Bershalawat dengan Syair dan Musik

Barzanjian 

Shallallaahu ‘alaa Muhammad
Shallallaahu ‘alaihi wasallam
Shallallaahu ‘alaa Muhammad
Shallallaahu ‘alaihi wasallam

SHALAWAT  yang dilantunkan jamaah itu terdengar hingga seluruh penjuru Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Atmosfer kekhusyukan begitu terasa hingga kalbu, pada acara pembacaan Shalawat Barzanji, Selasa (11/3) malam di ruang shalat utama Masjid Agung itu. Napas imani makin kuat tatkala syair-syair puisi religius Al Barzanji yang indah dilantunkan.

Usai membaca shalawat, mereka semua bergegas berdiri. Lima orang laki-laki menepuk alat musik terbang, dan musik khas padang pasir ini pun mengalun syahdu mengiringi bacaan Shalawat Barzanji hingga paripurna.
Ya, inilah cara Masjid Agung Jateng memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW. Maulud berarti hari kelahiran Nabi Muhammad. Sejak tanggal 1-12 Rabul Awal atau 9-19 Maret, shalawat ini akan terus dikumandangkan setelah shalat maghrib hingga menjelang shalat Isya.

“Yang dibaca adalah doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad yang dilafalkan dengan irama atau nada yang biasa dilantunkan,” ujar ketua panitia peringatan peringatan Maulid Nabi Muhammad MAJT, H Ahmad Izzudin MAg.

Kitab Kalung Permata

Shalawat Barzanji diangkat dari sebuah karya sastra yang memuat sejarah kehidupan Nabi Muhammad, dengan judul Al Barzanji. Nama Barzanji diambil dari nama pengarangnya yaitu Syekh Ja’far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim.

Ia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya Syekh Ja’far al-Barzanji sebenarnya berjudul ‘Iqd al-Jawahir yang berarti kalung permata. Namun kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Ahmad Izzudin memaparkan, syair-syair Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad. Mulai dari silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, diangkat menjadi rasul, hingga perjalanan kenabiannya termasuk tentang turunnya wahyu di Gua Hira, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang kemudian ditentukan sebagai malam penuh berkah (Lailatul Qadar).
Kitab ini disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad, agar umat Islam meneladani kepribadian Rasulullah. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia, serta bahasa Arab yang indah dalam bentuk puisi dan prosa juga musik kasidah yang membuat perenungan mendalam buat penikmatnya.

“Diharapkan, dengan membaca shalawat ini kita bisa mengikuti semangat Nabi yang bisa memberi manfaat kepada orang lain. Sekaligus mengingatkan bahwa kita bisa menjadi Islam, karena risalah Nabi,” tuturnya. (Fani Ayudea-41)

13 Maret 2008 © 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: