Archive for Juni, 2007

Pertahankan Islam Sampai Mati

Marilah kita bersyukur, sampai saat ini kita masih mendapat hidayah berupa keislaman dan keimanan. Kita minimal dalam sehari mengucapkan, sebanyak tujuh belas kali, itu artinya kita berdoa kepada Alloh agar ditetapkan dalam kondisi muslim sampai ajal merenggut nyawa.
Nikmat yang paling besar yang tidak ada bandinganya adalah Islam, namun kadang kala kita itu lebih mengedepankan syukur atas datangnya rizki atau anugerah-anugerah lain yang lebih kasat mata. Padahal sebenarnya tidak ada nikmat yang lebih besar dari pada nikmat Islam. Sayyidina Ali Karramallahu wajhah berkata: “Nikmat yang paripurna adalah mati dalam kondisi Islam.”
Para ulama dan wali juga selalu berdoa agar mereka meninggal dalam menetapi keadaan Islam.
“Wahai Tuhan yang Maha Agung dan Mulya, matikanlah kami dalam Agama Islam.”
Bahkan ada sebagian orang yang selama hidupnya selalu berdoa,
“Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari dunia dalam kondisi Islam.”
Seseorang walaupun bergelimang dosa tapi kalau matinya menetapi Islam itu berarti harapanya masih ada. Meski ia harus terlebih dahulu merasakan api neraka dalam masa ratusan tahun sekalipun, ia pada akhirnya akan masuk surga dan langgeng di dalamnya.

Hidup di akhirat itu tidak terbatas. Kita akan hidup abadi, tapi keabadian kita di akhirat berbeda dengan kelanggegan Alloh swt. Kita langgeng karena dilanggengkan oleh-Nya, sedangkan Alloh swt. itu abadi dengan sendirinya. Sebagaimana halnya wujud kita yang memang diwujudkan (wujud ‘aridli). Sedangkan Allah swt itu wujud dengan sendirinya ( wujud dzati). Marilah kita mensyukuri nikmat Islam ini. Syukur itu ada kalangan dengan lisan (syukur billisan), hati (bil jinan) dan anggota tubuh (bil arka).

Syukur dengan lisan berarti lisannya mengucapkan alhamdulillah atas segala nikmat Allah swt. Adapun syukur dengan hati, berarti hatinya merasakan syukur. Sedangkan syukur dengan anggota, artinya syukur yang dibuktikan dalam pelaksanaan sikap-sikap yang nyata, memperjuangkan Islam dengan sesungguhnya. Kalau kita mendirikan sebuah organisasi atau jam’iyah misalnya, hendaknya organisasi itu difungsikan terhadap perjuangan Islam.
Apapun status sosial seorang muslim, dia wajib memperjuangkan agama. Sebagai seorang petani sekalipun, ia harus senantiasa berupaya mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya sehari-hari. jika hal itu sudah dilakukun, maka dia patut disebut sebagai orang yang bertaqwa.

Orang yang bertaqwa, jaminannya adalah mendapatkan kemudahan, mendapatkan jalan keluar dari segala problematika dan memperoleh rizqi yang tidak terkirakan. Marilah kita selalu berusaha menjadi orang yang husnul khotimah dan berupaya menghindarkan diri dari su’ul khotimah. Hal hal yang mendorong pada su’ul khotimah kita jauhi, dan sebaliknya yang menjadikan khusnul khotimah kita upayakan dengan sekuat tenaga. Dalam hal ini ada sebuah peristiwa sejarah yang patut dijadikan i’tibar atau perlambang bagi kaum muslimin. Lihatlah yang menimpa Bal’am, seorang waliyulloh, ia dapat melihat ‘arsy dengan mudahnya, cukup dengan mendongak ke atas, ia dapat melihatnya. Ia hidup di masa Bani Israil, kaumnya nabi musa. Tak kurang dari empat ratus muridnya selalu mencatat semua nasehat-nasehatnya, namun hidupnya berakhir tragis, ia mati tidak menetapi Islam.Penyebanya ialah bermula dari orang-orang Bani Israil yang memberi iming-iming materi yang melimpah kepada Bal’am agar ia mau mendo’akan jelek kepada Nabi Musa. Karena Bal’am tidak goyah pendirianya, mereka ganti berupaya mengoda hati istrinya dengan imbalan materi yang melimpah pula. Akhirnya hati Bal’am tergoyahkan juga oleh rayuan Istri tercintanya. Disamping itu menurut suatu riwayat Bal’am semasa hidupnya dalam memeluk Agama Islam, sama sekali tidak pernah merasa bersyukur kepada Alloh swt. Di sinilah pentingnya syukur itu.

Kakilangit

Iklan

Leave a comment »

Cinta Sahabat kepada Rasulullah

Salah satu hadits yang terkenal mengungkapkan betapa penting kecintaan kaum muslimin pada Rasulullah SAW. Sabda beliau, “Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu-bapaknya, anaknya, dan semua manusia” (HR Bukhari). Memang, mencintai Rasulullah SAW merupakan salah satu bukti keimanan seorang muslim. Sebaliknya, iman pulalah yang membuat para sahabat sangat setia mendampingi beliau, baik dalam susah maupun senang, dalam damai maupun perang. Kecintaan itu bukan hanya di lidah, melainkan terwujud dengan perbuatan nyata.
Betapa cinta sahabat kepada Rasulullah SAW, tergambar ketika Rasulullah SAW bersama Abubakar ash-Shiddiq beristirahat di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. Kala itu Rasulullah SAW tertidur berbantalkan paha Abubakar. Tiba-tiba Abubakar merasa kesakitan karena kakinya digigit kalajengking. Tapi, dia berusaha sekuat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan air mata, jangan sampai pahanya bergerak – khawatir Rasulullah SAW terbangun.
Salah seorang sahabat, Zaid bin Datsima, tak gentar menghadapi ancaman kaum kafir karena begitu luar biasa kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Ketika itu, ia sempat disandera oleh kaum musyrik Makkah dan akan dibunuh. ”Hari ini, tidakkah engkau berharap Muhammad akan bersama dengan kita sehingga kami dapat memotong kepalanya, dan engkau dapat kembali kepada keluargamu?” kata Abu Sufyan kepadanya.
“Demi Allah, aku tidak berharap sekarang ini Muhammad berada di sini, di mana satu duri pun dapat menyakitinya – jika hal itu menjadi syarat agar aku dapat kembali ke keluargaku,” jawab Zaid tegas. “Wah, aku belum pernah melihat seorang pun yang begitu sayang kepada orang lain seperti para sahabat Muhammad menyayangi Muhammad,” sahut Abu Sofyan.
Kisah kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW banyak diungkapkan dalam sejarah. Salah satunya ditunjukan oleh Umar bin Khatthab. ”Ya, Rasulullah. Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku,” kata Umar. Mendengar itu, Rasulullah SAW menjawab, ”Tak seorang pun di antara kalian beriman, sampai aku lebih mereka cintai daripada jiwamu.”

Hari Kiamat
”Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran kepadamu, aku mencintaimu melebihi kecintaanku kepada jiwaku sendiri,” sahut Umar spontan. Maka Rasulullah SAW pun menukas, ”Wahai Umar, kini kamu telah mendapatkan iman itu” (HR Bukhari).
Penghormatan dan pemuliaan terhadap Rasulullah SAW memang merupakan perintah Allah SWT. Firman Allah, “Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang (QS Al Fath : 8-9).
Sebuah ayat menekankan pentingnya kecintaan terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW, ”Katakanlah (wahai Muhammad), jika ayah-ayahmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaanmu, perdagangan yang kamu kekhawatirkan kerugiannya, dan rumah yang kamu senangi, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang fasik” (QS At-Taubah: 24).
Kecintaan kaum muslimin kepada Rasulullah SAW juga merupakan faktor penting bagi keselamatannya di hari kiamat kelak. Hal itu terungkap ketika suatu hari seorang sahabat bertanya kepada rasulullah SAW, ”Kapankah datangnya hari kiamat?” Maka jawab Rasulullah SAW, ”Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Jawab sahabat itu, “Saya tidak mempersiapkannya dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah, tapi dengan mencintaimu dalam hati.” Lalu, sabda Rasulullah SAW, ”Insya Allah, engkau akan bersama orang yang engkau cintai itu.”
Menurut Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Shafwan, dan Abu Dzar, Rasulullah SAW telah bersabda mengenai seseorang yang dengan tulus mencintainya, ”Seseorang akan berada di Yaumil Mahsyar bersama orang yang dicintainya.” Mendengar itu, para sahabat sangat berbahagia karena mereka sangat mencintai beliau.
Suatu hari seorang sahabat hadir dalam majelis Rasulullah SAW, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku saya mencintaimu lebih dari mencintai nyawa, harta dan keluargaku. Jika berada di rumah, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu tak bersabar untuk dapat berjumpa denganmu. Bagaimana jadinya jika aku tidak menjumpaimu lagi, karena engkau pasti akan wafat, demikian juga aku. Kemudian engkau akan mencapai derajat Anbiya, sedangkan aku tidak?”
Mendengar itu Rasulullah terdiam. Tak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu, ”Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik sahabat, dan itulah karunia Allah Yang Maha Mengetahui” (QS An-Nisa : 69-70). Kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW inilah pula yang menggerakkan mereka menyebarkan berdakwah ke seluruh penjuru dunia.

Terduduk Lemas
Kecintaan luar biasa kepada Rasulullah SAW itu tergambar pada diri seorang perempuan – beberapa saat usai Perang Uhud. Dia baru saja kehilangan ayah, kakak laki-laki dan suaminya yang gugur sebagai syuhada. Ia bukannya meratapi mereka, tapi menanyakan nasib rasulullah SAW, ”Apa yang terjadi pada diri Rasulullah, semoga Allah memberkati dan melimpahkan kedamaian kepadanya.”
”Nabi baik-baik saja sebagaimana engkau mengharapkannya,” jawab para sahabat. Lalu kata perempuan itu lagi, “Tunjukanlah dia kepadaku hingga aku dapat memandangnya.” Kemudian para sahabat menunjukan posisi Rasulullah SAW. “Sungguh, kini semua deritaku tak ada artinya. Sebab, engkau selamat,” kata perempuan itu kepada Rasulullah SAW.
”Mereka yang mencintaiku dengan sangat mendalam adalah orang-orang yang menjemputku. Sebagian dari mereka bersedia mengorbankan keluarga dan kekayaannya untuk berjumpa denganku,” sabda Rasulullah SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah (HR Muslim, Bukhari, Abu Dzar).
Setelah Rasulullah SAW wafat, kaum muslimin masih senantiasa mencintainya. Suatu malam, Khalifah Umar bin Khatthab melakukan inspeksi di seantero kota Makkah. Ketika itulah, demikian cerita Zayd ibn Aslam dalam sebuah riwayat, Umar menjumpai sebuah rumah bercahaya terang. Di dalamnya seorang perempuan tua mendendangkan sebuah syair yang mengharukan sambil menabuh rebana, hingga Umar terharu lalu terduduk lemas, menangis:
Rasulullah, engkaulah yang setiap malam / senantiasa bangun beribadah / dan pada akhir malam menangis / Aku tak tahu dapatkah bertemu lagi dengan kekasihku / Rasulullah telah wafat / Aku tak tahu bisakah kita bertemu lagi

Betapa kecintaan sahabat Bilal kepada Rasulullah SAW, terungkap menjelang ia meninggal. Bilal melarang isterinya bersedih hati, sebab, katanya, “Justeru ini adalah kesempatan yang menyenangkan, karena besok aku akan berjumpa dengan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.” Wafatnya Rasulullah SAW merupakan kesedihan luar biasa bagi para sahabat dan pencintanya. Dikisahkan, ada seorang perempuan yang menangis di makam Rasulullah SAW sampai ia meninggal.

Berkata Habib Ali Habsyi, “Sang kekasih yang keindahan wajahnya membuat iri bulan purnama dan membingungkan pikiran dalam menyifati maknanya SAW.”

Masih banyak lagi hadist-hadist yang diriwayatkan para sahabat tentang kelebihan Rasulullah SAW dan kesempurnaan rupa dan akhlaq beliau SAW. Yaitu kesempunaan yang menerangi hati orang orang yang memandangnya dan menumbuhkan rasa cinta di hati para sahabat. Rasa cinta inilah yang membuat mereka rela mengorbankan dirinya, hartanya, dan keluarga mereka untuk sang kekasih Robbul alamin.

Diceritakan bahwa suatu ketika salah seorang sahabat tertangkap oleh orang-orang quraisy. Kemudian mereka menyiksanya. Mereka bertanya, “Bagaimana perasaanmu sekarang? Kami menyiksamu, sedangkan orang yang kamu bela (Rasulullah SAW) tidak merasakan kesusahan di rumahnya.”

Sang sahabat menjawab, “Jika aku disiksa dengan sedemikian pedihnya sedangkan di tempat lain Rasulullah SAW tertusuk duri, maka aku merasa menyesal dan lebih menghawatirkan Rasulullah dari pada keselamatanku.”

Terheran-heranlah orang-orang Quraisy tersebut. Hingga mereka mengatakan, “Tak pernah kulihat di antara manusia ada orang yang mencintai seseorang seperti para sahabat Muhammad mencintai Muhammad.”

Bahkan para sahabat mengharapkan kebersamaan dengan Rasulullah SAW di dunia dan di akherat. Sebagaimana dikatakan oleh Sayyidina al Imam Ali Karramallahu Wajhah, “Tidaklah aku mengharapkan surga kecuali untuk berkumpul dengan Rasulullah SAW.”

Abubakar Ashiddiq suatu ketika berjalan bersama Nabi SAW. Di tengah jalan, mereka dihadang oleh orang-orang kafir yang berniat menyakiti Nabi SAW. Sayidina Abubakar membela Rasulullah SAW mati-matian hingga jatuh pingsan. Kemudian dibawa ke rumahnya. Ketika ia sadar, pertanyaan pertama kali yang ia lontarkan adalah bagaimana keselamatan Rasulullah SAW…

Begitu pula seorang perempuan yang menyambut para Ahli Badar sepulang dari peperangan. Ia bertanya, “Bagaimana kabar Rasulullah SAW?”

Mereka menjawab, “Suamimu gugur.” Tapi ia tetap bertanya tentang bagaimana keadaan Rasulullah SAW dan mereka menjawab, “Saudaramu gugur.” Ia pun tetap bertanya tentang Rasulullah SAW dan baru merasa lega setelah mengetahui tentang keselamatan Rasulullah SAW. Radiallahu Anhum ajmain.

Mereka para sahabat begitu amat menikmati kebersamaan dengan Rasulullah SAW. Mereka bertaladzdzuz dengan memandang Rasulullah SAW dan seakan dimabuk kepayang ketika mendengarkan kalam-kalam Rasulullah SAW.

“Apabila Beliau SAW berbicara seakan akan mutiara keluar dari kalam tersebut.” (Maulid ad Dibaa`i)

“Ababila berbicara seakan misik keluar dari mulutnya SAW.” (maulid ad Dibaa`i)

Mereka rindu kepada Rasulullah apabila Rasulullah SAW bepergian.

Dan terus-menerus kecintaan ini terwariskan kepada para sholihin.

“Demi Allah ketika disebutkan sang kakasih SAW dihadapan pencintanya selalu mereka menjadi mabuk kapayang.” (Maulid Dhiyaaul laami`)

“Aku merasa sakit dan cerita-cerita adalah pembebas dari sakitku. Oh sungguh cerita tentang kekasihku adalah pengobatnya.” (Habib Ali bin Muhammad Al Habsy)

Demikianlah gambaran betapa luar biasa kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW. Untuk mengungkapkan rasa cinta itu, sewajarnyalah jika kaum muslimin meneladani akhlaq beliau, menerapkan sunnahnya, mengikuti kata-kata dan seluruh perbuatannya, menaati perintah dan menjauhi larangannya. Itulah cinta sejati, sebagaimana perintah Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 31: “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Comments (4) »

Ridzki Setelah Nikah

Oleh : Ilyasa Bustomi

“Ridzki adalah salah satu faktor yang paling banyak menjadi polemik, sebelum maupun setelah pernikahan. Faktor ridzki ini tak henti-hentinya menjadi pokok bahasan dalam, menjelang dan disaat kita mengarungi pernikahan.”

Ridzki adalah salah satu faktor yang paling banyak menjadi polemik, sebelum maupun setelah pernikahan. Faktor ridzki ini tak henti-hentinya menjadi pokok bahasan dalam, menjelang dan disaat kita mengarungi pernikahan. Waktu lamaran atau khitbah misalnya, kerap kali seorang pria ditanyai calon mertua dengan pertanyaan : sudah kerja atau belum ? kerja di mana ?, semata-mata karena kerja ada kaitannya dengan ridzki, dalam pengertian : ridzki material untuk menghidupi keluarga (suami, istri dan anak).

Mengenai jumlah material yang bakal didapat seseorang ketika dia telah menikahpun masih banyak perbedaan pendapat. Ada yang berkata : ridzki material seseorang yang menikah akan berkurang, mengingat jatah dirinya harus dibagi tiga- untuk diri, pasangan dan untuk anak-anaknya. Ada yang berkata : ridzki material seseorang yang menikah akan bertambah, mengingat ridzki dari diri, pasangan dan anak semuanya berkumpul dalam wadah yang bernama keluarga. Pendapat kedua yang lebih optimistik ini berpangkal dari asumsi, masing-masing orang sudah dikaruniai ridzki dari Allah, sehingga ridzki itu berkumpul dalam suatu wadah, yaitu keluarga. Tambah optimis mereka yang memegang prinsip kedua ini, ketika pasangan suami-istri dikaruniai kelahiran seorang anak. Sudah ada ridzki suami, ridzki istri, ditambah lagi ridzkinya seorang anak. “Banyak anak banyak ridzki,” bisa berlaku pula teratas mereka yang percaya dengan prinsip yang disebut ke-2 ini.

Bila diminta memihak, maka penulis tentu akan berpihak pada pendapat ke-2, kendati secara logika pendapat pertama tidak sama sekali salah. Pendapat pertama bisa menjadi suatu kebenaran, dengan syarat : pencari nafkah tidak optimal dalam ikhtiar, sedang penerima nafkah tidak mampu mengalokasikan pendapatan secara hemat dan benar. Atau jangan-jangan, pihak yang bertanggungjawab mencari nafkah belum atau tidak mampu mencari nafkah, bagi pemenuhan kebutuhan dan stabilitas ekonomi keluarganya.

Optimisme yang mengemuka dalam pendapat pertama bisa juga menjadi buyar, ketika optimisme tidak didukung oleh maksimalisasi potensi ikhtiar, serta azas penghematan dalam pengelolaan anggaran keluarga. Pameo “banyak anak banyak ridzki” bisa tidak berlaku lagi, berganti dengan pameo : “banyak anak banyak beban.” Hemat penulis, fenomena inilah yang banyak terjadi di negara ini. Dengan faktor penyebab yang ditengarai : pernikahan dini, entah karena “married by accident” atau dalih ingin lekas menunaikan perintah agama, tanpa mengukur kemampuan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi pasca pernikahan. Itulah sebabnya, untuk mencegah hal tersebut, Ibrahim Amini, seorang cendekiawan Islam meletakkan pekerjaan tetap atau stabil sebagai syarat bagi laki-laki, yang berniat menyunting seorang wanita.

KH Miftah Faridl, salah seorang ulama terkemuka Jawa Barat juga mendukung pendapat kedua, yang menganggap bahwa pernikahan adalah pembuka pintu ridzki. Membaca uraian beliau dalam buku 150 Masalah Nikah & Keluarga bisa diinsyafi bahwa, kalau seseorang menikah maka dia akan memperoleh ridzki untuk dirinya dan untuk teman hidupnya. Dengan menikah diharapkan, ridzki bertambah dengan salah satu sebab, penyaluran pembiayaan hidup yang lebih baik, dan pengelolaan pembiayaan hidup diatas azas penghematan. Pendapat beliau menjawab pertanyaan penulis tentang : mengapa seorang kawan yang masih membujang dan bekerja di perusahaan mentereng, sering mengeluh kekurangan uang. Partner yang handal dalam mengelola ridzki tak pelak menjadi pertimbangan penting, yang harus dipikirkan seseorang ketika ia memilih pasangan hidup. Kurang-cukupnya ridzki dalam sebuah keluarga akhirnya tidak ditentukan oleh jumlah material, melainkan ditentukan oleh kehandalan dan kemampuan manajerial pasangan pernikahan dalam mengatur cash flow rumahtangga.

*Kolumnis artikel Islam. Tulisannya dimuat di Republika, Islam Online, Mutmainna dan majalah Hareetz (Qatar)

Leave a comment »

Maulid Nabi Saw Menurut Para Sahabat RA

Dari buku An Nikmatul Kubro oleh Al Imam ‘Alim Al ‘Alamah Shabuddin Ahmad Ibnu Hajar al Haitami Asy Syafie

Apakah kata-kata Sahabat-sahabat ra dan tabi’in-tabi’in tentang amalan-amalan Maulid ini. Untuk itu kita lihat di dalam kitab An Nikmatul Kubro Alal’Alami yang ditulis oleh Al Imam ‘Alim Al ‘Alamah Shabuddin Ahmad ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafie pada muka surat 7

Telah berkata Sayidina Abu Bakar As Siddiq ra Barangsiapa membelanjakan satu dirham atas membaca Maulidin Nabi SAW, adalah dia sahabatku di dalam Syurga.”

Saiyidina Umar r.a. pula berkata, “Barangsiapa membesar-besarkan Maulidin Nabi SAW maka sesungguhnya dia menghidupkan Islam.”

Saiyidina Usman r.a. menyebut, “Barangsiapa membelanjakan satu dirham ke atas Maulidin Nabi maka seolah-olahnya dia telah syahid di dalam peperangan Badardan Hunain.”

Dan Saiyidina Ali k.w. berkata pula, “Barangsiapa membesar-besarkan Maulid Nabi SAW, adalah iaitu sebagai sebab bagi bacaannya itu, dia tidak akan keluar daripada dunia ini melainkan dengan iman dan masuk ke syurga tanpa hisab (perhitungan).

Hassan Al Basri r.a. berkata, “Jikalau adalah bagiku seumpama gunung Uhud emas, nescaya aku akan membelanjakannya ke atas bacaan Maulid Nabi SAW.”

Junaid Al Baghdadi menyebut pula, “Barangsiapa hadir di dalam majlis Maulidin Nabi SAW dan membesar-besarkan nilainya, maka sesungguhnya ia telah berjaya dengan iman.”

Seterusnya berkata pula Ma’aruf Al Khurkhi, Barangsiapa mendatangkan makanan bagi tujuan bacaan maulidin Nabi SAW dan mengumpulkan saudara-saudara dan menghidupkan pelita dan memakai pakaian baru dan berwangi-wangian sebagai membesarkan bagi Maulidin Nabi SAW itu, Allah SWT membangkitkannya di hari kiamat, di firqah yang pertama bersama Nabi-Nabi. Dan tempatnya adalah di tempat yang tertinggi.”

Dan telah berkata Fakhruddin Ar Razi, “Barangsiapa yang membaca Maulid Nabi SAW atas garam, biji-bijian atau sesuatu yang lain melainkan akan zahir padanya berkat daripada benda itu.” Selanjutnya, sesiapa yang memakan makanan tadi, maka Allah SWT menyempurnakan dan menghilangkan kegelisahan darinya. Dan jika dibacakan Maulidin Nabi SAW ke atas air, maka sesiapa yang minum air tersebut telah masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, dan telah keluar daripadanya seribu kesusahan dan penyakit. Dan tidak mati hati itu ketika hari matinya hati-hati.” – Fakhruddin Ar Razi adalah pengarang besar Tafsir Ar Razi.

Al Imam Asy Syafie Rahimahullahu Taala menyatakan, Barangsiapa berkumpul kerana majlis Maulidin Nabi SAW dengan mendatangkan makanan dan tempat serta membuat baik dan jadilah sebagai sebab bacaan itu, Allah SWT membangkitkannya pada hari kiamat kelak berserta para siddiqin dan syuhada, para solehin dan adalah dia di dalam syurga An Na’im.”

As Sariyus Saqatti pula berkata, “Barangsiapa yang berkehendakkan tempat dibacakan padanya maulidin Nabi SAW maka sesungguhnya dia berkehendak “raudhah” (taman daripada taman-taman syurga), kerana sesungguhnya, tidaklah dia berkehendakkan tempat itu melainkan cintanya kepada Nabi SAW.”Rasulullah SAW ada bersabda yang berbunyi ; “Barangsiapa mencintaiku, adalah dia bersama-samaku di dalam syurga.”

Al Fadhil Jalaluddin Abdur Rahman Abu Bakar As Sayuti berkata juga, “Dan telah bercahaya-cahaya kubur siapa-siapa yang membaca Maulid Nabi SAW.” Kitab Al Wasail Fis Syarhi Syamail juga ada menyebut, “Tidaklah satu tempat dibacakan Maulid Nabi SAW melainkan dipenuhi oleh para malaikat di tempat itu dan malaikat-malaikat telah berselawat atas orang-orang yang ada di tempat tersebut. Dan Allah SWT juga telah memberikan rahmat dan keredhaan-Nya. Dan yang memberikan cahaya itu ialah malaikat Jibrail,Mikail, Israfil dan Izrael. Maka sesungguhnya mereka itulah yang menselawatkan ke atas orang-orang yang membacakan maulid Nabi SAW itu.”

Kata Imam As Sayuti lagi, “Tidak adalah daripada muslim itu membaca Maulidin Nabi SAW itu di dalam rumahnya melainkan Allah SWT angkat kemarau wabak, kebakaran, karam, kebinasaan, kecelakaan, kebencian, hasad dan pendengaran yang jahat dan pencuri daripada ahli-ahli rumah itu. Maka apabila mati, Allah SWT memudahkan ke atasnya menjawab soalan-soalan dari Munkar dan Nakir. Dan adalah dia ditempatkan di dalam tempat para siddiqin dan di sisi raja-raja yang berkuasa. Maka barangsiapa hendak membesarkan Maulidin Nabi SAW memadai akannya dengan kadar ini. Dan barangsiapa tidak membesarkan Maulid Nabi SAW, jikalau engkau telah memenuhi baginya dunia ini bagi memujinya, maka hatinya tidak digerakkan untuk mencintai Nabi SAW.”

Tidak syak lagi bahawasanya Maulid ini adalah merupakan amalan yang mulia dan terpuji. Amalan yang bernilai di dunia dan akhirat. Sebab itulah ia menjadi amalan pewaris-pewaris agama (yakni ulama-ulama) yang benar-benar cintakan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Wa min Allah at tawfiq

wasalam, arief hamdani
http://www.mevlanasufi.blogspot.com
HP. 0816 830 748, 0888 133 5003

Comments (3) »

Yuk Kita Cintai Al Habib SAW

by: Usth binti Naufal bin Jindan

Jabir al anshory RA bertanya kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, demi ayah dan ibuku, beritahukanlah apa yang pertama kali Allah Ta`ala ciptakan sebelum segala sesuatu.” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta`ala menciptakan sebelum segala sesuatu adalah nur Nabimu Muhammad SAW dari nur-Nya.”

Dalam hadist lain disebutkan bahwa dari nur tersebutlah kemudian Allah Ta`ala menciptakan langit, bumi, surga, neraka, `arsy, dan seluruh makhluk.

Apabila Nabi Adam AS adalah bapak seluruh manusia, maka Nabi Muhammad adalah bapak dari seluruh makhluk. Sebagaimana Habib Ali habsy RA dalam doa maulidnya menyifatkan Sang Nabi SAW dengan kalimat “Al Abil Akbar” (bapak yang terbesar).

Rasulullah telah menempati maqam (kedudukan) kekasih dari Allah Robbul alamin, yaitu makhluk termulia yang dicintai Allah. Dalam hadist lain disebutkan Allah Ta`ala berkata, “Kalau Aku dulu mengangkat Ibrahim sebagai khalil sesungguhnya aku telah mengangkatmu sebagai Habib (kekasih).”

Tidak akan sempurna keimanan seseorang tanpa rasa cinta kepada Rasulullah. Nabi SAW bersabda, “Tak beriman seseorang, sampai ia mencintaiku lebih dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”

Cinta kepada Rasulullah ini adalah jalan para sholihin sebelum kita. Begitu pula para tabi`in, sahabat, serta keluarga Rasulullah SAW. Bahkan cinta kepada beliau adalah jalan semua umat para nabi terdahulu sampai ke Nabi Adam AS.

Nabi Adam AS ketika memohon ampun kepada Allah Ta`ala berkata, “Ya Allah aku memohon ampun kepadamu dengan berkat Muhammad SAW.” Kemudian Allah bertanya Sedangkan Allah Maha Mengetahui, “Bagaimana engkau mengenal Muhammad, bukankah aku belum menciptakannya?”

Nabi Adam AS menjawab, “Sebab ketika Engkau menciptakanku lalu Kau tiupkan kepadaku dari ruh-Mu, kuangkat kepalaku maka kulihat di atas Arsy tertulis Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah. Maka aku tahu bahwa Engkau tidak akan menyandarkan seseorang dengan nama-Mu kecuali pasti ia adalah orang yang paling Engkau cintai. Maka aku mohon pengampunan-Mu dengan berkat Muhammad.”

Lalu Allah berkata, “Betul wahai Adam, sesungguhnya ia adalah makhluk yang paling aku cintai. Dan ketika engkau memohon pengampunanku dengan berkat Muhammad, sungguh telah aku ampuni.”

Maka siapa yang lebih mulia dari Rasulullah? Siapa yang lebih pantas untuk dicintai lebih daripada Sang kekasih Allah Ta`ala ini? Bahkan beliau adalah kekasih dari para auliya` dan sholihin.

Berkat Rasulullah berdirilah Islam dan sempurnalah iman. Dan berkat wajah beliau, manusia akan selamat di hari kiamat. Sabda Rasulullah SAW, “Celakalah orang yang tak melihat wajahku di hari kiamat.”

Dalam maulid Syaraful Anam disebutkan, “Barang siapa melihat wajahmu akan selamat, wahai anak dari orang yang mulia.”

Maka barang siapa yang mengenal Rasulullah SAW lalu mencintainya, sungguh ia telah mengambil jalan para wali, sholihin, sahabat, dan para tabi`in. Bagi mereka telah dijanjikan sorga serta keridhoan dari Allah robbul alamin… Sebagaimana hal tersebut telah di nash dalam Al quranul karim bahkan di Taurat, Injil, dan shuhuf nabiyyin Radhiallahu anhum ajma`in.

Comments (2) »

Konsistensi Memelihara Sunah Nabi

Taushiyah Kakilangit

Sebagai seorang mukmin yang senantiasa mendambakan ridla dari Allah Subhanahu wata’ala, hendaknya selalu menjalankan dan memelihara amal-amal sunah dan beberapa adab (etika), sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya, karena hal ini dapat menjernihkan hati dan mengandung beberapa rahasia yang lain.

Hal ini telah dibuktikan oleh para ahli shufi. Dengan bekal keteguhannya memelihara amal sunah dan beberapa adab serta berperilaku dengan akhlaknya Nabi, mereka memperoleh martabat dan maqam yang luhur di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Itu sebabnya dalam ilmu Tashawwuf, yang paling banyak dibicarakan adalah pembahasan mengenai adab. Kata tashawwuf sendiri berasal dari kata “shofa-yashfu” yang artinya jernih.

Dalam beribadah sholat misalnya, hendaknya kita memelihara beberapa kesunatan dan adab. Seorang laki-laki dalam beribadah sholat, hendaknya memakai pakaian yang berlengan panjang dan menutupi kepala (tidak gundulan). Meski tidak ada nash Hadits yang berbicara tentang hal ini, namun bukankah Allah Subhanahu wata’ala menganjurkan kepada kita untuk berpakaian yang baik ketika melaksanakan sholat? “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al A’raf:31)

Namun bukan berarti ketika amal sunah dan adab itu sudah dipelihara dengan baik, kita menjadi terbebas dari menjalankan amal fardlu sebagaimana yang diduga oleh kebanyakan orang-orang bodoh. Yang sebenarnya, justru amal fardlu harus tetap lebih diutamakan dari pada amal sunah dan adab. Artinya, bahwa ketiganya, baik amal fardlu, amal sunah dan juga adab sama-sama harus dijalani dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Hadits Qudsi: “Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Tidak ada seorang pun hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada melakukan amal fardlu. Hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, niscaya Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku (menjaga) telinganya yang ia mendengar dengannya, Aku (menjaga) matanya yang ia melihat dengannya, Aku (menjaga) tangannya yang ia memukul dengannya, Aku (menjaga) kakinya yang ia berjalan dengannya. Jika dia meminta-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Dan bila dia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti juga akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

Sebagai seorang muslim, kita tentunya harus konsisten dalam menjalankan syariat Islam dengan cara selalu mengikuti segala hal yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam, baik mulai dari sikap, ucapan maupun perbuatannya. Misalnya, tatacara beliau makan, minum, menerima tamu, bertetangga, berbisnis, bergaul dengan istri dan keluarga, dan lain-lain. Mengikuti dan meneladani segala aspek dari perilaku Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam ini adalah wujud dari rasa kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran:31).

Namun, yang terjadi pada masa sekarang ini, justru banyak orang Islam yang lebih memilih mengikuti perilaku dan petunjuk kalangan agama lain, Nasrani dan Yahudi. Setidaknya dapat dilihat dari beberapa hal yang mulai mentradisi di tengah-tengah masyarakat kita. Misalnya, pesta ulang tahun yang diikuti dengan proses meniup lilin, tepuk tangan, memotong roti atau tumpeng dan bernyanyai bersama “Happy best day to you”. Kalau dicermati, sebenarnya kegiatan ini sama sekali tidak ada dasarnya dalam syariat Islam. Demikian pula halnya kebiasaan memakai baju serba hitam di saat ta’ziah mayit, atau kebiasaan berpakaian serba ketat, bukak-bukaan dan transparan yang makin menggejala di lingkungan kaum muslimin, semuanya adalah buah propaganda kaum Nasrani dan Yahudi, yang tak terasa telah menjadi tradisi kaum muslimin.

Barangkali inilah yang dikhawatirkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw., sebagaimana sabdanya dalam Hadits Shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, “Diriwayatkan dari Sa’id al Khudlri, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sungguh kamu semua besuk akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan ketika mereka masuk lubangnya Biawak (binatang Dlob), kamu semua mengikutinya.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, (apakah mereka yang dimaksud sebelum kamu semua itu) Yahudi dan Nashrani?” Rasulullah menjawab, “Kalau tidak mereka, lalu siapa?”

Prediksi Nabi saat ini memang telah sangat jelas terlihat kebenarannya. Selain beberapa hal di atas, masih sangat banyak budaya-budaya Barat yang hampir semuanya budaya Nashrani dan Yahudi secara tidak terasa namun pasti, telah diikuti oleh kebanyakan umat Islam.

Comments (1) »

Mengenang Ulama Betawi

Istilah ‘ulama amplop’ mungkin baru dikenal sejak 1970’an. Terutama saat-saat menghadapi pemilihan umum. Karenanya, tokoh Betawi H Irwan Sjafi’ie (75 tahun), berani memastikan istilah itu hampir tidak pernah terdengar dimasa lalu. Seperti dalam Pemilu pertama 1955, para ulama di Jakarta ada yang berpihak pada Masyumi dan NU. Tapi biaya kampanye keluar dari kocek masing-masing dan simpatisan. Para ulama dulu tidak ada yang komersial, kata H Abdul Rasyid (65 tahun), yang ketika mengaji tahun 1950’an berguru pada mualim Sanif di Krukut Tengah, Jakarta Barat.

H Irwan dan Abdul Rasyid sangat mengagumi para guru agama mereka. Sangat berwibawa dan hidup ditengah-tengah masyarakat. Mereka menjadi tempat bertanya dan mengadu warga. Tiap ada acara warga mereka datang tanpa meminta imbalan uang. Tidak heran bila ada perselisihan, warga lebih menyukai minta pendapat mualim dari pada ke RT-RW, kata Abdul Rasyid, yang kini menjadi bendahara Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Sedangkan H Irwan Syafi’ie mengibaratkan, kehadiran para ulama sebagai penyejuk dan benteng moral yang kokoh menanamkan ajaran agama. Mereka hidup sangat tawadhu, akhlakul karimah.

Begitu berwibawanya mereka, hingga bila terjadi keributan antarwarga biasanya selesai bila ditangani ulama. Bahkan, bila ada orang berniat jahat, niatnya urung setelah dinasehati ulama. Begitu dihormatinya para ulama, hingga mereka sangat disegani para jagoan dan penjahat, tutur Irwan Sjafi’ie mengenang masa-masa ia mengaji 1935-1938 di kediamannya di Setiabudi, Jakarta Selatan.

Sedangkan menurut Mashud Ma’dani (58), ketika tinggal di Kuningan, sejak kecil ia oleh ayah dan kakeknya selalu dibawa ke tempat kediaman para kyai. Kyai yang dihormati warga Kuningan saat itu adalah Guru Mughni, yang masjid dan makamnya hingga kini terdapat di kawasan segitiga emas.

Sejumlah ulama Betawi, seperti KH Abdullah Sjafi’i, KH Taher Rohili, KH Nur Ali dan KH Mursidi keduanya dari Bekasi, merupakan pejuang dan anti penjajahan. Seperti KH Nur Ali, pesantrennya di Bekasi pada masa revolusi fisik dijadikan sebagai basis perlawanan terhadap Belanda. Seperti dituturkan Irwan Sjafi’ie, banyak para ulama Betawi termasuk KH Mughni yang mengirimkan pemuda-pemuda untuk bergabung dengan KH Nur Ali. Karena itu pantas pemerintah mengabadikan nama jalan di Bekasi dengan nama kyai kondang yang pahlawan bangsa tersebut.

Pada dasarnya, orang Betawi anti penjajah. Hingga pada masa penjajahan mereka tidak ingin sekolah umum yang dibangun pemerintah kolonial. Di samping anti penjajah, juga sebagai penolakan kristenisasi yang dilakukan pihak kolonial kala itu. Tidak heran setelah kemerdekaan, banyak warga Betawi yang butahuruf Latin. Tapi mereka bisa membaca dengan fasih huruf Arab. ”Mereka bisa membaca huruf Arab gundul seperti membaca koran,” kata Irwan.

Ridwan Saidi dalam buku ”Betawi Dalam Prospektif Kontemporer” menulis : Islam memberi eksistensi akan keberadaan orang Betawi pada era penjajahan. Zikir, ratib, pembacaan maulid, manasik Syekh Saman semuanya merupakan ekspresi pengagungan pada asma Allah, sekaligus pernyataan diri Isjhadu bi ana Muslimin (saksikanlah kami orang Islam). Suatu ekspresi teologi yang nyaris sepi dari politik, tapi nyatanya orang Belanda dibikin tidak berkutik.”

Penolakan terhadap pendidikan Belanda, kata H Irwan, menunjukkan bahwa orang Betawi jauh sebelum proklamasi menolak bekerjasama dengan Belanda. Termasuk para alim ulamanya. Tapi sesuai dengan pesan para kyai: ”Tangan kanan memberi tangan kiri tidak boleh tahu”, banyak pejuang Betawi yang tidak ingin menonjolkan diri. Mereka berjuang benar-benar lillahi ta’ala.

Ketika penjajah hengkang, dan sudah banyak warga Betawi yang memasuki sekolah pemerintah, pengajian justru bertambah ramai. Setelah sekolah, mereka mengaji, baik siang, sore, dan malam hari pada kyai dan ustadz yang banyak di kampung-kampung.

KH M Syafi’i Hadzami (74), mantan ketua umum MUI Jakarta yang memimpin tidak kurang 30 majelis taklim di Jakarta, ketika berumur 9 tahun sudah khatam Alquran. Ia juga telah menulis belasan buku kitab kuning. Sejak kecil ia sering diajak keluarganya untuk ngaji dan zikir di tempat KH Abdul Fatah (1884-1947) di Batutulis, Jakarta Pusat.

Umumnya, para ulama Betawi memiliki banyak guru. Seperti almarhum KH Abdullah Sjafi’i. disamping menjadi murid Habib Ali Alhabsyi, juga murid dari H Marzuki dari Rawabangke (kini Rawabunga) Jatinegara. Dia juga belajar dengan sejumlah Habaib seperti H Alwi Alhadad (mufti Johor), Habib Salim Djindan (Jakarta), dan sejumlah kyai sepuh lainnya. Demikian pula dengan KH Abdurahman Nawi, yang memimpin dua buah pesantren di Depok dan sebuah di Tebet, belajar dengan belasan orang guru agama, termasuk Sayid Abbas Al-Maliki Mekah.

Beberapa kyai Betawi yang namanya diabadikan untuk nama tempat dan jalan adalah Guru Mansyur, yang telah menulis 19 kitab berbahasa Arab. Di samping KH Ali Alhamidy, penulis produktif, disamping naskah khutbah Jumat yang disebarkan di masjid-masjid Jakarta. KH Abdullah Syafi’ie yang wafat 3 September 1985 melalui siaran radio Asyafiiyah dan khotbah-khotbahnya selalu menyerang kemungkaran. Hingga dia dijuluki ”Kyai yang membabat hutan belantar”.

Ketika Ali Sadikin pada 1960’an menggelar hwa-hwe ia tanpa mengenal ampun menentang habis-habisan. Sosok KH Abdullah Syafi’ie, menurut pandangan mantan Menag Tarmizi Taher adalah ulama yang dalam hidupnya berpaham politik Masyumi, tapi paham agamanya NU.

Bersamaan dengan KH Abdurahman Nawi yang memiliki tiga pesantren — sebuah di Tebet (Jakarta Selatan) dan dua di Depok — KH Abdul Rasyid AS, putera almarhum KH Abdullah Sjafii, kini juga membangun majelis taklim di Pulau Air, Sukabumi. Di sini dia telah menghasilkan santri-santri yang memperdalam Alquran. Termasuk belasan orang yang telah menjadi penghafal (hafidz).

Sementara, kakaknya, Hj Tuty Alawiyah AS, kini tengah mengembangkan Perguruan dan Universitas Asyafiiyah, di Jatiwaringin, Jakarta Timur. KH Abdurahman Nawi sendiri merupakan salah seorang murid KH Abdullah Sjafii. KH Abdul Rasyid kini juga tengah menyiapkan pembangunan Universitas Islam KH Abdullah Sjafii dan rumah sakit Islam di Sukabumi di atas tanah seluas 28 hektar.

Satu angkatan dengan kedua ulama itu adalah Habib Abdurahman Alhabsyi, putera Habib Muhammad Alhabsji dan cucu Habib Ali Kwitang. Pada awal abad ke-20 Habib Ali mendirikan madrasah modern dengan sistem kelas yang diberi nama Unwanul Falah. Perguruan Islam yang juga menampung murid-murid wanita ini, sayang, terhenti pada masa proklamasi. Karena itulah, Habib Ali yang meninggal tahun 1968 dalam usia 102 tahun dianggap sebagai guru para ulama Betawi, banyak diantara mereka pernah belajar di sekolahnya.

Dia adalah murid Habib Usman Bin Yahya, yang pernah menjadi Mufti Betawi. Hampir bersamaan datang dari Hadramaut Habib Ali bin Husein Alatas. Dia bersama Habib Salim Bin Jindan banyak ulama Betawi yang belajar kepadanya. Termasuk KH Abdullah Syafii, KH Tohir Rohili, dan KH Sjafii Alhazami. Yang belakangan ini kelahiran Gang Abu, Batutulis, Jakarta Pusat. Wakil Gubernur DKI Fauzi Bowo ketika kecil, di Batutulis, belajar agama kepadanya.

Salah seorang ulama Betawi kelahiran Matraman yang merupakan penulis produktif adalah KH Ali Alhamidy. Dia telah menulis tidak kurang dari 19 kitab dan buku, seperti Godaan Setan. Menurut budayawan Betawi Ridwan Saidi, KH Ali Alhamidy setiap minggu membuat naskah khotbah Jumat yang digunakan para khotib di masjid-masjid. Tidak hanya di Jakarta tapi di Sumatera. Termasuk masjid-masjid ahlussunah wal jamaah, sekalipun tulisannya lebih kental kearah Muhammadiyah. Tatkala masuk penjara dalam Orde Lama karena kedekatannya dengan Masyumi, ia berhenti menulis. Dan, akhirnya penguasa mengijinkan ia menulis naskah khutbah Jumat dari balik terali penjara.

Sampai tahun 1970-an, dikenal luas nama ulama KH Habib Alwi Jamalullail, yang telah beberapa kali mendekam di penjara, baik pada masa Orla maupun Orba, karena keberaniannya mengkritik pemerintah, yang kala itu dianggap tabu. Perjuanjgannya kemudiann diteruskan oleh puteranya, Habib Idrus Djamalullail, yang pada tahun 1995 mengajak demo alim ulama Betawi ke DPR menolak SDSB.

Keluarga Jamalullain termasuk generasi awal yang datang ke Indonesia dari Hadramaut pada abad ke-18. Mereka banyak terdapat di Aceh. Yang Dipertuan Agung Malaysia sekarang ini juga dari keluiarga Jamalulail.

Islamisasi di Betawi mendapatkan momentum baru tatkala Sultan Agung melancarkan dua kali ekspedisi ke Batavia untuk menyerang VOC. Terlepas ekspedisi ini tidak berhasil menyingkirkan penjajah Belanda, tapi dari segi kultural, ekspedisi itu mencapai hasil yang mempesona. Para tumenggung Mataram, setelah gagal mengusir Belanda, setelah tinggal di Jakarta, banyak menjadi jurudakwah yang handal. Mereka telah memelopori berdirinya surau-surau di Jakarta — yang kini menjadi masjid — seperti Masjid Kampung Sawah, Jembatan Lima, yang didirikan pada 1717.

Salah seorang ulama besar dari kampung ini adalah guru Mansyur. Ia lahir tahun 1875. Ayahnya bernama Abdul Hamid Damiri al Betawi. Pada masa remaja dia bermukim di Mekah. Di kota suci ini dia berguru pada sejumlah ulama Mekah, seperti Syech Mujitaba bin Ahmad Al Betawi. Guru Mansyur sewaktu-waktu hadir dalam majelis taklim Habib Usman, pengarang kitab Sifat Duapuluh. Guru Mansyur menguasai ilmu falak, dan memelopori penggbunaan ilmu hisab dalam menentukan awal Ramadhan dan hari raya Idul Fitri serta Idul Adha di Jakarta. Dia juga merupakan penulis produktif. Tidak kurang dari 19 kitab karangannya.

Guru Mansyur mendalami ilmu falak, karena dulu di Betawi orang menetapkan awal Ramadhan dan lebaran dengan melihat bulan. Kepala penghulu Betawi menugaskan dua orang pegawainya untuk melihat bulan. Jika bulan terlihat, pegawai tadi lari ke kantornya memberi tahu kepala penghulu. Kepala penghulu meneruskan berita ini kepada masjid terdekat. Mesjid terdekat memukul beduk bertalu-talu tanda esok Hari Raya Idul Fitri.

Kanak-kanak yang mendengar beduk bergembira, lalu belarian ke jalan raya sambil bernyanyi. Tetapi banyak juga orang yang tidak mendengar pemberitahuan melalui beduk. Akibatnya, seringkali lebaran dirayakan dalam waktu berbeda. Guru Mansyur memahami hal ini. Karena itu, ia memperdalam ilmu falak. Setiap menjelang lebaran Guru Mansyur mengumumkan berdasarkan perhitungan ilmu hisab.

Dalam adat Betawi, guru dipandang orang yang sangat alim dan tinggi ilmunya. Ia menguasai kitab-kitab agama dan menguasai secara khusus keilmuan tertentu. Di atas guru ada dato’. Dia menguasai ilmu kejiwaan yang dalam. Di bawah guru ada mualim. Di bawah mualim adalah ustadz, pengajar pemula agama. Di bawah ustadz ada guru ngaji, yang mengajar anak-anak untuk mengenalk huruf Arab.

(Alwi Shahab) © 2006 Hak Cipta oleh Republika Online

Comments (3) »