Hijrah : Memaknai Etos Dinamis dalam Islam

Sebenarnya, jika kita telaah dalam ayat-ayat al-Quran, hijrah merupakan sunnah nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad. Nabi Ibrahim, misalnya melakukan hijrah ke Syam, kemudian ke Mesir dan akhirnya Nabi Ibrahim bersama anaknya Ismail dan isterinya Siti Hajar hijrah ke Mekkah, dan membangun Baitullah, Ka’bah. Selain itu, hijrahnya Nabi Luth as dari negeri Sadum, karena penduduknya berperilaku sangat buruk, mereka sangat permisif terhadap kemaksiatan.

Hati mereka seolah selalu dahaga dengan kesesatan. Sementara itu, kita dapat menyimak episode panjang dari senarai sejarah Nabi Musa yang hijrah dari Mesir ke Madyan untuk menyelamatkan jiwanya, kemudian dilanjutkan dengan hijrah dari Mesir ke Syam untuk menyelamatkan agamanya. Dan yang perlu dicacat, Ashabul Kahfi juga hijrah ke dalam gua, di tengah komunitas penyembah berhala dan taghut dengan penguasa tiran yang sagat kejam, dan betapa Allah menjelaskan pertolongan-Nya kepada para pemuda tersebut yang mau berhijrah. Kemudian, hijrahnya kaum muslimin dari Mekkah ke Habasyah, disertai penolakan raja Najasyi. Dan, pada akhirnya, kaum muslimin Mekkah dipimpin oleh Rasulullah melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, dengan sekian pelajaran dan hikmah, salah satunya yang paling menonjol adalah etos dinamis.

Di antara cara merenungkan etos dinamis dalam Islam, adalah merenungkan kembali dan memaknai hakikat Hijrah. Secara harfiyah, hijrah artinya pindah. Dalam bahasa Inggris, disebut migration. Tetapi orang-orang Barat sering menerjemahkan hijrah dengan flight, padahal flight itu artinya melarikan diri. Dengan bermigrasi dari Makkah ke Madinah, Nabi Muhammad tidak bermaksud melarikan diri, akan tetapi memang pindah, dan kepindahannya bukan atas kemauan sendiri melainkan atas petunjuk dari Allah s.w.t.

Secara historis memang ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hijrah Nabi, antara lain didahului dengan adanya bai‘at-bai‘at (janji-janji setia) yang diikuti oleh orang-orang dari Madinah (waktu itu namanya Yatsrib, yang dalam naskah-naskah Yunani kuna dikenal sebagai Yathroba). Tidak banyak yang diketahui oleh orang-orang luar mengenai Arabia, karena Arabia memang merupakan daerah yang tidak begitu menarik bagi bangsa-bangsa lain. Karena itu tidak ada usaha untuk, menaklukkan daerah tersebut. Orang Arab sendiri menyadari hal itu, karenanya disebut Jazirah.

Orang Arab menyebut negerinya sebagai pulau karena terdiri dari tiga jurusan yang dikelilingi oleh laut; yaitu Laut Merah, Lautan Arab, dan Teluk Persi. Tetapi yang di utara itu bukan lautan air melainkan lautan pasir yang sulit sekali diterobos, terutama gurun pasir Syria atau dalam bahasa Arab “Wadî‘at-u ‘l-Syams”. Daerah itu memang terkenal sulit sekali sehingga tidak mudah diterobos oleh orang-orang dari luar. Karena itu jazirah Arabia, dalam sejarahnya, hanya mengirim orang ke luar, dan sedikit sekali orang yang masuk.

Dalam sejarah dibuktikan bahwa bangsa-bangsa Semitik kuna seperti bangsa Asyria, bangsa Babilonia, bangsa Kanaan dan sebagainya, sebetulnya berasal dari Jazirah Arabia. Mereka disebut Arab karena selalu berpindah-pindah. Jadi Arab itu artinya memang berpindah-pindah, dari perkataan Ibrani, ‘Ibrun, ‘Abarah yang juga artinya menyeberang. Dalam bahasa Arab memang sering terjadi perpindahan suku kata tetapi mempunyai makna yang sama atau asalnya bermakna sama yang disebut “tashrîf kabîr”. Misal, kata Arab dengan Ibrani. Ibrani itulah yang lalu menjadi Hebrew, menjadi orang Yahudi. Jadi orang-orang Bani Israil disebut Hebrew atau Ibrani itu karena suka mengembara.

Pandangan seperti ini penting diketahui untuk sampai pada pemahaman mengapa, Nabi Muhammad hijrah ke kota sebelah Utara yaitu Yatsrib, lalu dengan strategi baru beliau berhasil menghimpun kekuatan orang-orang Arab dan kemudian terjadi apa yang dalam istilah para ahli sejarah disebut “Arab explosion” (“ledakan orang Arab”). L. Stoddard dalam Bangkitnya Bangsa-bangsa Berwarna mengatakan bahwa Nabi Muhammad seolah-olah telah mengubah padang pasir Timur Tengah menjadi mesiu yang dapat disulut dari Madinah dan meledaklah ke seluruh Timur Tengah. Rasulullah menjadi tokoh sejarah yang paling sukses dalam sejarah umat manusia. Michael Hart, seorang wartawan Amerika yang menulis buku tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh di dalam sejarah umat manusia, dengan jujur mengakui bahwa di antara 100 tokoh itu, kalau dilihat efeknya, maka Nabi Muhammad-lah yang paling berpengaruh di dalam sejarah umat manusia.

Efek itu ada terutama karena kepindahan Nabi Muhammad dari Makkah ke Yasthrib. Kalau diingat bahwa Nabi di Makkah selama 13 tahun tanpa hasil yang mengesankan, Di antara ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa Nabi pernah putus asa sehingga kemudian turun surah al-Dhuhâ. Karena itu surah al-Dhuhâ adalah teguran kepada Nabi Muhammad. Dan, secara historis, akhirnya kemenangan yang dijanjikan oleh Allah itu terealisir setelah 10 tahun di Madinah. Karena itu, wa la ‘l-âkhirat-u khayr-un laka min-a ‘l-ûlâ itu bukan hanya bermakna ‘akhirat lebih baik daripada dunia’ tetapi dalam bahasa sekarang, ‘yang jangka panjang itu lebih baik daripada yang jangka pendek’.
Jadi ini suatu peringatan kepada Nabi seolah-olah Allah berfirman, “Hai Muhammad, mungkin bahwa kamu gagal dalam jangka pendek, tetapi kalau kamu berjuang terus maka dalam jangka panjang akan berhasil.” Memang, pada umumnya manusia itu tidak tahan berpikir panjang dan selalu ingin cepat berhasil. Karena itulah ajaran sabar dalam al-Qur’ân banyak sekali, termasuk surah al-‘Ashr, wa tawâshaw bi ‘l-haqq-i, wa tawâshaw bi ‘l-shabr-i (dan saling menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran dan ketabahan). Tidak saja harus saling mengingatkan setiap orang itu supaya berpegang pada yang baik dan benar, tapi juga harus tahan dalam arti jangan mudah tergoda oleh hal-hal yang bersifat jangka pendek.

Itulah satu hal yang bisa ditarik dari peristiwa hijrah. Yaitu, supaya manusia jangan sampai terjebak kepada hal-hal yang bersifat jangka pendek sambil melupakan yang bersifat jangka panjang. Orang sudah banyak yang terpesona untuk sekadar meraih hasil sehingga terperangkap dalam pola pragmatis, namun melupakan proses yang bernilai strategis yang harus dilewati. Dalam sosiologi—terutama berkenaan dengan konsep modernitas – kalau ditanya apa yang disebut modern, semua ahli sosiologi mengatakan bahwa salah satu unsur modern ialah bahwa orang itu berpikir strategis dan tidak berpikir praktis.

Semua budaya mempunyai ajaran semacam itu. Kalau dalam bahasa Jawa ada tembang yang antara lain berbunyi “ wani ngalah duwur wekasane” (berani mengalah tapi akhirnya menang). Dalam jargon ketentaraan ada ungkapan “you may loose the battle but you should win the war” (kamu boleh kalah dalam pertempuran, tapi harus menang dalam peperangan). Sebab perang itu terdiri dari sejumlah pertempuran; perang dibagi menjadi pertempuran-pertempuran atau sebaliknya pertempuran-pertempuran dikumpulkan menjadi perang.

Contoh kelompok atau orang yang menang dalam pertempuran tetapi kalah dalam peperangan itu adalah Amerika di Vietnam. Pertempurannya menang terus hanya karena keunggulan persenjataan fisik. Tetapi, karena kalah semangat oleh orang Vietnam, sebab bagi orang Vietnam menang dalam peperangan itu adalah masalah hidup atau mati, maka orang Vietnam yang kalah dalam pertempuran itu menang dalam peperangan, dan Amerika harus keluar dari Vietnam secara tidak terhormat pada zaman Nixon.

Dalam hidup ini banyak sekali orang yang sukses dalam jangka pendek tapi gagal dalam jangka panjang. Jadi:
(Dan sungguh, yang kemudian akan lebih baik bagimu daripada yang sekarang) itu mempunyai nilai yang sangat spiritual. Yaitu, bahwa akhirat lebih penting daripada dunia. Akan tetapi, konteks firman Allah s.w.t. itu sendiri sebenarnya mempunyai nilai yang sangat praktis dalam hidup, karena dikaitkan dengan:

(Dan Tuhanmu kelak memberimu apa yang menyenangkan kamu). Itulah kemenangan yang dijanjikan oleh Allah yang dalam konteks sejarah Nabi terealisir melalui hijrah setelah 10 tahun.
Ketika Nabi ditegur keras oleh Allah, namun juga diberi janji dan pesan moral, yaitu: wa ammâssâ’ila falâ tanhar (Dan orang yang meminta janganlah kau bentak); kemudian, wa ammâ bi ni‘mati rabbika fa haddits (Dan nikmat Tuhanmu, hendaklah kau sebarkan!). Itulah gambaran situasi psikologis Nabi sebelum Hijrah. Dengan adanya janji seperti itu, lalu ditambah dengan penguatan keruhanian yang dialami Nabi yaitu dengan peristiwa Isrâ’ dan Mi‘râj, maka Nabi menjadi bersemangat kembali. Jadi seolah-olah Nabi diperkuat jiwanya dengan diperlihatkan keadaan di luar. Ini sebetulnya juga analog dengan pengalaman sehari-hari. Kalau orang merasa kehilangan gairah, lalu berkunjung kepada orang yang bisa diajak ngomong, biasanya akan bangkit kembali gairah dan motivasinya.

Dalam ungkapan Inggris, “Try to reach out.” Cobalah berhubungan dengan orang lain, jangan disimpan sendiri di rumah! Nabi juga reach out. Tetapi karena beliau akan mendapat tugas yang luar biasa, maka reach out-nya tidak tanggung-tanggung, yaitu kepada Allah s.w.t. dengan perjalanan Isrâ’-Mi‘râj. Dalam perjalanan Isrâ’ dan Mi‘râj itu Nabi diingatkan bahwa beliau tidak sendirian. Dia hanya bagian dari suatu deretan sejarah yang panjang. Maka dari itu yang paling banyak diungkap semua orang yang menceramahkan Isrâ’ dan Mi‘râj ialah pengalaman Nabi di Yerusalem, di Bayt al-Maqdis, ketika beliau salat bersama semua Nabi yang pernah ada di dunia. Nabi Muhammad waktu itu berjumpa dengan para nabi terdahulu, yang bahkan dilukiskan secara sangat fisikal. Setelah itu Nabi bertolak ke langit dan bertemu lagi dengan Nabi Musa, Isa, Ibrahim, dan sebagainya, sampai ke Sidrat al-Muntahâ.

Setelah mengalami hal itulah maka Nabi kemudian hijrah. Hijrah itu dilakukan atas petunjuk Allah. Ada hal-hal yang sangat menarik sekitar hijrah ini. Pertama, hijrah itu dilakukan dengan sangat rahasia. Tidak ada yang tahu kecuali Aisyah (yang pada waktu itu masih anak-anak), Abu Bakar sendiri, Ali, dan seorang penunjuk jalan yaitu Abdullah dari Bani ‘Adil (dari suku Adil yang kafir). Jadi Nabi menyewa penunjuk jalan yang musyrik karena beliau tidak mau menempuh jalan yang konvensional karena menjadi buron. Karena itu Nabi mencari seorang penunjuk jalan yang sangat ahli dalam perjalanan menuju ke utara yaitu menuju ke Syam, dan orang itu Abdullah. Abdullah—agak aneh kedengarannya—adalah orang kafir Makkah dari suku `Adil. Dia terkenal sebagai—dalam istilah Arab—khirrij atau penunjuk jalan yang sangat ahli, dan karena itulah Nabi mempertaruhkan nyawanya pada orang ini.

Setelah 10 tahun di Yatsrib, Nabi kemudian mengubah nama kota itu menjadi Madinah. Kata al-madînah secara umum memang diartikan sebagai kota, tetapi sebetulnya al-madînah itu mengandung makna peradaban. Karena dalam bahasa Arab, peradaban itu adalah madanîyah atau tamaddun. Dalam bahasa Arab kata itu juga digunakan untuk padanan perkataan Inggris “civil.” Misalnya dalam bahasa Inggris ada istilah “Civil Act” (Undang-Undang Sipil), dalam bahasa Arabnya disebut “Qânûn Madanî”. Kata “madanîyah/madînah” juga menjadi padanan dari perkataan Yunani “polish”, yang dari perkataan itu terambil perkataan politic, policy, police dan sebagainya. Yaitu, ide tentang suatu kehidupan yang teratur. Dalam bahasa Yunani, misalnya, ada ungkapan “zoon politicon”, bahwa manusia itu secara alami berpolitik. Dalam bahasa Arab disebut “al-Insân-u Madanîy-un bi ‘l-thâb‘-i (manusia itu berpolitik menurut nalurinya). Tidak mungkin manusia tidak berpolitik, dalam arti seluas-luasnya bukan dalam arti sempit.

Kalau Nabi mengubah kota Yatsrib itu menjadi Madinah yang sering dipanjangkan menjadi Madînah al-Nabî, maka itu artinya kota Nabi atau al-Madînah al-Nabawîyah, Kota Kenabian. Ini bisa dibandingkan dengan Konstantin ketika memindahkan ibukotanya dari Roma ke sebelah timur, kemudian dia menamakan kota itu Konstantinopolis, artinya kotanya Konstantin. Seandainya Nabi Muhammad adalah orang Yunani, maka “Madînah al-Nabî” itu akan berbunyi “Prophetopolis”, kota Nabi. Ini penting untuk dipahami, karena menurut uraian para ahli sebetulnya perubahan kota itu (dari Yatsrib menjadi Madinah), menunjukkan semacam agenda Nabi dalam perjuangan beliau, yaitu menciptakan masyarakat yang teratur. Dan itulah memang yang beliau lakukan.

Pada waktu itu, di Madinah banyak macam-macam suku termasuk orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi inilah yang menjadi bahan perselisihan. Ada yang mengatakan mereka itu orang Arab yang masuk Yahudi, tetapi teori yang lebih umum mengatakan bahwa mereka adalah orang Yahudi yang terarabkan. Dikisahkan bahwa setelah orang Yahudi (dulu) ditindas oleh Titus pada tahun 70-an maka mereka mengalami diaspora atau mengalami pengembaraan di muka bumi tanpa tanah air. Sebagian mereka masuk Arabia, dan mereka tinggal di oase-oase yang subur seperti Khaibar, Tabuk. Dan Madinah itu termasuk kota oase.

Di Makkah tidak banyak orang Yahudi karena kurang begitu menarik. Makkah itu penting karena ada Ka‘bah, dan itu tidak penting untuk orang luar. Karena itu orang luar tidak banyak yang masuk ke Makkah. Karenanya di Makkah tidak ada orang Yahudi. Tapi di sana banyak orang Kristen, seperti Waraqah ibn Naufal. Dialah yang menghibur Nabi ketika beliau menerima wahyu yang pertama dan mengalami semacam goncangan psikologis. Waraqah menghibur Nabi dengan mengatakan bahwa yang beliau alami itu bukanlah suatu hal yang diabolik atau bersifat jahat. Melainkan sesuatu yang suci yang kemudian disebut-sebut bandingannya dengan Nabi Musa ketika menerima Taurat.

Jika kita telisik dari aspek sejarah, hijrah mempunyai paling tidak ada tiga hikmah besar, yang sampai kini masih tetap aktual. Pertama, Peristiwa hijrah mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu perlu persiapan dan perencanaan yang matang. Bahwa dalam berjuang, iman dan doa saja tidaklah cukup. Mungkin ada orang yang setiap malam berdoa, namun jika tidak dibarengi dengan persiapan, membuat perencanaan dan melaksanakannya maka akan mengalami kegagalan. Ali berkata:
(Siapa yang jelek perencanaannya, akan cepat kehancurannya). Makanya ada ungkapan, Plan your work, and work your plan. Dalam hijrah, Nabi melakukan persiapan dengan perencanaan yang cermat, akurat, matang dengan pembagian tugas yang bagus. Karena biasanya pemuda mempunyai etos dinamis yang kuat.

Kedua, Para pendukung hijrah Nabi itu kebanyakan para pemuda. Ali bin Abi Thalib, yang menggantikan Nabi untuk tidur di tempat tidur Nabi. Kemudian Amir bin Tahirah, Asma seorang pemudi, Abdullah bin Abu Bakar, dan seorang yang bertugas untuk membuka jalan bernama Mas’ad bin Umair. Di sini terlihat betapa peran pemuda dalam peristiwa hijrah itu demikian besar. Gerakan Islam berhasil secara meyakinkan dan mengesankan, jika para pemuda banyak berperan dalam perjuangan.

Ketiga, Arti pentingnya disiplin. Misalnya, kalaulah waktu itu Ali tidak disiplin untuk menetap di atas tempat tidur Nabi, meski ancamannya adalah nyawa. Kemudian, kalau Abdillah bin Abu Bakar tidak melaksanakan tugasnya, tidak memberitahu Nabi bahwa mereka sudah kelelahan dan tidak menemukan jejak, mungkin Nabi tidak berangkat. Kalau Asma tidak berangkat mengantar makanan, kalau Amir bin Tahirah tidak menghapus jejak, mungkin peristiwa hijrah itu akan gagal. Jika kita melihat ke dalam, Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai lembaga kaderisasi, ternyata telah lama kita dapatkan korelasi dan hubungan yang sangat konkret diimplementasikan di sini, karena ketiganya secara integral ada dalam kehidupan sehari-hari di Pondok Modern. Terlebih dengan kisah Ali bin Abi Thalib yang rela berkorban, meski nyawa taruhannya, sebagaimana kisah Pak Sahal dan Pak Zar, yang berebut untuk ditangkap oleh PKI, padahal nyawa taruhannya. Bondo, bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan!.

Dalam pandangan ilmu psikologi, nama atau simbol tertentu, akan memberi inspirasi bahkan makna sugestif kepada seseorang. Maka, nama atau kata “hijrah” pun memberikan kesan untuk menggerakkan setiap muslim agar selalu ada dinamika dalam hidupnya. Banyak isyarat dalam al-Qur’an maupun hadis yang menyatakan demikian:

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia” (QS. Al-Anfal 74)

“Hijrah adalah engkau meninggalkan segala kekejian baik yang tampak ataupun yang tersembunyi. Engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, kemudian engkau disebut sebagai Muhajir sekalipun engkau tetap berada di tempatmu. (HR Ahmad)”.

Memperingati tahun baru hijrah pada tanggal 1 Muharam ini, tidak sama dengan memperingati tahun baru lainnya. Karena di sini ada nilai tambah, lebih dari sekedar berakhirnya tahun yang lama dan mulainya tahun yang baru. Umar bin Khaththab yang menjadikan momentum hijrah menjadi awal dari tahun Islam, sadar betul bahwa hijrah adalah satu peristiwa yang besar, dan tidak hanya bagi sejarah Islam tetapi bahkan bagi sejarah manusia secara keseluruhan.
Dengan hijrah terbentuklah Daru-l-Islam (Islamic state) di Madinah dan kaum muslimin mempunyai negara sendiri. Dengan hijrah pula kaum muslimin dianggap sebagai satu umat dan dapat membentuk spesifikasi karakternya yang sangat unik. Dan setelah hijrah, barulah turun ayat-ayat al-Quran yang membawa perintah kewajiban dan tatanan hukum formal bagi kaum muslimin. Karena itu, momentum hijrah pada esensinya adalah titik perubahan dan transformasi yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Transformasi dari kenyataan nafsi-nafsi tanpa ukhuwah kepada eksistensi integritas ummatan wahidah (umat yang bersatu) dalam akidah, ibadah dan sirah. Maka hijrah sebenarnya adalah konsep perubahan, reformasi dan sekaligus transformasi diri maupun masyarakat dalam Islam. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa Rasulullah bersabda:

“Tidak ada hijrah setelah fath (dibukanya kota Mekkah) tetapi yang ada adalah jihad dan niat” (HR Bukhari dan Muslim)

Memang secara leksikal, hijrah berarti pindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti pindahnya sebagian sahabat Rasulullah saw dari Mekkah ke Habasyah atau dari Mekkah ke Madinah. Namun, dari aspek terminologi, hijrah dapat dibagi menjadi tiga macam. Pertama, Hijrah Makaniyah, yaitu pindah dari tempat yang tidak aman ke tempat yang aman; dari Dar al-kufr ke Dar al-iman. Seperti hijrah Rasulullah saw dan para sahabat Rasulullah saw dari kota Mekkah ke kota Madinah. Perpindahan ini tidak dapat begitu saja kita namakan migrasi, karena hijrah harus dilakukan dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya dan dengan niat yang benar.

Memang, sebab hijrahnya kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah adalah karena tekanan fisik dan siksaan yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap kaum muslimin di Mekkah. Tetapi itu bukan satu-satunya sebab, karena apabila hanya karena tekanan dan siksaan maka para sahabat Rasulullah saw seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang tidak mendapatkan siksaan seharusnya tidak wajib berhijrah. Namun dalam kenyataannya seluruh kaum muslimin di Mekkah yang tertekan ataupun tidak, diwajibkan untuk berhijrah. Karena hijrah lebih merupakan ujian atas iman mereka sebagaimana janji Allah dalam firman-Nya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut 2)

Ayat di atas adalah dalam konteks hijrah makaniyah atau hijrah teritorial. Dalam arti bahwa setelah dibukanya kota Mekkah oleh Rasulullah saw kota itu menjadi bagian dari Dar al-Islam, maka kaum muslimin tidak diperintahkan lagi untuk berpindah dari daerah asalnya ke Mekkah. Tetapi yang masih tetap wajib adalah jihad dan niat. Artinya bahwa seorang muslim tidak boleh lagi berhijrah berpindah dari tanah airnya apabila diserang dan diduduki oleh non-muslim, tetapi mereka harus berjihad untuk mempertahankan apa yang menjadi haknya.

Kedua, Hijrah Nafsiyah, perpindahan secara spiritual dan intelektual dari kekafiran kepada keimanan. Dari kebodohan kepada ilmu. Dalam ilmu jiwa, nama atau simbol tertentu memberikan sugesti dan stimulus kepada seseorang. Maka, nama ‘hijriyah’ pun memberi sugesti untuk mendinamisir manusia mukmin agar tidak statis tetapi dinamis, sebagaimana isyarat dalam al-Qur’an; bahwa kata “hijrah” di dalam al-Quran disebut dengan berbagai derivasinya sebanyak 27 kali. Penyebutan isim hanya 8 kali, sedangkan yang lebih banyak (19 kali) disebut dengan fiil, baik madhi, mudahri’ dan amr. Di sinilah hijrah dipahami sebagai adanya dinamika dalam hidup mendapatkan penguatan dan penekanannya. Bahwa, hakekat hidup adalah gerak, amal dan perjuangan. Hidup, bukan sekadar ada tapi meng’ada’, not only being but becoming. Hidup sekali hiduplah yang berarti.

Ketiga, Hijrah Amaliyah, perpindahan perilaku dan perbuatan seperti perpindahan dari perilaku jahiliyah kepada perilaku/akhlak Islam atau meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah kepada yang diperintahkan dan diridhai-Nya. Hijrah yang kedua dan ketiga ini tetap ada bahkan harus selalu dilakukan oleh setiap Muslim sampai hari kiamat. Nabi menginterpretasikan hijrah sebagai taubat sebagaimana dipertegas oleh sabda Rasulullah saw lainnya: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa” (HR. Imam Ahmad).

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang telah dilarang oleh Allah swt.” Maka, bagi seorang Muslim, hijrah kedua (hijrah nafsiyah) dan ketiga (hijrah ‘amaliyah) dapat dikatakan sebagai proses reformasi. Istilah reformasi dalam bahasa Inggris, Reformation; atau dalam bahasa Prancis Renaissance; dan dalam bahasa Jerman, Aufklaruung secara etimologi adalah derivat dari to reform yang dalam The Oxford Reference Dictionary,. berarti to make better by removal of faults and errors (membuat sesuatu lebih baik dengan menghilangkan dan membuang kesalahan dan kekeliruan). Dalam konteks Indonesia, yang kini tengah berlangsung bencana dan musibah, sudah seharusnya membuat kita dan seluruh komponen bangsa Indonesia, untuk segera melakukan hijrah dari hal-hal buruk, semua yang bekonotasi maksiat dan hal-hal negatif menuju kebaikan secara totalitas. Artinya reformasi total menuju kualitas kemanusiaan dan keindonesiaan yang optimal.

Secara umum, reformasi ini bisa kita bagi menjadi tiga fase: reformasi individual (spiritual-moral), reformasi sosio-kultural dan reformasi struktural. Dan peristiwa hijrah dapat dijadikan contoh yang sangat konkret dan praktis. Selama kurang lebih tiga belas tahun Rasulullah saw telah mengadakan reformasi individual dalam masyarakat Quraisy. Para sahabatnya yang tersentuh dakwah Rasulullah saw segera mengadakan hijrah baik secara spiritual ataupun moral. Mereka meninggalkan kekufuran dan jahiliyah lalu menggantinya dengan keimanan dan akhlak Islamiyah. Reformasi individual-spiritual-moral ini selanjutnya mendorong terjadinya reformasi sosio-kultural, karena sekelompok manusia yang telah melakukan reformasi individual mau tidak mau akan mereformasi tatanan kehidupan sosialnya.

Dalam peristiwa hijrah, kita melihat bagaimana Rasulullah saw membangun sosio-kultural Islami di Madinah dengan melakukan Muakhat (mempersaudarakan) antara kaum Muhajirin yang datang dari Mekkah dan kaum Anshar, orang-orang asli Madinah. Ketika kedua fase reformasi itu sudah dilakukan oleh sekelompok manusia maka pasti mereka akan menuntut untuk mengadakan reformasi struktural, sesuai dengan tingkat intelektual dan keimanan mereka. Rasulullah saw dan para sahabat yang telah berhasil mengadakan reformasi individual dan kultural, namun gagal mengadakan reformasi struktural karena kekuatan kaum kafir Quraisy jauh lebih kuat dari mereka, terpaksa harus mengadakan Hijrah Makaniyah ke Madinah sehingga dapat membuat dan mendirikan struktur masyarakat yang Islami dan berperadaban.

Dengan peringatan Tahun Baru Hijriyah kali ini semoga mampu memberi spirit yang menggedor kesadaran kita, guna mengisi kalbu dan mengasah reformasi sosial spiritual dalam jiwa kita, sehingga mampu melangkah dalam hidup ini menjadi lebih tegap, optimis, dinamis dan produktif dari hari-hari sebelumnya. Dan yang tidak kalah pentingnya, peringatan tahun baru hijrah ini menjadi starting point bagi bangsa kita yang sedang melakukan reformasi nasional, untuk meluruskan arah dan proses reformasi total menuju Indonesia bersatu, dan bersatu untuk membangun bangsa dari keterpurukan dan krisis multi dimensi ini. Juga menjadi motivasi bagi seluruh elemen bangsa ini untuk menghikmati pelbagai bencana, musibah yang sambung menyambung ini, untuk segera hijrah secara kaffah. Karena hakekat hijrah selain tranformasi dan reformasi sosial dan spiritual, juga penyadaran kolosal massal guna mampu melakukan yang terbaik, dalam kehidupan personal maupun komunal. Semoga, Amiin ya Mujiba al-Saiilin.

* Oleh : Drs. Sujiat Zubaidi, M.Ag Beliau adalah salah satu staff pengajar di Pondok Modern Darussalam Gontor, dan makalah ini disampaikan pada acara Peringantan Tahun Baru Hijarah di Gontor, 1 Muharram 1428/20 Januari 2007
http://gontor.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: