Archive for Januari, 2008

Urgensi Sabar dan Syukur

Segala sesuatu di dunia ini, pada hakekatnya memiliki daya tarik dan pesona keindahan. Seperti gelapnya malam akan terasa indah, manakala ada bintang yang berkerlap-kerlip dan bulan purnama muncul. Burung merak memiliki daya tarik, disebabkan oleh bulunya yang indah warna-warni. Burung Beo memikat, karena suaranya yang indah dan pandai meniru. Emas, mutiara, zamrud, kristal, banyak memikat orang, karena mempunyai pesona yang memancar yaitu berupa kilauan sinarnya.

Nah sekarang bagaimana usaha manusia agar dirinya memiliki pesona yang luar biasa? Maka disinilah Islam memberikan solusinya. Diantaranya melalui sabar dan syukur yang mempunyai nilai penting untuk itu semua.

Secara etimologi, sabar (ash-shabr) berarti menahan (al-habs). Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridho Allah. Sabar, menurut Dzunnun Al-Mishry, adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan agama dan bersikap tenang manakala terkena musibah, serta berlapang dada dalam kefakiran di tengah-tengah medan kehidupan.

Lain lagi menurut syeikh Ibnu Qoyyim Al-jauziyah, bahwa sabar merupakan budi pekerti yang bisa dibentuk oleh seseorang. Ia menahan nafsu, menahan sedih, menahan jiwa dari kemarahan, menahan lidah dari merintih kesakitan, dan juga menahan anggota badan dari melakukan yang tidak pantas. Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum-hukum syari’at.

Secara umum sabar terbagi ke dalam tiga tingkatan.

Pertama, sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan; musibah, bencana, atau kesusahan.
Adapun contohnya apa yang terjadi pada nabi Ayyub, beliau ditinggalkan oleh istri dan anak-anaknya tercinta meninggal dunia, kemudian ditambah lagi dengan harta bendanya yang melimpah habis karena tertimpa bencana. Inilah contoh sikap sabar dari yang pertama.

Kedua, sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat.
Adapun contoh selanjutnya, sebagaimana yang terjadi pada nabi Yusuf, Allah SWT menguji kesabaran Yusuf dengan ujian yang lebih berat, yaitu rayuan Siti Zulaikha, seorang wanita cantik lagi terpandang. Namun, dengan kesabaran dan keteguhan iman, Nabi Yusuf pun mampu melewati ujian ini dengan selamat. Padahal, saat itu Yusuf pun menyukai Zulaikha, dan suasana pun sangat mendukung untuk melakukan maksiat.

Ketiga, sabar dalam menjalankan ketaatan.
Sedangkan contoh yang ketiga adalah kesabaran yang di miliki oleh nabi Ibrahim dan anaknya Ismail, beliau berdua dengan tetap sabar dan taat atas perintah Allah, meskipun saat itu sang ayah akan menyembelih anaknya sendiri. Inilah bukti kesabaran dalam menjalani ketaatan atas perintah-Nya.

Sabar itu indah, andaikata kita bisa memaknainya dengan benar.

Manusia seringkali berlaku egois. Ketika menginginkan sesuatu, ia berdoa habis-habisan, sungguh-sungguh demi tercapai keinginannya. Tatkala berhasil, ia pun melupakan Allah. Bahkan ia menganggap bahwa keberhasilan itu adalah hasil jerih payah dirinya sendiri. Sebaliknya, saat ia gagal, ia kecewa karenanya. Bahkan berburuk sangka kepada Allah. Padahal, rasa kecewa, sedih, dan kesal itu lahir karena manusia terlalu berharap bahwa kehendak Allah harus selalu cocok dengan keinginanya. Jelas dalam hal ini ia melupakan sikap sabar dan syukur nikmat. Karenanya, beruntunglah orang yang memiliki sikap sabar ketika musibah datang menimpa dan memiliki syukur ketika keberuntungan datang menerpa. Dan dari sini pulalah kita tahu bahwa antara sabar dan syukur merupakan dua hal yang saling beriringan, berkaitan satu sama lain.

Ulama tasawwuf terdahulu, mereka membagi-bagi syukur itu atas tiga bagian yaitu:

a. Syukur dengan hati
Syukur pada hati; maksudnya adalah kita meyakini, menyadari, mengetahui bahwa segala nikmat itu bersumber dan bermuara dari Allah SWT.

b. Syukur dengan lisan
Adapun syukur dengan lisan adalah penilaian hati, getaran hati yang menjalar kepada anggota badan melalui mulutnya yang senantiasa basah, memuji nikmat-Nya dan menyebut nama Allah berupa wirid dan dzikir seperti tahmid, takbir, tasbih dan bentuk puji-pujian yang lain terhadap Allah. Termasuk dalam katagori syukur pada lisan ini ialah seorang yang sentiasa memuji-muji nikmat Allah di hadapan manusia lainya, mengajak manusia untuk sama-sama bersyukur dan menzhohirkan kesyukuran itu melalui ibadat dan majlis-majlis ilmu yang bertujuan untuk mengajak manusia supaya taat dan patuh kepada Allah Ta’ala.

c. Syukur dengan seluruh anggota badan
Selanjutnya yang termasuk dengan bersyukur pada seluruh anggota adalah kita telah menyadari bahwa seluruh anggota badan, jiwa dan raga milik Allah semata. Kemudian kita menggunakan dan memakainya untuk hal-hal kebaikan juga. Dari mulai mata, telinga, tangan, kaki, mulut dan sebagainya itu semua milik Allah dan kita harus menggunakannya untuk keridhoan Allah juga.

Itulah tadi bentuk-bentuk kesyukuran, maka hendaknya kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah yakni dengan terus memuji, baik itu dengan hati, lisan ataupun anggota badan. Maka syukur nikmat bisa berarti bahwa kita sentiasa ingat, sadar, memahami, mengerti, mengucapkan, melaksanakan dan senantiasa memandang kepada Yang Memberi Nikmat yaitu Allah SWT. Dan barang siapa yang mensyukuri nikmat-Nya, maka Allah pun akan membalasnya.

Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.s. Ibrahim: 7)

Inilah salah satu sikap dari orang-orang yang beriman. Mereka menyadari kelemahan mereka, di hadapan Allah, mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri. Karena orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, mereka juga bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepahaman, wawasan, dan kekuatan yang dikaruniakan kepada mereka. Mereka bersyukur karena telah dibimbing dalam kebenaran.

Syukur dan sabar adalah kunci bagi meningkatnya keimanan seseorang pada Allah SWT. Berbagai sarana telah disediakan bagi tumbuhnya rasa syukur dan sabar dalam diri, baik berupa kenikmatan ataupun ujian. Syukur dan sabar juga merupakan sarana untuk meningkatkan kwalitas diri agar lebih berharga dalam pandangan Allah SWT.

Keindahan orang-orang yang memiliki pribadi syukur dan sabar akan tampak dalam pola hidup kesehariannya. Ia tidak akan memiliki sikap sombong meskipun bergelimangan harta dan kemewahan. Pribadinya terasa sejuk dan penuh keakraban. Namun demikian, ia juga penuh dengan kegigihan untuk tetap berjuang di jalan Allah untuk meraih keridhaan-Nya. Sungguh indah pribadi-pribadi yang memiliki sifat syukur dan sabar dalam dirinya, sehingga tidak tampak sama sekali dalam dirinya penyesalan dalam penderitaan, rasa putus asa dalam ujian. Karena keindahan pribadinya itulah, Allah merelakan diri-Nya duduk bersama golongan orang-orang seperti ini.

Allah SWT berfirman:
“…Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Demikianlah urgensi sabar dan syukur. Keduanya akan membuat manusia menjadi pribadi yang menarik dan mempersona bagi orang-orang yang di sekitarnya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang yang memiliki sifat ini, sehingga kemuliaan diri akan mengiringi kita selamanya.
Wa Allahu ‘alamu bi showaab.

Ustadz Jaya Rukmana 

Pesantren Virtual – “Pondok Pesantren era Digital”
Website: http://www.pesantre nvirtual. com

Iklan

Leave a comment »

Renungan Muharram

Peringatan Muharram sebagai manifestasi identitas diri, perpindahan jasmani dan perubahan sikap mental dengan kebangkitan dari negatif ke positif. Perubahan ini tercermin dari iman, akhlak, adab, sikap dan perbuatan. Universalisasi dan totalisasi kehidupan manusia dengan perasaan, fikiran dan pandangan, penilain (ke dalam diri, keluar atau pihak lain), sikap positif dan negatif serta langkah kehidupan perjuangan harus sesuai dengan nur Islami, bukan hanya hati kecil ataupun dhomir yang sifatnya tak berpedoman. Firman Allah:“Saksikanlah, bahwa kami orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS 3:64)

Kenyataan yang ada bahwa “cermin-cermin” keteladanan sudah pecah, yang terjadi adalah ideologi, kursiologi, kibologi versus Islamisasi dan agamisasi. Selanjutnya kita jumpai “monopoli” surga, merasa paling benar, besar, kuat, baik dan seterusnya. Kekuasaan dan kekuatan yang ada memaksakan kebenaran palsu masa lalu untuk meneruskan atau menggantinya dengan kebatilan terselubung. Seterusnya penjajahan lama menjelma menjadi ”penjajahan baru”. Dari sini kita melihat ataupun membaca masa depan dengan waspada dan kritis sekaligus menyimpulkan bahwa kemenangan dan keunggulan dalam suatu masa bukan tanda kebenaran yang harus ditegakkan atau dibela.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana caranya dan dari manakah kita selama ini menilai? Dalam memandang atau menilai orang atau pihak lain atas dasar besar-kecil, tua-muda, desa-kota dan seterusnya. Apa kriteria Islami? Namanya? Lokasi rumahnya? Umurnya? Titelnya? Atau…? Kastanya? Kabilahnya? Latar belakang sejarahnya? Peristiwa-peristiwa masa lalunya? Ternyata kita perlu “bercermin” ribuan kali, dengan apa? Dengan sumber tuntunan dan tuntutan Islami.

Kita akan sangat beruntung selama hidup dan setelah mati bila kita selalu bersikap kritis atau mencurigai kebenaran ijtihad kita; apakah itu cocok dengan Islam atau tidak, terutama yang tertulis jelas dalam sumbernya yakni Al Qur`an dan As Sunnah. Dan sumber dari luar keduanya tidak menjamin kebenarannya. Untuk itu kita janganlah mudah-mudah mengaku-ngaku “ini ajaran Islam!”

Melihat, memandang, menyimpulkan secara sektoral, lokal, regional atau hanya nasional, itu termasuk jahiliyah atau neo-jahiliyah, tidak total eternal abadi. Menghindarkan diri dari mental “Katak dalam tempurung”, membedah, membongkar jaring-jaring budaya yang salah dan keliru, meletakkan semua makhluk (alam) pada status dan fungsi yang adil. Menghargai alam ciptaan Allah Swt. Berupaya supaya pola pandang kasta atau neo-kasta tidak berlaku karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Kenyataannya dalam alam demokrasi, sistem yang tak pernah dan tak mungkin terealisasi. Terbukti mayoritas menjadi dominan keputusan dan panutannya, atau keunggulan menindas minoritas. Dan minoritas plus money politic seringkali “menggagahi mayoritas gembel.” Hendaknya berhati-hati, jangan mudah terpesona, mabuk oleh sesuatu yang baru. Orang Jawa bilang; ojo kagetan (jangan terkejut), ojo gumunan (jangan heran) dan ojo dumeh (jangan mentang-mentang). Maka jangan terpesona dengan buku baru, guru baru, pengurus baru, pendapat baru, aliran baru, makanan, minuman, pakaian baru, kaya baru, miliu baru, kawan baru dan seterusnya.

Banyak sesuatu yang dianggap baru tetapi sebetulnya lama. Harus selalu bertajadud dalam bercermin yang benar, baik dan abadi. Kalau mengakui dirinya dalam barisan umat Islam, maka mengamalkan sumber ajaran, sistem Islam, hukum Islam adalah hak bahkan kewajiban asasi muslim termasuk menghargai agama lain.

Sebagai umat terpilih, identitas menuntut siap perang total melawan penjajahan pemikiran dan fisik, dan pemberantasan unsur-unsur yang menjadi budak atau kaki tangannya. Mengapa kita masih rela dan lega na’budu maa ya’buduu pecundang-pecundang Islam? Na`kulu kama ta`kulu an an’aam. Firman Allah: “Dan orang-orang yang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang.” (QS 47:12)

Tiga puluh tahun lebih, berhati, berpikiran, bersikap dan berbuat sama dengan musuh-musuh Islam. Dipaksa dan berbuat sama dengan musuh-musuh Islam. Dipaksa dan banyak yang akhirnya terpaksa husnudzon kepada orde sekuler dan otomatis su`udzon kepada Allah Swt. Firman Allah:“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprsangka buruk terhadap Allah.” (QS 48:6).

Kita harus bertobat, bukan malah membandel, menantang Allah seperti Walid bin Mughirah. Dalam Al Qur`an dikatakan: “Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al Qur`an).” (QS 74:16)

Menantang ayat “walan tardho….” selama Al Qur`an ini dibaca sampai kiamat, isi ayat itu menjadi pekerjaan rumah kita. Kesombongan mengandalkan usaha tanpa doa atau mengandalkan doa tanpa usaha. Menyerah pada takdir atau menyalahkan takdir, menggantungkan diri pada pihak lain atau menyalahkan diri pada pihak lain atau menyalahkan orang lain. Lempar melempar kesalahan dan merebut-rebut “monopoli kebenaran.” Meneguk air keruh, menyantap makanan berpenyakit, pergi ke dokter goblok minta sehat. Mana bisa? Sumber daya alam dunia Islam dibuat pesta pora kelicikan ilmiah profesor iblis, dokter iblis, jenderal-jenderal iblis profesional. Lucunya ada yang rela dan ada yang terpaksa. Dunia Islam sami’naa wa atho’naa, taat dan patuh kepada “Hadratus Syaikh Ifrit profesional.”[]

KH Hasan Abdullah Sahal

http://gontor.ac.id

Leave a comment »

Hijrah : Memaknai Etos Dinamis dalam Islam

Sebenarnya, jika kita telaah dalam ayat-ayat al-Quran, hijrah merupakan sunnah nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad. Nabi Ibrahim, misalnya melakukan hijrah ke Syam, kemudian ke Mesir dan akhirnya Nabi Ibrahim bersama anaknya Ismail dan isterinya Siti Hajar hijrah ke Mekkah, dan membangun Baitullah, Ka’bah. Selain itu, hijrahnya Nabi Luth as dari negeri Sadum, karena penduduknya berperilaku sangat buruk, mereka sangat permisif terhadap kemaksiatan.

Hati mereka seolah selalu dahaga dengan kesesatan. Sementara itu, kita dapat menyimak episode panjang dari senarai sejarah Nabi Musa yang hijrah dari Mesir ke Madyan untuk menyelamatkan jiwanya, kemudian dilanjutkan dengan hijrah dari Mesir ke Syam untuk menyelamatkan agamanya. Dan yang perlu dicacat, Ashabul Kahfi juga hijrah ke dalam gua, di tengah komunitas penyembah berhala dan taghut dengan penguasa tiran yang sagat kejam, dan betapa Allah menjelaskan pertolongan-Nya kepada para pemuda tersebut yang mau berhijrah. Kemudian, hijrahnya kaum muslimin dari Mekkah ke Habasyah, disertai penolakan raja Najasyi. Dan, pada akhirnya, kaum muslimin Mekkah dipimpin oleh Rasulullah melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, dengan sekian pelajaran dan hikmah, salah satunya yang paling menonjol adalah etos dinamis.

Di antara cara merenungkan etos dinamis dalam Islam, adalah merenungkan kembali dan memaknai hakikat Hijrah. Secara harfiyah, hijrah artinya pindah. Dalam bahasa Inggris, disebut migration. Tetapi orang-orang Barat sering menerjemahkan hijrah dengan flight, padahal flight itu artinya melarikan diri. Dengan bermigrasi dari Makkah ke Madinah, Nabi Muhammad tidak bermaksud melarikan diri, akan tetapi memang pindah, dan kepindahannya bukan atas kemauan sendiri melainkan atas petunjuk dari Allah s.w.t.

Secara historis memang ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hijrah Nabi, antara lain didahului dengan adanya bai‘at-bai‘at (janji-janji setia) yang diikuti oleh orang-orang dari Madinah (waktu itu namanya Yatsrib, yang dalam naskah-naskah Yunani kuna dikenal sebagai Yathroba). Tidak banyak yang diketahui oleh orang-orang luar mengenai Arabia, karena Arabia memang merupakan daerah yang tidak begitu menarik bagi bangsa-bangsa lain. Karena itu tidak ada usaha untuk, menaklukkan daerah tersebut. Orang Arab sendiri menyadari hal itu, karenanya disebut Jazirah.

Orang Arab menyebut negerinya sebagai pulau karena terdiri dari tiga jurusan yang dikelilingi oleh laut; yaitu Laut Merah, Lautan Arab, dan Teluk Persi. Tetapi yang di utara itu bukan lautan air melainkan lautan pasir yang sulit sekali diterobos, terutama gurun pasir Syria atau dalam bahasa Arab “Wadî‘at-u ‘l-Syams”. Daerah itu memang terkenal sulit sekali sehingga tidak mudah diterobos oleh orang-orang dari luar. Karena itu jazirah Arabia, dalam sejarahnya, hanya mengirim orang ke luar, dan sedikit sekali orang yang masuk.

Dalam sejarah dibuktikan bahwa bangsa-bangsa Semitik kuna seperti bangsa Asyria, bangsa Babilonia, bangsa Kanaan dan sebagainya, sebetulnya berasal dari Jazirah Arabia. Mereka disebut Arab karena selalu berpindah-pindah. Jadi Arab itu artinya memang berpindah-pindah, dari perkataan Ibrani, ‘Ibrun, ‘Abarah yang juga artinya menyeberang. Dalam bahasa Arab memang sering terjadi perpindahan suku kata tetapi mempunyai makna yang sama atau asalnya bermakna sama yang disebut “tashrîf kabîr”. Misal, kata Arab dengan Ibrani. Ibrani itulah yang lalu menjadi Hebrew, menjadi orang Yahudi. Jadi orang-orang Bani Israil disebut Hebrew atau Ibrani itu karena suka mengembara.

Pandangan seperti ini penting diketahui untuk sampai pada pemahaman mengapa, Nabi Muhammad hijrah ke kota sebelah Utara yaitu Yatsrib, lalu dengan strategi baru beliau berhasil menghimpun kekuatan orang-orang Arab dan kemudian terjadi apa yang dalam istilah para ahli sejarah disebut “Arab explosion” (“ledakan orang Arab”). L. Stoddard dalam Bangkitnya Bangsa-bangsa Berwarna mengatakan bahwa Nabi Muhammad seolah-olah telah mengubah padang pasir Timur Tengah menjadi mesiu yang dapat disulut dari Madinah dan meledaklah ke seluruh Timur Tengah. Rasulullah menjadi tokoh sejarah yang paling sukses dalam sejarah umat manusia. Michael Hart, seorang wartawan Amerika yang menulis buku tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh di dalam sejarah umat manusia, dengan jujur mengakui bahwa di antara 100 tokoh itu, kalau dilihat efeknya, maka Nabi Muhammad-lah yang paling berpengaruh di dalam sejarah umat manusia.

Efek itu ada terutama karena kepindahan Nabi Muhammad dari Makkah ke Yasthrib. Kalau diingat bahwa Nabi di Makkah selama 13 tahun tanpa hasil yang mengesankan, Di antara ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa Nabi pernah putus asa sehingga kemudian turun surah al-Dhuhâ. Karena itu surah al-Dhuhâ adalah teguran kepada Nabi Muhammad. Dan, secara historis, akhirnya kemenangan yang dijanjikan oleh Allah itu terealisir setelah 10 tahun di Madinah. Karena itu, wa la ‘l-âkhirat-u khayr-un laka min-a ‘l-ûlâ itu bukan hanya bermakna ‘akhirat lebih baik daripada dunia’ tetapi dalam bahasa sekarang, ‘yang jangka panjang itu lebih baik daripada yang jangka pendek’.
Jadi ini suatu peringatan kepada Nabi seolah-olah Allah berfirman, “Hai Muhammad, mungkin bahwa kamu gagal dalam jangka pendek, tetapi kalau kamu berjuang terus maka dalam jangka panjang akan berhasil.” Memang, pada umumnya manusia itu tidak tahan berpikir panjang dan selalu ingin cepat berhasil. Karena itulah ajaran sabar dalam al-Qur’ân banyak sekali, termasuk surah al-‘Ashr, wa tawâshaw bi ‘l-haqq-i, wa tawâshaw bi ‘l-shabr-i (dan saling menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran dan ketabahan). Tidak saja harus saling mengingatkan setiap orang itu supaya berpegang pada yang baik dan benar, tapi juga harus tahan dalam arti jangan mudah tergoda oleh hal-hal yang bersifat jangka pendek.

Itulah satu hal yang bisa ditarik dari peristiwa hijrah. Yaitu, supaya manusia jangan sampai terjebak kepada hal-hal yang bersifat jangka pendek sambil melupakan yang bersifat jangka panjang. Orang sudah banyak yang terpesona untuk sekadar meraih hasil sehingga terperangkap dalam pola pragmatis, namun melupakan proses yang bernilai strategis yang harus dilewati. Dalam sosiologi—terutama berkenaan dengan konsep modernitas – kalau ditanya apa yang disebut modern, semua ahli sosiologi mengatakan bahwa salah satu unsur modern ialah bahwa orang itu berpikir strategis dan tidak berpikir praktis.

Semua budaya mempunyai ajaran semacam itu. Kalau dalam bahasa Jawa ada tembang yang antara lain berbunyi “ wani ngalah duwur wekasane” (berani mengalah tapi akhirnya menang). Dalam jargon ketentaraan ada ungkapan “you may loose the battle but you should win the war” (kamu boleh kalah dalam pertempuran, tapi harus menang dalam peperangan). Sebab perang itu terdiri dari sejumlah pertempuran; perang dibagi menjadi pertempuran-pertempuran atau sebaliknya pertempuran-pertempuran dikumpulkan menjadi perang.

Contoh kelompok atau orang yang menang dalam pertempuran tetapi kalah dalam peperangan itu adalah Amerika di Vietnam. Pertempurannya menang terus hanya karena keunggulan persenjataan fisik. Tetapi, karena kalah semangat oleh orang Vietnam, sebab bagi orang Vietnam menang dalam peperangan itu adalah masalah hidup atau mati, maka orang Vietnam yang kalah dalam pertempuran itu menang dalam peperangan, dan Amerika harus keluar dari Vietnam secara tidak terhormat pada zaman Nixon.

Dalam hidup ini banyak sekali orang yang sukses dalam jangka pendek tapi gagal dalam jangka panjang. Jadi:
(Dan sungguh, yang kemudian akan lebih baik bagimu daripada yang sekarang) itu mempunyai nilai yang sangat spiritual. Yaitu, bahwa akhirat lebih penting daripada dunia. Akan tetapi, konteks firman Allah s.w.t. itu sendiri sebenarnya mempunyai nilai yang sangat praktis dalam hidup, karena dikaitkan dengan:

(Dan Tuhanmu kelak memberimu apa yang menyenangkan kamu). Itulah kemenangan yang dijanjikan oleh Allah yang dalam konteks sejarah Nabi terealisir melalui hijrah setelah 10 tahun.
Ketika Nabi ditegur keras oleh Allah, namun juga diberi janji dan pesan moral, yaitu: wa ammâssâ’ila falâ tanhar (Dan orang yang meminta janganlah kau bentak); kemudian, wa ammâ bi ni‘mati rabbika fa haddits (Dan nikmat Tuhanmu, hendaklah kau sebarkan!). Itulah gambaran situasi psikologis Nabi sebelum Hijrah. Dengan adanya janji seperti itu, lalu ditambah dengan penguatan keruhanian yang dialami Nabi yaitu dengan peristiwa Isrâ’ dan Mi‘râj, maka Nabi menjadi bersemangat kembali. Jadi seolah-olah Nabi diperkuat jiwanya dengan diperlihatkan keadaan di luar. Ini sebetulnya juga analog dengan pengalaman sehari-hari. Kalau orang merasa kehilangan gairah, lalu berkunjung kepada orang yang bisa diajak ngomong, biasanya akan bangkit kembali gairah dan motivasinya.

Dalam ungkapan Inggris, “Try to reach out.” Cobalah berhubungan dengan orang lain, jangan disimpan sendiri di rumah! Nabi juga reach out. Tetapi karena beliau akan mendapat tugas yang luar biasa, maka reach out-nya tidak tanggung-tanggung, yaitu kepada Allah s.w.t. dengan perjalanan Isrâ’-Mi‘râj. Dalam perjalanan Isrâ’ dan Mi‘râj itu Nabi diingatkan bahwa beliau tidak sendirian. Dia hanya bagian dari suatu deretan sejarah yang panjang. Maka dari itu yang paling banyak diungkap semua orang yang menceramahkan Isrâ’ dan Mi‘râj ialah pengalaman Nabi di Yerusalem, di Bayt al-Maqdis, ketika beliau salat bersama semua Nabi yang pernah ada di dunia. Nabi Muhammad waktu itu berjumpa dengan para nabi terdahulu, yang bahkan dilukiskan secara sangat fisikal. Setelah itu Nabi bertolak ke langit dan bertemu lagi dengan Nabi Musa, Isa, Ibrahim, dan sebagainya, sampai ke Sidrat al-Muntahâ.

Setelah mengalami hal itulah maka Nabi kemudian hijrah. Hijrah itu dilakukan atas petunjuk Allah. Ada hal-hal yang sangat menarik sekitar hijrah ini. Pertama, hijrah itu dilakukan dengan sangat rahasia. Tidak ada yang tahu kecuali Aisyah (yang pada waktu itu masih anak-anak), Abu Bakar sendiri, Ali, dan seorang penunjuk jalan yaitu Abdullah dari Bani ‘Adil (dari suku Adil yang kafir). Jadi Nabi menyewa penunjuk jalan yang musyrik karena beliau tidak mau menempuh jalan yang konvensional karena menjadi buron. Karena itu Nabi mencari seorang penunjuk jalan yang sangat ahli dalam perjalanan menuju ke utara yaitu menuju ke Syam, dan orang itu Abdullah. Abdullah—agak aneh kedengarannya—adalah orang kafir Makkah dari suku `Adil. Dia terkenal sebagai—dalam istilah Arab—khirrij atau penunjuk jalan yang sangat ahli, dan karena itulah Nabi mempertaruhkan nyawanya pada orang ini.

Setelah 10 tahun di Yatsrib, Nabi kemudian mengubah nama kota itu menjadi Madinah. Kata al-madînah secara umum memang diartikan sebagai kota, tetapi sebetulnya al-madînah itu mengandung makna peradaban. Karena dalam bahasa Arab, peradaban itu adalah madanîyah atau tamaddun. Dalam bahasa Arab kata itu juga digunakan untuk padanan perkataan Inggris “civil.” Misalnya dalam bahasa Inggris ada istilah “Civil Act” (Undang-Undang Sipil), dalam bahasa Arabnya disebut “Qânûn Madanî”. Kata “madanîyah/madînah” juga menjadi padanan dari perkataan Yunani “polish”, yang dari perkataan itu terambil perkataan politic, policy, police dan sebagainya. Yaitu, ide tentang suatu kehidupan yang teratur. Dalam bahasa Yunani, misalnya, ada ungkapan “zoon politicon”, bahwa manusia itu secara alami berpolitik. Dalam bahasa Arab disebut “al-Insân-u Madanîy-un bi ‘l-thâb‘-i (manusia itu berpolitik menurut nalurinya). Tidak mungkin manusia tidak berpolitik, dalam arti seluas-luasnya bukan dalam arti sempit.

Kalau Nabi mengubah kota Yatsrib itu menjadi Madinah yang sering dipanjangkan menjadi Madînah al-Nabî, maka itu artinya kota Nabi atau al-Madînah al-Nabawîyah, Kota Kenabian. Ini bisa dibandingkan dengan Konstantin ketika memindahkan ibukotanya dari Roma ke sebelah timur, kemudian dia menamakan kota itu Konstantinopolis, artinya kotanya Konstantin. Seandainya Nabi Muhammad adalah orang Yunani, maka “Madînah al-Nabî” itu akan berbunyi “Prophetopolis”, kota Nabi. Ini penting untuk dipahami, karena menurut uraian para ahli sebetulnya perubahan kota itu (dari Yatsrib menjadi Madinah), menunjukkan semacam agenda Nabi dalam perjuangan beliau, yaitu menciptakan masyarakat yang teratur. Dan itulah memang yang beliau lakukan.

Pada waktu itu, di Madinah banyak macam-macam suku termasuk orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi inilah yang menjadi bahan perselisihan. Ada yang mengatakan mereka itu orang Arab yang masuk Yahudi, tetapi teori yang lebih umum mengatakan bahwa mereka adalah orang Yahudi yang terarabkan. Dikisahkan bahwa setelah orang Yahudi (dulu) ditindas oleh Titus pada tahun 70-an maka mereka mengalami diaspora atau mengalami pengembaraan di muka bumi tanpa tanah air. Sebagian mereka masuk Arabia, dan mereka tinggal di oase-oase yang subur seperti Khaibar, Tabuk. Dan Madinah itu termasuk kota oase.

Di Makkah tidak banyak orang Yahudi karena kurang begitu menarik. Makkah itu penting karena ada Ka‘bah, dan itu tidak penting untuk orang luar. Karena itu orang luar tidak banyak yang masuk ke Makkah. Karenanya di Makkah tidak ada orang Yahudi. Tapi di sana banyak orang Kristen, seperti Waraqah ibn Naufal. Dialah yang menghibur Nabi ketika beliau menerima wahyu yang pertama dan mengalami semacam goncangan psikologis. Waraqah menghibur Nabi dengan mengatakan bahwa yang beliau alami itu bukanlah suatu hal yang diabolik atau bersifat jahat. Melainkan sesuatu yang suci yang kemudian disebut-sebut bandingannya dengan Nabi Musa ketika menerima Taurat.

Jika kita telisik dari aspek sejarah, hijrah mempunyai paling tidak ada tiga hikmah besar, yang sampai kini masih tetap aktual. Pertama, Peristiwa hijrah mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu perlu persiapan dan perencanaan yang matang. Bahwa dalam berjuang, iman dan doa saja tidaklah cukup. Mungkin ada orang yang setiap malam berdoa, namun jika tidak dibarengi dengan persiapan, membuat perencanaan dan melaksanakannya maka akan mengalami kegagalan. Ali berkata:
(Siapa yang jelek perencanaannya, akan cepat kehancurannya). Makanya ada ungkapan, Plan your work, and work your plan. Dalam hijrah, Nabi melakukan persiapan dengan perencanaan yang cermat, akurat, matang dengan pembagian tugas yang bagus. Karena biasanya pemuda mempunyai etos dinamis yang kuat.

Kedua, Para pendukung hijrah Nabi itu kebanyakan para pemuda. Ali bin Abi Thalib, yang menggantikan Nabi untuk tidur di tempat tidur Nabi. Kemudian Amir bin Tahirah, Asma seorang pemudi, Abdullah bin Abu Bakar, dan seorang yang bertugas untuk membuka jalan bernama Mas’ad bin Umair. Di sini terlihat betapa peran pemuda dalam peristiwa hijrah itu demikian besar. Gerakan Islam berhasil secara meyakinkan dan mengesankan, jika para pemuda banyak berperan dalam perjuangan.

Ketiga, Arti pentingnya disiplin. Misalnya, kalaulah waktu itu Ali tidak disiplin untuk menetap di atas tempat tidur Nabi, meski ancamannya adalah nyawa. Kemudian, kalau Abdillah bin Abu Bakar tidak melaksanakan tugasnya, tidak memberitahu Nabi bahwa mereka sudah kelelahan dan tidak menemukan jejak, mungkin Nabi tidak berangkat. Kalau Asma tidak berangkat mengantar makanan, kalau Amir bin Tahirah tidak menghapus jejak, mungkin peristiwa hijrah itu akan gagal. Jika kita melihat ke dalam, Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai lembaga kaderisasi, ternyata telah lama kita dapatkan korelasi dan hubungan yang sangat konkret diimplementasikan di sini, karena ketiganya secara integral ada dalam kehidupan sehari-hari di Pondok Modern. Terlebih dengan kisah Ali bin Abi Thalib yang rela berkorban, meski nyawa taruhannya, sebagaimana kisah Pak Sahal dan Pak Zar, yang berebut untuk ditangkap oleh PKI, padahal nyawa taruhannya. Bondo, bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan!.

Dalam pandangan ilmu psikologi, nama atau simbol tertentu, akan memberi inspirasi bahkan makna sugestif kepada seseorang. Maka, nama atau kata “hijrah” pun memberikan kesan untuk menggerakkan setiap muslim agar selalu ada dinamika dalam hidupnya. Banyak isyarat dalam al-Qur’an maupun hadis yang menyatakan demikian:

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia” (QS. Al-Anfal 74)

“Hijrah adalah engkau meninggalkan segala kekejian baik yang tampak ataupun yang tersembunyi. Engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, kemudian engkau disebut sebagai Muhajir sekalipun engkau tetap berada di tempatmu. (HR Ahmad)”.

Memperingati tahun baru hijrah pada tanggal 1 Muharam ini, tidak sama dengan memperingati tahun baru lainnya. Karena di sini ada nilai tambah, lebih dari sekedar berakhirnya tahun yang lama dan mulainya tahun yang baru. Umar bin Khaththab yang menjadikan momentum hijrah menjadi awal dari tahun Islam, sadar betul bahwa hijrah adalah satu peristiwa yang besar, dan tidak hanya bagi sejarah Islam tetapi bahkan bagi sejarah manusia secara keseluruhan.
Dengan hijrah terbentuklah Daru-l-Islam (Islamic state) di Madinah dan kaum muslimin mempunyai negara sendiri. Dengan hijrah pula kaum muslimin dianggap sebagai satu umat dan dapat membentuk spesifikasi karakternya yang sangat unik. Dan setelah hijrah, barulah turun ayat-ayat al-Quran yang membawa perintah kewajiban dan tatanan hukum formal bagi kaum muslimin. Karena itu, momentum hijrah pada esensinya adalah titik perubahan dan transformasi yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Transformasi dari kenyataan nafsi-nafsi tanpa ukhuwah kepada eksistensi integritas ummatan wahidah (umat yang bersatu) dalam akidah, ibadah dan sirah. Maka hijrah sebenarnya adalah konsep perubahan, reformasi dan sekaligus transformasi diri maupun masyarakat dalam Islam. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa Rasulullah bersabda:

“Tidak ada hijrah setelah fath (dibukanya kota Mekkah) tetapi yang ada adalah jihad dan niat” (HR Bukhari dan Muslim)

Memang secara leksikal, hijrah berarti pindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti pindahnya sebagian sahabat Rasulullah saw dari Mekkah ke Habasyah atau dari Mekkah ke Madinah. Namun, dari aspek terminologi, hijrah dapat dibagi menjadi tiga macam. Pertama, Hijrah Makaniyah, yaitu pindah dari tempat yang tidak aman ke tempat yang aman; dari Dar al-kufr ke Dar al-iman. Seperti hijrah Rasulullah saw dan para sahabat Rasulullah saw dari kota Mekkah ke kota Madinah. Perpindahan ini tidak dapat begitu saja kita namakan migrasi, karena hijrah harus dilakukan dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya dan dengan niat yang benar.

Memang, sebab hijrahnya kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah adalah karena tekanan fisik dan siksaan yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap kaum muslimin di Mekkah. Tetapi itu bukan satu-satunya sebab, karena apabila hanya karena tekanan dan siksaan maka para sahabat Rasulullah saw seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang tidak mendapatkan siksaan seharusnya tidak wajib berhijrah. Namun dalam kenyataannya seluruh kaum muslimin di Mekkah yang tertekan ataupun tidak, diwajibkan untuk berhijrah. Karena hijrah lebih merupakan ujian atas iman mereka sebagaimana janji Allah dalam firman-Nya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut 2)

Ayat di atas adalah dalam konteks hijrah makaniyah atau hijrah teritorial. Dalam arti bahwa setelah dibukanya kota Mekkah oleh Rasulullah saw kota itu menjadi bagian dari Dar al-Islam, maka kaum muslimin tidak diperintahkan lagi untuk berpindah dari daerah asalnya ke Mekkah. Tetapi yang masih tetap wajib adalah jihad dan niat. Artinya bahwa seorang muslim tidak boleh lagi berhijrah berpindah dari tanah airnya apabila diserang dan diduduki oleh non-muslim, tetapi mereka harus berjihad untuk mempertahankan apa yang menjadi haknya.

Kedua, Hijrah Nafsiyah, perpindahan secara spiritual dan intelektual dari kekafiran kepada keimanan. Dari kebodohan kepada ilmu. Dalam ilmu jiwa, nama atau simbol tertentu memberikan sugesti dan stimulus kepada seseorang. Maka, nama ‘hijriyah’ pun memberi sugesti untuk mendinamisir manusia mukmin agar tidak statis tetapi dinamis, sebagaimana isyarat dalam al-Qur’an; bahwa kata “hijrah” di dalam al-Quran disebut dengan berbagai derivasinya sebanyak 27 kali. Penyebutan isim hanya 8 kali, sedangkan yang lebih banyak (19 kali) disebut dengan fiil, baik madhi, mudahri’ dan amr. Di sinilah hijrah dipahami sebagai adanya dinamika dalam hidup mendapatkan penguatan dan penekanannya. Bahwa, hakekat hidup adalah gerak, amal dan perjuangan. Hidup, bukan sekadar ada tapi meng’ada’, not only being but becoming. Hidup sekali hiduplah yang berarti.

Ketiga, Hijrah Amaliyah, perpindahan perilaku dan perbuatan seperti perpindahan dari perilaku jahiliyah kepada perilaku/akhlak Islam atau meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah kepada yang diperintahkan dan diridhai-Nya. Hijrah yang kedua dan ketiga ini tetap ada bahkan harus selalu dilakukan oleh setiap Muslim sampai hari kiamat. Nabi menginterpretasikan hijrah sebagai taubat sebagaimana dipertegas oleh sabda Rasulullah saw lainnya: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa” (HR. Imam Ahmad).

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang telah dilarang oleh Allah swt.” Maka, bagi seorang Muslim, hijrah kedua (hijrah nafsiyah) dan ketiga (hijrah ‘amaliyah) dapat dikatakan sebagai proses reformasi. Istilah reformasi dalam bahasa Inggris, Reformation; atau dalam bahasa Prancis Renaissance; dan dalam bahasa Jerman, Aufklaruung secara etimologi adalah derivat dari to reform yang dalam The Oxford Reference Dictionary,. berarti to make better by removal of faults and errors (membuat sesuatu lebih baik dengan menghilangkan dan membuang kesalahan dan kekeliruan). Dalam konteks Indonesia, yang kini tengah berlangsung bencana dan musibah, sudah seharusnya membuat kita dan seluruh komponen bangsa Indonesia, untuk segera melakukan hijrah dari hal-hal buruk, semua yang bekonotasi maksiat dan hal-hal negatif menuju kebaikan secara totalitas. Artinya reformasi total menuju kualitas kemanusiaan dan keindonesiaan yang optimal.

Secara umum, reformasi ini bisa kita bagi menjadi tiga fase: reformasi individual (spiritual-moral), reformasi sosio-kultural dan reformasi struktural. Dan peristiwa hijrah dapat dijadikan contoh yang sangat konkret dan praktis. Selama kurang lebih tiga belas tahun Rasulullah saw telah mengadakan reformasi individual dalam masyarakat Quraisy. Para sahabatnya yang tersentuh dakwah Rasulullah saw segera mengadakan hijrah baik secara spiritual ataupun moral. Mereka meninggalkan kekufuran dan jahiliyah lalu menggantinya dengan keimanan dan akhlak Islamiyah. Reformasi individual-spiritual-moral ini selanjutnya mendorong terjadinya reformasi sosio-kultural, karena sekelompok manusia yang telah melakukan reformasi individual mau tidak mau akan mereformasi tatanan kehidupan sosialnya.

Dalam peristiwa hijrah, kita melihat bagaimana Rasulullah saw membangun sosio-kultural Islami di Madinah dengan melakukan Muakhat (mempersaudarakan) antara kaum Muhajirin yang datang dari Mekkah dan kaum Anshar, orang-orang asli Madinah. Ketika kedua fase reformasi itu sudah dilakukan oleh sekelompok manusia maka pasti mereka akan menuntut untuk mengadakan reformasi struktural, sesuai dengan tingkat intelektual dan keimanan mereka. Rasulullah saw dan para sahabat yang telah berhasil mengadakan reformasi individual dan kultural, namun gagal mengadakan reformasi struktural karena kekuatan kaum kafir Quraisy jauh lebih kuat dari mereka, terpaksa harus mengadakan Hijrah Makaniyah ke Madinah sehingga dapat membuat dan mendirikan struktur masyarakat yang Islami dan berperadaban.

Dengan peringatan Tahun Baru Hijriyah kali ini semoga mampu memberi spirit yang menggedor kesadaran kita, guna mengisi kalbu dan mengasah reformasi sosial spiritual dalam jiwa kita, sehingga mampu melangkah dalam hidup ini menjadi lebih tegap, optimis, dinamis dan produktif dari hari-hari sebelumnya. Dan yang tidak kalah pentingnya, peringatan tahun baru hijrah ini menjadi starting point bagi bangsa kita yang sedang melakukan reformasi nasional, untuk meluruskan arah dan proses reformasi total menuju Indonesia bersatu, dan bersatu untuk membangun bangsa dari keterpurukan dan krisis multi dimensi ini. Juga menjadi motivasi bagi seluruh elemen bangsa ini untuk menghikmati pelbagai bencana, musibah yang sambung menyambung ini, untuk segera hijrah secara kaffah. Karena hakekat hijrah selain tranformasi dan reformasi sosial dan spiritual, juga penyadaran kolosal massal guna mampu melakukan yang terbaik, dalam kehidupan personal maupun komunal. Semoga, Amiin ya Mujiba al-Saiilin.

* Oleh : Drs. Sujiat Zubaidi, M.Ag Beliau adalah salah satu staff pengajar di Pondok Modern Darussalam Gontor, dan makalah ini disampaikan pada acara Peringantan Tahun Baru Hijarah di Gontor, 1 Muharram 1428/20 Januari 2007
http://gontor.ac.id

Leave a comment »

Dambaan Setiap Muslim

Manusia yang hidup di dunia ini terbagi menjadi empat golongan, yaitu:

Pertama, bahagia di dunia saja, yaitu orang yang hidupnya serba kecukupan, khususnya dalam masalah harta benda, hidupnya mewah, pangkatnya tinggi, dihormati orang banyak, pokoknya tentang urusan dunia, no problem. Tetapi dia lupa ibadah kepada Allah Swt.

Kedua, orang-orang yang bahagia di akhirat saja yaitu orang-orang yang mencurahkan segala tenaga dan waktunya untuk ibadah mahdhah saja, tanpa memikirkan urusan dunianya sama sekali. Akhirnya hidupnya miskin, nestapa dan serba kekurangan dalam urusan dunia dan tidak sedikit dari mereka yang menjadi beban masyarakat. Mereka tidak bahagia hidupnya di atas dunia ini tetapi masih mendapat satu keuntungan, satu kebahagaian yaitu di akhirat kelak.

Ketiga, orang yang tidak mendapatkan kebahagiaan dunia dan khirat, yaitu: orang yang hidupnya miskin di dunia dan tidak memikirkan urusan agamanya bahkan ia menentang orang-orang beribadah, inilah sejelek-jeleknya golongan manusia yang tidak bahagia, baik dilihat dari sudut pandang dunia maupun agama.

Keempat, orang ynag kuat usahanya dalam mencari nafkah, behubungan dengan sesama manusia dan makhluk Allah yang lain sehingga mereka berkecukupan dalam urusan dunia. Selain itu mereka berusaha keras untuk mendalami ajaran-ajaran Islam dan mentaati perintah-perintah Allah serta menjauhi segala larang-laranganNya. Golongan inilah sebaik-baiknya golongan, mereka bahagia dalam urusan dunia dan bahagia di akhirat. Golongan inilah yang sesuai dengan perintah Rasulullah Saw: “Berusahalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok..”

Setiap orang Islam bercita-cita untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang bahagia di akhirat, sesuai dengan doa yang biasa diucapkan oleh Rasulullah Saw: “Ya Tuhan kami, berilah kami hasanah di dunia dan hasanah di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka.” (QA. Al-Bqarah: 201)

Selain kebahagiaan hidup di dunia secara pribadi, orang Islam yang beriman dan bertakwa selalu mendambakan kemakuran dan keadilan hidup secara merata, juga selalu bercita-cita akan kehidupan dunia yang indah dan nyaman. Yang pada gilirannya akan membawa kebahagiaan hidup di akhirat nanti.

Di antara faktor dan unsur keindahan dunia telah dilukiskan hadits yang berbunyi: “Dunia ini adalah kebun yang dihiasai oleh lima macam tumbuhan yakni: satu, ilmu pengetahuan para ulama dan sarjana Kedua, keadilan para penguasa (pemerintah). Ketiga, ibadah para ‘abid atau para ahli ibadah. Empat, terpercayanya para saudagar atau pedagang. Lima, disipilin para karyawan.”

Kemudian iblis datang dengan lima bendera yang dikibarkan, bendera hasad, atau dengki dipancarkannya di samping ilmunya para ulama. Bendera kedzaliman atau tirani dipancarkannya di samping keadilan para penguasa atau pemerintah. Bendera riya atau mudah dilihat, to show only, minta nilai dengan manusia dipancarkannya di samping ibadahnya ‘abid atau ahli ibadah. Bendera khianat dipancarkannya di samping kejujuran para saudagar atau pedagang. Dan bendera pengingkaran atau indisipliner dipancangkanya di samping disiplinnya para karyawan.

Demikianlah seharusnya setiap orang Muslim. Berusaha keras dengan tidak lupa berdoa, sehinnga dapat meraih hasanah di dunia dan di akhirat. Serta dijauhkan dari iblis yang tidak henti-hentinya selalu berusaha menodai dan merusak kehidupan Bani Adam.[]

KH Imam Badri http://gontor.ac.id

Leave a comment »

Memberi Salam

Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah dari At-Tufail bin Ubai bin Ka’ab ra. bahwa beliau suatu ketika telah datang menemui Abdullah bin Umar r.ahuma. dan pergi bersamanya ke pasar.

Kata At-Tufail, “Apabila kami berjalan ke pasar pada waktu pagi itu, Abdullah ra. telah memberi salam kepada siapa saja yang ditemuinya, tidak kira mereka orang-orang yang menjalankan jual beli, orang miskin dan kepada siapapun mereka. Oleh sebab itu aku pun pergi kepadanya pada suatu hari dan beliau telah mengajakku ke pasar. Aku pun bertanya kepadanya, ‘Apakah yang kamu lakukan di pasar sedangkan kamu tidak melakukan sebarang penjualan di sana, tidak menanyakan harga barang untuk dibeli, kamu tidak menimbang atau menukar barang di sana dan kamu tidak juga duduk di dalam majelis-majelis di pasar tersebut?’ Aku pun menyuruhnya duduk saja ditempat itu untuk berbincang”.

Abdullah bin Umar r.ahuma pun berkata kepadaku, “Wahai si perut besar! Adapun kita ke sana semata-mata untuk memberi salam dan hendaklah kamu memberi salam kepada siapa saja yang kamu temui”.

Dikeluarkan oleh Malik dari At-Tufail bin Ubai bin Ka’ab ra.seumpama dengannya.

Di dalam riwayat lain, Abdullah bin Umar r.ahuma. berkata, “Adapun kita ke pasar semata-mata untuk memberi ucapan salam maka hendaklah kamu memberi salam kepada orang yang kamu temui”.

Dikeluarkan oleh Al-Bukhari di dalam Al-Adab dari At-Tufail bin Ubai bin Ka’ab ra. seumpama dengannya.

Dikeluarkan oleh At-Tabarani dari Abu Umamah Al-Bahili ra. bahwa beliau telah memberi salam kepada setiap orang yang ditemuinya. Beliau berkata, “Aku tidaklah mengetahui seseorangpun yang mendahuluiku dalam memberi salam melainkan seorang lelaki Yahudi. Suatu ketika ia telah bersembunyi di balik tiang. Tiba-tiba dia keluar dari persembunyiannya itu memberi salam kepadaku.”

Abu Umamah ra. telah berkata kepada lelaki Yahudi itu, “Celaka kamu wahai si Yahudi! Apakah yang menyebabkan kamu melakukan perbuatan sebagaimana yang telah kamu lakukan itu?” Laki-laki Yahudi itu pun menjawab, “Aku telah mengetahui bahwa kamu adalah seorang lelaki yang banyak memberi salam. Oleh karena aku mengetahui bahwa amalan itu mengandungi kebaikan dan kelebihan, lalu aku berkeinginan untuk mendapatkan kelebihan tersebut”.

Abu Umamah ra. pun berkata kepadanya, “Celaka kamu, karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan ucapan salam sebagai ucapan kepada ummat kami dan keamanan bagi orang-orang yang berada di bawah tanggungan dan perlindungan kami (kafir dzimmi)”.

Di dalam riwayat Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah dari Muhammad bin Ziyad katanya, “Aku telah memegang tangan Abu Umamah ra. sedang beliau dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Tidaklah beliau melewati seorangpun baik orang Islam, Nasrani, kecil atau besar melainkan beliau memberikan ucapan salam kepadanya. Beliau berkata,

Salamun ‘alaykum. Salamun ‘alaykum (kesejahteraan ke atas kamu)!

Apabila beliau sampai di depan pintu rumahnya, beliau berpaling ke arah kami seraya berkata,”Wahai anak saudaraku! Nabi kami telah memerintahkan kami agar menyebarkan salam di kalangan kami”.

Di dalam riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab dari Basyir bin Yasar katanya, “Tiada seorangpun mendahului atau bersegera dalam memberi salam selain dari Ibnu Umar r.ahuma”.

Dikeluarkan oleh At-Tabarani dengan isnad Hasan dari Anas bin Malik ra. katanya, “Kami bersama-sama dengan Rasulullah SAW di zamannya. Aapabila kami berpisah dan dipisahkan oleh sebatang pohon, maka kami akan memberikan ucapan salam apabila kami saling bertemu di antara satu dengan yang lain”.

Sebagaimana dalam At-Targhib. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari di dalam Al-Adab.

Menebar Salam

Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantaramu sekalian.” (HR. Muslim)

Abu Bakar ra. berkata: “Adalah kami bila melihat seseorang muncul dari kejauhan, selalu mendahuluinya dengan salam sebelum ia mengucapkannya.” (at-Targhib)

Dari Zuhrah bin Khumaishah ra. berkata: “Aku bersama Abu Bakar menaiki seekor unta. Setiap kali kami melewati suatu kaum kami mengucapkan salam kepada mereka. Kemudian mereka membalas salam kami lebih banyak dari apa yang kami katakan. Abu Bakar lalu berkata: “Hari ini manusia mengutamakan kita dengan kebaikan yang banyak.”

Pada suatu hari Umar bin Khaththab pergi mengadukan perihal Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah saw. Katanya: “Ya Rasulullah, Ali bin Abi Thalib tidak pernah mendahului mengucapkan salam kepadaku.” Mendengar pengaduannya, Rasulullah segera memanggil Ali ra untuk datang. Lalu Rasulullah bertanya kepadanya: “Ya Ali, benarkah engkau tidak pernah memberikan salam terlebih dahulu kepada Umar?” Ali ra. menjawab: “Ya Rasulullah, hal itu kulakukan karena sabdamu yang menyebutkan: “Siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan memberikan baginya istana di surga.” Karena itulah, ya Rasulullah, aku selalu ingin Umar mendahuluiku mengucapkan salam agar ia mendapat istana di surga.”

Leave a comment »