Archive for Mei, 2007

Keindahan Nabi SAW

Kesempurnaan Rupa SAW

Diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah bahwa Rasulullah SAW melihat di malam hari seperti di siang hari. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku di depanmu. Janganlah kamu mendahuluiku di ruku` dan sujud. Sesungguhnya aku melihatmu dari depan dan belakangku.”

Kesempurnaan Mulut SAW

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah meminum air dari sebuah tempat. Kemudian sisa air tersebut dituangkan kembali ke sumur. Maka setelah itu air sumur tersebut berbau misk (musk).

Juga pernah suatu ketika Sayyidina Al Husein Radhiallahu anhu merasa haus. Rasulullah pun memintakan air untuknya dan tidak mendapatkan air. Maka Rasulullah SAW memberikan lidahnya SAW kepada Sayyidina Al Husain RA, maka ia menghisapnya hingga hilang dahaganya.

Diriwayatkan pula bahwa di antara gigi-gigi beliau SAW terlihat nur (cahaya). Sholawatullah wasalaamuhu alaihi wa ala aalihi wa shohbih .

Kesempurnaan Wajah SAW

Sayyidah Aisyah RA ketika sedang menjahit, tiba-tiba terjatuh jarumnya. Maka ia meraba- raba berusaha mencarinya. Lalu masuklah Rasulullah SAW seakan-akan nur terpancar dari wajahnya. Dengan nur tersebut ia pun mendapatkan jarumnya. Kemudian ia memberitahu Rasulullah SAW tentang apa yang ia lihat. Dan Rasulullah SAW pun bersabda, “Celaka, sungguh celaka bagi yang orang yang tak melihatku di hari kiamat.”

Dan (indahnya) wajah yang seperti matahari, terang, menerangi malam yang gelap gulita (Hamziyah)

Yang lebih tampan darimu (Rasulullah SAW) tak pernah dipandang mataku.Dan yang lebih sempurna darimu tak pernah dilahirkan perempuan. Engkau tercipta lepas dari segala aib. Seakan akan engkau tercipta sekehendakmu (Sayyidah Aisyah RA)

Kesempurnaan Keringat SAW

Suatu hari Rasulullah tertidur dan mengeluarkan keringat. Tak lama datang Ummu Sulaim dengan membawa botol dan mengambil keringat yang mengalir pada Rasulullah SAW hingga beliau terbangun. “Apa yang kau lakukan Ummu Sulaim,” tanya Rasulullah. Ia pun menjawab, “Ini adalah keringatmu, ya Rasulullah. Ku jadikan wewangian. Sesungguhnya ini adalah wewangian yang terwangi.”

“Apabila lewat di jalan, tercium wanginya hingga dapat diketahui bahwa beliau SAW baru saja lewat. Dan apabila duduk di majlis, tercium harumnya berhari hari walaupun ia telah pergi. Dan ia memiliki sebaik-baik keharuman walaupun tak memakai wewangian.” (Maulid ad diiba`I)

Suara SAW

Diriwayatkan oleh sahabat bahwa suara beliau adalah sebaik baik suara. Hingga di malam hari beberapa sahabat dapat mendengarkan suara Rasulullah SAW yang sedang membaca Al-Qur’an sedangkan mereka berada atas arsy.

Imam Ali mengatakan bahwa tidaklah Allah Ta`ala mengutus seorang nabi kecuali memiliki sebaik-baik wajah dan suara dan begitu pula Rasulullah SAW

Ketiak SAW

Seorang sahabat berkata, “Ketika Rasulullah Saw sedang mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, kami melihat cahaya di bawah lengannya.”

Tinggi SAW

Rasulullah SAW mempunyai tinggi badan normal. Tidak tinggi jangkung atau pendek. Akan tetapi apabila bersama para sahabat, terlihat beliau lebih tinggi dari sahabatnya SAW

Dan masih banyak lagi kelebihan Rasulullah yang nampak begitu jelas. Diantaranya adalah disebutkan oleh seorang ulama dalam bentuk nadzhom tentang khushusiat Rasulullah SAW. Beliau mengatakan, “Kelebihan Nabi kita sepuluh hal :

1. Tak pernah ber-ihtilam (mimpi basah)

2. Tak mempunyai bayangan

3. Bumi langsung menelan apa-apa yang keluar dari perut SAW

4. Nyamuk tak pernah hinggap padanya

5. Walau matanya tidur, hatinya tak tidur

6. Melihat dari belakang seperti dari depan

7. Tak pernah menguap sama sekali

8. Lahir dalam keadaan berkhitan

9. Hewan-hewan tunggangannya mengenali kerasulannya

10. Apabila duduk, duduknya melebihi tinggi sahabat-sahabatnya

Iklan

Comments (5) »

Kiai Diminta Kembali ke Tugas Utama

PEKALONGAN- Selama ini banyak kiai dan ulama yang terjun ke dunia politik. Namun demikian, mereka harus bisa menjalankan tugas utamanya sebagai pencerah umat.

”Kiai dan ulama agar kembali ke tugas utamanya, sehingga lebih memperhatikan dan meningkatkan kepeduliannya terhadap umat,” ungkap Menteri Agama H Maftuch Basyuni pada acara Silaturahmi Ulama Pesantren dan Kiai Thoriqoh Se-Indonesia, di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mubarok Pekalongan, kemarin.

Menurut dia, kiai dan ulama tidak semuanya harus berpolitik. Mereka disarankan kembali ke pondok pesantren dan memberikan pengajaran terhadap para santri. Seandainya terfokus pada dunia politik, dikhawatirkan lupa dengan tugasnya.

”Jangan sampai pondok pesantren milik kiai atau ulama kosong blong,” tandas dia.

Justru dengan kembali ke pesantren, kata dia, mereka bisa mengader para santrinya untuk berpolitik semaksimal mungkin. Namun, politik yang diajarkan harus agamis atau islami. Dengan demikian, ajaran yang diberikan tersebut bisa terarah.

Pertemuan kiai dan ulama thoriqoh tersebut, kata dia, bisa sebagai wahana yang efektif dalam melakukan evaluasi diri dan menengok kembali peran sosial yang telah dilakukan.

Harus Dikuatkan

Jalannya silaturahmi ulama pesantren dan kiai thoriqoh tersebut berlangsung lancar. Dibahas beberapa permasalahan berkaitan dengan perilaku, perekonomian, dan kemasyarakatan.

Acara digagas oleh sejumlah ulama besar seperti Habib Mohammad Luthfi bin Ali Yahya, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, KH Mahfudz Ridwan, dan KH Dimyati Rois.

Kegiatan tersebut digelar untuk kali ketiga. Sebelumnya, pernah diselenggarakan di Ponpes Raudlatut Tholibien, Leteh, Rembang dan Ponpes Edi Mancoro, Kabupaten Semarang.

Saat membuka acara, Ketua MUI Jateng Habib Lutfi dalam tulisan yang telah dibukukan oleh panitia mengungkapkan, paham Ahlussunnah Waljama’ah (aswaja) harus dikuatkan di semua lapisan masyarakat. Di antaranya, nilai-nilai toleransi (tasamuh), moderat (tawasuth), proporsional (i’tidal), dan keseimbangan (tawazun).

Menurut Habib, aswaja harus diajarkan di kalangan anak-anak sekolah, sejak mereka masih usia dini. Menurutnya, bangsa Indonesia membutuhkan generasi muda yang mengerti secara benar bagaimana cara hidup dan berbangsa secara damai. Mereka perlu diberi arahan secara dialogis dan mudah dimengerti.

Warga NU, kata dia, harus melestarikan dan menjaga peninggalan para ulama seperti masjid, tanah wakaf, madrasah, karya-karyanya atau karangan baik yang berupa tulisan tangan maupun tulisan cetak, serta makam-makam ulama. Selanjutnya, mereka senantiasa harus memperat tali silaturahmi kepada para ulama yang masih hidup dan menziarahi yang sudah wafat.

Kemudian, lanjutnya, memberdayakan aswaja di pedesaan-pedesaan yang disampaikan oleh para kiai dan ketua ranting. Mereka harus lebih aktif, karena bagaimanapun juga masyarakat NU hidup di pedesaan-pedesaan.(H4-60)

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA Rabu, 23 Mei 2007

Comments (3) »

Ukhuwah di Timur Tengah

DR A. Hasyim Muzadi, ketua umum PB NU, anggota Eminent Person OKI (Organisasi Konferensi Islam),

Belakangan ini, kami memang banyak melakukan perjalanan ke Timur Tengah dalam rangka memberikan kontribusi untuk terciptanya perdamaian di kawasan itu. Apalagi kawasan Timur Tengah adalah rata-rata negara Islam dan menjadi pusat dan asal Islam yang kita anut bersama.

Namun, ternyata belakangan umat Islam di sana tercabik-cabik. Di Palestina Hamas-Fatah pecah dan saling menyerang, Sunni-Syi’ah di Iraq mengarah ke peperangan. Di Lebanon-Syria, Sunni dengan Sunni juga pecah setelah terbunuhnya PM Hariri.

Dalam pekan ini, kami diundang pemerintah Aljazair dan Maroko. Dua negara Islam ini juga sekarang terlibat konflik karena perebutan wilayah perbatasan. Kami berkeyakinan, pada konflik dan peperangan di Timur Tengah, ada pihak ketiga di luar Islam yang mengadu domba. Karena itulah, kami banyak berdiskusi dengan para pemimpin Timur Tengah untuk mencegah provokasi dari musuh-musuh Islam.

Di dalam negeri sendiri, dengan seringnya PBNU ke Timur Tengah, terutama menyangkut Sunni-Syi’ah, banyak yang menimbulkan salah paham. Ada yang menuduh PB NU telah mendukung Syi’ah atau ingin menggabungkan Syi’ah dengan NU. Karena itulah, tulisan ini dibuat. NU tetap NU, Syi’ah tetap Syi’ah. Namun, sebagai sesama muslim, kita harus menjaga semangat ukhuwah Islamiyah di tengah-tengah kita diadu-domba oleh musuh-musuh Islam.

Memprihatinkan

Dalam kurun tiga abad belakangan ini, kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia begitu memprihatinkan dalam berbagai lini kehidupan. Memang, secara ekonomi, ada sebagian negara Islam yang membanggakan berkat kekayaan alamnya berupa minyak. Namun, harus diakui bahwa negara-negara Islam, baik dalam bagian-bagiannya maupun secara keseluruhan, tidak berada dalam posisi suprioritas atau menjadi subjek yang menentukan dalam percaturan global.

Negara-negara Islam hingga detik ini masih menjadi negara-negara inferior, tidak menentukan, dan bahkan kerap menjadi “bidak catur” yang gampang diatur oleh negara superpower. Negara-negara Islam menjadi subordinasi dan dihegemoni oleh negara-negara maju.

Kesenjangan kaya-miskin dan lemahnya ukhuwah Islamiyah di antara negara-negara Islam Timur Tengah telah dijadikan target dan objek untuk dipecah belah oleh negara maju. Negara-negara Islam didesain terpolarisasi: ada yang dijadikan kawan dan ada yang dijadikan lawan. Kondisi ini secara tidak disadari telah menjadikan negara-negara Islam sebagai medan adu domba (divide et empera) sehingga negara Islam yang satu dilumpuhkan dan dihancurkan oleh negara Islam lainnya.

Rapuhnya persatuan dan kesatuan serta semangat tolong-menolong atau ta’awun antara sesama negara Islam menjadikan sasaran empuk bagi musuh untuk digilir, ditaklukkan satu per satu. Celakanya, proses penaklukan satu negara justru dibantu oleh negara Islam lainnya. Lihat, misalnya, hancur luluhnya Afghanistan yang diserang Amerika dan sekutunya dengan fasilitas dan bantuan Pakistan.

Dalam perang Iraq-Iran, Iraq dibantu Amerika. Namun, justru ketika Perang Teluk I, Iraq malah diserang AS dan sekutunya dengan bantuan negara tetangganya, Arab Saudi, dan sebagainya. Perang Teluk II, yang mengakibatkan Iraq akhirnya hancur luluh seperti sekarang ini, sebenarnya tidak karena invasi AS dan sekutunya, melainkan dukungan dan fasilitas yang diberikan oleh negara-negara Islam juga.

Kini ada tanda-tanda Iran akan menjadi sasaran selanjutnya. Lagi-lagi, negara-negara Islam dalam posisi tidak berdaya, menghadapi keroyokan negara kuat dalam kelompok 15 negara DK PBB.

Apakah keputusan Resulosi PBB yang memberikan sanksi bagi Iran tidak bakal dijadikan dasar legitimasi bagi AS dan sekutunya untuk kembali menginvasi Iran sebagaimana telah dilakukan terhadap Iraq? Tidak ada yang bisa menjamin dan mencegah AS untuk kembali merusak dan menyerang negara-negara Islam.

Kesadaran Global

Kenyataan yang memprihatinkan kalangan negara-negara Islam itulah, yang mendorong Nahdlatul Ulama, sebagai jam’iyah Islam dengan anggota yang mencapai 80 juta umat, yang mempunyai jamaah terbesar di dunia, untuk menggerakkan ukhuwah Islamiyah di kalangan umat Islam seluruh dunia. Memang, posisi umat Islam Indonesia tidak lebih baik daripada negara-negara lainnya. Namun, hal itu tidak menjadikan kami untuk berkecil hati demi terwujudnya perjuangan mulia ini.

Sesungguhnya, berdasar musyawarah kami dengan berbagai ulama dan mufti-mufti agama Islam di Timur Tengah serta para pejabat negara-negara Islam, kini telah muncul harapan besar yang akan menjadi pendorong arus kesadaran untuk kembali memperkukuh ukhuwah Islamiyah.

Dalam perbincangan dengan Panglima Hamas Khaleed Meshaal di Damaskus, misalnya, kami berdiskusi seru soal mengapa Hamas dan Fatah yang sesama muslim berkelahi.

Padahal, mereka mestinya bersatu padu melawan penjajah Israel yang telah 60 tahun menduduki Palestina. Kami nyatakan kepada pimpinan Hamas bahwa perkelahian sesama muslim akan menguntungkan musuh, Israel, karena akan mendapatkan kemenangan gratis. Kami bilang jangan pernah berharap penjajah akan melakukan amal saleh buat kemerdekaan Palestina.

Penderitaan dan penindasan selama 60 tahun yang dialami muslim Palestina tidak seberapa jika dibandingkan dengan penjajahan terhadap bangsa dan umat Islam Indonesia oleh Belanda selama 350 tahun. Namun, berkat perjuangan para ulama di negeri ini, bangsa dan umat Islam yang bersatu padu berhasil mengusir musuh.

Sesungguhnya, bukanlah persenjataan canggih yang ditakuti musuh-musuh negara-negara Islam. Mereka takut umat Islam bersatu menegakkan ukhuwah Islamiyah.

Juga ketika kami berdiskusi dengan sejumlah tokoh Sunni maupun Syi’ah di Timur Tengah tentang konflik sektarian Sunni versus Syi’ah di Iraq pascainvasi Amerika. Para ulama sepakat bertahun-tahun di Iraq tidak pernah terjadi konflik Sunni versus Syi’ah. Justru mereka terbiasa dengan saling bertetangga, bahkan melakukan perkawinan antara Sunni-Syi’ah. Konflik terjadi justru setelah pascainvasi AS dan sekutunya.

Ketegangan Sunni lawan Sunni pun juga terjadi antara Sunni Lebanon dengan Sunni Syria. Pemicunya juga pihak luar yang memecah belah, terutama setelah terbunuhnya mendiang PM Hariri di Lebanon.

Tumbuhnya kesadaran akan ukhuwah Islamiyah yang awalnya secara sporadis ini yang menjadi tekad kami untuk terus dimatangkan dan dimantapkan dalam forum di Bogor pada 3-4 April 2007. Mudah-mudahan semangat ini terus menggelinding sehingga cita-cita yang menjadi dambaan semua umat Islam di dunia, yaitu bangkit dan jayanya kembali Islam dalam pentas global, menjadi kenyataan.

Kamis, 24 Mei 2007, Jawa Pos Group

Comments (1) »

Kemuliaan Akhlak Rasulullah

Allah Ta`ala berfirman, “Dan sesungguhnya engkau (Yaa Muhammad ) memiliki Akhlaq yang luhur.”

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan Akhlaq.” Dan sabdanya SAW, “Aku dididik adab oleh Allah maka baguslah adabku.”

Rasulullah memiliki adab dan akhlaq yang mulia. Bahkan akhlaq beliau adalah sumber dari segala kemuliaan. Dikatakan “Tidaklah ada akhlaq yang terpuji yang dimiliki manusia kecuali bersumber dari Rasulullah SAW sebaik baik wujud.” (Habib Ali Habsy simthud durar)

Apa sajakah akahlak Rasulullah? Sifat sabar SAW, zuhud, rahmat, tawadhu`, murah hati, khusyu`, haibah, dan lain-lain yang tak mampu disebutkan oleh orang orang yang hendak memujinya.

“Sungguh aku telah berusaha memuji seorang Rasul yang sifat-sifat nya menghidupkan hati dan menggetarkan sanubari. Sedangkan Allah Ta`ala telah memuji beliau. Maka apalah arti pujian kita dibanding dengan pujian-Nya Ta`ala. Aakan tetapi rasa cinta di sanubari telah memanggilku untuk memuji Hamba pilihan Allah Ta`ala.” (Dhiyaau laami` )

“Sesungguhnya kemuliaan Rasulullah SAW tidak ada batasnya dan sulit untuk diibaratkan dengan kalimat dari mulut.” (Burdah )

“Wahai bulan purnama yang memiliki segala kesempurnaan. Dapatkah kata-kata mengibaratkan tentang ketinggianmu?” (Ad Diiba`i)

“Kulihat semua pujian tentang Nabi SAW muqosshir (kurang) walaupun mereka telah memanjangkan pujiannya. Apabila Allah telah memujinya dengan keahlian-Nya, maka apalah bandingannya dengan pujian manusia.” (Ibn Al Faaridh)

Comments (1) »

Telah Tiba Saatnya Bersatu

TELAH TIBA SAATNYA BERSATU DALAM KALIMAT

LAA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH

Dalam liputan Pemuda Nabawiy pada acara bulan-bulan yang lalu ketika Habib Umar bin Hafidz, dari Tarim Hadramaut, berkunjung ke Jakarta. Dalam salah satu ceramahnya, baru dapat kami terjemahkan secara ringkas. Karena isi ceramahnya berkenaan dengan permasalahan yang banyak terjadi pada akhir-akhir ini, tentang kerusakan-kerusakan moral di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Salah satu contoh, eksploitasi besar­besaran terhadap kaum Hawa diberbagai media dan juga berbagai tayangan iklan lainnya, demi mengeruk keuntungan tanpa melihat efek yang akan terjadi bagi generasi bangsa.

Bukankah seharusnya hal tersebut tidak terjadi di negara kita, yang mayoritas ummat Islam dan berbudaya Timur. Demi menjaga kesetabilan dan ketenteraman masyarakat Indonesia, khususnya ummat Islam serta membantu pemerintah dalam menjalankan roda p e m e r i n t a h a n n y a dan mengembalikan kembali moral bangsa Indosesia yang berbudaya Timur. Insya Allah, terjemahan ringkas ini adalah salah satu jawaban serta jalan keluar dan dapat menjadi masukan bagi para pembaca Pemuda Nabawiy.

Habib Umar, mengingatkan kepada kita, bahwa sesungguhnya diantara kesempurnaan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, selain dari nikmat Islam dan Iman, ialah Allah SWT memberikan kepada bangsa ini (Indonesia) dan kita sekalian Pertolongan-Nya, memberikan kemenangan bagi kaum Muslimin didalam menegakkan da’wah Nabi Muhammad s.a.w. serta mengamalkan apa-apa yang telah dianjurkan dan diperintahkan Rasulullah s.a.w..

Dari harapan yang mulia dan niat yang tulus telah tercermin didalam isi ceramahnya, kepada kaum Muslimin seluruhnya, dengan memberi peringatan dan kabar gembira, sebagai rantai penyampaian yang telah di sampaikan oleh Rasulullah s.a.w..

Wahai hamba-hamba Allah, wahai kaum Muslimin, apabila telah datang kepada kalian kemuliaan dari Allah SWT, maka hendaknya kalian memahami, hendaknya kalian mengerti, bahwasanya kalian merupakan bagian dari pada ummat­nya Nabi Muhammad s.a.w., dan kewajiban kalian untuk membela ummat-nya Nabi Muhammad s.a.w., karena kalian adalah bagian daripada ummat Rasulullahs.a.w..

Dan ketahuilah bahwasanya musuh-musuh Islam, telah berusaha menipu daya kita, berusaha menipu daya kaum Muslimin, menyesatkan kaum Muslimin, dengan ide-ide mereka, dengan adat-istiadat mereka, dengan cara berpikir mereka, dengan acara-acara mereka yang dibawa kepadakita,merekaadalahjelas-jelas musuh Islam, yang berupaya untuk menyesatkan kaum Muslimin dan memecah belah ummat.

Oleh karena itu, kita hendaknya selalu menjaga akidah kita, hendaknya kita betul-betul membela ummat, membela ajaran Islam dengan yang sebenar-benarnya. Dan sifat pembelaan kita itu dengan kembali bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, dengan niat-niat yang baik yang kita hadapkan kepada Allah SWT, serta memiliki tekat yang kuat agar kita kembali berusaha mendirikan dan menjaga ajaran Islam, lalu menghidupkan kembali sunah­ sunah Nabi Muhammad s.a.w., didalam rumah kita, keluarga kita dan kerabat kita serta lingkungan kita.

Jika saja kita mau melihat, bahwa mereka para wali yang sembilan (wali Songo-red), dengan jumlah mereka yang sangat sedikit, akan tetapi karena niat dan tekad mereka yang besar serta ikhlas terhadap Allah SWT, sehingga masuk Islam lah ditangan mereka, banyak dari rakyat Indonesia, ribuan, jutaan, bahkan ratusan juta telah memeluk agama Islam, semua ini berkat keikhlasan serta niat mereka yang baik dan tulus.

Apabila kita mau merenung, bahwa apa-apa yang tejadi dari tahun­tahun yang lalu hingga sekarang ini, maka berapa banyak keajaiban­keajaiban yang muncul dari Allah SWT dimuka bumi ini, yang mana kejadian tersebut semuanya mengingatkan kita kepada Allah Azza Wa Jalla, baik mereka yang naik maupun yang turun, yang di timpah musibah maupun yang m e n d a p a t nikmat, baik yang berdiri maupun yang tidak berdiri. Karena itu ketahuilah, bahwa dalam waktu yang singkat telah t e r j a d i perubahan yang amat hebat, dan hendaknya kita kembali kepada Allah SWT, kembali mengikuti Nabi Muhammad s.a.w.. Ketahuilah pada saat-saat sekarang ini kita mendengar, melihat dan menyaksikan bahwasanya kaum Muslimin, sudah berapa banyak diantara mereka yang ditimpah bala’, berapa banyak diantar mereka yang di dzolimi, berapa banyak diantara mereka yang ditimpa kesulitan, berapa banyak diantara mereka yang ditimpa musibah oleh Allah SWT, yang mana bala dan musibah tersebut semuanya di karenakan kelalaian kita kepada Allah SWT, semuanya di karenakan kemaksiat kita, semuanya di karenakan kita selalu meremehkan syariat-nya Nabi Muhammad s.a.w., di karenakan kita selalu meremahkan sunah-sunah Nabi Muhammad s.a.w..

Marilah kita intropeksi dan berfikir, bagaimana keadaan diri kita terhadap sunah Nabi Muhammad s.a.w.?, bagaimana keadaan keluarga kita, kerabat kita, anak kita dari syariat Nabi Muhammad s.a.w.?. Kemaksiatan telah menyebar didalam rumah-rumah kaum Muslimin, akhlak yang buruk (bejad­ – red) menyebar diantara kaum Muslimin, keburukan-keburukan dan pelanggaran pelanggaran terhadap syariat Rasulullah s.a.w. menyebar ditengah kaum Muslimin. Telah tiba saatnya kaum Muslimin bersatu untuk kembali kepada Allah SWT, dalam kalimat LAA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH s.a.w., agar mereka kembali mengikuti jejak Nabi Muhammad s.a.w., agar mereka memperbanyak giamul lail (bangun malam) mencucurkan air mata, untuk ummat Nabi Muhammad s.a.w..

Dan ketahuilah bahwasanya seluruh urusan, seluruh perkara berada ditangan Allah Azza Wa Jalla. Allah SWT yang menurunkan bala’, Allah SWT pulalah yang mengangkat bala’, Allah SWT pulalah yang memberikan Pertolongan-Nya kepada kaum Muslimin, karena itu angkatlah tangan kita kepada Allah SWT, dan cucurkanlah air mata kita untuk ummatNabi Muhammad s.a.w.. Dari kesungguh-sungguhan kita mengikuti jejak Nabi Muhammad s.a.w.,maka akan mucul bendera Nabi Muhammad s.a.w. di permukaan bumi ini.

Oleh karena kita terlalu merehkan agama, maka dari itulah yang menyebabkan kita terjeblos di dalam bala’, di dalam musibah, di dalam bencana yang besar dari Allah Azza Wa Jalla, sebab kita melupakan hak­hak-Nya Allah SWT.

Untunglah diantara ummat Nabi Muhammad s.a.w., masih ada mereka para kaum yang menangis setiap malam untuk ummat Nabi Muhammad s.a.w., yang bangun dimalam hari berdo’a untuk ummat Nabi Muhammad s.a.w., dengan berkat merekalah Allah SWT mengangkat bala’ dari kaum Muslimin, dengan berkat merekalah Allah SWT mengembalikan dan menghidupkan kembali bagi kaum Muslimin akhlak-nya Nabi Muhammads.a.w..

Ketahuilah bahwa kita saat ini berada dalam ikatan Iman, yang terikat sebagai bagian dari ummat Nabi Muhammad s.a.w.. Apabila kita baik, maka semua ummat menjadi baik, dan apabila kita menyimpang maka yang lain pun akan tertimpa bala’, akibat dari penyimpangan kita dari syariat Rasulullah s.a.w., karena itu takutlah kepada Allah SWT, jagalah diri kita, dan juga jaga ummat NabiMuhammads.a.w..

Bagaimanakah cara kita menjaga ummat Nabi Muhammad s.a.w.?, yaitu dengan membimbing diri kita, menjaga diri kita dari jalan yang diridhoi Allah SWT dan tidak menyimpang dari jalan yang di ridhoi Allah SWT, bawalah niat yang baik didalam hati kita, janganlah kita setelah mengetahui hal ini, melainkan mempunyai niat yang baik, mempunya semangat yang baik dalam mentaati Allah Azza Wa Jalla, dan Allah SWT memerintahkan kita, untuk senantiasa takut kepada-Nya, yang dalam firman-Nya berbunyi,

“Takutlah kalian kepada Aku, apabila benar, kalian benar-benar beriman kepada Allah SWT.”

Barang siapa yang benar-benar takut kepada Allah Azza Wa Jalla, maka telah luntur dari hatinya sifat­ sifat takut terhadap makhluk-Nya, barang siapa yang telah luntur dari hatinya sifat takut kepada makhluk­-makhluk-Nya, dia tidak lagi takut kepada makhluk-makhluk Allah SWT maka Allah SWT jadikan semua makhluk tunduk dan berkhidmat kepada orang tersebut, berkhidmat kepada orang yang takut kepada Allah SWT.

Wahai Ikhwanul Muslimin, janganlah kita setelah mendengar ini, melainkan kita mencoba berusaha memperbaiki rumah tangga kita, janganlah kita biarkan didalam rumah kita, ada orang laki-laki maupun orang perempuan yang masih meremehkan sholat. Janganlah kita biarkan didalam rumah kita, ada orang laki-laki maupun orang perempuan yang meremehkan syariat Nabi Muhammad s.a.w.. Janganlah kita biarkan didalam rumah kita, ada orang yang mengundur-undur sholat dan meninggalkan Sholat. Janganlah kita biarkan didalam rumah kita, ada orang-orang yang tidak perduli dengan auratnya dan pakaiannya, sehingga dia menelantarkan syariat Nabi Muhammad s.a.w..

Bersihkan sifat dzi’atsa dari dalam rumah kita. Apa itu sifat dzi’atsa?, yaitu sifat tidak ada kecemburuan didalam – syariat Nabi Muhammad s.a.w., terhadap kaum wanitanya, karenaitudidalamHadits,Rasulullah s.a.w. bersabda, yang artinya, bahwa orang yang dayyuts tidak akan masuk surga. Siapa orang yang dayyuts?, yaitu mereka orang yang tidak perduli terhadap istrinya dan anak-anak wanitanya, bertemu atau berbicara dengan siapa?, tidak perduli istrinya dan anak perempuannya berjalan dengan siapa?, tidak perduli anak perempuannya berhubungan dengan siapa?.

Sadarilah hal tersebut! ! ! Rumah kita adalah rumah siapa?, rumah kita adalah rumah Islam, rumah yang membawa cahaya Nabi Muhammad s.a.w., rumah yang mempunyai hubungan dengan Rasulullah s.a.w.. Oleh karena itu, sadarlah! ! !, Bangkitlah! ! !, Dirikanlah! ! !, Jalankanlah kewajiban kita kepada Allah SWT, pada diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, janganlah kita remehkan sunah-sunah Nabi Muhammad s.a.w.!!!, syariat Nabi Muhammad s.a.w.!!!, Jangan biarkan mereka menelantarkan sunah dan syariat Rasulullah s.a.w.. Di dalam hadits ada tiga jenis manusia yang tidak masuk kedalam syurga dan tidak mendapat pandangan rahmat dari Allah SWT, yang mana ketiga tiganya akan mendapat azab yang pedih dari Allah SWT, siapa ketiga orang tersebut?

Yang pertama adalah orang yang suka minum­ minuman keras maupun obat-obat terlarang, yang tidak bertaubat kepada Allah SWT, yang kedua adalah kaum wanita yang berpakaian seperti laki-laki, bertingkah-laku atau bersikap seperti laki-laki, dan yang ketiga adalah ad dayyust, yaitu orang yang tidak memikirkan keadaan kaum wanitanya yang berada dalam tanggungannya, tidak perduli kaum wanitanya mau keluar, mau masuk dengan pakai jilbab atau tanpa jilbab dia tidak perduli, maka ketiga orang ini tidak akan masuk surga-Nya Allah SWT. Sifat-sifat seperti ini, telah menyebar di dalam rumah-rumah kaum Muslimin, karena itu bertaubatlah kepada Allah SWT!!!, persipkan diri kita! ! !, persiapkan diri kita untuk bertemu Nabi Muhammad s.a.w.! ! !, bersihkan mata kita! ! !, bersihkan anggota tubuh kita! ! !, bersihkan hati kita! ! !, bersihkan rumah kita dari pada kemungkaran­kemungkaran, ataupun dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat Rasulullah s.a.w.. Marilah kita kuatkan niat kita dan kita berjanji kepada Allah SWT. Berjanjilah kepada Rasulullah s.a.w., agar terangkat niat yang baik, untuk memperbaiki keadaan rumah tangga kita, untuk memperbaiki ummat Nabi Muhammad s.a.w..

Diantara ummat Nabi Muhammad s.a.w. sekarang ini, berapa banyak dari ummat itu yang di bunuh, di dzalimi, di aniaya, dan mereka yang terkena musibah. Karena itu kita kembali kepada Allah SWT, jangan gara-gara dosa kita, Allah SWT mengazab orang-orang yang berada di belahan bumi yang lain, gara-gara dosa yang kita perbuat ini, kita bertanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Dan Habib Umar Bin Hafidz menekankan, bahwasanya mereka yang mendapatkan keberkahan dari suatu majlis, adalah mereka yang keluar dari majlis tersebut, di dalam hatinya terdapat kebenciaan terhadap kemaksiatan, kebenciaan terhadap kemungkaran, kebencian terhadap pelanggaran-pelanggaran syariat, maka orang yang keluar dari majlis akan membawa keberkah dari Allah SWT, karena itu, bencilah kemaksiatan, bencilah kemungkaran, mudah-mudahan Allah- SWT melimpahkan limpahan Rahmat-Nya, Pengampunan-Nya kepada kita sekalian dan kita di jadikan orang­orang yang beruntung, dan dikumpulkan kita di hari kiamat bersama Rasulullah s.a.w., kita di jadikan orang yang sungguh-sungguh mencintai Rasulullah s.a.w., mengikuti jejak-jejak Rasulullah s.a.w. dengan sebenar-benarnya, dan mudah-mudahan Allah SWT, tidak menjadikan di antara amalan-amalan kita, hal-hal yang apabila sampai kepada Nabi Muhammad s.a.w., akan menyakiti hati Nabi Muhammad s.a.w., sudah cukup kita menyakiti hati-nya Nabi Muhammad s.a.w., mudah-mudahan setelah ini Nabi Muhammad s.a.w. tidak mendengar berita dari kita, melainkan berita yang menggembirakan hati Rasulullah s.a.w. dari seluruh ummat-nya.

Amiin Yaa Robbal’alamiin

Pemuda Nabawiy Vol.1, No.5, September 2002 / Rajab 1423 H.

Leave a comment »

Mencintai Orang Yang Dicintai Allah SWT

Update : 06 / Oktober / 2005
Edisi 15 Th. 2-2005M/1426H

Mencintai Allah Swt dan Rasulullah Saw adalah sesuatu yang wajib, begitu pula mencintai orang yang sholeh, orang yang dekat pada Allah Swt, orang yang menghabiskan hidupnya untuk berjuang dijalan Allah, berdzikir menyebut keagungan dan kemulyaan Allah dan orang orang yang menapaki jejak Rasulullah, kecintaan kepada mereka akan mendatangkan manfa’at yang amat besar, terlebih lagi manakala kecintaan itu diwujudkan dengan mengikuti petuah mereka, serta diikuti dengan berkhidmah, mengabdikan diri dengan ikhlas tanpa pamrih untuk melayani dan meringankan kebutuhan mereka, pada saatnya semua itu menjadi sebab turunnya keberkahan dari Allah Swt, dan akan mendatangkan kemaslahatan dalam semua urusan, di dunia ini maupun di akherat kelak. Sebuah cerita dalam kitab Syarah Hikam Libni’ Abbad, tentang syeikh Ibnu Atho’illah Pengarang AL HIKAM, kitab yang berisi mutiara mutiara kata yang menyentuh keimanan dan meneguhkan keyakinan, yang menjadi rujukan orang orang Saleh sejak zaman dulu hingga kini, dimana dikisahkan, Ibnu Atho’illah mengunjungi Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra, seorang wali qutub yang agung dan penerus syaikh Abul Hasan asy-Syadyiliy, dan sekaligus bermaksud hendak berguru kepadanya. Sebagai umumnya seorang murid yang penuh kesungguhan untuk menimba ilmu dan berkah dari gurunya, Ibnu Atho”illah ingin mendapatkan perhatian lebih dari gurunya tersebut (Nadhor Sjech), karena dikalangan kaum Sufi diyakini Nadhorus Sjech akan dapat mengkatrol seorang murid, menuju peringkat yang luar biasa. Sebelum Ibnu Athoillah menyampaikan keinginannya, untuk berguru kepada Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra, Waliullah Ibnu Abbas itu sudah terlebih dahulu tahu, maksud hati tamunya, dan beliau berkata : “Kecintaan dan perhatian guru terhadap murid, ditentukan seberapa besar kecintaan dan perhatian murid terhadap gurunya, dan jangan khawatir kamu disini akan menjadi orang yang hebat”. Dalam kesempatan yang lain, pada saat Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra, berkeinginan menulis kitab Tahdzib yang waktu itu hanya dipunyai oleh anaknya saja, tanpa memberitahu pada gurunya Ibnu Athoillah mulai menulisnya. Karena kitab cukup tebal yang terdiri dari tiga jilid, maka setelah mendapat satu jilid Ibnu Athoillah segera bersilaturahmi ke kediaman Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra untuk menyerahkan tulisan tersebut. Dan ternyata sang guru menerimanya dengan rasa bahagia dan mendo’akan Ibnu Athoillah. Hal demikian itu terjadi sampai tiga kali. Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra berkata : “Kamu harus mampu menjadi pemuka dalam ilmu tasawuf, aku tidak terima kalau kamu hanya mengusai ilmu fiqih saja”. Ibnu Athoilah mengakui, berkat bimbingan dan do’a Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra, ia mengalami perkembangan spiritual yang luar bisa. Ini adalah salah satu contoh barokahnya berkhidmah dan memperhatikan sang guru. Dan itu adalah pendidikan yang berlaku antara santri dan Kyai. Oleh karenanya sebagai santri atau murid hendaknya merasa mantap dan selalu tawadhu’ lahir dan bathin dihadapan sang guru, berhidmah melayani kebutuhan sang guru. Yang semua itu akan menjadi sebab kebahagiannya di dunia dan akherat. Allah Swt Berfirman dalam surat At Taubah ayat 119 yang artinya : “wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama-sama orang-orang yang benar/terpercaya”. Rasululah saw bersabda : “Hendaknya kamu bersama Allah, kalau belum mampu maka bersamalah dengan orang yang telah bisa bersama dengan Allah, karena orang ini nantinya akan bisa menyampaikan kamu kepada Allah, jika kamu betul-betul mau bersamanya”. Dalam kitab Iqozhul Himam, (Syarah Al Hikam ) dikatakan : “Mengabdi kepada para masyayikh adalah suatu ibadah yang agung dan suatu derajat yang agung pula. Demikian pula, Syeikh Sayid Abdul warits berkata : “Mengabdi kepada orang-orang yang mulia disisi Allah, bisa menyebabkan wushul atau dekat dan sampai kepada Allah Swt…” Syeikh Hasan Al Bashri ra berkata : “Siapa saja yang bisa diikuti tentang ketaatannya kepada Allah, maka wajiblah dicintai. Dan barang siapa cinta dengan orang sholeh maka berarti senang dengan Allah. Sulthonul Auliya’ abu Yazid Al Busthami menyatakan : “Cintailah para waliyullah, agar mereka mencintaimu, sesungguhnya Allah melihat hati para wali-Nya, mungkin saja Allah melihat namamu di dalam hati wali-Nya yang bisa menyebabkan dosamu diampuni-Nya. Bahkan dalam kitab Fathul Mu’in menyebutkan salah satu dari obat hati adalah berkumpul dengan orang-orang yang sholeh. Begitu banyaknya dorongan dan ajakan untuk cinta dan berbakti kepada kaum sholihin atau orang-orang yang dekat dengan Allah, karena mencintai dan berhidmah kepada mereka pada hakikatnya adalah, kita mengabdikan diri dan cinta kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw. (Rdk)

Silakan mengutip dengan mencantumkan nama almihrab.com

Leave a comment »

Lebih Jauh Mengenal Ahlus Sunah Wal Jama’ah

Bismillahirrohmanirrohim, puji dan syukur senantiasa terhaturkan kehadirat Allah SWT, yang tak henti­ hentinya melimpahkan anugerah­Nya kepada kita sekalian baik yang bersifat dzahir maupun bathin. Adapun sebesar-besar nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita adalah nikmat Islam dan Iman, berkata Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad r.a.

Kita berada dalam kesenangan dan ketenangan

Dalam kebahagiaan dan ketentraman

Nikmat Islam, nikmat yang paling besar

Telah menetap dalam hati kita

Semoga Allah senantiasa menjaga nikmat yang agung itu dalam diri kita. Sholawat serta Salam semoga tetap tercurahkan keharibaan junjungan Nabi Besar Muhammad s.a.w. beserta keluarga, sahabat dan para pengikut­nya.

Para pembaca yang budiman, Seyogyanya sebagai seorang mukmin yang menginginkan kebaikan dan keselamatan dunia dan akherat, kita selalu menjaga dengan baik sesuatu yang paling berharga dalam diri kita,yaitu Iman dari berbagai hal yang dapat merusak dan melemahkannya.

Atas dasar itulah kami Pemuda Nabawiy melalui rubrik ruang tauhid kali ini, ingin mengetengahkan kehadapan para pembaca berbagai hal yang berkaitan dengan pemahaman tentang aqidah AHLUS SUNNAH WALJAMAAH dan berbagai penyimpangan aqidah yang terjadi ditengah-tengah umat ini, dengan harapan kita akan dapat memperkokoh aqidah AHLUS SUNNAH WALJAMAAH serta menghindarkan diri dari segala bentuk ajaran yang menyesatkan. Berkata para ulama : “Barang siapa yang tidak mengetahui suatu keburukan, maka dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalamnya”.

Sebelum kami membahas lebih lanjut tentang tema diatas, terlebih dahulu akan kami sampaikan sebuah hadits Nabi s.a.w., Beliau bersabda “Orang Yahudi terpecah menjadi 71 golongan dan orang Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, adapun umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. (HR: Bukhori – Muslim – Abu Daud -Turmudzi-Nasai’ dan IbnuMajah)

Dalam riwayat lain ditambahkan “kesemuanya berada dalam neraka kecuali golongan yang tetap berpegang teguh pada ajaran-ku dan ajaran para sahabat-ku”

72 golongan yang dinyatakan oleh Nabi s.a.w. berada dalam neraka adalah kelompok-kelompok sesat, namun jumlah mereka belum seberapa jika dibandingkan dengan satu golongan yang selamat yang disebut dengan Assawadul A’dhom (kelompok mayoritas).

Berikut ini akan kami sampaikan kepada para pembaca tentang macam ­macam dari kelompok tersebut. Mengutip dari apa yang disampaikan oleh Al-Allamah Al-Habib Ali bin Abubakar Assegaf Al-Alawy dalam kitabnya Ma’arijul Hidayah, yang juga dikutip dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin.

“Berhati-hatilah engkau wahai saudaraku dari segala bentuk bid’ah dan orang-orangnya, dan jauhilah olehmu untuk berkumpul dengan mereka. Ketahuilah bahwa sumber­sumber bid’ah dalam masalah aqidah sebagaimana dituturkan oleh para ulama kembali kepada 7 kelompok

· Al-Mu’tazilah, yang berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri, mereka juga menafikan ru’yah (melihat Allah) bagi orang-orang mukmin dan mewajibkan kepada Allah untuk memberi pahala bagi yang beribadah serta dosa bagi yang bermaksiat. Karena jika tidak, mereka akan menyatakan bahwa Allah tidak adil atau dzolim. Mereka ada 20 golongan.

· Ar-Rowafid, yang mengkultuskan Imam Ali bin Abi Thalib k.w. dan membenci bahkan mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi s.a.w. Mereka ada 22 golongan.

· Al-Khowarij, kelompok yang antipati kepada Imam Ali k.w., bahkan mengkafirkan beliau, juga mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar. Mereka terpecahmenjadi20golongan.

· Al-Murji’ah, yang berpendapat bahwa kemaksiatan tidak mempengaruhi iman dan ketaatan, tak dapat bermanfaat dengan kekufuran. Mereka ada 5 golongan.

· An-Nijjariah, mereka sepakat dengan ahlus sunnah dalam hal bahwa Allah yang menciptakan perbuatan manusia. Disisi lain mereka setuju dengan muktazilah dalam menafikkan sifat-sifat Allah yang azali, dan menyatakan bahwa Al-quran itu sesuatu yang hadist (bukan qodim), dengan kata lain Al-quran adalah makhluk bukan kalamullah. Mereka ada 3 golongan.

· Al-Jabariyah, yang menyatakan bahwa setiap hamba tidak boleh / tidak perlu untuk berikhtiar. Mereka hanya satu golongan.

· Al-Musyabbihah, yang menyamakan Allah dengan makhluk dalam hal memiliki anggota badan, dan bertempat disuatu tempat. Mereka juga disebut ahlul khulul, dan hanya satu kelompok.

Dengan demikian jumlah mereka ada 72 golongan, adapun kelompok yang ke 73 adalah AHLUS SUNNAH WALJAMAAH yang berisikan ajaran-ajaran dzahir yang menjadi syari’at bagi umat, dan ajaran-ajaran yang bersifat bathin yang disebut dengan tharigoh yang diperuntukkan bagi kalangan tertentu (khowass), dan memiliki qulasoh yang dikhususkan bagi suatu haqiqoh yang menjadi tangga kenaikan derajad bagi kalangan yang tertinggi (akhossul khossoh).

Syariat menjadi bagian bagi aggota badan kita untuk berkhidmat kepada Allah SWT, adapun tharigoh akan menjadi bagian bagi hati yang berisikan ilmu, makrifah, dan hikmah. Sedangkan haqiqoh adalah bagian bagi arwah untuk mendapatkan musyahadah dan ru’yah (menyaksikan keagungan Allah).

Kini kami akan mencoba untuk menjelaskan lebih lanj ut tentang latar belakang lahirnya AHLUS SUNNAH WALJAMAAH .

Para pembaca yang budiman, sesungguhnya kaum muslimin pada masa hidup Nabi Muhammad s.a.w. Adalah umat yang satu (umatun wahidah), mereka tak pernah berselisih baik dalam akidah maupun amaliyah yang dzohir dengan perselisian yang menyebabkan perpecahan dan pertikaian (tahazzub & taassub). Kalaupun ada perbedaan hanyalah sebatas masalah-masalah furu’iyah (non aqidah), dan itu dikarenakan terjadi perbedaan antara satu orang dengan yang lain dalam memahami sabda-sabda Nabi s.a.w. Inilah yang disebut dengan ikhtilafat­ijtihadiah.

Adapun sepeninggal Nabi s.a.w., maka Sayyidina Abubakar r.a. menjadi khalifah, sekalipun dimasa kekhalifaan beliau sempat terjadi perselisisn-perselisihan kecil tentang beberapa hal. Namun itu semua tiada berarti, karena kepemimpinan Abubakar r.a. mampu meredam perselisian yang terjadi.

Demikian juga ketika jabatan khalifah berada pada tangan Sayyidina Umar bin Khattob r.a.

Dan pada saat Sayyidina Ustman bin Afan r.a. tampil sebagai khalifah, perselisihan diantara sahabat mulai muncul kepermukaan. Sudah barang tentu orang-orang yang membenci Ustman bin Affan r.a. selalu berusaha untuk melengserkan beliau dari jabatannya dengan melemparkan tuduhan-tuduhan jahat. Sehingga pada puncaknya Sayyidina Ustman r.a. wafat karena dibunuh sebagaimana pembunuhan yang menimpa Sayyidina Umar bin Khattob r.a.

Barulah setelah itu Imam Ali bin Abi Thalib k.w. di Baiat sebagai khalifah ke empat. Namun naiknya Imam Ali k.w. kekursi khilafah diganjal oleh Muawiyah dan kelompoknya. Ketika itu Muawiyah r.a. didaulat oleh kelompoknya untuk menjadi khalifah keempat, dan bagi mereka pembunuhan terhadap Sayyidina Ustman r:a. harus diusut dengan tuntas sebelum pengangkatan khalifah. Namun tampaknya sosok Imam Ali bin Abi Thalib lah yang lebih mendapat dukungan mayoritas untuk menjadi khalifah .Bagi Imam Ali k.w. dan para pendukungnya, dalam masalah pengangkatan khalifah dan pembentukan sebuah pemerintahan harus didahulukan sebelum mengusut pembunuhan Sayyidina Ustman r.a., hal ini guna menghindari kevakuman.

Rupanya perselisihan kedua pihak ini dimanfaatkan oleh para provokator yang ingin memancing di airkeruh, hinggaterjadilahbentrokan fisik antara kedua kelompok yang disebut dengan peperangan siffin.

Adapun Muawiyah dan kelompoknya dianggap sebagai kelompok bughot (kelompok yang menentang pemerintaan yang sah) pada saat pasukan Muawiyah terdesak mereka mengangkat Al­Qur’an dengan tombak sebagai tanda menyerah.

Ketika itu Imam Ali k.w. segera menghentikan peperangan. Akan tetapi sebagian dari pengikut beliau ingin agar perang diteruskan sampai darah penghabisan. Karena adanya dua pendapat inilah beliau k.w. memutuskan untuk melibatkan dua orang dari masing-masing kelompok yang dianggap layak menjadi penengah, yaitu : Abu Musa Al­Asy’ari (dari kelompok Imam All k.w.) dan Amr bin Ash (dari kelompok Muawiyah). Pada akhirnya perdamaianlah yang menjadi keputusan final.

Sebagian orang yang tadinya menginginkan agar perang diteruskan merasa aspirasinya tidak tertampung, lalu mereka membelot dari Imam Ali k.w.dengan membentuk kelompok sendiri, dan mereka menamakan diri sebagai kelompok khowarij yang dikenal sebagai kelompok yang antipati terhadap Iman Ali bin Abi Thalib k.w. Mereka tidak segan-segan menghujat, bahkan mengkafirkan Iman Ali k.w. serta pengikutnya. Dalam situasi inilah muncul si raja provokator yang bernama Abdullah bin Saba’. Tanpa henti-hentinya ia memprovokasi dan menghasut para pengikut Imam Ali k.w. agar melakukan pembelaan sebagai reaksi atas kelompok Khowarij. Rupanya usaha dari Abdullah bin Saba’ ini membawa hasil hingga akhirnya ia dan para pengikutnya yang mengaku sebagai pembela Iman Ali k.w. membentuk kelompok sendiri yang menamakan diri sebagai kelompok Saba’iyyah. Mereka bukannya membela Imam Ali k.w. dalam artian yang positif, akan tetapi mereka justru melakukan penyimpangan aqidah dengan menuhankan Iman Ali k.w.

Kelompok inilah yang menjadi cikal bakal munculnya kelompok Rowafid.

Imam Ali k.w. pun tidak tinggal diam, beliau lalu memerangi kelompok tersebut hingga Ibnu Saba’ diasingkan oleh beliau ke sebuah tempat. Sepeninggal Imam Ali k.w., kelompok ini berkembang dan terpecah menjadi beberapa kelompok, diantaranya adalah Zaidiyah, Imamiyah, Kaisaniyah, dan Ghulah, hingga menjadi 22 golongan. Mereka saling mengkafirkan antara yang satu dengan lainnya.

Demikian pula yang terjadi dengan kelompok Khawarij. Mereka terpecah menjadi 20 sempalan.

Hal ini terus berlangsung sampai munculnya kelompok Qadariyah pada zaman Muta’akhirin dari sahabat. Kelompok mereka ini telah dinyatakan oleh Nabi s.a.w. sebelumnya sebagai Majusi umat ini. Para sahabat yang ada pada saat itu, seperti Ibnu Umar, Jabir Al-Anshari, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Anas bin Malik Radhiallahu’anhum. Mereka mewasiatkan pada para penerusnya agar tidak memberi salam kepada kelompok Qadariyah, juga melarang mensholati jenazah mereka, serta mengunjungi orang yang sakit dari mereka.

Pada zaman para tabi’in tepatnya pada masa Imam Hasan Al-Basri r.a., muncullah orang yang bernama Wasil bin Atho’ dan Amr bin Ubeid bin Babin yang membawa khilaf dalam masalah takdir. Diantara pendapat mereka adalah bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri, juga menyatakan orang yang fasiq (melakukan dosa besar), mereka dinyatakan bukan sebagai mukmin bukan pula sebagai orang kafir. Ini yang disebut dengan manzilah bainal manzilatain . Mereka berdua diusir oleh Imam Hasan Al-Basri r.a. dari majlisnya, lalu membentuk kelompok Mu’tazilah (Ahlul adlwattauhid).

Maka sejak itu lahirlah nama Ahlus Sunnah Wal Jamaah untuk membedakan dari kelompok­kelompok yang lain, dan sebagai satu­satunya kelompok yang tetap berpegang teguh padaAssunnah,juga mengikuti serta melestarikan ajaran para salaf (sahabat). Baik dalam aqidah maupun amaliyah. Sebagai kelompok mayoritas Ahlus SunnahWaljama’ah memiliki ciri tersendiri dalam ajaranya yang jauh dari kedengkian dan kesesatan.

Sebagai Alfirqotun-najiyah, banyak sekali tokoh-tokoh yang membina lahirnya Ahli Sunnah Waljamaah, diantaranya adalah para Ashabul Madzahib, seperti : Iman Syafi’i, Iman Malik, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Abu Hanifah.

Ahlus Sunnah Waljamaah berada dalam satu naungan aqidah, sedang dalam segi syari’ah (masalah ­masalah furu’iah) sekalipun ada perbedaan disana-sini, hanyalah sebatas perbedaan ijtihad sesuai dengan madzhab yang diikuti dari empat macam madzhab tersebut diatas. Dengan tetap berpegang pada sumber-sumber hukum Islam (Al­Quran, Assunnah, Ijma’, Qiyas para Mujtahidin) bukan perbedaan yang menimbulkan perpecahan, apalagi sampai mengkafirkan dan menganggap sesat golongan yang berbeda, seperti yang terjadi pada kelompok-kelompok selain Ahlus Sunnah Walj amaah.

Dari sekian banyak tokoh-tokoh Ahlus Sunnah Waljamaah ada yang menyibukkan dirinya dalam urusan Fiqhiyah, dan mereka disebut para Fuqoha seperti empat iman diatas, sekalipun mereka orang-orang yang memiliki andil yang cukup besar dalam masalah-masalah aqidah dan tasawuf, akan tetapi tuntutan zaman pada saat itu membuat mereka memberikan perhatian yang besar terhadap urusan-urusan syar’i.

Adapun diantara mereka yang lebih menitik beratkan pada masalah­masalah aqidah disebut sebagai mutakalimin (ahlul kalam). Adapula yang lebih berkompeten dalam masalah-masalah bathiniyah / pembenahan hati, dan mereka itulah yang disebut Sufi (ahli tasawuf), ada juga yang disebut Ahlul Hadits dan Ahlul Tafsir (Muhaditsin dan Mufassirin).

Mereka semua adalah aset terbesar bagi umat ini dan bagi Ahlus Sunnah Walj ama’ ah khususnya. Mereka telah berjasa dalam memperkaya khasanah keilmuan bagi agama ini, mereka juga telah mengabdikan diri dalam meluruskan penyimpangan­penyimpangan yang terjadi ditengah­tengah umat ini, hingga keberadaan mereka telah meminimalisir perpecahan umat.

Kebesaran Ahlus Sunnah Waljama’ah semakin kokoh dengan munculnya dua orang tokoh, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansyur Al-Maturidi. Kedua tokoh inilah yang telah berjasa dalam menetapkan pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah.

Pengikut Al-Asy’ari adalah para penganut madzhab Sayafii, sedangkan pengikut Al-Maturidi adalah para penganut madzhab Abu Hanifah, tidak ada perbedaan yang berarti diantara mereka.

Bagi kita umat Islam Indonesia mayoritas adalah para penganut madzhab Syafii dalam syari’ah dan Asy’ari dalam aqidah. Demikian juga dengan mayoritas para Habaib (Alawiyyin) yang ada di Hadramaut. Sebagian dari mereka ada yang datang ke Indonesia guna berda’wah dengan menanamkan pokok-pokok ajaran dari kedua Imam tersebut. Dapat kita lihat dari berbagai kitab hasil karya mereka yang telah memperkenalkan kepada kita madzhab Syafii dalam Fiqh dan Asy’ari dalam tauhid.

Dengan menyesal kami belum dapat menguraikannya pada edisi kali ini, dan Insya Allah Pemuda Nabawiy akan mengulasnya pada edisi mendatang, sebagai upaya menjaga aqidah kita dari hal-hal yang menyesatkan. Semoga Allah senantiasa menjaga diri dan keluarga kita dari para-para Ahlul Bid’ah Waddolalah.

(Ust. Abubakar Hasan Ass.)-Pemuda Nabawiy Vol.1, No.5, September 2002 / Rajab 1423 H.

Comments (8) »