KH Muntaha Alhafidz

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Belum lagi kering duka atas musibah kemanusiaan gelombang tsunami di Aceh, India, Srilangka dan negara-negara tetangga lainnya, hari ini duka bertambah: KH Muntaha Alhafidz telah wafat, Rabu, 29 Desember 2004. KH Muntaha Alhafidz adalah pengasuh Pondok Pesantren Al Asy’ariah, Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah. Beliau adalah guru, ulama panutan, dan orang yang sangat kami cintai.

Membaca berita duka ini, saya sempat terpaku untuk beberapa saat. Berat menahan kelopak mata untuk tidak menumpahkan air mata. Rasa kehilangan dan kegersangan tiba-tiba menyergap ruang batin saya yang paling dalam. Hampa.

Wafatnya KH Muntaha Alhafidz telah meninggalkan ruang kosong dalam diri saya yang mungkin sulit akan terisi untuk jangka waktu yang lama. Guru kami ini, KH Muntaha Alhafidz, berangkat dari takzim dan kecintaan yang mendalam, kami panggil dengan Mbah Mun. Ulama sepuh, karismatik, dan pernah dikhoskan oleh Abdurrahman “Gus Dur” Wahid.

Sosok Mbah Mun adalah sosok istimewa di keluarga saya. Sejak masih di bangku SMP, yang saya habiskan di kampung sendiri, Abah saya selalu berkata: “Selepas SMP kamu harus ke Kalibeber, ngaji sama Mbah Mun.”
“Kenapa saya harus jauh-jauh mondok ke daerah lereng pegunungan Dieng itu?” bantah saya.
“Kalau kita akan ngaji, carilah guru yang tua, soleh, alim, dan wara’.” Jawab Abah. Waktu itu saya tidak tahu apa makna kriteria-kriteria tersebut.
“Mbah Muntaha ini,” lanjut Abah, “juga seorang penghafal Al Qur’an, Hafidz, yang tidak saja mberkahi, tapi karena saya juga berharap kamu akan menjadi seorang Hafidz kelak.” Saya mengiyakan, dan berangkat. Satu tahun berikutnya kakak saya menyusul. Saya masuk SMA TAQ (Takhasus Al Qur’an), sedang kakak saya masuk IIQ (Institut Ilmu Al Qur’an; sekarang sudah dirubah menjadi UNSIQ, Universitas Sains Al-Qur’an). Tahun-tahun berikutnya menyusul adik-adik saya.

Pada tahun awal kedatangan saya di Kalibeber, kebetulan, Mbah Muntaha sedang mendirikan SMP dan SMA TAQ. Pada tahun-tahun sebelumnya, Mbah Mun baru mendirikan IIQ Jawa Tengah. Respon masyarakat di daerah Wonosobo dan sekitarnya sangat luar biasa. Untuk kelas pertama SMA TAQ saja, angkatan pertama terdaftar sebanyak tujuh kelas, dengan setiap kelasnya tidak kurang dari 45-an siswa. Saya termasuk angkatan pertama SMA TAQ tersebut. SMP TAQ dengan lima kelas. Pada tahun-tahun berikutnya, antusiasme masyarakat semakin tinggi, SMP dan SMA TAQ dijejali dengan siswa baru dari berbagai pelosok Tanah Air. Pada masa itu tidak kurang 16 propinsi tercatat sebagai daerah asal santri.

Setelah beberapa saat di Kalibeber, saya baru bisa memahami kriteria-kriteria yang Abah saya ceritakan. Rupanya, kriteria-kriteria tersebut tercantum di sebuah kitab tentang tata cara dan adab belajar kalangan pesantren, Ta’limul Muta’alim fi Adab al Ta’allum, kriteria yang menjadi patokan para Nahdliyin dalam mengirimkan putra-putrinya ke sebuah pesantren. Dan saya baru tahu, semua kriteria-kriteria yang Abah saya sebut betul-betul semuanya ada pada Mbah Mun.

Selain itu, sifat menonjol Guru kami ini adalah murah hati. Kesejahteraan warga setempat menjadi perhatian khusus Mbah Muntaha. Strategi ekonomi Mbah Muntaha dalam memberdayakan warga telah berhasil. Dengan berduyun-duyunnya ribuan santri yang datang mondok, pelan-pelan, ekonomi warga daerah Kalibeber dan sekitarnya menjadi makin terangkat. Arus uang masuk dari para wali santri ke Kalibeber tidak kemana-mana, tapi ke brangkas warga Kalibeber. Mbah Mun melarang pihak pesantren membuat dapur umum. “Biarkan para santri makan di warung-warung dan di rumah warga, atau memasak sendiri,” ujar Mbah Mun suatu ketika. Ini sifat panutan Mbah Muntaha yang sangat membekas kuat di benak saya: perilaku zuhud, ikhlas dan berkhidmah untuk umat. Dengan makin bertambahnya jumlah penduduk Kalibeber, strategi ini adalah salah satu strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat yang tepat. Sekarang ini, tenaga kerja di daerah tersebut terserap di lembaga pendidikan tersebut. Dulu, ketika penduduk Kalibeber belum banyak, Mbah Muntaha cukup dengan menyantuni saja, dan Mbah Muntaha sendiri mencukupkan diri dengan pesantren khusus penghafal Al Qur’annya yang sederhana, pesantren Al Asy’ariah.

Pesantren Al Asy’ariyah adalah sebuah pesantren tua. Mbah Muntaha merupakan generasi ketiga pemegang pesantren tersebut. Pendiri pesantren ini adalah Kyai Abdurrahman, ulama seperjuangan Pangeran Diponegoro.

Pada saat Diponegoro ditangkap oleh Belanda, para pengikutnya dikejar-kejar, Mbah Abdurrahman berhasil meloloskan diri, dan bersembunyi di lereng pegunungan Dieng –kelak, daerah ini menjadi desa Kalibeber sekarang. Di desa ini Mbah Abdurrahman menyebarkan dan mengajarkan Islam. Akhirnya, ketika para santri mulai berdatangan, cikal bakal pesantren Al Asy’ariyah berdiri.

Generasi kedua pesantren ini diasuh oleh sang putra, Kyai Asy’ari –nama yang kelak diabadikan oleh Mbah Muntaha untuk nama pesantren tersebut. Ternyata, pemilihan nama tersebut, bukan tanpa sebab. Tetapi karena kesan mendalam Mbah Muntaha atas perjuangan Mbah Asy’ari yang gigih membela rakyat dan Islam, terutama dalam konfrontasinya dengan Belanda.

Pada masa kemerdekaan, karena kecintaan Mbah Asy’ari terhadap rakyat dengan advokasi-advokasi kerasnya, dan kecintaannya terhadap kemerdekaan dan Tanah Air, Belanda merasa gerah. Mbah Asy’ari dikejar-kejar. Untuk menghindari penangkapan Belanda, Mbah Asy’ari mengungsi ke daerah lereng terjal pegunungan Dieng yang sangat sulit dijangkau orang, Dero Duwur. Belum sempat kembali lagi ke Kalibeber, Mbah Asy’ari terserang sakit, dan wafat di tempat persembunyian tersebut. Setiap menjelang Ramadhan, sudah menjadi tradisi, para santri Kalibeber diwajibkan untuk napak tilas perjuangan berat Mbah Asy’ari ini, dan sekaligus berziarah ke makam beliau. Bagi saya, tradisi napak tilas ini adalah sebuah tradisi yang sangat bermakna. Pada saat-saat napak tilas tersebut semangat patriotisme seakan-akan meledak. Luar biasa.

Sepeninggal Mbah Asy’ari, sebagai putra tertua, Mbah Muntaha mengambil alih estafet kepemimpinan pesantren warisan Mbah Abdurrahman tersebut, dan dirubah-namakan menjadi Al Asyari’ah. Pesantren ini tetap melanjutkan tradisinya sebagai pesantren penghafal Al Qur’an. Mbah Mun, selain mendapatkan ijazah hafidz dari beberapa kyai ternama pada masanya, juga berguru ke beberapa ulama besar pada zamannya.

Bagi Mbah Mun, seperti yang sering diceritakan kepada kami, saat-saat paling berkesan adalah saat mondok di Kendal. Di pesantren ini, tidak saja diajarkan hidup sederhana, wara’ dan zuhud, tapi juga karena berat perjalanan yang harus di tempuh. Pada suatu masa, untuk bisa mencapai daerah Kendal, dari Wonosobo Mbah Muntaha harus melewati daerah angker Alas Roban, yang masa itu terkenal sebagai pusat perampok. Perjalanan ini dilewati Mbah Mun dengan berjalan kaki. Pada masa lain, Mbah Muntaha juga melewati jalan lain, menerobos pegunungan Dieng, dari lereng sebelah selatan, hingga menembus ke lereng sebelah utara hingga sampai di daerah Kendal. Lagi-lagi, perjalanan dengan berjalan kaki. Sebuah perjalanan yang sangat mengesankan, begitu beliau menggambarkan. 14 tahun silam, kami para santri Kalibeber, putra dan putri, diwajibkan untuk berangkat ke puncak pegunungan Dieng, ribuan santri, berangkat dengan berkendaraan, dan pulang ke Kalibeber berpuluh-puluh kilometer dengan berjalan kaki, agar merasakan bagaimana masa-masa sulit beliau dalam belajar. Sungguh perjalanan musafir belajar yang melelahkan, dan –satu lagi– mengasyikkan. Di samping itu, pemandangan indah dan keajaiban-keajaiban alam, kawah Si Kidang misalnya, dapat langsung kami saksikan selama napak tilas ini. Kami terpesona dengan kebesaran Allah SWT. Subhanallah. Maha Suci Allah dengan segala ciptaan-Nya.

Dari kacamata tahun 2004, 14 tahun kemudian, masa-masa tersebut betul-betul indah. Sangat mengesankan. Tak terasa waktu 14 tahun bergerak begitu cepat. Pengalaman-pengalaman semacam itu rasa-rasanya baru kemaren berlangsung.

Saya heran, rentang hidup yang sudah cukup lama ini, masa-masa yang hanya berlangsung beberapa tahun di Kalibeber begitu sulit untuk dilupakan. Mungkin ini berkat ketulusan dan keikhlasan Mbah Muntaha dalam mendidik kami. Sifat wira’i dan zuhud Mbah Muntaha begitu membekas di memori saya, sebuah tauladan kesalehan para ulama-ulama sepuh. Bahkan kepenatan belajar dari pagi hingga malam yang tidak ada hentinya, seakan tidak kami rasakan lagi. Saya yakin, sekali lagi, semua ini berkat keikhlasan, ketulusan dan rasa sayang beliau ke kami.

Di bawah dingin udara gunung, kami dibangunkan jam 4 pagi. Berat, tapi wajib. Salat sunah, dan menunggu salat berjamaah di Masjid pondok. Setiap salat Subuh, dapat dipastikan, imamnya adalah Mbah Muntaha sendiri. Sedangkan untuk salat rawatib lainnya adalah Mbah Mus, adik Mbah Mun.

Satu hal yang bisa saya tandai dari Mbah Muntaha, dalam setiap salat berjamaah Subuh, beliau akan jadi imam, bercelana training, berjubah longgar, berpeci putih, dan sorban bermotif hitam-putih seperti milik Yaser Arafat. Tanda khas lain Mbah Muntaha adalah, jika menjadi imam salat beliau akan secepat kilat, tuma’ninah dalam salat tidak sampai beberapa detik. Tetapi ketika salat sendirian, Mbah Mun akan berlama-lama rukuk dan sujud. Suatu saat seorang tamu iseng bertanya: “Mbah Mun, Panjenengan, kalau jadi imam, kok, begitu cepat. Kenapa?”
Sambil berseloroh, Mbah Muntaha menjawab: “Saya sengaja mempercepat, biar sebelum setan sempat menggoda, kita sudah selesai salatnya.”

Tanpa salat Subuh berjamaah dengan Mbah Mun, saya merasakan, seakan-akan perputaran hari yang akan saya lewati terasa kurang. Bagaimanapun dingin udara pagi pegunungan menusuk tulang, dan serangan kantuk yang sangat hebat, karena kami sering tidur larut malam, untuk salat Subuh berjamaah di belakang Mbah Muntaha seakan rugi untuk ditinggalkan. Saya merasa, itu karena kecintaan kami kepada guru kami tersebut.

Karena kecintaan kami juga, setiap kali mencium tangan Mbah Muntaha, lega rasanya. Seolah-olah ada energi spiritual yang terserap masuk. Saya selalu bergetar setiap kali menjabat tangan itu, tangan dengan arteri menonjol di sana-sini. Bahkan, di kalangan santri beliau, ada semacam kebanggaan tersendiri jika seorang santri bisa menyucup lama tangan beliau, apalagi bisa mencium bolak-balik, bagian atas dan bagian dalam. Jika ada yang berhasil, maka si santri akan berbangga diri setengah berteriak di tengah teman-temannya bahwa dirinya baru saja mencium tangan Mbah Mun bolak-balik. Dan dalam setiap kesempatan, jika ada, kami akan berebut mencium tangan beliau. Tetapi, itu jarang. Apalagi Mbah Mun juga akan segera menarik cepat-cepat tangan beliau. Rasanya, kami ingin selalu mencium, meskipun orang-orang yang berpandangan Islam puritan mengejek itu sebagai kultus, dan karenanya syirik, bid’ah, dan dosa. Tapi kami tidak perduli; kami tidak mencium “tangan” sebenarnya, kami sedang memberikan penghormatan mendalam kepada suatu “otoritas”, dan kami juga sedang menyatakan kecintaan kami kepada pemilik tangan tersebut. Mungkinkah dunia ini tanpa otoritas dan tanpa cinta?

Setelah selesai menjadi imam salat Subuh, Mbah Mun akan segera kembali ke ndalem yang berjarak beberapa meter dari masjid. Lalu, kami mempersiapkan Al Qur’an untuk mengaji langsung dengan beliau. Beliau akan datang lagi ke masjid tak lama kemudian, mengajar. Setiap pagi para santri diajar bahasa Arab dan tafsir. Setengah jam berikutnya, giliran para santri penghafal Al Qur’an menyetor hafalan. Mbah Mun akan duduk di atas kulit bulu domba putih kering, dengan menghadapi meja pendek dan cukup lebar, bersila. Di sekeliling meja itu akan diputari para santri penghafal Qur’an dengan jumlah sekali waktu tidak kurang dari 10 orang. Jika salah seorang santri sudah selesai, santri tersebut akan mundur, dan santri berikutnya segera mengisi tempat kosong yang ada. Menariknya, meskipun dengan 10 orang santri menyetor hafalan dalam satu waktu, Mbah Muntaha bisa saja tahu siapa yang salah, dan bagian ayat mana yang tertukar-tukar. Dalam banyak kesempatan, Mbah Mun menegur bacaan mad yang saya baca kurang panjang. Saya malu. Itu pelajaran buat saya. Saya berjanji pada diri sendiri, jika besuk-besuk mau setor lagi, maka hafalan harus sudah betul-betul ngelothok.

Selesai setoran hafalan santri putra, Mbah Mun segera beranjak menuju ke pengajian santriwati, di dalam asrama putri. Model setoran hafalan Al Qur’annya tidak jauh berbeda dengan para santri putra.

Sehabis pengajian Mbah Muntaha, para santri bergegas untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke Kampus bagi mahasiswa IIQ, ke sekolah bagi siswa SMP dan SMA TAQ, dan bagi santri malas, dia akan kembali tidur pulas. Pemandangan khas pada jam-jam ini adalah, di jalanan Kalibeber menuju kompleks kampus dan sekolah SMP & SMA tampak mengalir ribuan orang dengan baju yang hampir seragam, putih-putih. Mentakjubkan. Indah.

Selain Al Qur’an, pengajaran intensif bahasa Arab sangat digalakkan. Para siswa SMP & SMA, pada sore hari akan digembleng dengan pelajaran ini. Tidak kurang dari seorang kandidat doktor dari Al Azhar, Fahmi Al-Badr, warga Mesir, didatangkan untuk penggemblengan tersebut. Beberapa tenaga pengajar alumni Timur Tengah juga memperkuat barisan ini. Saya merasa amat beruntung pernah belajar langsung dari native-speaker bahasa Arab, meskipun masih berada di tanah Jawa. Pengalaman ini makin melengkapi tekad saya untuk meneruskan tradisi berkelana belajar Mbah Muntaha.

Menjelang Maghrib, semua kegiatan mengajar istirahat. Bagi para santri yang ingin olahraga disediakan sarananya: sepak takraw, bola voli, sepak bola, dan seminggu dua kali pelajaran silat Perisai Diri. Bahkan, untuk Perisai Diri, Mbah Mun setengah mengharuskan kepada para santri untuk mengikuti. Silat, ujar Mbah Muntaha suatu ketika, sangat baik untuk kesehatan jasmani dan rohani. Dan, bagi para santri yang tidak suka berolahraga, inilah waktu untuk sejenak beristirahat. Segelintir santri-santri yang baru beranjak puber bersantai-santai di depan jendela kamar masing-masing, ganjen. Rupanya mereka sedang berpacaran jarak jauh dengan beberapa santri putri, puluhan meter di ujung sana, yang juga sedang ganjen di pintu jendela asrama putri. Anak-anak puber ini, yang ketika paginya begitu fasih membaca Qur’an, saya heran, mendadak menjadi bisu, menggerak-gerakkan jari dan bahasa isyarat lainnya ke arah sosok-sosok ganjen lainnya di ujung sana, santriwati: mengungkapkan cinta lewat bahasa Tarzan. Namun, pada umumnya, beberapa kelompok santri membentuk lingkaran tersendiri, berbicara dari hal paling sepele, soal film dan novel, hingga soal pelajaran dan perbincangan seputar politik dan isu keislaman terbaru. Untuk soal pertama, kebanyakan didominasi anak-anak SMP dan SMA, sedang untuk dua topik terakhir adalah topik pembicaraan mahasiswa IIQ. Diam-diam, saya sering menyelinap diantara kelompok terakhir ini, menjadi pendengar setia. Saya masih ingat, suatu saat diskusi berkisar seputar ide hangat Atho Mudzar: apakah Yerusalem sekarang tempat yang disebutkan dalam Al Qur’an surah Al-Isra, atau bukan. Reaksi para santri beragam. Sebuah diskusi yang sangat hangat.

Setelah menjalankan salat Maghrib berjamaah, para santri akan membentuk lingkaran-lingkaran tersendiri di Masjid. Dengan bimbingan para santri senior, mereka belajar tartil Al Qur’an. Suasana riuh rendah suara bacaan Al Qur’an bergema tidak ada henti-hentinya, sahut meyahut. Di tengah malam dingin lereng gunung Dieng, suasana tersebut membuat makin syahdu. Indah.

Salat Isya’ berjamaah tidak bisa ditinggal, harus diikuti seluruh santri. Selepas itu diteruskan dengan sekolah diniyah. Kelas-kelas dibentuk mengikuti kelas mereka di waktu pagi hari. Tetapi kelas ini bukan barang mati, bagi santri yang sudah merasa cukup bisa, dia diperbolehkan mengambil kelas yang lebih tinggi. Di kelas diniyah ini, berbagai macam kitab kuning diajarkan: Fiqh, Tafsir, Nahwu, Shorof, Akidah, Tasawuf, dan lain-lain. Di kelas ini pula kitab dasar tentang adab belajar para santri diajarkan, Ta’limul Muta’allim. Salah satu isi yang sangat membekas dari kitab ini, kami diajarkan untuk menghormati guru-guru kami seperti halnya kami menghormati ibu-bapak kami. Kami juga diajarkan mencintai guru-guru kami sebagaimana halnya kami mencintai orang tua kami. Sebuah gambaran tradisi belajar & mengajar yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Kelas diniyah ini menyudahi keseluruhan program resmi Al Asy’ariah sehari penuh. Perputaran jadwal yang ketat dan padat. Melelahkan memang, tapi semua itu sirna seketika, karena, sekali lagi, keikhlasan, ketulusan dan rasa sayang Mbah Muntaha kepada kami. Waktu-waktu sisa menjelang malam umumnya dipakai para santri untuk mengulang pelajaran-pelajaran yang seharian tadi diperoleh.

Pelajaran tambahan dalam kategori jadwal permingguan adalah pelajaran khitabah (pidato). Kelas khusus khitabah juga disediakan bagi mereka yang betul-betul ingin menjadi macan podium. Waktu untuk kelas khusus ini adalah seminggu tiga kali, diadakan selepas kelas diniyah. Karena bersifat tambahan, pesertanya sedikit. Hasil pengkaderan kelas khitabah ini, saya lihat, terbukti beberapa teman seangkatan saya sekarang telah menjadi macan podium. Menyesal saya dulu tidak ikut kelas tambahan ini. Waktu itu saya kemana? Mendengkur. Umumnya, unjuk kebolehan berpidato dipertontonkan pada hari Jum’at, di depan ribuan para santri putra dan putri yang berkumpul di aula masjid. Acara ini diadakan selepas salat Isya’. Sesekali acara ini dibuka oleh Mbah Muntaha. Di saat-saat inilah, kami bisa merasakan kedekatan dan rasa sayang Mbah Mun kepada kami. Beliau banyak bercerita tentang hidup dan kehidupan, menambah kuat semangat juang hidup kami. Petuah-petuah beliau sangat menghujam ke lubuk hati terdalam.

Tiga tahun bersama beliau, terasa sebagai masa-masa paling membahagiakan. Kalau saja tidak ingat tugas-tugas belajar lebih lanjut, ingin rasanya berlama-lama menyerap ilmu dan keteduhan, dan terus berada di bawah bimbingan Mbah Muntaha. Karena memenuhi tugas belajar ke Baghdad, Iraq, saya harus meninggalkan Kalibeber dan segala cerita suka dan duka –tentu, ada juga cerita duka, misalnya, wesel sering telat, karenanya saya sering ke warung pinggir pondok untuk “nyatet”, istilah santri Kalibeber untuk ngutang. Apalagi, hafalan Al Qur’an saya baru beberapa juz saja. Berat.

Menjelang keberangkatan ke Baghdad, Abah, kakak dan saya sendiri sowan Mbah Muntaha. Beliau memberi petuah, “Ibarat seperti tembakau, orang yang allamah, kalo tidak hafal Al Qur’an, rasanya kurang ambeg.” Meskipun Mbah Muntaha bukan perokok, tapi beliau tahu persis bagaimana memakai bahasa saya, seorang pemadat rokok berat. “Ambeg” adalah rasa tembakau yang bila dihisap terasa sangat mantap. Dan kata “allamah” sendiri berasal dari kata “alim”, arti: berilmu. Kata “allamah”, secara berseloroh, sering kami maknai dengan “mbah-mbahe pinter”. Bertahun-tahun petuah Mbah Mun ini sulit benar saya wujudkan. Sampai detik ini Al Qur’an saya hancur-hancuran. Beruntung betul kakak saya, dia dapat merampungkan Al Qur’annya di bawah bimbingan langsung Mbah Muntaha, menjadi seorang penghafal Al Qur’an, Alhafidz.

Tahun-tahun terus begulir. Kecintaan saya kepada Mbah Muntaha tidak berkurang. Setiap kali pulang kampung, saya pasti menyempatkan diri datang ke Kalibeber: sowan dan minta doa. Sowan terakhir terjadi setahun lalu. Dengan diantar salah satu pengurus pondok, saya menghadap. Mbah Muntaha gembira melihat saya datang. Tak lama kemudian beliau mendoakan. Doa yang panjang. Saya sulit menangkap isi doanya, karena beliau ucapkan dengan suara lirih. Saya mengamini, khusuk, dan terharu. Tak terasa lelehan air mata mengalir. Bahagia mendapat doa khusus dari orang yang Ikhlas dan dekat dengan Tuhan ini. Saya menggigil. Beberapa kali saya harus mengusap tetesan air mata.

Selesai berdoa, Mbah Muntaha bertanya, “Sampeyan, sekarang masih di India?”
“Betul, Mbah.” Jawab saya dengan penuh rasa hormat, menunduk.
“Waktu saya berkunjung ke Baghdad tiga tahun lalu, berziarah ke makam Sayyidina Ali dan makam Imam Hussain, putranya, kita tidak jumpa. Sampeyan sudah pergi ke India.”
“Inggih, Mbah.” Timpal saya. Seandainya saya masih di Baghdad, saya akan berkhidmah kepada Mbah Muntaha selama di sana, mengantar dan membantu beliau, ungkap saya dalam batin.
“Ini ada makanan. Yang ada cuma ini.” Ujar beliau sambil menyodorkan kue bolu warna merah kepada saya dan kepada teman pengantar saya, seorang santri senior. Padahal, saya melirik, di ruang tersebut tergeletak banyak toples untuk para tamu dengan segala macam jenis kue. Saya tidak tahu kenapa Mbah Mun bilang “cuma ini”.
“Tolong, ambilin gelas di bawah itu.” Tunjuk Mbah Muntaha, meminta pada pengurus pondok tadi untuk mengambilkan. Saya lihat ada dua gelas kosong di bawah tempat air Aqua tidak jauh dari kursi beliau.
“Isi gelas dengan Aqua itu, dan minumlah.”
Kami berdua meminumnya. Lega rasanya. Tenaga kami seakan-akan mendadak bertambah. Kedamaian menyusup pori-pori tubuh. Bahagia. Mbah Mun bercerita lumayan panjang pengalaman perjalanan beliau ke Iraq dan Cina. Beliau seakan-akan sedang mengajari kami untuk banyak-banyak melihat kebesaran ciptaan Allah di muka bumi.

Kami pamit. Masih hangat di ingatan, untuk kesekian kali saya meneteskan air mata saat memegangi tangan lembut junjungan kami tersebut. Saya menyucupnya lama, lama sekali. Kali ini Mbah Muntaha tidak lekas buru-buru menarik tangannya. Beliau membiarkan saya mengungkapkan rasa cinta saya dengan mencium berlama-lama.

Saat berpisah, rasanya berat kaki melangkah keluar dari ruang tamu tersebut. Saya masih terbawa oleh perasaan saya sendiri, terdiam. Tapi, teman saya tadi menepuk dengan riang. Saya heran, kenapa dia begitu gembira selepas kami pamitan dengan Mbah Muntaha.
“Tahukah, sampeyan, ini pengalaman pertama saya.” Ujar teman saya tersebut.
“Saya diberi oleh Mbah Mun, daharan beliau sendiri. Dan gelas yang tadi kita minum adalah gelas yang dipakai oleh Mbah Mun pribadi.”
“Pertanda apa ini?” Lanjutnya berbinar-binar.
Saya sendiri hanya terdiam. Saya sukar menangkap apa maksud ucapan dia, karena saya masih terbawa oleh perasaan sendiri. Apalagi, tidak lama lagi saya harus kembali ke India, dan saya tidak tahu kapan akan bertemu Mbah Mun lagi.

Berita tentang wafatnya Mbah Muntaha menggenapkan sudah ketakutan saya: Kapan saya bisa bertemu dan mencium lagi tangan mberkahi Mbah Mun itu? Saya sedih. Kini, kyai yang kami cintai itu telah pergi meninggalkan kami semua. Rasa-rasanya momen-momen kehidupan kami besama Mbah Mun tak akan tergantikan lagi, tak akan terulang kembali. Tapi, ingatan itu akan tetap bersama kami. Mbah Mun telah pergi, tapi Mbah Mun juga tetap tinggal dalam hati kami sebagai kenangan yang tak terhapuskan.

Allahumman-syur nafahatir ridlwani ‘alaihi
Wa amiddana bil asraril lati auda’taha ladaihi.

Ditulis oleh: Rizqon Khamami at 08:09 Friday, December 31, 2004
http://rizqonkham.blogspot.com

11 Tanggapan so far »

  1. 1

    salam silaturahmi untuk teman teman alumni pesantren wonosobo hususnya alumni tahfidz putra putri

  2. 2

    nurhadi said,

    ALLAHUMMARZUQNA WALAKUM ‘ILMAN NAFIAN WA ‘AMALAN MUTAQOBBALA WAHSYURNA WAIYYAKUM FI ZUMROTIHI.AMIN
    I feel touch with your story brother.from my deepest heart i’m proud of u. Ahsan,Hafalan Qur’annya dibenahi.Sayang kalo punya SANAD EMAS tdk kita pelihara.Tak ada kata terlambat selama hayat masih dikandung badan.
    BETTER LATE THAN NEVER.
    ILALLIGO MA’ASSALAMAH.

  3. 3

    mahrizal said,

    semoga Allah memuliakan beliau di akhirat
    semoga saya dan keluarga dikumpulkan di belakang barisan kelak di hari akhir amin….

    masih teringat di benakku wajah Beliau yang terang
    ingin rasanya kuburku di sampingnya di dero duwur
    aku ikhlas dan aku bangga jika bisa mendampingi beliau meski hanya kuburku

  4. 4

    Ahmad Suadi said,

    Mas Rizqon…terharu ana membaca ini semua, trenyuh hatiku, mengingat itu semua. Semua mengingatkan kembali memory ana disaat-saat seperti yang atum tulis; dingin pagi, setoran, kuliah dan lainnya…Semoga kita semua menjadi ahlul Qur’an selamanya. Amien…

  5. 6

    mbah qiman syafawi siot said,

    alfatihah

  6. 7

    akbar said,

    mas Rizqon Khamami mohon izin utk mengutip bbrp penggalan cerita di blog ini utk dimuat di koran Republika yah. Insya Allah hari Ahad depan, Republika akan menurunkan profil ttg mbah mun.

    Tabik
    akbar

  7. 8

    Ikhwanul muslimin said,

    Subhanallah

  8. 9

    mase said,

    kh asy’ari bin kh abdurrakhim bukan abdurrakhman

  9. 10

    Terharu campur bangga… Wonosobo mempunyai ulama seperti beliau.. Walaupun bukan alumni sy sngat mengagumi beliu. Terlebih orang tua sy asli dr kalibeber. Jd aura mbah Mun terasa sngat di dalam kehidupan kluarga kami. Allahuyarham

  10. 11

    Ganie, Indra – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia said,

    Izinkanlah saya menulis / menebar sejumlah doa, semoga Allaah SWT mengabulkan, antara lain mempercepat kebangkitan KAUM MUSLIM, memulihkan kejayaan KAUM MUSLIM, melindungi KAUM MUSLIM dari kesesatan dan memberi KAUM MUSLIM tempat yang mulia di akhirat. Aamiin yaa Allaah yaa rabbal ‘alamiin.

    Lebih dan kurang saya mohon maaf. Semoga Allaah SWT selalu mencurahkan kasih sayang kepada KAUM MUSLIM : yang hidup maupun yang mati, di dunia maupun di akhirat – KHUSUSNYA KH MUNTAHA ALHAFIDZ, IBU & BAPAK BELIAU, PONDOK PESANTREN AL ASY’ARIYAH KALIBEBER WONOSOBO – JAWA TENGAH. Aamiin yaa Allaah yaa rabbal ‘aalamiin.

    Asyhaduu anlaa ilaaha illallaah wa asyhaduu anna muhammadarrasuulullaah

    A’uudzubillaahiminasysyaithaanirrajiim

    Bismillahirrahmaanirrahiim

    Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin,
    Arrahmaanirrahiim
    Maaliki yaumiddiin,
    Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,
    Ihdinashirratal mustaqiim,
    Shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladhaaliin

    Aamiin

    Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, hamdan yuwaafi ni’amahu, wa yukafi mazidahu, ya rabbana lakal hamdu. Kama yanbaghi lii jalaali wajhika, wa ‘azhiimi sulthaanika.
    Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ajma’iin.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya, umatnya semuanya.
    Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi ajma’iin. Shalaatan tunjinaa bihaa min jamii’il-ahwaali wal aafaat. Wa taqdhii lanaa bihaa jamii’al-haajaat. Wa tuthahhiruna bihaa min jamii’is-sayyi-aat. Wa tarfa’unaa bihaa ‘indaka a’lad-darajaat. Wa tuballighuna bihaa aqshal-ghaayaati min jamii’ilkhairaati fil hayaati wa ba’dal mamaat.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya dan umatnya, shalawat yang dengannya kami selamat dari semua ketakutan dan bencana, dan Engkau sucikan kami dari semua kejahatan, Engkau angkat kami ke derajat yang tinggi di sisiMu, dan Engkau sampaikan semua cita-cita kami berupa kebaikan-kebaikan dalam hidup maupun sesudah mati.
    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa nuuril anwaar. Wa sirril asraar. Wa tiryaqil-aghyaar. Wa miftaahil baabil yasaar. Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadanil-mukhtaari wa aalihil-ath-haari wa ash-haabihil akhyaar. ‘Adada ni’amillaahi wa afdhaalih.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkah atas cahaya di antara segala cahaya, rahasia di antara segala rahasia, penetral duka, dan pembuka pintu kemudahan, junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karuniaNya.
    Allaahumma shalli shalatan kaamilah. Wa sallim salaaman taamman ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadanil-ladzii tanhallu bihil-‘uqad. Wa tanfariju bihil-kuruub. Wa tuqdhaa bihil hawaa-iju wa tunaalu bihir-raghaa-ibu wa husnul-khawaatim. Wa yustasqal-ghamaamu biwajhihil-kariim. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi’adadi kulli ma’luumin laka.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan salaam yang sempurna pula, kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, yang dengan beliau itu Engkau lenyapkan kesusahan, Engkau tunaikan segala kebutuhan, dan diperoleh segala keinginan dan akhir hidup yang baik, serta diberi minum dari awan berkat wajahMu yang mulia. Juga kepada keluarganya, sahabatnya dan umatnya dalam setiap kejapan mata dan tarikan nafas, sebanyak jumlah pengetahuan yang Engkau miliki.
    Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadinil-habiibil-mahbuub. Syaafil ‘ilali wa mufarrijil-kuruub. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi wa baarik wa sallim.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, kekasih dan yang dikasihi, (dengan izin Allah) penyembuh penyakit dan pelepas kesusahan, serta kepada keluarga, sahabat dan umatnya.
    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil-awwaliin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil-aakhirin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fin-nabiyyiin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil-mursaliin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil mala-il a’laa ilaa yaumid-diin. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi ajma’iin.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad di kalangan orang-orang terdahulu. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan orang-orang kemudian. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para nabi. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para rasul. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para arwah hingga hari kemudian, serta kepada keluarga, sahabat dan umatnya.
    Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa ruuhi Sayyidina wa Nabiyyina wa Maulaanaa Muhammad fil arwaahi, wa ‘alaa jasadihil fil ajsaadi, wa ‘alaa qabrihi fil qubuuri. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ajma’iin.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada ruh junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di alam ruh, dan kepada jasadnya di alam jasad, dan kepada kuburnya di alam kubur. Dan kepada keluarga, sahabat dan umatnya semua.
    Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ‘adada in’aamillaahi wa ifdhaalih.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya, umatnya sebanyak jumlah nikmat Allah dan karuniaNya.
    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik, ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa wa Maulaanaa Muhammadin wa ikhwaanihii minal anbiyaa-i wal mursaliin, wa azwaajihim wa aalihim wa dzurriyyaatihim wa ash-haabihim wa ummatihim ajma’iin.
    Ya Allaah, berilah shalawat serta keselamatan dan keberkahan, untuk junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad SAW dan saudara-saudaranya dari para Nabi dan Rasul, dan istri-istri mereka semua, keluarga mereka, turunan-turunan mereka, dan sahabat-sahabat dari semua Nabi dan Rasul, termasuk Sahabat-Sahabatnya Nabi Muhammad semua dan semua yang terkait dengan Nabi Muhammad SAW.
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aziizil jabbaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar ra-uufirrahiim
    Laa ilaaha illallah, subhaanal ghafuurirrahim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal kariimil hakiim
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci raja yang maha suci
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha perkasa lagi maha bijaksana
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengampun lagi maha penyayang
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mulia lagi maha bijaksana
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qawiyyil wafiyy
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal lathiifil khabiir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shamadil ma’buud
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghafuuril waduud
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal wakiilil kafiil
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kuat lagi maha memenuhi
    Tiada tuhan selain Allaah, yang maha halus lagi maha mengetahui
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang bergantung padanya segala hal lagi yang disembah
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengampun lagi maha pencinta
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha penolong lagi maha pelindung
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar raqiibil hafiizh
    Laa ilaaha illallaah, subhaanad daa-imil qaa-im
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal muhyil mumiit
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hayyil qayyuum
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal khaaliqil baari’
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengawasi lagi maha memelihara
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang hidup kekal lagi mengurus ciptaannya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menghidupkan lagi mematikan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus ciptaannya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menciptakan lagi menjadikan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aliyyil ‘azhiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal waahidil ahad
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal mu’minil muhaimin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal habiibisy syahiid
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal haliimil kariim
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha tinggi lagi maha besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha esa lagi tunggal
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memberi keamanan lagi maha memelihara
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhanyang maha mencintai lagi maha menyaksikan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha penyantun lagi maha mulia
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal awwalil qadiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal awwalil aakhir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanazh zhaahiril baathin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal kabiiril muta-‘aal
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qaadhil haajat
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang pertama lagi terdahulu
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang awal dan yang akhir
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang nyata lagi yang rahasia
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha besar lagi maha tinggi
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memenuhi semua keperluan
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil ‘arsyil ‘azhim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar rahmaanir rahiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbiyal a’laa
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal burhaanis sulthaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas samii-‘il bashiir
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menguasai singgasana yang besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha tinggi
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki bukti kekuasaan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mendengar lagi maha melihat
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal waahidil qahhaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aliimil hakiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas sattaaril ghaffaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar ramaanid dayaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal kabiiril akbar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha esa lagi maha mengalahkan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui lagi maha bijaksana
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha menutupi kesalahan lagi maha pengampun
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha agung lagi maha besar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aliimil ‘allaam
    Laa ilaaha illallaah, subhaanasy syaafil kaafi
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘azhiimil baaqii
    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shamadil ahad
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil ardhi was samaawaati
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui lagi maha memeriksa
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menyembuhkan lagi mencukupi
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha besar lagi maha kekal
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang bergantung padanya segala hal lagi esa
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghafuurisy syakuur
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘azhiimil ‘aliim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil mulki wal alakuut
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil ‘izzati wal ‘azhamah
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil haibati wal qudrah
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengampun lagi maha membalas
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha besar lagi maha mengetahui
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki kerajaan bumi dan langit
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang mempunyai keagungan dan kebesaran
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang mempunyai pengaruh dan kekuasaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil kibriyaa-i wal jabaruut
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas sattaaril ‘azhiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aalimil ghaiib
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hamidil majiid
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hakiimil qadiim
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki kebesaran dan kekuasaan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha menutupi kesalahan lagi maha besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menegtahui hal ghaib
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha terpuji lagi maha mulia
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan ang maha bijaksana lagi maha terdahulu
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qaadiris sattaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas samii-‘il ‘aliim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyil ‘azhiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘allaamis salaam
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal malikin nashiir
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kuasa lagi maha mnutupi kesalahan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mendengar lgi maha mengetahui
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui lagi maha damai
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha raja lagi maha penolong
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyir rahmaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qariibil hasanaat
    Laa ilaaha illallaah, subhaana waliyyil hasanaat
    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shabuuris sattaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaana khaaliqin nuur
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha pengasih
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha dekat kebaikannya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan maha menguasai kebaikan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan maha penyabar lagi menutupi kesalahan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yan menciptakan cahaya
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyil mu’jiz
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal faadhilisy syakuur
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyil qadim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil jalaalil mubiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal khaalishil mukhlish
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha mengalahkan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha utama lagi maha berterima kasih
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha terdahulu
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang punya keluhuran lagi maha menjelaskan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha murni lagi memurnikan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shaadiqil wa’di
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal haqqil mubiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil quwwatil matiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qawiyyil ‘aziiz
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hayyil ladzii laa yamuut
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang benar janjinya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha benar lagi maha menjelaskan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang punya kekuatan lagi maha kokoh.
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha hidup lagi tidak mati
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘allaamil ghuyuub
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas sattaaril ‘uuyuub
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil ‘aalamiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar rahmaanis sattaar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui yang ghaib
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yan maha menutupi semua cacat
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki ampunan lagi dimintai pertolongan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan semesta alam
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengasih lagi maha menutupi
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar rahiimil ghaffaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aziizil wahhaab
    Laa ilaaha illallaah, subhaana qaadiril muqtadir
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil ghufraanil haliim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana malikil mulk
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha penyayang lagi maha pengampun
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha agung lagi maha pemurah
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yangmaha kuasa lagi maha memberi kekuasaan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki semua kerajaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal baari-il mushawwir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aziizil jabbaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanallaahi ‘amma yashifun
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal jabbaaril mutakabbir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qudduusis shubbuuh
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menciptakan lagi memberi bentuk
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mulia lagi maha perkasa
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha perkasa lagi maha membangga
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan dari apa yang dianggap oleh orang kafir
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan dalam sosok dan sifat
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil malaa-ikati war ruuh
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil aalaa-I wanna’maa-i
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal malikil maqshuud
    Laa ilaaha illallaah, subhaana hannaanil mannaan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan para malaikat dan ruh
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan pemilik tanda-tanda tinggi dan nikmat
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan raja yang menjadi tujuan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengasih dan pemberi
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina aadamu ‘alaihis salaam shafiyyullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina nuuhun ‘alaihis salaam najiyyulaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina ibraahiimu ‘alaihis salaam khaliilullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina ismaa-‘iilu ‘alaihis salaam dzabiihullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina muusaa ‘alaihis salaam kaliimullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina daawuudu ‘alaihis salaam khaliifatullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina ‘iisaa ‘alaihis salaam ruuhullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina wa nabiyyina wa maulaana
    muhammadur rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Aadam AS pilihan Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Nuuh AS diselamatkan Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Ibraahiim AS teman dekat Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Ismaa-‘iil AS yang disembelih Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Muusaa AS yang diajak bicara oleh Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Daawuudu AS khalifah Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina ‘Iisaa AS ruh Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina wa nabiyyina wa maulaana Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam utusan Allaah
    Allaahummarhamnaa bibarakati tauraati sayyidina muusaa ‘alaihis salaam wa injiili sayyidina ‘iisaa ‘alaihis salaam wa zabuuri sayyidina daawuudu ‘alaihis salaam wa furqaani sayyidina wa nabiyyina wa maulaana muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam, birahmatika yaa arhamar raahimiin, walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.
    Ya Allaah, kasihilah kami dengan berkah Taurat Sayyidina Muusaa AS, Injil Sayyidina ‘Iisaa AS, Zabuur Sayyidina Daawuud AS dan al-Furqaan / al-Qur-an sayyidina wa nabiyyina wa maulaana Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam utusan Allaah, dengan kasihmu, yang maha penyayang. Dan segala puji bagi Allaah, tuhan semesta.
    ALLAAHUMMAFTAHLII HIKMATAKA WANSYUR ‘ALAYYA MIN KHAZAA INI RAHMATIKA YAA ARHAMAR-RAAHIMIIN.
    Ya Allaah bukakanlah bagiku hikmah-Mu dan limpahkanlah padaku keberkahan-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang
    RABBI INNII LIMAA ANZALTA ILAYYA MIN KHAIRIN FAQIIR.
    Ya Rabb, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.
    RABBI LAA TADZARNI FARDAN WA ANTA KHAIRUL WAARITSIN.
    Ya Allaah janganlah engkau tinggalkan aku seorang diri dan engkau sebaik-baik dzat yang mewarisi. (QS. Al-Anbiya-i’: 89).
    Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiina imaamaa.
    Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
    اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا
    “Allaahummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.
    “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.
    “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaaf: 15).
    Ya Allaah, terimalah amal saleh kami, ampunilah amal salah kami, mudahkanlah urusan kami, lindungilah kepentingan kami, ridhailah kegiatan kami, angkatlah derajat kami dan hilangkanlah masalah kami.
    Ya Allaah, tetapkanlah kami selamanya menjadi Muslim, tetapkanlah kami selamanya dalam agama yang kau ridhai – Islam, tetapkanlah kami selamanya menjadi umat dari manusia yang paling engkau muliakan – Sayyidina wa Nabiyyina wa Maulaanaa Muhammad Shallallaahu’alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi, wa baraka wassallam.
    Ya Allaah, percepatlah kebangkitan KAUM MUSLIM. Pulihkanlah kejayaan KAUM MUSLIM, Lindungilah KAUM MUSLIM dari kesesatan dan berilah KAUM MUSLIM tempat mulia di akhirat.
    Ya Allaah, jadikanlah INDONESIA DAN DUNIA MUSLIM tetap dimiliki KAUM MUSLIM, Jadikanlah INDONESIA DAN DUNIA MUSLIM baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Jadikanlah DUNIA NON MUSLIM dimiliki KAUM MUSLIM. Jadkanlah musuh Islam ditaklukan KAUM MUSLIM.
    Allaahumma innaa nas’aluka salaamatan fiddiini waddun-yaa wal akhirati wa ’aafiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi wabarakatan firrizqi wa taubatan qablal mauti, wa rahmatan ‘indal mauti, wa maghfiratan ba’dal maut. Allahuma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil mauti, wannajaata minannaari wal ‘afwa ‘indal hisaab.
    Ya Allaah, sesungguhnya kami memohon pada-Mu keselamatan dalam agama, dunia, akhirat, kesejahteraan/kesehatan jasmani, bertambah ilmu pengetahuan, rezeki yang berkat, diterima taubat sebelum mati, dapat rahmat ketika mati dan dapat ampunan setelah mati. Ya Allah, mudahkanlah kami pada waktu sekarat dan selamatkanlah kami dari api neraka serta kami mohon kemaafan ketika dihisab.
    Allaahumma inna nas aluka husnul khaatimah wa na’uudzubika min suu ul khaatimah.
    Ya Allaah, sesungguhnya kami memohon pada-Mu akhir yang baik dan berlindung dari akhir yang buruk.
    Allaahuma inna nas’aluka ridhaka waljannata wana’uudzubika min shakhkhatika wannaar.
    Ya Allaah, sesungguhnya kami mohon keridhaan-Mu dan sorga, kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka.
    Allaahummadfa’ ‘annal balaa-a walwabaa-a walfahsyaa-a wasy-syadaa-ida walmihana maa zhahara minhaa wamaa bathana min baladinaa haadzaa khaash-shataw wamin buldaanil muslimuuna ‘aammah.
    Ya Allaah, jauhkanlah bencana, wabah, kekejian, kekerasan dan cobaan – yang terlihat maupun tersamar – dari negeri kami khususnya dan dari dunia Muslim umumnya.
    Allaahumma ahlikil kafarata walmubtadi-‘ata walmusyrikuun, a’daa-aka a’daa-ad diin.
    Ya Allaah, hancurkalah musuhmu, musuh agamamu, yaitu orang kafir, bid’ah dan musyrik.
    Allaahumma syatttit syamlahum wa faariq jam-‘ahum, wazalzil aqdaamahum.
    Ya Allaah, cerai beraikanlah persatuan mereka, goyahkanlah keyakinan mereka.
    Allaahumma adkhilnii mudkhala shidqiw wa-akhrijnii mukhraja shidqiw waj-‘al lii milladunka sulthaanan nashiiraa.
    Ya Allaah, masukkanlah kami melalui jalan yang benar, keluarkanlah kami melalui jalan yang benar, dan berilah aku kekuasaan yang menolong.

    —— doa khusus untuk PARA NABI, PARA KELUARGANYA, PARA SAHABATNYA, SEMUA YANG BERJASA PADA (PARA) NABI, PARA SALAF AL-SHAALIH, PARA IMAM, PARA WALI, PARA HABAIB, PARA ULAMA – KHUSUSNYA KH MUNTAHA ALHAFIDZ – DAN SEMUA YANG BERJASA PADA ISLAM. Semoga Allaah selalu mencurahkan kasih sayang kepada mereka.

    ALLAAHUMMAGHFIRLAHUM WARHAMHUM WA’AAFIHIM WA’FU ‘ANHUM
    ALLAAHUMMA LAA TAHRIMNAA AJRAHUM WA LAA TAFTINNAA BA’DAHUM WAGHFIRLANAA WALAHUM
    ———————

    Ya Allaah, dengan hak yang kau berikan pada kalimah syahadat, Surah al-Fatihah, Doa Kanzul ‘Arsy dan shalawat, salam dan berkah semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassallam, kami mohon segala hal yang terbaik, segala hal yang terindah bagi semesta – khususnya kami, keluarga kami dan seluruh kaum Muslim.
    Ya Allaah, dengan segala hak yang kau berikan pada kalimah syahadat, Surah al-Fatihah, Doa Kanzul ‘Arsy dan shalawat, salam, berkah semoga selalu tercurah kepada Sayyidina wa Nabiyyina wa Maulaanaa Muhammad Shallallaahu’alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam, kabulkanlah yaa Allaah segala doaku.
    Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaabannaar wa adkhilnal jannata ma’al abraar.
    Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kesejahteraan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksaan neraka serta masukanlah kami ke surga bersama orang-orang baik.
    Rabbanaa taqabbal minna innaka antassamii’ul aliimu wa tub’alainaa innaka antattawwaaburrahiim. Washshalallaahu ‘alaa sayyidinaa wa nabiyyinaa wa maulaanaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassallam.
    Tuhan kami, perkenankanlah do’a-do’a kami, karena sesungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang. Shalawat, salam dan berkah semoga dilimpahkan kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad s.a.w, atas keluarganya, sahabatnya dan umatnya semuanya.
    HASBUNALLAAH WANI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULA WANI’MAN NASHIIR.
    Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
    Subhana rabbika rabbil ‘izzati, ‘amma yasifuuna wa salamun ‘alal anbiyaa-i wal mursaliin, walhamdulillahirabbil ‘aalamiin.

    Aamiin yaa Allaah yaa rabbal ‘aalamiin.

    Ganie, Indra – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: