Peziarah Khusyuk Menyimak Tausiyah

Haul Ke-107 Kiai Sholeh Darat

PAGI itu tak seperti biasanya, matahari bersinar teduh. Dan tak seperti biasanya pula, Taman Pemakaman Umum (TPU) Bergota Semarang ramai dipadati masyarakat yang ingin berziarah. Padahal Idul Fitri telah sepekan lebih berlalu.

Suwardi beserta istri dan kedua anaknya nampak duduk di sebuah nisan, di antara ratusan peziarah di kompleks pemakaman terbesar di Semarang itu. Hampir setiap tahun ia tak pernah alpa berziarah di makam Kiai Sholeh Darat. Kiai yang semasa hidupnya banyak berjasa dalam mengembangkan Islam di Pantai Utara Jawa, khususnya Kota Semarang.

Bersama ratusan peziarah lainnya dengan khusyuk warga Mranggen itu membaca tahlil yang dipimpin oleh KH Muhammad Muin Abdul Hafidz serta mengikuti tausiyah dan doa yang dipimpin oleh Habib Umar. “Semoga dengan berziarah ke makam mbah Sholeh Darat, kami sekeluarga mendapat barokah,” harap Suwardi.

Ya, setiap tanggal 10 Syawal, masyarakat dari berbagai penjuru daerah senantiasa memperingati haul Kiai Sholeh Darat di kompleks pemakaman umum Bergota.

Para peziarah datang dan pergi silih berganti tak henti-hentinya memadati makam ulama yang banyak menulis kitab dengan bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Arab (gaya pegon). Mereka datang tak hanya untuk berziarah tapi juga mengharap berkah dari ziarah kubra.

Kiai Sholeh Darat meninggal dunia pada 28 Ramadan 1321 H, atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1903. Meski begitu, haul-nya baru dilaksanakan pada 10 Syawal. Hal itu agar masyarakat bisa mengikuti dengan leluasa, setelah merayakan Lebaran dan Syawalan.Nama Kiai Sholeh Darat memang tak sepopuler Ki Ageng Pandanaran atau tokoh-tokoh lain yang namanya diabadikan. Namun banyaknya masyarakat yang hadir dalam acara Haul Ke-107 itu, seolah menjadi tanda akan kebesaran namanya.

12 Kitab

Semasa hidupnya, Kiai Sholeh Darat termashur di seantero Tanah Jawa, Nusantara, bahkan Asia Tenggara sebagai penulis kitab fikih, teologi, tasawuf, serta ilmu falak. Ia lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada sekitar tahun 1820 dengan nama Muhammad Sholeh. Adapun kata ”Darat” di belakang namanya adalah sebutan untuk menunjukkan tempat di mana dia tinggal. Saat ini kampung Darat masuk dalam wilayah Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara.

Dalam catatan Abdullah Salim, staf pengajar Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Kiai Sholeh Darat hingga akhir hayatnya telah menghasilkan tak kurang dari 12 karya yang digolongkan sebagai kitab kuning. Sebagian di antaranya berupa terjemahan.

Karya-karya tersebut antara lain Majmu’atus Syari’at Li Kafiyatul Awam, Sabili Abid ‘Ala Jauharotut Tauhid, Al Hikam, Munjiyat, Lathoif Thoharoh Wa Asrarus Sholat, Pasolatan, Minhajul At qiya’, Mursyidul Wajiz Fi Ilmul Qur’an, Manasikul Haji, Hadis Mi’roj, Syarah Burdah, dan Tafsir Faidhur Rahman.

Sepulang dari Makkah, Muhammad Sholeh mengajar di Pondok Pesantren Darat milik mertuanya KH Murtadlo. Semenjak kedatangannya, pesantren itu berkembang pesat.(Fani Ayudea-41)

suara merdeka, selasa 23 oktober 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: