Archive for November, 2007

Cahaya di Wajah Nabi saw

CAHAYA DI WAJAH NABI SAW

Telah diriwayatkan dari Siti Aishah rha. bahwa ia telah berkata : “Ketika aku sedang menjahit baju pada waktu sahur (sebelum subuh) maka jatuhlah jarum dari tanganku, kebetulan lampu pun padam, lalu masuklah Rasulullah SAW. Ketika itu juga aku dapat mengutip jarum itu kerana cahaya wajahnya, lalu aku berkata, “Ya Rasulullah alangkah bercahayanya wajahmu! Seterusnya aku bertanya: “Siapakah yang tidak akan melihatmu pada hari kiamat?” Jawab Rasulullah SAW: “Orang yang bakhil.” Aku bertanya lagi: “Siapakah orang yang bakhil itu?” Jawab baginda : “Orang yang ketika disebut namaku di depannya, dia tidak mengucap shalawat ke atasku.”

BERDOA

Berkata Al-Barra’ ra. bahwa Nabi SAW. bersabda: “Segala doa itu terdinding (terhalang untuk dikabulkan) dari langit sehingga orang yang berdoa itu mengucapkan shalawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad. ”

KIJANG DAN ANAKNYA

Diriwayatkan oleh Abu Na’im di dalam kitab ‘Al-Hilyah’ bahwa seorang lelaki lewat di sisi Nabi SAW. dengan membawa seekor kijang yang ditangkapnya, lalu Allah Taala (Yang berkuasa menjadikan semua benda-benda berkata-kata ) telah menjadikan kijang itu berbicara kepada Nabi SAW : “Wahai Pesuruh Allah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa ekor anak yang masih menyusu, dan sekarang aku sudah ditangkap sedangkan mereka sedang kelaparan, oleh itu haraplah perintahkan orang ini melepaskan aku supaya aku dapat menyusukan anak-anakku itu dan sesudah itu aku akan kembali ke mari.” Bersabda Rasulullah SAW. “Bagaimana kalau engkau tidak kembali kesini lagi?” Jawab kijang itu: “Kalau aku tidak kembali ke mari, nanti Allah Ta’ala akan melaknatku sebagaimana Ia melaknat orang yang tidak mengucapkan shslawat bagi engkau apabila disebut nama engkau disisinya. “Lalu Nabi SAW. pun bersabda kepada orang itu : “Lepaskan kijang itu buat sementara waktu dan aku jadi penjaminnya. “Kijang itu pun dilepaskan dan kemudian ia kembali ke situ lagi. Maka turunlah malaikat Jibril AS dan berkata : “Wahai Muhammad, Allah Ta’ala mengucapkan salam kepada engkau dan Ia (Allah Ta’ala) berfirman:

“Demi KemuliaanKu dan KehormatanKu, sesungguhnya Aku lebih kasihkan umat Muhammad dari kijang itu kasihkan anak-anaknya dan Aku akan kembalikan mereka kepada engkau sebagaimana kijang itu kembali kepada engkau.”

http://www.go.to/sahabatnabi

Iklan

Comments (2) »

Hak Tetangga

Tetangga mempunyai hak atas diri kita, artinya sesuatu yang diambil dari kita atau sesuatu yang harus kita berikan kepadanya. Banyak keterangan yang berhubungan dengan hak tetangga dalam Islam di antaranya dari Abu Laist as-Samarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Adbdullah bin Mas’ud ra, berkata Rasulullah Saw:

Artinya: “Demi Dzat yang aku berada di dalamnya, tidaklah Islam seorang hamba sehingga selamat hati dan lidahnya, dan tidak beriman seorang hamba sehingga tetangganya aman dari gangguannya.” Sahabat bertanya; “Apakah gangguanya itu ya Nabi?” Jawab Nabi: “Tipuan dan aniaya.” (HR. Ahmad).
Abu Laits as-Samarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Hasan al-Bahri berkata Rasulullah bertanya:

Artinya: “Apakah hak tetangga terhadap tetangganya? Jawab Nabi “Jika berhutang kau hutangi, jika mengundang kau datangi, jika tertimpa bencana/musibah kau hibur, jika mendapat keuntungan kesenangan kau beri selamat, jika mati kau antar jenazahnya, jika pergi kau jagakan rumah dan anak anaknya, dan jangan kau menggangunya dengan bau masakanmu keculai kau berikan hadiah dari masakanmu kepadanya.” Di riwayat lain ada tambahan: “Dan jangan meninggikan banguanan atas bangunannya kecuali atas kerelaan hatinya”.
Firman Allah dalam al-Qur’an:

Artinya: “Hendaklah kau menyembah Allah dan tidak mensekutukan-Nya dengan suatu apapun dan dengan kedua orang tuamu kamu bakti, taat, dan membantu, juga kepada famili, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga orang lain, teman dalam perjalanan, dan oang rantau.” (An Nisa’ 36)

Abu Dzar al-Ghifari berkata: “Saya dipesan oleh kekasih Allah Muhammad SAW tiga hal; pertama, dengarkanlah dan taatilah perintah pemimpin kaum muslimin meskipun orang yang diangkat itu orang yang dipotong hidungnya atau hamba sahaya; kedua, jika kamu memasak kuah maka banyakkanlah kuahnya dan perhatikanlah tetangga-tetangggamu maka berikan kepada mereka; ketiga, sembahyang lima waktu tepat pada waktunya.”

Amru ibn Ash berkata: “Bukannya menyambung famili itu membalas hubungan tapi ialah orang yang menyambung hubungan famili yang akan putus hubungan keduanya, dan lunak pada orang yang kasar padanya, dan bukannya orang yang sabar itu orang yang membalas kesabaran kaumnya tapi orang yang sabar adalah orang yang sabar jika kaumnya berlaku masa bodoh”.

Abul Laist a-Samarqandi berkata: “Seharusnya seorang Muslim sabar terhadap gangguan tetangganya dan tidak mengganggu tetangganya sehingga tetangganya marasa aman dari tangannya, dari lidahnya, dan dari auratnya, adapun aman dari lidahnya apabila ia tidak mengangu dan tidak menbicarakan yang kurang baik, sedangkan aman dari tangannnya sekiranya ia lupa mengunci rumahnya maka tetangganya tidak curiga padanya, adapun auratnya tatkala tetangganya pergi lalu mendapat berita bahwa tetangganya masuk kerumahnya maka ia merasa aman”.

Ibnu Abaas ra berkata: “Tiga macam akhlak yang berlaku pada masa jahiliyah dan dianjurkan tetap berlaku pada kaum muslimin sekaraang yaitu jika kedatangan tamu sungguh-sungguh menghornat dan mejamu tamunya tadi, jika mempunyai istri dan telah tua maka jangan menceraikannya supaya jangan menyia-nyiakannya, jika tetangganya mendapat kesukaran maka ia berusaha meringankannya meskipun dengan membayar hutangnya.”

Sufyan as-Sauri berkata: Sepuluh macam dari pada kekejaman;
Pertama, seorang yang berdoa untuk dirinya sendiri dan tidak mendoakan anak-anak dan orang muslimin.

Kedua, seorang yang pandai membaca al-Qur’an tapi setiap harinya tidak membaca seratus ayat.

Ketiga, seorang yang masuk masjid lalu keluar dan tidak sembahyang dua rakaat.

Keempat, seorang yang berjalan malalui kuburan tapi tidak memberi salam dan memdoakan ahli kubur.

Kelima, Seorang yang sampai pada suatu kota pada hari jumat tapi tidak sembahyang jum’at.

Keenam, seorang yang di daerahnya didatangi orang ‘alim tiba-tiba tak mau belajar kepadanya.

Ketujuh, dua orang yang bertemu dalam perjalanan tapi masing-masing tidak menanya nama kawannya itu.

Kedelapan, seorang yang diundang pada jamuan tiba-tiba tidak datang.

Kesembilan, pemuda yang tidak ada kerjanya dan tak mau menuntut ilmu dan kesopanan.

Kesepuluh, seorang yang kenyang sedang dia tahu tetangganya lapar dan ia tidak memberinya.

Demikianlah sedikit penjelasan tentang haqqul jiran semoga besar manfaatnya terhadap peninggakatan mutu dan kualitas kita sebagai umat Islam dalam hak bertetangga dengan sesama muslim atau non muslim.[]

KH Imam Badri http://gontor.ac.id

Leave a comment »

Tanggung Jawab Dakwah

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin …

Dimulai dengan khutbah masnun yang pernah dibaca Baginda SAW. Termuat didalamnya beberapa firman Allah SWT yang bermaksud diantaranya,

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah SWT akan sebenar-benarnya taqwa. Dan janganlah kamu mati kecuali kamu benar-benar menjadi seorang muslim yang menyerah diri kepada Allah.”

“Wahai sekalian manusia bertaqwalah kamu kepada Tuhan kamu yang menjadikan kamu kepada satu jiwa. Dan menjadikan daripadanya pasangan kamu, dan daripadanya Allah sebarkan daripada lelaki dan wanita. Dan takutlah kamu kepada Allah yang kamu minta-meminta sesama kamu dengan perantaraan tali silaturahim. Sesungguhnya Allah SWT maha pemerhati keatasmu.”

“Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah SWT dan berkatalah perkataan yang betul. Niscaya Allah SWT akan memperbaiki amalan kamu dan Dia akan mengampuni dosa kamu, dan Allah SWT maha pengampun lagi maha penyayang. Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia mendapat kejayaan yang besar.”

“Wahai orang yang beriman, sahutlah seruan daripada Allah dan Rasul apabila kedua-duanya menyeru kamu bagi kehidupan yang baik. Dan Allah SWT menjadi penghalang bagi hati yakni dia berkuasa diatas hati seseorang hamba, dan takutlah kepada Allah, kepada Azab yang Allah SWT turunkan bahwa ianya bukan sahaja menimpa kepada orang yang melakukan kejahatan, tetapi ianya menimpa menyeluruh kepada semua.”

Allah SWT menjadikan kita untuk mengingati Allah dan bersyukur kepada Allah SWT. Tidak ada apa-apa Allah SWT menjadikan mahluq ini kecuali supaya ianya berzikir kepada Allah dan mensyukuri Allah SWT. Lantaran itu Allah SWT berfirman,

“Maka ingatlah Aku, maka niscaya Aku akan mengingatimu. Dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur yakni akan nikmat-nikmatKu.”

Di ayat yang lain, Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya mengingati Allah itu Maha besar dan Allah mengetahui apa yang kamu lakukan.”

Bahwa apa maksud zikrullah, bahwa Allah mengingati hambaNya sangat besar, sangat agung, cukuplah kemuliaan, cukuplah ketinggian bahwa Allah SWT mengingati kita. Allah ingat kita. Apabila kita mengingati Allah, Allah mengingati kita. Di dalam sepotong hadits qudsi, Nabi SAW bersabda, Allah berfirman,

“Barangsiapa mengingati Daku di dalam dirinya seorang diri, maka Aku akan mengingatinya seorang diri di dalam diriKu. Barangsiapa mengingati Aku di khalayak ramai, maka Aku akan mengingati mereka di hadapan khalayak para malaikat yang lebih baik daripada mereka.”

Maka cukuplah kemuliaan apabila seseorang dia menceritakan kebesaran Allah SWT dan majelis ini adalah majelis zikir, maka dia mesti yaqin apabila dia membesarkan Allah, menyebut Allah SWT di khalayak ramai maka dia harus yaqin bahwa Allah SWT sedang menyebutnya, Allah sedang mengingatNya di khayalak para malaikat yang lebih baik daripada kita semua. Oleh karena itu Umar RA pernah berkata, sesungguhnya aku tahu bila Allah SWT mengingati daku. Ditanya kepada beliau,” Bila?” Dijawab beliau, “Ketika aku mengingati Allah SWT, ketika itulah Allah SWT mengingatiku karena firman Allah SWT, Maka ingatlah Aku, niscaya Aku ingat akan kamu.”

Allah SWT juga ingin meninggikan Baginda SAW. Allah ingin mengangkat nama Baginda SAW. Maka dimana nama Allah disebut, maka disitu disebut nama Baginda SAW. Sehingga Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an. Dan Allah SWT menggunakan Fi’il yang berulang-ulang, senantiasa ada pembaharuan. Supaya menunjukkan bahwa sentiasa benda itu berulang-ulang terus bahwa,

“Sesungguhnya Allah dan malaikat berselawat ke atas Nabi. Wahai orang-orang beriman berselawatlah kepada Nabi SAW, dan ucapkanlah selamat.”

Dan tuan-tuan yang mulia, setiap kali Nabi SAW disebut di langit, disebut di bumi, diingat di langit, diingat di bumi. Maka apabila didengar nama Nabi SAW, maka kita mesti berselawat kepada Baginda SAW. Karena Baginda SAW bersabda,” Bahwa orang yang kedekut atau kikir adalah orang yang disebut namaku dihadapannya tetapi dia tidak berselawat kepadaku.” Apabila kita berselawat kepada Nabi SAW Allah SWT akan mengantar selawatnya kepada kita sepuluh kali. Selawat Allah SWT adalah rahmat. Dengan kita beselawat kepada Nabi SAW kita akan mendapat 10 rahmat daripada Allah SWT. Maka di dalam sepotong hadits yang lain, Nabi SAW bersabda,”Hinalah orang yang disebut namaku dihadapannya tetapi dia tidak berselawat kepadaku. Maka tuan-tuan yang mulia, janganlah kita menjadi orang-orang yang bakhil, orang-orang yang kedekut, sehingga disebut nama Nabi SAW walaupun seribu kali telah disebut dihadapan kita, kita jangan mengatakan kita sudah berselawat padanya. Bahkan walaupun 1000 kali kita berselawat lagi dan lagi, setiap salawat kepada Nabi SAW Allah SWT akan memberikan 10 rahmat kepada kita. Allah SWT ingin memuliakan Baginda SAW. Maka setiap kali adzan dilaungkan dimana-mana, begitu selesai satu adzan dilaungkan, dikampung yang berdekatan akan mula adzannya, habis saja sana, negara yang bersebelahan akan mula azannya, terus 24 jam sentiasa, disebut nama Allah SWT, disebut nama Nabi SAW. Bukan setakad itu saja, sejak mana Baginda SAW diutuskan sampai hari kiamat terus nama Allah dan nama Rasulullah disebut. Tidak shah iman seseorang jika tidak disebut nama Nabi SAW. Tidak shah Islam seseorang jika tidak disebut nama Nabi SAW. Dan Allah SWT meninggikan sebutan Nabi SAW bahwa Allah berfirman,

“Bahwasanya ianya adalah sebutan bagimu dan bagi kaummu yaitu orang yang beriman.”

Semua untuk nabi SAW. Dan kamu akan ditanya Allah SWT. Dalam surat Al-Isra, Allah SWT mengangkat nama kamu meninggikan nama kamu. Orang beriman kepada Allah SWT, orang yang menyeru kepada Allah menyeru kepada Rasulullah SAW Allah muliakan mereka, Allah angkat mereka. Lantaran itu Nabi SAW telah menasehatkan Muadz bin Jabal ra . Muaz ra. adalah seorang sahabat yang telah masuk Islam umurnya tidak melampaui 18 tahun. Dan dia telah mati syahid di Yordan, umurnya 34 tahun. Makna dia 16 tahun bersama Baginda SAW. Kubur dia di sebelah kubur Abu Ubaidah bin Jarah ra. Nabi SAW berata, “Abu Ubaidah (ra) adalah orang yang paling amanah dalam umat ini.” Maka mengenai Muaz bin Jabbal ra, baginda SAW pernah bersabda,”Umat aku yang paling bijak dan paling alim mengenai halal dan haram adalah Muaz bin Jabbal (ra).”

Umar ra pernah berkata,”Kalaulah aku melantik Muaz bin Jabal (ra) sebagai penggantiku maka kalau Allah SWT tanyaku mengapa kamu melantik dia sebagai penggantimu, maka sudah tentu aku akan jawab kepada Allah SWT karena aku dengar Rasulullah SAW bersabda orang yang paling alim di kalangan umat ini dengan perkara halal dan haram adalah Muadz bin jabal (ra).”

Kalau kita lihat mengapa dia telah mencapai kedudukan begitu tinggi. Dari mana, dari universiti mana dia telah keluar, dari mana dia belajar. Masa 16 tahun, dan begitu muda dia meninggal dunia, tetapi dia telah mencapai ketinggian ilmu agama. Dan sabda Nabi SAW, apabila Allah SWT mengumpulkan para alim ulama di akherat nanti maka Muadz bin Jabbal ra. tiba-tiba meluruh, melantun macam seketul batu terus di hadapan mereka semua. Maka mengenai perkara inilah kita mau melihat macam mana Muadz bin Jabbal ra. dalam masa begitu singkat telah mencapai ilmu yang begitu tinggi. Dan Rasulullah SAW telah menasehatkan Muadz bin Jabbal ra. bahwa janganlah lupa tiap-tiap lepas sembahyang maka berdoalah kepada Allah SWT, Allahumma ainni alla dzikrika, wa syukrika, wa husni ibadatika. Ya Allah bantulah aku untuk mengingatiMu, untuk bersyukur kepadaMu, dan untuk memperelokkan ibadah-ibadahku.”

Sekali Abdullah bin Mas’ud ra. telah berkata, “Maka adalah dia Muadz bin Jabbal (ra) dia satu ummat (dia seorang, tetapi seperti ummat) yang berdiri ibadah kepada Allah SWT, menyimpang dari semua agama, ikhlas kepada Islam, dan tidakklah dia dikalangan orang-orang yang menyekutukan Allah SWT.” Dan ayat ini ada di Al-Qur’an, Allah firmankan itu kepada Ibrahim AS. Kemudian sahabat menegur, “Itu adalah sesungguhnya Ibrahim AS. Kemudian Abdullah ra. menjawab, “Sesungguhnya Muadz (ra) adalah satu ummat yang berdiri ibadah…..(hingga selesai). Lantas Sahabat ini menegur kembali, “Sesungguhnya itu Ibrahim AS.” Dan Abdullah bin Mas’ud ra. berkata sekali lagi, “Sesungguhnya Muadz (ra) satu ummat,…(hingga selesai). Kemudian kali ketiga sahabat yang menegur itu bertanya, “Kenapa?” Kata Abdullah bin Mas’ud ra.,”Telah aku dengar Nabi SAW bersabda sesungguhnya Muadz (ra) adalah satu ummat yang berdiri ibadah kepada Allah SWT, menyimpang dari semua agama, Ikhlas kepada agama Islam, dan tidaklah dia di kalangan orang-orang yang menyekutukan Allah SWT, “Nabi SAW bersabda, “Dia seorang tapi dia sebagai ummat.”

Maka tuan-tuan yang mulia, bagaimana Muadz ra. mencapai derajat ketinggian di sisi Allah SWT? Karena dia senantiasa berada di atas petunjuk cara Rasulullah SAW. Maka kalau kita juga inginkan ketinggian seperti Muadz bin jabbal ra, maka tidak dapat tidak, kita mesti berada di jalan yang telah ditunjukkan oleh Nabi SAW. Maka apabila kita menyeru kepada Allah SWT, menyeru kepada Baginda SAW dengan cara yang telah ditunjukkan Baginda SAW walaupun anda seorang, maka kita akan dikira sebagai ummat seluruhnya.

Lantaran itu ummat ini terbagi kepada dua. Pertama, ummat dakwah yaitu ummat yang mereka perlu didakwahkan untuk menerima Allah dan Rasul. Allah sebagai Rabb mereka, dan Rasul sebagai Nabi mereka. Kedua, umat istijabah, ummat yang telah menyahut seruan Allah dan Rasul-Nya. Mereka menjadi orang-orang Islam. Ummat ini kedua-duanya telah datang daripada seruan Allah SWT, “Wahai sekalian ummat, (termasuk ummat yang telah menyahut seruan Allah dan Rasul menjadi orang-orang islam, dan ummat yang belum lagi menerima seruan Allah dan Rasul, orang-orang kafir, musyrik, orang yang menyembah berhala, maka kamu semua ummat), wahai ummat Muhammad SAW (dikalangan ramai-ramai ummat tadi), maka kamu jadilah satu ummat yang khusus. Dan hendaklah ada di antara kamu wahai ummat Muhammad SAW (yang termasuk orang beriman, orang tidak beriman, penyembah berhala) satu ummat yang menyeru kepada kebajikan, mencegah kepada munkar, dan mereka ialah orang-orang yang berjaya.”Maka didalam perkara ini, di kalangan ummat-ummat yang ramai, di kalangan ummat istijabah, iaitu orang yang telah menyahut seruan Allah dan RasulNya menjadi orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kamu mesti timbul satu ummat walaupun satu orang, yang kalau kita menyeru manusia kepada Allah dan Rasul, maka kita adalah satu ummat dan akan mendapat ganjaran seluruhnya. Karena orang yang menyeru kepada Allah dan Rasul dengan cara Rasululllah SAW walaupun dia seorang dia adalah ummat.

Maka menjadi tanggungjawab kepada ummat istijabah, bagi mereka orang-orang mukmin perlu juga dilakukan dakwah di kalangan mereka sendiri untuk mewujudkan satu ummat yang lain, satu ummat yang berusaha untuk menyeru kepada umat-umat dakwah. Maka itu Allah SWT telah menyebut di dalam Al-Qur’an,

“Wahai orang-orang yang telah beriman, telah menyahut seruan dan kamu telah berkata Laa Ilahaa ilallah. Wahai orang beriman, kamu yang telah naik saksi bahwa Muhammad SAW adalah rasul. Mereka orang yang beriman dengan Allah, beriman dengan Rasul, telah menyahut seruan Allah dan RasulNya, Allah sambut lagi sekali dengan didakwahkan sesama orang yang telah beriman. Apabila Allah dan Rasul menyeru kamu supaya untuk menghidupkan kamu satu kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat, ketahuilah wahai hamba-hamba yang beribadah, beriman, yang telah mengucapkan kalimah syahadah, kamu kena jaga, kamu kena takut karena seseorang itu walaupun dia bersholat, walaupun dia membaca Al-Qur’an, walaupun dia beriman, karena hati seseorang itu diantara dua jari arrahmat.” Allah boleh menukarkan bagaimana Dia kehendaki. Allah boleh alih bagaimana Dia kehendaki seperti datang dalam hadits Nabi SAW, “Berpagi-pagi seorang lelaki seorang mukmin, berpetang-petang dia menjadi orang kafir. Dan berpetang-petang dia menjadi orang mukmin, bepagi-pagi dia menjadi orang kafir. Dan dia telah menjual agamanya dengan dunia yang murah.”

Jadi walaupun kamu beribadah, membaca Al-Qur’an, walaupun kamu seorang mukmin, tetapi harus kamu takut, harus kamu jaga, sesungguhnya Allah SWT mengontrol, mengawal hati manusia. Maka Allah SWT boleh alihkan bagaimana yang Dia kehendaki. Bahwasanya ummat ini, manusia yang kufur terhadap Allah SWT ataupun yang beriman tadi akhir kesudahannya dia akan dihimpun dihadapan Allah SWT dan bertaqwalah kamu kepada Allah, takutlah kamu kepada Allah akan satu fitnah, satu ujian, satu musibah, azab yang akan datang kepada kamu, yang bukan akan mengena kepada orang yang zalim, orang yang melanggar perintah Allah SWT semata-mata, bahkan kalau datang azab ia akan datang kepada semua orang. Dan ketahuilah bahwasanya Allah SWT sangat-sangat keras azabnya.

Maka seseorang walaupun dia baca Alqur’an belum tentu lagi kejayaan dia. Walau dia bersholat belum tentu lagi kejayaan dia. Tetapi apabila seseorang berusaha mewujudkan dakwah, menyeru satu sama lain, maka semoga Allah SWT memberi kejayaan kepadamu. (Sekarang kita akan wudhu terlebih dahulu untuk sholat isya..).

Sesungguhnya ini adalah saat yang berkah. Allah SWT kabulkan doa selepas adzan dan juga malaikat-malaikat yang ada di sekeliling kita, malaikat-malaikat yang tindih bertindih diantara satu sama lain sampai ke langit dunia, sebagaimana dikhabarkan Rasulullah SAW, selain daripada malaikat-malaikat yang hadir bersama kita ketika kita shalat, selain dari malaikat yang mencatit amalan kita, dan ini adalah malaikat yang Allah khaskan untuk mencari majelis-majelis zikir, majelis-majelis membesarkan Allah SWT, ianya datang. Maka apabila akhir majelis nanti, malaikat akan balik pada Allah SWT. Allah mengetahui segala-galanya, Ia akan bertanya kepada mereka, apa yang hambaKu buat. Maka Malaikat akan berikan kepada Allah SWT, bahwa mereka itu memujiMu, mensyukuriMu, mereka mengagungkanMu, membesarkanMu. Apa yang mereka minta? Kata malaikat, “mereka minta syurga.” Mereka nampakah surga? Tidak. Kalau nampak macam mana? Lebih lagi keghairahan mereka, lebih lagi usaha mereka untuk mendapatkannya. Dariapa mereka minta dilindungi? Kata malaikat, “dari neraka.” Apa pernah mereka melihat neraka? Belum. Bagaimana jika mereka melihatnya? Mereka lebih lagi akan usaha untuk menjauhkan diri mereka, usaha untuk menjauhkan diri mereka dari pada neraka. Maka Allah SWT telah berkata kepada para malaikat, “Aku persaksikan kamu semuanya, aku beri apa yang mereka minta, dan aku jauhkan apa yang mereka minta dijauhkan. Dan aku persakiskan kamu hai malaikat, Aku ampunkan semua yng ada di majlis itu.” Lalu malaikat kata, “Ya Allah ada satu orang bukan dari kalangan mereka. Dia datang untuk satu tujuan atau keperluan yang lain.” Maka itupun Allah kata, “Aku ampunkan dia karena itu adalah satu majelis yang tidak akan terhidnar dari keberkatan seorangpun yang menyertai mereka. Lalu malaikat berkata lagi, “Wahai Allah, ada seseorang yang banyak dosanya. Dia datang lalu dia duduk.” Maka itupun Allah SWT kata, “Aku ampunkan dosa-dosa dia karena dia berada dalam satu kaum dimana tidak ada seorangpun akan terhindar dari keberkatannya.” Maka Allah SWT akan beri ketika akhir majelis nanti.

Untuk itulah kita sabarkan diri kita sampai akhir majelis dan mendapat hadiah ini dari Allah SWT.

Dan tanda-tanda doa makbul adalah doa musafir. Kalau orang biasa saja, bukan keluar di jalan Allah SWT, sebagai musafir, Allah SWT terima doa dia, lebih-lebih lagi orang yang keluar musafir karena agama Allah SWT, keluar di jalan Allah SWT. Maka lantaran itu waktu-waktu penerimaan doa seperti ini janganlah kita sia-siakan. Bahwa mereka yang ada niat untuk keluar di jalan Allah SWT maka mesti dia doa di dalam hati supaya keluar di jalan Allah SWT mau belajar agama, keluar di jalan Allah SWT mau jadi satu ummat seperti Allah SWT perintahkan dalam al-Qur’an, kita mau keluar di jalan Allah SWT kita mau belajar usaha agama, mau belajar dakwah, mau belajar khidmat, supaya Allah SWT beri hikmah kepada kita. Maka kita mesti gunakan peluang yang mulia ini untuk keluar di jalan Allah SWT.

Kalau kita keluar di jalan Allah SWT sekali-kali Allah tidak akan mensia-siakan kita, Allah tidak akan merugikan kita, sepertimana Allah SWT tidak mempersia-siakan Hajar r.ha., dan bayinya ismail AS. Apabila Ibrahim AS telah menerima perintah Allah SWT, untuk meninggalkan isterinya yang tercinta, anaknya yang tersayang di satu lembah yang Allah SWT sifatkan, suatu lembah yang tidak ada asbab-asbab kehidupan, tidak ada tumbuhan, lantaran tidak ada air. Hanya ada asbab kematian dan kebinasaan. Tetapi apabila menunaikan perintah Allah SWT, maka mereka yakin bahwa Allah SWT sekali-kali tidak akan mensia-siakan mereka. Apabila Ibrahim AS meninggalkan isteri dan anaknya yang tersayang, dia tidak lagi menoleh ke belakang, takut bahwa cintanya kepada isteri, kasihnya terhadap anak akan membuat dia berbolak-balik dalam menunaikan perintah Allah SWT sehingga Hajar r.ha bertanya, “Menganpa kami ditinggalkan disini?” Dia tidak menjawab. Kali kedua, dia tidak juga menjawab. Kali ketiga isterinya kata, “Apakah Allah memerintahkan kamu untuk buat demikian?” Maka itupun Ibrahim AS tidak menjawab. Hanya menganggukkan kepala berkata iya. Maka apabila mendengar bahwa ini adalah perintah Allah SWT, apa kata Hajar? “Kalau begitu sekali-kali Allah tidak akan mempersia-siakan kami.”

Apabila kita buat usaha agama, keluar di jalan Allah SWT, sekali-kali Allah tidak akan mempersia-siakan kita. Tetapi siapa yang ada keyakinan yang rusak, bahwa keluar di jalan Allah SWT akan merugikan, akan dipersia-siakan, maka ini adalah satu iktikad yang rusak, satu yakin yang rusak, yang perlu dikikis dari hati kita, bahwa Allah SWT sekali-kali tidak akan mempersia-siakan orang yang keluar di jalan Allah SWT buat usaha agama.

Siapa sedia, InsyaAllah?

Mengenai Umat dakwah dan umat istijabah tadi, maka tanggung jawab umat dakwah ialah atas bahu umat istijabah. Tetapi di kalangan ummat istijabah juga perlu wujud satu kumpulan, satu kaum yang menyeru mereka kepada perintah Allah SWT yang mereka tidak sempurnakan. Karena ada diantara orang-orang mukmin, orang-orang Islam yang tidak menunaikan sholat, menunaikan zakat, dan rukun-rukun Islam yang lain dan amalan-amalan Islam yang lain. Maka menjadi tanggungjawab di kalangan umat istijabah itu sendiri, ummat Islam itu sendiri untuk menyeru di kalangan mereka, supaya mereka sama-sama bangun untuk melakukan amalan. Setiap umat ini buat kerja yang dipertanggungjawabkan kepada mereka iaitu menyeru kepada makruf dan mencegah terhadap munkar.

Sepertimana Bani Israel, mereka dipertanggungjawabkan untuk menyeru kepada makruf dan mencegah kepada munkar, dan mereka meninggalkan tanggung jawab mereka, lantaran itu Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an yang mahfumnya,

“Telah dilaknat Bani israel atas lisan, atas lidah Nabi Daud AS dan lidah Nabi Isa AS, karena mereka telah memaksiati Allah SWT dan mereka telah melampaui batas. Dan karena mereka tidak menyeru kepada makruf dan tidak mencegah daripada munkar, dan buruk sekali apa yang mereka lakukan.”

Maka Nabi SAW bersabda, “Sungguh-sungguh kamu kena menyeru kepada makruf dan sungguh-sungguh kamu kena mencegah dari munkar bahwa kalau tidak, cepat sekali Allah SWT akan turunkan Azab. Dan apabila turun azab kamu berdoa dan Allah SWT tidak akan mengabulkan doa kamu.” Lantaran itu hari ini rata-rata orang berkumpul di Arafah berdoa, “Ya Allah bantulah orang Islam, muliakanlah orang Islam.” Tetapi tidak nampak bantuan Allah SWT secara menyeluruh, dan orang Islam makin hina dan makin hina. Karena apa? Karena umat ini tidak menunaikan syarat Allah SWT untuk mendapatkan bantuan Allah SWT. Apa syarat Allah SWT? Jika kamu membantu agama Allah SWT, maka Allah SWT akan membantu kamu. Kita ini sekarang ramai, tetapi keadaan kita kedudukan kita seperti sampah yang berada di permukaan air bah lantaran dosa kita.

Kita sekarang ini mesti niat, bertobat kepada Allah SWT daripada hati kita sungguh-sungguh. Dosa apa? Dosa meninggalkan dakwah. Kita telah menzalimi diri kita sendiri karena meninggalkan dakwah. Kisah Yunus AS, apabila dia mendakwah kaum dia dan apabila dia telah putus asa dengan kaum dia karena mereka tidak beriman, maka dia telah meninggalkan dakwah terhadap mereka. Maka balasan daripada Allah SWT bahwa ikan telah menelannya. Maka apabila dia telah berada di perut ikan maka dia faham bahwa meninggalkan dakwah itu satu kezaliman. Lantaran itu dalam doa, “Laa ilahaa illa anta, subhanaka inni kuntu minal zalimin. Maha suci Allah tidak ada Tuhan melainkan Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Meninggalkan dakwah adalah satu kezaliman. Sekarang tuan-tuan yang mulia, kita menzalimi diri kita sendiri dan diri orang lain. Lantaran itu kita mesti bertobat kepada Allah SWT. Dan kita berdoa kepada Allah SWT, semoga Allah SWT pilih kita keluar di jalan Allah SWT. Karena tanpa taufik dari Allah SWT seorangpun tak boleh keluar ke jalan Allah. Lantaran itu kita berdoa bersungguh-sungguh supaya Allah pilih kita . Janganlah Allah campakkan kita sebagaimana sampah dicampak ke tempat sampah. Kita minta supaya Allah pilih kita. Dunia, Allah beri kepada semua orang, kepada orang yang Dia suka dan Dia tak suka. Tetapi agama hanya Allah beri kepada orang yang Allah suka. Kita yang berhajat, Allah tidak berhajat kepada kita.

Oleh itu selepas doa kita jumpa orang, taskyil. Saya yang berhajat, saya kena keluar di jalan Allah SWT. Mengapa kita perlu dimotivasi, mengapa kita perlu diberi semangat. Padahal untuk keduniaan kita, tiada siapapun beri semangat kepada kita. Tetapi kepada akherat kenapa pula kita mesti beri perangsang.

Bayan Maghrib Imam Diraja Qatar, Mutarjim Ustadz. Abdul Hamid
Apri 2001 Masjid Sri Petaling
dari: dakwah.cjb.net

Leave a comment »

Kekuatan Ummat

Ummat Islam kuat bukan karena senjata, bukan karena jumlah orang,
bukan karena teknologi atau ekonomi.
Ummat Islam kuat karena
MELAKSANAKAN SEGALA PERINTAH ALLAH SWT.

Sejarah telah membuktikan. Penyerahan kunci Jerusalem oleh pendeta kristen, Sophronius, pada tahun 16H (636/637 M) kepada seseorang yang tanda-tandanya telah tertulis di dalam kitab mereka, Umar bin Khathab ra.

Alim ulama menyampaikan bahwa 1 bulan perjalanan sebelum para Sahabat yang terdiri dari beberapa jema’ah besar dan dipimpin oleh Khalid bin Walid, Abu Ubaidah dan Amr bin Al-Ash radhiallaahu anhum sampai ke Jerusalem mereka sudah merasa gentar. Mereka mengirim mata-mata untuk melihat keadaan pasukan Islam. Senjata, perbekalan dan jumlah mereka. Setelah mendapatkan laporan bahwa jumlah pasukan, senjata dan perbekalan pasukan Islam tidak sebanyak yang mereka miliki maka panglima perang mereka merasa yakin masih bisa mengalahkan tentara Islam. Tapi pendeta mereka menahan mereka dengan meminta supaya mereka mengirimkan mata-mata lagi untuk melihat apa yang menjadi kebiasaan para Sahabat.

Setelah mata-mata tersebut kembali pendeta itu menanyakan, apa yang biasa mereka lakukan di siang hari, dan apa yang selalu mereka lakukan di malam hari. Mata-mata itu berkata, “Di siang hari mereka menjumpai orang dan menyerunya kepada Agama mereka dan Tuhan mereka dan di malam hari mereka berdiri dan bersujud menyembah Tuhan mereka”. Pendeta itu mengatakan, “Kalau begitu kita tidak akan mungkin dapat mengalahkan mereka”. “Bagaimana kita tidak dapat mengalahkan mereka, pasukan kita lebih banyak dari mereka, senjata kita lebih baik dari milik mereka”, kata panglima perang. “Kalian tidak akan dapat mengalahkan mereka”, kata pendeta tersebut. “Adakah cara untuk mengalahkan mereka”, tanya panglima perang lagi. Pendeta tersebut berkata, “Kalian tidak dapat mengalahkan mereka dan itu sudah tertulis di dalam kitab kita bahwa mereka akan menguasai negeri ini kecuali…”. “Apa?”, tanya panglima perang itu. “Kecuali kalau hati mereka telah cenderung kepada 2 perkara, harta benda dunia dan wanita. Dan kita akan uji mereka dengan 2 perkara itu”, kata sang pendeta itu lagi.

Maka dikirimlah satu utusan ke daerah di mana pasukan Islam bermarkas. Mereka membuat rencana. Di antara perkemahan dan tempat pasukan Islam melakukan sholat mereka tebarkan harta, emas dan intan berlian dan mereka memajang anak-anak gadis mereka dalam keadaan setengah telanjang supaya orang Islam tertarik dan menjadi lemah. Mereka punya makar tetapi Allah SWT juga mempunyai makar. Allah SWT telah mengilhamkan kepada panglima perang Muslim untuk memberikan nasihat (targhib) kepada pasukannya.

Alim ulama menerangkan bahwa. Panglima perang pasukan Muslim hanya menyampaikan satu ayat Al-Qur’an saja, ayat 30 surah An-Nur.

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

Tidak lebih dari itu. Mereka yang memang dalam kesehariannya sudah mengamalkan apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an yang menjadi perintah Allah, setelah mendengar apa yang disampaikan oleh pimpinan mereka maka mereka bertambah-tambah lagi menjaga dan melaksanakan perintah Allah ta’ala tersebut. Sehingga ketika mereka melalui jalan yang telah disebar di atasnya harta benda dan anak-anak gadis telanjang berbaris tidak menyebabkan mereka terfitnah. Ketika dikumpulkan semua pemilik harta dan gadis-gadis pilihan tersebut untuk dimintai keterangan maka tidak ada satu harta-pun yang telah mereka tebarkan hilang dan anak-anak gadis itu diminta agar tidak malu mengatakan apakah mereka telah diganggu, dilihat atau bahkan dizinai… maka mereka berkata, “Kepada siapa kami dipertontonkan? Apakah mereka itu batu atau apa? jangankan untuk memegang tubuh kami melihat dengan ujung matapun tidak!”

Begitulah keadaan orang-orang dulu. Allah SWT menurunkan pertolongan dan memberikan kekuatan kepada mereka bukan karena mereka banyak, bukan karena mereka kenyang, bukan karena mereka kaya, bukan karena mereka canggih, tapi karena mereka melaksanakan perintah Allah SWT.

Satu lagi pelajaran dari kisah tersebut. Sholat berjema’ah di masjid adalah syi’ar kalau kita fikir bukankah mereka cukup sholat di dekat mereka berkemah, mengapa mereka pergi ketempat lain untuk sholat? Ketahuilah bergeraknya seorang muslim kepada Allah SWT telah cukup untuk memberikan pengaruh kepada lingkungan bahkan alam semesta ini. Saudaraku.

Segala permasalahan ummat yang ada sekarang hanya dan hanya akan selesai jika setiap kita laksanakan semua perintah Allah SWT. Dan semua itu berawal dari masalah Iman bukan karena masalah yang lain. Alim ulama telah memberitahukan bahwa. IMAN AKAN DIDAPAT HANYA DENGAN MUJAHADAH IMAN AKAN TERSEBAR HANYA DENGAN DA’WAH IMAN AKAN TERJAGA HANYA DENGAN BI’AH. Allah SWT telah menyampaikan bahwa sesungguhnya orang-orang yang bermujahadah bagi mereka pasti dan pasti Kami berikan jalan-jalan hidayah. Jadi. ‘Izzah ummat Islam hanya akan kembali apabila tiap kita dan seluruh ummat Islam bergerak. Bergerak sebagaimana “assabiquunal awwaluun” bergerak. Hanya dengan Da’wah dan Jihad -titik- Ajak saudara muslim kita kepada Allah SWT “saja”. (jangan ajak dari satu makhluk ke makhluk yang lain)

http://www.go.to/sahabatnabi

Leave a comment »

Resolusi Jihad dalam Peristiwa 10 November

Pemaknaan Keagamaan Nasionalisme

Peristiwa 10 November 1945 adalah tonggak sejarah sangat penting bagi bangsa Indonesia, terutama umat Islam. Sebab, pada momentum 10 November itulah, nasionalisme mendapat pemaknaan sangat signifikan dalam paradigma keagamaan. Nasionalisme yang semula dipahami sebagai wilayah di luar agama ternyata bagian dari kewajiban syar’i yang harus diperjuangkan.Tampaknya, kerangka pemikiran itulah yang kemudian menjadi salah satu dasar umat Islam untuk terus merawat Pancasila dan UUD ’45, terutama NU yang memang punya saham besar bagi lahirnya negeri ini.

Sejarah mencatat, meski bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, 53 hari kemudian NICA (Netherlands Indies Civil Administration) nyaris mencaplok kedaulatan RI. Pada 25 Oktober 1945, 6.000 tentara Inggris tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Pasukan itu dipimpin Brigadir Jenderal Mallaby, panglima brigade ke-49 (India). Penjajah Belanda yang sudah hengkang pun membonceng tentara sekutu itu.

Praktis, Surabaya genting. Untung, sebelum NICA datang, Soekarno sempat mengirim utusan menghadap Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng, Jombang. Melalui utusannya, Soekarno bertanya kepada Mbah Hasyim, “Apakah hukumnya membela tanah air? Bukan membela Allah, membela Islam, atau membela Alquran. Sekali lagi, membela tanah air?”

Mbah Hasyim yang sebelumnya sudah punya fatwa jihad kemerdekaan bertindak cepat. Dia memerintahkan KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syamsuri, dan kiai lain untuk mengumpulkan kiai se-Jawa dan Madura. Para kiai dari Jawa dan Madura itu lantas rapat di Kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO), Jalan Bubutan VI/2, Surabaya, dipimpin Kiai Wahab Chasbullah pada 22 Oktober 1945.

Pada 23 Oktober 1945, Mbah Hasyim atas nama Pengurus Besar NU mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah, yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad. Ada tiga poin penting dalam Resolusi Jihad itu. Pertama, setiap muslim – tua, muda, dan miskin sekalipun- wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia.

Kedua, pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan layak disebut syuhada. Ketiga, warga Indonesia yang memihak penjajah dianggap sebagai pemecah belah persatuan nasional, maka harus dihukum mati.

Jadi, umat Islam wajib hukumnya membela tanah air. Bahkan, haram hukumnya mundur ketika kita berhadapan dengan penjajah dalam radius 94 km (jarak ini disesuaikan dengan dibolehkannya qashar salat). Di luar radius itu dianggap fardu kifayah (kewajiban kolektif, bukan fardu ain, kewajiban individu).

Fatwa jihad yang ditulis dengan huruf pegon itu kemudian digelorakan Bung Tomo lewat radio. Keruan saja, warga Surabaya dan masyarakat Jawa Timur yang keberagamaannya kuat dan mayoritas NU merasa terbakar semangatnya. Ribuan kiai dan santri dari berbagai daerah -seperti ditulis M.C. Ricklefs (1991), mengalir ke Surabaya. Perang tak terelakkan sampai akhirnya Mallaby tewas.

Sedemikian dahsyat perlawanan umat Islam, sampai salah seorang komandan pasukan India Zia-ul-Haq (kelak menjadi presiden Republik Islam Pakistan) heran menyaksikan kiai dan santri bertakbir sambil mengacungkan senjata. Sebagai muslim, hati Zia-ul-Haq trenyuh, dia pun menarik diri dari medan perang. Sikap Zia-ul-Haq itu membuat pasukan Inggris kacau.

Fatwa Mbah Hasyim sebenarnya ditulis 17 September 1945. Namun, kemudian dijadikan keputusan NU pada 22 November yang diperkuat lagi pada muktamar ke-16 di Purwekorto, 26-29 Maret 1946.

Dalam pidatonya di hadapan peserta muktamar, Mbah Hasyim menyatakan, syariat Islam tidak akan bisa dilaksanakan di negeri yang terjajah. “…tidak akan tercapai kemuliaan Islam dan kebangkitan syariatnya di dalam negeri-negeri jajahan,” tegas Mbah Hasyim.

Mengapa Bung Karno meminta fatwa kepada Mbah Hasyim? Agaknya, ada beberapa alasan. Pertama, Mbah Hasyim ulama karismatis yang menjadi pusat kiai se-Jawa dan Madura sehingga fatwanya sangat efektif untuk rakyat.

Kedua, Surabaya adalah pusat pergerakan NU, sedangkan Mbah Hasyim adalah rais akbar NU. NU didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Kota Surabaya inilah yang menjadi pusat pergerakan awal NU sebelum kemudian berpindah ke Jakarta.

Ketiga, NU pimpinan Mbah Hasyim sangat nasionalis. Sebelum RI merdeka, para pemuda di berbagai daerah mendirikan organisasi bersifat kedaerahan, seperti Jong Cilebes, Pemuda Betawi, Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, dan sebagainya. Tapi, kiai-kiai NU justru mendirikan organisasi pemuda bersifat nasionalis. Pada 1924, para pemuda pesantren mendirikan Syubbanul Wathon (Pemuda Tanah Air). Organisasi pemuda itu kemudian menjadi Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) yang salah satu tokohnya adalah pemuda gagah, Muhammad Yusuf (KH M. Yusuf Hasyim -Pak Ud).

Saat itu, posisi ketua ormas belum menjadi rebutan seperti sekarang. Sebab, ketua ormas, terutama pemuda, harus berani mati. Jadi, taruhannya nyawa. Pak Ud pernah mengungkapkan anekdot kepada penulis dan teman-teman. Menurut dia, saat itu memang dilematis. Kalau maju mati, kalau mundur haram. “Agar tak kena hukum haram, ada yang memilih mundur dengan cara berjalan miring,” katanya, lantas tertawa.

Demikianlah, peran Resolusi Jihad dalam merebut kemerdekaan sangat besar. Tapi, -seperti kritik Martin Van Bruinessen- NU tak pernah mendapat tempat memadai dalam berbagai kajian pada tingkat lokal dan regional mengenai perjuangan kemerdekaan.

Oleh : Mas’ud Adnan, direktur umum Harian Bangsa, wakil direktur Komunitas Tabayun. http://www.indopos.co.id/


 

Leave a comment »

Nasihat Rakyat kepada Pemimpin

Abu Nu’am mengeluarkan dari Muhammad bin Suqah, dia berkata, “Aku menemui Nu’aim bin Abu Hindun, yang kemudian dia mengeluarkan selembar kertas, yang di atasnya tertulis:

“Dari Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal, kepada Umar bin Al-Khaththab. Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadamu. Amma ba’d.

Kami nasihatkan kepadamu, sehubungan dengan tugasmu yang amat penting ini. Kini engkau sudah menjadi pemimpin ummat ini, apa pun warna kulitnya. Di hadapanmu akan duduk orang yang mulia dan yang hina, musuh dan teman. Masing-masing harus engkau perlakukan secara adil. Maka pikirkan kedudukanmu dalam hal ini wahai Umar. Kami ingin mengingatkan kepadamu tentang suatu hari yang pada saat itu wajah-wajah manusia akan mengisut, wajah mengering dan hujjah-hujjah akan terputus karena ada hujjah Sang Penguasa yang memaksa mereka dengan kekuasaan-Nya. Semua makhluk akan dihimpun di hadapan-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya.

Kami juga ingin memberitahukan bahwa keadaan umat ini akan muncul kembali pada akhir zaman, yang boleh jadi mereka akan menjadi saudara di luarnya saja, padahal mereka adalah musuh dalam selimut. Kami berlindung kepada Allah agar surat kami ini tiba di tanganmu bukan di suatu tempat seperti yang turun pada hati kami. Kami perlu menulis surat ini sekedar untuk memberikan nasihat kepadamu. wassalamu alaika.”

(Al-Hilyah, 1:238, Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkannya, seperti yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 8:209, Ath-Thabrany seperti di dalam Al-Majma’, 5:214, dan menurutnya, rijalnya tsiqat).

http://www.go.to/sahabatnabi 

Leave a comment »

Tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Dari Abu Hurairah ra., Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mengajak kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun pahala-pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka.” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra., berkata Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (H.R. Muslim)

Abu Sa’id Al-Khudry ra., berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa di antara kamu sekalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaklah ia merubah dengan kekuasaannya, kalau tidak mampu maka dengan tegurannya, dan kalau tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang terakhir adalah selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra., bahwasanya Rasulullah ASW. bersabda: “Tidak seorang nabi pun yang diutus Allah kepada suatu ummat sebelumku kecuali ia mempunyai penolong-penolong setia dan kawan-kawan yang senantiasa mengikuti sunnahnya dan mentaati perintahnya, kemudian sesudah periode mereka timbullah penyelewengan dimana mereka mengucapkan apa yang tidak mereka kerjakan dan mereka mengerjakan apa yang tidak diperintahkan. Maka barang siapa yang memerangi mereka dengan kekuasaannya maka ia adalah orang yang beriman, barang siapa yang memerangi mereka dengan ucapannya, maka ia adalah orang yang beriman dan barang siapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka ia adalah seorang yang beriman juga; selain dari itu tidaklah ada padanya rasa iman walau hanya sebiji sawi.” (H.R. Muslim)

Abu Bakr Ash-Shiddiq ra., berkata: ” Wahai sekalian manusia sesungguhnya kalian membaca ayat ini : ‘Yaa ayyuhal ladziina aamnuu ‘alaikum anfusakum laa yadhurrukum man dhalla idzahtadaitum.’ (Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu masing-masing, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk). Dan sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Bahwasanya manusia itu bila mengetahui orang berbuat zhalim kemudian mereka tidak mengambil tindakan, maka Allah akan meratakan siksaan kepada mereka semua.” (H.R. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i)

Dari hudzaifah ra., Rasulullah SAW bersabda: “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaanNya, kamu harus sungguh-sungguh menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran, kalau tidak Allah akan menurunkan siksaan kepadamu, kemudian kamu berdoa kepadaNya, maka tidak akan dikabulkan doamu itu.” (H.R. Tirmidzi)

Ibnu Mas’ud berkata: ” Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Semoga Allah memberi cahaya berkilau-kilau kepada seseorang yang mendengar sesuatu dariku kemudian ia menyampaikan sebegaimana yang ia dengar, karena banyak orang yang disampaikan kepadanya (sesuatu itu) lebih menerima daripada orang yang mendengarnya sendiri.” (H.R. Tirmidzi)

Abu Zaid Usamah bin Haritsah ra., berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Pada hari kiamat kelak ada seseorang yang digiring lantas dilemparkan ke dalam neraka, seluruh isi perutnya keluar lalu berputar-putar seperti berputar-putarnya keledai di kincir, kemudian seluruh penghuni neraka berkumpul mengerumuninya, lantas menegur: “Wahai Fulan, apa yang terjadi padamu, apakah kemu tidak beramar ma’ruf dan nahi munkar?” Ia menjawab: “Ya saya menganjurkan kebaikan tetapi saya sendiri tidak menjalankannya, dan saya melarang kemunkaran tetapi saya sendiri malah mengerjakannya.” (H.R. Bukhari & Muslim).

Dari Abu Sa’id Al-Khudry ra., Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah olehmu sekalian duduk di jalan-jalan.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah kami tidak bisa meninggalkan tempat duduk kami (di jalan) itu dimana kami berbincang-bincang di sana.” Rasulullah menjawab: “Apabila kamu sekalian enggan untuk tidak duduk di sana maka penuhilah hak jalan itu.” Para shahabat bertanya: “Apakah hak jalan itu ya Rasullah.” Beliau menjawab: “Yaitu memejamkan mata, membuang kotoran, menjawab salam serta menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Pentingnya Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Abdullah bin Humaid, Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa’y, Ibnu Majah, Ad-Daruquthny, Al-Baihaqy, dan Abu Ya’la mentakhrijkan dari Qais bin Abu Hazim, dia berkata, “Setelah Abu Bakar menjadi khalifah, dia naik ke atas mimbar, lalu menyampaikan pidato. Setelah menyampaikan pujian kepada Allah, dia berkata,

“Wahai semua manusia , tentunya kalian juga membaca ayat ini, ‘Hai orang orang yang beriman, jagalah diri kalian. Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk, (QS Al-Maidah : 105), namun kalian meletakkan ayat ini bukan pada tempatnya. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya apabila manusia melihat kemungkaran dan mereka tidak mau merubahnya, maka Allah akan menyegerakan siksa yang menyelingkupi mereka semua’.”

(Al-Kanzu, 2/138)

Ath-Thabrany mentakhrijkan dari Thariq bin Syihab, dia berkata, “Itris bin Urqub Asy-Syaibany menemui Abdullah ra . seraya berkata, “binasalah orang yang tidak menyuruh kepada yang ma’ruf dan tidak mencegah dari yang mungkar.” Abdullah ra. meralat ucapannya dengan, “Bahkan binasalah orang yang tidak memperlihatkan yang makruf dan tidak mengingkari yang mungkar”.

(Al-Haitsamy, 7/275, rijalnya shahih)

© Copyright KaffahNet

Comments (1) »