong,” tandas dia.

Justru dengan kembali ke pesantren, kata dia, mereka bisa mengader para santrinya untuk berpolitik semaksimal mungkin. Namun, politik yang diajarkan harus agamis atau islami. Dengan demikian, ajaran yang diberikan tersebut bisa terarah.

Pertemuan kiai dan ulama thoriqoh tersebut, kata dia, bisa sebagai wahana yang efektif dalam melakukan evaluasi diri dan menengok kembali peran sosial yang telah dilakukan.

Harus Dikuatkan

Jalannya silaturahmi ulama pesantren dan kiai thoriqoh tersebut berlangsung lancar. Dibahas beberapa permasalahan berkaitan dengan perilaku, perekonomian, dan kemasyarakatan.

Acara digagas oleh sejumlah ulama besar seperti Habib Mohammad Luthfi bin Ali Yahya, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, KH Mahfudz Ridwan, dan KH Dimyati Rois.

Kegiatan tersebut digelar untuk kali ketiga. Sebelumnya, pernah diselenggarakan di Ponpes Raudlatut Tholibien, Leteh, Rembang dan Ponpes Edi Mancoro, Kabupaten Semarang.

Saat membuka acara, Ketua MUI Jateng Habib Lutfi dalam tulisan yang telah dibukukan oleh panitia mengungkapkan, paham Ahlussunnah Waljama’ah (aswaja) harus dikuatkan di semua lapisan masyarakat. Di antaranya, nilai-nilai toleransi (tasamuh), moderat (tawasuth), proporsional (i’tidal), dan keseimbangan (tawazun).

Menurut Habib, aswaja harus diajarkan di kalangan anak-anak sekolah, sejak mereka masih usia dini. Menurutnya, bangsa Indonesia membutuhkan generasi muda yang mengerti secara benar bagaimana cara hidup dan berbangsa secara damai. Mereka perlu diberi arahan secara dialogis dan mudah dimengerti.

Warga NU, kata dia, harus melestarikan dan menjaga peninggalan para ulama seperti masjid, tanah wakaf, madrasah, karya-karyanya atau karangan baik yang berupa tulisan tangan maupun tulisan cetak, serta makam-makam ulama. Selanjutnya, mereka senantiasa harus memperat tali silaturahmi kepada para ulama yang masih hidup dan menziarahi yang sudah wafat.

Kemudian, lanjutnya, memberdayakan aswaja di pedesaan-pedesaan yang disampaikan oleh para kiai dan ketua ranting. Mereka harus lebih aktif, karena bagaimanapun juga masyarakat NU hidup di pedesaan-pedesaan.(H4-60)

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA Rabu, 23 Mei 2007

3 Tanggapan so far »

  1. 1

    maman said,

    Kyai adalah sosok mulya yang dihormati. Tugas Kyai itu mengajar, menerangi hati yang gelap, menjadi sumber inspirasi bagi umat, Ia ibarat sumber mata air yang dibutuhkan untuk kehidupan. Pribadinya menjadi cermin dan suri tauladan umat. Apabila ia beranjak dari tempatnya, maka umat akan kehilangan sumber mata air, karena sumber mata air itu sudah tercemar dengan air tuba. Kyai selalu berjalan menuju ke kanan, disana ada Allah dan Rasulnya. Tapi bila ia beranjak dari tempatnya menuju kursi politik, ia berjalan ke kiri, karena perangai politik adalah mencari kekuasaan

  2. 2

    har said,

    test…test…

  3. 3

    har said,

    apa sebenarnya kriteria seorang bisa disebut kyai?


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: