KH MA Sahal Mahfudh 70 Tahun (2-Habis)

FIGUR KH MA Sahal Mahfudh dikenal lemah lembut dan bersikap datar dalam menghadapi setiap persoalan. Namun, jika menyentuh persoalan-persoalan umat, kiai kharismatik ini bisa berubah meledak-ledak.

Suatu hari, nada bicaranya agak tinggi setelah membaca berita pernyataan Menag Maftuh Basyuni terkait dengan pembatasan haji. ”Haji Hanya Sekali Seumur Hidup”. ”Wong ngurusi haji nggak beres kok melakukan pembatasan-pembatasan. Harusnya mencari solusi-solusi yang tepat agar haji bisa berjalan baik dan benar,” kata Kiai Sahal.

Kiai ini begitu besar perhatian dan kepeduliannya pada persoalan-persoalan umat. Sebaliknya, kalau sudah menyentuh urusan politik praktis, misalnya pilihan bupati, pilihan gubernur, atau pemilu Mbah Sahal cenderung akan mengalihkan pembicaraan.

”Saya itu tetap konsen dan selalu memperhatikan persoalan politik praktis. Hanya tidak melakukan praktik politik praktis. Tidak alergi dan membenci tidak wong nyatanya tidak bisa melepaskan diri dari urusan politik praktis,” kata Kiai Sahal.

Dia berharap kader-kader NU di eksekutif dan politisi di lesgislatif hendaknya ingat kepada NU. ”Terus terang saya prihatin kader-kader NU yang kini jadi pejabat dan politisi kurang perhatian dan kepeduliannya kepada organisasi yang melahirkan,” tegasnya.

”Saya menyadari sekarang ini umur saya sudah masuk kepala tujuh. Jadi mau tidak mau harus lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sisa usia saya ini akan saya manfaatkan untuk pondok pesantren, lembaga-lembaga pendidikan dan lain-lain,” tutur Mbah Sahal.

Pemecahan Konkrit

Ketua Umum MUI ini tak hanya menguasai ilmu agama, namun bisa membumikan pengetahuan itu menjadi sesuatu yang bernilai praktis untuk masyarakat. Agama tidak hanya dipandang sebagai suatu teologi yang kaku yang pada gilirannya menganggap kemiskinan dan keterbelakangan sebagai takdir Tuhan yang tidak bisa diubah. Tak ayal, kegelisahan dan alterlatif pemecahan masalah atas kondisi sosial dituangkannya dalam beberapa pemikiran fiqh sosial.

Nuansa Fiqh Sosial, Era Baru Fiqh Indonesia, Wajah Baru Fiqh Pesantren, Pesantren Mencari Makna, Dialog dengan Kiai Sahal Mahfudh (solusi problematika umat) merupakan sebagian terbitan buku hasil pemikirannya.

Bahkan, pemikiran yang disusun santrinya Jamal Ma’mur Asmani dalam “Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh, antara Konsep dan Implementasi” baru saja dibedah, Senin (17/12) di Aula Pondok Pesantren Maslakul Huda Desa Kajen, Margoyoso, Pati.

Buku itu merangkum konsep dan implementasinya dalam pengembangan ekonomi masyarakat berbasis pesantren. Bukan saja kegelisahan dan problematika yang diulas, namun pemecahan masalah secara konkrit tertuang di dalamnya.

Menurut penulisnya, Kiai Sahal tak hanya piawai dalam memaparkan pemikiran dalam tataran konsep. Langkah nyata meningkatkan kesejahteraan rakyat dibuktikan dengan pembentukan Biro Pengembangan Pesantren Masyarakat (BPPM).

Dengan dua lembaga pendidikan pesantren di bawah asuhannya, Mathali’ul Falah dan Maslakul Huda, Rais Aam PBNU ini menerapkan konsep fiqh sosial untuk menjawab persoalan ekonomi rakyat. Hasilnya, kata Jamal dalam buku itu, BPPM telah melahirkan BPR Artha Huda Abadi, Rumah Sakit Islam (RSI) Pati, serta kelompok-kelompok usaha kecil di bawahnya. (Agus Fathudin Yusuf, M Noor Efendi-77)

Rabu, 19 Desember 2007 Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: