Masya Allah

Update : 27 / Desember / 2006
Edisi 16 Th. 2-2005M/1426H

Dahulu orang pulang haji sampai akhir hidupnya pegang tasbih, dan sekarang turun dari pesawat pegang HP, kontak sana kontak sini. Dahulu merokok di Majlis Pengajian adalah hal yang tabu, dan sekarang, jika ada yang demikian, tak ada yang mampu menegurnya karena pengajiannya sendiri disponsori pabrik rokok. Dahulu menerima bantuan pemerintah untuk pembangunan pondok pesantren adalah subhat, dan karenanya harus dihindari, dipaksapun para “kyai sepuh” tak akan mau, dan sekarang proposal bantuan menumpuk dimeja eksekutiv semuanya bernyayi yadana dana. Dahulu setan adalah “musuh utama“ dan karenanya harus menjauhkan diri darinya, sekarang tak perlu bersikap demikian, karena “setan bisa diajak kompromi” buat cari duit. Dahulu orang hidup menjauhi wilayah kuburan karena takut keangkerannya, dan sekarang, yang telah dikubur takut digusur karena terdesak bangunan rumah yang hidup. Dahulu orang senang mendengar sesepuh mendendangkan “tuntunan” lewat kidung sahdu, atau qosidah nan indah, sekarang orang lebih senang pada “tontonan”, yang menghantarkan gossip, memamerkan paha dan dada, serta setan gentayangan yang kepingin di shoot kamera. Dan tidak sedikit kemudian “tontonan “ itu, dijadikan “tuntunan“. Masya Allah, zaman memang telah mengalami banyak perubahan, melaju dengan cepat, menerjang garang dan tak ada yang mampu menghadangnya, banyak dari kitapun ikut larut dan hanyut serta terbuai. Apakah ini yang dikatakan, kiamat akan datang, manakala matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur?, artinya, banyak hal telah berbalik arah , keluar dari “pakemnya”. Tidak ada yang tahu pasti jawabnya, namun yang jelas, meminjam istilah Gus Ebiet “Roda zaman menggilas kita, terseret tertatih tatih, seumur hidup terus diburu, berpacu dengan waktu …’. Banyak yang dahulu Tabu sekarang sudah tidak lagi, setanpun yang dahulu ditakuti sekarang telah menjadi komoditi dan industri yang menjanjikan banyak keuntungan. Kegalauan, tampak menyelimuti, pikiran dan hati manusia zaman ini, demi menyaksikan banyak hal telah terjungkir balik, berpindah arah dan tempat, dan ia tak kuasa menahannya, barangkali pula ini yang disebut ( yauma yakunun naasu kal faratsil mabsus-manusia dalam kebingungan, bak anai anai yang berterbangan kesana kemari). Kriminalitas yang disuguhkan berbagai stasiun TV, bernuansa dar der dor dan “ceceran darah”, Sinetron yang menjual illusi dan mimpi, Film panas yang bernuansa ”bupati” dan “sekwilda”, serta last but not least, lomba jualan “alam gaib” oleh berbagai stasiun TV, menjadi sajian yang amat digemari, semua itu, seolah sebagai “pelarian” untuk menepis kegalauan, kebingungan dan kebimbangannya. Sementara itu belum pernah ada kesimpulan yang tegas, apakah dalam berbagai sajian sedemikian itu, TV mampu “membimbing” agar pemirsanya terselematkan dari hal yang tidak baik, atau bahkan “membombong” pemirsanya untuk meniru? Jika ternyata fungsi TV “membombong“ pemirsa untuk meniru sajian sajian tersebut, lebih besar ketimbang fungsi “membimbing”nya , maka terjadinya ” bencana besar” (kiamat) sudah diambang pintu ,hanya tinggal tunggu waktu,bisa yang “sughra” bisa juga yang “Kubro”, bisa berbentuk “kelumpuhan akal” hingga tak mampu lagi berkreasi dan berkarya ilmiah, bisa berbentuk “Kelumpuhan jiwa“ hingga tak punya rasa takut pada Gusti Allah yang Maha Kuasa dan tak lagi punya “rasa” terhadap sesama, atau bahkan bisa berupa “kematian” dalam kehidupan. Haqqul yakin, tak satupun dari kita menginginkan semua itu terjadi, tidak sekarang dan tidak pula yang akan datang dan tidak selamanya . Yang dicitakan bersama adalah, negeri tercinta ini dan segenap komponennya, berada dalam “Isyatun Rodiah”, kehidupan yang tenteram, harmonis, sejahtera, jauh dari segala bahaya dan bencana, maka seharusnya semua pihak menjadikan “Tsaqulat Mawazinuhu”, menjadikan timbangannya sarat dengan kebaikan, hidupnya dipenuhi ibadah dan amal saleh dan membangun kehidupannya bukan hanya dengan “wawasan kekinian” melainkan sekaligus bersama “wawasan keakanan”, karena bumi tercinta ini akan kita wariskan buat anak cucu, yang pasti kita ingin kehidupannya, jauh lebih baik dalam semua hal ketimbang kita sekarang ini.

Silakan mengutip dengan mencantumkan nama almihrab.com

2 Tanggapan so far »


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: