Archive for Juli, 2007

Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW

Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin dunia yang terbesar sepanjang sejarah. Karena hanya dalam waktu 23 tahun (kurang dari seperempat abad), dengan biaya kurang dari satu persen biaya yang dipergunakan untuk revolusi Perancis dan dengan korban kurang dari seribu orang. Beliau telah menghasilkan tiga karya besar yang belum pernah dicapai oleh pemimpin yang manapun di seluruh dunia sejak Nabi Adam as. sampai sekarang. Tiga karya besar tersebut adalah:

تَوْحِيْدُ الإِلهِ (mengesakan Tuhan)
Nabi Besar Muhammad saw. telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semula mempercayai Tuhan sebanyak 360 (berfaham polytheisme) menjadi bangsa yang memiliki keyakinan tauhid mutlak atau monotheisme absolut.

تَوْحِيْدُ الأُمَّةِ (kesatuan ummat)
Nabi Besar Muhammad saw. telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semua selalu melakukan permusuhan dan peperangan antar suku dan antar kabilah, menjadi bangsa yang bersatu padu dalam ikatan keimanan dalam naungan agama Islam.

تَوْحِيْدُ الْحُكُوْمَةِ (kesatuan pemerintahan)
Nabi Besar Muhammad saw. telah berhasil membimbing bangsa Arab yang selamanya belum pernah memiliki pemerintahan sendiri yang merdeka dan berdaulat, karena bangsa Arab adalah bangsa yang selalu dijajah oleh Persia dan Romawi, menjadi bangsa yang mampu mendirikan negara kesatuan yang terbentang luas mulai dari benua Afrika sampai Asia.

Kunci dari keberhasilan perjuangan beliau dalam waktu relatif singkat itu adalah terletak pada tiga hal:

1. Keunggulan agama Islam
2. Ketepatan sistem dan metode yang beliau pergunakan untuk berda’wah.
3. Kepribadian beliau.

Keunggulan agama Islam terletak pada delapan sifat yang tidak dimiliki oleh agama-agama lainnya di seluruh dunia ini, yaitu:

1. Agama Islam itu adalah agama fitrah.
2. Agama Islam itu adalah mudah, rational dan praktis.
3. Agama Islam itu adalah agama yang mempersatukan antara kehidupan jasmani dan rohani dan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi.
4. Agama Islam itu adalah agama yang menjaga keseimbangan antara kehiduan individual dan kehidupan bermasyarakat.
5. Agama Islam itu adalah merupakan jalan hidup yang sempurna.
6. Agama Islam itu adalah agama yang universal dan manusiawi.
7. Agama Islam itu adalah agama yang stabil dan sekaligus berkembang.
8. Agama Islam itu adalah agama yang tidak mengenal perubahan.

Sistem dakwah yang dipergunakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah:

1. Menanamkan benih iman di hati umat manusia dan menggemblengnya sampai benar-benar mantap.
2. Mengajak mereka yang telah memiliki iman yang kuat dan mantap untuk beribadah menjalankan kewajiban-kewajiban agama Islam dengan tekun dan berkesinambungan secara bertahap.
3. Mengajak mereka yang telah kuat dan mantap iman mereka serta telah tekun menjalankan ibadah secara berkelanjutan untuk mengamalkan budi pekerti yang luhur.

Metode dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah:

1. Hikmah, yaitu kata-kata yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil.
2. Nasihat yang baik.
3. Menolak bantahan dari orang-orang yang menentangnya dengan memberikan argumentasi yang jauh lebih baik, sehingga mereka yang menentang dakwah beliau tidak dapat berkutik.
4. Memperlakukan musuh-musuh beliau seperti memperlakukan sahabat karib. Keempat metode dakwah beliau di atas, disebutkan oleh Allah swt. dalam Al Qur’an al Karim dalam surat:
An Nahlu ayat 125:

اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ، وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِيَ اَحْسَنُ ؛ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ ، وَهَوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ .

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Surat Fushshilat ayat 34:

وَلاَ تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلاَ السَّيِّئَةُ ؛ اِدْفَعْ بِالَّتِى هِيَ اَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ .

“Dan tiadalah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”.

Kepribadian Nabi Besar Muhammad saw. yang sangat menunjang dakwah beliau disebutkan dalam Al Qur’an sebagai berikut:

1. Bersikap lemah-lembut.
2. Selalu mema’afkan kesalahan orang lain betapapun besar kesalahan tersebu selama kesalahan tersebut terhadap pribadi beliau.
3. Memintakan ampun dosa dan kesalahan orang lain kepada Allah swt., jika kesalahan tersebut terhadap Allah swt.
4. Selalu mengajak bermusyawarah dengan para sahabat beliau dalam urusan dunia dan beliau selalu konsekwen memegang hasil kepautusan musyawarah.
5. Jika beliau ingin melakukan sesuatu, maka beliau selalu bertawakkal kepada Allah swt. dalam arti: direncanakan dengan matang, diprogramkan, diperhitungkan anggarannya dan ditentukan sistem kerjanya.

Kelima kepribadian Nabi Besar Muhammad saw. tersebut di atas, dituturkan oleh Allah swt. dalam surat Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ ، وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ، فَاعْفُ عَنْهَمْ .وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الاَمْرِ ، فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ ؛ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ .

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

*Disusun oleh:* Drs. KH. Achmad Masduqi

Iklan

Comments (2) »

Membangun Keluarga Sakinah dengan Shalat Berjamaah

Sakinah, berasal dari bahasa Arab Sakana-Yaskunu Sakiinatan yang berarti tenang atau diam. Tafsir al Thobari mempersamakan sakinah dengan thuma’ninah atau Aminah yang berarti kedamaian. Dalam bahasa keseharian kita, sakinah lebih sering diartikan sebagai bahagia atau tentram. Keluarga bahagia dan tentram.

Merujuk kepada makna awal dari sakinah, maka keluarga sakinah adalah keluarga yang penuh kedamaian, kebahagiaan dan ketentraman. Karena itu keluarga yang sakinah tidak hanya bisa dilandasi oleh saling suka dan cinta saja, lebih dari itu ke-sakinah-an sebuah keluarga membutuhkan usaha.

Bagaimanakah membangun keluarga yang sakinah?
Allah dalam surat al-Fath ayat 4 menyatakan,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ.
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min.

Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa ketenangan dan ketentraman hati hanya mampu dimunculkan oleh Sang Pencipta. Itupun hanya diberikan kepada mereka yang beriman. Karena itu pulalah keluarga sakinah tidak akan mampu dibangun kecuali keluarga itu dibangun dengan landasan agama.

Landasan agama yang paling utama adalah perilaku shalat. Bukankah Allah dalam al Quran sudah menyatakan,

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan tercela?

Dalam kitab Tafsir Ibn Khatim kata al fach-sya’i diterjemahkan dengan kata zina. Bukankah kegiatan perselingkuhan juga bisa dikatakan perzinaan? Setidaknya kalau kita masih memahami bahwa kegiatan perselingkuhan dan ketidakjujuran pasangan kita sebagai perbuatan yang keji dan tercela, dorongan untuk berbuat korupsi, tidakkah kita pernah berpikir, “Jangan-jangan shalat saya masih bolong-bolong sehingga tidak mampu membendung keinginan berbuat tidak baik.” Tidak sedikit mereka yang berbuat tidak baik berkata, “Saya tidak pernah meninggalkan shalat”. Benarkah? Kalaupun benar shalat yang bagaimana yang sudah kita jalankan? Shalat jasmani dan rohani atau sekedar jasmani saja, jengkulat jengkulit buyar!

Imam Ibn Abbas meriwayatkan sebuah hadist,

man la tanhahu shalatuhu ani al fach-sya’i wa al munkar, lam yazdad min Allah illa bu’dan.

Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan tercela dan mungkar maka orang itu tidak akan bertambah apapun dari sisi Allah kecuali bertambah jauh.

Sementara Imran Ibn Hasin meriwayatkan sabda Nabi:

Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan tercela dan mungkar, maka sebenarnya tiada shalat baginya.

Imam Al Ghazali di dalam kitab Fath al Muin berpendapat bahwa shalat yang sah dan mampu mencegah perilaku yang tidak baik itu bila dilakukan dengan khusyuk, maka bagi al Imam, khusyu’ menjadi syarat sahnya shalat. Andai yang dibenarkan Allah terkait dengan hadits yang lain yang menyatakan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat wajahmu, jasadmu tetapi Allah melihat hatimu” adalah pendapat Imam Al Ghazali ini, adakah shalat kita yang sah? Berapa banyak shalat kita yang sah?

Sebagai pembuktian terbalik dari pendapat ini, kita mungkin sesekali dapat melakukan investigasi di pengadilan agama. Mereka yang bermasalah dalam keluarga rata-rata ahli shalat ataukah orang yang sering meninggalkan atau memiliki masalah dengan shalatnya?

Bagaimana dengan kita yang sholatnya masih didominasi hayalan dan kehidupan dunia. Shalat sambil bermimpi ini itu? Kita harus membiasakan shalat berjamaah! Dalam sebuah komunitas berjamaah, kebutuhan harus khusyu’ bagi masing-masing orang yang shalat itu dapat ditutupi oleh salah satu makmum yang bisa khusyu’, bila semua makmum tidak ada yang khusyu’ maka kebutuhan khusyu’ semua jamaah itu dicukupi oleh Imamnya. Karena itu pulalah shalat berjamaah memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk dikatagorikan sah dibanding shalat sendiri. Kalau shalat kita sah, Insya Allah shalat itu akan menjauhkan kita dari perbuatan yang tidak terpuji. Bukankah Allah tidak akan mengingkari janji?

Terkait dengan hal ini pula, Nabi pernah menyatakan:

Barangsiapa yang selalu menjaga shalatnya dengan berjamaah tidak akan terkena kefaqiran selamanya.

Arti fakir terdikotomi ke dalam fakir hati dan fakir harta. Untuk fakir harta, mungkin kita semua sudah memahaminya. Sementara mereka yang fakir hati adalah orang-orang yang selalu diliputi perasaan tidak puas atas apa yang ada dalam dirinya dan tidak mampu bersyukur. Sudah kaya atau minimal melebihi perekonomian tetangga sekitarnya, tetap saja memiliki hasrat mencuri, mark up atau korupsi. Sudah memiliki istri yang cantik, bodi bagus, tetap saja matanya jilalatan ketika melihat wanita lain. Bahkan tidak sedikit kita temui seorang lelaki dengan selingkuhan yang wajahnya tidak menjanjikan dan lebih jelek dari isterinya sendiri.

Merasa tidak puas dengan rizki yang diterima, mencari kerja ke luar negeri, tanpa memahami bahwa harta banyak bukanlah solusi. Bahkan kerusakan yang ditimbulkan tidak sebanding dengan harta yang diterima. Ancaman hukuman mati, pelecehan seksual dan kekerasan selalu menghantui pekerja Indonesia yang bekerja diluar negeri. Belum lagi pasangannya yang di Indonesia dengan alasan kesepian selingkuh dan menghabiskan harta kiriman pasangannya.

Dengan selalu menjalankan shalat secara berjamaah, minimal dengan pasangan nikahnya sendiri, Allah melalui lisan Rasulullah memberikan jaminan terbebas dari kefakiran baik kefakiran harta maupun hati. Orang bepergian ke luar negeri, pasti atas promosi atau cerita orang lain tentang rezeki yang berlimpah. Kita percaya dan kita berangkat ke sana mengais rizki. Seorang PNS pasti percaya akan jaminan pemerintah bahwa setiap awal bulan akan mendapat rizki berupa gaji bulanan. Orang yang berpromosi kerja di luar negeri, aparat pemerintah yang menciptakan ketentuan gaji bulanan, mereka semua adalah manusia, makhluk, ciptaan Allah. Kepada sesama ciptaan kita percaya, tetapi mengapa tidak percaya kepada yang mencipta?

Kalau kita selama ini tidak pernah mampu melalui cobaan-cobaan dunia baik berupa kefakiran hati maupun harta, mengapa kita meninggalkan jamaah shalat? Mengapa masa depan kita tidak kita usahakan dan pastikan dengan selalu berjamaah? Melihat jaminan Allah yang begitu hebat bagi kehidupan dunia dan akhirat, para kyai sepuh bahkan dalam menganjurkan berjamaah sampai berkata, “Kalau perlu membayar orang untuk membantu shalat kita agar terhitung jamaah!”. Berapapun harta yang kita keluarkan tidak akan sebanding dengan jaminan Allah yang begitu besar dan bernilai.

Dengan berjamaah, kita tidak saja mendapatkan jaminan kehidupan dari Pencipta, kitapun mampu membangun hubungan ruh dengan pasangan, sehingga pernikahan kita tidak terbatas oleh jasad saja tetapi juga diwarnai oleh kecintaan ruhani. Mencintai pasangan karena Allah akan menumbuhkan ketenangan dan ketentraman hati.

Dalam setiap khutbah nikah seringkali kita menemui sebuah maqalah yang menyatakan

Dua orang berlawanan jenis tidak akan mampu bertemu atau berpisah kecuali dengan ketentuan dan takdir Allah.

Dengan shalat berjamaah kita melakukan pendekatan diri kepada Allah. Dengan berbekal kedekatan kita kepada Allah, segala kebutuhan kita Insya Allah akan dicukupinya. Termasuk pula permohonan agar ketentuan dan takdir Allah menetapkan bahwa kita dan pasangan dilanggengkan dalam sebuah keluarga yang penuh kedamaian dan ketentraman. keluarga yang sakinah. Wallahu A’lam.

Penulis: Achmad Shampton Masduqi, SHI (ppssnh.malang)

Comments (1) »

Sudahkah kita ber-Laa ilaha ila Llah?

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik ketika memasuki Ka’bah pada saat melaksanakan ibadah haji bertemu dengan Salim ibn Abdullah ibn Umar ibn Khattab. Lalu ia berkata, “Wahai Salim, mintalah kepadaku kebutuhan-kebutuhanmu”. Salim (cucu Umar r.a.) menjawab, “Saya malu di rumah Allah memohon kepada selain Allah.” Ketika Salim keluar dari Ka’bah (Masjid al Haram), ia diikuti oleh Khalifah Hisyam seraya berkata, “Sekarang engkau sudah keluar dari Ka’bah maka mintalah apa saja yang engkau perlukan.” Salim bertanya, “Dari kebutuhan duniawi atau kebutuhan akhirat?” Khalifah Hisyam menjawab, “Dari kebutuhan duniawi.” Salim kemudian berkata kepada Khalifah, “Saya tidak meminta kebutuhan duniawi dari Yang Memiliki Dunia. Bagaimana mungkin saya meminta dari orang yang tidak memiliki dunia?”

La ilaha illa Llah! Apa yang dilakukan oleh Salim Ibn Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab, adalah ekspresi totalitas penghambaan kepada Allah dan manifestasi dari La ilaha illa llah. Sesungguhnya, bila kita dalami makna lafadz tahlil tersebut memang membutuhkan konsekwensi yang sangat besar dalam kehidupan kita. La ilaha illa Llah tidak dapat kita batasi pemaknaannya hanya dengan arti ‘tidak ada tuhan selain Allah’ saja. Sullamunnajah memberikan arti La ilaha illah llah bahwa tidak ada yang patut disembah di muka bumi ini, kecuali Allah. La ilaha ila Llah, bahkan juga bermakna; tidak ada yang patut dimintai pertolongan kecuali Allah, tidak ada yang patut menjajah kita kecuali Allah, tidak ada yang patut kita cintai kecuali Allah.

La ilaha ila Llah, menuntut seorang muslim yang mengucapkan lafadz tersebut benar-benar meng-esa-kannya dalam segala bidang. Setiap gerak tubuh, jiwa dan jasad yang membungkusnya, mengejawantahkan makna lafadz tersebut. Ketika hal itu dapat dilakukan, maka tidak saja kesalehan diri dihadapan Allah yang terekspresi, bahkan kesalehan sosial di hadapan mahluk Allah juga nampak dalam diri seseorang.

Apa yang dilakukan Salim Ibn Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab, adalah salah satu bentuk ekspresi La ilaha ila Llah yang terbungkus dalam kosa kata yang lain. Artinya ketika kita menampakkan rasa butuh kita di hadapan selain Allah maka secara tidak langsung kita mengingkari makna La ilaha ila Llah itu sendiri. Karena La ilaha ila Llah juga bermakna tidak ada yang boleh mengetahui kebutuhan kita kecuali Allah. Salim menghawatirkan ada yang mengetahui kebutuhannya selain Allah. Ada yang mencukupinya selain Allah, dan kemudian dia menghambakan diri kepada selain Allah.

Seorang teman bercerita tentang budaya orang Betawi. Orang Betawi biasanya mengukur apa yang harus dikerjakan setiap harinya sesuai dengan kebutuhannya. Katakanlah seseorang membutuhkan Rp. 10.000.00 perhari, maka ketika uang sejumlah itu didapatkan, orang itu menghentikan pekerjaannya meski hari masih pagi. Bahkan ketika suatu hari seorang betawi mendapat peruntungan Rp. 50.000.00 dalam sehari yang menurut kalkulasi dia dapat menghidupi diri selama lima hari, maka dia tidak bekerja untuk lima hari ke depan. Perilaku seperti ini sebenarnya merupakan ajaran sufiyah, ajaran ulama-ulama kita terdahulu. Diharapkan seorang muslim yang menjalankan perilaku ini menjadi bagian dari orang yang dicirikan dalam al Quran

Rijaalun laa tulhiihim tijaratun wa la bai’un ila dzikrillah

Seseorang yang aktivitas perekonomiannya tidak membuat terlupa pada dzikrullah. Secara tidak langsung praktek kehidupan masyarakat Betawi itu adalah praktek ber-La ilaha ila Llah.

Di sisi lain, kita juga menemui orang-orang yang begitu memperhatikan status sosial, ketika seseorang diangkat dalam posisi seorang pejabat, meski dalam strata yang terendah, katakanlah eselon VI. Dia disibukkan dengan mengumpulkan harta untuk mengejar kepantasan bagi seorang pejabat. Harus bermobil meski jelek. Harus ini dan itu, hingga menghalalkan segala cara untuk memenuhinya. Orang-orang yang seperti ini tidaklah sulit dicari di sekitar kita. Penghambaan pada materi seperti ini, bila kita runut kembali merupakan bagian bagi pengingkaran diri terhadap La ilaha ila Llah, meski orang tersebut di sisi lain rajin ke masjid atau bertahlil. La ilaha ila Llah hanya menjadi lipstik pemanis bibir saja.

KH. Mustofa Bisri dalam ceramahnya di PP. Nurul Huda Mergosono beberapa waktu yang lalu bahkan menyatakan perilaku kita sehari-hari yang kadang ketika ingin membeli sesuatu memilih-pilih uang yang paling kusut untuk diberikan penjual, adalah bagian dari pengingkaran pada La ilaha ila Llah. Meski hal itu merupakan sesuatu yang remeh, tetapi secara tidak langsung perilaku tersebut menunjukkan kerdilnya hati kita yang tidak mampu melihat, meraba dan menerawang bukan pada palsu atau tidaknya uang tetapi mana Allah dan mana mahluk Allah. Kita dijajah oleh uang. Kita mengeluarkan sesuatu yang paling buruk bentuknya dari dompet kita karena dijajah oleh sesuatu yang masih bagus dan pantas menghuni dompet. Meski nilainya sama! Uang seribu kusut dan robek di sana sini dan uang seribu terbaru keluaran bank, apa bedanya? Sekali lagi nilainya sama! Perbedaan jasad mahluk Allah yang bernilai sama membuat jiwa kita tidak mampu menyatakan dalam tindakan kita La ilaha ila Llah, tidak ada yang boleh menjajah pikiran saya kecuali Allah.

Suatu hari seorang santri meminta izin untuk mengikuti tur perpisahan sekolahannya. Ketika ditanya bisakah dia tidak melakukan kemaksiatan sekecil apapun dalam tur itu? Dia menjawab, “Tidak!” Ketika kyai melarang, santri ini ngotot meminta izin dengan alasan sekali dalam seumur hidup, dan tidak enak dengan teman-temannya, karena sudah menyatakan ikut. Argumen santri ini, sebenarnya kalau kita jujur juga sering kita lakukan, datang kondangan karena tidak enak dengan yang mengundang. Padahal di majelis itu ada percampuran antara lawan jenis dan wanita-wanita yang membuka aurat dan lain sebagainya. Alasan tidak enak pada teman itu, adalah alasan yang sangat manusiawi. Sepertinya kita begitu perhatian dengan toleransi dalam bermasyarakat, kita adalah orang yang beradab karena menjaga perasaan orang. Tetapi bukankah itu termasuk mudahanah? Mengedepankan tidak enak dengan manusia dibanding tidak enak dengan Allah kalau menjalankan maksiat. Laa ilaha ila Llah, tidak ada yang patut disungkani kecuali Allah.

Di jalan-jalan kita sering melihat orang bershalawat atau membaca al Quran sambil menghentak-hentakkan keranjang, berkaos panitia pembangunan masjid atau mushalla. Betapa ikhlasnya mereka mengorbankan harga dirinya meminta-minta untuk membangun bait Allah. Tetapi kenapa masjid yang begitu indah dibangun dengan dana yang diperoleh dari jalanan seperti itu, kosong miskin jemaah? Jangan-jangan hal ini disebabkan cara pengumpulan dana yang seperti itu merupakan bagian dari pengingkaran pada Laa ilaha ila Llah, tidak ada yang bisa diminta-minta kecuali Allah. Al Quran menyatakan la masjidun ussisa ala at taqwa. Masjid dibangun berlandaskan ketaqwaan. Bagaimana kita mampu melandasi pembangunan masjid dengan ketaqwaan, bila cara pengumpulan dananya tidak ber-La ilaha ila Llah? Menampakkan kefakiran di hadapan mahluk yang tidak memiliki kemampuan apapun tanpa campur tangan Allah.

Penulis menduga, banyak kyai yang begitu tidak menyukai santri-santrinya menjadi pegawai negeri, meski kemudian menyerahkan solusinya pada masing-masing pribadi, adalah dalam rangka mengarahkan santrinya untuk ber-La ilaha ila Llah. Seorang pegawai diatur secara ketat kehidupannya oleh undang-undang negara, dengan demikian secara tidak langsung ada penghambaan dan penjajahan pada diri seorang pegawai negeri oleh selain Allah. Padahal kesaksian Laa ilaha ila Llah yang disampaikan seorang muslim menuntut dia untuk tidak mau dijajah oleh siapapun kecuali Allah.

Bila kita mengupas semua bagian kehidupan kita, rasanya banyak sekali poin La ilaha ila Llah yang kita tinggalkan atau sengaja kita abaikan.

Semoga saja dawuh Rasulullah,

Man qaala La ilaha ila Llah, dakhala al jannah
Barang siapa yang mampu mengucap La ilaha ila Llah maka dia masuk surga

Cukup dalam ucapan lisan saja sehingga kita masih bisa berharap surga Nya. Tetapi bila yang dikehendaki Rasulullah tidak sekedar berucap bibir, tapi juga ucap fikir, ucap tubuh, ucap tiap gerak langkah hidup kita, masih pantaskan kita berharap surgaNya? Sudahkah kita ber-Laa ilaha ila Llah?

Penulis:
Abu Najih Ukassyah

Penulis adalah santri tamatan akhir 1996 sekarang menjadi pelayan komunitas Shalawat Padang Ati Jl. Danau Kerinci 6 E1A5 Malang, masih nyantri di Majlis Ta’lim Al Habib Muhammad Ibn Idrus Al Haddad Malang.

Comments (1) »

Resep Kaya dengan Takwa, Ilmu dan Amal

Manusia diciptakan dengan memiliki kemampuan untuk berkembang dan berubah. Perubahan itu hendaknya mengikuti apa yang telah digariskan oleh Allah dalam Al-Quran. Ada fase atau jenjang yang harus dilalui oleh seorang muslim. Islam tidak menuntut banyak perubahan dalam diri seseorang, melainkan perubahan hanyalah ada dan sejalan dengan taufiq (petunjuk) Allah. Ketika taufiq itu masuk dalam diri seseorang, maka ada banyak harapan akan terjadi perubahan-perubahan. Kadang-kadang bisa mengejutkan nalar manusia, karena taufiq itu sesuatu yang irrasional (tidak masuk akal) dan transendental (hanya urusan Allah Ta’ala).

Manusia sering kali terperangkap dengan kemauan nafsunya, angan-angan yang tidak berujung, dan cinta terhadap dunia. Sehingga dalam perjalanan hidupnya manusia sering kali mengabaikan sisi yang terpenting, yaitu adab dalam beribadah terhadap Sang Khalik ( Sang Pencipta). Sedikit sekali manusia yang mengerti dan memperhatikan tatakrama terhadap Allah Sang Khalik. Berkata Al-Imam Ibnu Athoillah As-Sakandary,

“Kegigihanmu untuk mencapai sesuatu yang telah dijamin pasti oleh Allah bagimu, dan keteledoran terhadap kewajiban yang diamanatkan kepadamu menunjukkan butanya mata hatimu.”

Kata ijtihad disini mengisyaratkan bahwa mencari rizqi dengan cara berlebihan, bertentangan dengan tatakrama seorang hamba dengan Allah Sang Khaliq. Sedangkan kebalikannya adalah orang yang menerima dengan ridla terhadap apa yang diberikan oleh Allah, dengan hanya takut terhadap apa-apa yang dilarang oleh Allah dan menjaga tatakrama selama bekerja. Secara gamblang Imam Ibnu Athoillah menggambarkan bahwa manusia itu boleh-boleh saja untuk bekerja untuk mencari dunia. Namun di sisi lain manusia juga harus menjaga amaliyah akhirat mereka. Fokus pembahasannya adalah manusia itu harus berusaha untuk menggabungkan dua kutub yang saling berlawanan itu. Tidak boleh salah satu diantaranya terbengkalai begitu saja. Allah memang telah menjamin rizqi untuk semua makhluknya, seperti yang difirmankan pada surat Al-Ankabut:

“Dan berapa banyak binatang yang tidak membawa rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ada unsur takafful (upaya menjamin) antara Sang Khaliq dengan hamba. Hal ini merupakan sebuah manifestasi (perwujudan) sifat Rahman Allah kepada makhlukNya.

Pada makna yang lain Allah tidak membiarkan manusia berpaku tangan tanpa ada usahan, sebagaimana firman Allah yang artinya, “Tidaklah bagi manusia kecuali apa yang dia usahakan. Pada kedua ayat di atas menjelaskan bahwa harus adanya kesinambungan antara usaha dan tawakal atas pemberian Allah. Di lain itu bukanlah sebuah usaha manusia sebagai tujuan inti dalam kehidupan di dunia ini, sebagaimana banyak terjadi di kalangan manusia. Mereka mengaku dalam meraih rizqi hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi kenyataannya apa yang mereka lakukan sangat bertentangan dengan apa diucapkan. Siang malam dihabiskan hanya untuk sesuap nasi tanpa memirkan apakah sudah shalat apa belum.

Di sini perlu digarisbawahi adanya ilmu tasawuf sangar diperlukan dalam mengarungi belantara kehidupan dunia, dengan ilmu tersebut manusia dapat menyaring dan mengontrol segala tindak tanduknya setiap detiknya. Karena ilmu tasawuf itu laksana filter yang dapat menetralisir segala hal-hal yang dianggap bertentangan dengan kaedah-kaedah agama.

Untuk menggapai ilmu tasawuf tidaklah mudah,banyak salah penafsiran di tengah-tengah para pemula bagi orang mempelajari ilmu tasawuf. Mereka berpendapat bahwa ahli tasawuf hanya dikekilingi sesuatu yang kumuh, kotor dan identik dengan kemiskinan. Pendapat tersebut suatu pemikiran yang dihasilkan dari orang-orang yang dangkal akan ilmunya, kurangnya memahami makna yang terkandung dalam ilmu tasawuf. Kita lihat saja kepada orang yang menjadi contoh dan tauladan ahli tasawuf, tiada lain junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Beliau berkepribadian bersih dan rapi. Tidak pernah kelihatan kotor dan kumuh pada diri beliau. Bahkan kalau beliau akan bertemu dengan sahabat, beliau bersisir dan meminyaki rambutnya. Ketika ditanyakan hal tersebut, beliau menjawab, “Aku ingin bertemu dengan sahabatku dan aku ingin mereka senang ketika melihatku”. Ini sebuah contoh yang nyata bukanlah tasawauf identik dengan hal-hal kumuh dan kotor.

Dalam mengarungi kehidupan dunia manusia berlomba-lomba mengumpulkan harta yang sebanyak banyaknya, dengan menghalalkan berbagai macam cara mereka tempuh yang penting harta ada di genggamannya. Memang manusia sesuai yang mereka usahakan sebagaiamana pada ayat di atas. Tetapi manusia harus berpikir sedalam mungkin bahwa Allah menciptakan mereka semua itu hanya untuk menyembah dan beribadah dimuka bumi. Inilah pentingnya ilmu tasawuf bagi manusia. Seperti di atas ilmu tasawuf adalah sebuah filter. Boleh saja manusia mencari harta tetapi harta tesebut tidak masuk dalam hatinya. Maksudnya bukanlah harta sebagai tujuan utama manusia diciptakan.Dan diantara cara untuk mempelajai ilmu tasawuf diperlukan kebersihan hati, dan kebesihan hati dapat dihasilkan dengan mengosongkan dari keinginan duniawi.sebab hati ibarat mata panca indera kita, jika mata tersebut sehat dan tidak buta maka seorang manusia dapat membedakan mana yang baik dan jelek, begitu pula hati kita jika kotorl lebih-lebih buta maka layaknya hewan bahkan lebih rendah. Bagaimana tidak, seorang yang buta hatinya berani membunuh hanya masalah uang seribu, mengkorupsi triliyunan rupiah untuk kebutuhan perut nya sendiri tidak melihat masih banyak di sana sini orang-orang yang hanya untuk sesuap nasi saja masih kesulitan. Hal itu tidak dirasakan bagi orang gelap dan buta hatinya.

Dan inti dari itu semua manusia sebagai manusia ciptaan Allah harus melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan menjahui segala yang dilarang,disamping tidak melupakan manusia sebagai makhluk social untuk berusaha diatas bumi ini dengan berpegangan dengan tawakkal kepada Allah yang diriealisasikan dalam ilmu tasawuf.

Sebelum berakhir ada sebuah ayat yang dapat sebagai pedoman untuk mengarungi hamparan dunia yang luas dengan mudah dan diridloi Allah :

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk sholat dan bersabarlah atas segala yang kamu hadapi, Allah tidak memintamu rizqi, melainkan Allahlah yang memberimu rizqi dan ini semua adalah konsekuensi orang yang bertakwa.”

Ayat ini sangat dalam maknanya,jika orang ingin mendapat rizqi yang lancar, maka jalannya adalah bertaqwa. Bertaqwa mempunyai komponen-komponen penyusun, antara lain iman, ilmu, dan amal. Tiga unsur ini saling terkait satu sama lain. Ketika orang berusaha mencari nafkah (yang sifatnya urgen) akan tetapi harus disadari bahwa nafkah adalah sebagian urusan Allah. Jadi sewajarnyalah mencari rizqi, jangan sampai ada istilah jungkir balik dalam mencari rizqi karena sebuah ambisi duniawi saja.

Kesadaran kita akan usaha mencari nafkah dengan landasan syareat itu sebagian dari ilmu yang telah kita ketahui dan kita amalkan. Jika ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup kita, maka rizqi itu akan datang pada kita. Wallahua’lam bishowab.

Psikologi Sufi Disarikan dari Kitab Hikam

Leave a comment »

Pendidikan Anak Secara Islami

Mungkin kita pernah mendengar peribahasa Jawa yang berbunyi, “Kacang ora ninggal lanjaran” atau “Air mata tak akan jatuh jauh dari pipi”. Peribahasa tersebut memberikan pengertian bahwa sifat, tindak tanduk dan karakter seorang anak tidak akan jauh berbeda dari dan perilaku orang tuanya. Rasulullah bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, kedua orang tuanyalah yang kemudian menjadikannya Yahudi atau Nasrani.

Habib Muhammad al-Baqier Ibn Sholeh Mauladawilah pernah menyatakan bahwa segala perilaku anak merupakan ekspresi dari masa muda sang orang tua. Semua perilaku orang tua akan ditiru oleh sang anak. Sebagaimana pendapat Habib Sholeh Ibn Ahmad Alaydrus bahwa orang tua tak hanya mewariskan kecerdasan tetapi juga kelemahan dan sifat buruk pada anaknya. Oleh karena itu Habib Muhammad al-Baqier menandaskan bahwa seseorang yang mengetahui akan hal tersebut meskipun masih berusia muda muda haruslah segera bertaubat. Karena hanya dengan bertaubat yang dapat menghalangi agar sifat-sifat buruk itu tidak menurun kepada keturunannya kelak.

Perhatikan bagaimana sebenarnya Islam menuntun umatnya untuk selalu berbuat baik. Hingga pada masalah perilaku pun diatur untuk membentuk karakter keturunan seseorang. Karena pada hakikatnya seluruh tindak tanduk kita ini akan diekspresikan pada tindak tanduk keturunan kita. Dari sini pula Islam menginformasikan bahwa berapa pun usia kita, apabila kita menjalankan perilaku yang baik dan menghindarkan diri dari perbuatan tercela, maka bukan hanya kita yang memetik manfaat tetapi juga anak keturunan kita. Dengan demikian berarti pendidikan anak dimulai sejak kedua orang tuanya masih bujangan. Tentunya konsep ini belum pernah kita temui dalam wacana di luar Islam.

Ketika seseorang hendak menikah, Rasulullah memperingatkan dalam sebuah haditsnya:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Seorang wanita (biasanya) dinikahi karena empat sebab, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan keber-agama-annya. Pilihlah wanita yang memiliki agama, (kalau tidak) tanganmu penuh debu (engkau akan menemui kesusahan).

Sebagaimana dicontohkan oleh para ulama salaf, untuk memastikan bahwa seorang wanita itu memang tepat bagi dirinya, pertama tentunya dengan melihat perilaku dan penguasaan agamanya secara dzahir. Kemudian mereka melakukan istikharah untuk meminta petunjuk pada Allah apakah wanita yang akan diperistrinya ini benar-benar salihah bagi dirinya. Hal ini dilakukan juga dalam rangka untuk memastikan bahwa calon pasangannya adalah orang yang tepat di muka Allah untuk mengandung dan melahirkan anaknya.

Sudah semestinya pula bahwa seseorang yang akan menikah juga meniatkan untuk mencari pertolongan bagi agama dan akhirat. Mereka yang telah meniatkan demikian, maka pernikahannya berada dalam kerangka niat yang baik dan dapat digunakan sebagai media untuk mendekat pada Allah. Namun ketika pernikahan itu hanya diniatkan untuk mendapatkan bagian dari dunia atau memenuhi nafsu syahwat saja, maka hal ini sangat jauh dari kebenaran dan teladan dari ulama salaf. Anak yang akan dihasilkan pun sulit diharapkan untuk menjadi anak shalih atau shalihah karena hubungan antar keduanya hanya didasari nafsu syahwat.

Ketika seorang isteri mengandung, maka kedua pasangan disunnahkan untuk memperbanyak amal dan memperdengarkan dzikir atau ayat al-Qur’an. Agar sang anak lahir telah mengenal kalam Ilahi sejak kandungan. Jika sebuah penelitian menyatakan bahwa musik klasik dapat mencerdaskan sang bayi, maka sebenarnya tuntunan para ulama salaf untuk memperdengarkan lantunan ayat suci dan dzikir adalah lebih baik sudah terbukti sejak dahulu.

Beberapa ulama bahkan rela melakukan riyadlah demi mendapatkan keturunan yang benar-benar shalih. Konon pula sewaktu Nyai Shalihah mengandung Gus Dur, Kyai Wahid Hasyim melakukan riyadlah puasa selama Gus Dur dalam kandungan. Terlepas dari unsur keturunan atau kontroversi pemikirannya, sebagian besar orang mengakui kecerdasannya di atas rata-rata.

Atau kisah Kyai Dimyati Rois (Kendal). Alkisah begitu ibunya mengetahui kalau dirinya mengandung, dia langsung berpuasa yang berlangsung hingga putranya–Kyai Dimyati–diakui sebagai kyai oleh masyarakat. Hasil riyadloh ini bukan hanya berdampak pada Kyai Dimyati saja, tetapi juga pada sang cucu, yakni putra Kyai Dimyati yang memiliki kelebihan dalam kecerdasan dan kemampuan linuwih.

Begitu sang anak lahir, Islam menganjurkan untuk membacakan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. Hal ini dimaksudkan agar suara pertama yang didengar sang bayi adalah kalimat tauhid. Ketika anak sudah beranjak dewasa, Islam mengajarkan agar orang tua memperhatikan betul tentang perkembangan keber-agamaannya. Bila seorang anak baru mampu mengucapkan huruf ‘a’ maka orang tua sebisa mungkin mengarahkan untuk mengucapkan Allah. Begitu seterusnya, hingga sang anak memiliki dzauq (perasaan) islamy.

Seorang tamu dari Yaman ketika hadir di sebuah majlis ta’lim Habib Muhammad Ibn Idrus al Haddad, menyatakan bahwa saat ini kebanyakan orang mengasihi anaknya dengan kacamata dunia bukan dengan kacamata keberislamannya. Ia dirawat, diimunisasi, ditimbangkan. Ketika sakit dirawat sedemikian rupa, disekolahkan setinggi mungkin dan kalau perlu dikursuskan apa saja hal yang tidak dipahami oleh sang anak meski dengan konsekwensi harus mengeluarkan uang jutaan rupiah. Namun ketika sang anak tidak mampu membaca ayat al-Qur’an, tidak mampu mengaji, para orang tua merasa cukup dengan mencarikan guru gratisan, madrasah diniyah yang murah meriah. Banyak orang tua yang merasa kasihan ketika melihat anak kecil diajari berpuasa, dipaksa belajar mengaji, atau dibiasakan shalat malam karena kacamata yang digunakan adalah kacamata dunia atau kesehatan jasmani semata.

Habib Aly sang tamu itu kemudian menceritakan bahwa ketika dia masih bayi, orang tuanya memaksanya untuk bangun setiap sepertiga malam, membiasakannya untuk bangun malam. Orang tuanya tidak peduli jika dia menangis di tengah malam. Asalkan tidak tidur tidur ketika Allah membagikan rezeki pada hambaNya. Ketika beliau berusia 5 tahun, beliau sudah harus mengikuti orang tuanya untuk pergi ke Masjid Nabawi di Madinah, meski harus terkantuk-kantuk di tangga masjid. Akhirnya bangun malam atau shalat malam menjadi kebiasaan yang sudah sangat sulit untuk diubah atau telah menjadi sifat malakah.

Faktor yang juga sangat penting diperhatikan adalah rezeki yang halal. Jangan sampai sang anak mendapatkan rezeki haram walau setetes. Demi kedekatan anak pada Allah, orang tua harus mengusahakan bahkan meski harus bermiskin-miskin untuk sebuah harta yang halal. Waladun shalih adalah sebuah tabungan akhirat yang tak ternilai harganya. Jika hanya sekedar menahan hawa nafsu perut atau nafsu yang lain terlalu murah untuk membeli seorang anak yang shalih. Adakah mungkin kita bisa menirunya?

Penulis : Raudloh Quds Musthofa

Leave a comment »

Gerakan Cinta Rasulullah SAW

Bulan Rabi`ul Awwal telah datang menyapa kita. Bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. ini tentu membuat kita bahagia. Sebab, ia merupakan Nabi yang diutus oleh Allah sebagai cahaya yang menerangi kegelapan; Nabi yang diutus untuk membasmi kemunkaran dengan akhlaq yang mulia. Pendeknya, kelahiran Nabi Muhammd SAW. tidak lain dan tidak bukan adalah rahmat bagi seluruh alam.

Habi Ali bin Muhammad al Habsyi dalam buku maulidnya, Simthut Duror, menyatakan,
“Bahagia dan sukaria berdatangan merasuki kalbu menyambut datangnya kekasih Allah pembawa anugerah bagi seluruh manusia.”

“Maha agung Dia yang telah memuliakan wujud ini dengan nur berkilauan meliputi semuanya dengan keriangan dan kecantikan”

“Mencapai tingkat keindahan tertingi menjulang mengangkasa dengan kemuliannya”
“mata memandang penuh damba bentuk insan sempurna pengikis segala yang sesat”

“Meski sesungguhnya keluhuran dan kesempurnannya melampui segala yang bisa dicapai pengetahuan mana pun jua …”

Ucapan Habib Ai al Habsyi tadi memang selaras dengan kejadian-kejadian yang ada di saat detik-detik kelahiran Nabi SAW. Diriwayatkan, bahwa Nabi Saw. dilahirkan dalam keadaan telah berkhitan, dan terpotong tali pusarnya. Di samping itu, malam kelahirannya terjadilah keajaiban dan keanehan, di antaranya tersungkurnya patung-patung yang ada di sekeliling Ka`bah yang berjumlah tiga ratus enam puluh. Tambahan lagi, munculnya cahaya bersama kelahirannya yang dapat menerangi gedung-gedung di negeri Syam (Syiria), juga tergoncangnya singgasana kerajaan Kaisar Persia, dan jatuhnya beranda-berandanya, serta padamnya api sesembahan orang-orang Persia yang belum pernah padam sebelum itu selama seribu tahun, serta surutnya danau Sawat.

Sungguh luar biasa keagungan Nabi Muhammd SAW. Insan kamil, uswat hasanah, Khatamul anbiya` wal Mursalin dan seabrek lagi julukan yang memang patut disematkan di pundak beliau. Kita pun beroleh barakah dari-Nya lewat perantara beliau. Merupakan keuntungan yang tiada ternilai oleh materi bagi kita yang menjadi bagian integral umat Nabi Muhammd.

Adalah suatu kewajiban, jika bukti cinta kita kepada beliau kita implementasikan dengan menapaki jejak-langkahnya; pitutur katanya; petuah-petuah intannya yang sarat dengan makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Alangkah ruginya, apabila dalam kehidupan singkat di dunia tidak mampu beramal seoptimal mungkin menggapai cita-cita tertinggi yaitu ridlo Allah SWT. dengan meneladani setiap apa yang Rasulullah SAW. haturkan ke ruang dengar kita. Sebagaimana firman Allah SWT: “Barangsiapa taat kepada Rasul maka sungguh dia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa berpaling, maka Kami tidak mengutus negkau sebagai penjaga atas mereka.” (QS An Nisaa`: 80).

Dalam kesempatan lain, Allah SWT juga menegaskan, “Sungguh ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kamu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari kemudian dan banyak mengingat Allah.” (QS Al Ahzaab: 21)

Juga firman Allah SWT, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah … (al Hasyr: 7)

Cinta memiliki banyak makna. Setiap makna yang terkandung di dalamnya senantiasa diliputi oleh misteri yang terkadang susah untuk diteropong oleh kaca mata manusia yang relatif ini.

Akan tetapi, di sini ada beberapa butir definisi cinta. Namun tentu saja defenisi yang dikemukakan para ahli ini belumlah muthlak kebenarannya.

Menurut Kahlil Gibran, “Cinta adalah keindahan sejati yang terletak pada keserasian spiritual. Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia ini karena ia begitu tinggi mengangkat jiwa, dimana hukum-hukum kemanusiaan dan kenyataan alam tidak mampu menemukan jejaknya.”

Sementara itu, John Gray, Ph.D, mengomentari defenisi cinta dengan ungkapannya sebagai berikut, “Cinta memberi bukan menerima. Cinta jauh dari saling memaksakan kehendak. Cinta tidak menuntut tapi menegaskan dan menghargai. Cinta tidak akan pernah tercipta selagi kita belum bisa menerima perbedaan.

Lain pula halnya dengan Dr. Muhammad al Qarni, pengarang buku best seller “La Tahzan” (Jangan Bersedih), ia mengemukakan pendapatnya berkenaan tentang cinta, “Menurut psikologi, cinta adalah himpunan nilai-nilai kemanusiaan yang menjelma di dalamnya makna hakiki dari kata ‘manusia’. Manusia yang tidak mampu mencintai akan kehilangan makna sebagai manusia. Karena hilangnya cinta adalah kehancuran bagi manusia.

Saatnya kita buktikan bahwa kata-kata cinta kepada beliau, bukan sekadar pemanis bibir semata, atau sebatas hiasan aksesoris yang kita kenakan mana kala kita hendak menghadirii perayaan maulid Nabi di pelbagai tempat. Terlebih di setiap acara yang diadakan demi menyambut kelahiran nabi itu dihidangkan aneka makanan yang lezat serta minuman yan menyegarkan. Sungguh betapa jauhnya diri kita meluapkan rasa cinta kita pada beliau.

Oleh karena itu, mari kita menyimak kisah-kisah sahabat berikut ini: “Suatu ketika orang-orang Makkah menyeret Zaid bin Dutsnah dari tanah Haram untuk membununya, berkatalah Abu Sufyan bin Harb, “Demi Allah, wahai Zaid. Bagaimana jika Rasulullah sekarang menggantikan posisimu untuk dibunuh sedangkan kamu duduk di rumahmu?”

“Demi Allah,” jawab Zaid mantap, “Bahkan aku tidak rela jika dia di tempatnya kini tertusuk duri sedangkan aku berada di dalam rumahku.”

Berkatalah Abu Sofyan dengan kata-katanya yang terkenal, “Aku tidak melihat seseorang mencintai orang lain sebagaimana sahabat-sahabat Rasulullah mencintai Rasulullah”.

Di kesempatan lain, seorang perempuan dari Anshar ditinggal pergi oleh ayah, saudara dan suaminya ketika perang Uhud meletus. Ketika peperangan sudah usai, para sahabat menemui beliau dan menyampaikan bahwa ayah, saudara, dan suaminya telah syahid dalam peperangan tersebut, “Bagaimana dengan Rasulullah?” tanyanya. “al Hamdulillah, beliau sebagaimana kau inginkan,” jawab para sahabat. “Mana beliau” izinkan aku melihatnya.” Desak sang perempuan. Tatkala ia berhasil melihat wajah Rasulullah, ia berseru dari kedalaman hatinya, “Semua musibah terasa ringan setelah melihatmu, wahai Rasulullah”.

Satu lagi, tatkala Bilal menghadapi sakaratul maut, keluarga besarnya berkata, “Duhai alangkah susahnya!” Bilal menjawab, “Duhai bahagianya! Esok bertemu kekasih: Rasulullah dan sahabatnya”

Adakah diri kita termasuk orang-orang yang mencintai beliau layaknya sahabat-sahabat yang ‘tergila-tergila’ kepada beliau. Mereka adalah adalah sosok-sosok yang rela mengorbankan segala jiwa raganya demi membela Rasulullullah SAW. sedangkan kita? Ah, rasanaya kita jadi malu sendiri. Meski beberapa waktu lalu umat Islam melakukan demontrasi turun ke jalan memprotes karikatur beliau SAW. Bahkan, banyak di antara kita yang meneteskan air mata, tersayat hatinya melihat sosok Nabi digambarkan sebagai teroris yang kejam dengan lilitan bom yang siap meledak di kepalanya sungguh sebuah pelecehan yang menyesakkan setiap insan muslim.

Pertanyaan kemudian adalah, apakah semua itu sudah cukup? Jawabannya berpulang pada keraifan diri kita masing-masing.

Pada dasarnya, shalawat dan salam selalu kita panjatkan untuknya. Namun kesemuanya itu tiba-tiba menyentak kesadaran kita, bahwa kecintaan kita padanya selama ini belum banyak yang kita realisasikan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kasihanilah diri kita, pantaskah kita bersesumbar mencintai Rasulullah kalau dalam keseharian kita, sering melanggar nasehat-nasehatnya? Terkadang sebab pekerjaan yang menumpuk, kita sengaja mengulur-ngulur waktu shalat; kadang kita malas membaca al Qur`an atau mengkaji hadits-hadits nabi yang tercecer di kitab-kitab ulama salaf macam, imam Bukhari, imam Muslim, imam Nawawi dan lain sebagainya.

Bagaimana bisa kita mengamalkan sunnah-sunnah beliau sedang kiat saja malas mengahafal barang lima atau sepuluh hadis-hadits beliau. Yang lebih mengenaskan, ada di antara kita dengan banggnya mengimitasi ungkapan orang yang belum tentu mengandung ajaran al Qur`an dan as Sunnah serta ajaran Salafus Shaleh. Parahnya pula, timbul sikap fanatik kepada sosok yang di-ulama`-kan bahkan diangap wali oleh sebagaian orang

Belum lagi meneladani sifat beliau yang welas asih bahkan kepada musuhnya, sabar, pemaaf, bersahaja, jujur, amamnah, adil dan gemar besedekah meski dalam keadaan krisis sekalipun dan masih banyak hal-hal yang kelihatnnya sepele tapi sebenarnya merefleksikan sejauh mana kita mengenal dan mencintai Rasulullah.

Sekedar mengingatkan, hikmah yang terkandung dalam mengikuti dan meneladanii Rasul ialah hidup kita menjadi tenang karena memiliki pegangan dan pedoman yang jelas. Apalagi di tengah ramainya arus modenisasi yang mereduksi nilai-nilai spiritual dan semakin menjauhkan umat dari nabinya, sahabat-sahabat mulia, dan ulama-ulama pecinta rasul bukan pecinta kedudukan, harta dan penggila kehormatan.

Hikmah lainnya, tentu adalah ganjaran surga. Catat firman Allah SWT. yang artinya,
“Itulah batas-batas hukum Allah dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, dan itulah kejayaan yang besar.” (QS an Nisaa`: 13)

Dengan demikian, mari kita laksanakan–meminjam ungkapan KH. Sa`dullah di sela-sela acara Maulid Akbar di masjid Al Huda, Embong Arab–“GERAKAN CINTA RASULULLAH”. Kita tanamkan sejak dini benih-benih cinta Rasul yang buahnya kita ketam lewar aktualisasi sunnah tanpa ada syak dan prasangka kepadanya. Mari kita gerakkan jantung kita, bersama Allah dan Rasul-Nya, kapan, dimana, bagaimana, dalam kondisi apa, dalam situasi apa, agar syafaat beliau melimpah dengan Cahaya, dan kita saksikan bersama “Tidaklah Kami mengutusmu, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta…”

Sebagi penutup, al faqir teringat sebuah puisi yang ditulis oleh seorang muslimah di sebuah situs,

Rindu kami padamu ya Rasul,
rindu tiada terperi
berabad jarak darimu ya Rasul serasa engkau di sini
Cinta ikhlasmu pada manusia bagai cahaya surga.
Dapatkah hamba membalas cintamu secara bersahaja …

Selamat Merayakan Maulid Nabi Muahammad Saw. 1427 H, Wahai Pecinta-Pecinta Rasul!

Ali Akbar bin Aqil
Mahasiswa Bahasa & Sastra Arab UIN Malang, Alumni Ponpes Darut Tauhid Malang

Comments (4) »