Urgensi Sabar dan Syukur

Segala sesuatu di dunia ini, pada hakekatnya memiliki daya tarik dan pesona keindahan. Seperti gelapnya malam akan terasa indah, manakala ada bintang yang berkerlap-kerlip dan bulan purnama muncul. Burung merak memiliki daya tarik, disebabkan oleh bulunya yang indah warna-warni. Burung Beo memikat, karena suaranya yang indah dan pandai meniru. Emas, mutiara, zamrud, kristal, banyak memikat orang, karena mempunyai pesona yang memancar yaitu berupa kilauan sinarnya.

Nah sekarang bagaimana usaha manusia agar dirinya memiliki pesona yang luar biasa? Maka disinilah Islam memberikan solusinya. Diantaranya melalui sabar dan syukur yang mempunyai nilai penting untuk itu semua.

Secara etimologi, sabar (ash-shabr) berarti menahan (al-habs). Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridho Allah. Sabar, menurut Dzunnun Al-Mishry, adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan agama dan bersikap tenang manakala terkena musibah, serta berlapang dada dalam kefakiran di tengah-tengah medan kehidupan.

Lain lagi menurut syeikh Ibnu Qoyyim Al-jauziyah, bahwa sabar merupakan budi pekerti yang bisa dibentuk oleh seseorang. Ia menahan nafsu, menahan sedih, menahan jiwa dari kemarahan, menahan lidah dari merintih kesakitan, dan juga menahan anggota badan dari melakukan yang tidak pantas. Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum-hukum syari’at.

Secara umum sabar terbagi ke dalam tiga tingkatan.

Pertama, sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan; musibah, bencana, atau kesusahan.
Adapun contohnya apa yang terjadi pada nabi Ayyub, beliau ditinggalkan oleh istri dan anak-anaknya tercinta meninggal dunia, kemudian ditambah lagi dengan harta bendanya yang melimpah habis karena tertimpa bencana. Inilah contoh sikap sabar dari yang pertama.

Kedua, sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat.
Adapun contoh selanjutnya, sebagaimana yang terjadi pada nabi Yusuf, Allah SWT menguji kesabaran Yusuf dengan ujian yang lebih berat, yaitu rayuan Siti Zulaikha, seorang wanita cantik lagi terpandang. Namun, dengan kesabaran dan keteguhan iman, Nabi Yusuf pun mampu melewati ujian ini dengan selamat. Padahal, saat itu Yusuf pun menyukai Zulaikha, dan suasana pun sangat mendukung untuk melakukan maksiat.

Ketiga, sabar dalam menjalankan ketaatan.
Sedangkan contoh yang ketiga adalah kesabaran yang di miliki oleh nabi Ibrahim dan anaknya Ismail, beliau berdua dengan tetap sabar dan taat atas perintah Allah, meskipun saat itu sang ayah akan menyembelih anaknya sendiri. Inilah bukti kesabaran dalam menjalani ketaatan atas perintah-Nya.

Sabar itu indah, andaikata kita bisa memaknainya dengan benar.

Manusia seringkali berlaku egois. Ketika menginginkan sesuatu, ia berdoa habis-habisan, sungguh-sungguh demi tercapai keinginannya. Tatkala berhasil, ia pun melupakan Allah. Bahkan ia menganggap bahwa keberhasilan itu adalah hasil jerih payah dirinya sendiri. Sebaliknya, saat ia gagal, ia kecewa karenanya. Bahkan berburuk sangka kepada Allah. Padahal, rasa kecewa, sedih, dan kesal itu lahir karena manusia terlalu berharap bahwa kehendak Allah harus selalu cocok dengan keinginanya. Jelas dalam hal ini ia melupakan sikap sabar dan syukur nikmat. Karenanya, beruntunglah orang yang memiliki sikap sabar ketika musibah datang menimpa dan memiliki syukur ketika keberuntungan datang menerpa. Dan dari sini pulalah kita tahu bahwa antara sabar dan syukur merupakan dua hal yang saling beriringan, berkaitan satu sama lain.

Ulama tasawwuf terdahulu, mereka membagi-bagi syukur itu atas tiga bagian yaitu:

a. Syukur dengan hati
Syukur pada hati; maksudnya adalah kita meyakini, menyadari, mengetahui bahwa segala nikmat itu bersumber dan bermuara dari Allah SWT.

b. Syukur dengan lisan
Adapun syukur dengan lisan adalah penilaian hati, getaran hati yang menjalar kepada anggota badan melalui mulutnya yang senantiasa basah, memuji nikmat-Nya dan menyebut nama Allah berupa wirid dan dzikir seperti tahmid, takbir, tasbih dan bentuk puji-pujian yang lain terhadap Allah. Termasuk dalam katagori syukur pada lisan ini ialah seorang yang sentiasa memuji-muji nikmat Allah di hadapan manusia lainya, mengajak manusia untuk sama-sama bersyukur dan menzhohirkan kesyukuran itu melalui ibadat dan majlis-majlis ilmu yang bertujuan untuk mengajak manusia supaya taat dan patuh kepada Allah Ta’ala.

c. Syukur dengan seluruh anggota badan
Selanjutnya yang termasuk dengan bersyukur pada seluruh anggota adalah kita telah menyadari bahwa seluruh anggota badan, jiwa dan raga milik Allah semata. Kemudian kita menggunakan dan memakainya untuk hal-hal kebaikan juga. Dari mulai mata, telinga, tangan, kaki, mulut dan sebagainya itu semua milik Allah dan kita harus menggunakannya untuk keridhoan Allah juga.

Itulah tadi bentuk-bentuk kesyukuran, maka hendaknya kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah yakni dengan terus memuji, baik itu dengan hati, lisan ataupun anggota badan. Maka syukur nikmat bisa berarti bahwa kita sentiasa ingat, sadar, memahami, mengerti, mengucapkan, melaksanakan dan senantiasa memandang kepada Yang Memberi Nikmat yaitu Allah SWT. Dan barang siapa yang mensyukuri nikmat-Nya, maka Allah pun akan membalasnya.

Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.s. Ibrahim: 7)

Inilah salah satu sikap dari orang-orang yang beriman. Mereka menyadari kelemahan mereka, di hadapan Allah, mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri. Karena orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, mereka juga bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepahaman, wawasan, dan kekuatan yang dikaruniakan kepada mereka. Mereka bersyukur karena telah dibimbing dalam kebenaran.

Syukur dan sabar adalah kunci bagi meningkatnya keimanan seseorang pada Allah SWT. Berbagai sarana telah disediakan bagi tumbuhnya rasa syukur dan sabar dalam diri, baik berupa kenikmatan ataupun ujian. Syukur dan sabar juga merupakan sarana untuk meningkatkan kwalitas diri agar lebih berharga dalam pandangan Allah SWT.

Keindahan orang-orang yang memiliki pribadi syukur dan sabar akan tampak dalam pola hidup kesehariannya. Ia tidak akan memiliki sikap sombong meskipun bergelimangan harta dan kemewahan. Pribadinya terasa sejuk dan penuh keakraban. Namun demikian, ia juga penuh dengan kegigihan untuk tetap berjuang di jalan Allah untuk meraih keridhaan-Nya. Sungguh indah pribadi-pribadi yang memiliki sifat syukur dan sabar dalam dirinya, sehingga tidak tampak sama sekali dalam dirinya penyesalan dalam penderitaan, rasa putus asa dalam ujian. Karena keindahan pribadinya itulah, Allah merelakan diri-Nya duduk bersama golongan orang-orang seperti ini.

Allah SWT berfirman:
“…Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Demikianlah urgensi sabar dan syukur. Keduanya akan membuat manusia menjadi pribadi yang menarik dan mempersona bagi orang-orang yang di sekitarnya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang yang memiliki sifat ini, sehingga kemuliaan diri akan mengiringi kita selamanya.
Wa Allahu ‘alamu bi showaab.

Ustadz Jaya Rukmana 

Pesantren Virtual – “Pondok Pesantren era Digital”
Website: http://www.pesantre nvirtual. com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: