Refleksi Ramadhan

oleh : KH Masduqie Machfudz

Dalam Nasaih al Ibad, makalah ke-16 menyitir sebuah pernyataan: “Sesungguhnya syahwat itu dapat membuat para raja menjadi para budak, karena sesungguhnya barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia adalah budak dari sesuatu tersebut. Dan sabar itu dapat membuat para budak menjadi raja-raja, karena budak itu dengan kesabarannya dia akan dapat memperoleh apa yang dia inginkan”. Tiadakah pengetahuanmu sampai pada kisah dari pemimpin kita yang mulia, putera dari orang yang mulia, putera dari orang yang mulia, Yusuf As Shiddiq, putera Ya’qub As Shabur, putera Ishaq Al Halim, putera Ibrahim Al Khalil Al Awwah as. dan Zulaikha? Sesungguhnya Zulaikha telah mencintai Sayyidina Yusuf dengan puncak kecintaan, sedang Sayyidina Yusuf sabar atas tipu daya dan tindakannya yang menyakitkan.

Karena itu pulalah salah satu konsep Islam dalam mendorong seorang muslim bisa menjadi raja bagi dirinya sendiri adalah disyariatkannya ibadah puasa, bagaimana seorang muslim didorong untuk mendidik nafsunya menjadi dibawah kendali otak dan ilmunya bukan menjadikan otak dan ilmu sebagai alat pemuas nafsu syahwat. Ramadan bermakna pula sebagai al ramad, pembakar dosa. Karena itupula bagi mereka yang sukses menyekolahkan nafsunya di bulan Ramadan ini, dia berarti telah sukses dan berhak atas kefitrian di bulan syawal, tetapi kalaupun ternyata bulan Ramadan bahkan hanyalah menjadi alat pemuas nafsu, dari yang tidak pernah pergi ke mal dan supermarket, jadi seorang yang konsumtif dengan alasan menghormat Ramadan, sibuk mencari pakaian baru mengalahkan tarawih dan ibadah lainnya dengan alasan menghormat ied fitri, maka kesia-siaan sajalah yang dia peroleh.

Ramadan bagi orang yang seperti itu hanyalah menjadi pemuas nafsu, dan orang yang seperti itu tidak akan pernah merasakan ke fitri an diri di bulan syawal. Di Bulan yang bermakna peningkatan itu, hanyalah menjadi instrument nafsu untuk memamerkan baju baru, celana baru, atribut baru, mobil baru, nuansa rumah yang baru, tetapi hatinya tetap kering tanpa makna. Tidakkah kita pernah mendengar dawuh Nabi Muhammad:

لَيْسَ العيْد لِمَن لَبِسَ الجَدِيْد وَلَكِنَّ العِيْد لِمَن إِيْمَانُهُ يَزِيْد.او كما قال
Hari raya bukanlah bagi mereka yang pakaiannya baru tetapi hari raya adalah bagi mereka yang keimanannya bertambah.

Karena itu wahai saudaraku sesama muslim, jadikanlah Ramadan ini sekolahan bagi nafsumu, bagi jiwamu, bagi jasadmu untuk menjadi lebih dekat dengan sang Pencipta, menuju insan kamil yang diharapkan. Semoga ibadah anda bertambah baik di tahun yang akan datang. Amin.

http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/nasihat_kyai/amm-23sep07.single

Iklan

Leave a comment »

Kewajiban Terhadap Sesama Muslim

Dalam kehidupan kita mengenal beberapa sebab yang menjadikan seseorang bisa menjadi saudara satu sama lain. Di antara sebab yang paling indah dan kekal adalah saudara karena keimanan atau agama yang sama. Sebagai seorang mu’min atau muslim kita mempunyai saudara seiman atau seagama, yang tentunya akan mempunyai kewajiban untuk saling membantu, saling menolong, saling menopang, bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya muslim satu dengan yang lain adalah umpama bangunan yang saling menopang satu sama lainnya.” Allah Swt telah mensyari’atkan pada kita semua agar saling menguatkan ikatan dengan rasa cinta dan kasih sayang serta menghindari perpecahan dan permusuhan.

Di samping itu Allah Swt melalui Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita untuk saling memberi dan menjawab salam. Salam merupakan ungkapan rasa cinta, maka ketika sesama muslim saling bertemu ucapkanlah salam, karena yang terbaik dari kalian adalah orang yang pertama mengucapkan salam. Dan jika diantara saudara kita ada yang sakit maka kewajiban kita untuk menjenguk dan mendo’akannya, karena hal tersebut bisa menghibur yang menghasilkan kebahagiaan dan kedamaian bagi yang sakit. Di samping itu juga bisa mempererat persaudaraan yang telah terjalin dan pada akhirnya Allah Swt akan memberikan pahala yang besar. Maka barangsiapa menjenguk orang yang sedang sakit dan dia mendo’akan atas kesembuhannya maka itu adalah obat baginya. Rasulallah SAW bersabda, “Barang siapa menjenguk orang yang sedang sakit dan ia mendo’akannya maka ia selalu berada di Khorafatil jannah (Keindahan taman surga) sampai ia pulang. Barang siapa menjenguk orang sakit maka ia akan dimudahkan dalam berbagai masalah dan pintu taubatnya selalu terbuka lebar.”

Syariat Allah yang lain adalah agar kita selalu berbuat baik pada sesama muslim, Allah Swt berfirman, “Tiada kebaikan yang bisa menyelamatkan kalian, kecuali orang yang menyeru kepada shodaqoh dan berbuat baik antara sesama.” Termasuk berbuat baik kepada sesama muslim adalah ketika melihat saudara muslim kita berada dalam kerusakan maka kewajiban kita untuk memperbaikinya, ketika mereka menjauh maka dekatilah dan ketika melihat dua orang saling bermusuhan maka damaikanlah. Ketika seorang di antara kamu yang batuk ataupun bersin maka pujilah Allah dengan ucapan Alhamdulillah dan kewajiban yang mendengar untuk mengucapkan “Yarhamukallah“ dan diteruskan dengan ucapan, “Yahdikumullah Wayasluhu bainakum.” Jika dalam suatu kelompok ada perselisihan maka duduklah bersama sama lalu musyawarahlah, karena musyawarah berguna untuk mencapai kesepakatan yang paling benar untuk kemaslahatan bersama tanpa adanya seseorang yang merasa dirugikan. Rasulullah Saw mencegah suatu ucapan atau perkataan yang bisa membuat perpecahan atau permusuhan bahkan melaknat bagi siapa saja yang bermusuhan atau tidak saling menyapa sampai 3 hari lamanya. Sabda Rasulullah Saw, “Tidak halal (haram) hukumnya bagi dua orang Islam yang saling bermusuhan atau tidak saling tegur sapa selama 3 hari dan jika ia mati dalam keadaan tersebut maka ia akan masuk neraka.” Naudzubillah min dzalik. Rasulullah Saw melarang bagi siapa saja yang mengadu domba, dan beliau juga melarang membicarakan keburukan (aib) orang lain, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerusakan dan pertikaian.

Bersilaturrahim termasuk sesuatu yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Saw. Dalam shaheh Bukhori Muslim diceritakan, “Datang seorang sahabat pada Nabi Saw, dan berkata, ‘Ya Rasulullah, kabarkan pada kami sesuatu yang bisa memasukkan kami pada surga dan menjauhkan kami pada neraka?’ Rasulullah Saw menjawab, ‘Sembahlah Allah Swt, dirikanlah sholat, dan sambunglah silatur rahim.” Dalam hadits lain, beliau bersabda, “Sambunglah rahimmu atau bersilaturrahimlah karena hal tersebut bisa memanjangkan umur dan meluaska rizqi,” “Sesungguhnya sanak saudaramu itu digantungkan dengan Arsy, maka barangsiapa yang menyambungnya maka ia bersambung dengan Allah Swt, dan barangsiapa yang memutusnya , maka ia telah putus dengan Allah Swt.” Begitu pentingnya silturrahim maka Allah akan melaknat orang-orang yang memutuskannya, sesuai dengan sabda Rasulullah Saw bahwa ada 4 golongan yang dilaknat oleh Allah ta’ala: 1.Orang yang membohongi Allah ta’ala, 2.Orang yang memutus silatur rahim, 3.Orang yang menyebarkan berita palsu atau fitnah 4.Orang yang merubah penerangan atau petunjuk jalan (munarul ardli).

Update : 06 / Maret / 2005 Edisi 10 Th. 1-2004M/1425H
Silakan mengutip dengan mencantumkan nama almihrab.com

Comments (3) »

Doa Ketika di Suatu Majelis

Sabda Nabi Muhammad saw:
“Bila umatku hadiri suatu majelis, jangan sekali-kali tinggalkan majelis sebelum tiga kali baca doa (artinya): ‘Maha Suci Engkau, wahai Allah, dengan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Ampunilah dosa-dosaku dan terimalah taubatku.’ Jika majelis itu banyak kebaikan, doa tadi menyegelkan kebaikan. Jika majelis itu banyak keburukan, doa tadi jadi penghapus dosa-dosa selama di dalam majelis.”
{Diriwayatkan dari Abu Hurairah}

ABU YAZID al Busthami, seorang shalihin, lakukan munajat dengan sepenuh hati. Jiwanya sangat tenang, hatinya sangat sejuk dan akalnya membumbung bak ke Arsy. Memercik dalam perasaannya, kiranya di sinilah kedudukan Rasulullah saw. Semoga kelak aku bertetangga dengan beliau di surga. Lalu beberapa saat di dalam hati Abu Yazid terdesir seruan, ‘Hai Abu Yazid. Sungguh budak si Fulan yang bertempat tinggal di desa anu, kelak akan jadi tetanggamu di surga.” Desiran hati tersebut permenungan yang tak habis-habis bagi Abu Yazid. Ia bertolak hendak mencari keberadaan budak si Fulan.
Di sana Abu Yazid mencari. Orang-orang yang ditanyai memandangnya ganjil, “Kenapa engkau temui seorang fasiq yang tenggelam dalam minuman haram? Menilik cahaya wajahmu, tentulah kau ini termasuk orang shalih.” Bagaimana pun, keterangan orang-orang ini ciutkan semangat Abu Yazid, barangkali desiran hati itu dari bisikan setan. Ia hampir memutar badan kembali ke kampung halamannya. Tetapi, pikirnya, jauh sudah dan susah payah aku datang hingga sini, masak aku berbalik pulang padahal wajah budak itu belum kulihat. Abu Yazid putuskan lanjutkan pencarian, “Di manakah budak si Fulan berada kini?” Orang-orang menunjuk, “Sekarang dia di kerumunan orang minum-minum khamr itu.”

Abu Yazid melangkah ke tempat yang ditunjuk. Di sana, budak si Fulan duduk-duduk reriungan di antara empat puluhan orang yang mereguk khamr. Pencarian ini benar-benar sia-sia, Abu Yazid sangat kecewa. Ia kecele dan putuskan pulang. Abu Yazid putar badan.
Tiba-tiba, “Abu Yazid. Kenapa kau tidak singgah?”, budak si Fulan menegur, “Engkau berangkat dari tempat teramat jauh dan bersusah payah jalan hingga tempat ini hendak lihat tetanggamu kelak di surga. Berhasil bertemu, engkau malah balik tanpa mengucap salam, tanpa ada pembicaraan dan tanpa ada perjumpaan.” Abu Yazid terkejut.
Budak si Fulan cairkan kebingungannya, “Ya Abu Yazid. Engkau tidak perlu bingung kenapa aku bisa mengetahui kedatanganmu. Tak ada yang mencengangkan. Dzat yang gerakkan dirimu datang ke sini telah beri tahu diriku. Mari, masuk dan duduklah bersama kami barang sebentar.”
Abu Yazid memasuki majelis, canggung, “Ya Fulan. Ada apa dengan semua ini?” Si Fulan puin menerangkan, “Tidakkah kau tahu, masuk surga itu berombongan? Di sini dulu ada delapan puluh orang yang gemar reguk khamr. Aku bimbing mereka lalu empat puluh orang telah bertaubat tinggalkan kefasiqan ini. Mereka itulah teman-temanku kelak di surga. Kini tinggal empat puluh orang belum keluar dari kegemaran fasiq itu. Wahai tetanggaku di surga kelak, karena kau telah hadir di sini, giliran tugasmu bimbing mereka tercegah dari berbuat fasiq.”
Percakapan dua orang bertetanggaan di surga itu didengar empat puluh orang pemabuk yang ada. Mereka jadi tahu, orang yang baru datang itu ternyata Abu Yazid al Busthami, sang waliyullah. Kehadirannya bawa berkah besar, mereka segera bertaubat. Jumlah mereka sekarang delapan puluh dua orang, yang kelak bertetanggaan di surga. Majelis itu terhindarkan siksa Allah Ta’ala sebab Abu Yazid dan budak si Fulan tak pernah tinggalkan bacaan doa majelis seperti di ajarkan Rasulullah saw.

http://lidahwali.com/index.php?option=com_content&task=view&id=210&Itemid=9

Leave a comment »

Menggapai Surga Dengan Rahmat Allah

Di zaman Bani Israil, ada cerita tentang seseorang yang sejak kecil hingga akhir hidupnya, selalu dipenuhi dengan ibadah, waktunya tidak ada yang terbuang percuma, ia berkhalwat menjauhkan diri dari keramaian dunia semata mata untuk beribadah, maka bisa dibayangkan betapa banyak pahala yang dia peroleh. Ketika dia wafat, Allah pun memasukkannya ke Surga dengan rahmat-Nya. Setelah si Fulan ini tahu bahwa ia masuk surga bukan karena amalnya tetapi karena rahmat Allah semata, diapun “protes” kepada Allah. “Ya Allah, mengapa saya masuk surga karena rahmat-Mu, kenapa bukan karena amal saya. Bukankah saya telah menghabiskan umur hanya untuk beribadah dan seharusnya saya masuk surga karena pahala-pahala yang saya peroleh dari amal-amal saya ? Allah berfirman, “Rupanya kamu tidak puas dengan apa yang telah Aku berikan kepadamu ? Baiklah, sekarang Aku akan hitung amal-amal ibadah yang telah kamu lakukan.

Memang pahala yang kamu peroleh sangat besar bahkan lebih besar dari gunung, tetapi ada beberapa kewajiban yang belum kamu laksanakan diantaranya mensyukuri segala nikmat-nikmat-Ku. Pertama mulai kuhitung dari mata. Bukankah dengan rahmat-Ku berupa mata kamu bisa melihat dan membaca sehingga kamu memperoleh ilmu yang bisa kamu gunakan untuk ibadah. Dengan mata pula kamu bisa melihat-lihat kebesaran-Ku sehingga kamu memuji-Ku yang menyebabkan kamu mendapat limpahan pahala dari-Ku. Sekarang seberapa syukurmu atas nikmat-Ku yang berupa mata tadi. Bukankah pahala ibadahmu yang melebihi gunung tadi belum sebanding dengan nikmat yang Kuberikan ?,meski itu baru ditimbang hanya dengan nikmat mata saja ?, belum yang lain. Jika tumpuanmu ke surga-Ku adalah hanya amalmu, bukankah neraka lebih pantas menjadi tempatmu ? Orang itu kemudian memohon ampun kepada Allah seraya mengakui bahwa dia masuk surga hakekatnya adalah karena rahmat Allah Swt. semata, walaupun secara syariat adalah karena amal ibadah yang dilakukan dan dosa-dosa yang ditingalkan. Sebagaimana sabda Rasulallah Saw, dari Abi Hurairoh Ra berkata, Rasulallah Saw bersada, “Saling mendekatlah kalian kepada Allah Swt dan berjalanlah dengan lurus dan ketahuilah bahwa tidak ada seorangpun diantara kamu sekalian yang selamat karena amalnya. Para sahabat bertanya “Tidak juga tuan, ya Rasulallah ? Rasululah Saw. menjawab, “Tidak juga saya, kecuali jika Allah Swt melimpahkan rahmat dan karunianya”. (HR. Muslim).

Alhamdulillahi Rabbil Alamin adalah sebuah kata pujian yang memang pada hakikatnya hanya pantas untuk Allah semata. Walapun secara syariat pujian itu terbagi menjadi empat bagian :

1- Allah memuji dzatnya sendiri seperti Subhanallah, Maha suci Allah. Karena memang Allahlah Dzat yang Maha Suci, sehingga Dia punya hak untuk dipuji dan memuji Dzatnya sendiri.

2- Pujian Allah kepada mahkluk seperti Allah memuji Rasulallah Saw. pada hakikatnya tetap Allah yang memiliki pujian tersebut karena Allah lah yang menciptakan dan menjadikan Rasulallah Saw. pantas dipuji.

3- Pujian Makhluk Kepada Allah, seperti seseorang yang mengucapkan Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Karena memang semuanya selain Allah pada hakekatnya adalah kecil.

4- Pujian Mahkluk kepada makhluk lainnya. Seperti kita memuji teman yang rajin beribadah, dan berahlaqul karimah, pada hakekatnya kita memuji Allah, karena dia beribadah dan berakhalaqul karimah adalah karena rahmat Allah semata.

Oleh sebab itu sangatlah pantas apabila dalam mencari kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akherat tidak semata bergantung pada amal ibadah yang dilakukan melainkan bergantung pada rahmat Allah. Keterangan ini bukan bermaksud membuat seseorang pesimis atas amal-amalnya sehingga malas melakukan ibadah, akan tetapi justru mengajak manusia agar sadar bahwa sesungguhnya di dalam beramal haruslah ridlo dan ikhlas dengan mengharap rahmat Allah. Karena Ridlo dari Allah adalah segala-galanya. Semoga bermanfa’at amin (H. Jakfar Al Musawa)

Update : 16 / Februari / 2006 Edisi 19 Th. 2-2005M/1426H

silakan mengutip dengan mencantumkan nama almihrab.com

Comments (6) »

Akal Tidak Membawa Kebahagiaan

  • KH. Masbuhin Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin

Sebagai orang muslim yang mu’min kita harus memahami bahwa kita adalah hamba Allah. Kita adalah pengabdi kepada Allah. Allah adalah tuhan kita yang menciptakan kita dan memberikan kepada kita kehidupan di dunia ini. Sebagai seorang hamba kita harus mematuhi perintah tuhannya. Menurut syari’ah kita harus menjalankan segala yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah. Kepada segala titah Allah kepada kita harus kita sikapi dengan sami’na wa atho’na. Tak boleh ada kata membantah sedikitpun kepada perintah Tuhan. Karena Allah sebagai pencipta memegang otoritas tertinggi dalam kehidupan ini.

Disinilah letak kehambaan kita diuji. Apakah kita termasuk hamba Allah yang to’at atau hamba Allah yang maksiat kepada Nya. Apakah kita termasuk hamba yang bintang atau hamba yang binatang. Batasannya terletak pada ketaatan dan kepatuhan kita. Bila kita patuh dan taat pada Allah, menjalankan syari’at-syari’at Islam, maka kita termasuk hamba yang masih menyadari tentang kemanusiaan dan kehambaan kita. Namun sebaliknya bila kita selalu berbuat maksiat kepada Allah dan tidak menjalankan syari’at-syari’atnya maka kita termasuk orang yang belum menyadari tugas dan fungsi kita sebagai hamba dan manusia di dunia ini. Bahkan oleh Allah orang-orang yang tidak fungsi dan perannya sebagai manusia dan kehambannya sehingga mengabaikan tugasnya sebagai manusai dan kehambaannya maka ia tak lebih dari seekor binatang.

Dunia tak lebih hanyalah sebuah penjara bagi kehidupan orang-orang mukmin. Addunya sijnul mu’min. Selain mu’min kebebasan di dunia adalah miliknya. Bila ada seorang mu’min yang melakukan kebebasan tanpa batas maka perlu dipertanyakan kapasitas kemukminannya. Aturan-aturan agama menjadi pengikat bagi terarahnya kehidupan umat muslim menuju kearah kehidupan yang Islami. Begitu indahnya hidup ini bila semuanya tertib dan teratur. Islam sungguh memperhatikan kepada kehidupan hamba-hambanya. Seluruh lini kehidupan umat manusia telah diatur dalam ajaran-ajaran Islam. Segala aktifitas manusia sehari-hari diatur sedemikian rupa oleh Islam semata-mata hal ini untuk membimbing manusia menuju ke arah kehidupan yang tertib dan teratur. Justru dengan aturan itulah manusia di tuntut untuk menuju hidup bahagia.

Namun banyak orang yang beranggapan keliru, mereka beranggapan bahwa dunia ini bebas, sebebas akal kita mampu menjangkau. Sejauh tindakan itu Rasional, Logis, Masuk akal, maka tindakan itu benar menurut manusia.

Perlu diketahui bahasa akal manusia ada batasnya, orang tak selamanya mampu menjangkau rahasia dibalik perintah Allah. Begitu banyak ciptaan Allah yang manusia sendiri lemah untuk melacaknya. Banyak sekali perintah Allah yang manusia sendiri tak akan mampu mencari jawab kemanfaatannya.

Siapapun tahu Umar Bin Khottob. Betapa cerdas dan inteleknya dia, Umar sangat dikenal dengan keteguhan prinsipnya. Tak mudah menggoyahkan keteguhan Umar. Namun suatu tempo ia melakukan sebuah pekerjaan remeh yang bagi Umar tak masuk akal: mencium Ka’bah, namun dilakukannya. Mengapa, karena patuh pada Rosul. Sebuah pemegang otoritas syari’ah dihadapan Rosul, Umar Si cerdik cendekia itu luluh, mengapa? Karena ia tahu bahwa yang dilakukan Rosul adalah benar. Dan itu adalah wahyu, dibalik Ka’bah itu tersirat sebuah rahasia yang Umar sendiri tak tahu jawabnya. Hingga dengan nada menolak dia mengatakan; Andaikan bukan Rosulullah yang menyuruhnya, Aku tak akan melakukan.

Kisah di atas mengisahkan sebuah kesimpulan. Bahwa kebebasan Rasional tak selamanya dapat dibenarkan. Kebebasan akal akan dipagari oleh aturan-aturan Agama, syari’ah dan ajaran-ajaran Allah. Akal tak dapat melarikan jawaban-jawaban bagi suriyah (kerahasiaan) aturan-aturan Allah yang oleh sebab itu akal harus tunduk kepada ajaran Agama.

Itulah islam : pasrah, tunduk dan menyerahkan sepenuhnya kepada aturan-aturan Allah. Termasuk juga memasrahkan akal untuk menuruti apa kata Tuhan. Karena keterbatasan akal itulah Alah mengutus seorang Rosul. Fugsinya antara lain menjadi penjelas ajaran-ajaran Allah kepada manusia, Rosul ditugaskan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang dari umat manusia mengenai problematika Agama yang melilit kehidupan umat.

Karena keterbatasan akal itulah jangan sekali-kali mengagung-agungkan akal. Akal, dalam persoalan kehidupan harus diletakkan setelah al-Qur’an dan Hadits. Menomorsatukan akal sama halnya dengan mengkultuskan kesemuannya. Karena akal memang bersifat semu, yang benar hanya ajaran-ajaran Agama. Apalagi bila kita sadar akan pertanggung jawaban kelak di Akhirat. Dimana semua perbuatan manusia akan dilaporkan kepada Tuhannya.

Semua telah mafhum bahwa kelak akan ada kehidupan lagi setelah kematian. Pada fase kehidupan itu seluruh insan akan memberikan catatan-catatan kehidupannya. Pada fase inilah manusia akan mencari pertolongan masing-masing. Hanya syafa’at dari pada kekasih Allah yang mampu menolong manusia dari jurang neraka. Disinilah letak pentingnya menggantungkan amal kita kepada para Rosul, para pendahulu kita, sahabat dan para kekasih Allah. Mengikuti mereka berarti berupaya mengharapkan syafa’at dari mereka kelak, akal kita hanyalah representasi dari nafsu kita. Mengikuti akal (dengan melampaui ketetapan Allah) berarti membawa kita ke arah kesesatan, karena ia nafsu. Bukan kebahagiaan, karena kebahagiaan dapat diraih kelak ketika syafa’at para kekasih Allah diturunkan kepada kita melalui kepatuhan sam’an wa thoatan, ketundukan dan kenurutan kita pada ajaran-ajaran Muhammad, sahabat yang kita kenal dengan Ahlussunnah wal jama’ah.

Apa yang telah dibakukan oleh para salafus sholih merupakan harga mati yang tak boleh ditawar. Hal ini bila kita menginginkan kebahagiaan. Bukan apa yang diinginkan oleh akal. Akal tak mampu membawa kepada kebahagiaan.

Sekarang terserah pada diri masing-masing. Bila masih cinta, sayang dan taat pada Guru, atau bila masih menginginkan pertolongan kelak dihadapan Allah nanti, maka ikutilah apa yang dikatakan oleh Agama, membuat aturan sendiri menurut kehendak akalnya. Logat akal manusia terbatas, sering salah dan tak mampu membawa ke arah kebahagiaan!
Wallahu a’lam bisshawab.

http://www.mambaussholihin.com/tausyiyah/index.php?nomor=3

Comments (2) »

Reaksi Terhadap Kezaliman

Ketika suatu perbuatan dzalim dilakukan seseorang, maka orang yang didzalimi akan memberikan reaksi yang beragam, antara lain : Ada yang membalas; Ada yang tidak membalas; Dan ada yang mendo’akan kebaikan kepada orang yang mendzalimi. Ketika sedang berjalan, Ibrahim bin Adham bertemu dengan seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Lelaki itu bertanya kepadanya letak perkampungan terdekat. Ibrahim segera saja mengarahkan jari telunjuknya ke pemakaman yang ada di dekat situ sambil berkata, “Itulah perkampungan yang sebenarnya, sebuah perkampungan hakiki”. Lelaki itu mundur sedikit lalu dengan perasaan kurang senang berkata, “Aku menanyakan letak perkampungan, mengapa kamu menunjukkan pekuburan kepadaku? Apa kamu hendak mengolok-olok aku?”. Dengan penuh kemarahan, lelaki itu memukul kepala Ibrahim dengan tongkatnya sehingga darah bercucuran dari kepala Ibrahim. “Pukullah kepala yang telah lama berbuat dosa kepada Allah ini”, gumam Ibrahim bin Adham sambil berusaha menghentikan aliran darah dari kepalanya. Lelaki itu kemudian pergi. Kejadian ini di ketahui oleh orang yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat itu. Ia lalu menghampiri pendatang tadi dan berkata, “Hai lelaki, tahukah kamu maksiat yang telah kamu lakukan hari ini? Kamu baru saja memukul kepala orang yang paling banyak beribadah di zamannya. Kamu baru saja memukul Ibrahim bin Adham, seorang zahid yang terkenal”. Mendengar ini, lelaki itu segera kembali mendatangi Ibrahim lalu meminta maaf. “Aku telah memaafkanmu dan mendoakanmu masuk surga”, kata Ibrahim. “Bagaimana mungkin?”, seru lelaki itu dengan perasaan lega bercampur heran. “Karena, ketika kamu memukul kepalaku, aku bersabar, dan balasan bagi orang yang sabar tidak lain adalah surga. Jadi, tidaklah pantas jika aku masuk surga karena kamu, tetapi kemudian aku mendoakanmu masuk neraka. Ini juga bukanlah sikap yang bijaksana“, jelas Ibrahim bin Adham.

Hal tersebut berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Sa’id bin Zaid r.a. salah satu dari sepuluh sahabat Rasul saw. yang dijamin masuk surga. Dari Urwah bin Zubair, bahwa Arwa binti Aus mengadukan Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nafil r.a. kepada Marwan bin Hakam. Ia menuduh Sa’id telah mengambil tanahnya. “Apakah setelah mendengar sabda Rasalullah saw. aku akan mengambil sebagian tanahnya?”, kata Sa’id. “Apakah sabda Rasulullah saw. yang kamu dengar?”, tanya Marwan. “Aku mendengar Rasullullah saw. Bersabda : “Barang siapa mengambil sejengkal tanah secara dzalim maka ia akan diberi kalung dari tanah itu seberat tujuh lapis bumi”, kata Sa’id. “Setelah mendengar hadis ini aku tidak memerlukan bukti lagi darimu”, kata Marwan. Lalu Sa’id berdo’a, “Ya Allah, jika wanita ini berdusta maka butakanlah matanya dan matikanlah ia di tanahnya”. ‘Urwah berkata, “Wanita itu tidak meninggal kecuali setelah buta kedua matanya. Dan suatu hari ketika sedang berjalan di tanah miliknya ia terjerumus ke dalam sebuah lubang dan mati”. (HR Bukhari dan Muslim).

Syekh Ibnu Atha’illah As-Syadzili r.a. dalam kitabnya Latha’if Al-Minan menyebutkan, bahwa Ibrahim bin Adham memaafkan seseorang yang memukul kepalanya. Syekh Abu Abbas Al-Mursi r.a. mengatakan, bahwa sikap Sa’id bin Zaid r.a. salah seorang dari 10 sahabat Rasulullah saw. yang telah dijamin masuk surga, yang mendoakan keburukan bagi wanita yang menuduhnya telah mengambil tanahnya tanpa hak adalah lebih sempurna daripada sikap Ibrahim bin Adham yang memaafkan orang yang menyakitinya. Secara umum perbuatan Ibrahim bin Adham lebih baik dan utama. Berbagai dalil syariat juga menganjurkan agar manusia bersifat pema’af, kecuali pada peristiwa yang dialami oleh Sa’id bin Zaid, namun peristiwa seperti ini jarang terjadi dan bersifat khusus.

Peristiwa yang terjadi pada diri Sa’id bin Zaid ini serupa dengan peristiwa yang pernah dialami Sa’ad bin Abi Waqqash. Suatu hari seorang warga Kufah menghina kehidupannya dalam beragama dan keteguhannya dalam memegang amanat. Dari Jabir bin Samurah r.a. beliau berkata, “Penduduk Kufah mengadukan Sa’ad bin Abi Waqqash kepada ‘Umar bin Khathab r.a. Umar lalu memecat Sa’ad dan mengangkat ‘Ammar sebagai penggantinya. Penduduk Kufah mengatakan bahwa shalat Sa’ad tidak benar. Umar kemudian memanggil Sa’ad dan berkata, “Hai Abu Ishaq (julukan Sa’ad), penduduk Kufah mengatakan bahwa shalatmu tidak baik!”. Sa’ad menjawab, “Demi Allah, aku mengimami mereka sebagaimana shalatnya Rasulullah saw, tidak sedikit pun aku menguranginya. Pada saat shalat Isya kupanjangkan dua rakaat pertama dan kupendekkan dua rakaat yang lain!”. Umar berkata, “Wahai Abu Ishaq, ketahuilah, begitulah prasangka kami kepadamu”. Umar lalu mengirim beberapa utusan untuk pergi bersama Sa’ad ke Kufah. Pada setiap masjid yang dikunjungi, mereka bertanya tentang Sa’ad, dan ternyata mereka semua memuji Sa’ad. Namun, ketika mereka memasuki masjid Bani Abbas, seorang yang bernama Usamah bin Qatadah, bergelar Abu Sa’adah, berdiri dan berkata, “Jika kalian menanyakan tentang Sa’ad, maka ketahuilah bahwa Sa’ad tidak pernah keluar memimpin pasukan dan bila menghukumi tidaklah adil”. Sa’ad lalu berkata, “Demi Allah, aku akan mendoakannya dengan tiga hal. Ya Allah, jika hamba-Mu ini berdusta dan jika ia berdiri karena riya’ dan sum’ah, maka panjangkanlah umurnya, jadikanlah ia selalu dalam keadaan fakir, dan timpakanlah kepadanya berbagai fitnah”. Usamah bin Qatadah hidup sampai lanjut usia. Jika ditanya, ia berkata, ”Aku adalah lelaki tua yang terkena fitnah karena do’a Sa’ad”. Abdul Malik bin Umar yang merawikan hadis ini dari Jabir bin Samurah dan berkata, “Sungguh aku melihat lelaki itu demikian tuanya sehingga alisnya menutupi kedua matanya. Ia selalu berada di tepi jalan menganggu setiap wanita yang berlalu lalang”. (HR. Bukhari dan Muslim). Sa’ad bin Abu Waqqash dan Sa’ad bin Zaid, adalah dua sahabat yang telah dijamin masuk surga.

Sebenarnya peristiwa semacam ini banyak terjadi dalam kehidupan para sahabat dan tabi’in. Namun, jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sikap pemaaf yang ditunjukkan oleh para Anbiya’ wa Al-Mursalin. Sikap yang benar adalah sebagaimana yang telah kita ketahui. Jika peristiwa tersebut berhubungan dengan harta benda dan kehormatan seseorang, maka memberi ma’af adalah lebih utama. Namun, jika peristiwa yang terjadi berhubungan dengan agama, kehormatan Allah dan hal-hal semacamnya, maka membalas adalah lebih utama. Semua sikap yang diriwayatkan di atas pernah dicontohkan oleh Rasululah saw. dalam ucapan maupun perbuatannya. Setiap orang yang mendalami Sunnah Nabawiyyah tentu mengetahuinya. (An-Nafais Al-Ulluwiyyah : 180-182)

Update : 16 / Februari / 2006
Edisi 18 Th. 2-2005M/1426H
Silakan mengutip dengan mencantumkan nama almihrab.com

Leave a comment »

Sholawat Nabi SAW

Firman Allah:
Sesungguhnya Allah dan MalaikatNya bersholawat pada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bacalah sholawat dan salam pada Nabi saw dengan sesungguhnya. (al ahzab: 56)

Attaimi meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda:
Bacalah sholawat untukku, maka bacaan sholawatmu untukku itu menjadi penebus dosamu dan kesucian untuk dirimu, maka siapa membaca sholawat untukku satu kali, Allah bersholawat padanya sepuluh kali (ya’ni rahmat Allah akan turun padanya sepuluh kali lipat)

Rasulullah saw bersabda:
Telah datang kepadaku utusan Tuhanku dan memberitaku: Siapa yang membaca sholawat untukmu dari umatmu satu kali, maka Allah akan mencatat untuknya sepuluh hasanat dan menghapus dari padanya sepuluh dosa dan dinaikkan sepuluh derajat dan dijawab atasnya sesuai dengan sholawatnya (HR Ahmad)

Siapa yang membaca sholawat untukku satu kali, Allah bersholawat untukknya sepuluh kali dan siapa yang membaca sholawat untukku sepuluh kali, Allah bersholawat untuknya seratus kali dan siapa yang bersholawat untukku seratus kali maka Allah menulis diantara kedua matanya kebebasan dari nifaq dan kebebasan dari neraka dan ditempatkan pada hari kiamat bersama orang-orang yang mati syahid (HR Atthabarani)

Perbanyaklah membaca sholawat untukku karena sholawatmu padaku itu menyebabkan pengampunan dosa-dosamu dan mintalah pada Allah untukku derajat wasilah, maka sesungguhnya wasilahku dihadapan Tuhan itu akan berupa syafa’at bagi kamu (HR Ibn Asaakir)

Ubay bin Ka’ab ra berkata:
Biasa Nabi saw jika bangun pada akhir malam berseru: Hai manusia ingatlah (berdzikirlah) pada Allah, kini telah tiba yang menggetarkan diikuti oleh berikutnya, telah tiba maut dengan segala serta mertanya telah datang maut dengan segala tanggungjawabnya (perhitungannya).

Ubay berkata: Ya Rasulallah saya banyak membaca sholawat untukmu, maka berapa bagian yang harus saya gunakan untuk membaca sholawat untukmu?
Jawab Nabi saw : sesukamu
Ubay berkata : seperempat
Jawab Nabi saw: sesukamu dan bila anda menambah dari itu maka akan lebih baik bagimu
Ubay berkata: separuh
Jawab Nabi saw: sesukamu dan bila anda menambah maka akan lebih baik untukmu
Ubay berkata : Jika sedemikian maka dua pertiga dari semua waktu aku gunakan untuk bersholawat padamu?
Jawab Nabi saw: sesukamu dan bila anda menambah maka akan lebih baik bagimu
Ubay berkata : Jika sedemikian maka semua waktuku akan saya gunakan untuk bersholawat padamu
Jawab Nabi saw: Jika anda berbuat sedemikian akan dicukupi semua kerisauan hatimu dan akan diampunkan semua dosa-dosamu (HR Attirmidzi)

Atthabarani meriwayatkan, Nabi saw bersabda:
Siapa yang mendengar namaku disebut lalu ia tidak membaca sholawat untukku maka ia akan salah jalan menuju surga (akan tersesat dari jalan surga)

Ibn Abi Aashim berkata, Nabi saw bersabda:
Sukakah saya beritahukan kepadamu orang yang amat bakhil (kikir)? Jawab sahabat :Baiklah ya Rasulallah. Maka sabda Nabi saw: orang yang mendengar namaku disebut orang didepannya lalu ia tidak membaca sholawat untukku, maka itu manusia yang sangat bakhil

Abu Bakar ra berkata:
Membaca sholawat pada Rasulullah saw lebih kuat untuk menghapus dosa dari pada air terhadap api dan mengucapkan salam pada Rasulullah saw lebih afdhal dari memerdekakan budak dan cinta pada Rasulullah saw lebih afdhal dari pada mengorbankan jiwa dan dari pada memukul dengan pedang fisabilillah (Annumairi dan Ibn Basykual)

Atthabarani berkata:
Siapa yang membaca “jazallahu anna muhammadan shalallahu alaihi wasalama bima huwa ahluhu” (semoga Allah membalas Nabi Muhammad saw sesuai dengan kedudukannya) maka akan melelehkan tujuh puluh malaikat seribu hari

Nabi saw bersabda:
Tiga macam orang yang akan mendapat naungan Allah azza wajjalla pada hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah.
Maka ditanya: Siapakah mereka itu ya Rasulallah?
Jawab Nabi saw: Siapa yang meringankan kesukaran seorang dari umatku dan siapa yang menghidupkan sunahku dan siapa yang banyak membaca sholawat padaku (untukku)

Nabi saw bersabda:
Siapa yang membaca sholawat atasku dalam sebuah kitab, maka selalu malaikat memintakan ampun baginya selama namaku masih tercantum dalam kitab itu

Attaimi meriwayatkan dari Zainul Abidin berkata:
Tanda bahwa orang itu termasuk ahlussunnah bila ia banyak membaca sholawat terhadap Rasullullah saw

Ibnul Jauzi dalam kitab ‘salwatul ahzaan’ menyebut: bahwa nabi Adam as ketika ingin mendekati siti Hawwa (ya’ni bersetubuh) maka siti Hawwa minta seri kawin, lalu Adam as berdoa: Ya Rabbi apakah yang harus aku berikan padanya? Jawab Tuhan: Ya Adam bacalah sholawat untuk kekasihku Muhammad saw dua puluh kali. Maka dilaksanakan oleh Adam as

Ka’bul ahbaar berkata: Allah telah mewahyukan pada Nabi Musa as: Hai Musa sauakah engkau tidak merasakan haus pada hari kiamat? Jawab Musa: Ya. Maka firman Allah: Banyak-banyaklah membaca sholawat untuk Muhammad saw

Diriwayatkan ada seorang pendurhaka di Bani Israil, ketika ia mati dilempar oleh orang-orang karena sangat durhakanya, tiba-tiba Allah menurunkan wahyu kepada nabi Musa as: Mandikanlah dan sembahyangkanlah orang mati itu, karena Aku telah mengampunkan padanya. Nabi Musa bertanya: Karena apakah Tuhan ia mendapat pengampunanMu? JawabNya: Pada suatu hari ketika ia membaca taurat mememui nama Muhammad lalu ia membaca sholawat pada Muhammad saw maka diampunkan karena itu

Dalam kitab ‘syaraful musthafa’ ada keterangan Abu Said berkata:
Pada suatu malam ketika siti Aisyah menjahit diwaktu sahur, tiba-tiba hilang jarumnya sedang lampu mati, kemudian datang Nabi saw dan teranglah tempat itu dengan sinar Nabi saw sehingga mendapatkan kembali jarum,
maka berkata Aisyah ra: Alangkah terangnya wajahmu ya Rasulullah,
maka sabda Nabi saw: Celakalah orang yang tidak dapat melihat padaku.
Siti Aisyah bertanya: Siapakah yang tidak melihat wajahmu?
Jawab Nabi saw: Orang bakhil
Siti Aisyah berkata: siapakah yang bakhil itu?
Jawab Nabi saw: ialah orang yang tidak membaca sholawat jika mendengar namaku disebut orang

Dalam kitab ‘Alhilyah’ Abu Naiem meriwayatkan:
Ada seorang berjalan didepan Nabi saw dengan membawa rusa yang baru didapat dari memburu, tiba-tiba rusa itu berkata: Ya Rasulullah sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menetek dan mereka kini lapar, karena itu suruhlah orang ini melepaskan aku untuk meneteki anak-anakku, kemudian aku kembali. Nabi saw bertanya: jika anda tidak kembali bagaimana? Jawab rusa: jika aku tidak kembali maka Allah akan mengutuk padaku bagaikan orang yang mendengar namamu disebut padanya tiba-tiba ia tidak membaca sholawat padamu. Lalu Nabi saw menyuruh orang itu: lepaskan rusamu ini dan aku yang menjamin akan kembalinya rusamu ini. Kemudian pergilah rusa itu, kemudian ia kembali. Maka turunlah malaikat Jibril as dan berkata: Ya Muhammad, Allah menyampaikan salam padamu dan berfirman: Demi kemulyaan dan kebesaranKu, sungguh Aku lebih kasih pada umatmu lebih dari rahmat rusa itu terhadap anak-anaknya dan Aku akan mengembalikan mereka padamu sebagaimana kembalinya rusa itu kepadamu.

Alhafidh asysyaraji berkata:
semua dzikir tidak diterima kecuali dengan khusyu’ dan hadir hati kecuali sholawat Nabi saw, maka akan diterima meskipun tanpa khusyu’ dan hudhurul qalbi. Karena itu kata Abul Hasan Albakri seharusnya seorang jangan kurang membaca sholawat tiap hari dari lima ratus kali. Abu Thalib Almakki berkata dalam kitab ‘qutul qulub’: jangan kurang dari tiga ratus membaca sholawat tiap hari.

Memperbanyak membaca sholawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad saw benar-benar dianjurkan.
Alhamdulillah yang menjadikan kita umat Muhammad saw

ALLAHUMMA SHALLI ALA MUHAMMAD ALLAHUMMA SHOLLI ALAIHI WASALLIM

[ Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrasyad ‘Petunjuk ke Jalan Lurus’ oleh H. Salim Bahreisy ]

Comments (8) »