Dua Kemenangan Orang Berpuasa

  • Oleh Habib KH M Lutfi

SELAMA berpuasa, umat muslim akan mendapatkan beberapa hal dalam menjalankan ibadah selama bulan ramadan, di antaranya kemenangan orang berpuasa. Kemenangan pertama, walaupun besarnya tidak semaksimal mungkin, namun sangat besar manfaatnya, yakni menahan hawa nafsu. Dengan hasil kita bisa menahan hawa nafsu yang telah dididik atau dibina selama satu bulan dalam bulan ramadan, maka akan menjadikan penyejuk hati untuk setiap individu atau pribadi, yang sehingga tidak mudah didorong oleh amarah (hawa nafsu) untuk berbuat yang merugikan, khususnya untuk pribadi orang tersebut.

Dari imbas kemenangan atas pribadi, akan menjadi bekal untuk kehidupan sehari-hari dari kejenuhan hati, pola pikir, pandangan, pendengaran, dan wawasan, sehingga akan memudahkan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan persaudaraan yang lebih akrab.

Dari kemenangan itu pula, untuk ke dalam (keluarga), akan lebih jernih dalam musahabah (introspeksi) melihat atas segala kekurangan-kekurangan. Maka, kemenangan ini akan menambah membentuk keluarga sakinah yang tidak teradang oleh amarah.

Kita akan bisa melihat sesama kita kekurangan-kekurangan di antara sesama kita, antara lain akan saling terisi atau saling mengisi antarkeduanya.

Sebab, kejernihan itu akan memandang lebih jauh dan meningkatkan kejernihan di antara satu sama lainnya.

Tidak Kekal

Kemenangan kedua, dalam ukhrawi pembawa akhirat (ibadah). Dengan kejernihan tersebut akan menjadikan bekal untuk memandang ke depan, bahwa hidup ini tidak selamanya atau kekal. Maka, untuk bekal hari kemudian (ajal) dari hari kebangkitan, akan meningkatkan dalam mengisi segala kekurangan-kekurangan.

Misalnya, hubungan dirinya dengan sang pencipta, hubungan dirinya dengan utusan Allah, hubungan dengan ulil amri dan hubungan dengan ulama serta sesama manusia. Sebab dari itu, akan menumbuhkan pola pikir dan wawasan dalam memahami ajaran agamanya dan meningkatkan kesadaran lebih jauh.

Dengan demikian dari kemenangan-kemenangan tersebut, mereka tidak mudah tertipu oleh sesuatu perbuatan yang menjauhkan dari beberapa hal yang tersebut di atas. Dengan kemenangan itu, akan menjadikan jembatan emas untuk meningkatkan dalam bersyukur kepada yang maha kuasa, ditandai sebagai bukti syukur atas kemenangannya akan membelanjakan yang bermanfaat, berguna bagi agama, nusa dan bangsa.(77)

Habib KH M Lutfi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng 

Kamis, 11 Oktober 2007 Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

1 Response so far »

  1. 1

    Fakhrurrozy said,

    Assalamu’alaikum…
    Izin diri mengucapkan;
    Mohon maaf lahir & batin atas segala khilaf dan ketidak tepatan kata selama saya berkunjung & berkomentar di ruang ini.
    Selamat Idul Fitri.
    Taqabbalallahu minna wa minkum.

    Wassalam


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: