Archive for Oktober, 2007

Memberi Makanan dan Menganjurkan Berinfaq

Muslim mengeluarkan dari Jabir ra. dia berkata, “Ketika aku sedang duduk-duduk di dalam rumahku, tiba-tiba Nabi SAW lewat di depanku. Beliau memberi isyarat dengan tangan agar aku mendekat. Maka aku bangkit dan mendekat ke arah beliau. Beliau memegang tanganku lalu kami beranjak pergi, sehingga kami tiba di salah satu rumah istri beliau. Setelah masuk ke dalam rumah lebih dahulu, beliau mengizinkan aku untuk masuk. Maka aku pun masuk. Beliau bertanya, “Adakah makan siang?” “Ada,” jawab para penghuni rumah itu. Beliau meminta tiga potong roti yang diletakkan di atas talam yang ada daun kormanya. Beliau mengambil satu potong dan diletakkan di tangan beliau, lain beliau mengambil sepotong roti lalu diletakkan di atas tanganku, lalu mengambil potongan yang ketiga, memotongnya menjadi dua bagian, satu bagian diletakkan di atas tangan beliau dan sepotong lagi di atas tanganku. “Apakah ada kuah?” tanya beliau. Mereka menjawab, “Tidak ada. Yang ada hanya cuka.” “Ambil cuka itu dan bawa ke sini, karena kuah yang paling nikmat adalah cuka.”

Ashhabus-Sunan juga mengeluarkan, seperti yang disebutkan di dalam Kitab Jam’ul-Fawa’id, 1:295.

Menganjurkan Berinfaq
Muslim dan An-Nasa’y mengeluarkan dari Jabir ra., dia berkata, “Pada tengah hari selagi kami sedang berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba muncul sekumpulan orang yang menyandang pedang, pakaiannya compang-camping hampir telanjang dan juga telanjang kaki. Mereka semua berasal dari Bani Mudhar. Muka beliau tampak muram saat melihat keadaan mereka yang miskin itu. Lalu beliau masuk ke dalam rumah dan menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan. Seusai shalat beliau menyampaikan pidato dan membacakan ayat,

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian data diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan wanita yang banyak. Dan, bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (An-Nisa’: 1).

Beliau juga membacakan surat Al-Hasyr:18,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Beliau menganjurkan agar mereka mengeluarkan shadaqah dan infak. Sehingga ada yang bershadaqah dari sebagian dinarnya, dari sebagian dirhamnya, kain, gandum dan kormanya, bahkan ada yang bershadaqah hanya dengan separoh buah korma. Ada pula seseorang dari Anshar rnembawa bungkusan di tangannya, hingga dia hampir saja tidak kuat membawanya. Sampai akhirnya terkumpul dua tumpuk makanan dan kain. Kulihat muka Rasulullah SAW berseri-seri, lalu beliau bersabda,

“Barangsiapa memberi contoh yang baik dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelah itu, tanpa ada yang dikurangi sedikit pun dari pahala mereka, dan barangsiapa memberi contoh yang buruk dalam Islam, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelah itu, tanpa ada yang dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.”

Begitulah yang disebutkan di dalam At-Targhib, 1:53.

Cara Sahabiyah Berinfaq

Ahmad dan Abu Ya’la mengeluarkan dari Ummu Salamah r.ha, dia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memasuki tempat tinggalku dengan rona muka yang muram. Karena khawatir beliau sakit, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa muka engkau tampak muram?” Beliau menjawab, “Karena tujuh dinar yang kemarin kita terima, tapi hingga sore hari uang itu masih berada di bawah kasur.” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Dan kita belum menginfakkannya”. Menurut Al-Haitsamy, 10/2381 rijalnya shahih.

Al-Bukhary mengeluarkan di dalam Adabul-Mufrad, hal. 43, dari Abdullah bin Az-Zubair r.anhuma, dia berkata, “Aku tidak melihat dua orang wanita yang lebih murah hati daripada Aisyah dan Asma’ (r.anhuma.) sekalipun caranya berbeda. Aisyah (r.ha.) biasa mengumpulkan sedikit demi sedikit, dan setelah terkumpul dalam jumlah yang banyak, dia membagi-bagikannya. Sedangkan Asma’ (r.ha.) tidak pernah menyimpan sedikit pun hingga esok hari.

Kisah Seorang Anshar

Muslim dan lain-lainnya mengeluarkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Ada seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW seraya berkata, “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar.” Beliau mengirim seseorang untuk meminta kepada salah seorang istri beliau. Namun dia juga tidak mempunyai apa pun kecuali air minum. Kemudian utusan itu disuruh menemui istri beliau yang lain, namun jawabannya juga sama, begitu pula ketika menemui semua istri beliau. Maka beliau bersabda kepada orang-orang yang ada di tempat itu, “Barangsiapa malam ini berkenan menjamu tamu, niscaya Allah akan merahmatinya.” Ada seseorang dari Anshar bangkit berdiri seraya berkata, “Aku wahai Rasulullah.” Lalu orang Anshar ini pulang menuju tempat tinggalnya dan bertanya kepada istrinya, “Apakah engkau mempunyai makanan?” “Tidak ada, kecuali makanan untuk anak-anak,” jawab istrinya. “Lipurlah mereka dengan sesuatu. Jika mereka minta makan malam, bujuklah agar mereka tidur. Jika tamu kita sudah datang, matikan lampu dan tampakkan bahwa seakan-akan kita sudah makan.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika tamu kita hendak makan, hampirilah lampu dan matikan.” Ketika tamunya sedang makan, orang Anshar dan istrinya hanya duduk saja, sehingga malam itu mereka berdua harus menahan lapar. Pada keesokan harinya mereka berdua bertemu Rasulullah SAW, lalu beliau SAW bersabda, “Allah pun merasa takjub karena perbuatan kalian berdua terhadap tamu itu. Dalain riwayat lain ditambahi, lalu turun ayat,

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Al-Hasyr: 9).

Begitulah yang disebutkan di dalam At-Targhib Wat-Tarhib.

Bukhary dan An-Nasa’y juga mengeluarkannya. Dalam riwayat Musliin lainnya disebutkan nama orang Anshar itu, yaitu Abu Thalhah ra, seperti yang disebutkan di dalam tafsir Ibnu Katsir, 4:338.

Infak Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Ibnu Ishaq mengeluarkan dari Asma’ binti Abu Bakar Radhiyallahu Anha, dia berkata, “Saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah dan Abu Bakar menyertai beliau, maka Abu Bakar membawa semua hartanya sebanyak lima atau enam ribu dirham. Kakekku yang buta, Abu Qahafah memasuki rumah seraya berkata,

“Demi Allah, menurutku Abu Bakar telah membuat kalian risau karena semua hartanya dia bawa.”

“Tidak kakek, masih banyak kebaikan yang dia tinggalkan bagi kita,” kata Asma’.

Lalu aku mengambil kerikil-kerikil dan kuletakkan di sebuah lubang di dalam rumah, yang di tempat itulah biasanya Abu Bakar meletakkan hartanya, kemudian kuletakkan kain di atasnya. Kupegang tangan kakek, sambil kukatakan kepadanya,

“Letakkan tangan kakek ditempat penyimpanan harta ini.”

Setelah meraba tempat itu, kakek berkata, “Tak apalah kalau dia meninggalkan harta ini bagi kalian. Dia memang telah berbuat yang terbaik, dan sudah cukup bagi kalian.” Padahal demi Allah, ayahku tidak meninggalkan apa pun bagi kami. Aku berbuat seperti itu dengan maksud untuk membuat agar kakek merasa tenang.”

Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Bidayah, 3:179. Ahmad dan Ath-Thabrany juga mentakhrij yang seperti ini. Menurut Al-Haitsamy, 6: 59, rijal Ahmad shahih, kecuali Ibnu Ishaq. Tapi juga ditegaskan bahwa dia memang mendengarnya.

Memberi Sedekah dengan Tangan Sendiri

Dikeluarkan oleh At-Thabarani dan Al-Hasan bin Sufyan dari Muhammad bin Usman dari Bapaknya katanya, “Harisah bin An-Nu’man telah kehilangan penglihatan matanya, beliaupun mengikat benang dari kain sajadahnya ke biliknya. Apabila orang-orang miskin peminta sedekah datang, beliau akan mengambil uang dari uncangnya dan dengan bantuan benang tersebut, beliau menuju ke arah pintu itu untuk menyerahkan uang itu dengan tangannya sendiri. Melihat keadaan yang demikian, keluarganya pun berkata, ‘Biarlah kami melakukannya untuk untuk mu’, Sebaliknya beliau berkata: ‘Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW telah bersabda,

“Memberi sedekah kepada orang miskin dengan tangan sendiri akan menyelamatkan seorang dari kematian di dalam kehinaan”.

Sebagaimana dalam Al-Ishabah.

Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Ishabah dan Ibnu Mas’ud dari Muhammad bin Usman dari Bapaknya.

Dikeluarkan oleh Ibnu Asakirdari Amru Al-Laithi katanya, “Kami berada di sisi Wasilah bin Al-Ashqa ra. ketika seorang peminta sedekah datang. Amru ra. pun mengambil sekeping roti dan meletakkan beberapa keping uang di atas roti tersebut lalu bangun untuk memberikannya kepada peminta sedekah itu. Akupun berkata, Ya Ashqa’! adakah sesiapa dikalangan ahli keluargamu yang dapat melakukannya untuk mu? Beliau menjawab, “Ya, akan tetapi barangsiapa bangun untuk memberikan sesuatu kepada orang miskin, setiap langkahnya menuju kepada si miskin itu akan menghapuskan satu kejahatan. Apabila ia meletakkannya di atas telapak tangan si peminta sedekah lalu kembali duduk di tempatnya, setiap langkahnya akan menghapuskan sepuluh kejahatan”. Sebagaimana dalam Al-Kanz.

Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad daripada Nafi’ sesungguhnya Ibnu Umar r.anhuma telah mengumpulkan ahli keluarganya duduk menghadap sebuah mangkuk yang besar untuk menikmati minuman setiap malam. Kadang-kadang beliau terdengar suara peminta sedekah di luar rumah meminta makanan, lalu beliaupun bangun dan membawa bagiannya yang terdiri dari daging dan roti lalu memberikannya kepada peminta sedekah tersebut. Beliau tidak akan kembali duduk ke tem,patnya sehinggalah makanan itu habis diambil peminta itu. Jika terdapat makanan yang berlebihan, beliau akan makan, jika tidak beliau akan berpuasa sepanjang harinya.

http://www.go.to/sahabatnabi

Iklan

Leave a comment »

Peziarah Khusyuk Menyimak Tausiyah

Haul Ke-107 Kiai Sholeh Darat

PAGI itu tak seperti biasanya, matahari bersinar teduh. Dan tak seperti biasanya pula, Taman Pemakaman Umum (TPU) Bergota Semarang ramai dipadati masyarakat yang ingin berziarah. Padahal Idul Fitri telah sepekan lebih berlalu.

Suwardi beserta istri dan kedua anaknya nampak duduk di sebuah nisan, di antara ratusan peziarah di kompleks pemakaman terbesar di Semarang itu. Hampir setiap tahun ia tak pernah alpa berziarah di makam Kiai Sholeh Darat. Kiai yang semasa hidupnya banyak berjasa dalam mengembangkan Islam di Pantai Utara Jawa, khususnya Kota Semarang.

Bersama ratusan peziarah lainnya dengan khusyuk warga Mranggen itu membaca tahlil yang dipimpin oleh KH Muhammad Muin Abdul Hafidz serta mengikuti tausiyah dan doa yang dipimpin oleh Habib Umar. “Semoga dengan berziarah ke makam mbah Sholeh Darat, kami sekeluarga mendapat barokah,” harap Suwardi.

Ya, setiap tanggal 10 Syawal, masyarakat dari berbagai penjuru daerah senantiasa memperingati haul Kiai Sholeh Darat di kompleks pemakaman umum Bergota.

Para peziarah datang dan pergi silih berganti tak henti-hentinya memadati makam ulama yang banyak menulis kitab dengan bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Arab (gaya pegon). Mereka datang tak hanya untuk berziarah tapi juga mengharap berkah dari ziarah kubra.

Kiai Sholeh Darat meninggal dunia pada 28 Ramadan 1321 H, atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1903. Meski begitu, haul-nya baru dilaksanakan pada 10 Syawal. Hal itu agar masyarakat bisa mengikuti dengan leluasa, setelah merayakan Lebaran dan Syawalan.Nama Kiai Sholeh Darat memang tak sepopuler Ki Ageng Pandanaran atau tokoh-tokoh lain yang namanya diabadikan. Namun banyaknya masyarakat yang hadir dalam acara Haul Ke-107 itu, seolah menjadi tanda akan kebesaran namanya.

12 Kitab

Semasa hidupnya, Kiai Sholeh Darat termashur di seantero Tanah Jawa, Nusantara, bahkan Asia Tenggara sebagai penulis kitab fikih, teologi, tasawuf, serta ilmu falak. Ia lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada sekitar tahun 1820 dengan nama Muhammad Sholeh. Adapun kata ”Darat” di belakang namanya adalah sebutan untuk menunjukkan tempat di mana dia tinggal. Saat ini kampung Darat masuk dalam wilayah Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara.

Dalam catatan Abdullah Salim, staf pengajar Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Kiai Sholeh Darat hingga akhir hayatnya telah menghasilkan tak kurang dari 12 karya yang digolongkan sebagai kitab kuning. Sebagian di antaranya berupa terjemahan.

Karya-karya tersebut antara lain Majmu’atus Syari’at Li Kafiyatul Awam, Sabili Abid ‘Ala Jauharotut Tauhid, Al Hikam, Munjiyat, Lathoif Thoharoh Wa Asrarus Sholat, Pasolatan, Minhajul At qiya’, Mursyidul Wajiz Fi Ilmul Qur’an, Manasikul Haji, Hadis Mi’roj, Syarah Burdah, dan Tafsir Faidhur Rahman.

Sepulang dari Makkah, Muhammad Sholeh mengajar di Pondok Pesantren Darat milik mertuanya KH Murtadlo. Semenjak kedatangannya, pesantren itu berkembang pesat.(Fani Ayudea-41)

suara merdeka, selasa 23 oktober 2007

Leave a comment »

Dua Kemenangan Orang Berpuasa

  • Oleh Habib KH M Lutfi

SELAMA berpuasa, umat muslim akan mendapatkan beberapa hal dalam menjalankan ibadah selama bulan ramadan, di antaranya kemenangan orang berpuasa. Kemenangan pertama, walaupun besarnya tidak semaksimal mungkin, namun sangat besar manfaatnya, yakni menahan hawa nafsu. Dengan hasil kita bisa menahan hawa nafsu yang telah dididik atau dibina selama satu bulan dalam bulan ramadan, maka akan menjadikan penyejuk hati untuk setiap individu atau pribadi, yang sehingga tidak mudah didorong oleh amarah (hawa nafsu) untuk berbuat yang merugikan, khususnya untuk pribadi orang tersebut.

Dari imbas kemenangan atas pribadi, akan menjadi bekal untuk kehidupan sehari-hari dari kejenuhan hati, pola pikir, pandangan, pendengaran, dan wawasan, sehingga akan memudahkan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan persaudaraan yang lebih akrab.

Dari kemenangan itu pula, untuk ke dalam (keluarga), akan lebih jernih dalam musahabah (introspeksi) melihat atas segala kekurangan-kekurangan. Maka, kemenangan ini akan menambah membentuk keluarga sakinah yang tidak teradang oleh amarah.

Kita akan bisa melihat sesama kita kekurangan-kekurangan di antara sesama kita, antara lain akan saling terisi atau saling mengisi antarkeduanya.

Sebab, kejernihan itu akan memandang lebih jauh dan meningkatkan kejernihan di antara satu sama lainnya.

Tidak Kekal

Kemenangan kedua, dalam ukhrawi pembawa akhirat (ibadah). Dengan kejernihan tersebut akan menjadikan bekal untuk memandang ke depan, bahwa hidup ini tidak selamanya atau kekal. Maka, untuk bekal hari kemudian (ajal) dari hari kebangkitan, akan meningkatkan dalam mengisi segala kekurangan-kekurangan.

Misalnya, hubungan dirinya dengan sang pencipta, hubungan dirinya dengan utusan Allah, hubungan dengan ulil amri dan hubungan dengan ulama serta sesama manusia. Sebab dari itu, akan menumbuhkan pola pikir dan wawasan dalam memahami ajaran agamanya dan meningkatkan kesadaran lebih jauh.

Dengan demikian dari kemenangan-kemenangan tersebut, mereka tidak mudah tertipu oleh sesuatu perbuatan yang menjauhkan dari beberapa hal yang tersebut di atas. Dengan kemenangan itu, akan menjadikan jembatan emas untuk meningkatkan dalam bersyukur kepada yang maha kuasa, ditandai sebagai bukti syukur atas kemenangannya akan membelanjakan yang bermanfaat, berguna bagi agama, nusa dan bangsa.(77)

Habib KH M Lutfi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng 

Kamis, 11 Oktober 2007 Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

Comments (1) »

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar

Oleh Habib Lutfi bin Yahya

BULAN ramadan, kesibukan masjid dan mushala mengalami peningkatan kegiatan yang luar biasa. Jika di hari-hari biasa, sehabis shalat isya suasana nyaris sepi tak ada kegiatan. Jangankan kegiatan membaca Alquran, jamaah shalat isya hampir dipastikan hanya satu shaf depan saja tidak penuh. Akan tetapi di bulan ramadan yang merupakan bulan penuh rahmat dan ampunan, hampir dapat dipastikan jumlah jamaah dan volume kegiatan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Mengapa? Di samping Allah telah menjanjikan dalam Alquran, barang siapa yang menjalani amal ibadah di bulan ramadan, akan dilipatgandakan pahala ibadahnya yang nilainya terserah Allah sendiri.

Baik itu untuk amalan ibadah mahdlah (yang sudah ditentukan) seperti shalat tarawih, witir, tahajud, puasa dan sejenisnya maupun amalan ibadah ghairu mahdlah (selain yang tidak ditentukan) seperti shadaqah, berbuat baik, hingga memberi makan anak yatim.

Kegiatan masjid dan mushala menjadi semakin ramai menjelang sepuluh terakhir di bulan ramadan, meski jamaah yang mengikuti tarawih mulai berkurang. Tetapi hamba hamba Allah rela tidak tidur dan menahan kantuk untuk menantikan sesuatu yang sangat diidam-idamkan.

Tidak hanya tarawih dan tadarus Alquran, pada malam-malam ganjil yakni tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29 ramadan, aktivitas ditambah dengan iktikaf (berdiam diri dalam masjid), shalat tasbih dan lain-lain.

Pada tengah malam di atas jam 00.00 para pengurus takmir membuka pintu dan pagar masjid mushala lebar-lebar dan mengumumkan melalui pengeras suara membangunkan umat untuk shalat tasbih, tahajud, hajat dan shalat sunat lainnya dengan satu tujuan sama, yakni sama sama ingin meraih lailatul qadar.

Malam Istimewa

Siapa pun umat Islam tak ingin melewatkan dan meraih lailatul qodar. Betapa tidak, malam yang yang sangat istimewa sebagaimana disebutkan dalam Alquran adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu 83 tahun lebih 4 bulan (lailatul qadri khairun min alfi sahr).

Seumpama sehari orang shalat fardlu 17 rakaat, maka selama seribu bulan pahalanya identik dengan shalat 510.000 rakaat. Padahal rata-rata usia umat Muhammad berkisar 60 tahun. Kalau sehari melaksanakan shalat wajib 17 rakaat, maka dalam usia 60 tahun hanya mampu melaksanakan 367.200 rakaat. Betapa besar kemuliaan yang dijanjikan Allah pada lailatul qadar.

Pertanyaannya, kapan sebenarnya malam kemuliaan (lailatul qadar) itu? Dalam Alquran Allah bertanya, tahukah kamu apakah malam kemuliaan (lailatul qadar) itu? Allah menjawab pada ayat berikut (lailatul qodri khoirun min alfi sahr) Allah tampaknya sengaja merahasiakan kapan hari “H” lailatul qadar agar manusia berpikir. Karena kerahasiaan Allah itu sampai sekarang berkembang kontroversi atau polemik tentang malam seribu bulan.

Ada yang berpendapat, hari “H” sengaja dirahasiakan Allah agar umat Islam menghidupkan ramadan sejak awal hingga akhir. Andaikan para kiai dan ulama sepakat lailatul qadar pada malam 27 misalnya, mungkin umat Islam di dunia pilih beribadah habis-habisan pada malam itu saja. Malam-malam ramadan yang lain bisa diabaikan.

Ada juga yang menerjemahkan salamun hiya hatta mathlail fajr atau malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. Tidak hanya sampai terbitnya matahari, tetapi panjang sampai hitungan yang tidak terbatas. Walhasil kontroversi itu semakin panjang untuk didiskusikan. Bahkan mungkin kalau dibahtsulmasailkan (membahas masalah masalah agama) tidak akan ada habis-habisnya.

Umat Islam yang meyakini lailatul qadar berada di malam likuran atau malam ganjil di atas tanggal 20 ramadan mungkin dilandasi oleh sebuah hadits yang artinya carilah lailatul qadar pada malam ganjil, sepertiga yang terakhir dari bulan ramadlan.

Jadi, tidak perlu disalahkan kalau kemudian para kiai, ulama dan mubalig di masjid dan mushala mengekploitasi hadits tersebut besar-besaran.

Dampaknya tentu pada malam likuran semangat beribadah terasa tertambah seperti mendapat energi baru di tengah tengah kelesuan menjalankan amalan-amalan di bulan ramadan.

Cara Menghitung

Untuk mengetahui kapan hari “H” lailatul qadar, Imam Asy-Syaíroni memberi pedoman dengan melihat awal ramadan. Kalau awal ramadan jatuh pada Jumat atau Selasa, berarti lailatul qadar jatuh pada malam 29 ramadan.

Kalau awal ramadan jatuh pada Ahad atau Rabu maka lailatul qadar jatuh pada malam 27 ramadan.

Jika awal ramadan Kamis, maka lailatul qadar jatuh pada malam 25 ramadan. Kalau awalnya Sabtu jatuh pada malam 23 ramadan dan jika awal ramadan pada Senin maka jatuh pada malam 21 ramadan.

Imam Asy-Syaíroni juga memberikan tanda-tanda, yaitu pada malam itu cuaca dalam keadaan terang benderang dan cerah, tidak ada hujan dan bintang di langit menampakkan sinarnya, angin semilir dan tidak panas.

Pagi harinya matahari terbit tidak langsung memancarkan sinar panas tetapi agak redup dan tidak mendung.

Pada prinsipnya, saya setuju kalau ada yang berpendapat malam kemuliaan itu sejak awal hingga akhir ramadan. Yang penting, gelora semangat untuk beribadah terpompa tidak hanya di bulan suci ramadan, akan tetapi juga 11bulan lain di luar bulan suci ramadlan.

Insya Allah kalau sejak awal ramadan kita membiasakan qiyamul lail, shalat tasbih, tahajud, hajat, tawarih dan lain-lain kita akan mendapat berkah lailatul qadar. Amin ya rabbal alamin.(77)

– KHM Habib Lutfi, Ketua MUI Jateng.

Kamis, 04 Oktober 2007 Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

Comments (3) »

Ahli Ilmu Hikmah Itu Telah Tiada

Rabu, 03 Oktober 2007
KH Muhaiminan Dimakamkan Pagi Ini

Innalillahi wainnaillaihi rajiun….
Innalillahi wainnaillaihi rajiun….
Innalillahi wainnaillaihi rajiun….

TEMANGGUNG- Kiai khos dari Parakan, Temanggung, KH Muhaiminan Gunardo, petang kemarin sekitar pukul 17.30 meninggal dunia di rumahnya kompleks pondok Kiai Parak, Kauman Parakan. Almarhum meninggal setelah beberapa hari lalu sempat menjalani rawat inap di RS Kariadi Semarang karena sakit liver.

Semalam jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka, dengan ditunggui istri, anak-cucu dan para kerabat serta para santri pondok yang diasuhnya itu.

Rencananya, jenazah akan dikebumikan di pemakaman umum Kiai Parak, Parakan, pada hari ini sekitar pukul 08.00, setelah sebelumnya dilakukan upacara pemakaman.

Mbah Hinan, panggilan akrab KH Muhaiminan Gunardo, dilahirkan di Parakan, 74 tahun lalu. Dia meninggalkan seorang istri, Hajjah Jayidah Muhaiminan, 4 orang anak laki-laki dan 2 orang perempuan. Selain dikenal sebagai kiai karismatik, dia juga merupakan pendiri dan pengasuh pondok pesantren Kiai Parak.

Sedangkan aktivitas berdakwah menjadi kegiatan utamanya selama ini. Selain di Kabupaten Temanggung sendiri, dia seringkali diundang ke kota-kota lain di Jawa Tengah, terutama di kawasan pantura, bahkan juga di luar Jawa. Sejumlah tokoh masyarakat dan pejabat sering berkunjung ke kediamannya untuk mendapatkan nasihat-nasihat.

Ahli Hikmah

Selama ini masyarakat lebih mengenal Mbah Hinan selain sebagai alim ulama yang ahli di bidang agama juga ahli di bidang ilmu hikmah. Tak sedikit yang berhubungan dengan almarhum berkaitan dengan ilmu kekebalan untuk pertahanan diri bahkan tak sedikit yang berkaitan dengan kedudukan dan jabatan. Kiai khos itu telah tiada, selamat jalan Mbah Hinan.

Dunia politik pernah digelutinya dengan menjadi salah seorang pengurus Dewan Syuro DPP PKB sebelum terjadi konflik. Ketika PKB pecah menjadi PKB kubu Muhaimin Iskandar dan Alwi Shihab, dia berafiliasi ke PKB Alwi Shihab.

Adapun di organisai PBNU, almarhum menjabat sebagai Mustasyar. Disamping itu, saat ini dia masih menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Jam’iyyahTariqah Muqtabaroh An-Nahdliyyah serta pimpinan Tariqah Syadzaliyah.

Sementara itu, Bupati Temanggung Irfan mengatakan, KH Muhaiminan Gunardo merupakan seorang tokoh panutan yang sangat dikenal masyarakat luas. Selain itu, beliau juga banyak memberikan sumbangan spiritual bagi kehidupan masyarakat dan perhatian kepada dunia birokrasi.

”Dengan wafatnya KH Muhaiminan Gunardo, bupati dan masyarakat Kabupaten Temanggung merasa kehilangan,” tutur Bupati, sembari berdoa agar wafatnya dalam keadaan khusnul khatimah.

Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wakfuanhu. Amin.

——————————————————————————————-
Kamis, 04 Oktober 2007

Ribuan Pelayat Antar Jenazah Mbah Hinan

TEMANGGUNG – Ribuan pelayat berdesak-desakan mengantarkan jenazah KH Muhaiminan Gunardo menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir di pemakaman Kiai Parak, Kauman Parakan, kemarin.

Rasa sedih yang mendalam dan isak tangis tidak bisa lagi disembunyikan dari wajah mereka, terutama tatkala jenazah kiai karismatik yang biasa dipanggil Mbah Hinan itu mulai diturunkan ke liang lahat.

Para pelayat tidak hanya berasal dari Temanggung, namun juga kota/kabupaten lain di Jateng dan Jatim. Mereka juga bukan hanya ulama dan santri, tapi juga para pejabat, tokoh masyarakat, PNS, dan alumni Pondok Kiai Parak dan masyarakat kalangan bawah.

Sejumlah tokoh yang hadir dalam upacara pemakaman itu antara lain Ketua Dewan Syuro DPP PKNU sekaligus pengasuh Ponpes Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang KH Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur), Idham Chalid (Sekjen PKNU), Abdul Kadir Karding (Ketua DPP PKB), HM Adnan (Ketua PWNU Jateng), dan Maarif Zainudin (Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri).

Sementara dari kalangan pejabat, tampak hadir Gubernur Ali Mufiz, Bupati Temanggung M Irfan, sejumlah bupati/wali kota di Jateng, serta pejabat dan staf dinas/instansi Pemkab Temanggung dan Pemprov Jateng.

Gubernur Ali Mufiz dalam sambutan upacara pemakaman mengatakan, masyarakat Jateng sangat kehilangan atas wafatnya KH Muhaiminan Gunardo, yang selama hidupnya senantiasa mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat. ”Semoga segala amal-amalnya diterima Allah SWT dan diampuni kesalahan-kesalahannya,” kata dia.

Menurut Gubernur, Mbah Hinan merupakan sosok sederhana. Namun dedikasinya bagi kemaslahatan umat sangat tinggi. ”Karena itu, kita perlu meneladani dan berkewajiban untuk meneruskan segala perjuanganya tersebut.”

Dakwah ke Luar Jawa

KH Abdurrahman Chudlori mengatakan, akhir-akhir ini Mbah Hinan sangat giat untuk berdakwah dan menyebarkan ilmunya ke mana-mana, termasuk luar Jawa. Itu karena keprihatinannya dengan fenomena yang terjadi, dimana fitnah makin merebak, halal-haram tidak dibedakan lagi dalam mencari penghidupan, dan anak durhaka pada orang tua.

”Karena itu, kalau ulama dipanggil Allah, sebetulnya telah menjadikan gelap dunia ini. Ibaratnya, jika Allah akan mengambil lampu dunia, maka diambil oleh-Nya para ulama itu,” tambahnya.

Dikatakan, jika manusia tidak segera memiliki lampu, pasti akan tersesat dalam mengarungi kehidupan. Selama hidupnya, Mbah Hinan telah memberikan teladan kepada para ulama agar selalu menyebarkan ilmunya. Sebab, jika ulama tidak mau menyebarkan ilmunya akan dilaknat Allah. ”Mbah Hinan selalu berupaya berjuang melalui bidang apa pun, termasuk ketika memilihkan calon gubernur,”ujarnya. (H24-62)

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

Leave a comment »

Wahai Ahlu Badr..!

Kontributor: Munzir Almusawa Saturday, 29 September 2007

Ratusan wajah suci pemilik jiwa khusyu menghadap dengan penuh Takdhim kepada manusia yg paling berhak dicintai, yg bakti kepadanya merupakan kesempurnaan Iman, Sayyidina Muhammad saw. Ramadhan tahun kedua Hijriyah adalah ramadhan yg berbeda dari segenap ramadhan sepanjang sejarah Bumi dihamparkan oleh Sang Pencipta swt, Sang Nabi saw berkata kepada mereka : “Beri aku pendapat wahai khalayak..?”, beliau saw mengucapkan itu dengan maksud pada kaum Anshar, maksudnya apakah mereka akan ikut bersama dalam Jihad atau tetap tinggal, sebab saat Bai’at Aqabah mereka bersumpah setia membela Rasul saw sebagaimana mereka mempertahankan keluarga dan anak anak mereka, namun itu jika Rasulullah saw telah masuk ke Madinah, jika diluar maka mereka berlepas diri,

Maka berkatalah Sa’ad bin Mu’adz ra dari kamu Anshar : “Tampaknya kau mengarahkan pertanyaan pada kami (Anshar) wahai Rasulullah ?”, Rasul saw menjawab : “Benar”, maka berkatalah Sa’ad bin Mu’adz ra:

فَقَدْ آمَنّا بِك وَصَدّقْنَاك ، وَشَهِدْنَا أَنّ مَا جِئْتَ بِهِ هُوَ الْحَقّ ، وَأَعْطَيْنَاك عَلَى ذَلِكَ عُهُودَنَا وَمَوَاثِيقَنَا ، عَلَى السّمْعِ وَالطّاعَةِ فَامْضِ يَا رَسُولَ اللّهِ لِمَا أَرَدْتَ فَنَحْنُ مَعَك ، فَوَاَلّذِي بَعَثَك بِالْحَقّ لَوْ اسْتَعْرَضْتَ بِنَا هَذَا الْبَحْرَ فَخُضْتَهُ لَخُضْنَاهُ مَعَك ، مَا تَخَلّفَ مِنّا رَجُلٌ وَاحِدٌ وَمَا نَكْرَهُ أَنْ تَلْقَى بِنَا عَدُوّنَا غَدًا ، إنّا لَصُبُرٌ فِي الْحَرْبِ صُدُقٌ فِي اللّقَاءِ . لَعَلّ اللّهَ يُرِيك مِنّا مَا تَقَرّ بِهِ عَيْنُك ، فَسِرْ بِنَا عَلَى بَرَكَةِ اللّهِ
“Kami telah beriman kepadamu Wahai Rasulullah..!, dan telah membenarkan tuntunanmu, dan kami telah bersaksi bahwa apa apa yg kau ajarkan adalah kebenaran, dan kami berikan itu sebagai janji dan sumpah penguat kami, untuk selalu taat dan berpanut, berangkatlah wahai Rasulullah kemanapun maumu dan kami bersamamu..!, Demi Allah Yang Telah Membangkitkanmu dengan Kebenaran, jika kau hadapkan kami ke lautan dan kau masuk kedalam lautan maka niscaya kami akan membenamkan diri pula kedalamnya bersamamu, dan tak akan ada yg tersisa dari kami seorangpun!, dan kami tak mengingkarimu jika kau hadapkan kami pada musuh kami esok, sungguh kami orang orang yg sabar menghadapi peperangan, sangat bersungguh sungguh dan mendambakan perjumpaan (dengan Allah swt), Barangkali Allah memperlihatkanmu dari kami apa apa yg membuatmu gembira!, maka berangkatlah bersama kami dalam keberkahan Allah..”.

Masya Allah.. alangkah agungnya janji setia para sahabat pada Nabi saw, mereka rela mati bersama Rasul saw, rela membenamkan dirinya didasar lautan, rela berbuat segalanya, jika itu membuat gembira hati Rasulullah saw, dan mereka selalu ingin bersama Rasulullah saw kemanapun beliau saw pergi mereka selalu ingin bersama beliau saw dan tak rela berpisah, walaupun kebersamaan mereka harus terancam kematian..

Pada hari senin malam ke sembilan Ramadhan tahun kedua hijriyah berangkatlah pasukan Ahlu Badr radhiyallahu’anhum, dan didepan Rasulullah saw dua bendera hitam, yg satu dipegang Ali bin Abi Thalib kw dan yg satu dipegang salah seorang Anshar, Mereka hanya memiliki 70 ekor unta, dan mereka berdua dan bertiga diatas satu onta, dan Rasulullah saw bersama Ali bin Abi Thalib kw diatas satu onta, Hamzah bin Abdulmuttalib ra bersama Zeyd bin Haritsah ra diatas satu onta, dan Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra dan Abdurramhan bin Auf diatas satu onta.

Maka kejadian Badr adalah pada hari Jumat 17 ramadhan tahun 2 Hijriyah, dan Sang Nabi Mulia bermunajat, mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Yang Maha Mendengar segala doa hamba hamba Nya, sebagaimana doa para Nabi sebelum beliau saw, sebagaimana Doa Nabi Nuh as kepada Allah sebagaimana Allah swt menceritakannya pada Al Qur’an surat Nuh as : “Berkata Nuh : Wahai Tuhan Jangan Kau sisakan diatas Bumi rumah rumah orang kafir, Sungguh Jika Engkau biarkan mereka maka akan menyesatkan hamba hamba Mu, dan mereka tak berketurunan kecuali Fajir dan Kafir pula” (QS Nuh 26-27),

Maka kini yg berdoa adalah pemimpin para Nabi dan Rasul, Sayyidina Muhammad saw, seraya bermunajat dg mengangkat kedua tangan hingga terjatuh rida (sorban yg dipundak) dari pundaknya, yg diantara doa beliau saw adalah : “Wahai Allah jika celaka dan hancur kelompok kecil ini, maka aku takut tak ada lagi yg menyembah Mu..”

Demikian besarnya cinta dan bakti beliau saw kepada Allah, sehingga sangat takut dan tidak mau jika sampai terjadi dimuka Bumi tak ada lagi yg menyembah Allah swt, maka Abubakar shiddiq ra memeluknya dari belakang tubuhnya seraya berkata : “cukup.. cukup.. wahai Rasulullah.. sungguh Allah akan menjawab doamu..”, tak lama kemudian Rasul saw berpaling kepada Abubakar ra dengan gembira seraya bersabda : “Kabar gembira wahai Abubakar, telah dating pertolongan Allah, Ini Jibril yg telah siap bertempur”.

Masya Allah…, saat beliau saw menghadapi cobaan dan rintangan beliau saw selalu menahan diri dari berdoa, namun ketika beliau berdoa, maka sungguh beliaulah saw yg paling berhak mendapat Ijabah dari semua pendoa dilangit dan Bumi, Dan rasul saw bersabda : “Jangan kalian menyerang mereka sebelum mereka menyerang kalian!”, Subhanallah.. betapa indahnya akhlak dan kelembutan beliau saw, bahkan saat kedua barisan sudah berhadapan sekalipun kelembutan dan akhlak beliau saw terhadap musuh masih tetap terlihat, Maka turunlah bantuan dari Allah swt menjawab doa sang Nabi saw :

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ
“Ketika kalian berdoa pada Tuhan kalian, maka Dia mengabulkan doa kalian, Sungguh Aku membantu kalian dengan seribu dari para Malaikat yg turun berdatangan” (QS Al Anfal 9).

بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آَلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ
“Benar, Jika kalian bersabar dan bertakwa dan mereka menyerang kalian, maka Dia (Allah swt) Tuhan kalian membantu kalian dengan lima ribu malaikat yg siap dalam peperangan” (QS Al Imran 125).

Alangkah Agungnya pertolongan Allah kepada Sang Nabi saw dan para pecinta Sang Nabi saw, sehingga diriwayatkan :

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ ، وَكَانَ شَهِدَ بَدْرًا ، قَالَ بَعْدَ أَنْ ذَهَبَ بَصَرُهُ لَوْ كُنْت الْيَوْمَ بِبَدْرِ وَمَعِي بَصَرِي لَأَرَيْتُكُمْ الشّعْبَ الّذِي خَرَجَتْ مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ لَا أَشُكّ فِيهِ وَلَا أَتَمَارَى
Dari Abi Usaid Malik bin Rabii’ah ra, yg ikut dalam perang Badr seraya berkata setelah ia menjadi buta : “Kalau sekarang aku di Badr dan aku masih bisa melihat, maka akan kutunjukkan kalian belahan lembah yg keluar darinya para Malaikat, tiadalah aku ragu akan itu dan tidak pula syak”.

Masya Allah…, Betapa dahysatnya Jumat 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, hari yg menyaksikan pembelaan Ahlu Badr pada Rasulullah saw, sungguh tak ada orang yg lebih memuliakan dan mencintai Rasulullah saw melebih Ahlu Badr, radhiyallahu ‘anhum ajma’iin, hingga diriwayatkan bahwa Rasul saw bersabda : “Allah swt berfirman kepada Ahlu Badr : “Beramallah semau kalian, sungguh aku telah mengampuni dosa kalian” (Shahih Bukhari).

Disebut Perang Badr karena kejadian itu terjadi di wilayah yg dinamai “Badr”, Ahlu Badr berarti pejuang yg hadir di perang saat di Medan Badr, mereka adalah dari kelompok Muhajirin dan Anshar dan sebagian Qabilah lainnya, peperangan selesai dengan kemenangan muslimin.. Ternyata semangat perjuangan dan Bakti Ahlu Badr terhadap Rasul saw tidak selesai di Medan Badr, namun berkesinambungan hingga Rasul saw wafat.

Ketika Rasul saw wafat maka banyak para pembangkang yg menentang Khilafah Abubakar shiddiq ra, maka diantaranya adalah penduduk Yaman, maka terdapat sebuah desa kecil yaitu kota Tarim di hadramaut Yaman yg penguasanya menulis surat kepada Khalifah Abubakar Shiddiq ra untuk meminta bala bantuan, untuk menundukkan mereka yg membangkang pada Khalifah Abubakar Shiddiq ra, maka Khalifah ra mengirimkan bala bantuan pasukan sahabat, diantara mereka ikut pula Ahlu Badr, mereka menuju kota Tarim dan tiba di kota tsb dari Jabal Khailah, (gunung Kuda), dinamai demikian karena dari gunung itulah kuda kuda para sahabat datang dari arah Madinah Al Munawwarah.

Maka para sahabat itupun berjihad bersama penduduk Tarim dan sebagian diantara mereka wafat dan dimakamkan di Tarim, maka sampailah kabar kepada Khalifah Abubakar Asshiddiq ra bahwa kota Tarim adalah pendukung kebenaran, maka Abubakar shiddiq ra berdoa untuk kota Tarim dan diantara doa beliau yg masyhur : “Wahai Allah tumbuhkan para shalihin dikota itu bagaikan tumbuhnya rumput di musim hujan..!”

Maka jadilah kota Tarim sebagai kota para wali Allah swt yg sebagian besar penduduknya adalah Ahlul Bait Rasul saw, di kota Tarim lah makam Al Hafidh Al Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad shohiburratib, juga Imam Abdullah bin Abubakar Alaydrus, Al Imam Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi, dan ribuan para shalihin lainnya, mereka dimakamkan di pekuburan “Zanbal”, siapa yg pertaman kali dari Imam Ahlul Bait yg dikubur di Tarim?, yaitu Imam Ali bin Alwi Khali’ Qasam, beliau mewakafkan tanah pekuburan untuk pekuburannya dan keturunannya hingga kini, tepat berdampingan dengan Pemakaman Ahlu Badr yg wafat saat berjihad di kota itu,

Demikian Sejarah para sahabat dan Ahlul Bait Rasul saw, mereka berdampingan dalam perjuangannya, dan bahkan ingin berdampingan pula dalam pekuburannya, hingga Imam Ali bin Alwi Khali Qasam mewakafkan tanah untuk kuburnya dan keturunannya berdampingan dengan makam makam Ahlu Badr..

Dan hingga kini pekuburan Zanbal telah memendam ribuan jasad para wali dan shalihin berkat Doa Khalifah Abubakar Shiddiq ra, dan banyak diziarahi orang.

Ternyata perpaduan antara Imam Imam Ahlul Bait Rasul saw dengan Ahlu Badr di Tarim tak putus sampai disitu, namun berkesinambungan dengan keluarnya para Da’I ahlul bait Rasul saw ke pelbagai Negara, hingga Gujarat, dan sampai ke pulau Jawa, 9 orang wali Allah yg dikenal dg nama wali songo, mereka dapat membawa semangat Ahlu Badr, mereka datang tak membawa senjata, tak membawa pasukan, tak membawa harta, mereka datang membawa Jiwa Ahlu Badr, dan mereka meratakan seluruh pulau Jawa dari Ujungkulon hingga Banyuwangi, rata dengan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah saw,

Seluruh Kerajaan dan kesultanan, dukun, bangsawan, dan semua golongan masyarakat, tunduk pada mereka dibawah bendera Tauhid, yg diusung oleh para Da’I mulia yg berjiwa Ahlu Badr.. Mewarisi semangat Imam Ahlu Badr, yaitu Sayyidina Muhammad.. Pemimpin Ahlu Badr, Sayyidina Muhammad..

Rabbiy.. telah berjanji Nabi Mu bahwa seseorang akan bersama dengan orang yg ia cintai, maka saksikanlah sumpah kami bahwa kami mencintai Ahlu Badr, kami beridolakan Ahlu Badr.., maka padukan kami di hari kebangkitan kelak dengan Ahlu Badr.., kami rindu melihat wajah wajah khusyu mereka, kami rindu melihat wajah wajah sopan dan lembut mereka, kami rindu memandang wajah bercahaya mereka..,

Saat masing masing kelompok dipanggil untuk berdiri di hari kiamat, maka akan dipanggillah Ahlu Badr.., maka berdirilah 313 syuhada Badr dengan wajah yg bercahaya.. Sungguh tak ada wajah yg lebih terang benderang dari wajah mereka di ummat ini.. sungguh tak ada derajat melebih derajat mereka di ummat ini..,

Sungguh telah sampai riwayat pada kami telah berkata Abu Dzarr ra kepada Rasul saw : “Wahai Rasulullah.. seseorang mencintai suatu kaum namun tak mampu beramal seperti amal mereka”, maka Rasul saw menjawab : “Engkau wahai Abu Dzarr akan bersama orang yg kau cintai”, maka Abu Dzar berkata : “Aku sungguh mencintai Allah dan rasul Nya..!”, maka Rasul saw menjawab : “engkau bersama yg kau cintai” (HR Shahih Ibn Hibban, Adabulmufrad Imam Bukhari, Musnad Ahmad dll)

Maka kami bersumpah pada Mu wahai Allah bahwa kami mencintai Ahlu Badr..!, maka pastikan pula bahwa kami akan dipanggil di Padang Mahsyar bersama Ahlu Badr..,dan bersama Pemimpin Ahlu Badr, Sayyidina Muhammad saw..

Dan Rabbiy Bangkitkanlah semangat Ahlu Badr pada jiwa pemuda pemudi kami, penuhi jiwa muslimin hingga beridolakan Ahlu Badr, beridolakan Imam Ahlu Badr, Sayyidina Muhammad saw..!, Rabbiy cabutlah segala cita cita maksiat pada jiwa kami dan jiwa muslimin..,

Kami bermunajat kehadirat Mu, agar kau gantikan generasi Narkoba, generasi pezina, generasi pemabuk, generasi penjudi.. Rabbiy Gantikan dengan Generasi pemuda pemudi berjiwa Ahlu Badr.., curahkan atas kami dan mereka hujan hidayah..

Para pezina.., para narkoba.., para pemabuk.., para penjudi.., para koruptor.., curahkan atas mereka hujan hidayah…, goncangkan jiwa mereka untuk bertobat.., untuk bersujud.., untuk memanggil nama Mu Yaa Allaaaah…, Kami bertawassul pada Ahlu Badr.., kami bertawassul pada Imam Ahlu Badr Sayyidina Muhammad.., agar kau kabulkan seluruh doa kami.. amiiin..

(Semua hadits dan riwayat diatas yg tak disertakan sumber, maka diambil dari Buku Sirah Imam Ibn Hisyam Bab Ghazwat Badr Alkubra)

هذه الـقَــصيدَة الـصَّلَـوَتُ الْـبـَدْرِيــَّةْ صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ
Limpahan Shalawat Allah, Limpahan Salam Sejahtera dari Allah Kepada Thaha (Muhammad SAW) Rasulillah utusan ALLAH SWT, Limpahan Shalawat Allah,dan Limpahan Salam sejahtera dari Allah Kepada Yasin (Muhammad SAW) Rasulillah kekasih ALLAH SWT.

تَوَسَّـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ وَكُــلِّ مُجَـاهِـدٍ لِلّهِ بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَااَللهُ
Kami bertawasul dengan Bismillah dan dengan sang Penyampai Hidayah, Rasulillah (SAW), dan demi semua para mujahid di jalan Allah, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلأ ُمـَّة مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَةَ وَمِنْ هَـمٍ وَمِنْ غُـمَّـةٍ بِأَهلِ الْبَـدْرِ يـَا اَللهُ
Wahai tuhanku selamatkanlah umat, dari kejahatan dan kemurkaanMu, Dan dari kegundahan serta kesusahan, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

اِلهِى نَجِّـنَا وَاكْـشِـفْ جَـمِيْعَ أَذِيـَّةٍ وَاصْرِفْ مَـكَائـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَاأَللهُ
Wahai Tuhan Ku selamatkanlah kami, dan tolonglah kami dari segala gangguan, dan singkirkanlah siasat-siasat musuh, dan berlemah lembutlah kepada kami, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

إِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا وَكُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَاأَللهُ
Wahai Allah singkirkanlah bencana-bencana dari para pendosa, dan kebinasaaan, Dan segala musibah dan wabah penyakit, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

فَكَــمْ مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ وَكَــمْ مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـتْ بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَاأَللهُ
Betapa banyaknya rahmat yang telah tercurah, dan betapa banyaknya kesulitan yang telah tersingkir, Dan betapa banyaknya kenikmatan yang sampai, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

وكَـمْ اَغْـنَيْتَ ذَالْعُـمْرِ وَكَـمْ اَوْلَيْـتَ ذَاالْفَـقْـرِ وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَاأَللهُ
Betapa banyaknya engkau cukupkan usia-usia (dengan hidayah), dan betapa banyaknya engkau santuni orang-orang faqir (dengan kemuliaan dan pengampunan), Dan betapa banyaknya engkau sembuhkan orang yang sakit (dengan tawassul dan keberkahan), Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ فَانْـجِ مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Sungguh telah tersempitkan hati sanubari para penduduk bumi, maka selamatkanlah musibah dan kesulitan, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

أَتَيْـنَا طَـالِـبِى الرِّفْـقِ وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ فَوَسِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَاأَللهُ
Kami datang mengemis kasih sayang, dan munculkanlah kebaikan dan kebahagiaan, Maka Luaskanlah Anugerah dikedua tangan kami, Demi Ahlul Badr Wahai Allah

فَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ بَلِ اجْعَلْـنَاعَلَى الطَّيْبـَةْ اَيـَا ذَاالْعِـزِّ وَالْهَـيـْبَةْ بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَاأَللهُ
Maka janganlah engkau tolak (wahai Allah SWT) hingga membawa kekecewaan, dan jadikanlah kami selalu dalam kebaikan, Dan dilimpahi kehormatan dan kewibawaan, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

وَ إِنْ تَرْدُدْ فَـمَنْ نَأْتـِىْ بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَاتِى اَيـَا جَـالِى الْمُـلِـمـَّاتِ بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَاأَللهُ
Jika engkau menolak kami (wahai ALLAH SWT) maka pada siapa kami meminta, untuk mendapatkan semua hajat-hajat kami, dan tersingkir segala kesedihan, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

اِلهِـى اغْفِـرِ وَاَكْرِمْنَـا بِـنَيـْلِ مـَطَالِبٍ مِنَّا وَدَفْـعِ مَسَـاءَةٍ عَـنَّا بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَاأَللهُ
Wahai Tuhan Ku ampunilah dan muliakanlah kami, dengan mendapatkan apa-apa yang kami minta, dan terhindarnya keburukan dari kami, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

اِلهِـى اَنـْتَ ذُوْ لُطْـفٍ وَذُوْ فَـضْلٍ وَذُوْ عَطْـفٍ وَكَـمْ مِنْ كُـرْبـَةٍ تَنـْفِىْ بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَاأَللهُ
Wahai Tuhan Ku engkau Pemilik Kasih sayang, Pemilik segala Anugerah dan Pemilik segala Kelembutan, Dan betapa banyaknya kesusahan yang sirna, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

وَصَلِّ عَـلَى النـَّبِىِّ الْبَـرِّ بـِلاَ عَـدٍّ وَلاَ حَـصْـرِ وَالِ سَـادَةٍ غُــــرِّ بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَاأَللهُ
Dan limpahan shalawat semoga tercurah pada Nabi Yang Mulia tiada terhitung dan tiada terbatas beserta keluarga Beliau para pembesar yang bercahaya, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

http://www.majelisrasulullah.org

Leave a comment »