Archive for Desember, 2007

Kiat Mempunyai Anak Sholeh

Siapapun pasti mengidam-idamkan anaknya kelak menjadi anak yang sholeh. Untuk mewujudkan keinginan ini hendaknya dilakukan beberapa hal:

Pertama, hendaknya sejak anak masih berada di dalam kandungan, ibunya harus selalu mengkonsumsi makanan yang halal. Jangan sekali-kali memakan dan meminum sesuatu yang syubhat atau bahkan haram. Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, neraka lebih berhak baginya.”

Jika seseorang itu hartanya tergolong syubhat misalnya, maka hendaknya diupayakan agar harta syubhat itu tidak sampai dimakan, tapi dipergunakan untuk kebutuhan yang lain, sebab makanan yang shubhat atau bahkan haram itu pasti dapat menimbulkan dampak negatif pada jiwa orang yang mengkonsumsinya. Diceritakan, “Suatu ketika Abu Yazid Al Busthami mengadu pada ibunya perihal dirinya yang sudah beribadah kepada Allah SWT. selama kurang lebih 40 tahun, tapi belum dapat merasakan nikmatnya beribadah. Beliau lalu bertanya kepada ibunya, jangan-jangan ibunya pada waktu mengandung atau menyusui dirinya dulu pernah mengkonsumsi makanan yang tidak halal. Ternyata kekhawatiran Abu Yazid ini terbukti, ibunya tadi mengakui, bahwa pada masa menyusui Abu Yazid dulu, saat naik ke loteng dia pernah meminum air susu satu gelas tanpa mencari tahu dulu siapa yang memilikinya.”

Kedua, orang tua hendaknya senang dan cinta terhadap orang-orang yang sholih, agar anaknya kelak tertulari kesholihan orang-orang sholeh tersebut.

Ketiga, hendaknya orang tua selalu berdo’a kepada Allah subhanahu Wata’ala agar anaknya ditakdir menjadi anak yang baik. Ada sebuah ijazah do’a dari Kiai Romli, beliau mendapat ijazah dari Kiai Kholil Bangkalan, Madura, yaitu:
“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami termasuk orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang baik. Dan janganlah Engkau jadikan kami dan mereka termasuk orang-orang yang sengsara.”

Keempat, hendaknya orang tua mengajarkan anaknya untuk mengenal Allah SWT, dimengertikan tentang tata cara beribadah, halal-haram, hal-hal yang menyebabkan kemurtadan, dan lain-lain. Setelah itu anaknya mau disekolahkan ke mana pun, terserah. Yang penting orang tua sudah menanamkan pendidikan dasar agama yang kokoh.

Dalam persoalan mendidik anak ini, orang tua jangan hanya memikirkan dan menghawatirkan anaknya dalam urusan dunia saja. Sebab jika begini, sepertinya yang akan mati hanya orang tuanya semata. Justru yang harus selalu diperhatikan dan dipikirkan oleh orang tua adalah bekal apakah yang akan dibawa dirinya dan anaknya nanti ketika menghadap Allah SWT. sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub AS. menjelang ajalnya. Allah mengisahkan peristiwa ini dalam Surah Al Baqarah, ayat 133:أ“Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 133).

Sebagai orang tua, kita jangan hanya memikirkan:“Apa yang engkau makan setelah kepergianku?”. Jika orang tua memiliki anak yang sholeh, maka dia tak ubahnya seseorang yang mempunyai usia panjang, meski umurnya pendek sekalipun, karena setiap saat dia akan selalu memperoleh kiriman amal.

Kamis, 09 Agustus 2007 – oleh : admin http://www.langitan.net

Iklan

Leave a comment »

Kezuhudan sebagian Sahabat

Kezuhudan Abu Bakar

Ahmad mengeluarkan dari Aisyah r.ha, dia berkata, “Abu Bakar meninggal dunia tanpa meninggalkan satu dinar maupun satu dirham pun. Sebelum itu dia masih memilikinya, namun kemudian dia mengambilnya dan menyerahkannya ke Baitul-mal.” Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 3/132.

Kezuhudan Umar bin Al-Khaththab

Ahmad mengeluarkan di dalam Az-Zuhud, Ibnu Jarir dan Abu Nu’aim dari Al-Hasan, dia berkata, “Ketika Umar bin Al-Khaththab sudah menjadi khalifah, di kain mantelnya ada dua belas tambalan. Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 4/405.

Kezuhudan Utsman bin Affan

Abu Nu’aiin mengeluarkan di dalam Al-Hilyah, 1/60, dari Abdul-Malik bin Syaddad, dia berkata, “Aku pernah melihat Utsman bin Affan berkhutbab di atas mimbar pada hari Jum’at, sambil mengenakan kain mantel yang tebal (kasar), harganya berkisar empat atau lima dirham. Kain ikat kepalanya juga ada yang robek. Diriwayatkan dari Al-Hasan, dia berkata, “Aku pernah melihat Utsman bin Affan yang datang ke masjid dalam keadaan seperti itu, pada saat dia sudah menjadi khalifah.” Ahmad mengeluarkan di dalam Shifatush-Shafwah, 1/116.

Kezuhudan Ali Bin Abu Thalib

Ahmad mengeluarkan dari Abdullah bin Ruzain, dia berkata, “Aku pernah masuk ke rumah Ali bin Abu Thalib pada hari Idul-Adhha. Dia menyuguhkan daging angsa kepadaku. Aku berkata, “Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepadamu. Karena engkau bisa menyuguhkan makanan ini, berarti Allah memang telah melimpahkan kebaikan kepadamu, ” Dia berkata, “Wahai Ibnu Ruzain, aku pernah mendengar Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak diperkenankan harta Allah bagi seorang khalifah kecuali sebanyak dua takaran saja, satu takaran yang dia makan bersama keluarganya, dan satu takaran lagi yang harus dia berikan kepada orang-orang.” Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Bidayah, 8/3.

Kezuhudan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah

Abu Nu’airn mengeluarkan dari Abu Ma’mar, bahwa tatkala Umar mengadakan lawatan ke Syam, maka disambut para pemuka dan pemimpin masyarakat di sana. “Mana saudaraku?” tanya Umar. “Siapa yang engkau maksudkan?’ tanya orang-orang. “Abu Ubaidah. ” “Sekarang dia baru menuju ke sini. Ketika Abu Ubaidah sudah tiba, Umar turun dari kendaraannya lalu memeluknya. Kemudian Umar masuk ke rumah Abu Ubaidah dan tidak melihat perkakas apa pun kecuali pedang, perisai dan kudanya. Ahmad mengeluarkan hadits yang serupa seperti yang disebutkan di dalam Shifatush-Shafwah, 1/143. Ibnul-Mubarak juga meriwayatkannya di dalam Az-Zuhd, dari jalan Ma’mar, serupa dengan ini, seperti yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 2/253.

Kezuhudan Mush’ab bin Umair

Al-Bukhary mengeluarkan di dalam Shahih-nya, dari Hibban, bahwa Mush’ab bin Umair meninggal dan hanya meninggalkan selembar kain. Jika orang-orang menutupkan kain itu ke kepalanya, maka kedua kakinya menyembul, dan jika ditutupkan ke kedua kakinya, maka kepalanya yang menyembul. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “tutupkan dedaunan ke bagian kakinya.” Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 3/421.

Kezuhudan Salman Al-Farisy

Abu Nu’aim mengeluarkan dari Athiyah bin Amir, dia berkata, “Aku pernah melihat Salman Al-Farisy ra. menolak makanan yang disuguhkan kepadanya, lalu dia berkata, “Tidak, tidak. Karena aku pemah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

‘Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia akan lebih lama laparnya di akhirat. Wahai Salman, dunia ini hanyalah penjara orang Mukmin dan surga orang kafir’.

Di dalam Al-Hilyah, 1/198, Bagian terakhir dari hadits di atas, “Dunia ini hanyalah penjara orang Mukmin”, merupakan riwayat Muslim.

Kezuhudan Abu Dzarr Al-Ghifary

Ahmad mengeluarkan dari Abu Asma’, bahwa dia pernah masuk ke rumall Abu Dzarr di Rabadzah. Dia mempunyai seorang istri berkulit hitam yang sama sekali tidak memakai hiasan macam apa pun dan tidak pula mengenakan minyak wangi. Abu Dzarr berkata, “Apakah kalian tidak melihat apa yang disuruh para wanita berkulit hitam ini? Mereka menyuruhku unluk pergi ke Irak. Namun ketika kami tiba di Irak, mereka justru lebih senang kepada dunia. Padahal kekasihku (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) memberitahukan kepadaku bahwa di atas jembatan neraka ada rintangan dan halangannya. Kita akan menyeberangi jembatan itu sambil membawa beban kita. Maka lebih baik bagiku untuk menyeberang dengan selamat tanpa mernbawa beban apa pun.” Begitulah yang disebutkan di dalain At-Targhib Wat-Tarhib, 3/93. Ahmad juga meriwayatkannya dan rawi-rawinya shahih.

Kezuhudan Abud-Darda’

Ath-Thabrany mengeluarkan dari Abud-Darda’ Radhiyallahu Anhu, dia berkata, ‘Dahulu sebelum Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi rasul, kami adalah para pedagang. Namun setelah beliau diutus sebagai rasul, aku ingin terjun kembali dalam perniagaan dan sekaligus rajin beribadah. Tapi nyatanya aku tidak bisa mantap dalam ibadah. Akhirnya kutinggalkan perniagaan dan mengkhususkan diri dalam ibadah.’ Menurut Al-Haitsainy, 9/367, rijalnya shahih.

Kezuhudan Al-Lajlaj Al-Ghathafany

Ath-Thabrany mengeluarkan dengan isnad yang tidak diragukan, dari Al-Lajlaj Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Sejak aku masuk Islam di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, aku tidak pernah makan dan minum kecuali sekedar secukupnya.” Begitulah yang disebutkan di dalarn At-Targhib, 31423. Abul-Abbas As-Siraj di dalam Tarikh-nya dan Al-Khathib di dalam Al-Muttafaq, seperti yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 2/328.

Kezubudan Abdullah bin Umar

Abul-Abbas As-Siraj mengeluarkan di dalam Tarikh-nya dengan sanad hasan, dari As-Sary, dia berkata, “Aku pernah melihat sekumpulan orang dari kalangan shahabat, bahwa tak seorang pun di antara mereka yang keadaannya senantiasa mirip dengan keadaan Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam selain dari Ibnu Umar. “Abu Sa’id Al-Mraby mengeluarkan dengan sanad yang shahih, dari Jabir ra., dia berkata, ‘Tidak ada seseorang di antara kami yang mendapatkan kekayaan dunia melainkan dia justru meninggalkannya selain dari Abdullah bin Umar.’ Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 21347.

Leave a comment »

KH MA Sahal Mahfudh 70 Tahun (2-Habis)

FIGUR KH MA Sahal Mahfudh dikenal lemah lembut dan bersikap datar dalam menghadapi setiap persoalan. Namun, jika menyentuh persoalan-persoalan umat, kiai kharismatik ini bisa berubah meledak-ledak.

Suatu hari, nada bicaranya agak tinggi setelah membaca berita pernyataan Menag Maftuh Basyuni terkait dengan pembatasan haji. ”Haji Hanya Sekali Seumur Hidup”. ”Wong ngurusi haji nggak beres kok melakukan pembatasan-pembatasan. Harusnya mencari solusi-solusi yang tepat agar haji bisa berjalan baik dan benar,” kata Kiai Sahal.

Kiai ini begitu besar perhatian dan kepeduliannya pada persoalan-persoalan umat. Sebaliknya, kalau sudah menyentuh urusan politik praktis, misalnya pilihan bupati, pilihan gubernur, atau pemilu Mbah Sahal cenderung akan mengalihkan pembicaraan.

”Saya itu tetap konsen dan selalu memperhatikan persoalan politik praktis. Hanya tidak melakukan praktik politik praktis. Tidak alergi dan membenci tidak wong nyatanya tidak bisa melepaskan diri dari urusan politik praktis,” kata Kiai Sahal.

Dia berharap kader-kader NU di eksekutif dan politisi di lesgislatif hendaknya ingat kepada NU. ”Terus terang saya prihatin kader-kader NU yang kini jadi pejabat dan politisi kurang perhatian dan kepeduliannya kepada organisasi yang melahirkan,” tegasnya.

”Saya menyadari sekarang ini umur saya sudah masuk kepala tujuh. Jadi mau tidak mau harus lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sisa usia saya ini akan saya manfaatkan untuk pondok pesantren, lembaga-lembaga pendidikan dan lain-lain,” tutur Mbah Sahal.

Pemecahan Konkrit

Ketua Umum MUI ini tak hanya menguasai ilmu agama, namun bisa membumikan pengetahuan itu menjadi sesuatu yang bernilai praktis untuk masyarakat. Agama tidak hanya dipandang sebagai suatu teologi yang kaku yang pada gilirannya menganggap kemiskinan dan keterbelakangan sebagai takdir Tuhan yang tidak bisa diubah. Tak ayal, kegelisahan dan alterlatif pemecahan masalah atas kondisi sosial dituangkannya dalam beberapa pemikiran fiqh sosial.

Nuansa Fiqh Sosial, Era Baru Fiqh Indonesia, Wajah Baru Fiqh Pesantren, Pesantren Mencari Makna, Dialog dengan Kiai Sahal Mahfudh (solusi problematika umat) merupakan sebagian terbitan buku hasil pemikirannya.

Bahkan, pemikiran yang disusun santrinya Jamal Ma’mur Asmani dalam “Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh, antara Konsep dan Implementasi” baru saja dibedah, Senin (17/12) di Aula Pondok Pesantren Maslakul Huda Desa Kajen, Margoyoso, Pati.

Buku itu merangkum konsep dan implementasinya dalam pengembangan ekonomi masyarakat berbasis pesantren. Bukan saja kegelisahan dan problematika yang diulas, namun pemecahan masalah secara konkrit tertuang di dalamnya.

Menurut penulisnya, Kiai Sahal tak hanya piawai dalam memaparkan pemikiran dalam tataran konsep. Langkah nyata meningkatkan kesejahteraan rakyat dibuktikan dengan pembentukan Biro Pengembangan Pesantren Masyarakat (BPPM).

Dengan dua lembaga pendidikan pesantren di bawah asuhannya, Mathali’ul Falah dan Maslakul Huda, Rais Aam PBNU ini menerapkan konsep fiqh sosial untuk menjawab persoalan ekonomi rakyat. Hasilnya, kata Jamal dalam buku itu, BPPM telah melahirkan BPR Artha Huda Abadi, Rumah Sakit Islam (RSI) Pati, serta kelompok-kelompok usaha kecil di bawahnya. (Agus Fathudin Yusuf, M Noor Efendi-77)

Rabu, 19 Desember 2007 Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

Leave a comment »

KH MA Sahal Mahfudh 70 Tahun (1)

Senin 17 Desember 2007, Dr KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh berusia 70 tahun. Ulang tahunnya ditandai peluncuran dua buku sekaligus ”Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh” dan ”Pandu Ulama Ayomi Umat”. Bagaimana kisah perjalanan hidupnya? Berikut ini laporannya dalam dua seri

”DUA buku yang terbit sekarang ini isinya kok ngalem-ngalem (menyanjung-nyanjung) saya semua. Terlalu banyak memuja-muja malah nanti bisa jadi kultus individu. Belum tentu isinya benar dan pas dengan diri saya. Masih banyak yang bisa dikiritisi tentang diri saya. Supaya bebas bicara dan mengkritik tidak sungkan-sungkan saya minta izin meninggalkan ruangan ini,” kata Kiai Sahal.

Sesaat kemudian ia meninggalkan aula yang terletak di lantai dua Kompleks Pondok Pesantren Maslakul Huda (PPMH) Kajen, Margoyoso, Pati. Sekitar seratusan tamu undangan menyaksikan ulang tahunnya.

”Saya belum pernah mengadakan acara seperti ini. Biasanya slametan biasa keluarga, baca manaqib, tahlilan dan selesai. Tetapi saya bahagia,” tuturnya.

Kesederhanaan

Menginjak usia yang makin berumur, kiprah sosial seorang ulama kharismatik asal Pati, Jawa Tengah KH MA Sahal Mahfudh semakin bersinar. Bukan untuk sebuah popularitas, namun lebih pada kontribusi memberdayakan masyarakat.

Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda Desa Kajen, Margoyoso, Pati ini sepertinya tak ingin diam melihat kondisi sosial yang berkembang. Dia justru berperan menorehkan sesuatu yang istimewa dalam menjalankan fungsinya sebagai ulama sekaligus pemimpin.

Beberapa pandangan tersebut muncul dari sejumlah tokoh dalam Bedah Buku dan Tasyakuran Ulang Tahun KH MA Sahal Mahfudh ke-70 di Aula Ponpes Maslakul Huda, Senin (17/12).

Salah seorang rekannya di MUI Drs HM Ichwan Sam mengakui kesederhanaan hidup dan tanggung jawab dalam mengemban amanah yang tercermin dalam diri Kiai Sahal patut diteladani.

Hubungan horisontalnya kepada masyarakat, kata Sekretaris Umum MUI itu, juga dapat terjaga dengan baik. “Banyak pengakuan dari kalangan desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, hingga internasional tentang beliau.”

Sungguh layak ketika MUI berupaya mangayubagya sebagai ungkapan rasa bangga dalam peringatan ulang tahun ke-70 Kiai Sahal dengan memfasilitasi acara tersebut. “Kami semua mendoakan beliau diberikan umur panjang,” ujarnya.

Sebagai tanda penghormatan dan upaya dokumentasi perjalanan Kiai Sahal selama ini, MUI juga meluncurkan buku berjudul “Pandu Ulama Ayomi Umat, Kiprah Sosial 70 Tahun Kiai Sahal”. Buku tersebut memuat pendapat para pengurus MUI, tokoh ormas Islam, politisi, akademisi, budayawan, dan majelis agama-agama tentang kiprah Kiai Sahal.

Tak tanggung-tanggung, selain pengantar dari ketua tim penyusun Drs H M Ichwan Sam, sejumlah pejabat negara seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Agama Maftuh Basyuni, Mendagri Mardiyanto, dan Menneg Koperasi dan UKM Drs H Suryadharma Ali MSi turut menyumbangkan pandangannya.

“Pak Jusuf Kalla tidak bisa rawuh dan menitipkan salam ulang tahun kepada Kiai Sahal. Begitu pula dengan Pak Maftuh Basyuni menyampaikan salam tawaduk,” kata Ichwan saat memberikan sambutan mewakili MUI.

Selepas sambutan-sambutan, Kiai Sahal didampingi istri dan putranya Hj Nafisah Sahal dan H Abdul Goffar Rozin MEd memotong tumpeng.

Sebagian besar tamunya berasal dari unsur PBNU, MUI Pusat dan MUI Jateng serta para pengasuh pondok pesantren di lingkungan Kajen. Hadir Ketua DPD Partai Golkar H Bambang Sadono dan Rektor Universitas Wahid Hasyim Dr H Noor Achmad MA.

Kiai Kampung

Meski masuk kepala tujuh, Kiai Sahal masih tampak enerjik. Minimal setiap bulan sekali bolak-balik Jakarta-Kajen, karena tanggungjawabnya sebagai Ketua Umum MUI Pusat dan Rois Aam PBNU.

Belum lagi kalau ada acara kenegaraan dan undangan seminar, bisa beberapa kali dalam sebulan Jakarta-Pati.

Sekretaris Umum MUI Pusat Ichwan Syam menggambarkan betapa sulitnya kalau Mbah Sahal harus setiap hari ngantor di MUI dan PBNU di Jakarta. ”Dari rumah di Kajen, Margoyoso Pati, harus menempuh perjalanan sekitar 3,5 jam ke Semarang. Dari Bandara Ahmad Yani satu jam ke Cengkareng Jakarta. Nanti dari Cengkareng ke Kantor MUI dan PBNU berapa jam lagi, ditambah kemacetan,” katanya.

Istrinya, Hj Nafisah Sahal pun demikian. ”Abah itu asal sehat gak pernah absen rapat dan acara-acara di MUI dan PBNU,” tutur anggota DPD RI asal Jateng itu.

KH Mustofa Bisri tidak heran dengan berbagai gelar yang disandang Kiai Sahal. ”Sekarang ini Kiai Sahal sudah dikenal dengan berbagai sebutan dan predikat,” tulisnya di buku ”Pandu Ulama Ayomi Umat”.

Gus Mus menyebut mulai dari sebutan sebagai Kiai LSM, Kiai Fiqih Sosial, Kiai Intelektual (apalagi sudah mendapat gelar Doktor HC dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), hingga sebutan sebagai Kiai Pembaharu (pemahaman) fiqh.

Kekaguman kepada Kiai Sahal juga diungkapkan Wapres Jusuf Kalla. ”Awalnya saya mengira beliau ini adalah kiai kampung karena dalam berbagai kesempatan beliau sering pakai sarung dan berpeci. Tetapi ternyata memiliki pandangan dan pengetahuan yang sangat luas. Bahkan beliau tidak hanya fasih berbicara tentang agama, tetapi juga sangat menguasai masalah-masalah yang berhubungan dengan pertanian,” paparnya dalam tulisan berjudul ”Ulama Sederhana dan Selalu Berkarya”.(Agus Fathudin Yusuf, M Noor Efendi-77)

Selasa, 18 Desember 2007 Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

Comments (1) »

Qurban dan Idul Adha

Idul Adha yang juga kita sebut sebagai Hari Raya Haji dan Hari Raya Qurban jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, hari dimana para jemaah haji melaksanakan ibadah haji di Baiutullah.

Sejak tanggal 9 Dzulhijjah para jemaah haji telah melakuan wukuf di ‘Arafah, sedangkan kita yang tidak pergi haji disunnahkan untuk berpuasa ‘Arafah. Barang siapa yang mempunyai hutang puasa bulan Ramadhan atau puasa nadzar boleh menggabungkannya dengan puasa ‘Arafah. Sungguh besar pahala yang diperoleh dari puasa ‘Arafah ini karena dapat menghapus dosa kita yang telah lalu dan yang akan datang dengan ukuran waktu tertentu seperti hadits Nabi SAW: “Puasa Arafah menghapus dosa seseorang satu tahun yang telah lalu dan yang akan datang.”

Pada tanggal 10 Dzulhijjah kita melaksanakan sholat Idul Adha di masjid atau di lapangan, disunnahkan untuk tidak makan terlebih dahulu dan sholat dimulai lebih cepat dari pada sholat Idul Fitri. Shalat ini dikerjakan dua rakaat dengan tujuh takbir selain takbiratul ikram, sedangkan pada rakaat kedua dengan lima takbir selain takbiratul qiyam diantara takbir tersebut kita membaca: “Maha suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar.”

Setelah selesai melaksanakan shalat kemudian khatib berkhutbah dengan dua khutbah yang berhubungan dengan ibadah haji atau tentang qurban. Dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban penyembelihan. Sebaiknya dilakukan oleh orang yang berkurban, tetapi bila berhalangan boleh diwakilkan, disunnahkan pula untuk memakan daging kurbannya asal tidak lebih dari sepertiga bagian daging tersebut. Hendaknya dipilih hewan ternak yang baik, tidak kurus, cacat, berpenyakit, dan cukup umur. Berkurbanlah dengan yang terbaik karena itu adalah bukti kebesaran iman kita kepada Allah Swt. Disebutkan dalam suatu hadits: “Sesunggunhnya Allah tidak akan pernah menerima daging hewan kurban tersebut dan tidak pula darahnya tetapi Dia mendapatkan taqwa dari kamu.”

Sebagai penyambutan terhadap Hari Raya yang mulia ini, ummat Islam mulai bertakbir sejak maghrib tanggal 10 Dzilhijjah hingga ashar tanggal 14 Dulhijjah atau pada hari tasyriq. Empat hari ini ditambah dengan Hari Raya Idul Fitri diharamkan untuk berpuasa sebagai penghormatan terhadap Hari Raya tersebut. Apabila Hari Raya Idul Adha ataupun Hari Raya Idul Fitri jatuh pada hari Jum’at maka boleh tidak melaksanakan sholat Jum’at tapi diganti dengan shalat dzuhur biasa.

Nabi kita Muhammad SAW sangat menganjurkan kita untuk berkurban terutama bagi yang telah mampu, beliau selalu berqurban setiap tahun hingga akhir hayatnya dan ia sangat membenci orang yang tidak mau berkurban padahal ia mampu. Diterangkan dalam haditsnya: “Barang siapa yang mampu untuk berqurban tapi tidak berqurban maka jangan sekali-kali mendekati masjid kami.”

Idul Adha dan kurban mendidik kita untuk memperkuat tali ukhuwah islamiyah, solidaritas antara sesama muslim, memperluas medan ibadah, dan berdampak ekonomi bagi para fakir miskin, serta melatih kita untuk selalu berbuat dermawan. Allah Swt telah mewajibkan kita untuk berkurban sepeti yang tercantum dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membecimu dialah orang yang terputus.” (QS. Al Kautsar: 1-3).[]

KH Imam Badri http://gontor.ac.id

Leave a comment »

Fadhilah Wanita

Catatan Pembuka
Point-point dari halaman ini terdapat di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, Misykah, Riadlush Shalihin, Uqudilijjain, Bhahishti Zewar, Al-Hijab, dan lain-lain, checking satu persatu belum dibuat. Mudah-mudahan dapat diambil ibrah darinya.

1. Doa wanita lebih maqbul dari lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat dari lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulallah SAW akan hal tersebut, jawab baginda : “Ibu lebih penyayang dari bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”

2. Wanita yang solehah itu lebih baik dari 1,000 orang lelaki yang tidak soleh.

3. Seorang wanita solehah adalah lebih baik dari 70 orang wali.

4. Seorang wanita solehah adalah lebih baik dari 70 lelaki soleh.

5. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis kerana takutkan Allah SWT dan orang yang takutkan Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

6. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan dari anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail AS

7. Tidaklah seorang wanita yang haidh itu, kecuali haidhnya merupakan kifarah (tebusan) untuk dosa-dosanya yang telah lalu, dan apabila pada hari pertama haidhnya membaca “Alhamdulillahi’alaa Kulli Halin Wa Astaghfirullah”. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan dan aku mohon ampun kepada Allah dari segala dosa.”; maka Allah menetapkan dia bebas dari neraka dan dengan mudah melalui shiratul mustaqim yang aman dari seksa, bahkan AllahTa’ala mengangkatnya ke atas darjat, seperti darjatnya 40 orang mati syahid, apabila dia selalu berzikir kepada Allah selama haidhnya.

8. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW.) di dalam syurga.

9. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga.

10. Dari ‘Aisyah r.ha. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka merekaakan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”

11. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

12. Apabila memanggil akan engkau kedua ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

13. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan meredhainya. (serta menjaga sembahyang dan puasanya)

15. ‘Aisyah r.ha. berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW. siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita ?” Jawab baginda, “Suaminya”. “Siapa pula berhak terhadap lelaki ?” Jawab Rasulullah SAW. “Ibunya”.

16. Seorang wanita yang apabila mengerjakan solat lima waktu, berpuasa wajib sebulan (Ramadhan), memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya, maka pasti akan masuk syurga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.

17. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu dari suaminya (10,000 tahun).

18. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

19. Dua rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik dari 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.

20. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.

21. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.

22. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah SWT

23. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.

24. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

25. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati syahid.

26. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya dari badannya (susu badan) akan dapat satu pahala dari tiap-tiap titik susu yangdiberikannya.

27. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempoh (2 1/2 tahun), makamalaikat-malaikat di langit akan khabarkan berita bahawa syurga wajibbaginya.

28. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.

29. Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak selesai kerana menjaga anaknya yang sakit akan mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba.

30. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.

31. Apabila seorang wanita mencucikan pakaian suaminya, maka Allah mencatatkan baginya seribu kebaikan, dan mengampuni dua ribu kesalahannya,bahkan segala sesuatu yang disinari sang suria akan meminta keampunan baginya, dan Allah mengangkatkannya seribu darjat untuknya.

32. Seorang wanita yang solehah lebih baik dari seribu orang lelaki yang tidak soleh, dan seorang wanita yang melayani suaminya selama seminggu, maka ditutupkan baginya tujuh pintu neraka dan dibukakan baginyalapan pintu syurga, yang dia dapat masuk dari pintu mana saja tanpa dihisab.

33. Mana-mana wanita yang menunggu suaminya hingga pulanglah ia, disapukan mukanya, dihamparkan duduknya atau menyediakan makan minumnya atau memandang ia pada suaminya atau memegang tangannya, memperelokkan hidangan padanya,memelihara anaknya atau memanfaatkan hartanya pada suaminya kerana mencari keridhaan Allah, maka disunatkan baginya akan tiap-tiap kalimah ucapannya,tiap-tiap langkahnya dan setiap pandangannya pada suaminya sebagaimana memerdekakan seorang hamba. Pada hari Qiamat kelak, Allah kurniakan Nur hingga tercengang wanita mukmin semuanya atas kurniaan rahmat itu. Tiada seorang pun yang sampai ke mertabat itu melainkan Nabi-nabi.

34. Tidakkan putus ganjaran dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan malamnya menggembirakan suaminya.

35. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suaminya melihat isterinya dengan kasih sayang akan di pandang Allah dengan penuh rahmat.

36. Jika wanita melayan suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun solat.

37. Wanita yang melayan dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan medapat pahala jihad.

38. Jika wanita memijat suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memijat suami bila disuruh akan mendapat pahala tola perak.

39. Dari Hadrat Muaz ra.: Mana-mana wanita yang berdiri atas dua kakinya membakar roti untuk suaminya hingga muka dan tangannya kepanasan oleh api,maka diharamkan muka dan tangannya dari bakaran api neraka.

40. Thabit Al Banani berkata : Seorang wanita dari Bani Israel yang buta sebelah matanya sangat baik khidmatnya kepada suaminya. Apabila ia menghidangkan makanan dihadapan suaminya, dipegangnya pelita sehingga suaminya selesai makan. Pada suatu malam pelitanya kehabisan sumbu, maka diambilnya rambutnya dijadikan sumbu pelita. Pada keesokkannya matanyayang buta telah celik. Allah kurniakan keramat (kemuliaan pada perempuan itu kerana memuliakan dan menghormati suaminya).

41. Pada suatu ketika di Madinah, Rasulullah SAW. keluar mengiringi jenazah. Baginda dapati beberapa orang wanita dalam majlis itu. Baginda lalu bertanya, “Adakah kamu menyembahyangkan mayat ?” Jawab mereka,”Tidak”. Sabda Baginda “Sebaiknya kamu sekalian tidak perlu ziarah dan tidak ada pahala bagi kamu. Tetapi tinggallah di rumah dan berkhidmatlah kepada suami niscaya pahalanya sama dengan ibadat-ibadat orang lelaki.

42. Wanita yang memerah susu binatang dengan “Bismillah” akan didoakanoleh binatang itu dengan doa keberkatan.

43. Wanita yang menguli tepung gandum dengan “Bismillah” , Allah akan berkahkan rezekinya.

44. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di Baitullah.

45. “Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan mejadikan 7 parit diantara dirinya dengan api neraka, jarak diantara parit itu ialah sejauh langit dan bumi.”

46. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang, Allah akan mencatatkan untuknya perbuatan baik sebanyak utus benang yang dibuat dan memadamkan seratus perbuatan jahat.”

47. “Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang menganyam akan benang dibuatnya, Allah telah menentukan satu tempat khas untuknya di atas tahta di hari akhirat.”

48. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang dan kemudian dibuat pakaian untuk anak-anaknya maka Allah akan mencatatkan baginya ganjaran sama seperti orang yang memberi makan kepada 1000 orang lapar dan memberi pakaian kepada 1000 orang yang tidak berpakaian.”

49. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang meminyakkan rambut anaknya,menyikatnya, mencuci pakaian mereka dan mencuci akan diri anaknya itu, Allah akan mencatatkan untuknya pekerjaan baik sebanyak helai rambut mereka dan memadamkan sebanyak itu pula pekerjaan jahat dan menjadikan dirinya kelihatan berseri di mata orang-orang yang memerhatikannya.”

50. Sabda Nabi SAW: “Ya Fatimah barang mana wanita meminyakkan rambut dan janggut suaminya, memotong kumis (misai) dan mengerat kukunya, Allah akan memberi minum akan dia dari sungai-sungai serta diringankan Allah baginya sakaratul maut dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman- taman syurga dan dicatatkan Allah baginya kelepasan dari api neraka dan selamatlah ia melintas Titian Shirat.”

51. Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.

52. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumahtangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal dari suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat dari yakut.

53. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat,tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya iaitu memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.

54. Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita (isteri) yang solehah.

55. Salah satu tanda keberkatan wanita itu ialah cepat perkahwinannya,cepat pula kehamilannya dan ringan pula maharnya (mas kahwin).

56. Sebaik-baik wanita ialah wanita (isteri) yang apabila engkau memandang kepadanya ia menggirangkan engkau, jika engkau memerintah ditaatinya perintah engkau (taat) dan jika engkau berpergian dijaga harta engkau dan dirinya.

57. Dunia yang paling aku sukai ialah wanita solehah.

58. Rasulullah SAW bersabda bahwa, “Allah telah memberikan sifat iri (pencemburu) untuk wanita dan jihad untuk lelaki. Jika seorang wanita melatih kesabarannya dengan iman dengan mengharapkan pahala dari sesuatu perkara yang menyebabkannya menjadi cemburu (iri hati), seperti misalnya suaminya menikahi istri kedua, maka ia akan menerima ganjaran seorang syahid”.

Comments (2) »

Al Khansa binti Amru

Al-Khansa terkenal dengan julukan; lbu para syuhada. Al-Khansa terlahir pada zaman jahiliyah dan tumbuh besar di tengah suku bangsa Arab yang mulia, yaitu Bani Mudhar. Sehingga banyak sifat mulia yang terdapat dalam diri Al-Khansa. la adalah seorang yang fasih, mulia, murah hati, tenang, pemberani, tegas, tidak kenal pura-pura, suka terus terang. Dan selain keutamaan itu, ia pun pandai bersyair. la terkenal dengan syair-syairnya yang berisi kenangan kepada orang-orang yang dikasihinya yang telah tiada mendahuluin ke alam baka. Terutama kepada kedua saudara lelakinya, yaitu Mu’awiyah dan Sakhr yang telah meninggal dunia.

Diriwayatkan bahwa ketika Adi bin Hatim dan saudarinya, Safanah binti Hatim datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW, maka berkata, “Ya Rasuluilah, dalam golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati, dan orang yang paling pandai berkuda.” Rasuluilah SAW bersabda, ‘Siapakah mereka itu. Sebutkanlah namanya.’ Adi menjawab, ‘Adapun yang paling pandai bersyair adalah Umru’ul Qais bin Hujr, dan orang yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Tha’i, ayahku. Dan yang paling pandai berkuda adalah Amru bin Ma’dikariba.’ Rasuluilah SAW menukas, “Apa yang telah engkau katakan itu salah, wahai Adi. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru, dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah, dan orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thaiib.’

Jarir ra. pernah ditanya, Siapakah yang paling pandai bersyair? Jarir ra. menjawab, ‘Kalau tidak ada Al-Khansa tentu aku.’ Al-Khansa sangat sering bersyair tentang kedua saudaranya, sehingga hal itu pernah ditegur olah Umar bin Khattab ra. Umar ra. pernah bertanya kepada Khansa, ‘Mengapa matamu bengkak-bengkak?’ Khansa menjawab, ‘Karena aku terialu banyak menangis atas pejuang-pejuang Mudhar yang terdahulu.” Umar berkata, ‘Wahai Khansa, Mereka semua ahli neraka.’ Sahut Khansa, ‘Justru itulah yang membuat aku lebih kecewa dan sedih lagi. Dahulu aku menangisi Sakhr atlas kehidupannya, sekarang aku menangisinya karena ia adalah ahli neraka.’

Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melalui pembinaan dan pendidikan tangan-tangannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Dan Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada. Hal itu dikarenakan dorongannya terhadap keempat anak lelakinya yang telah gugur syahid di medan Qadisiyah. Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah Al-Khansa. Di antara keempat putranya telah terjadi perebutan kesempatan mengenai siapakah yang akan ikut berperang melawan tentara Persia, dan siapakah yang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka. Keempatnya saling tunjuk menunjuk kepada yang lainnya untuk tinggal di rumah. Masing-masing ingin turut berjuang melawan musuh fi sabilillah. Rupanya, pertengkaran mereka itu telah terdengar oleh ibunda mereka, Al-Khansa. Maka Al-Khansa telah mengumpulkan keempat anaknya, dan berkata,

‘Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan. Kalian telah berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan dari seorang perempuan yang sama. Tidak pantas bagiku untuk mengkhianati bapakmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencoreng arang di kening keluargamu.Jika kalian telah melihat perang, singsingkanlah lengan baju dan berangkatlah, majulah paling depan niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akherat. Negeri keabadian. Wahai anakku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasul Allah. lnilah kebenaran sejati, maka untuk itu berperanglah dan demi itu pula bertempurlah sampai mati. Wahai anakku, carilah maut niscaya dianugrahi hidup.’

Pemuda-pemuda itupun keluar menuju medan perang. Mereka berjuang mati-matian melawan musuh, sehingga banyak musuh yang terbunuh di tangan mereka. Akhirnya nyawa mereka sendirilah yang tercabut dari tubuh-tubuh mereka. Ketika ibunda mereka, Al-Khansa, mendengar kematian anak-anaknya dan kesyahidan semuanya, sedikit pun ia tidak merasa sedih dan kaget. Bahkan ia telah berkata, ‘Alhamdulillah yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. Semoga Allah segera memanggiiku dan berkenan mempertemukan aku dengan putra-putraku dalam naungan Rahmat-Nya yang kokoh di surgaNya yang luas.’ Al-Khansa telah meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan ra., yaitu pada tahun ke-24 Hijriyah.

(Wanita-wanita Sahabiyah)

Leave a comment »