Al Tibyan

Karya: Al-Faqir Muhammad Hasyim Asy’ari

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan silaturrahim sebagai ibadah yang paling utama dan memutusnya sebagai perbuatan dosa yang paling tercela. Tentang hal diatas, telah banyak ayat-ayat Al-Qur an maupun hadits nabi yang menjelaskannya.

Afdlalu al-shalawat wa atammu al-taslim semoga teruntukkan pada Nabi Muhammad Saw., Sang Pembawa Syari’at dan keluarga serta sahabatnya yang (layak) menjadi pemimpin dan yang seperti gunung (ilmunya).

Adapun dalil-dalil ayat (yang menerangkan kedudukan silaturrahim) adalah :

“Wattaquu allaha alladzii tasaaluuna bihii wa al-arhaami, inna allaha kaana ‘alaikum raqiibaa”(Al-Nisaa :1)

“Dan bertakwalah kepada Allah SWT yang dengan (mempergunakan) nama-Nya, kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah SWT selalu menjaga dan Mengawasi kamu”. (Al-Nisaa: 1)

Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah SWT seperti : Asaluka billah, artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah SWT.

Kalau saja engkau tahu bahwa Allah SWT adalah Dzat yang mengawasi seluruh amalmu, merawat dan membalas amalmu, maka (niscaya) engkau kembali kepada jalan-Nya dan mengikuti segala perintah-Nya. Dan engkau akan berada pada ketakutan yang amat sangat dari siksa-Nya serta takut atas hijab dari-Nya. Dan engkau akan selalu menjaga dan mempertahankan silaturrahim serta takut untuk memutusnya.

Dan Allah SWT berfirman :

“Fahal ‘asaitum in tawallaytum an tufsiduu fi al-ardli wa tuqaththi’uu arhaamakum, ulaaika alladzziina la’anahum allahu faashammahum wa a’maa abshaarahum, afalaa yatadabbauuna al-quraana am ‘alaa quluubi aqfaaluhaa” (Muhammad; 22-24).

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di muka bumi danmemutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila’nak Allah dan dituliskan-nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad; 22-24).

”Wa alladziina yanqudluuna ‘ahda allahi min ba’di miitsaqihii wa yaqtha’uuna maa amara allahu bihii an yuushala wa yufsiduuna fi al-ardli, ullaika lahum al-la’natu walahum suu u al-daari”(Al-Ra’du: 13-25).

“Orang-orang yang merusak janji Allah SWT setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah SWT perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang Itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat yang buruk (Jahannam)”. (QS. Al-Ra’du; 25)

Dan barangsiapa mempunyai kesadaran dan pemahaman (tentang pentingnya silaturrahim) dengan memahami ketiga ayat diatas, maka niscaya dia akan meralat (menarik) kembali dari memutus silaturrahim.

Dan kalau saja engkau membuka mata hatimu dan membersihkannya dari kotoran dan kekurangan, maka engkau akan sadar dan faham atas (tiga) ayat tadi yang menganjurkan engkau untuk selalu mencurahkan kemampuan dan kesempatan agar senantiasa melestarikan silaturrahim.

Allah SWT berfirman :

“Wa maa yudlillu bihii illa al-fasiqiina, alladziina yanqudluuna ‘ahda allahi min ba’di miitsaqihii wa yaqtha’uuna maa amara allahu bihii an yushala wa yufsiduuna fi al-ardli, ullaaika hum al-khaasiruuna” (Al-Baqarah;26-27).
“Dan tidak ada yang disesatkan Allah SWT kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah SWT sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah SWT (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka Itulah orang-orang yang rugi”. (QS.Al-Baqarah; 26-27).

Dari Muhammad Al-Baqir, sesungguhnya bapaknya, Ali Zaenal Abidin berkata :

“Laa tushaahib qaathi’a rahimihi, li annii wajadtuhuu mal’uunan fii kitaabi allahi fii tsalaatsati mawaa’dli’a”

“Jangan kau bergaul dengan orang yang memutus silaturrahim, karena aku temukan namanya didalam Al-Kitab dilaknati dalam tiga tempat”.

Yaitu pada surat Al-Qital, dimana laknat didalam surat tersebut sangat jelas. Dan yang kedua surat Ar-Ra’du dimana laknat didalam surat ini menunjukkan keumuman. Karena Allah SWT memerintahkan dalam surat tersebut untuk menyambung tali silaturrahim. Dan surat Al-Baqarah, dimana laknat dalam surat Al-Baqarah dengan cara istilzam (ketetapan akibat yang ditimbulkan dari dalil).

Adapun dalil-dalil hadits adalah :

“Inna allaha ta’aalaa khalaqa al-khalqa hatta idzaa faragha minhum qaamat al-rahimu, fa qaalat haadzaa maqaamu al-‘idzi bika min al-qathii’ati? Qaala; na’am, amma tardliina an ashila man washilaka wa aqtha’a man qatha’aka, qaalat; balaa, qaala; fadzaalika laka”

“Sesungguhnya ketika Allah SWT selesai menciptakan makhluq, maka sifat Rahim berdiri dan berkata, “Apakah ini tempatnya orang yang minta perlindungan dari memutus tali silaturrahim?” Lantas Allah SWT menjawab “Ya”. Apakah kamu rela jika aku menyambung (tali silaturrahim) dengan orang yang menyambung tali silaturrahim dengan kamu, dan memutus orang yang memutusmu. Maka sifat Rahim pun menjawab, “Benar wahai Tuhan”. Kemudian Allah SWT berkata “Itu (tempat) adalah untukmu”.dan hadits,

“Maa min dzanbin ajdaru min an yaj’ala allahu li shaahibihii al-‘uqubata fi al-dunyaa ma’a maa yudakhkhiru lahuu fi al-akhirati min al-baghyi, wa qathiiatu al-rahimi, wa al-khiyaanati, wa al-kadzibi, wa an aj’ala al-thaa’ata tsawaaban li shilati al-rahimi, wa inna ahla al-baiti layakuunuuna fahratan fatamannau amwaalahum wayuktsiru ‘adadahum idza tawaashaluu, maa min ahli baitin yatawaashaluuna fayahtaajuuna, wa inna a’maala banii adama ta’arradla kulla khamiisa wa lailata jum’atin, falaa yuqbalu minha ‘amalu qaathi’I rahimin”.

“Tidak ada dosa yang lebih patut bagi Allah SWT untuk mempercepat siksa didunia atas pelakunya dan siksa diakhirat daripada baghyi (durhaka), memutus tali silaturrahim, khianat dan berbohong. Sesungguhnya ibadah yang paling cepat mendatangkan pahala adalah silaturrahim. Sungguh (umpama) seluruh keluarga itu buruk perangainya, maka hartanya akan bertambah banyak jika mereka saling menyambung tali silaturrahim. Dan tidaklah keluarga yang saling menyambung silaturrahim, maka mereka akan saling membutuhkan (satu sama lain). Dan sesungguhnya setiap amal (ibadah) akan dihadapkan (kepada Allah SWT) setiap hari Kamis dan malam Jum’at, kecuali amal orang yang memutus tali silaturrahim, maka amalnya tidak diterima”.

dan hadits, “Tsalatsatun laa yadkhula al-jannata, mudamminu al-khamri, wa qaathi’u al-rahimi, wa mushaddiqu bi alsihri”

“Ada tiga orang yang tidak (bisa) masuk surga, yaitu orang yang terus menerus minum khamar,orang yang memutus tali silaturrahim dan orang yang percaya dan melakukan pembenaran terhadap sihir”

dan hadits: “Al-rahimu mu’allaqun bi al-‘arsyi, taquulu; man washalanii washalahu allahu, wa man qatha’ani qatha’ahu allahu”.

“Sifat Rahim posisinya tergantung di (bawah) ‘Arsy seraya berkata,“ barangsiapa menyambungku, maka akan disambung oleh Allah SWT. dan barangsiapa memutusku, maka akan diputus oleh Allah SWT”.

Sabda Rasulullah dalam hadis qudsinya :

“Anaa allahu, wa anaa al-rahmaanu, khalaqtu al-rahima wa syaqaqtu lahaa isman min ismii, fa man washalaha washaltuhuu, wa man qatha’ahaa qatha’tuhuu”.

“Aku (adalah) Allah SWT, dan aku adalah Dzat yang mempunyai sifat kasih sayang. Aku jadikan (sifat) kasih sayang dan Aku memberinya nama dengan nama-Ku. Maka barangsiapa menyambungnya, maka Aku akan menyambung orang itu. Dan barangsiapa memutusnya, maka Aku akan memutus orang itu”.

Rasulullah bersabda,

“Arbaa al-ribaa al-istithaalatu fi ‘ardli al-muslimi bi ghairi haqqin, wa inna haadzihii al-rahima lasyajnatun min al-rahmaani, ya’nii qaraabatan musytabikatan ka isytibaaka al-‘uruuqa, taquulu; yaa rabbi innii qatah’atu, innii uusiu ilayya yaa rabbi, innii dhalamtu yaa rabbi, fayujiibuha; alaa tardliina an ashila man washalaka aqtha’a man qatha’aka”.

“Sesungguhnya riba yang paling parah adalah merusak harga diri seorang muslim tanpa haq. Dan sesungguhnya rahim adalah bagian dari sifat Rahman. Maksudnya, kekerabatan yang terjalin itu laksana terjalinnya satu otot dengan yang lainnya. Kemudian rahim berkata (kepada Allah SWT), “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah diputus, diolok-olok dan dianiaya”. Kemudian Allah SWT berkata, “Apakah kau tidak rela (jika) Aku menyambung pada orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?”.

Rasulullah bersabda :

“Inna min arbaa al-ribaa al-istithaalatu fi ‘ardli al-muslimi bighairi haqqin, wa inna haadzihii al-rahima syajnatun min al-rahmaani ‘azza wa jalla, fa man qatha’ahaa harrama allahu ‘alaihi al-jannata”.

“Sesungguhnya diantara riba yang paling parah adalah merusak harga diri seorang muslim dengan cara yang tidak benar. Dan sesungguhnya Sifat Rahim adalah bagian dari sifat Rahman. Barang siapa memutusnya, maka Allah SWT mengharamkannya masuk sorga”.

Berkata Ibnu Umar :

“Al-thaabi’u mu’allaqun bi qaaimati al-‘arsyi, fa idzaa isytakat al-rahimu, wa ‘amila bi al-‘aashii, wa ijtara a ‘alaa allahi, ba’atsa allahu al-thaabi’a fa yuthba’u ‘alaa qalbihii fa laa ya’qilu ba’da dzaalika syay’an”.

“Stempel (tutup) selalu menggantung pada tiang-tiang Arsy. Apabila Sifat Rahim telah mengadu (kepada Allah SWT) dan maksiat telah dilakukan serta (aturan) Allah SWT diterjang, maka stempel (tutup) itu akan diletakkan pada hatinya, sehingga dia tidak akan bisa lagi berpikir sehat”

Diceritakan oleh seorang lelaki dari qabilah Khots’am, ia berkata, “Pada suatu hari aku mendatangi Rasulullah SAW yang ketika itu beliau berada ditengah-tengah sahabatnya, lantas aku bertanya, “Apakah kau yang mengaku menjadi utusan Allah SWT? Rasulullah menjawab, “Betul”. Lantas aku bertanya lagi, “Manakah amal yang paling dicintai Allah SWT?” Rasulullah menjawab. “Iman kepada Allah SWT.” Lalu apalagi? Rasulullah menjawab, “Silaturrahim”, Lantas apalagi? Rasulullah menjawab, “Amar ma’ruf Nahi Munkar”.

Aku bertanya lagi, “Apa amal yang paling dimurkai Allah SWT?” Rasulullah menjawab, “Menyekutukan Allah SWT” Lantas apalagi? “Memutus silaturrahim”. Lantas apalagi? Rasulullah menjawab, “Memerintahkan kemunkaran dan melarang kebaikan”.

Dari Abi Ayyub, sesungguhnya ada seorang A’raby mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau berpergian. Sambil memegangi kendali unta Rasulullah SAW, dia bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, ceritakan kepadaku tentang amal yang (bisa) mendekatkan aku ke sorga dan menjauhkan aku dari neraka!”. Lantas Rasulullah berhenti dan memandang kepada beberapa sahabatnya seraya bersabda, “Sungguh orang itu telah diberi taufiq atau diberi petunjuk seraya bertanya balik, “Apa yang kau katakan?” Dan A’raby pun mengulangi perkataannya. Kemudian Rasulullah menjawab. “Sembahlah Allah SWT, jangan kau sekutukan Dia, dirikalah shalat, tunaikan zakat, sambunglah tali silaturrahim dan (sekarang) lepaskan untaku. Dan ketika A’raby tersebut berpaling, maka Rasulullah bersabda lagi, “Jika kau berpegang teguh pada apa yang aku perintahkan, maka kau akan masuk sorga”.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Sesungguhnya Allah SWT akan senantiasa memakmurkan perkampungan sebuah kaum dan melipat gandakan penghasilan mereka dan Allah SWT tidak pernah memandang mereka dengan pandangan kebencian mulai mereka diciptakan. Lantas Rasululah ditanya, “Apa sebabnya Yaa Rasulullah?”, Rasulullah menjawab, “Sebab mereka rajin menyambung tali silaturrahi diantara mereka”.

Peringatan !

Yang dimaksud dengan sillaturrahim yang wajib disambung adalah seseorang yang ada hubungan mahram. Yang dimaksud hubungan mahram adalah, andai kata ada dua orang yang satu lelaki dan yang lain perempuan, maka mereka berdua tidak boleh menikah, seperti (hubungan) bapak, ibu, saudara lelaki, saudara perempuan, kakek, nenek walaupun seatasnya, paman dan bibi. Adapun anak mereka, maka menyambung silaturrahim dengannya tidaklah wajib, seperti halnya diperbolehkan terjadi pernikahan diantara mereka.

Dari A’isyah RA, Rasulullah bersabda, “Sungguh, barangsiapa diberi kelembutan oleh Allah SWT, maka sesungguhnya dia diberi kebaikan dunia dan akhirat. Menyambung tali silaturrahim, keharmonisan bertetangga dan budi pekerti yang baik, bisa memakmurkan negara dan menambah (memanjangkan) umur”.

Dari Durrah Binti Abi Lahab, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, Yaa Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?” Rasulullah SAW menjawab, “Adalah yang paling bertaqwa terhadap Tuhannya, yang paling suka menyambung tali silaturrahim, yang paling sering memerintah kepada kebaikan dan melarang dari kemunkaran”.

Dari Anas ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, jangan kalian saling memutus, saling tidak bertegur sapa, saling membenci dan saling iri dengki. Jadilah dirimu, wahai hamba-hamba Allah SWT sebuah persaudaraan”.

Tidak boleh bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya diatas tiga hari. Ketika mereka berdua bertemu, yang satu memalingkan mukanya sementara yang lain melakukan hal yang sama. Orang yang lebih baik dari keduanya adalah orang yang (ketika bertemu) mengawali dengan mengucapkan salam. Dia akan lebih dahulu masuk sorga. Imam Malik berkata, “Aku mengartikan Al-Tadaabur adalah dengan memalingkan wajah ketika bertemu”.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah bersabda, tidak boleh bagi seorang muslim mendiamkan saudara (sesama muslim) diatas tiga hari. Dan barangsiapa mendiamkan saudaranya diatas tiga hari, kemudian meninggal dunia, maka ia masuk neraka”.

Dalam riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya diatas tiga hari. Lantas apabila telah lewat tiga hari, maka sebaiknya bagi muslim mengucapkan (mengirimkan) salam kepada saudaranya. Dan apabila saudaranya menjawab salam, maka mereka berdua telah bersatu dalam pahala. Apabila tidak menjawab, maka dia kembali dengan membawa dosa, sementara sang muslim telah keluar dari tuntutan hujrah (mendiamkan saudara)”.

Peringatan !
Yang dimaksud dengan hujrah adalah mendiamkan saudaranya diatas tiga hari tanpa ada tujuan syar’i. Dan yang dimaksud dengan Al-Tadaabur adalah berpaling dari saudaranya, yaitu ketika bertemu saudara sesama muslim dia memalingkan wajahnya kearah lain.

Yang dimaksud dengan Al-Tasyahun adalah kecenderungan hati untuk berbuat sesuatu yang bisa menyebabkan perpecahan atau sakit hati. Dan itu semua masuk dalam kategori memutus tali persaudaraan. (Menurut Syaikh Ibnu Hajar dalam kitab Al- Zawajir)

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh hajru (mendiamkan saudara) diatas tiga hari. Apabila mereka berdua bertemu dan salah satunya mengucapkan salam, maka mereka berdua telah bersatu dalam pahala. Kemudian apabila tidak menjawab, maka yang mengucapkan salam telah bebas dari dosa, sementara yang lain tetap kembali dengan membawa dosa”. Dan Rasulullah berkata pula, “Jika mereka berdua meninggal dalam keadaan saling bermusuhan, maka mereka berdua tidak akan bisa berkumpul didalam sorga”.

Dari Abdullah Bin Mas’ud, ia berkata, “Tidaklah dua orang muslim itu saling bermusuhan kecuali salah satunya telah keluar dari agama Islam, sehingga salah satunya kembali kepada Islam (baca; membatalkan hajru dengan salam). Yang demikian itu tiada lain caranya hanya dengan mengucapkan salam”.

Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya dua orang yang muslim itu melakukan hajru, maka niscaya salah satunya ada yang keluar dari Islam, yakni yang melakukan kedzaliman”.

Faedah
Ibnu Hajar dalam kitab Al-Zawajir berkata, “Mendiamkan orang muslim diatas tiga hari adalah dosa besar. Karena dalam hal itu terdapat upaya pemutusan hubungan persaudaraan, menyakitkan hati dan kerusakan. Kecuali dalam beberapa hal yang diperbolehkan melakukan hajru. Artinya, selama hajru itu bertujuan pada kebaikan agama orang yang mendiamkan atau orang yang didiamkan, maka boleh. Jika tidak bertujuan kepada kebaikan agama, maka tidak boleh.

Dan menurutku (KH. M. Hasyim Asy’ari) apa yang pernah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa, perseteruan yang terjadi diantara kita pada saat sekarang ini itu tidak bertujuani kepada kebaikan agama dan dunia. Bahkan bisa jadi, hal itu terjadi karena sudah rusaknya agama dan dunia dari tatanan yang mapan. Dan perseteruan itu adalah dosa besar, karena didalamnya terdapat upaya pembusukan agama dan dunia, saling iri dan benci.

Catatan
Menurut pengarang kitab Al-Uddah, bahwa sesungguhnya berseteru diatas tiga hari itu termasuk dosa kecil. Namun jika dilakukan dengan terus menerus, maka akan setara dengan dosa besar. Ukuran terus-menerus adalah dosa kecil itu dlakukan berulang ulang. Karena tidak ada perhatian dari mereka terhadap dosa kecil seperti halnya perhatian mereka terhadap dosa besar. Dengan demikian maka kesaksian dan periwayatannya tertolak. Begitu juga dihukumi dosa besar ketika dosa-dosa kecil yang berbeda ukuran dan jenisnya berkumpul jadi satu. (Al- Qawa’id al-Ahkam)

Dengan keterangan diatas, maka sesungguhnya perseteruan adalah dosa besar, dimana orang yang melakukannya akan menjadi fasiq, walaupun perseteruan itu tidak terus-menerus. Keadilan dan hak perwaliannnya akan rontok, kesaksian dan periwayatannya ditolak. Maka berpikirlah dengan sadar. Ini penting sekali! Karena hal ini sering dilupakan oleh para tokoh, apalagi masyarakat umum.

Dari A’masy, ia berkata, “Sesungguhnya Ibnu Mas’ud dalam salah satu pengajiannya berkata, “Aku bersumpah dengan nama Allah SWT (agar bebas dari akibat yang ditinggalkan) oleh si pemutus persaudaraan ketika dia beranjak meninggalkan aku. Sesungguhnya aku mau berdoa kepada Allah SWT dan pintu-pintu langit akan selalu tertutup bagi orang yang memutus persaudaraan”.

Diriwayatkan dari Abdullah Bin Abi Aufa, ia berkata, “Ketika aku duduk bersanding dengan Rasulullah SAW beliau bersabda, “Pada hari ini, jangan ada orang yang memutus persaudaraan untuk duduk bersanding denganku”. Kemudian ada seorang pemuda yang meninggalkan lokasi dan langsung mendatangi bibinya yang sebelumnya terjadi permusuhan seraya minta maaf. dan akhirnya keduanya saling bermaafan. Kemudian pemuda tadi kembali ke lokasi pengajian. Lantas Rasululah bersabda, “Sesungguhnya rahmat Allah SWT tidak akan turun pada kaum yang didalamnya terdapat pemutus persaudaraan”.

Nuktah
Yang dimaksud dengan memutus persaudaraan yang diharamkan adalah memutus tali hubungan persaudaraan yang telah dibina sebelumnya. Baik itu berupa harta, berkirim surat atau anjang sana. Pemutusan persaudaraan tanpa ada tujuan syar’i adalah dosa besar hukumnya. Karena hal itu bisa menggelisahkan hati, sakit hati dan bisa menyebabkan kebencian.

Maka berpikirlah engkau. Semoga engkau diberi taufiq oleh Allah SWT untuk selalu taat kepada-Nya dan kepada rasul-Nya. Sesungguhnya akibat dari memutus persaudaraan itu akan berimbas pada pelakunya, teman sejawatnya dan masyarakatnya. Sehingga mereka tidak mendapatkan siraman rahmat dari Allah SWT.

Kalau saja akibat dari pemutusan persaudaraan itu bisa berimbas pada masyarakat yang bersanding dengan pelaku, maka bisa anda bayangkan bagaimana akibat itu akan mengenai pelaku. Maka sadarlah dengan sesadar sadarnya, bahwa urusan memutus pertalian sangat besar resikonya.

Maka aku memohon kepada Allah SWT agar senantiasa menolong engkau untuk menyambung hubungan silaturrahim, walaupun dalam hati kecilmu kurang berkenan dengan itu semua. Sesungguhnya Allah SWT maha kuasa atas segala sesuatu dan sangat patut untuk mengabulkan doa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Tiga (macam) orang yang shalatnya tidak diangkat, walau hanya sepanjang jari diatas kepala yaitu : seseorang yang menjadi imam dari masyarakat sementara masyarakat itu membencinya. Wanita yang semalaman mendapat murka dari suaminya dan dua orang muslim yang saling memutus persaudaraan”.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Setiap hari Senin dan Kamis pintu-pintu surga terbuka dan semua hamba yang tidak menyekutukan Allah SWT mendapat ampunan, kecuali lelaki yang menjalin permusuhan dengan saudaranya”. Maka dikatakan (oleh Allah SWT kepada malaikat), “Wahai malaikatku, tundalah (ampunanku) untuk mereka sehingga mereka berdua berdamai”.

Abu Dawud berkata, “Jikalau alasan hujrah itu karena Allah SWT, maka hujrah tidak apa-apa (tidak dosa), karena sesungguhnya Rasulullah pernah mendiamkan sebagian istrinya selama empat puluh hari dan Ibnu Umar pun pernah mendiamkan putranya sampai dia meninggal dunia”.

Namun aku (KH. M. Hasyim Asy’ari) berpendapat, “Hujrah yang punya tujuan karena Allah SWT untuk ukuran Rasulullah SAW dan Ibnu Umar masih bisa diterima akal. Namun untuk ukuran kita, maka itu perlu dipikir dan diangan angan dengan mendalam”.

Sungguh, saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa ada seseorang yang berilmu, sangat giat dalam beribadah. Shalat dimalam hari, puasa disiang hari. Dia tidak pernah berbicara kecuali secukupnya. Dia haji berkali-kali sampai akhirnya dia mendapat gelar Maha Guru pada Thariqat An- Naqsyabandiyyah. Dan pada hari-hari tertentu dia uzlah (menyendiri) dirumahnya dari pergaulan manusia. Dia tidak keluar rumah kecuali hanya untuk shalat jama’ah dan memimpin dzikir.

Pada suatu hari dia keluar rumah untuk shalat Jum’at. Ketika sampai dimasjid dia marah-marah kepada orang-orang yang berada dimasjid dan berbicara kepada mereka dengan kata-kata yang kotor kemudian dia pun pulang lagi kerumah. Dan kadang-kadang pada hari yang lain dia disowani oleh pejabat negara untuk meminta barokah doa dari dia agar kehidupannya nyaman dan mapan. Dan sang pejabat seringkali memberinya uang yang banyak, sang kyai pun menerimanya dan menyambutnya dengan ramah dan santun.

Setelah beberapa hari, aku mendatangi rumahnya dan aku lama sekali menunggu sambil berdiri didepan pintu seraya aku panggil berkali-kali. Tapi dia tidak mau datang menghampiriku. Akhirnya istrinya datang menghampiriku dibalik pintu dan dia berkata, “Sesungguhnya saudaramu tidak mau beranjak keluar dari tempat ibadahnya untuk menemui siapapun”. Kemudian aku berkata, “Sampaikan dan katakan pada suamimu bahwa saudaramu Hasyim Asy’ari ingin bertemu. Maka keluarlah, jika tidak, maka aku akan masuk dan mengeluarkannya secara paksa. Kemudian istrinya memberitahu kepadanya tentang kedatanganku dan diapun akhirnya keluar menemuiku. Lalu aku bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku, telah sampai kabar kepadaku bahwa kau telah berbuat begini dan begitu. Lantas apa yang mendorongmu untuk berbuat seperti ini dan itu?”. Kemudian dia menjawab, “Aku telah melihat manusia tidak berupa bentuk aslinya. Aku melihat mereka seakan akan mereka berwujud kera”. Aku menjawabnya, “Jangan-jangan setan telah mengelabuhi pandanganmu dan menggoda hatimu. Dia (setan) berkata kepadamu, tetaplah kamu senantiasa dirumah dan jangan keluar rumah biar masyarakat menyangka kamu bagian dari wali-wali Allah SWT yang akhirnya mereka berbondong bondong datang untuk sowan kepadamu dan meminta berkah darimu dan mereka memberimu hadiah yang banyak. Maka sadarlah wahai saudaraku”, Bukankah Rasululah SAW, bersabda kepada Sayyidina Abdullah Bin Amr, “Dan sesungguhnya tamumu atas kamu ada hak”. Seraya Rasulullah bersabda dalam haditsnya, ”Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka sebaiknya dia memuliakan tamunya”.

Kemudian selang beberapa hari, kyai yang bergelar Syaikh Thariqah An-Naqsyabandiyyah itu datang kerumahku dan dia berkata kepadaku, “Engkau benar wahai saudaraku, sekarang telah aku tinggalkan uzlahku (menyendiriku) dan aku (berjanji) akan menjalankan seperti apa yang telah dijalankan oleh kebanyakan manusia”. Akhir sang kyai tadi hidup bermasyarakat sampai dia wafat. Allahumma ighfir lahu.

Sungguh merupakan hal yang maklum kalau terjadi perbedaan pendapat didalam masalah-masalah yang bukan prinsip diantara sahabatku. Mereka adalah ummat pilihan. Salah satu dari mereka tidak mungkin mencela atau memusuhi yang lain, atau menyandarkan sahabat yang lain pada kesalahan dan kesembronoan.

Begitu juga dimaklumi, perbedaan pendapat tentang masalah-masalah far’iyyah yang sangat banyak sekali antara Abu Hanifah dan Imam Malik RA. Masalah-masalah yang diperdebatkan antara keduanya hampir mencapai bilangan empat belas ribu masalah seputar bab ibadah dan muamalah.

Dan perbedaan itu juga terjadi antara Imam Ahmad Bin Hanbal dan gurunya, Imam Syafi’i. Dan salah satu dari mereka tidak ada yang memusuhi, mencaci maupun dengki terhadap yang lain. Juga tidak pernah terjadi diantara mereka saling mengklaim bahwa dirinya yang paling benar dan yang lain salah. Tapi mereka senantiasa saling asih dan menghormati serta mengutamakan (pendapat) temannya serta saling mendoakan satu dengan yang lain.

Diceritakan bahwa, Imam Syafi’i berziarah kemakam Abu Hanifah. Dia bermalam selama tujuh hari sambil membaca Al Qur an dan ketika khatam, pahala bacaannya dihadiahkan kepada Imam Abu Hanifah. Dan Imam Syafi’i tidak melakukan qunut subuh selama dia bermalam diqubah (area pemakaman) Abu Hanifah.

Dan ketika pulang dari qubah Abu Hanifah, Imam Syafi’I ditegur oleh salah satu muridnya, “Kenapa tuan tidak membaca qunut subuh selama tuan berada diqubah Abu Hanifah?”. Imam Syafi’i menjawab, “Karena Imam Abu Hanifah tidak menghukumi sunah tentang membaca qunut, sehingga aku tidak qunut karena menjaga tata krama dengan beliau”.

Begitu juga terjadi perbedaan pendapat antara Imam Rafi’i dan Imam Nawawi, Imam Ahmad Ibnu Hajar dan Imam Ramli serta pengikut-pengikutnya. Dan mereka tidak saling bermusuhan, saling mencaci dan saling mengklaim bahwa dirinya yang paling benar. Bahkan mereka saling asih, bersaudara dan mengutamakan yang lainnya.

Kalau engkau tahu dan faham keterangan diatas, maka engkau akan sadar dan faham bahwa, perbedaan masalah-masalah far’iyyah yang mengarah pada permusuhan dan memutus tali persaudaran adalah jeratan dan tipu daya setan, sombong-sombongan dan lebih pada mengikuti hawa nafsu.

Bukankah Alah SWT telah berfirman,

“Walaa tattabi’ al-hawaa, fayudlillaka ‘an sabiili allahi (Shad; 26)

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah SWT”. (QS. Shad; 26)

Dan Rasulullah bersabda :

“Maa dzi baani jaai’aani arsalaa fii ghanamin bi afsada lahaa min hirshi al-mar i ‘alaa al-maali wa al-syarafi li diinihii”

“Dua serigala kelaparan yang dilepas ditengah-tengah sekelompok kambing, tidaklah lebih membahayakan dari pada orang yang rakus terhadap harta dan gila kedudukan didalam agama”.

Dalam riwayat Jabir, Rasulullah bersabda,

“Maa dzi baani dlaariyaani ya tiyaani fi ghanamin ghaabin ri’aauhaa bi afsada min hubb al-syarafi wa al-maali lidiini al-mu mini”.

“Dua serigala buas yang mendatangi sekelompok kambing yang ditinggal penggembalanya tidaklah lebih membahayakan dari pada manusia yang gila harta dan kemuliaan dalam agama”.

Penyair berkata,

“Idzaa anta taaba’ta al-hawaa qaadaka al-hawaa * Ilaa kullu maa fiihi ‘alaika maqaalun”

“Apabila engkau mengikuti hawa nafsu * Maka dia akan menuntunmu kepada hal yang engkau akan menjadi gunjingan”

Maka kami berharap dari teman-teman seagama dan ulama yang bertaqwa untuk selalu mengikuti sahabat dan para Imam serta ulama salaf yang shaleh.

Dan ini adalah akhir dari kitab At-Tibyan. Semoga Allah SWT memberi taufiq kepada kita untuk melakukan hal-hal yang mendapat ridla-Nya. Dan semoga Allah SWT mengampuni setiap kata-kata yang pedas yang keluar dari mulut kita. Dan dengan keagungan-Nya semoga kita dilindungi oleh-Nya dimana saja kita berada. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pemurah, Mulia dan Kasih sayang. Shalawat salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Muhammad SAW, keluarga dan sahabatnya.

Kitab ini aku rampungkan pada hari Senin bulan Syawwal tahun 1360 H. dirumahku Tebuireng Jombang. Semoga Allah SWT melindunginya dari kejelekan dan kerusakan.

*Diterjemah dari kitab Al-Tibyan karya Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Tebuireng..’
http://tebuireng.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: