Tanggung Jawab Dakwah

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin …

Dimulai dengan khutbah masnun yang pernah dibaca Baginda SAW. Termuat didalamnya beberapa firman Allah SWT yang bermaksud diantaranya,

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah SWT akan sebenar-benarnya taqwa. Dan janganlah kamu mati kecuali kamu benar-benar menjadi seorang muslim yang menyerah diri kepada Allah.”

“Wahai sekalian manusia bertaqwalah kamu kepada Tuhan kamu yang menjadikan kamu kepada satu jiwa. Dan menjadikan daripadanya pasangan kamu, dan daripadanya Allah sebarkan daripada lelaki dan wanita. Dan takutlah kamu kepada Allah yang kamu minta-meminta sesama kamu dengan perantaraan tali silaturahim. Sesungguhnya Allah SWT maha pemerhati keatasmu.”

“Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah SWT dan berkatalah perkataan yang betul. Niscaya Allah SWT akan memperbaiki amalan kamu dan Dia akan mengampuni dosa kamu, dan Allah SWT maha pengampun lagi maha penyayang. Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia mendapat kejayaan yang besar.”

“Wahai orang yang beriman, sahutlah seruan daripada Allah dan Rasul apabila kedua-duanya menyeru kamu bagi kehidupan yang baik. Dan Allah SWT menjadi penghalang bagi hati yakni dia berkuasa diatas hati seseorang hamba, dan takutlah kepada Allah, kepada Azab yang Allah SWT turunkan bahwa ianya bukan sahaja menimpa kepada orang yang melakukan kejahatan, tetapi ianya menimpa menyeluruh kepada semua.”

Allah SWT menjadikan kita untuk mengingati Allah dan bersyukur kepada Allah SWT. Tidak ada apa-apa Allah SWT menjadikan mahluq ini kecuali supaya ianya berzikir kepada Allah dan mensyukuri Allah SWT. Lantaran itu Allah SWT berfirman,

“Maka ingatlah Aku, maka niscaya Aku akan mengingatimu. Dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur yakni akan nikmat-nikmatKu.”

Di ayat yang lain, Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya mengingati Allah itu Maha besar dan Allah mengetahui apa yang kamu lakukan.”

Bahwa apa maksud zikrullah, bahwa Allah mengingati hambaNya sangat besar, sangat agung, cukuplah kemuliaan, cukuplah ketinggian bahwa Allah SWT mengingati kita. Allah ingat kita. Apabila kita mengingati Allah, Allah mengingati kita. Di dalam sepotong hadits qudsi, Nabi SAW bersabda, Allah berfirman,

“Barangsiapa mengingati Daku di dalam dirinya seorang diri, maka Aku akan mengingatinya seorang diri di dalam diriKu. Barangsiapa mengingati Aku di khalayak ramai, maka Aku akan mengingati mereka di hadapan khalayak para malaikat yang lebih baik daripada mereka.”

Maka cukuplah kemuliaan apabila seseorang dia menceritakan kebesaran Allah SWT dan majelis ini adalah majelis zikir, maka dia mesti yaqin apabila dia membesarkan Allah, menyebut Allah SWT di khalayak ramai maka dia harus yaqin bahwa Allah SWT sedang menyebutnya, Allah sedang mengingatNya di khayalak para malaikat yang lebih baik daripada kita semua. Oleh karena itu Umar RA pernah berkata, sesungguhnya aku tahu bila Allah SWT mengingati daku. Ditanya kepada beliau,” Bila?” Dijawab beliau, “Ketika aku mengingati Allah SWT, ketika itulah Allah SWT mengingatiku karena firman Allah SWT, Maka ingatlah Aku, niscaya Aku ingat akan kamu.”

Allah SWT juga ingin meninggikan Baginda SAW. Allah ingin mengangkat nama Baginda SAW. Maka dimana nama Allah disebut, maka disitu disebut nama Baginda SAW. Sehingga Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an. Dan Allah SWT menggunakan Fi’il yang berulang-ulang, senantiasa ada pembaharuan. Supaya menunjukkan bahwa sentiasa benda itu berulang-ulang terus bahwa,

“Sesungguhnya Allah dan malaikat berselawat ke atas Nabi. Wahai orang-orang beriman berselawatlah kepada Nabi SAW, dan ucapkanlah selamat.”

Dan tuan-tuan yang mulia, setiap kali Nabi SAW disebut di langit, disebut di bumi, diingat di langit, diingat di bumi. Maka apabila didengar nama Nabi SAW, maka kita mesti berselawat kepada Baginda SAW. Karena Baginda SAW bersabda,” Bahwa orang yang kedekut atau kikir adalah orang yang disebut namaku dihadapannya tetapi dia tidak berselawat kepadaku.” Apabila kita berselawat kepada Nabi SAW Allah SWT akan mengantar selawatnya kepada kita sepuluh kali. Selawat Allah SWT adalah rahmat. Dengan kita beselawat kepada Nabi SAW kita akan mendapat 10 rahmat daripada Allah SWT. Maka di dalam sepotong hadits yang lain, Nabi SAW bersabda,”Hinalah orang yang disebut namaku dihadapannya tetapi dia tidak berselawat kepadaku. Maka tuan-tuan yang mulia, janganlah kita menjadi orang-orang yang bakhil, orang-orang yang kedekut, sehingga disebut nama Nabi SAW walaupun seribu kali telah disebut dihadapan kita, kita jangan mengatakan kita sudah berselawat padanya. Bahkan walaupun 1000 kali kita berselawat lagi dan lagi, setiap salawat kepada Nabi SAW Allah SWT akan memberikan 10 rahmat kepada kita. Allah SWT ingin memuliakan Baginda SAW. Maka setiap kali adzan dilaungkan dimana-mana, begitu selesai satu adzan dilaungkan, dikampung yang berdekatan akan mula adzannya, habis saja sana, negara yang bersebelahan akan mula azannya, terus 24 jam sentiasa, disebut nama Allah SWT, disebut nama Nabi SAW. Bukan setakad itu saja, sejak mana Baginda SAW diutuskan sampai hari kiamat terus nama Allah dan nama Rasulullah disebut. Tidak shah iman seseorang jika tidak disebut nama Nabi SAW. Tidak shah Islam seseorang jika tidak disebut nama Nabi SAW. Dan Allah SWT meninggikan sebutan Nabi SAW bahwa Allah berfirman,

“Bahwasanya ianya adalah sebutan bagimu dan bagi kaummu yaitu orang yang beriman.”

Semua untuk nabi SAW. Dan kamu akan ditanya Allah SWT. Dalam surat Al-Isra, Allah SWT mengangkat nama kamu meninggikan nama kamu. Orang beriman kepada Allah SWT, orang yang menyeru kepada Allah menyeru kepada Rasulullah SAW Allah muliakan mereka, Allah angkat mereka. Lantaran itu Nabi SAW telah menasehatkan Muadz bin Jabal ra . Muaz ra. adalah seorang sahabat yang telah masuk Islam umurnya tidak melampaui 18 tahun. Dan dia telah mati syahid di Yordan, umurnya 34 tahun. Makna dia 16 tahun bersama Baginda SAW. Kubur dia di sebelah kubur Abu Ubaidah bin Jarah ra. Nabi SAW berata, “Abu Ubaidah (ra) adalah orang yang paling amanah dalam umat ini.” Maka mengenai Muaz bin Jabbal ra, baginda SAW pernah bersabda,”Umat aku yang paling bijak dan paling alim mengenai halal dan haram adalah Muaz bin Jabbal (ra).”

Umar ra pernah berkata,”Kalaulah aku melantik Muaz bin Jabal (ra) sebagai penggantiku maka kalau Allah SWT tanyaku mengapa kamu melantik dia sebagai penggantimu, maka sudah tentu aku akan jawab kepada Allah SWT karena aku dengar Rasulullah SAW bersabda orang yang paling alim di kalangan umat ini dengan perkara halal dan haram adalah Muadz bin jabal (ra).”

Kalau kita lihat mengapa dia telah mencapai kedudukan begitu tinggi. Dari mana, dari universiti mana dia telah keluar, dari mana dia belajar. Masa 16 tahun, dan begitu muda dia meninggal dunia, tetapi dia telah mencapai ketinggian ilmu agama. Dan sabda Nabi SAW, apabila Allah SWT mengumpulkan para alim ulama di akherat nanti maka Muadz bin Jabbal ra. tiba-tiba meluruh, melantun macam seketul batu terus di hadapan mereka semua. Maka mengenai perkara inilah kita mau melihat macam mana Muadz bin Jabbal ra. dalam masa begitu singkat telah mencapai ilmu yang begitu tinggi. Dan Rasulullah SAW telah menasehatkan Muadz bin Jabbal ra. bahwa janganlah lupa tiap-tiap lepas sembahyang maka berdoalah kepada Allah SWT, Allahumma ainni alla dzikrika, wa syukrika, wa husni ibadatika. Ya Allah bantulah aku untuk mengingatiMu, untuk bersyukur kepadaMu, dan untuk memperelokkan ibadah-ibadahku.”

Sekali Abdullah bin Mas’ud ra. telah berkata, “Maka adalah dia Muadz bin Jabbal (ra) dia satu ummat (dia seorang, tetapi seperti ummat) yang berdiri ibadah kepada Allah SWT, menyimpang dari semua agama, ikhlas kepada Islam, dan tidakklah dia dikalangan orang-orang yang menyekutukan Allah SWT.” Dan ayat ini ada di Al-Qur’an, Allah firmankan itu kepada Ibrahim AS. Kemudian sahabat menegur, “Itu adalah sesungguhnya Ibrahim AS. Kemudian Abdullah ra. menjawab, “Sesungguhnya Muadz (ra) adalah satu ummat yang berdiri ibadah…..(hingga selesai). Lantas Sahabat ini menegur kembali, “Sesungguhnya itu Ibrahim AS.” Dan Abdullah bin Mas’ud ra. berkata sekali lagi, “Sesungguhnya Muadz (ra) satu ummat,…(hingga selesai). Kemudian kali ketiga sahabat yang menegur itu bertanya, “Kenapa?” Kata Abdullah bin Mas’ud ra.,”Telah aku dengar Nabi SAW bersabda sesungguhnya Muadz (ra) adalah satu ummat yang berdiri ibadah kepada Allah SWT, menyimpang dari semua agama, Ikhlas kepada agama Islam, dan tidaklah dia di kalangan orang-orang yang menyekutukan Allah SWT, “Nabi SAW bersabda, “Dia seorang tapi dia sebagai ummat.”

Maka tuan-tuan yang mulia, bagaimana Muadz ra. mencapai derajat ketinggian di sisi Allah SWT? Karena dia senantiasa berada di atas petunjuk cara Rasulullah SAW. Maka kalau kita juga inginkan ketinggian seperti Muadz bin jabbal ra, maka tidak dapat tidak, kita mesti berada di jalan yang telah ditunjukkan oleh Nabi SAW. Maka apabila kita menyeru kepada Allah SWT, menyeru kepada Baginda SAW dengan cara yang telah ditunjukkan Baginda SAW walaupun anda seorang, maka kita akan dikira sebagai ummat seluruhnya.

Lantaran itu ummat ini terbagi kepada dua. Pertama, ummat dakwah yaitu ummat yang mereka perlu didakwahkan untuk menerima Allah dan Rasul. Allah sebagai Rabb mereka, dan Rasul sebagai Nabi mereka. Kedua, umat istijabah, ummat yang telah menyahut seruan Allah dan Rasul-Nya. Mereka menjadi orang-orang Islam. Ummat ini kedua-duanya telah datang daripada seruan Allah SWT, “Wahai sekalian ummat, (termasuk ummat yang telah menyahut seruan Allah dan Rasul menjadi orang-orang islam, dan ummat yang belum lagi menerima seruan Allah dan Rasul, orang-orang kafir, musyrik, orang yang menyembah berhala, maka kamu semua ummat), wahai ummat Muhammad SAW (dikalangan ramai-ramai ummat tadi), maka kamu jadilah satu ummat yang khusus. Dan hendaklah ada di antara kamu wahai ummat Muhammad SAW (yang termasuk orang beriman, orang tidak beriman, penyembah berhala) satu ummat yang menyeru kepada kebajikan, mencegah kepada munkar, dan mereka ialah orang-orang yang berjaya.”Maka didalam perkara ini, di kalangan ummat-ummat yang ramai, di kalangan ummat istijabah, iaitu orang yang telah menyahut seruan Allah dan RasulNya menjadi orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kamu mesti timbul satu ummat walaupun satu orang, yang kalau kita menyeru manusia kepada Allah dan Rasul, maka kita adalah satu ummat dan akan mendapat ganjaran seluruhnya. Karena orang yang menyeru kepada Allah dan Rasul dengan cara Rasululllah SAW walaupun dia seorang dia adalah ummat.

Maka menjadi tanggungjawab kepada ummat istijabah, bagi mereka orang-orang mukmin perlu juga dilakukan dakwah di kalangan mereka sendiri untuk mewujudkan satu ummat yang lain, satu ummat yang berusaha untuk menyeru kepada umat-umat dakwah. Maka itu Allah SWT telah menyebut di dalam Al-Qur’an,

“Wahai orang-orang yang telah beriman, telah menyahut seruan dan kamu telah berkata Laa Ilahaa ilallah. Wahai orang beriman, kamu yang telah naik saksi bahwa Muhammad SAW adalah rasul. Mereka orang yang beriman dengan Allah, beriman dengan Rasul, telah menyahut seruan Allah dan RasulNya, Allah sambut lagi sekali dengan didakwahkan sesama orang yang telah beriman. Apabila Allah dan Rasul menyeru kamu supaya untuk menghidupkan kamu satu kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat, ketahuilah wahai hamba-hamba yang beribadah, beriman, yang telah mengucapkan kalimah syahadah, kamu kena jaga, kamu kena takut karena seseorang itu walaupun dia bersholat, walaupun dia membaca Al-Qur’an, walaupun dia beriman, karena hati seseorang itu diantara dua jari arrahmat.” Allah boleh menukarkan bagaimana Dia kehendaki. Allah boleh alih bagaimana Dia kehendaki seperti datang dalam hadits Nabi SAW, “Berpagi-pagi seorang lelaki seorang mukmin, berpetang-petang dia menjadi orang kafir. Dan berpetang-petang dia menjadi orang mukmin, bepagi-pagi dia menjadi orang kafir. Dan dia telah menjual agamanya dengan dunia yang murah.”

Jadi walaupun kamu beribadah, membaca Al-Qur’an, walaupun kamu seorang mukmin, tetapi harus kamu takut, harus kamu jaga, sesungguhnya Allah SWT mengontrol, mengawal hati manusia. Maka Allah SWT boleh alihkan bagaimana yang Dia kehendaki. Bahwasanya ummat ini, manusia yang kufur terhadap Allah SWT ataupun yang beriman tadi akhir kesudahannya dia akan dihimpun dihadapan Allah SWT dan bertaqwalah kamu kepada Allah, takutlah kamu kepada Allah akan satu fitnah, satu ujian, satu musibah, azab yang akan datang kepada kamu, yang bukan akan mengena kepada orang yang zalim, orang yang melanggar perintah Allah SWT semata-mata, bahkan kalau datang azab ia akan datang kepada semua orang. Dan ketahuilah bahwasanya Allah SWT sangat-sangat keras azabnya.

Maka seseorang walaupun dia baca Alqur’an belum tentu lagi kejayaan dia. Walau dia bersholat belum tentu lagi kejayaan dia. Tetapi apabila seseorang berusaha mewujudkan dakwah, menyeru satu sama lain, maka semoga Allah SWT memberi kejayaan kepadamu. (Sekarang kita akan wudhu terlebih dahulu untuk sholat isya..).

Sesungguhnya ini adalah saat yang berkah. Allah SWT kabulkan doa selepas adzan dan juga malaikat-malaikat yang ada di sekeliling kita, malaikat-malaikat yang tindih bertindih diantara satu sama lain sampai ke langit dunia, sebagaimana dikhabarkan Rasulullah SAW, selain daripada malaikat-malaikat yang hadir bersama kita ketika kita shalat, selain dari malaikat yang mencatit amalan kita, dan ini adalah malaikat yang Allah khaskan untuk mencari majelis-majelis zikir, majelis-majelis membesarkan Allah SWT, ianya datang. Maka apabila akhir majelis nanti, malaikat akan balik pada Allah SWT. Allah mengetahui segala-galanya, Ia akan bertanya kepada mereka, apa yang hambaKu buat. Maka Malaikat akan berikan kepada Allah SWT, bahwa mereka itu memujiMu, mensyukuriMu, mereka mengagungkanMu, membesarkanMu. Apa yang mereka minta? Kata malaikat, “mereka minta syurga.” Mereka nampakah surga? Tidak. Kalau nampak macam mana? Lebih lagi keghairahan mereka, lebih lagi usaha mereka untuk mendapatkannya. Dariapa mereka minta dilindungi? Kata malaikat, “dari neraka.” Apa pernah mereka melihat neraka? Belum. Bagaimana jika mereka melihatnya? Mereka lebih lagi akan usaha untuk menjauhkan diri mereka, usaha untuk menjauhkan diri mereka dari pada neraka. Maka Allah SWT telah berkata kepada para malaikat, “Aku persaksikan kamu semuanya, aku beri apa yang mereka minta, dan aku jauhkan apa yang mereka minta dijauhkan. Dan aku persakiskan kamu hai malaikat, Aku ampunkan semua yng ada di majlis itu.” Lalu malaikat kata, “Ya Allah ada satu orang bukan dari kalangan mereka. Dia datang untuk satu tujuan atau keperluan yang lain.” Maka itupun Allah kata, “Aku ampunkan dia karena itu adalah satu majelis yang tidak akan terhidnar dari keberkatan seorangpun yang menyertai mereka. Lalu malaikat berkata lagi, “Wahai Allah, ada seseorang yang banyak dosanya. Dia datang lalu dia duduk.” Maka itupun Allah SWT kata, “Aku ampunkan dosa-dosa dia karena dia berada dalam satu kaum dimana tidak ada seorangpun akan terhindar dari keberkatannya.” Maka Allah SWT akan beri ketika akhir majelis nanti.

Untuk itulah kita sabarkan diri kita sampai akhir majelis dan mendapat hadiah ini dari Allah SWT.

Dan tanda-tanda doa makbul adalah doa musafir. Kalau orang biasa saja, bukan keluar di jalan Allah SWT, sebagai musafir, Allah SWT terima doa dia, lebih-lebih lagi orang yang keluar musafir karena agama Allah SWT, keluar di jalan Allah SWT. Maka lantaran itu waktu-waktu penerimaan doa seperti ini janganlah kita sia-siakan. Bahwa mereka yang ada niat untuk keluar di jalan Allah SWT maka mesti dia doa di dalam hati supaya keluar di jalan Allah SWT mau belajar agama, keluar di jalan Allah SWT mau jadi satu ummat seperti Allah SWT perintahkan dalam al-Qur’an, kita mau keluar di jalan Allah SWT kita mau belajar usaha agama, mau belajar dakwah, mau belajar khidmat, supaya Allah SWT beri hikmah kepada kita. Maka kita mesti gunakan peluang yang mulia ini untuk keluar di jalan Allah SWT.

Kalau kita keluar di jalan Allah SWT sekali-kali Allah tidak akan mensia-siakan kita, Allah tidak akan merugikan kita, sepertimana Allah SWT tidak mempersia-siakan Hajar r.ha., dan bayinya ismail AS. Apabila Ibrahim AS telah menerima perintah Allah SWT, untuk meninggalkan isterinya yang tercinta, anaknya yang tersayang di satu lembah yang Allah SWT sifatkan, suatu lembah yang tidak ada asbab-asbab kehidupan, tidak ada tumbuhan, lantaran tidak ada air. Hanya ada asbab kematian dan kebinasaan. Tetapi apabila menunaikan perintah Allah SWT, maka mereka yakin bahwa Allah SWT sekali-kali tidak akan mensia-siakan mereka. Apabila Ibrahim AS meninggalkan isteri dan anaknya yang tersayang, dia tidak lagi menoleh ke belakang, takut bahwa cintanya kepada isteri, kasihnya terhadap anak akan membuat dia berbolak-balik dalam menunaikan perintah Allah SWT sehingga Hajar r.ha bertanya, “Menganpa kami ditinggalkan disini?” Dia tidak menjawab. Kali kedua, dia tidak juga menjawab. Kali ketiga isterinya kata, “Apakah Allah memerintahkan kamu untuk buat demikian?” Maka itupun Ibrahim AS tidak menjawab. Hanya menganggukkan kepala berkata iya. Maka apabila mendengar bahwa ini adalah perintah Allah SWT, apa kata Hajar? “Kalau begitu sekali-kali Allah tidak akan mempersia-siakan kami.”

Apabila kita buat usaha agama, keluar di jalan Allah SWT, sekali-kali Allah tidak akan mempersia-siakan kita. Tetapi siapa yang ada keyakinan yang rusak, bahwa keluar di jalan Allah SWT akan merugikan, akan dipersia-siakan, maka ini adalah satu iktikad yang rusak, satu yakin yang rusak, yang perlu dikikis dari hati kita, bahwa Allah SWT sekali-kali tidak akan mempersia-siakan orang yang keluar di jalan Allah SWT buat usaha agama.

Siapa sedia, InsyaAllah?

Mengenai Umat dakwah dan umat istijabah tadi, maka tanggung jawab umat dakwah ialah atas bahu umat istijabah. Tetapi di kalangan ummat istijabah juga perlu wujud satu kumpulan, satu kaum yang menyeru mereka kepada perintah Allah SWT yang mereka tidak sempurnakan. Karena ada diantara orang-orang mukmin, orang-orang Islam yang tidak menunaikan sholat, menunaikan zakat, dan rukun-rukun Islam yang lain dan amalan-amalan Islam yang lain. Maka menjadi tanggungjawab di kalangan umat istijabah itu sendiri, ummat Islam itu sendiri untuk menyeru di kalangan mereka, supaya mereka sama-sama bangun untuk melakukan amalan. Setiap umat ini buat kerja yang dipertanggungjawabkan kepada mereka iaitu menyeru kepada makruf dan mencegah terhadap munkar.

Sepertimana Bani Israel, mereka dipertanggungjawabkan untuk menyeru kepada makruf dan mencegah kepada munkar, dan mereka meninggalkan tanggung jawab mereka, lantaran itu Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an yang mahfumnya,

“Telah dilaknat Bani israel atas lisan, atas lidah Nabi Daud AS dan lidah Nabi Isa AS, karena mereka telah memaksiati Allah SWT dan mereka telah melampaui batas. Dan karena mereka tidak menyeru kepada makruf dan tidak mencegah daripada munkar, dan buruk sekali apa yang mereka lakukan.”

Maka Nabi SAW bersabda, “Sungguh-sungguh kamu kena menyeru kepada makruf dan sungguh-sungguh kamu kena mencegah dari munkar bahwa kalau tidak, cepat sekali Allah SWT akan turunkan Azab. Dan apabila turun azab kamu berdoa dan Allah SWT tidak akan mengabulkan doa kamu.” Lantaran itu hari ini rata-rata orang berkumpul di Arafah berdoa, “Ya Allah bantulah orang Islam, muliakanlah orang Islam.” Tetapi tidak nampak bantuan Allah SWT secara menyeluruh, dan orang Islam makin hina dan makin hina. Karena apa? Karena umat ini tidak menunaikan syarat Allah SWT untuk mendapatkan bantuan Allah SWT. Apa syarat Allah SWT? Jika kamu membantu agama Allah SWT, maka Allah SWT akan membantu kamu. Kita ini sekarang ramai, tetapi keadaan kita kedudukan kita seperti sampah yang berada di permukaan air bah lantaran dosa kita.

Kita sekarang ini mesti niat, bertobat kepada Allah SWT daripada hati kita sungguh-sungguh. Dosa apa? Dosa meninggalkan dakwah. Kita telah menzalimi diri kita sendiri karena meninggalkan dakwah. Kisah Yunus AS, apabila dia mendakwah kaum dia dan apabila dia telah putus asa dengan kaum dia karena mereka tidak beriman, maka dia telah meninggalkan dakwah terhadap mereka. Maka balasan daripada Allah SWT bahwa ikan telah menelannya. Maka apabila dia telah berada di perut ikan maka dia faham bahwa meninggalkan dakwah itu satu kezaliman. Lantaran itu dalam doa, “Laa ilahaa illa anta, subhanaka inni kuntu minal zalimin. Maha suci Allah tidak ada Tuhan melainkan Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Meninggalkan dakwah adalah satu kezaliman. Sekarang tuan-tuan yang mulia, kita menzalimi diri kita sendiri dan diri orang lain. Lantaran itu kita mesti bertobat kepada Allah SWT. Dan kita berdoa kepada Allah SWT, semoga Allah SWT pilih kita keluar di jalan Allah SWT. Karena tanpa taufik dari Allah SWT seorangpun tak boleh keluar ke jalan Allah. Lantaran itu kita berdoa bersungguh-sungguh supaya Allah pilih kita . Janganlah Allah campakkan kita sebagaimana sampah dicampak ke tempat sampah. Kita minta supaya Allah pilih kita. Dunia, Allah beri kepada semua orang, kepada orang yang Dia suka dan Dia tak suka. Tetapi agama hanya Allah beri kepada orang yang Allah suka. Kita yang berhajat, Allah tidak berhajat kepada kita.

Oleh itu selepas doa kita jumpa orang, taskyil. Saya yang berhajat, saya kena keluar di jalan Allah SWT. Mengapa kita perlu dimotivasi, mengapa kita perlu diberi semangat. Padahal untuk keduniaan kita, tiada siapapun beri semangat kepada kita. Tetapi kepada akherat kenapa pula kita mesti beri perangsang.

Bayan Maghrib Imam Diraja Qatar, Mutarjim Ustadz. Abdul Hamid
Apri 2001 Masjid Sri Petaling
dari: dakwah.cjb.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: