Akhlak Orang Berpuasa

Oleh Habib Luthfiy

ADA beberapa hal yang terkait dengan akhlak orang berpuasa. Di antaranya, kita akan mendidik individu atau pribadi masing-masing. Walaupun kenyataannya tidak mudah, tetapi hal itu merupakan sebuah latihan. Misalnya, dengan datangnya bulan Ramadan, di mana sebagai umat muslim diwajibkan untuk dapat menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan.

Puasa tersebut adalah keperluan kita semuanya, sehingga kita harus bisa menerimanya ibadah tersebut dengan dukungan kesadaran hati dan pengertiannya. Maka dengan adanya kesadaran dan menerima atas segala perintah Allah SWT, khususnya dalam puasa Ramadan, dengan kelapangan hati harus menjalankan ibadah tersebut dengan sebaik-baiknya.

Dengan demikian, dalam menjalankan puasa Ramadan akan menambah kesadaran dan ilmu untuk kita. Semakin bertambahnya kesadaran dan ilmu, maka akibatnya bisa membuat kita akan semakin lebih bertafakur kepada perilaku, ketika kita sedang menjalankan ibadah puasa, khususnya mengenai penerapan hati.

Penerapan hati kita tersebut saya kira bisa difungsikan untuk mengekang segala hawa nafsu yang terdapat pada diri kita. Misalnya, menekan sifat-sifat amarah yang ada pada diri kita. Selanjutnya, kita akan merasakan sesuatu saat menjalankan ibadah tersebut, yaitu di waktu kita lapar dan dahaga. Lebih- lebih ketika di tengah siang hari, di mana sifat aku atau ego, ketika dalam lapar dan dahaga ternyata yang ada hanyalah kelemahan.

Ada beberapa hal yang menyebabkan kelemahan faktor tersebut. Antara lain yang pertama, kita akan bisa melihat kelak bila kembali ke haribaan Allah, yaitu dibangkitkan dari alam kuburnya dan berkumpul di Padang Magsyar.

Pada saat itu, tak ada setetes air pun dan sebutir nasi yang datang untuk melepas rasa dahaga dan laparnya. Terkecuali, harapan mutlak dengan datangnya pertolongan Allah dan semua syafaat dari Baginda Rasulullah SAW. Tidak cukup dari itu, dalam keadaan lapar, dahaga dan menahan panasnya Padang Magsyar, kita akan diminta semua pertanggungjawaban selama kita menjalani hidup.

Hal yang kedua, ketika kita lapar dan dahaga, akan melihat jendela fuqarah al masakin. Bila kita mau tafaqur kepada dua hal tersebut, maka akan menumbuhkan rasa tanggung jawab yang membuahkan amal shaleh, saling asah, asih, dan asuh serta mengayomi sesama hamba yang beriman. Khususnya hilang rasa akuisme atau ego yang dimiliki setiap orang, karena kita telah menyadari atas kedhaifan. Hatinya akan hidup, selalu ingat kepada sang pencipta, yaitu Allah Ta’ala dan akan memohon petunjuk dan perlindungannya serta pengayomannya.

Lain dari semua itu, akan tumbuh akhlaqul qarimah untuk membekali dalam menunjuk hidup, sehingga menjadi golongan hamba Allah yang shaleh. Maka, dengan peranan akhlaqul qarimah, dalam bulan suci Ramadan, akan berdampak sisi positif untuk menjadi bekal menemukan Ramadan yang akan datang.(41)

– Penulis adalah Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng.
Kamis, 20 September 2007 Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: