Archive for Agustus, 2008

Doa Ketika di Suatu Majelis

Sabda Nabi Muhammad saw:
“Bila umatku hadiri suatu majelis, jangan sekali-kali tinggalkan majelis sebelum tiga kali baca doa (artinya): ‘Maha Suci Engkau, wahai Allah, dengan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Ampunilah dosa-dosaku dan terimalah taubatku.’ Jika majelis itu banyak kebaikan, doa tadi menyegelkan kebaikan. Jika majelis itu banyak keburukan, doa tadi jadi penghapus dosa-dosa selama di dalam majelis.”
{Diriwayatkan dari Abu Hurairah}

ABU YAZID al Busthami, seorang shalihin, lakukan munajat dengan sepenuh hati. Jiwanya sangat tenang, hatinya sangat sejuk dan akalnya membumbung bak ke Arsy. Memercik dalam perasaannya, kiranya di sinilah kedudukan Rasulullah saw. Semoga kelak aku bertetangga dengan beliau di surga. Lalu beberapa saat di dalam hati Abu Yazid terdesir seruan, ‘Hai Abu Yazid. Sungguh budak si Fulan yang bertempat tinggal di desa anu, kelak akan jadi tetanggamu di surga.” Desiran hati tersebut permenungan yang tak habis-habis bagi Abu Yazid. Ia bertolak hendak mencari keberadaan budak si Fulan.
Di sana Abu Yazid mencari. Orang-orang yang ditanyai memandangnya ganjil, “Kenapa engkau temui seorang fasiq yang tenggelam dalam minuman haram? Menilik cahaya wajahmu, tentulah kau ini termasuk orang shalih.” Bagaimana pun, keterangan orang-orang ini ciutkan semangat Abu Yazid, barangkali desiran hati itu dari bisikan setan. Ia hampir memutar badan kembali ke kampung halamannya. Tetapi, pikirnya, jauh sudah dan susah payah aku datang hingga sini, masak aku berbalik pulang padahal wajah budak itu belum kulihat. Abu Yazid putuskan lanjutkan pencarian, “Di manakah budak si Fulan berada kini?” Orang-orang menunjuk, “Sekarang dia di kerumunan orang minum-minum khamr itu.”

Abu Yazid melangkah ke tempat yang ditunjuk. Di sana, budak si Fulan duduk-duduk reriungan di antara empat puluhan orang yang mereguk khamr. Pencarian ini benar-benar sia-sia, Abu Yazid sangat kecewa. Ia kecele dan putuskan pulang. Abu Yazid putar badan.
Tiba-tiba, “Abu Yazid. Kenapa kau tidak singgah?”, budak si Fulan menegur, “Engkau berangkat dari tempat teramat jauh dan bersusah payah jalan hingga tempat ini hendak lihat tetanggamu kelak di surga. Berhasil bertemu, engkau malah balik tanpa mengucap salam, tanpa ada pembicaraan dan tanpa ada perjumpaan.” Abu Yazid terkejut.
Budak si Fulan cairkan kebingungannya, “Ya Abu Yazid. Engkau tidak perlu bingung kenapa aku bisa mengetahui kedatanganmu. Tak ada yang mencengangkan. Dzat yang gerakkan dirimu datang ke sini telah beri tahu diriku. Mari, masuk dan duduklah bersama kami barang sebentar.”
Abu Yazid memasuki majelis, canggung, “Ya Fulan. Ada apa dengan semua ini?” Si Fulan puin menerangkan, “Tidakkah kau tahu, masuk surga itu berombongan? Di sini dulu ada delapan puluh orang yang gemar reguk khamr. Aku bimbing mereka lalu empat puluh orang telah bertaubat tinggalkan kefasiqan ini. Mereka itulah teman-temanku kelak di surga. Kini tinggal empat puluh orang belum keluar dari kegemaran fasiq itu. Wahai tetanggaku di surga kelak, karena kau telah hadir di sini, giliran tugasmu bimbing mereka tercegah dari berbuat fasiq.”
Percakapan dua orang bertetanggaan di surga itu didengar empat puluh orang pemabuk yang ada. Mereka jadi tahu, orang yang baru datang itu ternyata Abu Yazid al Busthami, sang waliyullah. Kehadirannya bawa berkah besar, mereka segera bertaubat. Jumlah mereka sekarang delapan puluh dua orang, yang kelak bertetanggaan di surga. Majelis itu terhindarkan siksa Allah Ta’ala sebab Abu Yazid dan budak si Fulan tak pernah tinggalkan bacaan doa majelis seperti di ajarkan Rasulullah saw.

http://lidahwali.com/index.php?option=com_content&task=view&id=210&Itemid=9

Iklan

Leave a comment »

Menggapai Surga Dengan Rahmat Allah

Di zaman Bani Israil, ada cerita tentang seseorang yang sejak kecil hingga akhir hidupnya, selalu dipenuhi dengan ibadah, waktunya tidak ada yang terbuang percuma, ia berkhalwat menjauhkan diri dari keramaian dunia semata mata untuk beribadah, maka bisa dibayangkan betapa banyak pahala yang dia peroleh. Ketika dia wafat, Allah pun memasukkannya ke Surga dengan rahmat-Nya. Setelah si Fulan ini tahu bahwa ia masuk surga bukan karena amalnya tetapi karena rahmat Allah semata, diapun “protes” kepada Allah. “Ya Allah, mengapa saya masuk surga karena rahmat-Mu, kenapa bukan karena amal saya. Bukankah saya telah menghabiskan umur hanya untuk beribadah dan seharusnya saya masuk surga karena pahala-pahala yang saya peroleh dari amal-amal saya ? Allah berfirman, “Rupanya kamu tidak puas dengan apa yang telah Aku berikan kepadamu ? Baiklah, sekarang Aku akan hitung amal-amal ibadah yang telah kamu lakukan.

Memang pahala yang kamu peroleh sangat besar bahkan lebih besar dari gunung, tetapi ada beberapa kewajiban yang belum kamu laksanakan diantaranya mensyukuri segala nikmat-nikmat-Ku. Pertama mulai kuhitung dari mata. Bukankah dengan rahmat-Ku berupa mata kamu bisa melihat dan membaca sehingga kamu memperoleh ilmu yang bisa kamu gunakan untuk ibadah. Dengan mata pula kamu bisa melihat-lihat kebesaran-Ku sehingga kamu memuji-Ku yang menyebabkan kamu mendapat limpahan pahala dari-Ku. Sekarang seberapa syukurmu atas nikmat-Ku yang berupa mata tadi. Bukankah pahala ibadahmu yang melebihi gunung tadi belum sebanding dengan nikmat yang Kuberikan ?,meski itu baru ditimbang hanya dengan nikmat mata saja ?, belum yang lain. Jika tumpuanmu ke surga-Ku adalah hanya amalmu, bukankah neraka lebih pantas menjadi tempatmu ? Orang itu kemudian memohon ampun kepada Allah seraya mengakui bahwa dia masuk surga hakekatnya adalah karena rahmat Allah Swt. semata, walaupun secara syariat adalah karena amal ibadah yang dilakukan dan dosa-dosa yang ditingalkan. Sebagaimana sabda Rasulallah Saw, dari Abi Hurairoh Ra berkata, Rasulallah Saw bersada, “Saling mendekatlah kalian kepada Allah Swt dan berjalanlah dengan lurus dan ketahuilah bahwa tidak ada seorangpun diantara kamu sekalian yang selamat karena amalnya. Para sahabat bertanya “Tidak juga tuan, ya Rasulallah ? Rasululah Saw. menjawab, “Tidak juga saya, kecuali jika Allah Swt melimpahkan rahmat dan karunianya”. (HR. Muslim).

Alhamdulillahi Rabbil Alamin adalah sebuah kata pujian yang memang pada hakikatnya hanya pantas untuk Allah semata. Walapun secara syariat pujian itu terbagi menjadi empat bagian :

1- Allah memuji dzatnya sendiri seperti Subhanallah, Maha suci Allah. Karena memang Allahlah Dzat yang Maha Suci, sehingga Dia punya hak untuk dipuji dan memuji Dzatnya sendiri.

2- Pujian Allah kepada mahkluk seperti Allah memuji Rasulallah Saw. pada hakikatnya tetap Allah yang memiliki pujian tersebut karena Allah lah yang menciptakan dan menjadikan Rasulallah Saw. pantas dipuji.

3- Pujian Makhluk Kepada Allah, seperti seseorang yang mengucapkan Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Karena memang semuanya selain Allah pada hakekatnya adalah kecil.

4- Pujian Mahkluk kepada makhluk lainnya. Seperti kita memuji teman yang rajin beribadah, dan berahlaqul karimah, pada hakekatnya kita memuji Allah, karena dia beribadah dan berakhalaqul karimah adalah karena rahmat Allah semata.

Oleh sebab itu sangatlah pantas apabila dalam mencari kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akherat tidak semata bergantung pada amal ibadah yang dilakukan melainkan bergantung pada rahmat Allah. Keterangan ini bukan bermaksud membuat seseorang pesimis atas amal-amalnya sehingga malas melakukan ibadah, akan tetapi justru mengajak manusia agar sadar bahwa sesungguhnya di dalam beramal haruslah ridlo dan ikhlas dengan mengharap rahmat Allah. Karena Ridlo dari Allah adalah segala-galanya. Semoga bermanfa’at amin (H. Jakfar Al Musawa)

Update : 16 / Februari / 2006 Edisi 19 Th. 2-2005M/1426H

silakan mengutip dengan mencantumkan nama almihrab.com

Comments (6) »