Akal Tidak Membawa Kebahagiaan

  • KH. Masbuhin Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin

Sebagai orang muslim yang mu’min kita harus memahami bahwa kita adalah hamba Allah. Kita adalah pengabdi kepada Allah. Allah adalah tuhan kita yang menciptakan kita dan memberikan kepada kita kehidupan di dunia ini. Sebagai seorang hamba kita harus mematuhi perintah tuhannya. Menurut syari’ah kita harus menjalankan segala yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah. Kepada segala titah Allah kepada kita harus kita sikapi dengan sami’na wa atho’na. Tak boleh ada kata membantah sedikitpun kepada perintah Tuhan. Karena Allah sebagai pencipta memegang otoritas tertinggi dalam kehidupan ini.

Disinilah letak kehambaan kita diuji. Apakah kita termasuk hamba Allah yang to’at atau hamba Allah yang maksiat kepada Nya. Apakah kita termasuk hamba yang bintang atau hamba yang binatang. Batasannya terletak pada ketaatan dan kepatuhan kita. Bila kita patuh dan taat pada Allah, menjalankan syari’at-syari’at Islam, maka kita termasuk hamba yang masih menyadari tentang kemanusiaan dan kehambaan kita. Namun sebaliknya bila kita selalu berbuat maksiat kepada Allah dan tidak menjalankan syari’at-syari’atnya maka kita termasuk orang yang belum menyadari tugas dan fungsi kita sebagai hamba dan manusia di dunia ini. Bahkan oleh Allah orang-orang yang tidak fungsi dan perannya sebagai manusia dan kehambannya sehingga mengabaikan tugasnya sebagai manusai dan kehambaannya maka ia tak lebih dari seekor binatang.

Dunia tak lebih hanyalah sebuah penjara bagi kehidupan orang-orang mukmin. Addunya sijnul mu’min. Selain mu’min kebebasan di dunia adalah miliknya. Bila ada seorang mu’min yang melakukan kebebasan tanpa batas maka perlu dipertanyakan kapasitas kemukminannya. Aturan-aturan agama menjadi pengikat bagi terarahnya kehidupan umat muslim menuju kearah kehidupan yang Islami. Begitu indahnya hidup ini bila semuanya tertib dan teratur. Islam sungguh memperhatikan kepada kehidupan hamba-hambanya. Seluruh lini kehidupan umat manusia telah diatur dalam ajaran-ajaran Islam. Segala aktifitas manusia sehari-hari diatur sedemikian rupa oleh Islam semata-mata hal ini untuk membimbing manusia menuju ke arah kehidupan yang tertib dan teratur. Justru dengan aturan itulah manusia di tuntut untuk menuju hidup bahagia.

Namun banyak orang yang beranggapan keliru, mereka beranggapan bahwa dunia ini bebas, sebebas akal kita mampu menjangkau. Sejauh tindakan itu Rasional, Logis, Masuk akal, maka tindakan itu benar menurut manusia.

Perlu diketahui bahasa akal manusia ada batasnya, orang tak selamanya mampu menjangkau rahasia dibalik perintah Allah. Begitu banyak ciptaan Allah yang manusia sendiri lemah untuk melacaknya. Banyak sekali perintah Allah yang manusia sendiri tak akan mampu mencari jawab kemanfaatannya.

Siapapun tahu Umar Bin Khottob. Betapa cerdas dan inteleknya dia, Umar sangat dikenal dengan keteguhan prinsipnya. Tak mudah menggoyahkan keteguhan Umar. Namun suatu tempo ia melakukan sebuah pekerjaan remeh yang bagi Umar tak masuk akal: mencium Ka’bah, namun dilakukannya. Mengapa, karena patuh pada Rosul. Sebuah pemegang otoritas syari’ah dihadapan Rosul, Umar Si cerdik cendekia itu luluh, mengapa? Karena ia tahu bahwa yang dilakukan Rosul adalah benar. Dan itu adalah wahyu, dibalik Ka’bah itu tersirat sebuah rahasia yang Umar sendiri tak tahu jawabnya. Hingga dengan nada menolak dia mengatakan; Andaikan bukan Rosulullah yang menyuruhnya, Aku tak akan melakukan.

Kisah di atas mengisahkan sebuah kesimpulan. Bahwa kebebasan Rasional tak selamanya dapat dibenarkan. Kebebasan akal akan dipagari oleh aturan-aturan Agama, syari’ah dan ajaran-ajaran Allah. Akal tak dapat melarikan jawaban-jawaban bagi suriyah (kerahasiaan) aturan-aturan Allah yang oleh sebab itu akal harus tunduk kepada ajaran Agama.

Itulah islam : pasrah, tunduk dan menyerahkan sepenuhnya kepada aturan-aturan Allah. Termasuk juga memasrahkan akal untuk menuruti apa kata Tuhan. Karena keterbatasan akal itulah Alah mengutus seorang Rosul. Fugsinya antara lain menjadi penjelas ajaran-ajaran Allah kepada manusia, Rosul ditugaskan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang dari umat manusia mengenai problematika Agama yang melilit kehidupan umat.

Karena keterbatasan akal itulah jangan sekali-kali mengagung-agungkan akal. Akal, dalam persoalan kehidupan harus diletakkan setelah al-Qur’an dan Hadits. Menomorsatukan akal sama halnya dengan mengkultuskan kesemuannya. Karena akal memang bersifat semu, yang benar hanya ajaran-ajaran Agama. Apalagi bila kita sadar akan pertanggung jawaban kelak di Akhirat. Dimana semua perbuatan manusia akan dilaporkan kepada Tuhannya.

Semua telah mafhum bahwa kelak akan ada kehidupan lagi setelah kematian. Pada fase kehidupan itu seluruh insan akan memberikan catatan-catatan kehidupannya. Pada fase inilah manusia akan mencari pertolongan masing-masing. Hanya syafa’at dari pada kekasih Allah yang mampu menolong manusia dari jurang neraka. Disinilah letak pentingnya menggantungkan amal kita kepada para Rosul, para pendahulu kita, sahabat dan para kekasih Allah. Mengikuti mereka berarti berupaya mengharapkan syafa’at dari mereka kelak, akal kita hanyalah representasi dari nafsu kita. Mengikuti akal (dengan melampaui ketetapan Allah) berarti membawa kita ke arah kesesatan, karena ia nafsu. Bukan kebahagiaan, karena kebahagiaan dapat diraih kelak ketika syafa’at para kekasih Allah diturunkan kepada kita melalui kepatuhan sam’an wa thoatan, ketundukan dan kenurutan kita pada ajaran-ajaran Muhammad, sahabat yang kita kenal dengan Ahlussunnah wal jama’ah.

Apa yang telah dibakukan oleh para salafus sholih merupakan harga mati yang tak boleh ditawar. Hal ini bila kita menginginkan kebahagiaan. Bukan apa yang diinginkan oleh akal. Akal tak mampu membawa kepada kebahagiaan.

Sekarang terserah pada diri masing-masing. Bila masih cinta, sayang dan taat pada Guru, atau bila masih menginginkan pertolongan kelak dihadapan Allah nanti, maka ikutilah apa yang dikatakan oleh Agama, membuat aturan sendiri menurut kehendak akalnya. Logat akal manusia terbatas, sering salah dan tak mampu membawa ke arah kebahagiaan!
Wallahu a’lam bisshawab.

http://www.mambaussholihin.com/tausyiyah/index.php?nomor=3

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    zhaky said,

    kerennnnnnnnnn!

  2. 2

    aris said,

    trkdng akal mnyesatkan….ALLAHUAKBAR


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: